Pengelolaan Kawasan Segitiga Karang Berbasis Ekosistem Perlu Diperkuat

Reading time: 2 menit
Foto: dok. CTI-CFF

Bali (Greeners) – Indonesia menjadi tuan rumah Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) Regional Business Forum ke 4. Forum bertemakan “Kawasan Coral Triangle sebagai Destinasi Pariwisata Bahari Dunia” ini dilangsungkan di Nusa Dua Bali, Indonesia pada tanggal 27 hingga 29 Agustus 2015.

Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Asep Djembar, dalam sambutan pembukaan menyatakan rasa bangganya atas terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah dari inisiatif ini. Hal ini dikarenakan wisata bahari tengah menjadi salah satu industri terbesar di dunia dan menjadi sektor ekonomi yang berkembang sangat pesat.

“Kita harus memperkuat kemitraan untuk memastikan kawasan Segitiga Karang dapat menjadi model dari pengelolaan berbasis ekosistem yang berkelanjutan,” ujar Asep seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Jumat (28/08).

Menurut Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan Dr. Sudirman Saad, M. Hum, tahun lalu lebih dari 1,1 Milyar wisatawan asing menjelajah dunia. Diperkirakan pada 2030 akan meningkat hingga 1,8 Milyar ditambah dengan lebih dari 5 Milyar wisatawan domestik.

Sudirman menyatakan pariwisata menciptakan lapangan kerja dan kesempatan ekonomi, namun dapat pula memberikan dampak negatif pada lingkungan dan sosial bila tidak dikelola dengan baik.

“Oleh karena itu, laut, lingkungan, dan wisata harus saling terkait dan berhubungan, dan menjaga kesehatan perairannya adalah kewajiban kita. Setiap pemikiran yang diterapkan, solusi yang kami hadirkan, dan tindakan yang kami ambil akan berkontribusi besar terhadap investasi jangka panjang pada generasi mendatang,” jelasnya.

Widi A.Pratikto Ph.D, Direktur Eksekutif Sekretariat Regional CTI-CFF yang juga hadir pada pertemuan tersebut mengatakan kalau Inisiatif Segitiga Karang terbentuk oleh komunitas regional dari enam negara untuk bekerjasama melalui kerangka kerja nyata dan memberikan wadah untuk tindakan nyata.

Menurutnya, keberagaman latar belakang anggotanya mencerminkan keinginan yang kuat dari para pemangku kepentingan untuk memberikan kontribusi yang bermakna dalam upaya bersama untuk mencapai sistem pengelolaan wisata bahari yang lebih baik dan berkelanjutan di kawasan Segitiga Karang.

“Sektor swasta, pejabat pemerintah lokal, para pemimpin perempuan dan tokoh masyarakat harus bekerjasama untuk memastikan keberlanjutan dapat tercapai,” kata Widi.

Sebagai informasi, sebuah laporan memaparkan bahwa lebih dari 85 persen terumbu karang di kawasan Segitiga Karang secara langsung terancam oleh aktivitas manusia. Laporan berjudul Reefs at Risk Revisited menunjukkan bahwa ancaman terbesar pada terumbu karang di negara-negara Segitiga Karang seperti Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste adalah penangkapan berlebih, polusi perairan dan pembangunan kawasan pesisir.

Forum yang berlangsung tiga hari ini akan mendorong para pelopor dari pelaku usaha, perwakilan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat dari 17 negara untuk mendiskusikan perihal kebijakan, strategi dan solusi inovatif dalam mempromosikan pariwisata bahari yang berkelanjutan di kawasan Segitiga Karang (Coral Triangle), pusat keragaman hayati laut di dunia.

Penulis: Danny Kosasih

Top

You cannot copy content of this page