inovasi hijau - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/inovasi-hijau/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 27 Oct 2022 08:02:57 +0000 id hourly 1 Kolaborasi Riset Pangan dan Green Energy di InaRI Expo 2022 https://www.greeners.co/berita/kolaborasi-riset-pangan-dan-green-energy-di-inari-expo-2022/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kolaborasi-riset-pangan-dan-green-energy-di-inari-expo-2022 https://www.greeners.co/berita/kolaborasi-riset-pangan-dan-green-energy-di-inari-expo-2022/#respond Thu, 27 Oct 2022 07:11:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37788 Bogor (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong kolaborasi riset di bidang pangan dan energi hijau (green energy). Dua bidang ini sangat negara butuhkan saat ini. Kepala BRIN […]]]>

Bogor (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong kolaborasi riset di bidang pangan dan energi hijau (green energy). Dua bidang ini sangat negara butuhkan saat ini.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, pangan dan energi adalah dua bidang yang negara butuhkan saat ini.

“Selain fluktuasi harga pangan dan energi saat pandemi juga ada krisis geopolitik,” katanya dalam pembukaan InaRI Expo di Cibinong Science Center, Kamis (27/10).

Indonesia Research and Innovation (InaRI) Expo merupakan perhelatan tahunan yang BRIN gelar untuk memperlihatkan riset dan inovasi hasil karya anak bangsa. Gelaran ini akan berlangsung 27-30 Oktober 2022.

Sebanyak 239 booth peserta expo dari berbagai lembaga, swasta, perguruan tinggi dan sekolah menengah meramaikan pameran riset dan inovasi terbesar ini. Handoko juga menyebut, acara ini mendapat dukungan mitra ASEAN dan India.

Usai pembukaan Handoko bersama perwakilan dari ASEAN dan institusi riset India berkeliling melihat booth peserta.

Tahun ini InaRI Expo 2022 mengusung tema Digital, Blue & Green Economy: Riset dan Inovasi untuk Kedaulatan Pangan dan Energi. Melalui tema ini, BRIN ingin mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi.

Hal ini bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang berbasis digital, berwawasan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya alam yang Indonesia miliki.

Siswa dari sejumlah sekolah ikut ajang karya ilmiah remaja di InaRI Expo 2022. Foto: Greeners/Ari Rikin

Riset Jawab Tantangan Global

Usai pembukaan, kepada media Handoko berharap, gelaran ini semakin mendorong para periset Indonesia untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. Begitu pun dengan kreator-kreator di bidang teknologi mengasah kemampuannya dalam menghasilkan produk-produk baru.

BRIN saat ini bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik terkait riset ekonomi hijau. Dalam konteks ekonomi hijau ada 6 pilar yang sifatnya sangat sektoral. BRIN mendukung dari sisi science based policy.

“Sudah jadi tanggung jawab kami di BRIN untuk mendukung seluruh kementerian dan lembaga termasuk dalam konteks ekonomi hijau,” ungkapnya.

Menurutnya, di sektor energi ada dua hal terkait transportasi dan energi untuk menghasilkan listrik. Untuk energi transportasi yang sangat mungkin saat ini adalah kendaraan listrik. “Kita banyak lakukan riset itu dari baterai sampai pada baterai manajemen sistemnya,” imbuhnya.

Namun untuk energi penghasil listriknya secara global risetnya masih ada tantangan dan tidak mudah. “Kita tidak punya energi alternatif yang sifatnya masif. Seperti misalnya pengganti fosil,” imbuhnya.

Di global dua sumber yakni pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang baru tersedia. Kalau pun Indonesia misalnya punya target PLTN di tahun 2049 tapi dari sisi eksperimental PLTN kita harus siapkan secepat mungkin. “Sehingga apapun yang terjadi Indonesia akan lebih siap,” ungkapnya.

Penulis/Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/kolaborasi-riset-pangan-dan-green-energy-di-inari-expo-2022/feed/ 0
CCOF Perluas Inovasi Daur Ulang Limbah Plastik di Luar Pulau Jawa https://www.greeners.co/aksi/ccof-perluas-inovasi-daur-ulang-limbah-plastik-di-luar-pulau-jawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ccof-perluas-inovasi-daur-ulang-limbah-plastik-di-luar-pulau-jawa https://www.greeners.co/aksi/ccof-perluas-inovasi-daur-ulang-limbah-plastik-di-luar-pulau-jawa/#respond Sun, 16 Jan 2022 04:17:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=35007 Jakarta (Greeners) – Circulate Capital Ocean Fund (CCOF) telah berinvestasi di perusahaan Prevented Ocean Plastic Southeast Asia. Perusahaan yang bergerak dalam pengumpulan dan daur ulang limbah plastik ini tengah memelopori […]]]>

Jakarta (Greeners) – Circulate Capital Ocean Fund (CCOF) telah berinvestasi di perusahaan Prevented Ocean Plastic Southeast Asia. Perusahaan yang bergerak dalam pengumpulan dan daur ulang limbah plastik ini tengah memelopori model mata rantai pengelolaan limbah plastik yang inovatif.

Circulate Capital, perusahaan manajemen investasi berbasis di Singapura. Perusahaan ini mendanai inovasi, perusahaan dan usaha kecil dan menengah (UKM) untuk memerangi polusi plastik di laut dan perubahan iklim. Caranya dengan memajukan ekonomi sirkular netral karbon.

Prevented Ocean Plastic Southeast Asia adalah hasil kerja sama yang unik antara PT Polindo Utama (Polindo), Bantam Materials Ltd (Bantam Materials) dan Circulate Capital. Perusahaan ini berkomitmen untuk memperluas infrastruktur daur ulang di Indonesia secara strategis. Terutama di wilayah yang kurang atau tidak memiliki infrastruktur pengelolaan limbah plastik.

Perluasan infrastruktur tersebut harapannya dapat mencegah kebocoran limbah plastik ke laut dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Ambisi Prevented Ocean Plastic Southeast Asia dalam mengembangkan model berkelanjutan ini dapat menjadi standar terbaik untuk industri daur ulang plastik di Asia Tenggara.

“Realita bahwa harus mengumpulkan sampah plastik dari 17.000 pulau mempersulit betapa rumitnya krisis polusi plastik di Indonesia. Hal ini karena banyak tantangan logistik dan kompleksitas dalam rantai nilai daur ulang limbah plastik,” jelas Rob Kaplan, Founder dan CEO Circulate Capital dalam keterangannya baru-baru ini.

Ia mengaku sangat antusias turut berinvestasi di Prevented Ocean Plastic Southeast Asia dalam membangun jaringan pengumpulan sampah plastik. Terlebih lagi, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia akan memenuhi permintaan pasar yang sudah mulai terbuka dan menerima penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi dan traceable.

“Proyek ini berpotensi menjadi blueprint infrastruktur daur ulang dan ekonomi sirkular terbaik di seluruh kawasan Asia Tenggara,” imbuhnya.

Perkuat Upaya Daur Ulang Limbah Plastik di Kalimantan dan Sulawesi

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 kepulauan. Saat ini, 124 juta orang atau 45 % populasi tinggal di luar pusat ekonomi Indonesia, Pulau Jawa. Upaya pengumpulan limbah plastik dari pulau-pulau ini untuk kegiatan daur ulang tentunya sangat menantang dan mahal dalam segi logistik.

Melalui pendanaan dari CCOF, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia akan membangun rantai nilai pengumpulan dan daur ulang plastik yang sistematis di beberapa wilayah pesisir luar Jawa, terutama di wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Sebagai bagian dari rencana ini, 12 pusat pengumpulan limbah plastik dan tiga pusat pendukung akan mereka bangun.

Dengan menggabungkan kekuatan unik para mitranya, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia berharap dapat dengan sukses membangun pasokan komoditas plastik daur ulang berkualitas premium, bersertifikat dan dapat ditelusuri asalnya (traceable) untuk pasar global.

“Seluruh aktivitas di pusat-pusat pengumpulan limbah juga akan melalui proses audit dan sertifikasi sehingga mendapat akses pasar dan harga premium komoditas plastik daur ulang,” ungkap Rob.

Buka Lapangan Kerja Baru dan Cegah Kebocoran Sampah Ke Laut

Dalam periode 10 tahun, perusahaan ini memperkirakan bahwa aktivitasnya akan dapat mencegah kebocoran 400.000 ton limbah plastik ke laut, menghindari 800.000 ton emisi karbon. Selain itu akan menciptakan 1.000 lapangan kerja dan membuka peluang pendapatan baru bagi ribuan pengumpul limbah plastik.

Pertumbuhan populasi di Indonesia dan perkembangan ekonomi yang pesat telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan yang eksponensial dalam konsumsi plastik. Sistem pengelolaan dan daur ulang sampah plastik di Pulau Jawa sudah relatif lebih mapan, terutama di Jakarta dan Surabaya.

Sementara di kota-kota kecil di dalam dan luar Pulau Jawa masih kekurangan infrastruktur pengumpulan dan daur ulang limbah plastik.

Hal tersebut mengakibatkan tingginya tingkat polusi plastik dan emisi gas rumah kaca. Hampir 72 % dari total polusi plastik di Indonesia berasal dari daerah pedesaan dan kota-kota kecil hingga menengah. Namun, tingkat pengumpulan sampah plastik di daerah pedesaan dan terpencil hanya 20 % atau kurang dari angka tersebut.

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ccof-perluas-inovasi-daur-ulang-limbah-plastik-di-luar-pulau-jawa/feed/ 0
Menyorot TreeCard, Kartu Debit dari Kayu Pertama di Dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/treecard-kartu-debit-dari-kayu-pertama-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=treecard-kartu-debit-dari-kayu-pertama-di-dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/treecard-kartu-debit-dari-kayu-pertama-di-dunia/#respond Thu, 31 Dec 2020 08:00:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=30796 Produksi kartu debit dan kredit yang melimpah meninggalkan jejak karbon yang besar. Menanggapi dampak lingkungan ini, TreeCard, merencanakan peluncuran kartu debit kayu.]]>

TreeCard, perusahaan rintisan di bidang finansial asal London, Inggris, berencana meluncurkan kartu debit dari kayu.

Secara global, produksi kartu debit dan kredit mencapai miliaran keping setiap tahunnya. Walaupun terlihat kecil dan dalam kehidupan sehari-hari ia lebih banyak kita sisipkan ke dalam dompet, namun ternyata kartu plastik ini memiliki jejak karbon yang cukup besar. 

Menanggapi dampak lingkungan ini, TreeCard, sebuah fintech startup, membuka jalan hijau di dunia keuangan dengan rencana peluncuran kartu debit kayu.

Misi TreeCard, Kartu Debit Kayu Pertama di Dunia

Dalam kartu kredit kayunya, TreeCard berencana menggunakan 80% dari keuntungan mereka untuk menanam pohon.

Kartu tersebut terbuat dari kayu yang bersumber dari pohon ceri berkelanjutan. Satu pohonnya berguna untuk membuat hingga 300.000 kartu, sehingga startup ini tidak memerlukan banyak pohon untuk proses produksinya.

Selain itu, chip atau core pada kartu ini menggunakan bahan botol plastik daur ulang.

“Saya menyukai gagasan bahwa tindakan sehari-hari dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan lingkungan dan sosial,” kata Jamie Cox, salah satu pendiri kartu debit kayu pertama di dunia.

TreeCard telah menerima dana sebesar $1 juta dari Ecosia, mesin pencari yang berbasis di Jerman. Ecosia dikenal karena kontribusinya pada proyek lingkungan serupa. 

Ecosia menggunakan keuntungannya untuk menanam pohon berdasarkan jumlah pencarian pengguna dan telah menanam lebih dari 112 juta pohon. Nantinya TreeCard akan menanam satu pohon untuk setiap transaksi sejumlah $60 dari setiap kartu.

Inspirasi kartu debit kayu ini pun berasal dari Ibu Cox, seorang pengguna setia Ecosia. Saat itu, ibunya mengungkapkan keinginannya untuk dapat menanam pohon melalui pengeluaran sehari-harinya.

Bebas Biaya Transaksi

Kartu ini tidak membebani Anda dengan biaya tersembunyi. Anda hanya akan membayar apa yang Anda beli.

Saat menggunakan TreeCard, toko akan membayar sejumlah kecil biaya transaksi yang akan mereka gunakan untuk mendanai proyek reboisasi. 

Kartu Debit Kayu TreeCard dan Berbagai Fiturnya

TreeCard nantinya bisa Anda gunakan di merchant mana pun (toko daring atau toko fisik) yang menerima Mastercard. Kartu ini pun kompatibel dengan dompet digital yang populer seperti Apple Pay, Android Pay, dan Samsung Pay.

Startup ini juga akan merilis aplikasi yang memungkinkan pengguna melakukan prosedur perbankan digital dasar beserta fitur untuk membantu menyederhanakan keuangan sehari-hari Anda.

Pengeluaran bisa Anda pantau dan kategorikan. Anda juga bisa split bills atau patungan dengan teman.

Lebih jauh, pengguna TreeCard bisa melacak jumlah pohon yang tertanam berdasarkan pengeluaran mereka lewat aplikasi ini. Jika kartunya hilang atau dicuri, Anda dapat langsung membekukannya dan menghentikan transaksi lebih lanjut.

treecard

Menanam produk segar dalam sistem wanatani juga memberikan makanan dan pendapatan bagi masyarakat lokal. Foto: Shutterstock.

Mengapa menanam pohon?

“Menanam pohon adalah cara kami untuk mengambil tindakan langsung,” kata Cox, yang juga terinspirasi oleh aktivis lingkungan David Attenborough.

Cox melanjutkan, pohon mengatasi perubahan iklim dengan tiga cara utama: menangkap karbon secara efektif, menciptakan, dan memulihkan habitat hewan, serta mendukung masyarakat secara berkelanjutan.

Selain itu, pohon juga membantu memulai kembali siklus air dan memulihkan lahan kering. Pohon pun bekerja sebagai pelindung keanekaragaman hayati, menciptakan, dan melestarikan habitat spesies hewan yang terancam punah.

Menanam produk segar dalam sistem wanatani juga memberikan makanan dan pendapatan bagi masyarakat lokal. Dengan meregenerasi tanah, orang tidak perlu bermigrasi untuk mencari kondisi kehidupan yang lebih baik.‍

Dengan menanam pohon akan memberikan dampak jangka panjang karena warga akan mendapatkan pekerjaan yang stabil dengan pengelolaan sumber daya yang ada sehingga penghasilannya dapat membiayai pendidikan anak-anak mereka, obat-obatan, dan tempat tinggal.

Beberapa bank juga mulai berinovasi. Misalnya, Zurich Cantonal Bank telah bekerja sama dengan perusahaan Swiss Wood Solutions untuk menghasilkan serangkaian kartu biodegradable yang terbuat dari kayu berkelanjutan.

Baca juga: Baobab, Spesies Pohon Tertua Dunia

Pro-Kontra Klaim Ramah Lingkungan TreeCard

Namun, ada pula anggapan bahwa kartu kayu tidak sepenuhnya ramah lingkungan. Menurut MyClimate Foundation yang berbasis di Zurich, kartu kayu memiliki jejak karbon yang mirip dengan plastik karena cara pembuatannya yang membutuhkan energi secara intensif.

Swiss Wood Solutions menyatakan masalah ini dapat teratasi dengan teknik manufaktur yang baru setelah produksi meningkat.

Terlepas dari pro dan kontra penggunaan kayu untuk kartu debit atau kredit, alternatif yang paling ramah lingkungan adalah dengan memiliki kartu yang tidak dalam bentuk fisik. 

Seperti produk UBS yang merupakan kartu debit virtual yang terhubung ke beberapa platform pembayaran digital. Sehingga tidak ada masalah produksi kartu fisik, pembuangan atau daur ulang.

TreeCard juga menawarkan pilihan untuk Anda yang tidak ingin memakai kartu fisik dan biasa memakai dompet digital seperti Apple atau Android Pay.

Cox percaya bahwa bank harus memainkan peran dalam mengurangi dampak buruk lingkungan terhadap planet ini. Terciptanya TreeCard, lanjutnya, dia harapkan menjadi langkah pertama menuju perubahan positif di bidang keuangan.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Sumber:

Vegan First

Website TreeCard

Fintech Switzerland

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/treecard-kartu-debit-dari-kayu-pertama-di-dunia/feed/ 0
Menempuh 1.200 Kilometer Jawa-Bali dengan Bahan Bakar Sampah Plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/menempuh-1-200-kilometer-jawa-bali-dengan-bahan-bakar-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menempuh-1-200-kilometer-jawa-bali-dengan-bahan-bakar-sampah-plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/menempuh-1-200-kilometer-jawa-bali-dengan-bahan-bakar-sampah-plastik/#respond Thu, 17 May 2018 06:07:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=20595 Seorang pemuda asal Surabaya akan melakukan aksi perjalanan individual Jawa-Bali untuk mengampanyekan bahaya sampah plastik. Menariknya, ia akan menggunakan bahan bakar dari sampah plastik.]]>

Jakarta (Greeners) – Seorang pemuda asal Surabaya bernama Dimas Bagus Wijanarko akan melakukan aksi perjalanan individual Jawa-Bali untuk memberikan edukasi sekaligus mengampanyekan bahaya sampah plastik. Dalam perjalanan yang akan dimulai pada 19 Mei hingga 20 Juni 2018 ini, ia akan menggunakan sepeda motor merek Vespa miliknya. Menariknya, ia akan menggunakan bahan bakar dari sampah plastik.

Pria yang akrab disapa Dimas ini menjelaskan bahwa untuk melakukan perjalanan tersebut ia sudah terlebih dahulu memodifikasi motor Vespa miliknya agar dapat menggunakan bahan bakar sampah plastik. Ia mengaku merakit kembali motornya dan membawa alat portabel untuk membuat bahan bakar bensin dari sampah plastik buatannya.

“Banyak masyarakat yang bertanya-tanya bisakah saya memakai bahan bakar sampah plastik. Keraguan tersebut akan terjawab di workshop-workshop yang akan saya lakukan nanti. Pengembangan sampah plastik sudah saya lakukan sejak tahun 2014 dan sampai saat ini masih dilakukan penelitian dan pengembangan supaya bisa dipakai oleh semua kalangan,” ujar Dimas kepada Greeners melalui telepon, Selasa (15/05/2018).

bahan bakar sampah plastik

Alat pengubah sampah plastik menjadi bahan bakar ciptaan Dimas. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Lebih lanjut ia menjelaskan, alat portabel yang bisa mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar ini beratnya 10 kg dengan lebar 40 cm dan panjang 97 cm. Terdapat 2 tabung reaktor, pipa instalasi dan filter hydrocarbon dalam rangka alat ini.

Dimas menerapkan proses pyrolysis menggunakan sistem destilasi kering pada alat tersebut. Dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam dalam proses pembuatan bahan bakar menggunakan sampah plastik dengan alat ciptaan Dimas. Untuk menghasilkan bensin 400 ml atau 1 liter minyak mentah, ia membutuhkan 1 kg sampah plastik.

“Saat ini saya sedang memproses bahan bakarnya di Gudang Sarinah (Jakarta) dengan mengolah sampah plastik yang sudah terkumpul dan yang ada di sekitar kami untuk menjadi cadangan (bahan bakar) saat melakukan perjalanan nanti. Tapi tidak menutup kemungkinan jika di tengah jalan saya kehabisan bahan bakar, saya akan mengolah sampah plastik tersebut di setiap perjalanan saya,” ujar Dimas.

bahan bakar sampah plastik

Dimas akan menepuh 1.200 kilometer dengan alat pengubah bahan bakar sampah plastik portabel ciptaannya. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Diperkirakan perjalanan ini akan menempuh jarak sekitar 1.200 kilometer. Pada titik-titik pemberhentian yang telah ditentukan, Dimas akan memberikan edukasi dan workshop mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar sekaligus menggalang dana untuk gerakan Get Plastic yang ia gagas. Ia juga akan membuka donasi plastik untuk plastik jenis kresek, bungkus makanan dan gelas minuman, serta melakukan ngabuburit.

Dimas berharap perjalanan yang dilakukan selama bulan Ramadhan ini akan membawa keberkahan saat memberikan ilmu kepada masyarakat lewat pelatihan yang ia berikan nanti.

“Pahalanya kita berbagi ilmu, jadi saya akan memberikan ilmu saya, bagaimana cara mengolah sampah plastik, bagaimana bahaya sampah plastik itu terhadap lingkungan dan kehidupan kita sehari-hari. Tema atau topik tersebut yang akan saya bagikan dan mungkin saya dapat pahalanya dari situ,” kata Dimas.

Rute perjalanan yang dipilih oleh Dimas adalah Jakarta – Bogor – Bandung – Rajagaluh – Yogyakarta – Jepara – Karimun Jawa – Rembang – Surabaya – Blitar – Lumajang – Banyuwangi – Bali.

Rute tersebut dipilih dengan beberapa alasan, seperti permasalahan Sungai Citarum yang ada di Bandung, pembangunan bandara Internasional di Rajagaluh yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi termasuk potensi timbulan sampah, permasalah sampah plastik di laut Karimun Jawa, pembangunan pabrik semen yang menggusur lahan masyarakat di Rembang, dan isu sampah plastik di laut di Bali.

“Tujuan kampanye ini adalah memberitahukan dan mengedukasi masyarakat bahwa sampah plastik masalah bagi kehidupan kita. Banyak masyarakat selama ini tidak tahu bagaimana cara mengolah sampah plastik tersebut. Mereka hanya tahu sampah bisa dibuat menjadi kerajinan tangan yang hanya memiliki masa pemakaian setahun atau dua tahun, kalau tidak terpakai atau tidak terjual pasti akan menjadi sampah juga. Kita harus mengelola sampah dengan baik dimulai dari sekarang,” pungkas Dimas.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/menempuh-1-200-kilometer-jawa-bali-dengan-bahan-bakar-sampah-plastik/feed/ 0
NaturVention, Kesejukan Alam di Dalam Ruangan https://www.greeners.co/ide-inovasi/naturvention-kesejukan-alam-ruangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=naturvention-kesejukan-alam-ruangan https://www.greeners.co/ide-inovasi/naturvention-kesejukan-alam-ruangan/#respond Sun, 31 Dec 2017 13:02:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=19735 Ide menciptakan NaturVention datang dari masalah yang sangat sederhana: manusia membutuhkan udara yang bersih dari polusi!]]>

Kita seringkali membahas bahaya pencemaran udara di luar rumah, namun rumah atau ruang kerja Anda juga bisa memiliki tingkat polusi yang tinggi. Mengingat fakta bahwa di kota-kota besar, udara di dalam rumah akan bercampur dengan polusi di luar ruangan. Ada cara lain untuk membersihkan polusi udara di dalam ruangan seperti menghindari penggunan bahan kimia atau penyejuk ruangan seperti AC (air conditioner) yang justru dapat memiliki dampak negatif dalam masalah pemanasan global.

Sudah diketahui bahwa tanaman memiliki banyak manfaat untuk membersihkan udara secara alami, sama halnya dengan alam di luar rumah. Aki, salah satu pendiri NaturVention, menciptakan alternatif hijau untuk menyejukan ruangan. Awalnya ide tersebut berasal dari muridnya, Niko, yang seringkali mendengar keluhan yang dialami Aki ketika dia merasa tidak enak dengan kondisi ruangan tempat ia mengajar di universitas.

naturvention

Foto: NaturVention via eluxemagazine.com

Setelah melakukan penelitian dan pengembangan selama beberapa tahun, duo ini menemukan teknologi Naturbo yang inovatif. Teknologi ini dapat menciptakan iklim alami terbaik yang dapat digunakan di dalam ruangan (indoor). Sebenarnya teknologi baru ini pada dasarnya mengembalikan inovasi buatan manusia yang telah tercemari polusi dan memungkinkan kita kembali ke iklim dimana tubuh kita seharusnya dilahirkan.

Singkatnya, cara kerja Naturbo ini melipat-gandakan efisiensi pemurni udara dari tanaman hias biasa hingga lebih dari seratus kali lipat. Naturbo didasarkan pada proses biotransformasi yang membersihkan udara dalam ruangan yang terkontaminasi dari berbagai polutan. Proses serupa digunakan pada fasilitas pengolahan air limbah, dimana air yang terkontaminasi ditransformasikan menjadi air alami dengan bantuan mikroba.

Bagian yang paling penting dari NaturVention ini terdapat pada proses pemurnian udara yang terjadi di zona akar tanaman. Populasi mikroba yang tinggal di zona akar menghilangkan senyawa berbahaya dari udara dalam ruangan dengan memecahnya menjadi nutrisi bagi tanaman.

Seperti yang dilansir dari Eluxe Magazine, Aki mengklaim bahwa teknologi Naturbo pada NaturVention menciptakan udara yang lebih sehat, membuat ruangan menjadi menyenangkan dan memberikan inspirasi. Selain tampilannya yang mungkin tampak sederhana, NaturVention menawarkan sensasi lingkungan alam yang cantik dan hijau di dalam ruangan.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/naturvention-kesejukan-alam-ruangan/feed/ 0
Alat Ini Mampu Memurnikan Udara Sekaligus Memproduksi Energi https://www.greeners.co/ide-inovasi/alat-mampu-memurnikan-udara-sekaligus-memproduksi-energi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=alat-mampu-memurnikan-udara-sekaligus-memproduksi-energi https://www.greeners.co/ide-inovasi/alat-mampu-memurnikan-udara-sekaligus-memproduksi-energi/#comments Fri, 28 Jul 2017 08:09:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17910 Di Belgia, sekelompok peneliti telah menciptakan alat yang mampu memurnikan air tercemar menggunakan sinar matahari, sambil memproduksi hidrogen yang bisa disimpan dan digunakan untuk sumber energi.]]>

Di Belgia, sekelompok peneliti telah menciptakan alat yang mampu memurnikan air tercemar menggunakan sinar matahari, sambil memproduksi hidrogen yang bisa disimpan dan digunakan untuk sumber energi.

“Kami memadukan proses tersebut didalam satu alat,” ujar Sammy Verbruggen, profesor bioscience engineering dari University of Antwerp, seperti dilansir LiveScience. Verbruggen bersama rekan peneliti lainnya telah menguji coba berbagai macam cara untuk mengombinasikan energi cahaya dengan nanomaterial untuk memurnikan air. Di University of Leuven. Tim kedua bekerja menciptakan fuel cell dengan membran yang mampu memproduksi gas hidrogen menggunakan air.

Kedua tim tersebut lalu menggunakan keahlian mereka untuk menciptakan alat baru ini. Menurut Verbruggen, alat ini akan fokus untuk menghisap udara kotor yang disebabkan volatile organic compound (VOC) – pencemaran udara yang disebabkan bahan kimia adhesif, karpet, mesin fotokopi, dan sebagainya. Dalam jumlah tertentu, VOC dapat menyebabkan pusing, iritasi mata, dan asma.

Purwarupa alat ini berbentuk kubus dengan ukuran 1x1m. Dari satu sisi alat tersebut, satu saluran menghisap udara tercemar kedalam panel. Cahaya lalu masuk melalui jendela transparan yang menutupi membran dengan light-activated catalyst. Katalis tersebut akan memecah polusi udara tersebut kedalam molekul-molekul organis.

Dari proses tersebut, proton akan meresap melalui membran, dikumpulkan di sisi yang lain. Lalu katalis platinum mengubah proton tersebut menjadi hidrogen, sedangkan udara yang sudah bersih akan kembali keluar melalui saluran kedua.

“Memperbaiki lingkungan adalah dorongan bagi kami. Ketika kami bisa menangkap satu lalat bersamaan – membersihkan lingkungan juga memberikan sumber energi yang bersih – merupakan sebuah keuntungan bagi kami,” tutup Verbruggen.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/alat-mampu-memurnikan-udara-sekaligus-memproduksi-energi/feed/ 1
Coca-Cola Ciptakan Botol Plastik dengan Campuran Bahan Nabati https://www.greeners.co/ide-inovasi/coca-cola-ciptakan-botol-plastik-campuran-bahan-nabati/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=coca-cola-ciptakan-botol-plastik-campuran-bahan-nabati https://www.greeners.co/ide-inovasi/coca-cola-ciptakan-botol-plastik-campuran-bahan-nabati/#respond Sat, 08 Jul 2017 05:02:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17597 Coca-Cola Company berupaya menjadi salah satu brand yang turut berpartisipasi dalam menciptakan kemasan yang eco-friendly. Mereka telah menciptakan inovasi bernama PlantBottle.]]>

(Greeners) – Coca-Cola Company berupaya menjadi salah satu brand yang turut berpartisipasi dalam menciptakan kemasan yang eco-friendly. Raksasa produsen minuman berkarbonasi internasional tersebut telah menciptakan inovasi bernama PlantBottle.

PlantBottle merupakan botol PET (polyethylene terephthalate) pertama yang terbuat dari campuran bahan nabati dengan minyak bumi dan dapat didaur ulang. Meskipun masih menggunakan minyak bumi sebagai bahan baku, PlantBottle terbukti mampu mengurangi jumlah penggunaan minyak bumi dalam pembuatan botol plastik. Selain itu, PlantBottle juga dapat mengurangi jumlah pengeluaran emisi karbondioksida sebanyak 365.000 metrik ton per tahun.

“PlantBottle adalah botol PET yang dibuat dengan menggunakan campuran ampas tanaman sebagai salah satu bahan baku. Adanya PlantBottle telah berhasil mengurangi penggunaan minyak bumi hingga sebesar 743.000 barrel,” ujar Triyono Prijosoesilo, Public Affairs & Communications Director Coca-Cola Indonesia, di Jakarta (13/06).

coca-cola

Ilustrasi: coca-colacompany.com

Inovasi PlantBottle sendiri mulai diperkenalkan oleh Coca-Cola Company pada tahun 2009. Meskipun terlihat sama seperti botol PET pada umumnya, PlantBottle sebenarnya terbuat dari 30 persen ampas tanaman tebu dan 70 persen minyak bumi. Coca-Cola Company mendapatkan ampas tebu tersebut dari limbah sisa-sisa produksi.

“Botol PET tradisional (yang sepenuhnya terbuat dari minyak bumi) terdiri dari dua komponen, yaitu MEG (monoethylene glycol) dan PTA (purified terephthalic acid). Komponen MEG sendiri memiliki berat sekitar 30 persen dari keseluruhan berat botol. Untuk PlantBottle, kami berusaha untuk membuat komponen MEG yang terbuat dari bahan nabati (bio-MEG) untuk mengurangi penggunaan minyak bumi,” tulis Coca-Cola Company dalam situs resmi mereka.

“Saat ini, bahan nabati yang kami gunakan untuk dijadikan bio-MEG adalah ampas tanaman tebu. Kedepannya, kami akan menggunakan bahan nabati lain seperti limbah kulit buah-buahan, kulit kayu, dan tongkol jagung,” tambah Coca-Cola Company dalam situsnya.

coca-cola

Infografis: coca-colacompany.com

Sama seperti botol PET tradisional, PlantBottle juga dapat didaur ulang untuk dijadikan botol kembali ataupun dijadikan produk lain. Tidak seperti plastik biodegradable lainnya, Coca-Cola Company menyatakan bahwa PlantBottle dapat didaur ulang hingga berkali-kali dan kualitasnya akan tetap terjaga. Penggunaan ampas tebu sebagai salah satu komponen dalam pembuatan PlantBottle tidak memberikan pengaruh tertentu terhadap kualitas produk yang dikemas. Produk yang dikemas dengan PlantBottle kualitasnya akan tetap terjaga dengan baik.

Dari segi penampilan, PetBottle sekilas nampak sama saja seperti tampilan botol PET biasa. Untuk membedakannya, terdapat logo resmi PlantBottle pada kemasan tersebut. Selain itu, produk yang dijual dengan PlantBottle memiliki harga yang berbeda dari produk yang lainnya. Rumitnya proses pembuatan botol ini menjadikan produk yang dijual dengan kemasan PlantBottle memiliki harga yang lebih tinggi. Meski demikian, biaya tambahan tersebut akan digunakan oleh Coca-Cola Company sebagai investasi untuk melindungi lingkungan di masa depan.

Hingga saat ini, teknologi PlantBottle telah diaplikasikan di 44 negara dan sebanyak 43 miliar kemasan PlantBottle telah diproduksi oleh Coca-Cola Company. Pada tahun 2020, Coca-Cola Company memiliki misi untuk menggunakan PlantBottle pada seluruh produk mereka.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/coca-cola-ciptakan-botol-plastik-campuran-bahan-nabati/feed/ 0
Fasilitas Penyedot Karbon di Zurich https://www.greeners.co/ide-inovasi/fasilitas-penyedot-karbon-zurich/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fasilitas-penyedot-karbon-zurich https://www.greeners.co/ide-inovasi/fasilitas-penyedot-karbon-zurich/#respond Fri, 30 Jun 2017 12:30:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17505 Climeworks, perusahaan yang berbasis di Swiss, menciptakan Direct Air Capture (DAC), sebuah teknologi untuk menyedot karbondioksida dari udara. Fasilitas komersial ini dipasang di atas fasilitas pengolahan limbah di kota Zurich.]]>

Menangkap karbon di udara adalah salah satu perjuangan utama dalam konteks perubahan iklim, termasuk juga menjaga temperatur agar tidak meningkat lebih dari 2 derajat Celcius. Begitu data yang dipaparkan Climeworks. Perusahaan yang berbasis di Swiss ini telah melakukan penelitian beberapa tahun belakangan untuk menciptakan sebuah teknologi untuk menyedot karbondioksida dari udara dan menjual hasilnya untuk industri pertanian atau industri energi untuk dipakai ulang.

Belakangan ini mereka berhasil menciptakan produk yang siap masuk pasar. Produk bernama Direct Air Capture (DAC) ini adalah fasilitas komersial yang dipasang di atas fasilitas pengolahan limbah di Zurich, Swiss.

zurich

Foto: Climeworks via Facebook

Diletakkan di atas insenerator milk pemerintah, DAC buatan Climeworks merupakan sebuah alat setinggi tiga tumpukan kontainer dengan enam mesin kolektor karbon. Kipas angin berukuran besar akan menyedot udara di sekitarnya dan kemudian disalurkan melalui filter untuk menangkap CO2. Panas yang dihasilkan sampah akan memberikan daya kepada mesin DAC.

Climeworks berkata bahwa karbondioksida yang dihasilkan akan dikirim ke rumah-rumah kaca dengan hasil sebanyak 900 metrik ton per tahun dan akan dikirimkan ke rumah-rumah kaca melalui pipa di bawah tanah. CO2 yang dihasilkan juga bisa digunakan untuk industri minuman berkarbonasi atau bahan bakar hidrokarbon. Dengan cara ini alat DAC akan memberikan manfaat juga terhadap industri otomotif dan industri makanan minuman.

zurich

Foto: Youtube

Tujuan utama pemasangan alat ini adalah menangkap sebanyak 1% dari seluruh emisi karbon di dunia pada tahun 2025. Untuk melakukannya, Jan Wurzbacher, salah satu pendiri dan direktur Climeworks mengestimasikan bahwa mereka harus memasang sebanyak 750.000 kontainer yang dilengkapi dengan alat pengumpul CO2 buatan mereka.

Jumlah itu sama dengan jumlah kontainer yang masuk melalui pelabuhan di Shanghai dalam jangka waktu dua minggu, jadi sebenarnya data tersebut adalah sebuah target yang bisa dicapai oleh ekonomi global saat ini. Selain itu, terdapat jenis pengumpul CO2 yang bersifat modular dan dapat dipasang dimana saja.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/fasilitas-penyedot-karbon-zurich/feed/ 0
Dari Mayones Menjadi Energi https://www.greeners.co/ide-inovasi/mayones-menjadi-energi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mayones-menjadi-energi https://www.greeners.co/ide-inovasi/mayones-menjadi-energi/#respond Mon, 26 Jun 2017 10:10:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17469 Universitas Michigan mengahadapi masalah pelik pada akhir 2016 lalu, sekitar 500 botol mayones berukuran 2,5 galon, yang ada di dapur kampus tidak dapat dikonsumsi. Untuk dibuang saja jumlahnya terlalu banyak.]]>

Universitas Michigan dihadapkan pada masalah pelik di akhir tahun 2016. Temperatur dingin merusak penyimpanan mayones di dapur universitas dan merusak isinya. Sekitar 500 botol berukuran 2,5 galon, tidak dapat dikonsumsi.

Lazimnya pihak universitas akan mendonasikan makanan yang kondisinya sudah tidak begitu segar pada bank makanan lokal. Namun karena kali itu kualitasnya sangat jelek dan dalam jumlah yang begitu banyak, mereka harus mencari solusi lain. Untuk dibuang saja pun jumlahnya sudah terlalu banyak.

Untungnya sekolah tersebut memiliki pegawai-pegawai yang bertugas di bidang keberlanjutan. Mereka mengutarakan ide brilian sehubungan dengan sampah tersebut. Universitas Michigan memiliki sebuah digester anaerob yang berfungsi memberikan energi untuk kebun mereka dan beberapa bangunan di selatan kampus. Kandungan gula dan lemak di dalam mayones tersebut merupakan bahan yang sempurna untuk digester yang memproses ribuan ton sampah makanan tiap tahunnya.

mayones

Foto: Michigan State University via Treehugger.com

Menurut pejabat Culinary Services Sustainability di Universitas Michingan, Cole Gude, keputusan untuk menggunakan mayones sebagai energi merupakan langkah relatif mudah. “Situasi yang sempurna yang bisa mengubah bencana menjadi sesuatu hal yang positif bagi kampus,” katanya.

Dalam satu hari, tim yang terdiri dari 12 orang menghabiskan waktu sebanyak 8 jam membuang isi botol ke dalam tempat pengumpulan sampah digester. Setelah menuangkan semua mayones tersebut, tim tersebut harus membawa kembali botolnya ke dalam sebuah dapur untuk membersihkan semua sisa mayones sehingga botol-botol plastik tersebut bisa diserahkan ke tempat daur ulang.

Carla Lansiti, pegawai Residential and Hospitality Service Sustainability, menuturkan, “mayones ada di mana-mana, di karpet dan di semua baju para pekerja. Hal tersebut adalah satu hal yang belum bisa kami antisipasi.”

Walaupun memakan banyak waktu dan tenaga, tim itu bernafas lega karena hasil kerja mereka telah memberikan sumbangsih yang positif bagi kampus. Untuk beberapa saat, kampus tersebut dijalankan dengan menggunakan energi dari mayones.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mayones-menjadi-energi/feed/ 0
Menara Bertenaga Surya Terbesar di Dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/menara-bertenaga-surya-terbesar-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menara-bertenaga-surya-terbesar-dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/menara-bertenaga-surya-terbesar-dunia/#respond Thu, 25 May 2017 13:27:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17087 Israel memulai gerakan perubahan dengan target sebesar 10% dari total energi yang dipakai dari sumber terbarukan di tahun 2020 dan membuat sebuah proyek berskala raksasa: menara surya terbesar di dunia.]]>

Iklim gurun di Israel merupakan tempat yang tepat untuk pembangkit listrik bertenaga surya. Dengan matahari bersinar sepanjang tahun dan cuaca yang cukup hangat untuk mendapatkan tenaga panas matahari namun negara ini cukup lambat untuk beralih dari sumberdaya utama mereka saat ini yaitu gas alam.

Namun saat ini mereka memulai gerakan perubahan dengan target sebesar 10% dari total energi yang dipakai dari sumber terbarukan di tahun 2020 dan membuat sebuah proyek berskala raksasa: menara surya terbesar di dunia.

menara

Proyek Ashalim menggunakan 170.000 buah cermin yang disebut heliostat. Foto: brightsourceenergy.com

Proyek Ashalim ini dibangun di gurun Negev dengan empat bagian lahan, tiga diantaranya dibangun pada fase pembangunan pertama. Menara surya berada di tengah lahan dengan tinggi 250 meter. Menara tersebut dikelilingi 50.000 buah cermin yang mengelilingi menara untuk memaksimalkan energi yang dihasilkan.

Teknologi termal yang dipakai berasal dari BrightSource Energy, perusahaan yang sama yang berada di belakang proyek Ivanpah, pembangkit listrik bertenaga panas matahari terbesar di dunia, yang berada di gurun pasir Kalifornia. Proyek ini menggunakan 170.000 buah cermin yang disebut heliostat namun menaranya hanya berukuran 140 meter saja.

menara

Foto: brightsourceenergy.com

Lahan kedua untuk proyek Ashalim akan menggunakan teknologi panas surya yang bisa menyimpan energi tersebut untuk digunakan di malam hari sementara lahan ketiga adalah panel photovoltaic. Lahan ke empat akan menggunakan teknologi pembangkit listrik tenaga surya namun belum direncanakan teknologi seperti apa yang dipakai.

Kombinasi dari berbagai teknologi untuk memanen tenaga surya ini berarti dalam proyek ini tiap teknologi akan saling mendukung dengan yang lain untuk menghasilkan energi yang konsisten dan dapat diandalkan.

Israel sudah lama menjadi tempat penemuan teknologi pembangkit energi dari matahari namun selama ini pemerintahannya kurang mendukung gerakan tersebut hingga saat ini. Bila proyek ini berhasil, kita akan melihat lebih banyak lagi.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/menara-bertenaga-surya-terbesar-dunia/feed/ 0
Mobil-Rumah Bertenaga Surya https://www.greeners.co/ide-inovasi/mobil-rumah-bertenaga-surya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mobil-rumah-bertenaga-surya https://www.greeners.co/ide-inovasi/mobil-rumah-bertenaga-surya/#respond Mon, 03 Apr 2017 12:44:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=16544 Saat ini makin banyak orang yang bekerja di dunia digital dan selalu bepergian seperti kaum nomaden. Rumah ini adalah salah satunya: mobil yang disulap menjadi rumah lengkap dengan pembangkit energinya sendiri.]]>

Saat ini makin banyak orang yang bekerja di dunia digital dan selalu bepergian seperti kaum nomaden. Untuk itu sangat wajar jika mereka memikirkan bentuk rumah yang berbeda dengan rumah pada umumnya. Rumah ini adalah salah satunya: sebuah mobil yang disulap menjadi rumah lengkap dengan pembangkit energinya sendiri.

Seorang fotografer lepas bernama Norbert Juhasz beserta tunangannya Dora, seorang penulis, memutuskan untuk hidup nomaden berbekal sebuah mobil van berumur 16 tahun yang mereka ubah menjadi rumah bertenaga surya. Mobil ini rencananya akan mereka pakai untuk perjalanan mereka dari Budapest di Ceko hingga ke Maroko.

mobil-rumah bertenaga surya

Foto: Norbert Juhász via Inhabitat

Walaupun bagian eksterior mobil dibiarkan apa adanya, bagian interior dipenuhi oleh semua fitur yang dibutuhkan untuk pasangan ini selama perjalanannya. Ada kursi multifungsi yang bisa diubah menjadi tempat tidur untuk dua orang dengan ruang penyimpanan dan sistem kelistrikan di bagian bawahnya.

Di sebelah tempat tidur ada dapur kecil dengan kompor gas, tabung gas dan tempat cuci piring ditambah tangki air yang cukup besar yang dilengkapi dengan pompa bertekanan. Tangki ini dihubungkan dengan jalur pipa ke bagian belakang mobil, untuk dipakai sebagai pancuran di saat pasangan ini harus mandi. Sebuah lemari penyimpanan berbentuk L menampung barang-barang dan sebuah kulkas, juga merangkap sebagai tempat duduk.

mobil-rumah bertenaga surya

Panel surya yang terpasang di atap mobil van. Foto: Norbert Juhász via Inhabitat

Keunikan mobil ini berada pada bagian atapnya. Panel surya di bagian atap sebesar 250 watt menyimpan energi lewat generator yang terhubung ke mesin mobil dan menyuplai sistem kelistrikan berukuran 12 Volt. Energi yang dihasilkan bisa disimpan di baterai berukuran 200-Ah yang terhubung ke inverter listrik.

Mobil ini menghabiskan dana sebanyak 7,200 dolar termasuk untuk membuat furniturnya. Pasangan ini akan melakukan perjalanan ke Eropa Selatan sampai ke Maroko dan mendokumentasikan perjalanan mereka melalui website Rundabella dan halaman Facebook mereka.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mobil-rumah-bertenaga-surya/feed/ 0
Baterai ‘Berlian’ dari Sampah Nuklir https://www.greeners.co/ide-inovasi/baterai-berlian-sampah-nuklir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=baterai-berlian-sampah-nuklir https://www.greeners.co/ide-inovasi/baterai-berlian-sampah-nuklir/#respond Fri, 23 Dec 2016 05:34:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15491 Para peneliti dari Universitas Bristol baru saja menemukan cara untuk mengubah sampah nuklir menjadi baterai berbentuk berlian yang tahan lama.]]>

Para peneliti dari Universitas Bristol baru saja menemukan cara untuk mengubah sampah nuklir menjadi baterai berbentuk berlian yang tahan lama. Sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli fisika dan kimia di universitas tersebut menemukan teknologi baru yang dapat mengubah ribuan ton sampah nuklir yang sulit untuk ditangani menjadi berlian melalui proses di laboratorium. Berlian ini mampu menghasilkan listrik dalam jumlah kecil, tapi seperti berlian pada umumnya, baterai ini bisa bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama.

Teknologi yang dikembangkan di Universitas Bristol ini menggunakan berlian buatan yang terbuat dari sampah nuklir ditambah dengan sejumlah kecil energi radioaktif, untuk menciptakan baterai berarus rendah namun mempunyai kekuatan yang bisa bertahan sampai akhir peradaban manusia. Tim peneliti tersebut mengungkapkan hasil penelitian mereka di sebuah kelas di Cabot Institute.

Dibandingkan dengan baterai konvensional yang membutuhkan kabel dan koil untuk bisa berfungsi, baterai berbentuk berlian ini hanya perlu disimpan di dekat sumber radioaktif sehingga baterai tersebut bisa mulai memproduksi arus listrik. Sedikitnya bagian yang harus dipindahkan atau digerakkan membuat baterai ini bertahan jauh lebih lama dibandingkan baterai lainnya.

sampah nuklir

Ilustrasi: University of Bristol/inhabitat.com

Sebagai tambahan, baterai berlian ini bisa membantu menghilangkan sampah nuklir dengan cara yang aman dan permanen, sambil menghasilkan energi yang bisa digunakan. Energi yang dihasilkannya juga tidak menimbulkan efek gas rumah kaca atau membutuhkan tambahan bahan bakar.

Tidak ada bagian yang harus digerakkan, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak memerlukan perawatan, kata Tom Scott, Professor di bidang bahan, Universitas Bristol. Dengan membungkus bahan radioaktif di dalam berlian, kami berhasil mengubah masalah jangka panjang mengenai sampah nuklir menjadi sebuah baterai berbahan dasar nuklir dan menghasilkan energi bersih yang mampu bertahan lama.

Purwarupa dari baterai ini mengandalkan bahan nikel-63 sebagai sumber radiasinya, namun tim penelitinya sedang menguji pilihan lain untuk meningkatkan efisiensi dan meningkatkan kinerjanya. Pengujian berikutnya adalah dengan menambahkan karbon-14, sebuah versi karbon radioaktif namun bisa dengan mudah diambil dari bongkahan grafit. Inggris saat ini memiliki simpanan sekitar 95.000 metrik ton bongkahan grafit. Jadi kalau penelitiannya berhasil, akan sangat menolong mengurangi biaya dan risiko penanganan sampah nuklir.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/baterai-berlian-sampah-nuklir/feed/ 0
Komposter Tanpa Bau https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposter-tanpa-bau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komposter-tanpa-bau https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposter-tanpa-bau/#respond Thu, 06 Oct 2016 08:08:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14903 Melakukan pengomposan sisa makanan di sebuah apartemen kecil bisa menjadi proses yang merepotkan karena baunya. Namun tidak lagi berkat alat bernama Biovessel ini.]]>

Melakukan pengomposan sisa makanan di sebuah apartemen kecil bisa menjadi proses yang merepotkan karena baunya. Namun tidak lagi berkat alat bernama Biovessel ini.

Diciptakan oleh perusahaan Bionicraft yang berbasis di Taipei, Biovessel ini pada dasarnya adalah sebuah alat komposter yang bisa disimpan di atas meja, di dalam ruangan, dan menawarkan solusi pengomposan tanpa bau untuk sisa-sisa makanan. Ekosistem yang ada di dalam komposter ini adalah mikroba dan cacing tanah yang akan mengurai sisa-sisa makanan menjadi kompos yang kaya nutrisi.

biovessel

Desain Biovessel rancangan Bionicraft memiliki desain yang menarik sehingga tidak nampak seperti komposter. Foto: Bionicraft/inhabitat.com

Menurut United Nations Environment Programe (UNEP), ada sekitar 1,3 miliar ton sampah makanan tiap tahunnya. Jumlah yang sangat banyak ini tentu saja mempunyai efek negatif terhadap lingkungan.

Tidak seperti komposter lainnya, Biovessel dirancang dengan baik dan terlihat indah dipajang di ruangan, sementara itu desain produk yang dibantu oleh komputer membuat alat ini mampu mengoptimasikan aliran udara sehingga tidak ada bau yang keluar.

Cara memakai alat ini sangat mudah dan dengan bantuan 500 gram cacing tanah dicampur dengan humus dan bubuk gergaji bisa mengurai 500 – 1 kilogram sampah makanan tiap minggunya.

biovessel

Bionicraft menawarkan solusi pengomposan tanpa bau untuk sisa-sisa makanan. Foto: Bionicraft/inhabitat.com

Biovessel diciptakan setelah melalui penelitian biologis dan observasi selama 20 bulan. Penelitian tersebut di antaranya mencakup reka bentuk, alat pengatur di dalam struktur, tutup dari kayu yang berlubang sebanyak 3 buah. Studi aerodinamis memberikan informasi mengenai ukuran dan posisi tiga tutup kayunya, yang masing-masing memiliki fungsi : lubang memasukan sampah makanan, lubang pengamatan dan lubang kompos untuk hasil akhirnya.

“Tujuan kami menciptakan alat ini adalah untuk meningkatkan kepedulian terhadap isu sampah makanan di rumah dan proses pembuangannya,” ujar Brooklyn Chao, Pendiri Bionicraft. Ia menambahkan, “kami mencoba membuat sebuah solusi yang bisa diaplikasikan di rumah-rumah di perkotaan sehingga bisa membantu terciptanya ekosistem yang berkelanjutan terutama dalam menghadapi permasalahan sampah makanan.”

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposter-tanpa-bau/feed/ 0
Pot Tanaman Pengisi Ulang Daya Baterai Ponsel https://www.greeners.co/ide-inovasi/pot-tanaman-pengisi-ulang-daya-baterai-ponsel/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pot-tanaman-pengisi-ulang-daya-baterai-ponsel https://www.greeners.co/ide-inovasi/pot-tanaman-pengisi-ulang-daya-baterai-ponsel/#respond Wed, 25 May 2016 05:05:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13761 Bioo Lite merupakan sebuah pot tanaman pertama di dunia yang bisa mengisi ulang daya untuk gawai semacam ponsel pintar atau tablet.]]>

Beberapa percobaan terhadap proses fotosintesis menunjukkan bahwa energi yang dihasilkan dari proses tersebut dapat dimanfaatkan untuk listrik. Sebuah perusahaan rintisan dari Barcelona berusaha membantu masyarakat untuk memperoleh energi dari proses fotosintesis ini.

Produk bernama Bioo Lite ini berupa sebuah pot tanaman pertama di dunia yang bisa mengisi ulang daya untuk gawai semacam ponsel pintar atau tablet. Para perancang dari perusahaan Arkyne Technologies mengambil inspirasi dari riset NASA untuk menghubungkan desain kontemporer dengan energi terbarukan. Sebuah cara baru yang membuat kita melihat tanaman di dalam rumah dengan cara yang berbeda.

Bioo Lite merupakan sebuah pot tanaman pertama di dunia yang bisa mengisi ulang daya untuk gawai semacam ponsel pintar atau tablet. Foto: Bioo Lite/inhabitat.com

Bioo Lite merupakan sebuah pot tanaman pertama di dunia yang bisa mengisi ulang daya untuk gawai semacam ponsel pintar atau tablet. Foto: Bioo Lite/inhabitat.com

Bioo Lite adalah sebuah energi alternatif yang trendi, praktis sekaligus inspiratif. Pot ini tidaklah murah, sekitar 1,7 juta rupiah per buah namun dengan kelebihan yang menguntungkan. Bioo Lite terlihat sangat sederhana: pot berbentuk kotak dengan ruang yang cukup untuk tanaman rumahan, termasuk di dalamnya adalah sebuah port USB yang disamarkan dalam bentuk batu.

Foto: Bioo Lite/inhabitat.com

Foto: Bioo Lite/inhabitat.com

Pot ini hampir sepintar telepon pintar. Bagian bawahnya merupakan bagian yang menjadi pembangkit energi yang mengambil elemen-elemen yang dikeluarkan tanaman setelah fotosintesis kemudian mengubahnya menjadi listrik.

Hasilnya adalah sebuah sumber energi yang portabel, yang bisa dimasukkan dalam dekorasi rumah manapun. Energi yang dihasilkannya bisa terus digunakan selama tanaman itu tetap hidup.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pot-tanaman-pengisi-ulang-daya-baterai-ponsel/feed/ 0
Tenda Kardus Daur Ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/tenda-kardus-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tenda-kardus-daur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/tenda-kardus-daur-ulang/#respond Tue, 08 Mar 2016 06:56:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13100 Tidak ada festival yang tidak menyisakan banyak sampah, begitu pun festival musik sekelas dunia. Limbah sisa-sisa tenda setelah festival musik adalah sebuah permasalahan besar di beberapa negara, terutama karena jumlahnya yang cukup banyak.]]>

Festival musik dunia menjadi agenda tahunan yang didatangi banyak pengunjung. Woodstock misalnya. Tidak ada festival yang tidak menyisakan banyak sampah, begitu pun festival musik sekelas dunia. Limbah sisa-sisa tenda setelah festival musik adalah sebuah permasalahan besar di beberapa negara, terutama karena jumlahnya yang cukup banyak.

Bukanlah pemandangan yang aneh jika usai festival musik dunia diselenggarakan, timbunan tenda memenuhi permukaan tanah, sama halnya dengan sampah lainnya. Berangkat dari permasalahan tersebut, sebuah perusahaan rintisan dari Belanda mempunyai solusinya: KarTent.

Penggunaan KarTent dapat mengurangi sampah tenda yang menumpuk di area festival musik yang diadakan di area terbuka. Foto: KarTent/Inhabitat.com

Penggunaan KarTent dapat mengurangi sampah tenda yang menumpuk di area festival musik yang diadakan di area terbuka. Foto: KarTent/Inhabitat.com

Seperti yang diberitakan di situs Inhabitat, KarTent merupakan bahan yang tersebut dari kardus yang 100% dapat didaur ulang. Tenda yang kuat dan ringan ini mudah digunakan dan didirikan serta sangat mudah untuk didaur ulang.

Sejumlah para penikmat festival memang menggunakan ulang tenda mereka. Meski demikian para desainer di belakang produk KarTent menyadari bahwa beberapa orang tertentu hanya membutuhkan tenda sekali pakai. Menurut perusahaan tersebut, satu dari empat pengunjung festival meninggalkan tenda bekas mereka di tempat acara festival tersebut.

KarTent dibuat dari kardus yang sangat ringan namun tahan digunakan selama tiga hari saat hujan. Foto: KarTent/Inhabitat.com

KarTent dibuat dari kardus yang sangat ringan namun tahan digunakan selama tiga hari saat hujan. Foto: KarTent/Inhabitat.com

Solusi yang disuguhkan oleh produk KarTent adalah sebuah tenda yang dijamin cukup kuat untuk bertahan tetap kering selama tiga hari. Tiga hari merupakan rentang waktu yang biasa dipakai oleh festival musik seperti Woodstock. KarTent memuat dua orang dengan nyaman, bahkan dengan ruang sisa untuk tempat menyimpang barang. Tiap tenda dikirimkan dalam bentuk kemasan tipis dan beratnya hanya 0.6 kg dengan luas yang dipakai sebesar 3.3 m2.

Selain ringan dan bisa didaur ulang, KarTent juga mempunyai kelebihan bisa dibuat sesuai dengan rancangan tertentu. Tenda bisa dicetak dengan menggunakan logo sponsor atau gambar pribadi di permukaannya. Saat ini perusahaan ini sedang membuat desain terbaru yang bisa menampung empat orang di dalam satu tenda.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/tenda-kardus-daur-ulang/feed/ 0
6 Desain Inovatif untuk Meningkatkan Kualitas Hidup di Pengungsian https://www.greeners.co/ide-inovasi/6-desain-inovatif-untuk-meningkatkan-kualitas-hidup-di-pengungsian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=6-desain-inovatif-untuk-meningkatkan-kualitas-hidup-di-pengungsian https://www.greeners.co/ide-inovasi/6-desain-inovatif-untuk-meningkatkan-kualitas-hidup-di-pengungsian/#respond Fri, 04 Mar 2016 12:06:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13057 Krisis di berbagai belahan dunia telah membuat sekitar 60 juta orang meninggalkan rumah mereka. Untuk membantu meringankan kehidupan para pengungsi, beberapa desainer dari berbagai negara telah mengembangkan alat-alat yang inovatif.]]>

Krisis di berbagai belahan dunia telah membuat sekitar 60 juta orang meninggalkan rumah mereka. Salah satu angka pengungsi tertinggi baru-baru ini muncul akibat perang di Suriah, Afganistan dan beberapa negara di Afrika. Para pengungsi biasanya mencari perlindungan di kamp pengungsi. Namun, banyak pemukiman pengungsi hanya memiliki sedikit akses terhadap energi dan biasanya desain produknya pun tidak ramah dalam penggunaannya.

Hal-hal tersebut membuat para pengungsi makin kesulitan menjalani hidupnya. Meskipun kamp pengungsi dimaksudkan sebagai fasilitas temporer, kenyataannya banyak pengungsi yang tidak bisa meninggalkan tempat tersebut selama beberapa dekade lamanya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, beberapa desainer dari berbagai negara telah mengembangkan alat-alat yang inovatif untuk membantu memperbaiki kehidupan para pengungsi dengan harapan akan menjadi landasan untuk mereka hidup lebih baik dan lebih sehat di masa depan.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/6-desain-inovatif-untuk-meningkatkan-kualitas-hidup-di-pengungsian/feed/ 0
Seribu Kilometer Jalan Berpanel Surya di Perancis https://www.greeners.co/ide-inovasi/seribu-kilometer-jalan-berpanel-surya-perancis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=seribu-kilometer-jalan-berpanel-surya-perancis https://www.greeners.co/ide-inovasi/seribu-kilometer-jalan-berpanel-surya-perancis/#respond Tue, 01 Mar 2016 10:14:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13022 Pemerintah Perancis baru saja mengumumkan akan memasang panel surya di jalan sepanjang 1000 kilometer.]]>

Tahun 2015 lalu sebanyak 195 pimpinan negara berkumpul. Mereka membicarakan langkah mengatasi emisi gas rumah kaca. Usai pertemuan itu, Perancis mulai mengambil langkah nyata. Pemerintah Perancis baru saja mengumumkan akan memasang panel surya di jalan sepanjang 1000 kilometer.

Panel surya ini merupakan jenis terbaru yang bisa dipasang sebagai bahan pelapis lantai yang kuat. Bila program ini berjalan lancar, panel surya yang dinamakan Wattway tersebut akan menjadi sumber daya terbarukan untuk 5 juta orang di negara tersebut.

Proyek yang membutuhkan waktu pembuatan lima tahun ini akan selesai tahun 2020. Proyek tersebut merupakan kolaborasi antara perusahaan konstruksi Colas dan French National Institute of Solar Energy. Ini merupakan kali pertama sebuah panel surya dipasang di jalan umum dan ditargetkan untuk memberikan sumber daya terbarukan untuk 8 persen populasi negara Perancis.

Foto: Joachim Bertrand/COLAS/iflscience.com

Foto: Joachim Bertrand/COLAS/iflscience.com

Panel ini merupakan hasil teknologi terbaru dengan tebal 7 milimeter dengan panjang 15 sentimeter dan terbuat dari lapisan tipis silikon polikristalin yang kemudian dilapisi oleh lapisan resin untuk memperkuat daya tahannya. Dengan kombinasi bahan tersebut, panel surya yang baru ini bisa dijadikan bahan lantai. Bahan ini bahkan bisa dilalui oleh kendaraan dalam berbagai bentuk dan ukuran tanpa menyebabkan kerusakan, baik pada panel maupun kendaraan.

Panel surya ini tahan air dan cuaca serta bisa beradaptasi kepada temperatur lokal yang sangat cepat berubah. Lebih lagi, karena panel ini bisa dipasang di atas jalan yang sudah ada, infrastruktur yang sudah terbangun tidak usah dihancurkan atau diubah lagi, membuat panel surya ini semakin efektif dalam soal harga. Mungkin inovasi ini bisa juga dikembangkan di Indonesia?

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/seribu-kilometer-jalan-berpanel-surya-perancis/feed/ 0
Uganda Kembangkan Bus Tenaga Surya https://www.greeners.co/ide-inovasi/uganda-kembangkan-bus-tenaga-surya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=uganda-kembangkan-bus-tenaga-surya https://www.greeners.co/ide-inovasi/uganda-kembangkan-bus-tenaga-surya/#respond Sat, 27 Feb 2016 05:05:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12965 Tempat terbaik untuk memanen sinar matahari berada di negara-negara ekuator. Uganda termasuk di antaranya. Setelah pengujian yang sukses, Uganda akan meluncurkan bis yang sepenuhnya bertenaga surya.]]>

Kita kerap mendengar dan membaca berita tentang pemanfaatkan sinat matahari untuk memenuhi kebutuhan listrik sebuah rumah. Namun bagaimana dengan yang satu ini, bus tenaga surya di sebuah negara di Afrika yang belum semaju Amerika. Mengejutkan bukan?

Tempat terbaik untuk memanen sinar matahari berada di negara-negara ekuator. Uganda termasuk di antaranya. Setelah pengujian yang sukses, Uganda – negara di timur Afrika – akan meluncurkan bus yang sepenuhnya bertenaga surya.

Dilansir dalam Inhabitat.com, bus bernama Kayoola ini akan mulai beroperasi dalam beberapa hari ke depan. Beroperasinya bus Kayoola ini merupakan sebuah langkah yang berani dalam usaha menyediakan transportasi publik yang ramah lingkungan.

Bus yang diberi nama Kayoola ini mengambil tenaga yang disimpan dalam dua buah baterai. Baterai tersebut menyimpan energi matahari yang dipanen dari panel surya di bagian atap bus. Foto: omgvoice.com

Bus yang diberi nama Kayoola ini mengambil tenaga yang disimpan dalam dua buah baterai. Baterai tersebut menyimpan energi matahari yang dipanen dari panel surya di bagian atap bus. Foto: omgvoice.com

Bus ini dikembangkan oleh Kiira Motors Corporation. Tenaga bus berasal dari dua baterai yang menyimpan energi matahari dari panel surya yang dipasang pada atap bus. Dengan jangkauan sekitar 80 kilometer, bus ini ditujukan untuk pemakaian di dalam kota dengan jumlah kursi sebanyak 35 buah.

Bus Kayoola. Foto: Kiira Motors/Inhabitat.com

Bus Kayoola. Foto: Kiira Motors/Inhabitat.com

Paul Isaac Musasizi, pimpinan Kiira Motors mengatakan bahwa dia merasa terharu dengan reaksi positif terhadap kendaraan ciptaan perusahaannya ini. Dengan rencana pembuatan massal bus ini di masa depan, perusahaan tersebut diharapkan dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja di bidang otomotif. Walaupun perusahaan ini masih bergantung pada banyak onderdil yang harus diimpor, namun mereka berharap bisa memproduksi sendiri semua bagian kendaraan ini di tahun 2039.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/uganda-kembangkan-bus-tenaga-surya/feed/ 0
Daun, Baterai Ramah Lingkungan di Masa Depan https://www.greeners.co/ide-inovasi/daun-baterai-ramah-lingkungan-di-masa-depan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=daun-baterai-ramah-lingkungan-di-masa-depan https://www.greeners.co/ide-inovasi/daun-baterai-ramah-lingkungan-di-masa-depan/#respond Wed, 17 Feb 2016 06:52:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12867 Saat kita memandang sebuah pohon yang penuh dengan dedaunan hijau sebenarnya kita sedang melihat ratusan baterai kecil. Proses alami inilah yang sedang dipelajari oleh para ilmuwan.]]>

Saat kita memandang sebuah pohon yang penuh dengan dedaunan hijau sebenarnya kita sedang melihat ratusan baterai kecil. Dedaunan yang menempel di pohon ini sering kita pandang sebelah mata. Pada kenyataannya daun-daun tersebut menyimpan energi untuk pohon sehingga bisa digunakan di waktu yang berbeda.

Proses alami inilah yang sedang dipelajari oleh para ilmuwan. Mereka berusaha membuat baterai daun sebagai alternatif yang ramah lingkungan dibandingkan baterai berbahan dasar lithium seperti yang kita pakai sekarang.

Peneliti dari Universitas Maryland sedang berusaha menemukan terminal untuk kutub negatif baterai ciptaan mereka. Syaratnya, alat tersebut haruslah semurah mungkin. Ternyata yang harus mereka lakukan hanya mencari di sekitar lahan terbuka kampus mereka.

“Daun sangat berlimpah dan ada di mana-mana. Yang harus kita lakukan hanya tinggal ambil satu dari taman di sekitar kampus,” kata Hongbian Li – anggota Beijing National Center for Nanoscience and Technology dan pencetus riset ini.

Ilustrasi: shutterstock/inhabitat.com

Ilustrasi: shutterstock/inhabitat.com

Seperti dilansir dalam laman Inhabitat, Fei Shen, pencetus lainnya dari riset ini mengatakan bahwa bentuk alami sebuah daun sudah cocok dengan kebutuhan baterai. Kebutuhan tersebut termasuk area permukaan yang kecil dan struktur internal yang rumit yang bisa dipakai untuk sodium elektrolit.

Para ilmuwan memanaskan sebuah daun pohon ek sampai ke 1000 derajat celcius untuk menghancurkan struktur karbon daun tersebut. Kemudian, ilmuwan memasukan sodium elektrolit ke dalam pori-pori daun (dalam percobaan ini menggunakan daun mapel, Red.) hingga menyerap. Pada bagian atas daun, lapisan-lapisan karbon yang membuat daun menjadi kaku telah berubah menjadi lembaran karbon dengan struktur nano untuk menyerap sodium yang membawa energi.

Mereka akan terus bereksperimen dengan daun-daunan lain yang berbeda bentuk dan ukuran untuk menemukan struktur penyimpanan energi yang paling baik. Selain daun, mereka juga meneliti kemungkinan lain dari bahan-bahan alami yang ada, seperti kulit pisang atau kulit melon.

Saat ini para ilmuwan yang meneliti hal ini belum berniat untuk mengomersilkan temuan mereka. Tapi mungkin satu hari nanti kita bisa mengisi ulang baterai ponsel kita dengan baterai daun yang murah dan ramah lingkungan.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/daun-baterai-ramah-lingkungan-di-masa-depan/feed/ 0
Botol Minum untuk Petualang, Mampu Menarik Air dari Udara https://www.greeners.co/ide-inovasi/botol-minum-untuk-petualang-mampu-menarik-air-dari-udara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=botol-minum-untuk-petualang-mampu-menarik-air-dari-udara https://www.greeners.co/ide-inovasi/botol-minum-untuk-petualang-mampu-menarik-air-dari-udara/#respond Thu, 11 Feb 2016 09:34:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12810 Sekarang para pesepeda dan pendaki gunung tak perlu cemas saat memenuhi kebutuhan airnya selama bertualang. Perusahaan Fontus merancang sebuah desain botol minum yang bisa mengisi sendiri airnya.]]>

Selama beraktifitas di luar ruang, menjaga kadar air di tubuh adalah hal yang sangat penting. Namun dengan kesadaran seperti itu pun, banyak pesepeda atau pendaki gunung yang bisa lupa mengisi kembali botol air mereka dan membuat mereka berada dalam bahaya.

Sekarang para pesepeda dan pendaki gunung tak perlu cemas saat memenuhi kebutuhan airnya selama bertualang. Perusahaan Fontus merancang sebuah desain botol minum yang pintar. Perusahaan ini mengembangkan sebuah produk botol minum yang bisa mengisi sendiri airnya. Air tersebut dikumpulkan dari kelembaban di udara.

Teknologi yang mengandalkan tenaga surya ini memanen air dari udara menggunakan Elemen Peltier – pendingin dengan dua ruang yang berfungsi mendorong kondensasi. Saat udara bergerak melalui ruang bagian atas, udara tersebut ditahan oleh beberapa penghalang. Kecepatan aliran udara yang berkurang ini memungkinkan lepasnya molekul air yang kemudian ditarik dari udara tersebut dan kemudian disimpan di botol.

Botol minum rancangan Fontus didesain untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi para pendaki gunung dan pesepeda. Foto: Fontus/inhabitat.com

Botol minum rancangan Fontus didesain untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi para pendaki gunung dan pesepeda. Foto: Fontus/inhabitat.com

Fontus menjanjikan bahwa alat ini sangat praktis dan bisa diandalkan. Seperti yang diberitakan dalam situs Inhabitat, Fontus menciptakan sebuah alat yang bisa menyerap kelembaban udara, memisahkan molekul air dari udara dan kemudian menyimpannya ke dalam botol. Namun alat tersebut harus kecil, ringkas dan mampu bekerja sendiri.

Setelah lebih dari 30 percobaan, akhirnya didapatkan hasil percobaan yang menghasilkan air dalam jumlah yang stabil, yaitu satu tetes air tiap menit. Dengan kondisi yang tepat, alat ini bisa menghasilkan setengah liter air dalam satu jam. Walaupun ini sebuah pencapaian yang menakjubkan, namun jumlah ini masih kurang banyak saat digunakan di hari yang panas dan lembab. Alat ini juga tidak efektif di area perkotaaan, karena air yang didapat tercemar oleh polusi udara.

Ada dua jenis botol minum pintar keluaran Fontus yaitu Airo untuk pendaki gunung dan Ryde untuk pesepeda. Foto: Fontus/inhabitat.com

Ada dua jenis botol minum pintar keluaran Fontus yaitu Airo untuk pendaki gunung dan Ryde untuk pesepeda. Foto: Fontus/inhabitat.com

Saat ini, Fontus mengembangkan dua jenis botol pintar, yaitu Airo untuk pendaki gunung dan Ryde untuk pesepeda. Fontus telah bergabung dengan banyak proyek yang menjanjikan dalam usaha memanen air dari udara.

Di tahun 2013, peneliti dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) menciptakan sebuah bahan yang bisa menarik air dari kabut dan hasilnya sampai saat ini cukup menggembirakan. Mungkin para profesor tersebut bisa memasang sebuah jaring penangkap air di kampus sehingga bisa menolong kota Boston dari kelembabannya yang cukup mengganggu. Lebih penting lagi, teknologi ini bisa menolong kasus kekurangan air di daerah-daerah yang miskin dan bisa berperan sebagai adaptasi terhadap perubahan iklim.

Penulis: NW/G15

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/botol-minum-untuk-petualang-mampu-menarik-air-dari-udara/feed/ 0