lapan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/lapan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 09 Oct 2021 05:26:54 +0000 id hourly 1 Amati Hari Tanpa Bayangan di Pulau Jawa Hingga Pekan Depan https://www.greeners.co/berita/amati-hari-tanpa-bayangan-di-pulau-jawa-hingga-pekan-depan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=amati-hari-tanpa-bayangan-di-pulau-jawa-hingga-pekan-depan https://www.greeners.co/berita/amati-hari-tanpa-bayangan-di-pulau-jawa-hingga-pekan-depan/#respond Sat, 09 Oct 2021 04:30:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34026 Jakarta (Greeners) – Selama sepekan ke depan 8 Oktober-14 Oktober 2021, masyarakat di Pulau Jawa akan menyaksikan hari tanpa bayangan di siang hari. Saat ini matahari berada di atas Pulau […]]]>

Jakarta (Greeners) – Selama sepekan ke depan 8 Oktober-14 Oktober 2021, masyarakat di Pulau Jawa akan menyaksikan hari tanpa bayangan di siang hari. Saat ini matahari berada di atas Pulau Jawa. Fenomena ini terjadi karena sumbu rotasi bumi yang miring 66,6° terhadap ekliptika.

Peneliti Pusat Riset Sains Antariksa Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang menjelaskan, dari kondisi tersebut membuat matahari tidak selalu berada di atas garis katulistiwa (lintang 0°).

Dalam posisi itu, matahari akan berada di lintang 23,4°LU (garis balik utara) hingga 23,4°LS (garis balik selatan). Kemudian, wilayah yang terletak di antara dua garis balik ini memungkinkan mengalami matahari tengah hari di atas tempatnya sebanyak dua kali setahun.

Sementara itu, untuk wilayah sekitar garis katulistiwa akan mengalami matahari di atas garis katulistiwa ketika ekuinoks Maret dan ekuinoks September.

“Pulau Jawa terletak di antara lintang 6°-8°LS atau berada di sebelah selatan garis katulistiwa. Sehingga, Matahari akan berada di atas Pulau Jawa beberapa hari setelah ekuinoks September dan beberapa hari sebelum ekuinoks Maret,” kata Andi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (8/10).

Hari Tanpa Bayangan Siang Hari

Selanjutnya Andi menyebut, dampak dari fenomena ini adalah ketika tengah hari, tidak ada bayangan yang terbentuk dari benda tegak tak berongga seperti tongkat, tiang dan lainnya. Oleh karenanya, fenomena ini disebut juga sebagai hari tanpa bayangan di Pulau Jawa.

Selain itu lanjutnya, saat tengah hari, ketika sinar matahari datang tegak lurus ke permukaan bumi, intensitas radiasi matahari akan maksimum. Sehingga, ketika tutupan awan sangat minim, suhu permukaan bumi saat siang hari akan maksimum.

“Hal ini tidak berlaku saat tutupan awan cukup besar sehingga suhu permukaan bumi cenderung menurun. Meskipun begitu hawa gerah tetap dapat dirasakan akibat berkurangnya kelembapan,” ungkapnya.

Hidrasi Kondisi Tubuh

Menyikapi hal tersebut, Andi mengimbau sobat antariksa dan masyarakat pada umumnya agar tidak panik. Kondisikan tubuh agar selalu terhidrasi dengan baik, dan menggunakan alat pelindung seperti tabir surya, payung, topi ataupun alat pelindung lainnya.

Lalu untuk mengecek hilangnya bayangan saat tengah hari ketika hari tanpa bayangan, siapkan benda tegak seperti tongkat, tiang, spidol, botol, dan lainnya.

Kemudian, letakkan benda di permukaan yang rata. Lalu jika tidak ada benda-benda pendukung, dapat menggunakan bandulan dalam keadaan seimbang. Selanjutnya, kalibrasikan jam untuk menandai waktu melalui http://jam.bmkg.go.id.

“Lalu amati bayangan yang dihasilkan oleh benda pada tanggal dan jam yang sudah ditentukan,” imbuhnya.

Masyarakat di Pulau Jawa dan Madura dapat menyaksikan hari tanpa bayangan dengan waktu dan hari yang berbeda-beda. Untuk kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dan Banten masyarakat dapat mengamatinya sebagai berikut:

Jakarta : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.39.54 WIB
Bogor : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.39.51 WIB
Depok : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.39.57 WIB
Tangerang Kota : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.40.45 WIB
Bekasi Kota : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.39.19 WIB
Merak : Jumat, 08 Oktober 2021 pukul 11.43.34 WIB
Serang : Jumat, 08 Oktober 2021 pukul 11.42.55 WIB

Di Jawa Barat 

Karawang : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.37.52 WIB
Indramayu : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.34.00 WIB
Subang : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.36.01 WIB
Sumedang : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.35.02 WIB
Cirebon : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.32.47 WIB
Pelabuhan Ratu : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.40.32 WIB
Sukabumi : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.39.02 WIB
Bandung : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.36.19 WIB
Garut : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.34.56 WIB
Tasikmalaya : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.33.37 WIB
Banjar : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.32.21 WIB
Pangandaran : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.31.39 WIB
Pameungpeuk : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.35.42 WIB

Hari Tanpa Bayangan Di Jawa Tengah dan DIY

Karimunjawa : Jumat, 08 Oktober 2021 pukul 11.25.47 WIB
Losari : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.31.45 WIB
Tegal : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.30.27 WIB
Pekalongan : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.28.19 WIB
Jepara : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.24.17 WIB
Semarang : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.25.07 WIB
Purwodadi : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.23.05 WIB
Lasem : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.21.12 WIB
Majenang : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.31.26 WIB
Purbalingga : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.29.02 WIB
Wonosobo : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.26.53 WIB
Magelang : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.25.38 WIB
Surakarta : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.23.10 WIB
Cilacap : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.30.05 WIB
Kebumen : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.27.31 WIB
Yogyakarta : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.24.27 WIB
Wonogiri : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.22.25 WIB

Hari Tanpa Bayangan Di Jawa Timur dan Madura

Bojonegoro : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.19.13 WIB
Lamongan : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.17.05 WIB
Surabaya : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.15.44 WIB
Sampang : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.13.48 WIB
Sumenep : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.11.18 WIB
Kep. Kangean : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.04.45 WIB
Madiun : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.20.24 WIB
Nganjuk : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.18.53 WIB
Jombang : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.17.34 WIB
Pasuruan : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.14.54 WIB
Ponorogo : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.20.24 WIB
Kediri : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.18.11 WIB
Malang : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.15.44 WIB
Bondowoso : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.10.59 WIB
Situbondo : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.10.13 WIB
Pacitan : Rabu, 14 Oktober 2021 pukul 11.21.44 WIB
Trenggalek : Rabu, 14 Oktober 2021 pukul 11.19.12 WIB
Blitar : Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 11.17.21 WIB
Kepanjen : Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 11.15.44 WIB
Lumajang : Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 11.13.07 WIB
Jember : Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 11.11.13 WIB
Banyuwangi : Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 11.08.35 WIB

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/amati-hari-tanpa-bayangan-di-pulau-jawa-hingga-pekan-depan/feed/ 0
Lapan: Matikan Lampu dan Saksikan Keajaiban Langit Malam https://www.greeners.co/berita/lapan-matikan-lampu-dan-saksikan-keajaiban-langit-malam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lapan-matikan-lampu-dan-saksikan-keajaiban-langit-malam https://www.greeners.co/berita/lapan-matikan-lampu-dan-saksikan-keajaiban-langit-malam/#respond Fri, 05 Aug 2016 13:30:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14431 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengajak masyarakat mematikan lampu yang berada di luar ruangan pada Sabtu (6/8) pukul 20.00-21.00 waktu setempat, untuk menyaksikan langit bertabur bintang dengan mata telanjang.]]>

Jakarta (Greeners) – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengajak masyarakat mematikan lampu yang berada di luar ruangan pada Sabtu (6/8) pukul 20.00-21.00 waktu setempat, untuk menyaksikan langit bertabur bintang dengan mata telanjang, mulai dari rasi bintang Angsa (Cygnus), Salib Selatan (Cygnus), hingga rasi Kalajengking (Scorpiro).

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk mendorong kesadaran astronomis dalam menyelamatkan keindahan langit malam dan pengendalian polusi cahaya dengan mencanangkan kampanye Malam Langit Gelap (dark sky night) setiap 6 Agustus pukul 20.00-21.00 waktu setempat di seluruh Indonesia yang juga bertepatan sebagai Hari Keantariksaan.

“Jika seluruh warga kota ikut serta dalam gerakan ini, maka sejumlah keajaiban akan tampak. Khusus untuk besok, kita bisa melihat “Segitiga Musim Panas” yang terdiri dari bintang Vega, Deneb, Altair. Bintang-bintang yang tersusun dalam bentuk segitiga ini sangat legendaris. Di Jepang, gugusan ini dikenal dengan “Gingga”. Selain itu, kita juga dapat menyaksikan planet merah Mars, Saturnus dan bintang raksasa merah Antares,” katanya, Jakarta, Jumat (05/08).

BACA JUGA: Ini Alasan Mengapa Gerhana Matahari Total 2016 Istimewa untuk Indonesia

Saat ini, kata Thomas, kota-kota besar di seluruh dunia telah terpapar banyak sekali polusi cahaya. Bahayanya, hal tersebut tidak disadari karena masyarakat hanya paham dengan polusi yang jelas terlihat di hapan mereka seperti polusi udara, air maupun limbah. Ia mengatakan, salah satu kota di dunia yang paling parah menghasilkan polusi cahaya adalah Singapura dan Dubai.

“Di sana, terangnya malam dengan siang sama. Riset yang berkembang, sensor mata sangat peka antara malam dan siang. Ketika kondisi malam seterang siang, warga akan minim penggunaan sensor untuk malam. Indikasi yang paling mungkin dirasakan dengan adanya polusi cahaya itu adalah gangguan pola tidur pada masyarakatnya,” katanya menerangkan.

BACA JUGA: 288 Titik Api di Sumatera dan Kalimantan Terdeteksi Satelit

Riset Science Advances awal 2016, menyebut 80 persen penduduk bumi terpapar polusi cahaya. Sepertiga penduduk bumi tidak lagi bisa menikmati galaksi bima sakti. Saat ini, Lapan menyiapkan observatorium nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur dan akan diusulkan ke Kementerian Pariwisata. Pemprov NTT ingin mendirikan kawasan Taman Nasional Langit Gelap.

“Ini masih dalam tahap perizinan karena berada di kawasan Hutan Lindung Gunung Timau dan mungkin harus memangkas pohon. Tapi kami berkomitmen akan menanamnya kembali di sekitar lokasi observatorium tersebut,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/lapan-matikan-lampu-dan-saksikan-keajaiban-langit-malam/feed/ 0