perikanan indonesia - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/perikanan-indonesia/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 19:03:49 +0000 id hourly 1 Tantangan Membumikan Pangan Laut Indonesia https://www.greeners.co/berita/tantangan-membumikan-pangan-laut-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tantangan-membumikan-pangan-laut-indonesia https://www.greeners.co/berita/tantangan-membumikan-pangan-laut-indonesia/#respond Fri, 11 Oct 2019 03:08:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=24447 Salah satu hambatan meningkatkan konsumsi ikan adalah membumikan pangan laut dan masyarakat harus mulai menyadari besarnya manfaat ikan. ]]>

Jakarta (Greeners) – Konsumsi pangan laut utamanya ikan dalam negeri harus terus ditingkatkan. Banyak hambatan dialami dalam upaya peningkatan tersebut. Padahal pangan laut memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia.

Topik diatas dibahas pada diskusi panel bertajuk “Sumber Pangan Laut Indonesia” dalam rangkaian SDGs Annual Confrence 2019, Selasa (8/10/2019). Diskusi dihadiri perwakilan Bappenas, akademisi, dan praktisi terkait.

Sumber pangan laut Indonesia memiliki potensi besar mengingat Indonesia memiliki luas wilayah laut yang luas. Sayangnya terdapat hambatan bagi masyarakat dalam mengonsumsi ikan, mulai dari hambatan distribusi hingga bagaimana membumikan budaya memakan ikan di Indonesia.

BACA JUGA : IYMDS 2019, 50 Pemuda Dari Seluruh Indonesia Siapkan Aksi Nyata Untuk Laut Indonesia

“Banyak hambatan dari konsumsi ikan itu. Mulai hambatan budaya sampai persoalan pasokan dan harga. Nah, harga kan kelihatan sekali tadi bahwa harga ikan hanya, ya hanya beberapa jenis ikan saja yang murah sedangkan sebagian besar jenis ikan kan relatif mahal tapi kita semua paham bahwa ikan yang kandungan omega tiganya tinggi itu baik untuk kesehatan “ Ungkap Drajad Martianto, Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB).

Data produksi ikan nasional menunjukan tren peningkatan tiap tahunnya. Tahun ini saja sudah 14,84 juta ton ikan diproduksi, angka tersebut tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sayangnya produksi tersebut belum menyebar secara merata di Indonesia. Drajad berharap pemerintah bisa segera meningkatkan akses fisik distribusi ikan dari wilayah Timur Indonesia.

“Artinya, produk kita terutama kalau bicara ikan laut kan di derah Timur, sementara konsumennya banyak yang di daerah Barat berarti sistem logistik ikan, rantai pasok itu harus kita perbaiki. Yang kedua adalah bagaimana  menjaga stabilitas harga ikan atau kalau bisa menurunkan harga ikan melalui supplainya dengan melakukan budidaya ikan laut” Ujar pria yang ditemui Greeners.co selepas acara diskusi.

Tantangan Membumikan Pangan Laut

Suasana diskusi sumber pangan laut dalam SDGs Annual Confrence 2019, Selasa (8/10/2019), di Hotel Firmont Jakarta. Foto : www.greeners.co/M. Fariansyah

Selain faktor fisik, hambatan meningkatkan konsumsi ikan adalah bagaimana membumikan pangan laut. Masyarakat harus mulai menyadari besarnya manfaat ikan dan menciptakan budaya untuk konsumsi ikan secara rutin. Menurut  Drajat, anak harus dikenalkan dengan sumber pangan laut sedari  dalam kandungan.

“Bagaimana mengenalkan konsumsi ikan pada mereka maka kampanye ikan sejak dini, bahkan sejak mulai dari ibu hamil supaya ibu hamil terbiasa secara psikologis dan ketika melahirkan pun anaknya sudah terbiasa untuk mengonsumsi ikan” imbuh Drajad.

Selain itu, cara memasak ikan juga harus diperhatikan oleh masyarakat. Akedemisi Gizi Universitas Hasanuddin Makassar Abdul Razak Thaha menyarankan masyarakat untuk  memilih cara memasak ikan dengan diasap atau dibakar untuk mendapatkan hasil yang baik. Dalam presentasinya Razak juga menganjurkan masyarakat untuk mengonsumsi pangan laut satu atau dua kali per minggu.

BACA JUGA : LIPI: Potensi Kekayaan Laut Indonesia Senilai Rp1.772 Triliun

Membumikan konsumsi pangan laut juga dapat dilakukan dengan membaca arah pasar dan gaya hidup masyarakat  Kebiasaan masyarakat untuk mengonsumsi makanan cepat saji bisa menjadi celah untuk membumikan pangan laut. Caranya dengan membuat pangan laut bisa bersaing dengan olahan makanan hewani yang marak dikonsumsi masyarakat seperti chicken nugget.

“Dulu kita itu tidak pernah mengenalkan fish and chip sekarang ada fish and chip, orang merasa enak makan itu kenapa, karena dia udah biasa makan chicken nugget walau ini cuma ikan. Itu salah satu contoh bagaimana teknologi dimanfaatkan betul supaya orang mengonsumsi ikan. Meskipun mungkin itu bentuknya sudah tidak ikan lagi tapi olahan-olahan” pungkas Drajat.

Membumikan kebiasaan konsumsi ikan laut merupakan tantangan yang dihadapi semua pihak. Jangan sampai pangan laut yang memiliki  banyak manfaat malah tersisihkan dari sumber pangan lainnya.

Penulis : Mohammad Fariansyah

 

]]>
https://www.greeners.co/berita/tantangan-membumikan-pangan-laut-indonesia/feed/ 0
Amerika Serikat Importir Terbesar Produk Perikanan Indonesia https://www.greeners.co/berita/amerika-serikat-importir-terbesar-produk-perikanan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=amerika-serikat-importir-terbesar-produk-perikanan https://www.greeners.co/berita/amerika-serikat-importir-terbesar-produk-perikanan/#respond Mon, 07 Oct 2019 01:54:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=24406 BKIPM selaku Otoritas Kompeten jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan mencatat kenaikan secara konsisten terhadap ekspor hasil perikanan Indonesia ke AS.]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BKIPM) selaku Otoritas Kompeten dalam jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan mencatat terjadi kenaikan secara konsisten terhadap ekspor hasil perikanan Indonesia ke Amerika Serikat.

Pada 2015 volume ekspor hasil perikanan Indonesia ke AS sebanyak 145 juta kg dengan nilai USD 1,3 milyar, dilanjutkan berturut – turut pada tahun 2016 dan 2017, dengan volume masing-masing 160 juta kg dan 180 juta kg, serta nilai masing-masing sebesar (USD 1,4 milyar dan USD 1,7 milyar). Selanjutnya, pada tahun 2018 meningkat menjadi 263 juta kg dengan nilai USD 1,8 milyar. Hal ini memperlihatkan bahwa peluang pasar ekspor komoditi perikanan di AS masih terbuka lebar.

Jason Seuc, Wakil Direktur Kantor Lingkungan Hidup USAID Indonesia mengatakan Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat di sektor perikanan dan kelautan, bagian dari sejarah panjang hubungan bilateral kedua negara selama 70 tahun. Negara Amerika Serikat merupakan negara tujuan utama ekspor produk-produk perikanan Indonesia dengan nilai perdagangan kurang lebih sebesar 1,8 milyar dolar atau 25,5 trilyun rupiah per tahun. 

BACA JUGA : IYMDS 2019, 50 Pemuda Dari Seluruh Indonesia Siapkan Aksi Nyata Untuk Laut Indonesia

“Kedua negara bekerja sama untuk mengatasi penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan menyalahi aturan (IUU Fishing) dan meningkatkan praktik-praktik penangkapan ikan yang ramah lingkungan serta berkelanjutan,” ujar Jason pada acara Indonesia Feed The World di @america, Pasific Place, Jumat (04/10/2019) lalu.

Menurut data BKIPM, Amerika Serikat (AS) merupakan importir terbesar produk perikanan Indonesia (31%), dengan komoditi utama udang, yaitu sebesar 66.06% dari total ekspor udang Indonesia dengan nilai USD 1,74 milyar, diikuti oleh tuna (sebesar 30,58% dari total ekspor dengan nilai USD 619,2 juta) dan kepiting (sebesar 75.11% dari total ekspor kepiting Indonesia dengan nilai USD 472,96 juta).

Amerika Serikat Importir Terbesar Produk Perikanan Indonesia

Acara Indonesia Feed The World di @america, Pasific Place, Jumat (04/10/2019).

Luasnya pasar komoditi perikanan di AS, memiliki tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk diperhitungkan secara cermat, baik terhadap pemenuhan jaminan mutu dan keamanan pangan, maupun diversifikasi produk agar penetrasi pasar dapat dilakukan secara signifikan.

Oleh karenanya, BKIPM menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan atau SJMKHP. Implementasi SJMKHP melibatkan aspek operasional yang dari hulu ke hilir yang diturunkan dari ketentuan – ketentuan/standar teknis internasional (CODEX, SPS Agreement dst.)

BACA JUGA : Aktivitas Kapal Ikan Asing Ilegal Menurun Drastis

“Melalui SJMKHP, Indonesia telah mendapat pengakuan (harmonisasi) dari negara – negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, Tiongkok, dan Rusia. Berbagai jenis komoditas perikanan diekspor ke seluruh dunia, dan setidaknya 5 (lima) diantaranya menjadi andalan Indonesia yang berpengaruh terhadap kinerja ekspor perikanan, yaitu udang, tuna, kepiting, cumi dan rumput laut,” ujar Kepala Pusat Pengendalian Mutu, Widodo Sumiyanto.

Widodo juga mengatakan bahwa tingginya komoditi hasil perikanan Indonesia terjadi sejak diterapkannya Ilegal Unreported Unregulated Fishing (IUUF) oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

“IUUF merupakan kepedulian Indonesia ke dunia perikanan, dan digerakan Ibu Menteri. Tentu saja IUUF sangat berdampak kepada kapal pencurian sangat minim, sehingga nelayan dalam 1-2 hari bernelayan langsung dapet ikan. Tuna yang tadinya didapatkan dari 15 kilo, saat ini bisa sampai 35 kilo,” pungkas Widodo.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/amerika-serikat-importir-terbesar-produk-perikanan/feed/ 0
Ikan Napoleon, Si Bibir Tebal Yang Tengah Terancam https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-napoleon-si-bibir-tebal-yang-tengah-terancam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ikan-napoleon-si-bibir-tebal-yang-tengah-terancam https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-napoleon-si-bibir-tebal-yang-tengah-terancam/#respond Wed, 26 Jun 2019 00:00:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=23616 Sekilas mirip dengan ikan hias Louhan, ikan Napoleon merupakan ikan karang berukuran besar yang termasuk anggota dari famili Labridae. Napoleon (Cheilinus undulatus) telah menjadi salah satu potensi sumber daya ikan […]]]>

Sekilas mirip dengan ikan hias Louhan, ikan Napoleon merupakan ikan karang berukuran besar yang termasuk anggota dari famili Labridae. Napoleon (Cheilinus undulatus) telah menjadi salah satu potensi sumber daya ikan yang bernilai ekonomis tinggi di Indonesia.

Bersumber dari “Pedoman Survei Populasi Ikan Napoleon” (2012) yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ikan Napoleon adalah salah satu jenis ikan yang mempunyai bentuk unik dan hidup di perairan tropis.

Ikan bertubuh unik ini pertama kali didiskripsikan oleh Ruppell, pada tahun 1835. Dibanyak negara ikan ini diberi nama Napoleon Wrasse.

Kepalanya yang besar menonjol kedepan, menginspirasi nelayan-nelayan di New Caledonia untuk memberikan nama ikan ini Napoleon, diambil dari nama seorang Panglima Besar Perancis yang juga memiliki bentuk kepala (jidat) menonjol ke depan.

Tubuhnya yang besar bisa mencapai 200 kg dan panjang kira-kira 1,5 meter, membuat ikan karang ini juga disebut sebagai Giant Wrasse atau Maori Wrasse.

Masyarakat Philipina menamai ikan ini dengan nama Mameng, sedangkan di China menamainya dengan nama So Mei.

Untuk di Indonesia sendiri penamaan ikan Napoleon di berbagai daerah beragam, seperti di Kepulauan Derawan ikan ini dikenal dengan nama local Bele-bele. Di Kepulauan Karimun Jawa ikan ini dinamai ikan Lemak, sedangkan di Nunukan dan Tawau ikan ini dinamai ikan Licin.

Berdasarkan sumber kajian ilimah, keistimewaan dari ikan ini adalah memiliki umur yang panjang. Mereka dapat hidup mencapai lebih dari 30 tahun.

Foto : wikimedia commons

Adapun ikan ini tergolong ikan yang pemalu. Mereka sangat berhati-hati dan menaruh rasa curiga terhadap semua mahluk yang ada disekitarnya, terutama kehadiran manusia.

Secara morfologi, ikan Napoleon dewasa dapat dikenali dengan bibirnya yang tebal dan tonjolan yang berada di depan kepalanya tepat di atas matanya yang membesar seiring dengan bertambahnya usia ikan tersebut.

Ikan ini juga memiliki sepasang gigi yang tajam yang keluar dari mulutnya. Dari segi keunikan warnanya, ikan Napoleon dewasa memiliki warna kehijau-hijauan (hijau botol). Sedangkan ikan yang sudah berusia tua dan besar umumnya memiliki wama biru kehijau-hijauan.

Ikan Napoleon dapat hidup di perairan dengan kondisi karang yang cukup baik, dengan tutupan karang hidup berkisar antara 50 sampai 70 % dan kecerahan (visibilitas) lebih kurang 15 hingga 20 meter.

Ikan ini biasa hidup pada lereng-lereng terumbu, dimana rataan dibawahnya banyak dijumpai gorgonian dari kelompok akar bahar (Rumpella sp.) dan cambuk laut (Juncella sp.). Benih-benih ikan ini hidup di paparan terumbu yang dipenuhi oleh karang keras (hardcoral) dan karang lunak (soft coral), serta tumbuhan laut lainnya seperti algae (macroalgae) dan lamun (seagrass).

Sayangnya, populasi ikan Napoleon rentan mengalami kepunahan. Hal ini disebabkan oleh jumlah ikan tersebut mengalami penurunan drastis di alam, sehingga ia pun dimasukkan ke dalam daftar CITES appendix II pada tahun 2004.

Faktor-faktor yang membuat ikan Napoleon terancam antara lain disebabkan oleh tingginya harga ikan Napoleon di pasar internasional yang menyebabkan tingginya tekanan eksploitasi terhadap spesies tersebut. Serta Penangkapan ikan ini umumnya menggunakan racun sianida dan merusak ekosistem terumbu karang.

Penulis: Sarah R. Megumi

 

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-napoleon-si-bibir-tebal-yang-tengah-terancam/feed/ 0