material ramah lingkungan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/material-ramah-lingkungan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 21 Nov 2021 04:17:38 +0000 id hourly 1 TAN’S Label, Fesyen Pengusung Keberlanjutan Lingkungan dan Sosial https://www.greeners.co/gaya-hidup/tans-label-fesyen-pengusung-keberlanjutan-lingkungan-dan-sosial/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tans-label-fesyen-pengusung-keberlanjutan-lingkungan-dan-sosial https://www.greeners.co/gaya-hidup/tans-label-fesyen-pengusung-keberlanjutan-lingkungan-dan-sosial/#respond Sun, 21 Nov 2021 04:16:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=34347 Jakarta (Greeners) – Sobat Greeners, saat ini telah banyak brand lokal yang sudah mengarah kepada fesyen berkelanjutan lho. Untuk kamu yang saat ini ingin atau telah menerapkan pola hidup ramah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sobat Greeners, saat ini telah banyak brand lokal yang sudah mengarah kepada fesyen berkelanjutan lho. Untuk kamu yang saat ini ingin atau telah menerapkan pola hidup ramah lingkungan, fesyen berkelanjutan dapat menjadi pilihan. Seperti brand lokal TAN’S Label yang mengusung produk ramah lingkungan, mulai dari bahan dan kemasan.

Tan’s Label merupakan brand pakaian wanita asal Jakarta yang berdiri pada Februari tahun 2020. Produknya antara lain atasan kemeja dan blouse, celana, rok dan dress. Sebelum mendirikan TAN’S Label, Nicole Latip inisiator TAN’S memang sudah tertarik dengan fesyen industri dan mendesain pakaiannya sendiri. Namun setelah mendalami hal tersebut, Nicole menemukan beberapa fakta bahwa limbah pakaian sangat berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan.

Sejak saat itu, ia mencari beberapa opsi bahan pakaian yang lebih ramah lingkungan dan mendirikan TAN’S Label. Sadar dengan edukasi dan informasi limbah pakaian yang masih minim di Indonesia, ia ingin TAN’S Label juga dapat terbuka pada konsumen mengenai bahan dan proses produksinya. Nicole mendirikan brand ini dengan beberapa prinsip utama, yakni slow fashion dan ethical fashion.

“Dampak industri fesyen tidak hanya bagi lingkungan, ini dampaknya juga terhadap manusia-manusia yang bersangkut paut dengan industri fesyen. Jadi kita ingin melakukan upaya berkelanjutan terhadap lingkungan dan juga manusia-manusia yang memakai dan juga memproduksi baju-baju tersebut,” kata Nicole kepada Greeners, baru-baru ini.

Material Kain dan Kemasan yang Ramah Lingkungan

Dalam membangun sebuah brand berkelanjutan, Nicole menyadari terdapat beberapa sisi yang tidak dapat ia kendalikan. Karena itu, ia berusaha untuk meminimalisir sisi negatif dan menghindari pemakaian material yang tidak ramah lingkungan seperti polyester.

Sebagai bahan utama, TAN’S Label memilih menggunakan kain linen dan katun dalam produk koleksi mereka. Nicole memilih linen dan katun karena bahan tersebut dapat terurai dengan baik ketika sudah tidak lagi digunakan. Bahkan, kain linen merupakan kain yang lebih ramah lingkungan daripada katun karena terbuat dari tanaman rami dan tidak memakai bahan kimia dalam produksinya.

Selain material utama, TAN’S Label juga memilih aksesori pakaian ramah lingkungan. Seperti mengganti pemakaian kancing plastik dengan kancing batok kelapa.

“Aku tidak mengatakan ini 100% green, tapi tetap saya berupaya untuk membangun satu brand yang bisa untuk berkelanjutannya itu dalam arti kalau bisa dikurangin hal-hal sisi buruknya kenapa tidak gitu,” jelasnya.

Pada kemasannya, sejak bulan Juni 2020, TAN’S Label sudah berkomitmen untuk menghilangkan unsur plastik dan 100% biodegradable. Sebagai langkah menghindari penumpukan limbah kemasan plastik, mereka menggantinya dengan cassava bag atau kantong singkong untuk membungkus produk. Serta kantung berbahan dasar karton yang juga dapat terurai sebagai pembungkus akhir.

Produk TAN’S Label punya konsep tak lekang musim. Foto: TAN’S Label

Upaya TAN’S Label Pada Ethical dan Slow Fashion

Selain mempertimbangkan dampak apa yang akan alam terima, TAN’S Label juga sangat memperhatikan kesejahteraan bagi para pekerjanya atau biasa disebut dengan ethical fashion. Konsep ini  berorientasi pada bagaimana suatu perusahaan memperlakukan para pekerjanya seperti gaji, jam kerja dan tidak mempekerjakan anak di bawah umur.

TAN’S Label bekerja sama dengan tiga penjahit rumahan untuk memproduksi koleksi mereka. Nicole menyebut, kerja sama ini sangat ia perhatikan agar dapat menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Hal itu juga tercermin dalam penentuan harga pada proses produksi. Karena TAN’S Label tidak mempekerjakan penjahit secara langsung, melainkan kerja sama. Pihak TAN’S Label tidak menentukan harga apalagi menawar harga yang penjahit tawarkan. Hal tersebut merupakan kewenangan dan hak para penjahit, sehingga TAN’S Label akan membayar sesuai dengan harga yang telah pihak penjahit tetapkan.

“Dari sisi etikanya aku merasa industri fesyen itu juga peduli dengan lingkungan, tetapi masih kurang peduli terhadap sumber daya manusianya. Jadi aku merasa kalau mau dibilang sustainable harus 360° ke semuanya gitu ya kita harus melihat dari segala sisinya gitu,” tuturnya.

Sejalan dengan kesejahteraan pekerja, TAN’S Label juga mengusung konsep slow fashion, yakni tidak berorientasi pada kuantitas, melainkan kualitas. Nicole mengungkapkan, dalam jarak tiga bulan ia hanya mengeluarkan satu koleksi, satu koleksi tersebut terdapat delapan model dengan banyaknya per model yakni satu lusin. Ia menambahkan, keadaan tersebut juga dapat menguntungkan, karena dapat meminimalisir produk sisa karena tidak habis terjual.

Penerapan Zero Waste pada Proses Produksi TAN’S Label

Pada alur produksinya, awal proses berada pada tangan Nicole sendiri, ia bertugas untuk membuat desain produk. Setelah itu ia bekerja sama dengan pattern maker agar tidak ada bahan yang tersisa atau terbuang. Lalu setelahnya, baru ia serahkan pada penjahit untuk melakukan eksekusi terakhir.

Apabila terdapat sisa kain pada prosesnya, Nicole menyebut kain tersebut tidak akan mereka buang begitu saja. Melainkan akan mereka olah kembali menjadi scrunchy, masker dan hair clip berbahan dasar kain yang akan mereka hadiahkan secara cuma-cuma pada konsumen. Sehingga tidak ada kain yang terbuang sia-sia atau berpotensi menambahkan limbah kain pada lingkungan.

Selain itu, TAN’S Label juga mendorong upaya zero waste dalam penyediaan warna pada koleksi produk. Rata-rata produk mereka hanya tersedia dari satu hingga tiga koleksi warna.

“Kalo semakin banyaknya opsi warna menurut aku tuh kesempatan untuk wastenya tuh lebih banyak lagi. Jadi aku meminimalisir dampak-dampaknya terhadap SDM dan terhadap lingkungan itu aku minimalisir aja gitu,” ucapnya.

Lebih lanjut, Nicole juga mengatakan ia mendesain produk TAN’S Label dengan fokus pada fungsi setiap koleksi. Menghindari sikap konsumerisme konsumen, TAN’S Label mempunyai terobosan seasonless pieces atau pakaian yang dapat digunakan pada setiap musim, baik musim hujan maupun musim panas.

“Jadi kita bukan hanya zero waste tapi bahkan baju-baju yang kita produksi itu juga kita mau upayakan orang tidak membuangnya begitu saja. Orang akan appreciate mereka akan merasa nyaman memakai baju-baju yang TAN’S Label produksi,” ungkapnya.

TAN’S Label Ajak Gaya Hidup Berkelanjutan

Melihat antusiasme dan inisiatif yang sudah produsen berikan, Nicole berharap begitu pula dengan kenaikan tingkat awareness konsumen. Tidak hanya berorientasi atau melihat pada harga, namun konsumen juga harus melihat kualitas serta makna atau filosofi yang produk berikan.

Lebih jauh, ia juga mengatakan bahwa hal ini bukan hanya mengenai pakaian. Tetapi juga merambah ke gaya hidup, agar terciptanya perbaikan lingkungan dari segala aspek yang manusia lakukan.

“Harapannya untuk ke depan adalah peningkatan awareness, aku juga berharap Indonesia bisa mengejar lah dari skala upaya sustainabilitynya, bukan hanya terhadap industri fesyen, tapi terhadap gaya hidup karena aku merasa ini dampaknya itu lebih ke gaya hidup juga gitu bukan hanya produk-produk baju,” harapnya.

Penulis : Zahra Shafira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tans-label-fesyen-pengusung-keberlanjutan-lingkungan-dan-sosial/feed/ 0
Material Berbasis Jamur yang Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/material-berbasis-jamur-yang-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=material-berbasis-jamur-yang-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/material-berbasis-jamur-yang-ramah-lingkungan/#respond Tue, 10 Sep 2019 09:31:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=24185 Selama ini jamur seringkali dimanfaatkan oleh banyak orang sebagai bahan baku berbagai jenis makanan dan bahan yang digunakan untuk membuat tempe. Terinspirasi dari proses pembuatan tempe dengan bantuan jamur, sebuah […]]]>

Selama ini jamur seringkali dimanfaatkan oleh banyak orang sebagai bahan baku berbagai jenis makanan dan bahan yang digunakan untuk membuat tempe. Terinspirasi dari proses pembuatan tempe dengan bantuan jamur, sebuah perusahaan startup lokal asal Bandung, Mycotech berhasil menciptakan sebuah material serbaguna berbasis jamur yang ramah lingkungan.

“Kita terinspirasi dari jamur tempe sebenarnya, kita pengen bikin material yang lebih ramah lingkungan.” ujar Ronaldiaz Hartantyo, co-founder Mycotech saat ditemui Greeners beberapa hari lalu di Jakarta Pusat.

Mycotech adalah perusahaan yang membuat material berbasis limbah pertanian yang diikat oleh miselium yang merupakan bagian akar dari jamur yang menyerupai sekumpulan benang atau untaian. Mycotech menggunakan jamur basidiomycetes, jamur yang memiliki tubuh buah dan jenisnya bermacam-macam. Adapun tujuan utama dari Mycotech yaitu growing sustainable material for better world.

“Material itu kan datangnya dari sumber-sumber yang tidak sustainable melalui proses ekstraksi, mining atau bahkan untuk leather melibatkan proses animal cruelty, dan post harvest leather-nya menggunakan bahan beracun. Nah jadi kita itu ingin merubah mindset bahwa ternyata material itu bisa digantikan dengan material yang lebih sustainable. Jadi dari extraction, mining kita bisa ganti jadi growing in harvest thing, yang tadinya linear kita bikin menjadi sirkular prosesnya.”tambah Ronaldiaz.

Contoh Produk Mycotech. Foto : instagram mycotech

Contoh Produk Mycotech. Foto : instagram mycotech

Mycotech dan Produknya

Mycotech (PT Miko Bahtera Nusantara) secara resmi didirikan sejak 2015 tapi masih dalam bentuk prototype, dipatenkan pada 2016 dan baru mulai produksi secara masal pada tahun ini. Karena mengusung model bisnis B2B, Mycotech tidak menjual produknya ke konsumen secara langsung namun lebih fokus menciptakan inovasi material. Saat ini Mycotech sudah memiliki 3 produk, yaitu Mycelium blocks, Mylea dan Biobo.

Mycelium blocks adalah material berbentuk seperti beton yang bisa digunakan dalam membentuk cetakan apa saja. Salah satu contoh penggunaannya yaitu pada MycoTree. MycoTree merupakan sebuah struktur percabangan spasial yang terbuat dari komponen miselium yang tahan beban. Geometrinya dirancang menggunakan grafik statika 3D, menahan material yang lemah di dalam kompresi. Simpul kompleksnya dibangun dalam cetakan yang dibuat secara digital.

Yang kedua yaitu Mylea, merupakan kepanjangan dari Mycelium leather, material berbasis jamur yang menyerupai kulit hewan. Mylea bisa digunakan untuk menggantikan bahan kulit konvensional.

Melalui Mylea, Mycotech telah bekerja sama dengan brand lokal yang bernama Pala Nusantara untuk membuat jam tangan kulit berbasis jamur. Produk ini telah memenangkan penghargaan Good Indonesian Design Award dan INACRAFT 2019.

Yang ketiga yaitu Biobo, papan berbasis jamur berukuran 30 x 30 cm yang bisa ditempel tanpa menggunakan lem, namun menggunakan Mycelium sebagai perekatnya. Selain itu, Biobo juga bisa digunakan sebagai hiasan dinding atau keramik dinding yang lebih ramah lingkungan.

Kerjasama dengan Petani Jamur Lokal

Mycotech mempunyai kantor administrasi dan produksi yang berlokasi di Bandung, sedangkan kantor inkorporasinya berlokasi di Singapura. Staf Mycotech saat ini berjumlah 25 orang dan telah bekerjasama dengan hampir lebih dari 300 petani jamur lokal. Selain itu, Mycotech juga mengadakan beberapa workshop tentang kualitas dan standar kebersihan jamur untuk meningkatkan produktivitas para petani.

“Saat ini kita ada 3 fokus, yang pertama standarisasi production quality, optimasi production process supaya lebih efisien lagi dan terakhir sertifikasi agar produk kita tidak hanya sustainable, tetapi juga durable dan affordable.“ tegas Ronaldiaz.

Ronaldiaz juga mengatakan bahwa sebenarnya material alternatif yang sustainable lebih terjangkau dan tidak merusak lingkungan. Melalui Mycotech, perusahaannya tak hanya sekedar menjalankan bisnis namun sekaligus menyelamatkan dunia.

Sustainibility itu bukan hanya tren. Masalahnya kalau kita tidak melakukan ini secepatnya, bumi gak bakal mampu lagi menerima kita dan kita nanti juga harus dipaksa menghadapi climate change dan kelaparan.”pungkasnya.

Namun sayangnya, di Indonesia perusahaan ini hanya fokus untuk melakukan optimasi produksi karena pasar Indonesia belum banyak yang sadar untuk beralih menggunakan sustainable material atau semacamnya. Mycotech memasarkan produknya ke Eropa seperti Austria, Jerman, Perancis dan pada bulan Oktober rencananya akan dipasarkan ke Jepang. Selain itu, Mycotech saat ini sedang melakukan kerjasama dengan salah satu kampus di Singapura untuk membuat sebuah projek.

Penulis: Diki Suherlan

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/material-berbasis-jamur-yang-ramah-lingkungan/feed/ 0
Pelindung Ponsel Ini Bebas Material Plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/pelindung-ponsel-ini-bebas-material-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pelindung-ponsel-ini-bebas-material-plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/pelindung-ponsel-ini-bebas-material-plastik/#respond Wed, 09 Jan 2019 07:21:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=22139 Umumnya pelindung ponsel terbuat dari material seperti silikon, karet, busa, alumunium dan plastik fiber. Kini hadir "Pela", pelindung ponsel yang ramah lingkungan.]]>

Saat ini manusia hampir tidak bisa lepas dari telepon selular atau ponsel. Bagi pengguna ponsel yang kurang berhati-hati atau cereboh, biasanya akan memasang pelindung atau selubung (casing) ponsel untuk mengurangi dampak benturan pada ponsel. Umumnya pelindung ponsel terbuat dari material seperti silikon, karet, busa, alumunium dan plastik fiber. Sayangnya sebagian besar dari material tersebut tergolong material yang tidak ramah terhadap lingkungan.

Mencoba menjawab permasalahan ini, pebisnis dan konsultan lingkungan asal Canada bernama Jeremy Lang menciptakan pelindung ponsel yang ia namakan Pela. Dalam bahasa Spanyol, “pela” atau yang dibaca peeel-a mempunyai arti “mengupas” atau “menguliti”.

Dalam situs resmi pelacase.com, Jeremy menyatakan bahwa saat ini jumlah produksi ponsel lebih banyak daripada jumlah populasi manusia di Bumi. “Misi kami untuk membuat produk ramah lingkungan dimulai dari produk yang Anda pegang setiap hari,” ungkapnya.

pelindung ponsel

Pelindung ponsel Pela tidak mudah tergores. Produk ini dibuat dengan warna yang bervariasi. Foto: pelacase.com

Pelindung ponsel ini terbuat dari 100% bahan organik yang disebut Flaxstic. Flaxstic adalah kombinasi dari limbah jerami dan biopolimer, perpaduan antara polimer dengan tanaman non-pangan. Selain terbuat dari bahan organik, materialnya juga dapat mengompos atau dapat hancur menjadi unsur-unsur alami tanpa meninggalkan toksin di dalam tanah.

Keunggulan lain dari Pela ialah bebas dari material kimia berbahaya yaitu Bisphenol A (BPA) yang dapat memengaruhi proses regulasi hormon manusia. Disamping itu, produk ini aman bila berada dalam jangkauan anak-anak. “Memang pelindung ponsel membantu melindungi investasi Anda karena ponsel itu mahal, namun produk tersebut juga harus terbuat dari material yang tidak membawa racun ke dalam rumah Anda. Kami telah menguji produk ini agar terbebas dari BPA,” ungkap Jeremy.

Pela di desain dengan bentuk yang ramping, ringan dan tidak mudah tergores. Pelindung ponsel ini juga dibuat dalam beragam warna. Saat dipasarkan setiap produk Pela dikemas tanpa plastik.

Dalam situs resminya disebutkan bahwa beberapa persen dari hasil penjualan produk ini telah disumbangkan ke yayasan yang bergerak di bidang konservasi dan kepedulian laut seperti Water.org, Surfrider Foundation, dan Save The Waves Coalition. Jeremy mengatakan bahwa apa yang ia lakukan sekarang adalah upaya untuk menjaga Bumi demi anak cucu di masa depan.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pelindung-ponsel-ini-bebas-material-plastik/feed/ 0
Yeay! Ada Glitter Biodegradable https://www.greeners.co/gaya-hidup/yeay-ada-glitter-biodegradable/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yeay-ada-glitter-biodegradable https://www.greeners.co/gaya-hidup/yeay-ada-glitter-biodegradable/#respond Mon, 22 Oct 2018 07:27:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=21429 Glitter kerap digunakan untuk menciptakan riasan dengan kesan mewah maupun playful. Sayangnya bahan yang memantulkan cahaya ini menjadi salah satu penyumbang limbah plastik yang luput dari pengamatan.]]>

Glitter kerap digunakan untuk menciptakan riasan dengan kesan mewah maupun playful. Namun penggunaan glitter tidak hanya dalam kosmetik saja, material ini juga digunakan pada dekorasi furnitur, mainan, pakaian, dan aksesori. Sayangnya bahan yang memantulkan cahaya ini menjadi salah satu penyumbang limbah plastik yang luput dari pengamatan.

Dr. Sherri Mason, dosen Kimia di State University of New York, Fredonia (SUNY Fredonia), seperti dilansir pada majalah Allure, menyebut glitter sebagai “pil racun kecil”. Glitter juga dianggap sebagai bagian dari limbah mikroplastik.

bioglitz

BioGlitz terbuat dari bahan yang dapat terurai (biodegradable). Foto: bioglitz.co

Seorang pengusaha muda bernama Saba Gray menciptakan sebuah merek glitter bernama “BioGlitz”. BioGlitz terbuat dari bahan yang dapat terurai (biodegradable). Saba menciptakan produk inovatif ini pada tahun 2015 bersama rekan kerjanya Rebecca Richards. Berkat inovasi ini mereka dikenal sebagai pencetus glitter ramah lingkungan.

“Masalah terbesar kami terhadap industri glitter saat ini adalah banyaknya limbah yang mereka hasilkan. Umumnya mereka memproduksi glitter dari bahan plastik yang berasal dari minyak bumi, dicampur dengan aluminium, lalu dipotong menjadi partikel mikro sehingga mustahil untuk didaur ulang dan berdampak besar pada lingkungan. Sebagai penggemar glitter dan juga bagian dari penghuni bumi, kita harus melakukan perubahan untuk bumi yang lebih baik,” tutur Rebecca seperti dikutip pada laman papermag.com.

bioglitz

Foto: bioglitz.co

Keunggulan glitter BioGlitz yaitu seratus persen mudah terurai dan dapat dibuat kompos. Produk ini terbuat dari selulosa tanaman eukaliptus. Saba memanfaatkan selulosa pohon eukaliptus yang dibentuk menjadi gulungan plastik dan dilapisi satu persen material aluminium ditambah pigmen kosmetik. Tanaman eukaliptus yang digunakan untuk produk ini bersertifikasi FSC (Forest Stewardship Council), dimana tanaman ini dikelola secara ramah dan berkelanjutan.

Tekstur produk ini ringan dan tidak membuat kulit iritasi. Saba menyatakan bahwa produknya animal testing free, yang berarti tidak ada hewan yang dijadikan subyek percobaan dalam produknya.

BioGlitz hadir dalam warna-warni yang cantik. Materialnya bebas dari bahan kimiawi beracun sehingga aman digunakan anak-anak. Saba mengklaim bahwa terciptanya BioGlitz merupakan langkah menuju masa depan untuk terbebas dari material plastik dan bahan bakar fosil.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/yeay-ada-glitter-biodegradable/feed/ 0
Jamur untuk Struktur Bangunan? https://www.greeners.co/ide-inovasi/jamur-struktur-bangunan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-struktur-bangunan https://www.greeners.co/ide-inovasi/jamur-struktur-bangunan/#respond Mon, 24 Jul 2017 10:30:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17860 Penggunaan limbah, salah satunya botol plastik, sebagai material struktur bangunan sudah banyak dilakukan, tetapi menggunakan material hidup seperti jamur bisa menjadi pilihan baru.]]>

Penggunaan limbah, salah satunya botol plastik, sebagai material struktur bangunan sudah banyak dilakukan, tetapi menggunakan material hidup seperti jamur bisa menjadi pilihan baru.

jamur

Foto: inhabitat.com

Mahasiswa Brunel University di London, Aleksi Vesaluoma, telah menemukan cara untuk menumbuhkan struktur hidup menggunakan jamur mycelium. Vesaluoma bekerja bersama firma arsitektur Astudio untuk menciptakan Grown Structures, material konstruksi organik dan bebas limbah.

Vesaluoma dan Astudio mencampurkan mycelium dengan karton dan menuangkannya ke dalam gulungan pita katun berbentuk tabung. Ketika mycelium tumbuh, ia akan mengikat seluruh material yang lain seperti lem.

jamur

Foto: inhabitat.com

Tabung-tabung tersebut ditempakan di dalam rumah kaca berventilasi selama empat minggu untuk tumbuh dan menguat. Proses ini mengubah limbah organik menjadi nutrisi untuk pertumbuhan mycelium. Struktur tersebut juga bebas limbah karena 100% biodegradable.

jamur

Foto: inhabitat.com

Jamur mycelium yang tumbuh pada struktur tersebut dapat dipanen untuk dikonsumsi. Vesaluoma sendiri membayangkan bahwa material tersebut digunakan untuk membangun sebuah restoran “pop up” (restoran yang dibangun temporer) yang menyediakan menu dengan bahan dasar jamur.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/jamur-struktur-bangunan/feed/ 0
“Menolak” Noda dan Ramah Lingkungan, Ably Gunakan Kain Filium https://www.greeners.co/gaya-hidup/menolak-noda-dan-ramah-lingkungan-ably-gunakan-kain-filium/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menolak-noda-dan-ramah-lingkungan-ably-gunakan-kain-filium https://www.greeners.co/gaya-hidup/menolak-noda-dan-ramah-lingkungan-ably-gunakan-kain-filium/#respond Tue, 07 Feb 2017 04:42:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=15850 Pada pertengahan 2016 lalu, Ably, perusahaan pakaian yang berbasis di Seattle, meluncurkan kaus dan jaket yang tahan air dan menolak bau tak sedap. Pakaian tersebut menggunakan bahan yang disebut Filium.]]>

Buat kamu yang mau bebas beraktivitas tanpa takut baju kotor, terkena noda ataupun bau tak sedap, kini ada pakaian dari material khusus untuk kebutuhan ini. Pada pertengahan 2016 lalu, Ably, perusahaan pakaian yang berbasis di Seattle, meluncurkan kaus dan jaket yang tahan air dan menolak bau tak sedap. Bukan hanya itu, Ably menjamin bahwa material ini terbuat dari bahan alami.

Menggunakan bahan yang mereka sebut Filium yang dikembangkan oleh Raj Shah, Akhil Shah dan mantan direktur kreatif Nike, Stanley Hainsworth. Filium adalah kain dari bahan alami yang dibuat dengan teknologi patent-pending.

Filium digambarkan sebagai proses yang membuat bahan alami tersebut mampu menahan cairan sehingga keringat, tumpahan noda dan bau tidak bisa menyerap kedalamnya. Meski begitu, kaus ini tetap baik untuk digunakan berolah raga.

filium

Gambar: Ably via Techtimes.com

Tidak seperti bahan sejenis, yang terbuat dari material sintetis yang dapat menjadi tidak nyaman dan terlalu basah ketika bekerja di luar ruangan, filium yang dibuat dengan kapas alami membuatnya tetap memiliki sirkulasi udara yang bagus, tahan air dan mampu mengering hingga 40 persen lebih cepat dari katun biasa. Bahan ini juga menjaga berbau segar bahkan jika konsumen memakainya ke pusat kebugaran setiap hari selama satu bulan.

“Disaat sebagian besar pakaian lainnya mengaku sebagai anti air dan noda dibuat dengan bahan sintetis berbasis minyak bumi (nilon, polyester, dll), Ably seratus persen terbuat dari katun premium alami, tanpa kandungan sintetis dan nanopartikel,” kata Raj Shah, co-pendiri Ably yang juga pencipta teknologi Filium, seperti dilansir Tech Times.

Terbuat dari bahan ramah lingkungan memang menjadi salah satu nilai lebih dari produk Ably, tanpa penggunaan nanoteknologi yang biasa digunakan pada pakaian bebas keringat dan bau lainnya, membuat Ably akan lebih mudah terurai dalam tanah saat sudah tidak digunakan. Dalam pembuatannya telah sesuai dengan standar bluesign untuk berkelanjutan yang ramah lingkungan. Lebih jauh juga mengurangi konsumsi air dan diterjen dalam pencucian.

“Pada akhirnya, kami sangat senang dengan keberlanjutan jangka panjang bagi bumi ini. Kami tidak menggunakan nanopartikel atau bahan kimia berbahaya yang menyerap dan larut ke dalam kulit atau lingkungan. Mengurangi pencucian, sampah kemasan, dan penggunaan yang lebih lama,” kata Shah.

Penulis: AT/G39

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/menolak-noda-dan-ramah-lingkungan-ably-gunakan-kain-filium/feed/ 0
Kain Pengumpul Energi Matahari https://www.greeners.co/ide-inovasi/kain-pengumpul-energi-matahari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kain-pengumpul-energi-matahari https://www.greeners.co/ide-inovasi/kain-pengumpul-energi-matahari/#respond Tue, 08 Nov 2016 11:55:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15143 Delapan orang insinyur dari Georgia Tech mempelopori penelitian sebuah kain hibrida yang sanggup memanen energi dari dua sumber: matahari dan gerakan.]]>

Pernah membayangkan kalau pakaian yang kita kenakan dapat memanen energi matahari untuk memberi energi pada ponsel kita?

Delapan orang insinyur dari Georgia Tech mempelopori penelitian untuk sebuah kain hibrida yang sanggup memanen energi dari dua sumber: matahari dan gerakan. Ada beberapa aplikasi yang bisa digunakan di antaranya untuk pakaian, gorden atau tenda.

Para insinyur tersebut menggunakan sebuah mesin tekstil yang biasa dipakai di industri komersial untuk memintal tekstil tenaga hibrida atau tekstil berenergi hibrida. Tekstil ini bisa memanen energi melalui sel surya yang terbuat dari serat polimer.

Triboelektrik nanogenerator yang digunakan di bahan ini bisa menghasilkan energi dari gerakan. Kedua bahan ini kemudian dijalin dengan bahan wool untuk menghasilkan bahan yang sangat fleksibel, ringan, dan bisa ‘bernafas’.

kain pengumpul energi

Foto: Georgia Tech/inhabitat.com

Salah satu penulis makalah tentang bahan tekstil tersebut, seorang profesor di bidang Ilmu Material dan Rekayasa dari Georgia Tech, Zhong Lin Wang dalam pernyataannya mengatakan, “Tekstil bertenaga hibirida ini mempersembahkan sebuah solusi sederhana dalam hal pengisian sumber daya untuk gawai saat kita di lapangan dengan menggunakan hal-hal sederhana yang ada di alam seperti angin yang berhembus di saat cuaca cerah.”

Untuk pengujian bahan ini, para insinyur membuat sebuah bendera dengan menggunakan bahan yang diuji, memasangnya pada sebuah mobil kemudian mengendarai mobil tersebut berkeliling kota. Walaupun saat itu cuacanya mendung, bendera berukuran 4×5 cm tersebut mampu menghasilkan energi untuk mengisi sebuah kapasitor berukuran 2mF sampai ke 2 Volt hanya dalam waktu satu menit saja.

Langkah berikutnya untuk para insinyur itu adalah membungkus bahan tersebut sehingga tidak rusak oleh kelembaban dan hujan. Pengujian awal menyatakan bahwa bahan ini dapat digunakan lagi dan lagi namun para peniliti ingin melakukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui daya tahan bahan tersebut dalam jangka panjang. Bahkan mereka berpikir bahwa bahan ini bisa dibuat dalam skala yang lebih besar karena material yang digunakan ramah lingkungan dan harga terjangkau.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/kain-pengumpul-energi-matahari/feed/ 0
11 Macam Bahan Bangunan yang Lebih Hijau Dibanding Beton https://www.greeners.co/ide-inovasi/11-macam-bahan-bangunan-lebih-hijau-dibanding-beton/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=11-macam-bahan-bangunan-lebih-hijau-dibanding-beton https://www.greeners.co/ide-inovasi/11-macam-bahan-bangunan-lebih-hijau-dibanding-beton/#respond Fri, 22 Jul 2016 04:45:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14284 Produksi bahan-bahan pembentuk beton menghasilkan berton-ton gas rumah kaca berupa karbondioksida (CO2) ke atmosfer setiap tahunnya. Berikut ini 11 bahan bangunan "hijau" sebagai sebuah alternatif terhadap beton.]]>

Beton adalah material yang menyatukan kota-kota kita. Dari rumah, bangunan apartemen, sampai ke jembatan, terowongan dan jalur pejalan kaki. Bahan berwarna abu-abu ini terbukti sangat penting untuk kebutuhan kehidupan di dunia modern ini.

Namun, tidak banyak orang tahu tentang fakta dibalik beton. Produksi bahan-bahan pembentuk beton menghasilkan berton-ton gas rumah kaca berupa karbondioksida (CO2) ke atmosfer setiap tahunnya. Polusi tersebut memicu proses perubahan iklim yang kita rasakan sekarang.

Untuk mengatasi kebutuhan pengganti bahan beton tersebut, berikut ini 11 bahan bangunan “hijau” sebagai sebuah alternatif terhadap beton dan menurunkan efek buruknya terhadap lingkungan. Dilansir dari Inhabitat.com.

Foto: inhabitat.com

Foto: inhabitat.com

1. Batang jerami

Bangunan yang terbuat dari tumpukan batang jerami mengingatkan pada zaman dimana rumah-rumah dibangun menggunakan material yang alami dan diproduksi lokal. Batang jerami yang digunakan untuk menggantikan dinding bata, kayu atau gipsum ternyata dapat menghasilkan insulasi yang sangat baik bila disusun dengan baik. Tidak hanya murah namun juga berkelanjutan karena jerami tumbuh sangat cepat di alam.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/11-macam-bahan-bangunan-lebih-hijau-dibanding-beton/feed/ 0
ReWrap Gunakan Serat Batok Kelapa untuk Tas Kantor https://www.greeners.co/gaya-hidup/rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor https://www.greeners.co/gaya-hidup/rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor/#respond Sat, 07 Nov 2015 14:00:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11813 Industri fesyen ramah lingkungan kerap kali dianggap sebelah mata karena sering kali tidak wearable dan menggunakan desain yang seadanya. Namun, anggapan tersebut akan berubah bila melihat tas ramah lingkungan yang […]]]>

Industri fesyen ramah lingkungan kerap kali dianggap sebelah mata karena sering kali tidak wearable dan menggunakan desain yang seadanya. Namun, anggapan tersebut akan berubah bila melihat tas ramah lingkungan yang satu ini.

Sebuah brand asal Belanda bernama ReWrap akan menunjukkan pada Anda bahwa material bekas atau sisa dapat menghasilkan karya yang luar biasa. Lewat koleksi bertajuk Tree Bag, ReWrap menciptakan tas menarik yang terbuat dari serat batok kelapa. Dirilis pada Dutch Design Week 2015 yang diadakan akhir Oktober lalu, tas dari serat batok kelapa ini menghasilkan serat yang natural dan bentuk motif tersendiri. Siapa sangka, selain nampak chic, tas ini pun dapat tahan air.

Tree Bag dari ReWrap. Foto: ecouterre.com

Tree Bag dari ReWrap. Foto: ecouterre.com

Bagian luar tas tersebut terbuat dari 100 persen serat batok kelapa yang di pres bersama dengan getah pohon yang dapat membuat tas ini kuat dan tahan lama. Sedangkan pada bagian dalam tas terbuat dari karet alami yang telah dikeringkan dibawah sinar matahari, bagian karet ini lah yang membuat tas ini dapat anti air.

Tas ini pun dilengkapi dengan handle yang terbuat dari 100 persen kayu dari pohon walnut yang dikelola secara berkelanjutan dan memiliki sertifikasi dari Forest Stewardship Council (FSC). Dibalik materialnya yang ramah lingkungan dan memiliki desain stylish, tas ini dibuat dengan mempekerjakan para penyandang disabilitas di sebuah workshop kecil di Amsterdam.

Tree Bag dari ReWrap. Foto: storify.com

Tree Bag dari ReWrap. Foto: storify.com

Tas ini dibuat dalam dua macam ukuran, yakni medium dan besar. Dari segi desain, tas ini cocok digunakan sebagai tas kantor maupun untuk acara formal lainnya. Selain itu, tas ini bersifat unisex atau dapat digunakan oleh pria maupun wanita.

Tas ini dibanderol dengan harga 245 euro atau setara dengan 3,5 juta rupiah untuk ukuran medium dan 275 euro atau 4 juta rupiah untuk ukuran besar. Bagaimana menurut Anda, cukup sepadankah harga dengan kerja keras produksi tas tersebut?

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor/feed/ 0
Fasad Jendela Warna-Warni di Vegan House https://www.greeners.co/ide-inovasi/fasad-jendela-warna-warni-di-vegan-house/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fasad-jendela-warna-warni-di-vegan-house https://www.greeners.co/ide-inovasi/fasad-jendela-warna-warni-di-vegan-house/#respond Wed, 29 Jul 2015 07:48:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10521 Di Kota Ho Chi Minh, Vietnam terdapat sebuah rumah bernama Vegan House. Rumah yang berada di area pemukiman padat penduduk ini pada awalnya adalah rumah pribadi. Kini rumah tersebut berubah […]]]>

Di Kota Ho Chi Minh, Vietnam terdapat sebuah rumah bernama Vegan House. Rumah yang berada di area pemukiman padat penduduk ini pada awalnya adalah rumah pribadi. Kini rumah tersebut berubah wujud menjadi pusat kegiatan budaya dan komunitas. Bukan hal yang sulit bagi kita menemukan Vegan House. Fasad rumahnya yang mencolok dan berbeda dengan rumah di sekitarnya akan memudahkan siapa saja yang pertama kali datang ke Vegan House.

Vegan House merupakan rumah rancangan Block Architects. Mereka mempunya misi menyatukan budaya dan komunitas bersama-sama. Di rumah ini lah orang-orang akan datang dan saling bertemu, berdiskusi sambil memasak dan makan bersama makanan tradisional Vietnam, khususnya makanan vegetarian.

Jendela berbuku warna-warni difungsikan menjadi fasad depan dan atap di Vegan House. Foto: inhabitat.com

Jendela berbuku warna-warni difungsikan menjadi fasad depan dan atap di Vegan House. Foto: inhabitat.com

Vegan House terdiri dari tiga lantai. Di dalamnya terdapat dapur bersama, ruang makan, kamar yang difungsikan sebagai penginapan, kamar utama, dan rooftop. Arsitek perancang rumah ini menempatkan jendela-jendela berbuku yang dicat warna-warni sebagai fasad rumah. Jendela-jendela berbuku tersebut lazim digunakan di negara Asia, terutama negara tropis. Vegan House adalah jenis rumah dengan banyak titik di mana sinar matahari dapat menyinari bagian dalam rumah tersebut tanpa membuat penghuninya kepanasan.

Di dalam Vegan House, udara dapat mengalir leluasa dan cahaya matahari menembus hingga ke dalam bangunan. Foto: inhabitat.com

Di dalam Vegan House, udara dapat mengalir leluasa dan cahaya matahari menembus hingga ke dalam bangunan. Foto: inhabitat.com

Keunikan lainnya adalah rumah ini menjadi tempat tumbuhnya berbagai macam tanaman. Rancangan dan penempatan jendela rumah memungkinkan penghuni rumahnya mengatur tingkat cahaya yang masuk ke dalam rumah. Berbagai macam perabot di bagian rumah didapat dari hasil koleksi, donasi, dan pencarian sendiri. Vegan House tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul tapi juga menjadi hunian yang hijau dan menggunakan bahan material lokal.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/fasad-jendela-warna-warni-di-vegan-house/feed/ 0
Happy Meadow Courtyard House, Rumah Pasif Minim Energi https://www.greeners.co/ide-inovasi/happy-meadow-courtyard-house-rumah-pasif-minim-energi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=happy-meadow-courtyard-house-rumah-pasif-minim-energi https://www.greeners.co/ide-inovasi/happy-meadow-courtyard-house-rumah-pasif-minim-energi/#respond Fri, 10 Jul 2015 06:20:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10248 Jika melihat ada sebuah rumah di sekitar Anda yang pengggunaan energinya sangat ketat sekaligus efisien, maka rumah tersebut dapat dianggap sebagai Rumah Pasif. Rumah Pasif adalah sebutan untuk rumah dengan penggunaan […]]]>

Jika melihat ada sebuah rumah di sekitar Anda yang pengggunaan energinya sangat ketat sekaligus efisien, maka rumah tersebut dapat dianggap sebagai Rumah Pasif. Rumah Pasif adalah sebutan untuk rumah dengan penggunaan energi yang sangat rendah dan hanya memerlukan sedikit energi untuk sistem pemanas dan pendingin ruangan.

Happy Meadows Courtyard adalah sebuah rumah pasif yang modern dan tidak terhubung dengan jaringan pemasok energi dari luar. Bangunan dengan luas 213 meter persegi ini adalah bangunan satu lantai yang terletak di bukit, dengan pemandangan lembah terbuka yang masih alami di bawahnya. Arsitek Arielle Condoret Schechter dari Chapel Hill adalah perancang bangunan tersebut.

Rumah pasif Happy Meadows Courtyard rancangan Arielle Condoret Schechter. Foto: inhabitat.com

Rumah pasif Happy Meadows Courtyard rancangan Arielle Condoret Schechter. Foto: inhabitat.com

Rumah yang sebagian besar bangunannya tersusun dari beton ini dilengkapi dengan panel surya, pencahayaan alami yang maksimal, dan penangkap air hujan. Selain itu, penggunaan kembali bahan sisa pembangunan, konstruksinya dari bahan-bahan pre-fabrikasi serta penempatan bangunan terhadap lingkungan sekitarnya, menempatkan bangunan ini secara maksimal dan keberlanjutan.

Pemilihan lokasi dan pembangunan Happy Meadows Courtyard dilakukan secara hati-hati untuk memaksimalkan paparan terhadap energi matahari di musim dingin. Mereka membangun panel surya sebesar 5400watt yang mampu menyediakan 98 persen dari total energi yang diperlukan. Sedikit peningkatan di panel surya tersebut membuat rumah ini dapat menyumbang energi berlebihnya untuk bangunan lain. Karena pencahayaan alami sangat diperhitungkan, semua lampu LED yang terpasang di rumah ini sangat jarang dipakai di siang hari.

Rumah pasif Happy Meadows Courtyard rancangan Arielle Condoret Schechter. Foto: inhabitat.com

Rumah pasif Happy Meadows Courtyard rancangan Arielle Condoret Schechter. Foto: inhabitat.com

Dinding yang tebal dengan insulasi yang baik serta lantai beton yang digosok sampai mengkilap, membuat interior rumah ini tetap dingin bahkan di saat musim panas. Air hujan yang jatuh di atap, 100 persen tertampung di bawah tanah sementara sebagian kecil dialirkan ke kolam kecil di dalam rumah.

Arsiteknya berusaha mengurangi material yang dibuang saat konstruksi dan menggunakan material bekas sebisa mungkin. Karena rumah ini dibuat secara pre-fabrikasi, panel-panel dindingnya dibuat di tempat lain oleh sebuah perusahaan lokal, sehingga sampah materialnya tidaklah banyak. Di bagian interior, material bekas banyak digunakan seperti yang bisa dilihat di rak-rak dan meja kerja.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/happy-meadow-courtyard-house-rumah-pasif-minim-energi/feed/ 0
Green Building Lebih Dari Sekadar Bangunan Hemat Energi https://www.greeners.co/berita/green-building-lebih-dari-sekadar-bangunan-hemat-energi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=green-building-lebih-dari-sekadar-bangunan-hemat-energi https://www.greeners.co/berita/green-building-lebih-dari-sekadar-bangunan-hemat-energi/#respond Fri, 20 Mar 2015 04:58:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8254 Jakarta (Greeners) – Sejak tahun 2010, dunia termasuk Indonesia sudah mulai mengonsepkan pembangunan hijau atau Green Building yang hemat energi. Bangunan yang mampu mengukur tingkat energi dan mampu meminimalisir emisi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sejak tahun 2010, dunia termasuk Indonesia sudah mulai mengonsepkan pembangunan hijau atau Green Building yang hemat energi. Bangunan yang mampu mengukur tingkat energi dan mampu meminimalisir emisi yang dihasilkan sehingga ramah lingkungan.

Namun, ada sebuah tantangan baru yang akan dihadapi pada tahun 2020 nanti. Naning Adiwoso, Chair Person Green Building Council (GBC Indonesia), mengatakan bahwa konsep green building akan merujuk juga pada konsep healthy building. Ini artinya, bangunan bukan hanya hemat energi, namun juga produk bangunan, baik interior maupun eksterior, tidak lagi mengandung metan atau bahan-bahan beracun yang berbahaya bagi tubuh.

“Di sini ada banyak orang, khususnya yang kelas menengah, tidak tahu atau tidak peduli pada sekitarnya. Mereka tidak tahu kalau lem yang digunakan pada meja kerja, karpet yang ada di ruang meeting atau bahan-bahan bangunan lain itu banyak mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan,” jelasnya saat menjadi pembicara pada seminar “Material Berkelanjutan” di Jakarta, Kamis (19/03).

Noer Adi Warsojo, Asisten Deputi Standardisasi dan Teknologi Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menyatakan yang dimaksud dengan green building atau bangunan hemat energi adalah bangunan yang memenuhi setidaknya lima aspek kebutuhan.

“Yang jelas menggunakan material yang sifatnya berkelanjutan, efisiensi energi seperti penggunaan pendingin ruangan maupun listrik yang bijak. Lalu, hemat dalam penggunaan air, dan produk yang digunakan baik untuk kesehatan,” katanya.

Naning Adiwoso (berdiri memegang mic), Chair Person Green Building Council (GBC Indonesia) menyatakan bahwa konsep "green building" juga merujuk pada "healthy building". Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Naning Adiwoso (berdiri memegang mic), Chair Person Green Building Council (GBC Indonesia) menyatakan bahwa konsep “green building” juga merujuk pada “healthy building”. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Selain itu, Nur Maliki Arifiandi dari Global Forest and Trade Network (GFTN), WWF Indonesia mengatakan, untuk menciptakan konsep green building maupun healthy building tersebut dibutuhkan partisipasi industri untuk selalu menggunakan bahan produksi yang legal dan tersertivikasi.

GFTN sendiri, jelas Nur, telah menciptakan jaringan di lebih dari 360 perusahaan, komunitas, Lembaga Swadaya Masyarakat dan pengusaha di lebih dari 30 negara untuk menciptakan sebuah pasar baru bagi produk-produk hutan, seperti kayu, yang lebih bertanggung jawab pada hutan.

“Ada banyak penyedia kayu yang tidak tersertivikasi secara kredibel dan perdagangan kayu dan pulp secara ilegal masih sering terjadi. Untuk itu GFTN hadir untuk memfasilitasi dan berkoordinasi agar terjadi pengelolaan hutan yang lestari,” tutur Nur.

GFTN, tambahnya, percaya bahwa sebuah respon efektif untuk masalah sertifikasi adalah dengan mengubah pasar global menjadi kekuatan positif untuk menyelamatkan hutan-hutan dunia yang terancam gundul akibat pembalakan.

“Konsumen ingin dan butuh tahu darimana asal kayu yang mereka beli dan GFTN memastikan pendampingan untuk sertifikasi legalitas tersebut,” tandasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/green-building-lebih-dari-sekadar-bangunan-hemat-energi/feed/ 0
Solusi Kendaraan Nyaman Bagi Si Pecinta Alam https://www.greeners.co/ide-inovasi/solusi-kendaraan-nyaman-bagi-si-pecinta-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=solusi-kendaraan-nyaman-bagi-si-pecinta-alam https://www.greeners.co/ide-inovasi/solusi-kendaraan-nyaman-bagi-si-pecinta-alam/#respond Mon, 29 Sep 2014 05:39:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_technology&p=5967 Jakarta (Greeners) – Berkegiatan di alam terbuka memang sangat menyenangkan bila cuaca pun turut mendukung. Namun, jika hujan mulai turun dan tidak ada tempat berteduh tentunya akan membuat kegiatan yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Berkegiatan di alam terbuka memang sangat menyenangkan bila cuaca pun turut mendukung. Namun, jika hujan mulai turun dan tidak ada tempat berteduh tentunya akan membuat kegiatan yang semula menyenangkan menjadi menyebalkan.

PT Astra Daihatsu Motor menjawab keresahan tersebut. Sebuah kendaraan hasil modifikasi terbaru dari Minivan Daihatsu Grand Max yang mengadopsi desain dari Recreation Vehicle (RV) diciptakan sebagai jawaban bagi para pecinta jalan-jalan ditengah keadaan cuaca yang tak menentu.

Head of Development Project Pimp Research and Development Astra Daihatsu Motor, Satrio Budiutomo, menjelaskan bahwa secara garis besar tidak ada perubahan yang terlalu muluk di bagian eksterior maupun interior. Namun, modifikasi yang paling utama adalah mengubah pick-up belakang dan menambahkan satu unit caravan double decker (mobil kamar dua tingkat) yang ditempelkan di sasis belakang pick-up Gran Max dengan polesan cat hitam, perak, dan emas.

“Di Amerika dan negara-negara Eropa, kendaraan jenis ini digunakan untuk bermukim kaum Hippies dan Gypsy. Tapi buat di Indonesia, Gran Max Caravan ini mengincar para pehobi jalan-jalan,” ujar Satrio kepada Greeners, Jakarta, Kamis (25/09).

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Satrio mengumpamakan bahwa kendaraan ini sangat berguna bagi mereka yang senang bepergian jarak jauh. Terlebih lagi karena pasokan listrik yang digunakan dalam caravan tersebut berasal dari genset eksternal berkapasitas 2.300 watt.

“Jadi kalau tiba-tiba berada di cuaca yang ekstrim, pengguna caravan ini tidak perlu khawatir untuk tidur maupun kelaparan,” tambahnya.

Yang lebih menarik lagi, kendaraan ini menggunakan material yang ramah lingkungan. Menurut Satrio, kendaraan ini menggunakan bahan non logam yang disebut sandwich composite yang kokoh tapi ringan karena memadukan bahan Polyurethane (Piyu) dan Fiber.

Dengan bahan khusus tersebut, bobot Daihatsu Gran Max Caravan beserta isinya mencapai 600 kilogram. Jauh di bawah batas beban maksimal Gran Max Pick-up yang mencapai 1,5 ton. Karena itu, Daihatsu Gran Max Caravan masih mampu bergerak dengan mesin 1.500 cc.

Menurut Satrio, mobil ini sudah diuji pada rute Sentul-Cibinong, Jawa Barat dan perjalanannya diklaim lancar. “Dengan mesin standar, Gran Max Caravan bisa dibawa ke pegunungan seperti Puncak,” ujarnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/solusi-kendaraan-nyaman-bagi-si-pecinta-alam/feed/ 0