kanker payudara - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kanker-payudara/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 11 Feb 2026 11:14:56 +0000 id hourly 1 BRIN Temukan Bakteri di Tanah Tumbuhan Kunyit, Bisa Lawan Kanker Payudara https://www.greeners.co/berita/brin-temukan-bakteri-di-tanah-tumbuhan-kunyit-bisa-lawan-kanker-payudara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-temukan-bakteri-di-tanah-tumbuhan-kunyit-bisa-lawan-kanker-payudara https://www.greeners.co/berita/brin-temukan-bakteri-di-tanah-tumbuhan-kunyit-bisa-lawan-kanker-payudara/#respond Wed, 11 Feb 2026 11:14:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48121 Jakarta (Greeners) – Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan bakteri aktinomisetes yang hidup di tanah rhizosfer (sekitar akar/rimpang) kunyit (Curcuma […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan bakteri aktinomisetes yang hidup di tanah rhizosfer (sekitar akar/rimpang) kunyit (Curcuma longa L.). Bakteri tersebut berpotensi menghasilkan senyawa antikanker yang efektif melawan sel kanker payudara dengan tingkat toksisitas yang sangat rendah terhadap sel normal.

Temuan ini merupakan hasil kolaborasi riset antara tim BRIN dan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Hasil penelitian terpublikasi di Journal of Applied Pharmaceutical Science Vol. 15 No. 3 (DOI: 10.7324/JAPS.2025.218990).

Tim peneliti berhasil mengisolasi tujuh bakteri aktinomisetes dari tanah perkebunan kunyit di Karanganyar, Jawa Tengah. Mereka pun menguji potensi antikankernya secara in vitro terhadap sel kanker payudara T47D.

Peneliti BRIN Aniska Novita Sari menyampaikan bahwa hasil pengujian in vitro menunjukkan salah satu isolat, yaitu TC-ARCL7, memiliki aktivitas antikanker yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 0,2 µg/ml. Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan obat kemoterapi doxorubicin, kurkumin murni, maupun ekstrak etanol kunyit. Menariknya, isolat ini juga menunjukkan toksisitas yang sangat rendah terhadap sel normal (Vero), sehingga memiliki indeks selektivitas yang tinggi.

“Temuan ini menunjukkan bahwa potensi anti-kanker tidak selalu berasal langsung dari tanaman obat. Namun, mikroba yang hidup di sekitarnya juga berpotensi memiliki aktivitas yang sama dengan inangnya dan berpeluang dikembangkan lebih lanjut,” kata Aniska dalam keterangannya.

Selain itu, ia menilai bahwa pendekatan ini dapat menjadi alternatif dalam pengembangan obat berbasis bahan alam. Biaya produksinya juga bisa lebih efisien dan sumber daya yang berkelanjutan.

Lanjutkan Riset secara Mendalam

Aniska menambahkan secara molekuler, isolat TC-ARCL7 memiliki klaster gen biosintesis poliketida (PKS1 dan PKS2). Klester gen tersebut berperan penting dalam produksi metabolit sekunder antikanker.
“Identifikasi genetik menunjukkan bahwa bakteri ini berkerabat dekat dengan Kitasatospora misakiensis dan Kitasatospora purpeofusca, kelompok bakteri yang terkenal mampu menghasilkan berbagai senyawa bioaktif farmasi,” tambahnya.
Menurutnya, penelitan ini masih di tahap awal dan masih panjang prosesnya. Ke depannya, Aniska dan tim berkomitmen untuk melanjutkan riset secara lebih mendalam. Penelitian tersebut mencakup pemurnian senyawa aktif, optimasi produksi metabolit, serta pelaksanaan uji pra-klinik. Seluruh tahapan ini dilakukan sebelum dikembangkan sebagai kandidat obat antikanker baru yang aman, efektif, dan bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/brin-temukan-bakteri-di-tanah-tumbuhan-kunyit-bisa-lawan-kanker-payudara/feed/ 0
Menkes Budi Tekankan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/menkes-budi-tekankan-pentingnya-deteksi-dini-kanker-payudara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menkes-budi-tekankan-pentingnya-deteksi-dini-kanker-payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/menkes-budi-tekankan-pentingnya-deteksi-dini-kanker-payudara/#respond Fri, 13 Dec 2024 06:07:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=45433 Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa kanker payudara masih menjadi pembunuh tertinggi perempuan Indonesia untuk penyakit kanker. Ia menekankan pentingnya deteksi dini kanker payudara bagi perempuan. Budi juga […]]]>

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa kanker payudara masih menjadi pembunuh tertinggi perempuan Indonesia untuk penyakit kanker. Ia menekankan pentingnya deteksi dini kanker payudara bagi perempuan.

Budi juga meminta agar para perempuan tidak ragu untuk melakukan deteksi dini. Apalagi, program skrining kesehatan untuk perempuan usia di atas 40 tahun akan mencakup skrining kanker payudara.

“Kenapa banyak yang meninggal (karena kanker)? Karena ketahuannya terlambat, setelah stadium tiga atau stadium empat. Padahal, kalau bisa deteksi dini di stadium satu atau dua, kemungkinan hidupnya atau survivability rate-nya tinggi sekali dengan teknologi yang sekarang,” kata Budi lewat keterangan tertulisnya, Sabtu (7/12).

Saat berkunjung ke salah satu rumah sakit di Sulawesi Tenggara, Budi juga berbincang dengan penyintas atau survivor kanker payudara, Ni Kadek Mulyati. Budi menjelaskan bahwa fasyankes tingkat pertama, seperti puskesmas, sebenarnya dapat melakukan deteksi dini kanker payudara dengan memanfaatkan USG.

BACA JUGA: Deteksi Dini Kanker Payudara, LIPI Perkenalkan Kit HER2

“Saya juga sudah ngomong ke kolegium, yuk, diturunkan (kemampuan) kompetensinya (ke dokter umum), agar 10.000 USG (di puskesmas) itu tidak hanya untuk memeriksa ibu hamil, melainkan juga bisa untuk memeriksa skrining kanker payudara oleh dokter umum,” tambahnya.

Jika ada indikasi kanker payudara seperti yang Ni Kadek alami, dokter akan merujuknya ke rumah sakit. Di rumah sakit, akan ada prosedur biopsi atau pengambilan sampel jaringan, sel, atau cairan tubuh. Selanjutnya, laboratorium memeriksa sampel ini untuk mengetahui tingkat stadium kanker.

Tak Perlu Khawatir Deteksi Kanker Payudara

Sementara itu, Budi juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai hasil pemeriksaan yang buruk. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa perempuan enggan melakukan pemeriksaan kanker payudara.

Padahal, sebaiknya perempuan mendeteksi kanker sejak dini. Sebab, peluang hidup akan lebih besar jika terdeteksi lebih awal dibandingkan jika terdeteksi terlambat.

“Jadi, kenapa banyak perempuan nggak mau dimamografi? Karena mereka takut menerima kenyataan kalau ada apa-apa. Padahal, saya yang bukan dokter saja tahu kalau ketahuan stadium satu lebih baik daripada ketahuannya di stadium tiga,” kata Budi.

Senada dengan imbauan Menkes Budi, Ni Kadek Mulyati mengajak perempuan Indonesia untuk tidak ragu melakukan skrining kanker payudara sebelum terlambat.

“Untuk wanita di Indonesia dan seluruh dunia, mari kita memeriksakan diri sedini mungkin untuk mengetahui apakah di tubuh kita ada penyakit yang mungkin saja tidak kita ketahui,” imbau Ni Kadek.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/menkes-budi-tekankan-pentingnya-deteksi-dini-kanker-payudara/feed/ 0
Racun Lebah Madu Berpotensi Lawan Sel Kanker Payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/racun-lebah-madu-berpotensi-lawan-sel-kanker-payudara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=racun-lebah-madu-berpotensi-lawan-sel-kanker-payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/racun-lebah-madu-berpotensi-lawan-sel-kanker-payudara/#respond Sun, 18 Oct 2020 07:00:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=29443 Baru-baru ini, tepatnya pada September 2020, Nature menerbitkan sebuah studi yang menemukan racun lebah madu (Apis mellifera) berpotensi melawan sel kanker payudara.  ]]>

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker paling umum di dunia. Kanker ini merupakan jenis kanker yang paling umum menyerang perempuan. Tidak heran bila peneliti terus mengaji kanker payudara serta melihat celah untuk menemukan penawar sel kanker payudara. Baru-baru ini, tepatnya pada September 2020, Nature menerbitkan sebuah studi yang menemukan racun lebah madu (Apis mellifera) berpotensi melawan sel kanker payudara.

Ilmuwan Institut Penelitian Medis Harry Perkins di Perth, Dr. Ciara Duffy bersama timnya, mengambil racun lebah madu dari sekitar Perth di Australia Barat dan menguji efeknya pada berbagai jenis sel kanker payudara. Dia menemukan, racun lebah madu dan melittin, zat yang terkandung dalam racun lebah madu, dengan cepat membunuh sel kanker payudara. Penelitian ini pun menemukan reaksi racun lebah madu dan melittin tidak memberikan efek signifikan pada sel normal.

“Kami menemukan bahwa melittin dapat sepenuhnya menghancurkan membran sel kanker dalam waktu 60 menit,” ujarnya kembali.

Baca juga: Cariuma, Produsen Sepatu Kets Sadar Lingkungan dari Brazil

Melittin, Zat Bisa Lebah Madu yang Terus Diteliti

Penelitian racun lebah madu ini berfokus pada pengujian pada sel payudara normal, dan sel dari subtipe klinis kanker payudara, seperti hormone receptor positive, HER2-enriched, dan triple-negative breast cancer. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan melittin sebagai bahan kimia aktif  yang diketahui dapat membunuh sel kanker. Pada penelitian terbaru ini, Dr. Ciara dan timnya menemukan zat yang menyebabkan rasa sakit selama sengatan lebah ini mampu mengurangi zat kimiawi sel kanker yang penting untuk pertumbuhan sel kanker dan pembelahan sel.

“Kami menemukan bahwa melittin dapat digunakan dengan molekul kecil atau kemoterapi, seperti docetaxel, untuk mengobati jenis kanker payudara yang sangat agresif. Kombinasi melittin dan docetaxel sangat efisien dalam mengurangi pertumbuhan tumor pada tikus,” ujarnya dalam Science Daily

Lebih jauh, racun lebah madu telah terbukti mampu mencegah pertumbuhan sel kanker lain, termasuk melanoma, kanker paru-paru, leukemia, dan kanker ovarium. Namun, penelitian ini menggarisbawahi kemungkinan menjadi studi pertama yang melihat dampak bisa lebah madu terhadap berbagai jenis kanker payudara.

Penemuan ini memberikan harapan baru bagi pasien kanker payudara. Namun, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menemukan konsentrasi melittin yang paling aman dan efisien digunakan untuk pengobatan kanker payudara.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/racun-lebah-madu-berpotensi-lawan-sel-kanker-payudara/feed/ 0
Deteksi Dini Kanker, LIPI Perkenalkan Kit Kanker Payudara HER2 https://www.greeners.co/berita/deteksi-dini-kanker-lipi-perkenalkan-kit-kanker-payudara-her2/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=deteksi-dini-kanker-lipi-perkenalkan-kit-kanker-payudara-her2 https://www.greeners.co/berita/deteksi-dini-kanker-lipi-perkenalkan-kit-kanker-payudara-her2/#respond Tue, 05 Feb 2019 05:04:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22495 LIPI mengembangkan Kit Deteksi Biomarker Kanker Payudara HER2 untuk mendeteksi dini penyakit kanker. Teknologi ini untuk mengetahui arah penentuan pengobatan kanker yang efektif bagi pasien sejak awal.]]>

Jakarta (Greeners) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengembangkan Kit Deteksi Biomarker Kanker Payudara HER2 untuk mendeteksi dini penyakit kanker. Teknologi ini untuk mengetahui arah penentuan pengobatan kanker yang efektif bagi pasien sejak tahap awal.

”Teknologi deteksi ini bukan untuk pencegahan, namun untuk mendapatkan langkah selanjutnya ke arah penentuan pasien untuk terapi dengan trastuzumab,” ujar Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Desriani dalam jumpa pers “Pemanfaatan Teknologi dan Potensi Sumber Daya Hayati untuk Pencegahan Kanker” di ruang Media Center LIPI, Jakarta, Senin (04/02/2019).

Laporan terbaru yang dirilis oleh International Agency for Research on Cancer, World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 18,1 juta kasus kanker baru dan 9,6 juta kematian yang terjadi pada tahun 2018. Sedangkan, penyakit kanker menempati urutan tertinggi di derita oleh pasien kanker wanita yaitu sebesar2,1 juta/pertahun (2018). Angka kematian yang ditimbulkan sebesar 627.000 orang atau sebesar 15% dari total penderita kanker.

BACA JUGA: Pengobatan Kanker, LIPI Manfaatkan Potensi Biodiversitas Laut Indonesia 

Desriani mengatakan pada kanker payudara terdapat tiga gen yang menjadi penyebab munculnya kanker yakni estrogen receptor, progresteron receptor dan human epidermal growth factor receptor 2 (HER2).

“Sebesar 20 persen dari jumlah penderita kanker payudara atau satu dari lima penderita disebabkan oleh HER2 positif. HER2 Positif ini didapatkan karena estrogen receptor dan progresteron receptor hasilnya negatif. Kelebihan protein HER2 inilah yang membuat sel-sel kanker tumbuh dan menyebar lebih cepat daripada sel-sel dengan kadar protein yang normal. Jadi Kit HER2 ini nanti digunakan untuk mendeteksi apakah pasien itu merupakan pasien kategori HER2, sehingga nanti akan menentukan terapi yang akan didapatkan oleh pasien tersebut,” katanya.

BACA JUGA: BPPT Luncurkan Lab Uji Polutan Organik Penyebab Kanker 

Desriani mengatakan bahwa saat ini alat kesehatan Kit HER2 ini masih dalam tahap pengembangan dan masih perlu dilakukan uji karakter kit meliputi, sensitifitas, spesifikasi, stabilitas, dan blind test. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkeinginan ada penelitian lebih lanjut terhadap Kit ini.

”Selain KIT, saat ini penelitian yang dilakukan di LIPI adalah pembuatan protein interferon alfa-2a non fusi dan interferon alfa-2a fusi dengan human serum albumin. Protein ini memiliki aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan sel kanker,” kata Desriani.

Dengan menggunakan human serum albumin, diagnosis dengan Kit untuk menentukan status HER2 ini telah berhasil divalidasi dengan metode CISH (Chromogenic In Situ Hybridization) dengan tingkat kesesuaian tinggi mencapai 86% untuk mendeteksi status HER2 pada pasien kanker.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/deteksi-dini-kanker-lipi-perkenalkan-kit-kanker-payudara-her2/feed/ 0
Hari Kanker Sedunia, Masyarakat Diajak Mendeteksi Kanker Sejak Dini https://www.greeners.co/berita/hari-kanker-sedunia-masyarakat-diajak-mendeteksi-kanker-sejak-dini/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-kanker-sedunia-masyarakat-diajak-mendeteksi-kanker-sejak-dini https://www.greeners.co/berita/hari-kanker-sedunia-masyarakat-diajak-mendeteksi-kanker-sejak-dini/#respond Sun, 04 Feb 2018 05:02:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19946 “Kita Bisa. Aku Bisa” menjadi tema Hari Kanker Sedunia tahun 2018 ini. Tema ini bertujuan untuk menyebarkan pesan bahwa setiap orang bisa mengambil peran dalam mengurangi beban dan permasalahan kanker.]]>

Jakarta (Greeners) – Penyakit kanker masih menjadi momok kesehatan. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dr. H. Mohamad Subuh MPPM menyatakan, masyarakat perlu untuk mendapat pengetahuan dan pemahaman untuk mengenali gejala kanker sejak dini.

“Kesadaran terhadap pengenalan penyakit ini perlu disadari oleh masyarakat, contohnya periksa payudara sendiri ada benjolan atau tidak, atau seperti gejala kanker usus itu pola BAB (Buang Air Besar) sudah tidak teratur. Hal-hal seperti itu harus diberitahu dan diedukasi,” kata Subuh, Jakarta, Sabtu (03/01/2018).

BACA JUGA: Menteri Kesehatan Tinjau Pasien Gizi Buruk di Asmat

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1.000 penduduk atau sekitar 347.000 orang. Dalam data yang sama disebut juga bahwa prevalensi kanker lebih tinggi pada perempuan ketimbang lelaki. Kanker payudara dan kanker leher rahim merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita.

Untuk kedua jenis penyakit kanker tersebut, Subuh mengatakan bahwa pemerintah telah mendorong upaya deteksi dini kanker leher rahim dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan kanker payudara dengan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS). Cakupan deteksi dini IVA dan SADANIS di Indonesia sampai dengan tahun 2017 meningkat jika dibandingkan tahun 2016, dimana cakupan pemeriksaan sebesar 1.925.943 orang atau 5,2% menjadi 3.038.296 atau sekitar 8,1 %.

Selain itu, salah satu cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus) bisa dicegah dengan menggunakan vaksin HPV. Tingkat keberhasilan imunisasi HPV ini mencapai 100% jika diberikan sebanyak dua dosis pada saat anak perempuan berusia 9 hingga 13 tahun dengan interval yang dianjurkan adalah 6 sampai 15 bulan.

BACA JUGA: Hari Gizi Nasional 2018, Kemenkes Fokus pada Pencegahan Stunting

Subuh menyatakan bahwa penyebaran imunisasi HPV pada tahun 2017 meliputi wilayah DKI Jakarta, DIY (Kulon Progo dan Gunung Kidul), dan Jawa Timur (Surabaya). Selanjutnya, pada tahun 2018 akan dilakukan perluasan imunisasi ke Manado dan Makassar.

“Bisa melakukan deteksi dini pada kanker anak penting sekali, maka dari itu awareness kita terhadap anak-anak harus lebih diperhatikan supaya kita juga peka terhadap gejalanya dan bisa mendeteksi langsung gejala tersebut. Diharapkan dengan peringatan Hari Kanker Sedunia 2018 dapat meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap kanker serta memperkuat sistem pelayanan kanker di Indonesia,” pungkas Subuh.

hari kanker sedunia

Sumber: www.worldcancerday.org. Infografis: www.greeners.co

hari kanker sedunia

Sumber: www.worldcancerday.org. Infografis: www.greeners.co

Sebagai informasi, tanggal 4 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia. “Kita Bisa. Aku Bisa” menjadi tema tahun 2018 ini dengan sub tema adalah “Aku Bisa Melakukan Deteksi Dini. Kita Bisa Mengerti Kanker”. Tema ini bertujuan untuk menyebarkan pesan bahwa setiap orang baik secara bersama atau individual bisa mengambil peran dalam mengurangi beban dan permasalahan kanker.

Dari sisi pembiayaan, kanker masuk dalam penyakit katastropik yang menelan biaya besar. Dari tahun ke tahun pembiayaan kanker terus meningkat. Berdasarkan data dari BPJS hingga bulan September 2017, penyakit kanker telah menghabiskan biaya sebesar 2,1 triliun rupiah dan menempati urutan kedua setelah penyakit jantung.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hari-kanker-sedunia-masyarakat-diajak-mendeteksi-kanker-sejak-dini/feed/ 0
Pink Oxfords, Sepatu dengan Ajakan Peduli Kanker Payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/pink-oxfords-sepatu-ajakan-peduli-kanker-payudara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pink-oxfords-sepatu-ajakan-peduli-kanker-payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/pink-oxfords-sepatu-ajakan-peduli-kanker-payudara/#respond Fri, 04 Aug 2017 08:17:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17992 Tampilan sepatu Pink Oxfords yang ditujukan untuk wanita ini nampak cantik dan chic. Namun siapa sangka, dibalik keindahannya tersimpan pesan yang mulia dalam sepatu ini.]]>

Tampilan sepatu Pink Oxfords yang ditujukan untuk wanita ini nampak cantik dan chic. Namun siapa sangka, dibalik keindahannya tersimpan pesan yang mulia dalam sepatu ini. Ya, sepatu Pink Oxfords mengajak para penggunanya untuk peduli terhadap salah satu penyakit paling mematikan bagi wanita, yaitu kanker payudara.

Sepatu Pink Oxfords diciptakan oleh desainer muda asal Guatemala yang bernama Cristha Fuentes. Desainer berusia 23 tahun ini sudah menemukan hasratnya dalam dunia fesyen sejak ia masih berusia 6 tahun. Setelah menyelesaikan studinya dalam bidang fashion design, Cristha mulai menciptakan produk fesyen dan membangun merek fesyennya sendiri.

Produk fesyen yang diciptakan oleh Cristha berfokus pada sepatu wanita, dan uniknya, masing-masing sepatu yang ia rancang memiliki ‘cerita’ tersendiri. Salah satu sepatu yang menjadi andalan adalah Pink Oxfords.

Pink Oxfords memiliki closed lacing atau lubang tali sepatu yang tertutup. Sepatu ini terbuat dari kulit dan memiliki ujung yang bulat namun sedikit lancip. Sesuai seperti namanya, sepatu Pink Oxfords memiliki warna dominan merah muda yang cantik dan manis. Sepatu ini dilengkapi dengan tali sepatu yang juga terbuat dari kulit dan berwarna cokelat muda.

pink oxfords

Foto: utzmarket.com

Sepatu buatan tangan ini memiliki bagian dalam yang juga dilapisi kulit berwarna merah muda. Sepatu yang terdiri dari 8 macam ukuran ini memiliki dua sol dalam yang ukurannya dapat kita sesuaikan. Meski terlihat manis dan girly, sepatu ini tetap terkesan kuat dengan sol berwarna cokelat tua yang solid.

Dilansir dari Houseofhipsters.com, Cristha menyatakan bahwa ide diciptakannya sepatu Pink Oxfords bermula dari rasa kagumnya terhadap para wanita yang gigih melawan kanker payudara. Karena rasa kagum itulah, Cristha berniat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan dapat membantu para penderita kanker payudara untuk terus berjuang hingga sembuh.

“Saya selalu merasa kagum terhadap para wanita penderita kanker payudara karena mereka tidak hanya berjuang untuk melawan rasa sakit pada fisik mereka. Mereka berjuang untuk jiwa mereka, pikiran mereka, kehidupan mereka, dan masih banyak lagi. Karena hal tersebut, tercetuslah ide untuk membuat sesuatu yang spesial bagi mereka. Akhirnya, saya membuat sepatu Pink Oxfords dan bekerja sama dengan organisasi kanker payudara di Guatemala,” ujar Cristha.

Sepatu Pink Oxfords memang dibanderol dengan harga yang cukup tinggi. Namun, harga tersebut sepadan dengan usaha yang dilakukan oleh Cristha untuk membantu para penderita kanker payudara. Uang yang didapatkan dari setiap satu pasang sepatu Pink Oxford yang terjual akan disumbangkan kepada wanita tidak mampu yang membutuhkan mammogram. Selain itu, uang tersebut juga akan disumbangkan kepada para penderita kanker payudara untuk berobat.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pink-oxfords-sepatu-ajakan-peduli-kanker-payudara/feed/ 0
Setiap Tahun Kasus Kanker Terus Bertambah https://www.greeners.co/gaya-hidup/setiap-tahun-kasus-kanker-terus-bertambah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=setiap-tahun-kasus-kanker-terus-bertambah https://www.greeners.co/gaya-hidup/setiap-tahun-kasus-kanker-terus-bertambah/#respond Thu, 09 Mar 2017 13:05:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16157 Menurut data WHO, jumlah penderita kanker di dunia terus meningkat sekitar 20% per tahun. Hasil riset Kementrian Kesehatan tahun 2013, prevalensi kanker 1,4 dari 1000 penduduk Indonesia atau sekitar 347.792 orang terdiagnosis kanker.]]>

Menurut data WHO, jumlah penderita kanker di dunia terus meningkat sekitar 20% per tahun. Pada 2015 misalnya, WHO melansir 8.8 juta kematian di dunia yang disebabkan kanker. Angka tersebut 70% terjadi di negara kecil dan berkembang, seperti di Indonesia.

Prevalensi kanker di Indonesia memang termasuk tinggi. Hasil riset Kementrian Kesehatan tahun 2013, prevalensi kanker 1,4 dari 1000 penduduk Indonesia atau sekitar 347.792 orang terdiagnosis kanker. Untuk jenisnya, kanker payudara menjadi penyumbang angka kematian tertinggi, dengan prevalensi 21,5 dari 1000 orang terdiagnosis kanker.

Waspada kanker pada wanita

Dengan prevalensi 2,2% pada wanita berbanding 0,6% pada laki-laki, kasus kanker memang lebih sering menyerang kaum hawa, salah satunya kasus kanker payudara.

Spesialis Radiologi Siloam Hospital Kebon Jeruk (SHKJ), dr. Vera Nevyta Tarigan, SpRad menjelaskan, walaupun belum diketahui penyebab pasti munculnya kanker payudara, namun ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara pada wanita. Misalnya haid di usia yang terlalu muda, tidak menikah, tidak menyusui, dan melahirkan anak pertama di atas usia 35 tahun.

kasus kanker

Sumber: https://collutriumhimafarma.wordpress.com/2016/08/16/statistik-penderita-kanker-di-indonesia/

Kanker payudara sendiri bukan satu-satunya yang memiliki risiko tinggi pada wanita, kanker serviks juga tidak kalah berbahayanya. Angka 40.000 kasus kanker serviks per tahun yang dilansir Kementerian Kesehatan bisa menjadi ukuran perlu diwaspadainya kanker yang menyerang bagian organ intim wanita tersebut. Terlebih tidak adanya gejala awal yang dirasakan penderita kanker serviks juga membuat penyakit ini baru terdiagnosis pada stadium lanjut dengan risiko yang tentunya lebih besar.

“Pada stadium awal biasanya kanker serviks belum memberikan gejala atau tanda apapun, jika kanker serviks telah memasuki stadium lanjut barulah timbul gejala,” kata Dr. med. Ferdhy Suryadi Suwandinata, SpOG(K-FER), dokter spesialis kebidanan dan kandungan SHKJ.

Gejala yang dimaksud dokter dengan subspesialis bedah kandungan dan tindakan pembedahan minimal invasif serta endokrinologi reproduksi tersebut adalah perdarahan setelah melakukan hubungan seksual atau keputihan yang tidak sembuh dengan pengobatan. Keputihan yang menjadi tanda untuk kanker serviks adalah keputihan yang berbau busuk dan bercampur darah.

Mengenali faktor-faktor penyebab risiko kanker memang menjadi hal yang penting, selain tentunya juga perubahan gaya hidup ke arah yang lebih sehat. Karena baik kanker payudara maupun seviks semakin besar risikonya bagi mereka yang memiliki pola makan tidak sehat, konsumsi alkohol, merokok, dan stres dan juga riwayat keluarga dengan kanker atau tumor jinak. Selain itu jangan ragu untuk memeriksakan kesehatan secara rutin minimal setahun sekali, agar bisa lebih dini terdeteksi jika ada gangguan kanker.

“Sayangnya selama ini pasien kanker sering terlambat mendapatkan penanganan, karena pasien datang untuk memeriksakan diri setelah stadium lanjut,” jelas Vera.

Penulis: AT/G39

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/setiap-tahun-kasus-kanker-terus-bertambah/feed/ 0
Waspada Penyakit Kanker pada Pria https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspada-penyakit-kanker-pada-pria https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/#respond Tue, 27 Oct 2015 08:30:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11672 Jakarta (Greeners) – Kanker merupakan penyakit tidak menular yang sangat berbahaya. Menurut catatan WHO, kanker menempati urutan ke dua setelah kardiovaskular sebagai penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Menurut catatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kanker merupakan penyakit tidak menular yang sangat berbahaya. Menurut catatan WHO, kanker menempati urutan ke dua setelah kardiovaskular sebagai penyakit yang menyebabkan kematian di dunia.

Menurut catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 Kementerian Kesehatan, penyakit kanker menyumbang angka kematian sebesar 5,7 persen dari keseluruhan kematian yang disebabkan oleh penyakit di Indonesia. Jaminan Kesehatan Nasional (Jamkesnas) sendiri menyatakan telah menggelontorkan Rp 163 miliyar untuk pengidap penyakit kanker di Indonesia.

Di Indonesia, penyakit kanker seringkali menyerang kaum hawa. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2T) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), Lili S. Sulistyowati, menyatakan bahwa perbandingan antara penderita kanker pada perempuan dan laki-laki adalah 3:1.

“(Penderita) kanker terbanyak adalah kanker pada perempuan dengan jumlah terbanyak adalah kanker payudara dan kanker leher Rahim,” jelas Lili dalam surat elektronik kepada Greeners pada Senin (26/10) lalu.

Meskipun didominasi oleh penderita perempuan, kaum lelaki perlu mewaspadai penyakit kanker. Lili menyebutkan, tingginya kecenderungan makanan berbahan pengawet dan pewarna buatan yang dikonsumsi masyarakat, termasuk oleh pria, sebagai pendorong faktor resiko penyebab kanker. Pasalnya, makanan dengan kandungan tersebut memiliki kandungan zat karsinogen. “Zat karsinogenik merupakan zat yang dapat memicu terjadinya penyakit kanker,” ujar Lili.

Selain itu, Lili menyarankan agar masyarakat menghindari konsumsi rokok dan minuman beralkohol karena keduanya juga mengandung zat karsinogenik. “Kasus kanker indens pada pria adalah kanker paru, kanker kolorektal dan kanker prostat. Hal ini disebabkan kebiasaan merokok, kurang makan sayur dan buah, serta kurang aktifitas fisik,” jelasnya.

Menurut Lili, ada lima jenis kanker yang menyerang pria di Indonesia. Kelima kanker tersebut adalah kanker kolorektal, kanker prostat, kanker paru-paru, kanker nasofaring, dan kanker limfoma malignum.

Seperti diketahui, berdasarkan penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) pada tahun 2015, jumlah perokok aktif pada pria mencapai lebih dari 56 juta orang. Sedangkan pengkonsumsi alkohol pun tidak berbeda, cenderung meningkat tiap tahunnya.

Faktor Hormonal

Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN), Prof. Dr. dr. Soehartati Gondhowiardjo, menyatakan bahwa kanker payudara dan leher rahim merupakan kanker yang disebabkan oleh faktor hormonal. Oleh karenanya, kanker tersebut hanya bisa diderita oleh perempuan saja. Hal itu, menurut Soehartati, yang menjadikan jumlah penderita kanker pada perempuan sangat signifikan jika dibandingkan laki-laki.

Meskipun tidak dapat diketahui secara pasti, Soehartati menambahkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat resiko yang sama dalam faktor hormonal yang menyebabkan kanker.

“Kanker prostat adalah contoh kasus kanker karena faktor hormonal pada pria,” jelas Soehartati kepada Greeners via telepon.

Soehartati pun sepakat agar pria juga menghindari alkohol, rokok serta makanan berbahan pengawet, penyedap dan pewarna buatan sebagai bentuk pencegahan dini penyakit kanker. Selain itu, ia juga menyarankan untuk rutin berolahraga dan menghindari obesitas.“Kuncinya adalah perketat pola hidup sehat,” ucap Soehartati.

Ia juga menyarankan agar mengelola stres. Selain berpengaruh pada kondisi hormonal, stres juga dapat merusak gaya hidup sehat secara keseluruhan. “Justru pola hidup sehat itu dimulai dengan pengelolaan stres,” katanya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/feed/ 0
Bra untuk Pejuang Kanker Payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/bra-untuk-pejuang-kanker-payudara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bra-untuk-pejuang-kanker-payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/bra-untuk-pejuang-kanker-payudara/#respond Sat, 10 Oct 2015 16:04:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11441 Tampil menarik merupakan hak semua orang. Termasuk bagi para penderita kanker payudara. Selain tentang kesehatan, masalah lain yang dihadapi para wanita penderita kanker payudara tidak lain adalah masalah penampilan. Perubahan […]]]>

Tampil menarik merupakan hak semua orang. Termasuk bagi para penderita kanker payudara. Selain tentang kesehatan, masalah lain yang dihadapi para wanita penderita kanker payudara tidak lain adalah masalah penampilan. Perubahan fisik pasca operasi, terutama pada payudara, membuat mereka kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak bisa tampil menarik dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebutlah yang membuat Balora Inc., sebuah perusahaan bra wanita ini menciptakan sebuah sport bra yang didesain khusus untuk para survivor kanker payudara dan juga untuk wanita lainnya yang ingin tetap percaya diri setelah masa-masa sulit yang menyebabkan perubahan fisik pada dirinya.

Bra for Life dapat menjadi solusi bagi penampilan wanita yang mengalami masalah dengan payudara pasca operasi, pengaruh kanker payudara, masalah dengan pergerakan, ketidakseimbangan proporsi badan atau bagi mereka yang hamil dan menyusui. Sebuah sport bra yang amat multi fungsi dan dapat digunakan dalam segala keadaan.

“Bra of Life dari Barola ini dibuat sebagai penghormatan bagi Ibu saya atas perjuangannya melawan kanker payudara dan untuk mendukung para wanita lainnya dalam menjalani perjuangan dan hidup mereka,” ujar Kristen Airhart, pendiri Barola Inc., seperti dilansir dari rilis yang dikeluarkan PRNewsWire.com.

Kristen pun mengungkapkan bahwa dirinya dan Barola memiliki misi untuk memberikan kenyamanan bagi para wanita untuk tetap kuat, sehat dan aktif selama menjalani perawatan kanker payudara.

Bra for Life didesain khusus untuk survivor kanker payudara. Foto: barolainc.com

Bra for Life didesain khusus untuk survivor kanker payudara. Foto: barolainc.com

Sport bra ini didesain amat stylish, nyaman dan sangat fashionable. Bra ini dilengkapi dengan penyangga payudara yang didesain sedemikian rupa agar para penggunanya dapat menggunakannya tanpa takut bergeser atau jatuh saat beraktifitas, terutama saat berolahraga. Bra tersebut pun terbuat dari material yang ramah lingkungan, tidak sesak, anti bakteri dan tahan bau tak sedap.

Bra of Life memberikan dua tawaran desain dalam koleksinya, yakni Tabby dan Mellisa. Kedua nama tersebut diambil dari dua wanita pejuang kanker, yakni Melissa Wyatt dan Tabitha Vona. Tabby menawarkan bra dengan resleting di depan cup bra yang membuat penggunanya dapat dengan mudah memasang penyangga payudara bagi para pejuang kanker payudara dan bra ini dapat berguna bagi ibu menyusui. Series ini dibanderol dengan harga sekitar US$ 115 atau setara dengan Rp 1,6 juta.

Sedangkan Melissa didesain dengan pengait ganda dan dapat menyesuaikan dengan ukuran payudara yang berubah-ubah akibat hasil kenaikan berat badan karena kemoterapi. Untuk series satu ini, harga yang ditawarkan yaitu US$ 120 atau setara dengan Rp 1,7 juta.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bra-untuk-pejuang-kanker-payudara/feed/ 0