karbohidrat - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/karbohidrat/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 16 Mar 2023 03:21:34 +0000 id hourly 1 5 Efek Samping Diet Rendah Karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-efek-samping-diet-rendah-karbohidrat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-efek-samping-diet-rendah-karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-efek-samping-diet-rendah-karbohidrat/#respond Thu, 16 Mar 2023 04:00:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=39341 Diet rendah karbohidrat masih menjadi pilihan bagi sebagian besar orang untuk mempercepat penurunan berat badan. Caranya dengan membatasi asupan karbohidrat sehari-hari. Namun, hal ini justru dapat berdampak negatif bagi kesehatan. […]]]>

Diet rendah karbohidrat masih menjadi pilihan bagi sebagian besar orang untuk mempercepat penurunan berat badan. Caranya dengan membatasi asupan karbohidrat sehari-hari.

Namun, hal ini justru dapat berdampak negatif bagi kesehatan. Sebab karbohidrat memiliki fungsi penting bagi tubuh sebagai sumber energi utama serta membantu menyediakan banyak vitamin dan mineral.

Jika menghindari karbohidrat untuk menurunkan berat badan, akan timbul masalah kesehatan dalam jangka panjang. Sebab, tubuh kita sangat membutuhkan asupan karbohidrat yang cukup.

Menurut Ahli diet Hari Lakshmi, salah satu dari tiga makronutrien penting yang tubuh butuhkan agar berfungsi dengan baik adalah karbohidrat.

Mereka memberi glukosa tubuh, yang kemudian diubah menjadi energi untuk mempertahankan fungsi tubuh dan aktivitas fisik. Menurut Lakshmi, setiap nutrisi memiliki tanggung jawabnya masing-masing, sehingga semuanya penting.

Berikut efek samping diet rendah karbohidrat yang dapat memengaruhi tubuh kamu, Sobat Greeners!

1. Kelelahan

Kekurangan energi adalah salah satu efek samping dari pengurangan karbohidrat. Tubuh membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi utamanya, jika tidak maka harus menggunakan sumber lain, seperti lemak dan protein.

Meskipun diet rendah karbohidrat dapat membantu kamu menurunkan berat badan, tetapi terdapat efek samping yang menyebabkan kelelahan fisik dan kantuk. Hal ini dapat memperparah kekurangan energi hingga menghambat aktivitas sehari-hari.

2. Meningkatkan Rasa Lapar

Menghindari karbohidrat juga dapat meningkatkan rasa lapar dan nafsu makan loh Sobat Greeners. Karbohidrat sangat penting untuk mengatur kadar gula darah. Kurangnya asupan karbohidrat dapat menyebabkan kadar gula darah menurun, hingga menyebabkan rasa lapar.

Hal ini dapat membuat makan menjadi berlebihan hingga penambahan berat badan. Hal ini membatalkan manfaat potensial dari diet rendah karbohidrat yang kamu lakukan.

3. Sembelit

Efek samping lain dari menghindari karbohidrat adalah sembelit. Karbohidrat dapat memberikan banyak serat untuk tubuh, yang membantu mengatur pencernaan dan menjaga semuanya berjalan lancar. Tanpa serat yang cukup, besar kemungkinan kamu akan mengalami sembelit, kembung, dan masalah pencernaan lainnya.

4. Sulit berpikir

Jika kamu tidak mengonsumsi karbohidrat dengan cukup, otak kamu tidak akan mendapatkan jumlah glukosa yang tubuh butuhkan untuk menjaga kesehatan emosi dan mental. Akibatnya, kamu akan mengalami perubahan emosional, masalah tidur, dan perasaan pusing saat tubuh kamu berjuang untuk mempertahankan kadar gula darah normal.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : Healthshots

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-efek-samping-diet-rendah-karbohidrat/feed/ 0
5 Tanda Tubuh Kelebihan Karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-tanda-tubuh-kelebihan-karbohidrat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-tanda-tubuh-kelebihan-karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-tanda-tubuh-kelebihan-karbohidrat/#respond Tue, 04 Aug 2020 01:58:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=28066 Karbohidrat menjadi salah satu unsur yang harus dipenuhi sebagai sumber energi saat beraktivitas atau berolahraga. Umumnya zat gizi ini dapat ditemukan dalam nasi, roti, gandum, dan umbi-umbian. Namun, konsumsi karbohidrat berlebih dapat berdampak terhadap kesehatan.

Melansir thedailymeal.com, sejumlah penelitian American Heart Association dan Harvard University, Amerika Serikat mencatat bahwa memakan terlalu banyak karbohidrat menyebabkan efek negatif pada tubuh. Tiap individu harus mulai memerhatikan pola konsumsi karbohidrat harian. Untuk mengetahui apakah tubuh kelebihan zat sumber energi ini, berikut tanda-tanda yang harus diperhatikan.

1. Merasa Cepat Lapar

Mengonsumsi secara berlebih makanan yang mengandung sebagian besar karbohidrat dan kekurangan lemak atau protein menyebabkan seseorang akan terus merasa lapar. Biasanya mereka akan membutuhkan asupan makanan tambahan.

Mayoritas karbohidrat olahan seperti roti putih memiliki nutrisi dan serat yang minim karena telah diubah menjadi kalori kosong.  Makanan ini mengalami perubahan yang lebih cepat menjadi glukosa dan mendorong proses pencernaan sehingga tidak membuat tubuh merasa kenyang.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-tanda-tubuh-kelebihan-karbohidrat/feed/ 0
Pemerintah Harus Miliki Sistem Pemantauan Harga Beras Nasional https://www.greeners.co/berita/pemerintah-harus-miliki-sistem-pemantauan-harga-beras-nasional/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemerintah-harus-miliki-sistem-pemantauan-harga-beras-nasional https://www.greeners.co/berita/pemerintah-harus-miliki-sistem-pemantauan-harga-beras-nasional/#respond Tue, 03 Mar 2015 08:41:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8031 Jakarta (Greeners) – Melonjaknya harga beras di pasaran membuat masyarakat di beberapa daerah beralih ke pangan alternatif. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Untuk mengatasi mahalnya harga beras […]]]>

Jakarta (Greeners) – Melonjaknya harga beras di pasaran membuat masyarakat di beberapa daerah beralih ke pangan alternatif. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Untuk mengatasi mahalnya harga beras di sana, pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan setempat menginstruksikan agar warganya memakan sorgum, bahan pangan yang biasa dijadikan pakan ternak.

Selain sorgum, Ahli Gizi Ibu dan Anak dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. DR. Hardinsyah, mengatakan, sebenarnya ada beberapa jenis bahan pangan yang mampu menggantikan beras. Namun sayangnya, ketersediaan bahan pangan pengganti tersebut masih minim dan sulit ditemukan.

“Alternatif ada banyak, tapi yang menjadi pertanyaan, alternatifnya itu tersedia atau tidak. Sorgum kan pakan ayam dan burung, bisa saja manusia jadi bersaing dengan mereka,” terang Hardi kepada Greeners, Jakarta, Selasa (03/03).

Menurut Hardi, mengganti sumber karbohidrat pada beras menjadi singkong atau sorgum tidak terlalu masalah bagi petani atau masyarakat yang memang memiliki lahan pertanian sendiri. Tapi hal ini akan berbeda bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan atau di desa namun tidak memiliki lahan pertanian karena mereka harus membeli bahan pengganti beras ini di pasar dan harganya akan sama mahalnya dengan beras.

“Ini masalahnya kan di daerah-daerah urban yang justru berbahaya. Di sana banyak orang miskin yang tidak sanggup beli beras dan mau cari alternatif lain tapi tidak tersedia,” jelasnya.

Seharusnya, lanjut Hardi, pemerintah memiliki sistem pemantauan nasional secara dini dan real time yang memantau perkembangan harga beras di pasaran dari menit ke menit. Sehingga, jika ada kenaikan harga baik Rp 100 atau Rp 200 saja bisa langsung diketahui.

“Ini naik sudah sampai Rp 2.000 atau Rp 3.000 baru ketahuan, kan kayaknya ada yang salah dari sistem nasional perberasan kita,” lanjutnya.

Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, pakar gizi dan keamanan pangan dari Fakultas Ekologi Manusia IPB, menyatakan, hingga kini kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa diversifikasi pangan adalah pengalihan pola makan yang tadinya mengonsumsi makanan pokok beras menjadi non beras.

Padahal, menurutnya, arti dari diversifikasi pangan itu sendiri adalah penganekaragaman pangan yang berarti dalam satu minggu masyarakat tidak harus mengonsumsi nasi untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat.

“Kebutuhan karbohidrat harian dapat ditemui dari sumber makanan lain selain beras, seperti jagung, sagu, singkong dan lain-lain,” tandas Ahmad seperti dikutip dari siaran pers kantor Hukum, Promosi dan Humas (HPH) IPB yang diterima oleh Greeners.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemerintah-harus-miliki-sistem-pemantauan-harga-beras-nasional/feed/ 0
Jalankan Diversifikasi Pangan, Konsumsi Beras di Kota Depok Menurun https://www.greeners.co/berita/jalankan-diversefikasi-pangan-konsumsi-beras-di-kota-depok-menurun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jalankan-diversefikasi-pangan-konsumsi-beras-di-kota-depok-menurun https://www.greeners.co/berita/jalankan-diversefikasi-pangan-konsumsi-beras-di-kota-depok-menurun/#respond Thu, 23 Oct 2014 12:00:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6234 Jakarta (Greeners) – Keberhasilan Indonesia dalam program swasembada beras pada tahun 1984 yang juga sempat mendapatkan penghargaan dari lembaga pangan internasional Food and Agriculture Organization (FAO) kini sudah tidak berlanjut […]]]>

Jakarta (Greeners) – Keberhasilan Indonesia dalam program swasembada beras pada tahun 1984 yang juga sempat mendapatkan penghargaan dari lembaga pangan internasional Food and Agriculture Organization (FAO) kini sudah tidak berlanjut lagi.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, MS Sembiring, menerangkan, ketergantungan masyarakat pada beras yang begitu besar semakin terlihat dari jumlah beras yang tiap tahunnya perlu diimpor untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Padahal, jelasnya, menurut data Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, negara ini memiliki 77 jenis karbohidrat yang berpotensi sebagai sumber pangan.

“Namun ,sayangnya, hanya beras yang selalu didorong sebagai sumber pangan,” ujar Sembiring pada diskusi pakar yang diadakan oleh yayasan KEHATI di Jakarta, Rabu (22/10).

Ditemui di tempat yang sama, Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, pun menyampaikan bahwa data dan fakta konsumsi beras masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun semakin tinggi seiring bertambahnya jumlah penduduk. Konsumsi beras yang tinggi ini memicu impor beras, yang artinya membuat devisa negara berkurang. Selain itu, ketergantungan terhadap satu makanan pokok juga akan berdampak pada ketahanan pangan.

Oleh karena itulah Mahmudi menggagas gerakan Sehari Tanpa Beras (One Day No Rice) yang merupakan salah satu bentuk partisipasi aktif Kota Depok dalam mendukung Gerakan Diversifikasi Pangan serta upaya akselerasi kemandirian pangan.

“Gerakan ini adalah langkah strategis untuk mengubah pola pikir masyarakat sekaligus mampu mengurangi konsumsi beras dan terigu secara signifikan,” tegasnya.

Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Gerakan yang sudah berjalan sejak tahun 2011 lalu ini merupakan tindak lanjut kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Berbasis Pangan Lokal. Dia juga mengakui setelah tiga tahun gerakan sehari tanpa beras ini, konsumsi beras di Kota Depok menurun 3,9 persen menjadi 253 gram per kapita per hari dari sebelumnya 260 gram per kapita per hari. Pada saat bersamaan, konsumsi pangan alternatif seperti jagung dan umbi-umbian justru meningkat.

Saat ini Kota Depok telah bekerjasama dalam pengembangan pangan lokal dengan beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Jember. Adapun pemerintah daerah yang telah menjalin nota kesepahaman dengan Pemerintah Kota Depok, antara lain Kabupaten Bogor, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kabupaten Lombok Utara, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Kepulauan Selayar, Kota Kendari, Provinsi Sulsel, dan lain-lain.

Tidak hanya itu, institusi seperti PT PLN (Persero) Depok, Kodim 0508 Depok, PT Medifarma, dan beberapa hotel, restoran dan rumah makan yang ada di Kota Depok seperti Bumi Wiyata, Mang Kabayan, Bebek Tik Tok, Wisma Hijau, Graha Insan Cita, RM H. Thohir, dan lain-lain telah menjadi pionir sekaligus pelaku aktif dalam upaya mendorong ketahanan pangan Kota Depok.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/jalankan-diversefikasi-pangan-konsumsi-beras-di-kota-depok-menurun/feed/ 0
Masih Banyak Pangan Non Beras Yang Berkualitas di Indonesia https://www.greeners.co/berita/masih-banyak-pangan-non-beras-yang-berkualitas-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=masih-banyak-pangan-non-beras-yang-berkualitas-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/masih-banyak-pangan-non-beras-yang-berkualitas-di-indonesia/#respond Thu, 23 Oct 2014 10:05:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6231 Jakarta (Greeners) – Keberhasilan Indonesia dalam program swasembada beras pada tahun 1984 yang juga sempat mendapatkan penghargaan dari lembaga pangan internasional Food and Agriculture Organization (FAO) kini sudah tidak berlanjut […]]]>

Jakarta (Greeners) – Keberhasilan Indonesia dalam program swasembada beras pada tahun 1984 yang juga sempat mendapatkan penghargaan dari lembaga pangan internasional Food and Agriculture Organization (FAO) kini sudah tidak berlanjut lagi.

Namun, keberhasilan swasembada beras pada kala itu membuat ketergantungan masyarakat Indonesia akan beras semakin tinggi. Akhirnya beras pun menjadi pangan utama masyarakat. Padahal, Indonesia dengan keberagaman budayanya membuat tidak semua daerah mengonsumsi beras sebagai pangan utamanya.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, MS Sembiring, menerangkan, ketergantungan masyarakat pada beras yang begitu besar semakin terlihat dari jumlah beras yang tiap tahunnya perlu diimpor untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Padahal, jelasnya, menurut data Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, negara ini memiliki 77 jenis karbohidrat yang berpotensi sebagai sumber pangan. Seperti, serealia (padi, jagung, sorghum, hotong, jali, jawawut, dll), ubi-ubian (singkong, ubi jalar, talas, sagu, ganyong, garut, gembili, gadung, dll), dan buah (sukun, pisang, labu kuning, buah bakau, dll).

“Namun ,sayangnya, hanya beras yang selalu didorong sebagai sumber pangan,” ujar Sembiring pada diskusi pakar yang diadakan oleh yayasan KEHATI di Jakarta, Rabu (22/10).

Sri Sulihanti. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Sri Sulihanti. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Sri Sulihanti, berpendapat, bahwa program pemberian beras untuk rakyat miskin (raskin) yang dilakukan oleh pemerintah justru malah menjadikan kebiasaan pada masyarakat untuk mengonsumsi beras.

“Sekarang masyarakat miskin itu sudah kecanduan nasi. Padahal, sebelumnya mereka masih nyaman dengan pangan lokal non beras,” jelasnya.

Menurut Sri, umbi-umbian sebenarnya sudah sedari lama sangat dekat dengan masyarakat Indonesia. Akan tetapi persepsi masyarakat akan konsumsi nasi sebagai pangan pokok membuat sumber pangan ini sedikit tersingkirkan.

Dari sisi kebijakan, Sri melanjutkan, pemerintah sebenarnya sudah mendorong diversifikasi pangan ini untuk mengajak masyarakat tidak terlalu tergantung pada beras. Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Pangan Lokal dan Peraturan Kementrian Pertanian Nomor 43 Tahun 2009 tentang Percepatan Konsumsi Pangan adalah beberapa contohnya.

Akan tetapi, penganekaragaman pangan yang sudah berjalan beberapa dekade itu justru kurang berhasil. Padahal keragaman pangan ini bisa menjadi solusi Indonesia menghadapi tantangan terkait ketersediaan pangan.

“Beberapa sumber pangan selain padi sebenarnya mampu bertahan di kondisi kering, sehingga bisa menjadi solusi ketersediaan pangan saat kekeringan,” terangnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/masih-banyak-pangan-non-beras-yang-berkualitas-di-indonesia/feed/ 0
Lengkeng, Si Manis Sahabat Pesepeda https://www.greeners.co/flora-fauna/lengkeng-si-manis-sahabat-pesepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lengkeng-si-manis-sahabat-pesepeda https://www.greeners.co/flora-fauna/lengkeng-si-manis-sahabat-pesepeda/#comments Wed, 06 Feb 2013 03:40:38 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_kehati&p=3297 Pernahkah Anda menikmati segelas es lengkeng selepas berolahraga? Pasti terbayang rasa manis dan kesegarannya yang seketika menghilangkan rasa lelah. Sensasi yang tercipta bukanlah sekedar sugesti, karena lengkeng memang mengandung senyawa […]]]>

Pernahkah Anda menikmati segelas es lengkeng selepas berolahraga? Pasti terbayang rasa manis dan kesegarannya yang seketika menghilangkan rasa lelah. Sensasi yang tercipta bukanlah sekedar sugesti, karena lengkeng memang mengandung senyawa penghasil energi. Tidak hanya itu, di balik rasa manisnya, ternyata lengkeng memiliki sejuta khasiat lain yang berguna bagi kesehatan tubuh.

Oleh Rima Putri Agustina | | Artikel ini diterbitkan pada edisi 08 Vol. 3 Tahun 2008

 

Sudah sekitar 2 bulan ini, ketika berbelanja di pasar atau supermarket, mata kita pasti menangkap beberapa gundukan buah berwarna cokelat muda berbentuk bulat kecil. Tidak mengherankan, bulan Juli dan Agustus adalah bagian dari masa panennya yang akan berakhir pada bulan September. Mereka adalah lengkeng atau kelengkeng. Buah yang satu ini sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia sehingga kehadirannya selalu ditunggu setiap tahun. Tak heran para penjual pun lalu berlomba-lomba menjualnya dengan harga bersaing.

Lengkeng termasuk anggota famili Sapindaceae. Nama latin buah ini adalah Dimocarpus longan dengan sinonim Euphoria longana dan Nephelium longan. Sedangkan nama umumnya adalah ‘longan’ atau ‘dragon’s eye’ (mata naga). Istilah ‘longan’ berasal dari Bahasa Cina, yaitu ‘long nhan’ yang berarti mata naga. Jika  kita perhatikan, warna daging buahnya yang berwarna putih agak transparan dan bijinya yang berwarna cokelat kehitaman, kita pasti setuju dengan julukan ini.

Lengkeng diduga berasal dari Cina bagian Selatan. Namun masyarakat dunia banyak yang menyangka buah ini berasal dari Thailand karena merupakan negara produsen lengkeng terbesar di dunia. Konon, pada dasawarsa 1890-an, buah ini dibawa dari Cina ke Thailand sebagai persembahan untuk Raja Chulalongkorn. Sejak saat itu lengkeng dibudidayakan di Thailand dan mulai diperkenalkan ke negara-negara Asia Tenggara dan belahan dunia lain sebagai tanaman penghasil buah manis. Kini pohon lengkeng dapat ditemui hampir di seluruh bagian dunia beriklim tropis dan subtropis. Di Indonesia kebanyakan lengkeng tumbuh pada ketinggian di atas 600 mdpl, dengan tinggi pohon mencapai 15 meter dan lebar kanopi 14 meter.

Saat ini lengkeng tengah menjadi primadona di beberapa negara. Rasa manisnya disukai oleh anak-anak, tekstur lembutnya disukai oleh lansia, dan kepraktisan pengemasannya disukai oleh para koki. Tak heran permintaan buah ini di pasaran mencapai angka yang fantastis, misalnya di Indonesia yang pada tahun 2005 mencapai angka 25.000 ton. Dari angka tersebut, sekitar 10% di antaranya tertutupi oleh produksi lengkeng lokal di Jawa Tengah, sisanya diimpor dari Cina dan Thailand.

“Selain glukosa dan fruktosa, daging buah lengkeng juga mengandung nutrisi yang sangat baik bagi kesehatan.”

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/lengkeng-si-manis-sahabat-pesepeda/feed/ 1