segitiga terumbu karang - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/segitiga-terumbu-karang/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 22 Feb 2022 04:54:36 +0000 id hourly 1 Replantasi Pulihkan Kerusakan Terumbu Karang di Raja Ampat https://www.greeners.co/aksi/replantasi-pulihkan-kerusakan-terumbu-karang-di-raja-ampat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=replantasi-pulihkan-kerusakan-terumbu-karang-di-raja-ampat https://www.greeners.co/aksi/replantasi-pulihkan-kerusakan-terumbu-karang-di-raja-ampat/#respond Tue, 22 Feb 2022 04:54:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=35367 Papua (Greeners) – Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada di pusat segitiga karang dunia (coral triangle). Kawasan ini juga merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia. Keindahan bawah […]]]>

Papua (Greeners) – Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada di pusat segitiga karang dunia (coral triangle). Kawasan ini juga merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia.

Keindahan bawah laut di Raja Ampat menjadikan kawasan ini sebagai salah satu kawasan wisata andalan Indonesia bagi dunia. Kerusakan terumbu karang harus cepat disudahi dengan replantasi. Namun di balik itu, kerusakan terumbu karang terus mengancam sehingga perlu antisipasi agar kerusakan tidak meluas.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama ICCTF, PKSPL IPB, Pemprov Papua Barat dan Pemkab Raja Ampat melakukan studi di tiga lokasi. Kawasan itu yakni Suaka Alam dan Perairan (SAP) Kepulauan Raja Ampat, Taman Wisata Perairan (TWP) Selat Dampier dan SAP Kepulauan Waigeo.

Data pengamatan di seluruh lokasi studi perairan Raja Ampat, menunjukan hasil total jenis terumbu karang terbanyak berada di perairan SAP Kepulauan Raja Ampat yaitu sebanyak 25 genus karang dan jenis ikan terumbu sebanyak 114 jenis.

Jenis terumbu karang untuk perairan TWP Selat Dampier tercatat sebanyak 20 genus karang, dengan jenis ikan terumbu karang yang dijumpai sebanyak 95 jenis. Sedangkan untuk perairan SAP Kepulauan Waigeo sebelah Barat memiliki jumlah genus yang terendah yaitu sebanyak 18 genus karang dan 94 jenis ikan terumbu.

Direktur Program Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Ferry Kurniawan menyebut, beberapa aktivitas manusia berpotensi menjadi penyebab kerusakan terumbu karang. Aktivitas tersebut yakni penangkapan ikan menggunakan bahan peledak atau dengan kompresor sampai dengan penggunaan jangkar di area terumbu karang.

“Terumbu karang Raja Ampat juga banyak mengalami kerusakan akibat penangkapan udang karang (lobster). Penangkapannya dengan mencongkel karang sehingga mengakibatkan kerusakan parah,” kata Ferry.

Sedangkan ancaman terhadap ekosistem terumbu karang karena kondisi alam adalah adanya pemutihan karang akibat dari meningkatnya suhu perairan.

Raja Ampat Pusat Terumbu Karang Dunia

Pulau Yensawai sebagai bagian Kabupaten Raja Ampat memiliki posisi penting dan strategis sebagai pusat terumbu karang dunia (coral center) dari segitiga karang dunia (coral triangle center).

Keberadaan ekosistem laut di Yensawai tidak sekedar menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan dunia, namun juga perlu menjadi modal bagi tercapainya kesejahteran masyarakat. Jika sumber daya rusak maka dampaknya akan terasakan langsung oleh masyarakat Yensawai.

Kepala Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan (PKSPL) Institut Pertanian Bogor (IPB) Yonvitner mengatakan, jika tidak ada intervensi atau perbaikan, maka dalam 10 tahun ke depan terumbu karang di Raja Ampat akan rusak parah dan bahkan hilang.

“Untuk itu, Bappenas bersama ICCTF, kemudian PKSPL IPB, Pemda Raja Ampat dan Pemprov Papua Barat melakukan kegiatan replantasi terumbu karang. Banyak kegiatan replantasi yang sudah pihak lain lakukan, tetapi kurang berhasil,” kata Yonvitner.

Yonvitner menjelaskan, replantasi yang diaplikasikan di kepulauan Raja Ampat menggunakan metode baru berupa rak PVC yang dengan berbagai inovasi.

“Metode Rak PVC berhasil dengan baik. Tingkat keberhasilannya mencapai sekitar 90 %. Replantasi terumbu karang ini sangat bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat,” imbuhnya.

Terkait replantasi, Ferry Kurniawan yang juga Koordinator tim kampanye lingkungan dan replantasi terumbu karang di Pulau Yensawai menjelaskan, prosesnya tim mulai sejak Februari 2021 lalu. 

Bibit-bibit terumbu karang yang tim tanam ini berada di pesisir pantai Kampung Yensawai di Distrik Batanta Utara, Kabupaten Raja Ampat dengan media paralon. Wilayah ini juga menjadi wilayah percontohan untuk konservasi terumbu karang di Raja Ampat.

“Jadi pertumbuhan semua terumbu karang itu hanya 5 centimeter dalam setahun. Bayangkan kalau yang rusak tingginya 20 centimeter, butuh berapa tahun terumbu karang itu tumbuh? Ini mengapa betapa pentingnya menjaga terumbu karang,” imbuhnya.

Penulis : Sol

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/replantasi-pulihkan-kerusakan-terumbu-karang-di-raja-ampat/feed/ 0
Hiu Berjalan, Hiu Endemik Halmahera penghuni Segitiga Terumbu Karang https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-berjalan-halmahera/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hiu-berjalan-halmahera https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-berjalan-halmahera/#respond Mon, 08 Mar 2021 03:00:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=31918 Hiu berjalan halmahera (Hemiscyllium halmahera) merupakan spesies endemik yang terdapat di perairan Maluku Utara. Fauna ini memiliki nama lokal yang beragam, yakni gurango tokek, gurango bodo, gurango buta, gurango loreng, gurango nyare, dan gurango haga. Mata internasional mengenali spesies ini sebagai bamboo shark atau hiu bambu. Mereka termasuk ke dalam famili Hemiscylliidae jenis ikan karang]]>

Sobat Greeners, pernahkah Anda menonton film Shark Tale? Di film itu menggambarkan berbagai macam hiu, namun tidak satu pun dari mereka yang berjalan. Tahukah Anda, di Tanah Air, tepatnya di Halmahera ada fauna unik Hiu Berjalan, lho! Simak ulasannya di bawah ini, ya.

Indonesia sebagai wilayah segitiga terumbu karang dunia memiliki keanekaragaman jenis terumbu karang dan ikan karang yang tinggi.

Jamaknya keanekaragaman habitat ini serta merta memberikan pengaruh terhadap tingginya jumlah spesies yang hidup di daerah terumbu karang. Salah satunya hiu.

Seperti yang kita ketahui, hiu merupakan hewan predator yang hidup di sekitar terumbu karang dan bergerak disekitar dasar perairan.  Hewan predator ini pun berada pada tingkat atas rantai makanan.

Hiu berjalan halmahera (Hemiscyllium halmahera) merupakan spesies endemik yang terdapat di perairan Maluku Utara.

Fauna ini memiliki nama lokal yang beragam, yakni gurango tokek, gurango bodo, gurango buta, gurango loreng, gurango nyare, dan gurango haga.

Mata internasional mengenali spesies ini sebagai bamboo shark atau hiu bambu. Mereka termasuk ke dalam famili Hemiscylliidae jenis ikan karang (Allen et al. 2013).

hiu berjalan halmahera

Mata internasional mengenali spesies ini sebagai bamboo shark atau hiu bambu. Foto: G. R. Allen.

Baca juga: Pohon Senggani, Flora Liar yang Bermanfaat bagi Kesehatan

Daerah Persebaran

Jenis hiu ini ditemukan kali pertama oleh Gerald R. Allen, tahun 2013 pada dua titik di perairan Halmahera yakni Ternate dan Bacan.

Perairan Maluku Utara yang menjadi tempat tinggal fauna ini, secara ekologi termasuk dalam wilayah segitiga terumbu karang dunia.

Secara umum habitat spesies ini di daerah terumbu karang, lamun, mangrove, dan substrat pasir dengan sedikit tumbuhan air di perairan dangkal.

Hanya terdapat dua genus dalam famili ini yaitu Hemiscylllium dan Chiloscyllium. Persebaran populasi dari hiu berjalan secara umum dapat kita itemukan di Australia hingga Papua Nugini.

Namun, terdapat satu spesies yang hanya hidup di Indonesia tepatnya di Halmahera, kawasan yang terletak 130 km dari Barat Raja Ampat.

Persebaran lokal hiu berjalan biasanya tidak jauh dari pulau utama dan areanya biasanya dangkal tidak lebih dari 50-100 m.

Secara umum habitat spesies ini di daerah terumbu karang, lamun, mangrove, dan substrat pasir dengan sedikit tumbuhan air di perairan dangkal. Foto: T. Mulder.

Ciri-ciri dan Morfologi

Sumber-sumber kajian menjelaskan bahwa hiu berjalan merupakan hewan nokturnal atau beraktivitas hidup pada malam hari.

Kebiasaan unik dari hiu ini adalah “berjalan” pada saat mencari mangsa yang berupa ikan kecil, invertebrata bentik, dan udang-udangan. 

Morfologi hiu berjalan pada genus Hemiscylllium yaitu mempunyai tubuh yang kecil biasanya panjang total tubuhnya kurang dari 85 cm dan rata-rata panjang totalnya adalah 70 cm.

Dia memiliki corak yang berbeda-beda pada seluruh bagian tubuhnya, mulut transversal kecil yang terletak di bawah mata, memiliki dua sirip dorsal dengan ukuran yang sama, dan ekor ramping yang panjang (Allen et al. 2016, dalam Penelitian Arini Silma Permata Putri (2019), Fakultas Perikanan dan Kelautan, IPB).

Umumnya hiu unik ini tidak bisa berenang melewati perairan yang dalam, walaupun jaraknya hanya beberapa kilometer.

Kemampuan renang yang buruk dan proses reproduksi hiu berjalan yang berada di daerah bentik membuat hiu ini memiliki distribusi yang terbatas.

Adanya keberadaan hiu berjalan endemik Halmahera ini menambah kekayaan keanekaraga  man hayati laut Indonesia.

Taksonomi Hiu Berjalan Halmahera

taksonomi hiu berjalan

Referensi

Gerald R. Allen, dkk., International Journal of Ichthyology

Nebuchadnezzar Akbar, dkk., Jurnal Iktiologi Indonesia

Arini Selma Permata Putri, Institut Pertanian Bogor

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-berjalan-halmahera/feed/ 0
Peduli Terumbu Karang Bersama Komunitas Terangi 48 https://www.greeners.co/sosok-komunitas/peduli-terumbu-karang-bersama-komunitas-terangi-48/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peduli-terumbu-karang-bersama-komunitas-terangi-48 https://www.greeners.co/sosok-komunitas/peduli-terumbu-karang-bersama-komunitas-terangi-48/#respond Fri, 11 Dec 2015 13:30:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=12202 Komunitas Terangi 48 dibentuk untuk mewadahi anak-anak muda yang peduli akan permasalahan terumbu karang di Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan negara maritim yang menyimpan keanekaragaman hayati laut yang sangat besar. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang termasuk dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang (coral triangle), dimana lebih dari 2000 jenis ikan karang dan 600 spesies karang hidup ada di wilayah ini. Namun, kekayaan alam tersebut diperkirakan mengalami kerusakan yang cukup cepat akibat berbagai faktor, salah satunya adalah faktor manusia.

Prihatin dengan permasalahan ini, komunitas Terumbu Karang Indonesia (Terangi) 48 terbentuk. Syifa Fauzyah (20), salah satu “senior” di komunitas Terangi 48, sempat ditemui Greeners di markas mereka di daerah Citayam, Depok pada akhir bulan November lalu.

Menurut Syifa, komunitas Terangi 48 sengaja dibentuk sebagai wadah bagi anak-anak muda yang peduli akan permasalahan terumbu karang di Indonesia. Nama komunitas ini pun dipilih mengikuti nama salah satu grup vokal yang tengah digandrungi anak muda.

“Waktu itu yang lagi booming kan JKT48, jadi dinamain aja Terangi 48,” ujar Syifa sembari tertawa.

Foto: dok. Terangi 48

Foto: dok. Terangi 48

Komunitas yang didirikan pada tahun 2013 ini, kini beranggotakan lebih dari 50 orang. Menurut Syifa, tidak semua anggota dalam komunitas mereka memiliki latar belakang kelautan. Meski demikian, ia menyatakan bahwa hal inilah yang justru membuat komunitas mereka menjadi lebih menarik. “Kami pasti ada sharing pengalaman, yang pasti beda-beda,” katanya.

Terangi 48 sendiri mencoba fokus pada kegiatan yang berbasis pada pendidikan lingkungan. Hal ini, menurut Syifa, menjadi fokus utama karena masih banyak masyarakat yang kurang mengetahui mengenai terumbu karang.

Syifa pun menceritakan pengalamannya ketika melakukan sosialisasi di Maratua, Kalimantan Timur. Anak-anak yang tinggal di pulau tersebut justru tidak dapat menjawab dengan benar ketika ditanyai mengenai terumbu karang.

“Kebanyakan dari mereka justru jawab batu atau tumbuhan. Mereka enggak tahu kalau terumbu karang itu adalah hewan,” ungkap mahasiswa jurusan Pariwisata UNJ ini.

Komunitas Terangi 48 mengemas sosialisasi mengenai laut dan terumbu karang dalam berbagai bentuk permainan menarik agar tidak membosankan. Foto: dok. Terangi 48

Komunitas Terangi 48 mengemas sosialisasi mengenai laut dan terumbu karang dalam berbagai bentuk permainan menarik agar tidak membosankan. Foto: dok. Terangi 48

Untuk melakukan sosialisasi terumbu karang, Terangi 48 mengadakan Edugames. Dalam Edugames, sosialisasi tentang terumbu karang dikemas kreatif dalam bentuk permainan agar tidak menjemukan dan dapat diterima oleh masyarakat. “Kami ingin lebih banyak orang tahu supaya mereka bisa lebih mencintai terumbu karang,” imbuhnya.

Dalam dua tahun belakangan, komunitas Terangi 48 rutin melakukan berbagai kegiatan bersama komunitas dan lembaga lainnya dalam rangka memperingati Hari Terumbu Karang (Coral Day) setiap tanggal 8 Mei. Pada momen itu, mereka melakukan kegiatan seperti restorasi terumbu karang dan sosialisasi mengenai terumbu karang dan laut.

Di luar aktivitas sosialisasi, Syifa mengatakan bahwa komunitas ini juga sangat memperhatikan hal-hal yang dapat bermanfaat bagi anggotanya. Salah satunya adalah memfasilitasi sertifikasi menyelam (diving) dengan gratis.

“Jadi di sini enggak cuma kegiatan volunter saja, tapi banyak benefit-nya,” ujar Syifa sedikit berpromosi.

Berbagai informasi seputar laut dan terumbu karang serta aktivitas komunitas Terangi 48 dapat dilihat dalam situs www.terangi.or.id dan akun twitter @TERANGI_

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/peduli-terumbu-karang-bersama-komunitas-terangi-48/feed/ 0
Indonesia Tuan Rumah Forum Pertemuan Internasional Pariwisata https://www.greeners.co/berita/indonesia-tuan-rumah-forum-pertemuan-internasional-pariwisata/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-tuan-rumah-forum-pertemuan-internasional-pariwisata https://www.greeners.co/berita/indonesia-tuan-rumah-forum-pertemuan-internasional-pariwisata/#respond Sat, 22 Aug 2015 06:06:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10856 Jakarta (Greeners) – Untuk pertama kalinya, Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan internasional antara para pelaku bisnis dan pemerintah di bidang pariwisata bahari yang berkelanjutan di kawasan Segitiga Terumbu Karang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Untuk pertama kalinya, Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan internasional antara para pelaku bisnis dan pemerintah di bidang pariwisata bahari yang berkelanjutan di kawasan Segitiga Terumbu Karang (coral triangle).

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Maritim, Safri Burhanuddin mengungkapkan bahwa Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) Regional Business Forum ke-4 yang akan dilaksanakan di Nusa Dua, Bali pada tanggal 27 hingga 29 Agustus 2015 nanti akan mengangkat tema “Menata Masa Depan Kawasan Segitiga Terumbu Karang Sebagai Destinasi Pariwisata Bahari Dunia”.

Sejak Coral Triangle Initiative ini diresmikan tahun 2009 lalu, kata Safri, Indonesia telah berperan aktif dalam menginisiasi berbagai kerjasama antar negara dalam upaya menjaga kekayaan laut di kawasan Segitiga Terumbu Karang.

“Kami sangat bangga Indonesia menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan forum internasional ini karena melalui forum ini juga pasti akan mendukung visi pemerintah Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia,” jelasnya saat ditemui oleh Greeners usai melaksanakan konferensi pers di Jakarta, Kamis (20/08).

Selain itu, Direktur Jendral Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sudirman Saad yang ditemui di tempat yang sama mengatakan, forum internasional ini jelas memiliki potensi terbukanya kesempatan bisnis dan peningkatan investasi dari sektor swasta.

“Sudah terlihat jelas bahwa kekayaan laut di kawasan segitiga karang ini menarik perhatian turis dari berbagai belahan dunia. Tapi kan dampaknya keberadaan ekosistem laut jadi terancam dan bahkan berada pada posisi mengkhawatirkan. Makanya perlu ada kerjasama dengan pihak swasta juga untuk menjaga keselamatan terumbu karang ini,” tutur Sudirman.

Meskipun kondisi terumbu karang di Indonesia masih mengkhawatirkan, lanjut Sudirman, tapi pemerintah tidak boleh pesimis dan masyarakat pun seharusnya turut berkontribusi menjaga kelestarian terumbu karang agar tetap terawat dengan baik.

“Saat ini kan memang kesadaran masyarakat masih harus dibina terus menerus. Kususnya terkait pengetahuan mereka tentang pentingnya keberadaan terumbu karang. Mereka masih menganggap kalau menangkap ikan dengan bom atau potasium merupakan hal yang biasa. Inilah yang sedang kita bina. Apalagi saat ini masih ada regulasi di Kementerian Kehutanan yang mengizinkan pengambilan dan pemanfaatan koral untuk digunakan sebagai hiasan akuarium,” tambahnya.

Direktur Eksekutif Coral Triangle, Rili Djohani sendiri mengaku kalau forum internasioanl ini akan mewujudkan visi pengelolaan sektor bisnis pariwisata bahari secara berkelanjutan dan akan memberikan dampak yang besar terhadap upaya pelestarian keanekaragaman hayati laut di kawasan Segitiga Terumbu Karang.

“Kita bisa melibatkan berbagai lapisan pemangku kepentingan seperti swasta, pemerintah daerah dan pastinya masyarakat di sana. Karena melalui forum ini pasti akan membantu penghidupan 120 juta orang yang menggantungkan hidupnya dari ekosistem laut,” tutupnya.

Sebagai informasi, kawasan segitiga terumbu karang merupakan pusat keragaman hayati laut di dunia. Lebih dari 2000 jenis ikan karang dan 600 spesies karang hidup ada di wilayah ini yang meliputi Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timur Leste.

Menurut data dari World Travel and Tourism Council, industri perjalanan dan pariwisata di enam negara kawasan segitiga terumbu karang telah memberikan dampak ekonomi yang cukup signifikan. Di tahun 2004 saja industri ini telah berkontribusi sebesar 58 Milyar USD tergadap GDP di enam negara serta menyediakanlapangan kerja kepada lebih dari lima juta orang di kawasan pesisir.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-tuan-rumah-forum-pertemuan-internasional-pariwisata/feed/ 0