Gaya Hidup Zero Waste Dapat Dilakukan Semua Orang

Reading time: 2 menit
Dwi Sasetyanigtyas
Dwi Sasetyanigtyas penulis buku Sustaination, saat peluncuran buku pertamanya, di Jakarta Selatan, Sabtu, 29 Februari 2020. Foto: www.greeners.co/Ridho Pambudi

Dwi Sasetyaningtyas adalah perempuan yang menerapkan gaya hidup nihil sampah atau zero waste. Tyas, nama panggilannya, mencari solusi dan produk alternatif yang lebih ramah lingkungan. Awalnya, ia mempelajari dan mengaplikasikan praktik nihil sampah untuk dirinya sendiri. Ia pun terinspirasi untuk menuangkan pemikirannya agar orang lain dapat melakukan hal yang sama.

Penulis sekaligus influencer ini memutuskan untuk mengurangi jumlah sampah plastik dan sampah domestik lain di awal 2018. Tyas mengatakan ide untuk mengurangi jumlah sampah sudah ada sejak setahun sebelumnya. Namun, terkendala karena produk zero waste dinilai mahal dibanding produk konvensional.

Pertengahan tahun 2017, ibu satu anak ini mulai pindah ke lingkungan yang mengharuskan untuk memilah sampah menjadi tiga bagian, yaitu sampah organik, sampah anorganik seperti plastik, kaleng, karton, dan sampah lainnya. Pemisahan ini dilakukan untuk mempermudah proses recycle di lingkungan tempat tinggal. “Sekitar 10 juta per tahun hanya untuk (biaya) sampah dan kebersihan,” kata Tyas.

Latar belakang tersebut yang mendorongnya untuk mengedukasi diri sendiri. Saat berbelanja, misalnya, Tyas menghindari plastik pembungkus pada buah dan sayuran. Hasilnya ia merasa sangat senang dengan keputusannya.

Dalam menjalankan gaya hidup ini juga tidak terlepas dari berbagai kendala. Ia bercerita bahwa sulit mengakses informasi mengenai cara menjalankan gaya hidup berkelanjutan di Indonesia dan peduli terhadap lingkungan. Tyas pun mulai membuat blog, podcast, dan media sosial lain. Tahun ini, pada akhir Februari lalu, ia meluncurkan buku pertamanya yang berjudul Sustaination.

Buku tersebut menceritakan perjalanan seorang Dwi Sasetyaningtyas menjalankan kehidupan minim sampah. Di dalamnya juga berisi pengalamannya mengaplikasikan zero waste. Ia menuturkan banyak sekali kesalahan saat melakukan itu akibat kurangnya informasi. Dengan hadirnya buku Sustaination, ia berharap dapat menjadi sumber informasi sekaligus panduan untuk memudahkan masyarakat belajar mengenai gaya hidup minim sampah dan zero waste.

Buku Sustaination

Buku Sustaination karya Dwi Sasetyaningtyas. Foto: Instagram Dwi Sasetyaningtyas.

“Pertama kali aku bikin Sustaination itu konsisten Bahasa Indonesia. Karena di Indonesia sangat sedikit sekali informasi. Mungkin saja orang-orang ini terlihat tidak peduli terhadap lingkungan karena informasinya tidak tersedia dalam Bahasa Indonesia,” ujar Tyas saat peluncuran bukunya di Jakarta selatan, akhir Februari lalu.

Dengan gaya bahasa yang lugas dan mudah dimengerti, buku tersebut, kata dia dirancang sebagai petunjuk untuk masyarakat. Isi buku juga dilengkapi dengan ilustrasi yang menggambarkan bahwa masalah utama bukan hanya plastik dan sedotan. Namun, bagaimana mengurangi sampah dari rumah misalnya sampah dapur, mode, hingga sampah industri.

“Aku ingin mengajak orang belajar dengan cara yang menyenangkan. Enggak intimidating, enggak menggurui dan menakutkan,” ucapnya.

Menurutnya, bila ditelisik lebih dalam, timbulan sampah terbentuk akibat pola hidup masyarakat yang belum sadar akan kebutuhan kehidupanya. Tyas mengatakan, masyarakat harus lebih sadar bahwa suatu keputusan dan tindakan yang diambil sangat berdampak bagi lingkungan.

“Seharusnya sebelum membeli apakah memang  butuh. Karena kalau engga butuh dan dibeli sangat membuang sumber daya. Hidup minim sampah itu titiknya mulai di refuse dan sadar dalam bertindak tentang apa saja yang kita pilih,” kata Tyas.

Ia menyarankan untuk membaca bukunya berulang kali. Pembaca juga dapat memilih topik berbeda di buku tanpa harus membacanya dari awal hingga akhir. Karena buku Sustaination berupa buku catatan untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan, maka pembaca yang bingung dapat melihatnya beberapa kali. “Di sini banyak sekali informasi mengenai hidup zero waste,” ucapnya.

Penulis: Ridho Pambudi

Top
You cannot copy content of this page