Pembangunan Ekonomi Cirebon harus Berwawasan Lingkungan

Reading time: 2 menit
Pembangunan ekonomi dan sosial tidak akan berjalan terjadi bila kondisi lingkungannya buruk, karena baik ekonomi dan sosial berada dalam lingkaran lingkungan.

Cirebon (1/1). Pembangunan ekonomi dan sosial tidak akan berjalan terjadi bila kondisi lingkungannya buruk, karena baik ekonomi dan sosial berada dalam lingkaran lingkungan. Hal tersebut merupakan penjelasan model pembangunan berkelanjutan Boneka Russia yang dijelaskan oleh Ketua tim ahli pengembangan ekonomi lokal Bappenas, Sugeng Budiharsono, dalam workshop Pembangunan Ekonomi Kota Cirebon Berwawasan Lingkungan di Aula Unswagati, Cirebon.

Kegiatan ini  merupakan prakarsa Ikatan Kekeluargaan Cirebon (IKC) Institut Pertanian Bogor. Ikatan mahasiswa IPB asal Cirebon ini mengundang akademisi yang berlevel nasional maupun internasional untuk membuka wawasan pembangunan Cirebon yang tidak melupakan kondisi lingkungan. Selain Sugeng Budiharsono, dalam kegiatan ini pula hadir pembicara-pembicara yang tak lain juga adalah putra asal Cirebon, yaitu Mantan menteri kelautan dan perikanan Rokhmin Dahuri, pencetus gerakan lubang biopori Kamir Brata, dan Dekan Fakultas Pertanian IPB Sam Herodian.

Rokhmin Dahuri membuka seminar itu dengan presentasi membangun kota Cirebon yang berdaya saing, adil makmur, ramah lingkungan dan diridhai Allah SWT. Menurut pandangan profesor perikanan ini, kota Cirebon memiliki tujuh poin permasalahan, yaitu: Penganggutran dan kemiskianan, deindustrialisasi, semakin berkurangnya sumber air bersih, kerusakan lingkungan, praktek KKN dan ekonomi biaya tinggi, kualitas SDM relatif rendah, serta daya saing ekonomi rendah.

Kerusakan lingkungan menjadi garis besar paparan Rokhmin siang itu. “Ada empat sungai di wilayah kota Cirebon, yang ternyata selain sebagai batas wilayah, sungai juga berfungsi sebagai saluran pembuangan air,” ujarnya di depan peserta yang berasal dari pelajar SMA, mahasiswa, pengajar, hingga pegawai negeri setempat yang terkait.

Berdasarkan catatan Rokhmin, ruang terbuka hijau di Cirebon hanya kurang dari 10 %. “Padahal, idealnya 30 % dari total luas wilayah kota berdasarkan UU no 26/2007 tentang tata ruang,” ungkapnya.

Selain Rokhmin yang menjelaskan dari sisi potensi global lingkungan, pada seminar ini ada pula Kamir Brata pencetus lubang biopori sebagai sumur sederhana penyerapan air di lingkungan. Menurut Kamil, kondisi lingkungan akan semakin berimbas buruk ketika ketersediaan air yang diserap tanah berkurang.”Sebaiknya setiap pembangunan di sudut-sudut kavlingnya dibuatkan ruang serapan, di pinggir-pinggir jalan juga,” Papar Kamil.

Top
You cannot copy content of this page