LIPI: Potensi Kekayaan Laut Indonesia Senilai Rp1.772 Triliun

Reading time: 2 menit
kekayaan laut
Ilustrasi. Foto: wikimedia commons

Jakarta (Greeners) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan bahwa potensi kekayaan laut di Indonesia jika dikonversikan dalam rupiah mencapai Rp1.772 triliun. Potensi itu didapatkan dari luas laut Indonesia sebesar 6,3 juta kilometer persegi dengan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) senilai 2,7 juta kilometer persegi dengan garis panjang pantai mencapai 99 ribu kilometer dan potensi massa air sejumlah 9 miliar ton air.

Dalam diskusi Hari Bumi “Riset untuk Optimalisasi Potensi Hayati dan Ekonomi Laut Indonesia”, peneliti pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Puji Rahmad mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki ekosistem laut yang sangat luar biasa. Pertama, dari sumber daya air yang menghasilkan fungsi secara langsung dan tidak langsung. Kedua, sumber daya ikan mencapai 12,5 juta ton. Ketiga, terumbu karang 25 ribu kilometer persegi. Keempat, mangrove 32,4 ribu kilometer persegi. Kelima, padang lamun seluas 2,9 ribu kilometer persegi, dan biota lain yang sangat variatif lainnya.

Puji menjelaskan bahwa fungsi dari sumber daya air laut secara tidak langsung memiliki arti bahwa laut sebagai penyerap karbon, sumber pangan alternatif dan obat, serta tambang dan bioprospeksi kelautan. Sementara air laut secara langsung memiliki dan menghasilkan sebuah nilai. Diantaranya, Indonesia memiliki arus arlindo yang menjadikannya kaya akan keanekaragaman hayati (kehati), letak yang stategis sebagai penghubung Samudera Pasifik dan Samudera Hindia menjadikan laut Indonesia lalu lintas perjalanan internasional.

“Indonesia juga memiliki 8.500 jenis spesies ikan, 7.200 spesies di antaranya dari laut. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, di tahun 2018 ikan di perairan Indonesia mencapai 13,5 juta ton. Ikan-ikan ini pun bila dinilai potensinya mencapai Rp312 triliun,” ujar Puji dalam diskusi yang berlangsung di Kapal Riset Baruna Jaya VIII di Pelabuhan Muara Baru, Jakarta, Senin (22/04/2019).

BACA JUGA: Memperingati Hari Bumi, LIPI Optimalkan Riset Ekosistem Laut 

Lebih lanjut Puji mengatakan bahwa LIPI melakukan penghitungan perkiraan kasar potensi laut Indonesia dengan menggunakan metodologi emergy. Metodologi ini meliputi, potensi perikanan sebesar Rp313 triliun, terumbu karang sebesar Rp45 triliun, mangrove Rp21 triliun, lamun Rp4 triliun, potensi di wilayah pesisir sebesar Rp560 triliun, potensi bioteknologi sebesar Rp400 triliun, potensi wisata bahari sebesar Rp20 triliun, potensi kekayaan alam dari minyak bumi sebesar Rp210 triliun dan dari transportasi laut senilai Rp200 triliun.

Maka jika ditotal nilai potensi laut Indonesia sejumlah Rp1.772 triliun. Jumlah tersebut pun bisa dikatakan setara dengan pendapatan APBN Indonesia di tahun 2018.

“Perhitungan kasar tersebut saya lakukan dengan metodology emergy, yakni permodelan energi yang tersedia dari satu jenis yang sebelumnya digunakan secara langsung dan tidak langsung untuk membuat layanan atau produk yang dinilai secara menyeluruh. Artinya suatu kehati dapat dinilai pemanfaatannya secara menyeluruh dari sebelum digunakan sampai digunakan dan dampak apa saja dari penggunaan kehati tersebut tertera jelas dalam hasil nilai metodologi emergy,” jelas Puji.

BACA JUGA: LIPI: Faktor Alam dan Antropogenik Menyebabkan Kondisi Terumbu Karang Jelek 

Puji mengatakan bahwa metodologi ini bisa menunjukan nilai, mensimulasikan yang akan terjadi di masa mendatang, digunakan sebagai pengaturan kebijakan, dan penetapan kebijakan untuk menjaga kelestarian hidup. Namun, sayangnya metodologi ini masih dikatakan baru sehingga lembaga pemerintah Indonesia yang menerapkan metodologi ini hanya LIPI saja.

“Metodologi ini penting sekali untuk mengevaluasi kekayaan laut kita agar dapat meningkatkan kepedulian masyarakat dan menjadi dasar penggunaannya secara optimal. Metodologi emergy ini pun diciptakan oleh Odum (1996) dan baru mulai diterapkan di luar negeri seperti Amerika, Jepang, China, dan Korea tahun 2005 belakang. Jadi kalau ada masalah pencemaran tumpahan minyak di Montara itu bisa dihitung kerugian ekologinya” katanya.

Puji menjelaskan cara perhitungan metodologi emergy ialah menghitung nilai data gelombang, arus, fotosintesis yang dihitung menjadi satu dari biota laut selama berapa tahun terbentuk, lalu dibagi dengan luasan per meter persegi atau per volume.

Penulis: Dewi Purningsih

Top
You cannot copy content of this page