Mengenal Bahaya Sembelit: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Reading time: 7 menit
bahaya sembelit
Mengenal Bahaya Sembelit: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan. Foto: Pixabay.

Apakah Anda pernah mengalami konstipasi? atau mungkin asing dengan istilah ini? Konstipasi adalah keadaan saat Anda sulit atau tidak dapat buang air besar karena kotoran keras dalam usus; atau biasa kita kenal dengan ‘sembelit’.

Jika Anda buang air besar kurang dari 3 kali seminggu, mungkin Anda mengalami sembelit. Mari kita mengenal bahaya sembelit mulai dari gejala, penyebab, sampai cara mengobati atau mencegahnya.

Mengenal Bahaya Sembelit

Gejala

Biasanya gejala-gejala dari gangguan sembelit atau konstipasi yang umum orang-orang rasakan yaitu kesulitan buang air besar, mengejan saat buang air besar, buang air besar lebih sedikit dari biasanya, atau kondisi tinja menggumpal, kering, atau keras. Ada juga beberapa gejala lain seperti nyeri dan kram di perut, merasa kembung, mual, dan kehilangan nafsu makan.

Komplikasi

Sembelit menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi biasanya tidak mengancam nyawa. Namun, ini bisa menjadi masalah jika ternyata konstipasi adalah gejala dari penyakit yang lebih serius.

Misalnya kanker kolorektal, atau dampak lebih lanjut akibat sembelit yang parah; meliputi perdarahan rektal setelah mengejan, fisura anus; yaitu robekan kecil di sekitar anus, wasir yang bengkak, pembuluh darah yang meradang di anus, hingga impaksi tinja; yang terjadi ketika tinja kering terkumpul di rektum dan anus, berpotensi menyebabkan obstruksi mekanis atau sumbatan.

Komplikasi lain yang mungkin terjadi termasuk penurunan kualitas hidup dan depresi.

Bahaya Sembelit: Disebabkan kekurangan serat dalam makanan

Orang dengan asupan berserat tinggi cenderung tidak mengalami sembelit. Ini karena serat memengaruhi siklus buang air besar secara teratur, terutama ketika Anda menggabungkannya dengan pemenuhan hidrasi yang tepat.

Makanan berserat tinggi mencakup buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Sedangkan makanan penyebab sembelit adalah pangan rendah serat yang berlemak tinggi, seperti keju, daging, dan telur.

Selain itu, makanan melalui pemrosesan intens seperti roti putih dan makanan cepat saji, keripik, dan makanan jadi lainnya juga rendah serat.

bahaya sembelit

Orang dengan asupan berserat tinggi cenderung tidak mengalami sembelit. Foto: Shutterstock.

Kurangnya Aktivitas Fisik

Tidak hanya kurang serat, sembelit atau konstipasi disebabkan oleh tingkat aktivitas fisik yang rendah.

Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa orang yang bugar secara fisik, termasuk pelari maraton, lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami sembelit dibandingkan orang lain, meskipun alasan pastinya masih belum jelas.

Sebuah studi dari 2013 mencatat bahwa meningkatkan mobilitas dapat membantu memperbaiki sembelit pada orang dewasa yang lebih tua.

Orang yang menghabiskan beberapa hari atau minggu di tempat tidur atau duduk di kursi mungkin memiliki risiko lebih tinggi mengalami sembelit.

Obat-obatan penyebab sembelit

Beberapa obat juga dapat meningkatkan risiko sembelit. Ini termasuk:

  • Obat pereda nyeri opioid: kodein (asetaminofen di Tylenol # 3), oxycodone (OxyContin), dan hydromorphone (Dilaudid).
  • Antidepresan trisiklik: amitriptyline (Elavil) dan imipramine (Tofranil).
  • Antikonvulsan tertentu: Contohnya fenitoin (Dilantin) dan karbamazepin (Tegretol).
  • Penghambat saluran kalsium: obat semacam ini menurunkan tekanan darah, dan jenis tertentu menurunkan detak jantung. Misalnya diltiazem (Cardizem) dan nifedipine (Procardia).
  • Antasida yang mengandung aluminium: Ini termasuk Amphojel dan Basaljel.
  • Antasida yang mengandung kalsium: Salah satu contohnya adalah Tums.
  • Diuretik: Ini menghilangkan kelebihan cairan dari tubuh. Contoh obatnya hydrochlorothiazide (Hydrodiuril) dan furosemide (Lasix).
  • Suplemen zat besi: Dokter meresepkan ini untuk mengobati anemia; defisiensi besi.

Sindrom iritasi usus

Orang dengan gangguan fungsi usus, seperti sindrom iritasi usus besar, memiliki risiko lebih tinggi mengalami sembelit dibandingkan orang tanpa kondisi tersebut.

Seseorang dengan sindrom iritasi usus besar mungkin mengalami sakit perut, kembung, distensi, dan perubahan frekuensi atau konsistensi tinja.

Dengan sindrom iritasi usus besar, sembelit dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu. Saat sembelit tidak ada, mungkin ada tinja yang encer karena diare.

Bahaya sembelit dalam proses penuaan

Seiring bertambahnya usia, kemungkinan sembelit cenderung meningkat. 40% orang tua di komunitas dan 60% di institusi mungkin mengalami sembelit.

Penyebab pastinya masih belum jelas. Bisa jadi seiring bertambahnya usia, makanan membutuhkan waktu lebih lama untuk melewati saluran pencernaan. Banyak juga yang kurang bergerak, sehingga menjadi faktor terjadinya sembelit.

Kondisi medis, obat-obatan, dan rendahnya asupan serat atau air dapat menjadi faktor lain yang menyebabkan sembelit seiring bertambahnya usia.

bahaya sembelit

Kondisi medis, obat-obatan, dan rendahnya asupan serat atau air dapat menjadi faktor lain yang menyebabkan sembelit seiring bertambahnya usia. Foto: Pixabay.

Perubahan rutinitas

Ketika seseorang bepergian, rutinitas biasanya berubah. Ini bisa memengaruhi sistem pencernaan. Dalam sebuah artikel tahun 2008, para ilmuwan bertanya kepada 83 orang tentang perubahan pencernaan yang mereka alami saat bepergian ke luar Amerika Serikat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9% orang mengalami sembelit saat pergi ke negara lain.

Makan, tidur, dan buang air pada waktu yang berbeda dari biasanya dapat meningkatkan risiko sembelit.

Penggunaan obat pencahar secara berlebihan

Beberapa orang khawatir bahwa mereka tidak cukup sering buang air besar, dan mereka menggunakan obat pencahar untuk mencoba mengatasi masalah ini. 

Obat pencahar dapat membantu buang air besar, tetapi penggunaan obat pencahar tertentu memungkinkan tubuh terbiasa dengan bantuan obat.

Hal ini dapat menyebabkan seseorang terus meminum obat pencahar ketika mereka tidak lagi membutuhkannya. Orang tersebut mungkin juga membutuhkan dosis yang lebih tinggi untuk mendapatkan efeknya.

Dengan kata lain, obat pencahar dapat menjadi kebiasaan atau ketergantungan – terutama obat pencahar stimulan. Artinya, semakin Anda bergantung pada obat pencahar, semakin besar risiko sembelit ketika berhenti menggunakannya.

Penggunaan obat pencahar yang berlebihan juga dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan kerusakan organ dalam.

Beberapa komplikasi ini bisa mengancam nyawa. Anda harus konsultasi dengan profesional di bidang kesehatan sebelum menggunakan obat pencahar.

Bahaya sembelit karena menunda keperluan untuk menggunakan toilet

Jika seseorang mengabaikan keinginan untuk buang air besar, dorongan tersebut dapat berangsur-angsur hilang sampai mereka tidak lagi merasa perlu untuk buang air besar.

Namun, semakin lama penundaan, kotoran akan semakin kering dan keras. Ini akan meningkatkan risiko impaksi feses.

Tidak minum cukup air

Minum air yang cukup secara teratur dapat membantu mengurangi risiko sembelit.

Cairan lain seperti jus buah atau sayuran dengan pemanis alami dan sup bening juga bermanfaat untuk mencegah konstipasi.

Penting untuk Anda perhatikan; beberapa cairan dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan memperparah sembelit bagi sebagian orang. Misalnya, mereka yang rentan mengalami sembelit harus membatasi asupan minuman berkafein dan alkohol.

Bahaya sembelit karena masalah kolorektal

Beberapa kondisi kesehatan yang memengaruhi usus besar dapat menghalangi dan membatasi jalannya tinja; sehingga bisa menyebabkan sembelit.

Contoh kondisi kesehatan yang dimaksud adalah tumor atau kanker, hernia atau turun berok, keloid atau scar tissue, divertikulitis, striktur kolorektal atau penyempitan usus besar (rektum) yang abnormal, serta penyakit radang usus.

Kondisi lain

Beberapa kondisi medis lain juga dapat berkontribusi akan terjadinya sembelit. Misalnya:

  • Kondisi neurologis: Sklerosis multipel, penyakit parkinson, stroke, cedera tulang belakang, dan obstruksi semu usus kronis dapat menyebabkan sembelit.
  • Kondisi yang melibatkan fungsi hormonal, elektrolit, atau fungsi ginjal: uremia, diabetes, hiperkalsemia, dan hipotiroidisme.
  • Penyumbatan usus: Ini dapat terjadi jika tumor menghalangi atau menekan bagian dari sistem pencernaan.
  • Kondisi yang memengaruhi sistem pencernaan: Sembelit dapat terjadi dengan penyakit celiac, radang usus, dan kondisi peradangan lainnya.
  • Pengobatan kanker: kemoterapi dan obat pereda nyeri opioid, juga dapat memicu sembelit.
waspada sembelit

Beberapa kondisi kesehatan yang memengaruhi usus besar dapat menghalangi dan membatasi jalannya tinja; sehingga bisa menyebabkan sembelit. Foto: Pixabay.

Bahaya sembelit pada anak-anak dan bayi

Sembelit terkadang bisa menyerang anak-anak dan bayi. Dalam kasus bayi baru lahir, jika tidak mengeluarkan mekonium – tinja padat pertama mereka – dalam waktu 48 jam setelah lahir, mereka mungkin menderita penyakit hirschsprung.

Ini adalah kondisi di mana sel saraf tertentu hilang dari bagian usus besar. Kotoran tidak dapat bergerak maju di area usus besar yang terkena.

Untuk bayi muda yang sudah seminggu minum ASI tanpa buang air besar, biasanya tidak menjadi masalah. Bayi yang minum ASI biasanya tidak mengalami sembelit.

Umumnya, sembelit dapat terjadi saat bayi pertama kali mulai minum susu formula, selama penyapihan, selama latihan pispot, atau pada saat stres.

Jika bayi mengalami sembelit saat mengonsumsi susu formula, Anda bisa mengatasinya dengan memberikan air minum ekstra di antara waktu makan. Namun, orang tua dan pengasuh sebaiknya tidak menambahkan air ekstra ke dalam susu formula.

Saat bayi sudah mengonsumsi makanan padat, mereka mungkin membutuhkan lebih banyak serat dan air dalam makanannya. Buah bisa menjadi pilihan yang bagus. Namun, jangan memaksa anak untuk makan jika tidak mau, karena dapat menyebabkan atau menambah stres.

Selama latihan pispot, sembelit dapat terjadi jika anak merasa stres. Membiarkan anak untuk buang air besar dalam waktu yang relatif lebih lama dapat membantu agar mereka tidak tertekan.

Selain tidak buang air besar, beberapa gejala yang mengindikasikan sembelit pada anak antara lain perut yang keras atau buncit, tidak bersemangat, nafsu makan berkurang, dan sifat mudah marah.

Bahaya sembelit saat hamil

Menurut sebuah sumber, sekitar 40% wanita mengalami sembelit selama kehamilan. Ini karena ada perubahan hormonal, perubahan fisik (seperti saat rahim menekan usus), atau perubahan pola makan atau aktivitas fisik.

Banyak wanita mengonsumsi suplemen zat besi selama kehamilan. Ini dapat menyebabkan sembelit dan perubahan lain dalam kebiasaan buang air besar.

Pengobatan

Sembelit biasanya sembuh dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan resep. Dalam kebanyakan kasus, mengubah gaya hidup – seperti berolahraga lebih banyak, makan lebih banyak serat, dan minum lebih banyak air – dapat membantu.

Memberikan waktu buang air besar, tanpa tekanan atau gangguan, juga dapat membantu. Orang juga tidak boleh mengabaikan keinginan untuk buang air besar.

Obat pencahar dapat memperbaiki gejala dalam jangka pendek, tetapi orang harus menggunakannya dengan hati-hati dan hanya jika diperlukan. Ini karena beberapa obat pencahar dapat memiliki efek samping yang parah.

Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan mengimbau orang untuk memeriksakan diri ke dokter sebelum menggunakannya, dan mengikuti petunjuk pada label dengan hati-hati.

Jika sembelit berlanjut, Anda harus ke dokter. Anda mungkin membutuhkan obat yang lebih kuat. Dokter juga akan mempertimbangkan kondisi tubuh Anda.

Obat Sembelit atau Pencahar

Beberapa obat pencahar tersedia tanpa resep, sementara ada juga yang membutuhkan resep. Menggunakan obat pencahar seharusnya menjadi jalan terakhir ketika perubahan gaya hidup tidak membantu. Yang paling penting, Anda harus konsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum menggunakannya.

Berikut ini adalah beberapa obat pencahar dan pelunak feses yang dapat membantu meringankan sembelit:

  • Suplemen serat seperti FiberCon. Anda harus meminumnya dengan banyak air.
  • Stimulan yang dapat membuat otot-otot di usus berkontraksi secara ritmis. Senokot adalah salah satu contohnya.
  • Pelumas: membantu tinja bergerak dengan lancar melalui usus besar. Salah satu contohnya adalah minyak mineral (Fleet).
  • Pelunak feses yang melembabkan tinja. Contohnya Colace dan Surfak.
  • Osmotik: menarik air ke dalam usus besar untuk menghidrasi tinja dan memudahkan pergerakan. Garam pencahar adalah jenis osmotik.
  • Agen neuromuskuler: Ini termasuk antagonis opioid dan agonis 5-HT4. Mereka bekerja pada reseptor tertentu untuk mengatur pergerakan melalui usus.

Pilihan pengobatan lainnya

Dokter mungkin menyarankan CT scan, MRI scan, atau sinar-X; untuk melihat apakah ada penyumbatan di dalam usus – jika sembelit tidak merespons pengobatan atau ada gejala lain.

Jika ada penyumbatan, Anda mungkin memerlukan obat resep atau pembedahan khusus untuk mengatasinya. Ini bergantung pada hasil tes dan respons orang tersebut terhadap terapi medis atau bedah. Mungkin juga perlu perawatan lebih lanjut.

Beberapa metode meredakan sembelit tanpa menggunakan obat-obatan antara lain:

Obat Sembelit Alami

Meningkatkan asupan serat: Orang dewasa harus makan 25–31 gram serat setiap hari. Buah dan sayuran segar, serta sereal yang kaya akan kandungan serat dapat membantu Anda mencegah terjadinya konstipasi.

  • Air minum: Air dapat membantu menghidrasi tubuh dan mencegah sembelit.
  • Berolahraga secara teratur: ini dapat membantu fungsi tubuh lebih teratur, termasuk buang air besar.
  • Membangun rutinitas: memiliki tempat dan waktu yang biasa untuk buang air tanpa memaksa.
  • Hindari menahan tinja: merespon desakan tubuh untuk buang air besar dapat membantu mencegah sembelit.
  • Mengangkat kaki: beberapa orang merasa lebih mudah buang air besar jika mereka meletakkan kaki di atas pijakan, dengan posisi lutut di atas pinggul.

Baca juga: Cinta Ruhama Berbagi Tips Menghindari Produk Greenwashing

Kapan harus ke dokter?

Anda harus mencari pertolongan medis untuk mengatasi sembelit jika merasakan ketidaknyamanan atau gejala yang memburuk; misalnya darah di tinja atau pendarahan dari rektum, nyeri konstan di perut atau punggung bawah, kesulitan buang gas, demam, muntah, atau penurunan berat badan yang tidak terduga.

Bahkan Anda perlu konsultasi jika mengalami sembelit tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, atau saat merasakan sembelit berkelanjutan yang tidak kunjung sembuh.

Penulis: Agnes Marpaung.

Sumber:

Medical News Today

Top
You cannot copy content of this page