taman nasional bromo tengger semeru - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/taman-nasional-bromo-tengger-semeru/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 14 Sep 2018 08:19:16 +0000 id hourly 1 Kebakaran Savana Bromo Tidak Mengganggu Ekosistem dan Kunjungan Wisatawan https://www.greeners.co/berita/kebakaran-savana-bromo-tidak-mengganggu-ekosistem-dan-kunjungan-wisatawan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kebakaran-savana-bromo-tidak-mengganggu-ekosistem-dan-kunjungan-wisatawan https://www.greeners.co/berita/kebakaran-savana-bromo-tidak-mengganggu-ekosistem-dan-kunjungan-wisatawan/#respond Wed, 05 Sep 2018 05:41:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21282 Api padang savana di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, dipastikan telah padam. Kebakaran ini dipastikan tidak menganggu ekosistem kawasan dan tidak berpengaruh pada kunjungan wisatawan.]]>

Pasuruan (Greeners) – Api padang savana di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, dipastikan telah padam. Kebakaran yang terjadi mulai dari Jemplang di Kabupaten Malang hingga Bukit Teletubbies di Kabupaten Probolinggo ini dipastikan tidak menganggu ekosistem kawasan dan tidak berpengaruh pada kunjungan wisatawan.

Kebakaran terjadi sejak Sabtu (01/09/2018). Api bermula dari kawasan Jemplang dengan cepat menyebar ke berbagai lokasi di antaranya Blok Plentongan, Watu Gede, padang savana hingga Bukit Teletubbies yang masuk wilayah Kabupaten Probolinggo. Setidaknya terdapat 274 titik api yang menghanguskan sekitar 600 hektare padang rumput.

“Tadi pagi masih ada titik api, tapi siang ini dipastikan sudah padam total,” kata ketua Komunitas Bromo Lovers Teguh Wibowo kepada Greeners, Rabu (05/09/2018).

Teguh mengungkapkan, upaya pemadaman dilakukan oleh ratusan personel dari tim gabungan dari TNBTS, Badan Penanggulangan Bencana Darah (BPBD) sekitar, TNI, Polri, warga dan relawan termasuk puluhan anggota komunitas Bromo Lovers.

Teguh mengatakan, kebakaran yang terjadi tidak merusak ekosistem kawasan taman nasional karena sebagian besar lokasi kebakaran ditumbuhi rerumputan, tanaman obat dan semak belukar dan beberapa pohon akasia serta cemara. “Pohon-pohon ini hanya terbakar di bagian bawahnya saja, tidak sampai hangus dan mati,” terangnya.

BACA JUGA: 600 Hektare Padang Savana Gunung Bromo Terbakar 

Hal ini juga ditegaskan Kepala Seksi Wilayah I TNBTS, Sarmin, yang mengatakan bahwa di lokasi yang terbakar tidak terdapat fauna terutama mamalia. Menurut dia, fauna kawasan TNBTS banyak terdapat di Gunung Semeru. Para personel yang melakukan penyisiran memastikan kebakaran benar-benar padam dan mereka tidak menemukan satwa terutama mamalia yang terbakar.

“Sisi positif kebakaran ini bisa mempercepat penggantian rumput kering menjadi rumput hijau. Pemulihannya sendiri cukup cepat, sekitar satu bulan rumput akan kembali tumbuh,” terangnya.

Selain tidak mengganggu ekosistem, kebakaran kawasan ini tidak berdampak signifikan pada kujungan wisatawan. “Kunjungan wisatawan masih normal. Saat terjadi kebakaran kawasan wisata juga tidak kami tutup karena lokasi kebakaran jauh dari tempat-tempat yang biasa dikunjungi wisatawan, seperti Penanjakan, lautan pasir dan kawah. Memang untuk savana dan Bukit Teletubbies sempat buka-tutup,” kata Sarmin.

Perapian Warga Diduga Jadi Penyebab Kebakaran

Mengenai penyebab kebakaran, Kepala Balai Besar TNBTS, John Kenedie, mengatakan bahwa api bukan ulah pengunjung karena titik api pertama diketahui merupakan area nol pengunjung taman nasional. Awal api diduga kuat berasal dari perapian warga sekitar yang tengah mencari tanaman obat dan kayu bakar.

“Kawasan yang terbakar banyak tumbuh tanaman obat serta kayu yang bisa menjadi bahan kayu bakar masyarakat. Kemungkinan warga sedang mencari tanaman obat atau kayu bakar. Karena cuaca dingin (mereka) buat perapian, mungkin lupa (mematikan api) dan api membakar tanaman di sekitarnya,” kata John seperti dikutip dari keterangan resminya.

BACA JUGA: Pencegahan Karhutla, KLHK dan Kemenkominfo Luncurkan SMS Blast 

Ia juga menegaskan bahwa kebakaran tidak menganggu satwa endemik taman nasional. Menurut dia sejak kebakaran Sabtu malam, pihaknya memfokuskan agar api tidak merembet hingga wilayah Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang banyak dihuni oleh satwa endemik.

“Saat terjadi kebakaran, saya langsung minta kawasan tersebut dijaga betul agar api tidak sampai merembet ke sana karena di situ banyak satwa dilindungi, seperti macan hingga elang Jawa,” ungkap John.

Menurut John, pihaknya akan meningkatkan pengawasan agar kebakaran tidak terulang di wilayah taman nasional meski yang terbakar merupakan semak dan rumput. “Yang terbakar sebagian kecil saja pohon tegak seperti cemara dan akasia,” terangnya.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/berita/kebakaran-savana-bromo-tidak-mengganggu-ekosistem-dan-kunjungan-wisatawan/feed/ 0
Kebakaran Padang Rumput Bromo Meluas Hingga 75 Hektare https://www.greeners.co/berita/kebakaran-padang-rumput-bromo-meluas-hingga-75-hektare/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kebakaran-padang-rumput-bromo-meluas-hingga-75-hektare https://www.greeners.co/berita/kebakaran-padang-rumput-bromo-meluas-hingga-75-hektare/#respond Wed, 13 Sep 2017 06:59:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18565 Kebakaran padang rumput di Gunung Bromo, Jawa Timur, meluas hingga sedikitnya 75 hektare rumput dan belukar sudah jadi abu.]]>

Pasuruan (Greeners) – Kebakaran padang rumput di Gunung Bromo, Jawa Timur, meluas hingga sedikitnya 75 hektare rumput dan belukar sudah jadi abu. Meski demikian kebakaran ini belum membahayakan kawasan hutan konservasi yang memiliki kekayaan hayati yang luar biasa.

Kebakaran padang rumput awalnya terjadi di sejumlah titik antara lain Watu Kutho, Watu Gede, Savana, yang berada di wilayah Probolinggo pada pukul 11.30 WIB, Senin 11 September 2017. Namun karena kondisi rumput sangat kering dan angin berhembus kencang, kebakaran cepat menjalar ke titik lain diantaranya Pakis Bincil, Dingklik hingga Bukit Cinta di wilayah Tosari, Kabupaten Pasuruan, dan lokasi lain.

“Kebakaran terjadi di beberapa titik di kawasan BTS (Bromo, Tengger, Semeru) baik yang di wilayah Lumajang, Pasuruan maupun Probolinggo. Angin yang kencang menyebabkan api cepat membesar,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Bakti Jati Permana kepada Greeners.co, Senin, malam.

BACA JUGA: Padang Rumput di Kaldera Gunung Bromo Terbakar

Kebakaran di sejumlah titik seperti di Watu Gede dan Watu Kutho atau bagian bawah sudah padam dan atau berhasil dipadamkan petugas sejak pukul 16.00 WIB. Namun di lokasi lainnya terutama di wilayah Pasuruan hingga malam hari pukul 22.00 WIB belum padam. Di wilayah ini banyak terdapat tebing sehingga menyulitkan petugas. “Malam ini belum padam. Petugas terus melakukan pemantauan,” terangnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I TNBTS Fariana Prabandari mengatakan, sedikitnya sudah 75 hektare padang rumput sudah jadi abu. Namun ia menegaskan kebakaran ini tidak berbahaya terutama bagi kawasan hutan konservasi.

“Sudah 75 hektare lahan rumput dan semak yang terbakar. Bukan hutan ya, bukan pohon, jadi jangan salah hanya rumput dan belukar,” katanya.

kebakaran padang rumput

Suasana malam hari saat lahan rumput dan belukar di Bromo terbakar. Foto: BPBD Kabupaten Pasuruan

Menurut Fariana, TNBTS merupakan kawasan konservasi yang memiliki kawasan hutan yang memiliki kekayaan hayati baik flora maupun fauna serta kawasan padang rumput. Menurut dia, jika hutan yang tebakar, maka akan terjadi kerugian luar biasa besar, namun jika padang rumput yang terbakar dengan cepat akan tumbuh lagi.

“Harus dibedakan. Kalau padang rumput yang terbakar dampaknya tak sebesar hutan yang berisi pohon yang kekayaan hayatinya sangat tinggi. Kalau hutan terbakar, kiamat kecil namanya karena banyak anggrek dan floranya banyak, satwanya juga banyak. Kalau rumput yang terbakar itu menjadi sarana untuk munculnya rumput baru dan itu bagian dari manajemen habitat,” katanya.

BACA JUGA: Cuaca Kering, Manggala Agni Bersiaga Antisipasi Karhutla

Meski hanya rumput yang terbakar, lanjutnya, upaya pemadaman harus tetap dilakukan agar tidak menyebar ke kawasan hutan. Oleh karena itu, ratusan personel dari TNBTS, TNI-POLRI, BPBD, Relawan seperti Bromo Lovers dan Gayatri dan sejumlah elemen peduli kelestarian kawasan Gunung Bromo terjun memadamkan api.

“Proses pemadaman dilakukan dengan alat pemadam gebyok serta ada yang membawa tangki-tangki air dengan mobil lokasi kebakaran yang isa dijangkau dengan kendaraan,” katanya.

Fariana menduga, kebakaran disebabkan seseorang yang membuat putung rokok sembarangan atau membuat perapian dengan cara yang salah atau ditinggalkan saat belum benar-benar padam.

“Dugaan kuatnya puntung rokok dibuang sembarangan atau perapian. Karena rumput sangat kering jadi muda terbakar. Saya minta jangan buang putung rokok sembarangan,” katanya mengimbau.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/berita/kebakaran-padang-rumput-bromo-meluas-hingga-75-hektare/feed/ 0
Padang Rumput di Kaldera Gunung Bromo Terbakar https://www.greeners.co/berita/padang-rumput-kaldera-gunung-bromo-terbakar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=padang-rumput-kaldera-gunung-bromo-terbakar https://www.greeners.co/berita/padang-rumput-kaldera-gunung-bromo-terbakar/#respond Mon, 11 Sep 2017 11:53:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18550 Padang rumput atau sabana di Kaldera Gunung Bromo, Jawa Timur terbakar. Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini terjadi hari ini, Senin (11/09), sejak pukul 11.00 WIB.]]>

Pasuruan (Greeners) – Padang rumput atau sabana di Kaldera Gunung Bromo, Jawa Timur terbakar. Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini terjadi hari ini, Senin (11/09), sejak pukul 11.00 WIB, dan sampai sore hari pukul 17.00 WIB api belum padam.

Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas TNBTS, Sarif Hidayat mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan puluhan petugas untuk memadamkan api. Pemadaman dilakukan secara manual dengan memukul-mukul api menggunakan alat sederhana dari kayu dan batang-batang pohon.

“Kebakaran terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, dan kami terus melakukan pemadaman,” kata Sarif Hidayat kepada Greeners.co.

BACA JUGA: Longsor di Lereng Bromo, Ribuan Kepala Keluarga Krisis Air Bersih

Sarif mengungkapkan, pihaknya belum memperoleh laporan berapa luas areal yang terbakar. Menurut dia, pihaknya masih konsentrasi mengendalikan dan memadamkan api.

“Belum tahu luasannya berapa. Teman-teman masih melakukan pemadaman awal. Jadi belum bisa diprediksi luasannya berapa. Nanti setelah itu baru diketahui,” jelasnya.

kaldera gunung bromo

Foto: TNBTS

Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah I TNBTS, Sarmin, juga belum bisa memberikan keterangan terkait penyebab kebakaran. Meski demikian, ia berjanji akan fokus melakukan penyelidikan penyebab kebakaran jika api sudah berhasil dipadamkan. “Kami tangani dulu. Kami lebih konsen kepada pengendalian dulu,” katanya.

BACA JUGA: Pasca Yadnya Kasada, Bromo Dipenuhi Sampah

Titik kebakaran berada di daerah Pengol berdekatan dengan kawasan Pasir Berbisik. Angin yang berhembus kencang sangat memungkinkan menyebabkan kebakaran cepat meluas ke wilayah lain.

Kawasan yang terbakar termasuk dalam kaldera Gunung Bromo yang arealnya berada di Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan hinga Kabupaten Malang.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/berita/padang-rumput-kaldera-gunung-bromo-terbakar/feed/ 0
Pasca Yadnya Kasada, Bromo Dipenuhi Sampah https://www.greeners.co/aksi/pasca-yadnya-kasada-bromo-dipenuhi-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pasca-yadnya-kasada-bromo-dipenuhi-sampah https://www.greeners.co/aksi/pasca-yadnya-kasada-bromo-dipenuhi-sampah/#respond Wed, 12 Jul 2017 07:06:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=17692 Banyaknya wisatawan domestik dan lokal yang berkunjung saat perayaan Kasada pada Minggu lalu menyisakan sampah organik maupun non-organik di kawah hingga kaldera gunung Bromo.]]>

Probolinggo (Greeners) – Ratusan relawan dan pecinta Gunung Bromo bahu-membahu membersihkan sampah yang berserakan setelah berakhirnya ritual tahunan Yadnya Kasada. Para relawan berhasil mengumpulkan sebanyak empat pikap dan satu truk sampah dari berbagai lokasi, Selasa (11/7/2017).

Banyaknya wisatawan domestik dan lokal yang berkunjung saat perayaan Kasada pada Minggu lalu menyisakan sampah organik maupun non-organik di kawah hingga kaldera atau lautan pasir dan tempat-tempat pedagang kaki lima dan pedagang permanen yang dikunjungi wisatawan. Selain rendahnya kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan, kondisi tersebut juga disebabkan minimnya tempat sampah di destinasi wisata dunia ini.

Sebanyak 150 relawan dari Bromo Lovers, pecinta alam dari Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang dibantu petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan sejumlah komunitas pelajar, melakukan bersih-bersih mulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 11.30 WIB. Relawan menyisir dan memunguti sampah di berbagai lokasi.

“Banyaknya wisatawan domestik dan lokal yang berkunjung saat perayaan Kasada pada Minggu lalu menyisakan sampah di sekitar Bromo. Sampah itu berserakan di sekitar kawah, kaldera, tempat-tempat pedagang kaki lima dan pedagang permanen serta tempat lainnya di Bromo yang dikunjungi wisatawan,” kata Ketua Relawan Bromo Lovers, Teguh Wibowo.

yadnya kasada

Aksi bersih-bersih dari sampah di kawasan Gunung Bromo berlangsung pada Selasa (11/7/2017). Foto: greeners.co/Muhajir Arifin

Sunarip, salah seorang relawan, mengatakan bahwa sampah Bromo didominasi sampah plastik dan botol minuman. Sampah-sampah tersebut terdiri dari bungkus makanan ringan dan botol air mineral. Selain mengganggu pemandangan, sampah non-organik sangat berbahaya bagi ekosistem kawasan Gunung Bromo karena tidak dapat diurai.

“Kami sangat menyayangkan sikap pengunjung. Padahal ketika bertemu dengan para wisatawan kami selalu kampanyekan bawa kembali sampah. Kami akan berkerja maksimal dan bertekad membersihkan sampah Bromo sampai bersih. Mungkin butuh waktu sekitar empat hingga lima hari membersihkan sampah di seluruh kawasan ini,” kata Sunarip.

Camat Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Yulius Christian, mengapresiasi kepedulian para relawan terhadap kebersihan Gunung Bromo. Pihaknya merasa sangat terbantu karena para relawan selalu berada di garis depan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Kami imbau wisatawan yang datang tidak membuang sampah sembarangan. Para pedagang kaki lima dan warung permanen di Bromo pun diminta pula untuk menyediakan tempat sampah di masing-masing tempat jualannya,” kata Yulius yang juga ikut bersih-bersih.

Banyaknya sampah Gunung Bromo setelah perayaan Yadnya Kasada disesalkan sejumlah wisatawan yang mengaku ikut menjaga kebersihan Bromo dengan tidak membuang sampah sembarangan. Mereka berharap pengelola memperbanyak tempat sampah untuk mempermudah wisatawan.

“Kawasan ini sangat mempesona, apalagi bagi yang baru pertama kali ke sini seperti saya. Penginnya ingin kembali lagi. Tapi sayang, sampahnya banyak. Di mana-mana berserakan,” keluh Ruli Anastasya, wisatawan asal Bandung.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pasca-yadnya-kasada-bromo-dipenuhi-sampah/feed/ 0
Bersihkan Gunung Bromo di Awal Tahun, Relawan Kumpulkan Dua Truk Sampah https://www.greeners.co/aksi/bersihkan-gunung-bromo-awal-tahun-relawan-kumpulkan-dua-truk-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersihkan-gunung-bromo-awal-tahun-relawan-kumpulkan-dua-truk-sampah https://www.greeners.co/aksi/bersihkan-gunung-bromo-awal-tahun-relawan-kumpulkan-dua-truk-sampah/#respond Thu, 05 Jan 2017 12:49:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=15605 Awal tahun ini, sejumlah relawan yang prihatin dengan sampah yang berserakan di kawasan wisata Gunung Bromo, Jawa Timur, melakukan aksi "sapu" gunung.]]>

Probolinggo (Greeners) – Sejumlah relawan yang prihatin dengan sampah yang berserakan di kawasan wisata Gunung Bromo, Jawa Timur, melakukan aksi “sapu” gunung. Sampah yang dikumpulkan di kawasan salah satu destinasi wisata prioritas nasional ini mencapai lebih dari dua truk.

Aksi membersihkan gunung ini dilakukan para relawan sejak Selasa hingga Rabu kemarin. Sampah-sampah yang dikumpulkan dimasukkan ke dalam truk dan langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS).

“Hari ini kami lanjutkan aksi bersih-bersih ini di daerah padang savana dan Bukit Teletubbies. Kemarin dapat dua truk penuh sampah, dan saat ini masih terus kami kumpulkan. Mudah-mudahan hari ini sudah selesai,” ujar Teguh Wibowo, Ketua Bromo Lovers, Rabu (4/1/2017).

gunung bromo

Foto: greeners.co/Muhajir Arifin

Pria asal Desa Wonokitri, Kabupaten, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, ini mengatakan, sampah-sampah yang dikumpulkan itu mulai dari sampah organik hingga sampah bekas bungkus makanan dan botol air mineral. “Sebaran sampah cukup luas dari Cemoro Lawang, lautan pasir, bibir kawah, hingga Penanjakan,” terangnya.

Teguh berharap pengunjung Bromo mempunyai rasa memiliki dan kecintaan pada gunung sehingga berperilaku bersih saat berdarmawisata. Dengan begitu, keindahan wisata alam ini tidak kotor dengan sampah-sampah dan dapat dinikmati dengan nyaman.

“Apa karena mereka sudah bayar tiket masuk, terus buang sampah sembarangan? Paling tidak mereka membuangnya di tempat sampah dan tidak meninggalkan begitu saja,” katanya.

Relawan lain, Sunarip, mengatakan, aksi membersihkan gunung sebenarnya tiap saat dilakukan oleh komunitas pecinta Gunung Bromo. Aksi itu dilakukan dengan penuh ikhlas dan kesadaran bahwa alam harus dijaga kelestariannya. “Kami ikhlas terus bersih-bersih. Demi anak-cucu kita agar tetap bisa menikmati keindahan gunung,” kata Sunarip.

Untuk diketahui, ribuan wisatawan berkunjung ke kawasan wisata Gunung Bromo saat libur panjang selama Natal dan Tahun Baru. Selain memberikan dampak signifikan bagi perekonomian warga sekitar, di sisi lain membuat kawasan kotor oleh sampah.

Salah seorang wisatawan asal Surabaya, Kurniawan, mengaku prihatin dengan sampah yang ada di kawasan gunung yang terkenal dengan pemandangan matahari terbit yang menawan tersebut.”Bromo masih kotor sekali dengan sampah. Mungkin ini efek dari banyaknya pengunjung pada tahun baru kemarin. Mungkin karena minim tempat sampah. Saya sendiri juga kesulitan buang sampah,” ujar Kurniawan.

Pihak pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengakui sampah memang menjadi masalah terdiri. Selain memang karena kekurangan fasilitas, sampah yang berserakan tersebut juga dipengaruhi oleh budaya pengunjung.

“Ada beberapa titik yang sudah tersedia tempat sampah, memang dari segi jumlah tidak memadai. Nanti kami akan evaluasi dan usulkan untuk pembuatan tempat sampah baru. Namun sebenarnya banyaknya tempat sampah tidak akan mengatasi masalah ini jika pengunjung juga tidak ikut menjaga kebersihan,” kata Sarmin, Kasi Pengelolaan Objek Wisata TNBTS.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bersihkan-gunung-bromo-awal-tahun-relawan-kumpulkan-dua-truk-sampah/feed/ 0
Mulai 4 Januari 2017, Jalur Semeru Ditutup untuk Pemulihan Ekosistem https://www.greeners.co/berita/mulai-4-januari-2017-jalur-semeru-ditutup-pemulihan-ekosistem/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mulai-4-januari-2017-jalur-semeru-ditutup-pemulihan-ekosistem https://www.greeners.co/berita/mulai-4-januari-2017-jalur-semeru-ditutup-pemulihan-ekosistem/#respond Thu, 05 Jan 2017 12:42:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15600 Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memutuskan menutup jalur pendakian ke Gunung Semeru mulai 4 Januari 2017. Penutupan ini dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan.]]>

Malang (Greeners) – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memutuskan untuk menutup jalur pendakian ke Gunung Semeru mulai 4 Januari 2017. Penutupan yang bertujuan untuk memulihkan kembali ekosistem di kawasan Semeru ini dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru John Kennedie juga telah menginformasikan pengumuman ini melalu laman resmi BB TNBTS dan telah menyebar di berbagai media sosial sejak beberapa hari lalu.

Dalam pengumuman tersebut, selain untuk pemulihan ekosistem, penutupan jalur pendakian ke Semeru memang rutin dilakukan setiap tahun demi kenyamanan para pendaki. Sebab, pada saat musim pergantian cuaca cenderung buruk dan tidak menentu sehingga jalur pendakian ditutup untuk meminimalisir insiden kecelakaan yang terjadi.

BACA JUGA: Selama 2016, Tiga Pendaki Meninggal Dunia dan Satu Hilang di Semeru

Humas Balai Besar TNBTS, Antong Hartadi, menambahkan, kondisi jalur pendakian juga banyak yang rusak karena longsor maupun pohon tumbang sehingga membahayakan pendaki dan perlu pembenahan. “Semua pendaki paling lambat 4 Januari sudah turun sehingga (jalur pendakian) sudah steril,” kata Antong Hartadi, Selasa (03/01/2017).

Sebelumnya, jalur pendakian ke gunung tertinggi di Jawa ini sempat buka-tutup karena beberapa kali terjadi insiden pendaki yang tersesat maupun kecelakaan. Bahkan, ada satu pendaki asal Swiss, Lionel du Creux yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya meski sudah digelar Open SAR hingga 10 hari.

Lionel dilaporkan hilang pada 7 Juni 2016. Ia bersama rekannya mendaki Semeru pada 3 Juni 2016 tanpa melapor ke petugas di Pos Ranupane. Pendakian diputuskan dibuka kembali pada 21 Juni 2016.

BACA JUGA: Catatan Awal Tahun Menteri LHK, dari Taman Nasional hingga Sampah di Laut

Meski saat ini pendakian ke Semeru ditutup, namun wisatawan masih bisa mengunjungi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru seperti Danau Ranu Pani dan Ranu Regulo serta menyaksikan panorama Gunung Bromo dari B29 atau Penanjakan. Mengunjungi kawasan Tengger dengan segala kekayaan seni dan budayanya juga tidak kalah seru untuk dilewatkan.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/mulai-4-januari-2017-jalur-semeru-ditutup-pemulihan-ekosistem/feed/ 0
Selama 2016, Tiga Pendaki Meninggal Dunia dan Satu Hilang di Semeru https://www.greeners.co/berita/2016-tiga-pendaki-meninggal-dunia-dan-satu-hilang-semeru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=2016-tiga-pendaki-meninggal-dunia-dan-satu-hilang-semeru https://www.greeners.co/berita/2016-tiga-pendaki-meninggal-dunia-dan-satu-hilang-semeru/#respond Thu, 05 Jan 2017 08:13:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15597 Sejak dibuka 1 Mei 2016 lalu, ada tiga pendaki meninggal dunia dan satu pendaki hilang dalam perjalanan menuju gunung yang digambarkan sebagai atap Pulau Jawa ini.]]>

Malang (Greeners) – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menutup jalur pendakian mulai 4 Januari 2017. Sejak dibuka 1 Mei 2016 lalu, ada tiga pendaki meninggal dunia dan satu pendaki hilang dalam perjalanan menuju gunung yang digambarkan sebagai atap Pulau Jawa ini.

Greeners mencatat, tiga pendaki yang meninggal saat perjalanan ke puncak gunung tertinggi di Jawa ini. Pendaki pertama adalah Ziman Arofik. Pendaki asal Jalan WR Supratman 123, RT 005/RW 012, Kelurahan Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, ini meninggal pada 13 September 2016 karena sakit.

Ziman meninggal ketika akan turun dari Pos Kalimati yang berada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut. Evakuasi Ziman baru bisa dilakukan pada keesokan harinya karena kendala cuaca.

BACA JUGA: Sakit, Pendaki Asal Depok Meninggal di Semeru

Musibah kembali terjadi pada 3 Oktober 2016. Seorang pendaki bernama Chandra Hasan, asal Cakung, Jakarta Timur, diduga meninggal karena sakit ketika perjalanan menuju Ranukumbolo. Chandra sempat mengeluh sakit dan tidak sadar saat berada di blok Landengan Dowo. Chandra meninggal usai tak sadarkan diri.

Di bulan yang sama, pada 8 Oktober 2016, pendaki asal Sidamukti, RT 003/RW 022, Desa Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Sahat M Pasaribu, juga menghembuskan nafas terakhir di Semeru. Meninggalnya Sahat ini juga diduga karena sakit.

Korban bahkan sempat muntah beberapa kali hingga kondisi fisiknya terus melemah dan terlihat pucat, bengong, dengan pandangan mata kosong. Ia meninggal di depan rekan-rekannya yang berjuang keras menolongnya.

BACA JUGA: Badan Otoritas Bromo Tengger Semeru Ditargetkan Aktif Juli 2016

Selain tiga pendaki yang meninggal tersebut, ada peristiwa yang menguras energi semua pihak yakni kabar tersesatnya pendaki asal Swiss, Lionel du Creux. Pencarian Lionel bahkan memakan waktu hingga dua minggu lebih. Open SAR resmi tim gabungan selama 10 hari belum berhasil menemukan keberadaan pendaki yang tidak memiliki izin mendaki ini.

Upaya pencarian dengan tambahan oleh keluarga korban juga belum membuahkan hasil hingga pendakian kembali dibuka lagi pada 21 Juni 2016. Lionel mendaki Semeru bersama rekannya pada 3 Juni tanpa melapor ke petugas. Ia dilaporkan hilang ke Pos Ranupani pada 8 Juni 2016. Hingga kini, keberadaan Lionel dinyatakan hilang di Semeru.

Nasib beruntung dialami dua pendaki asal Jawa Barat, Zirli Gita Ayu Safitri dan Supyadi. Mereka mengalami disorientasi medan saat turun dari puncak Mahameru. Kedua penyintas ini berhasil bertahan hidup meski upaya pencarian keduanya memakan waktu lima hari. Mereka ditemukan selamat oleh Tim SAR gabungan dalam kondisi lemas dan luka-luka di kawasan air terjun Gunung Boto, Tawon Songo, Lumajang, pada 25 Mei 2016.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/2016-tiga-pendaki-meninggal-dunia-dan-satu-hilang-semeru/feed/ 0
Komunitas Pecinta Bromo Bersih-Bersih Gunung dari Sampah Pengunjung https://www.greeners.co/aksi/komunitas-pecinta-bromo-bersih-bersih-gunung-sampah-pengunjung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komunitas-pecinta-bromo-bersih-bersih-gunung-sampah-pengunjung https://www.greeners.co/aksi/komunitas-pecinta-bromo-bersih-bersih-gunung-sampah-pengunjung/#respond Wed, 07 Dec 2016 07:39:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=15338 Sebagai wujud kecintaan pada gunung, sejumlah relawan dari beberapa komunitas pecinta alam di kawasan TNBTS melakukan aksi pungut sampah di Gunung Bromo.]]>

Probolinggo (Greeners) – Sejumlah relawan dari beberapa komunitas pecinta alam di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, melakukan aksi pungut sampah di Gunung Bromo. Selain sebagai wujud kecintaan pada gunung, aksi ini juga dalam rangka memperingati Hari Relawan Internasional yang diperingati setiap tanggal 5 Desember setiap tahun.

Kawasan TNBTS merupakan salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas nasional. Karena itu menjadikan kawasan ini bersih merupakan tanggungjawab semua pihak, baik pengelola, pelaku wisata, warga hingga wisatawan. Namun sayang, masih banyak wisatawan yang tidak peduli dengan kebersihan gunung. Mereka tetap membuang sampah sembarangan.

Pemandangan sampah yang bertebaran masih banyak ditemui di kawasan Gunung Bromo membuat terenyuh relawan dari Bromo Lovers, Art Pala Volunter dan sejumlah kelompok relawan lain. Mereka pun melakukan aksi pungut sampah dan membersihkan sampah gunung.

komunitas pecinta bromo

Foto: greeners.co/Muhajir Arifin

Aksi pungut sampah tersebut dilakukan di sejumlah lokasi antara lain di lautan pasir, lokasi parkir kuda, tangga Gunung Bromo hingga ke areal kawah yang mengalami erupsi beberapa bulan lalu. Selama kurang lebih empat jam membersihkan sampah, relawan berhasil mengumpulkan belasan karung sampah.

“Sampah yang dibersihkan itu banyak dari sampah plastik sisa dari makanan para pengunjung,” kata Sunarip dari Bromo Lovers di Probolinggo, Selasa (6/12).

Sunarip mengatakan bahwa kebersihan gunung menjadi tanggungjawab semua pihak. Ia berharap para wisatawan memiliki kesadaran untuk tidak mengotori gunung. “Paling tidak membawa sampah kembali ke tempat sampah. Jangan tinggalkan begitu saja,” kata Sunarip mengingatkan.

Pria yang juga menjadi pedagang suvenir di kawasan Gunung Bromo ini menambahkan, semakin banyak relawan yang peduli dengan kebersihan gunung akan semakin baik karena jumlah petugas dari pengelola Gunung Bromo sangat terbatas.

Ketua Art Pala Volunter Bambang Sutrisno menyatakan bahwa aksi pungut sampah sebenarnya setiap saat dilakukan komunitasnya. Aksi tersebut dilakukan dengan ikhlas dan kesadaran penuh demi kelestarian alam.

“Semua ikhlas dan atas kesadaran sendiri. Paling tidak anak cucu saya bisa menikmati keindahan Gunung Bromo. Kalau tidak dijaga dari sekarang terus kapan lagi,” katanya.

Senada dengan Sunarip, ia berharap agar pelaku wisata maupun pengunjung Gunung Bromo ikut menjaga kebersihan gunung yang nyaris tidak pernah sepi dikunjungi wisatawan tersebut.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/aksi/komunitas-pecinta-bromo-bersih-bersih-gunung-sampah-pengunjung/feed/ 0
Gunung Bromo Siaga, Radius 2,5 Kilometer Harus Steril https://www.greeners.co/berita/gunung-bromo-siaga-radius-25-kilometer-harus-steril/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gunung-bromo-siaga-radius-25-kilometer-harus-steril https://www.greeners.co/berita/gunung-bromo-siaga-radius-25-kilometer-harus-steril/#respond Mon, 26 Sep 2016 11:35:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14809 Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Bromo di Jawa Timur sejak Senin, 26 September 2016, pukul 06.00 WIB naik dari Waspada menjadi Siaga.]]>

Malang (Greeners) – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Bromo di Jawa Timur sejak Senin, 26 September 2016, pukul 06.00 WIB naik dari Waspada menjadi Siaga. PVMBG merekomendasikan radius aman sejauh 2,5 kilometer dari puncak kawah aktif Gunung Bromo.

Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah I Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Sarmin, menginformasikan, petugas mulai pagi tadi sudah menyosialisasikan naiknya status Gunung Bromo kepada para wisatawan dengan mendatangi mobil wisata satu per satu. “Warung di Jemplang, Ngadas, Poncokusumo sudah dikosongkan karena masuk radius yang harus steril,” kata Sarmin, Senin (26/o9/2016).

Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti BPBD Malang, Probolinggo, Pasuruan, serta TNI dan Polri untuk menindaklanjuti naiknya status Bromo ini. Pada hari ini, pengunjung Bromo juga sudah diberitahu dan sudah menghalau para pengunjung yang akan masuk ke lautan pasir baik melalu pintu Malang, Pasuruan, maupun Probolinggo.

Sarmin melaporkan kondisi di Bromo hari ini hujan dan berkabut. Bau belereng juga belum terlalu menyengat. “Suara dentuman juga tidak terlalu kuat terdengar,” ujarnya.

Kepala Bidang Pengelolaan Wilayah I BB TNBTS Fariana Prabandari menambahkan, wisatawan yang sudah terlanjur masuk ke lautan pasir pagi tadi juga sudah diberitahu dan kemungkinan besok baru akan dipasang rambu-rambu larangan masuk ke lautan pasir.

BACA JUGA: Gunung Bromo Waspada, Masyarakat Tengger Tetap Gelar Upacara Kasada

Meski lautan pasir ditutup, kata Fariana, wisatawan masih bisa mengunjungi dan menikmati Bromo melalui Cemorolawang, Probolinggo mupun Wonokitri, Pasuruan. Wisatawan bisa menuju Penanjakan melalui pintu tersebut. Selain itu, Bromo juga masih bisa dinikmati melalui Puncak B29 baik melalui Malang maupun Lumajang.

Kepala Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Mujianto, mengatakan kondisi masyarakat desa yang berbatasan dengan Gunung Bromo masih normal dan warga beraktivitas seperti biasa. “Hanya hujan dan tidak ada hujan abu,” kata Mujianto.

Ia juga mengaku tidak mendengar suara dentuman dari Bromo. Mujianto juga sudah dihubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malang terkait naiknya status Bromo menjadi Siaga. “Tadi sudah dihubungi dan akan naik ke sini untuk memantau,” ujarnya.

Dalam situs resmi PVMBG disampaikan, naiknya status Bromo menjadi Siaga ini lantaran rekaman aktivitas Bromo selama beberapa bulan cenderung fluktuatif dan meningkat dalam sebulan terakhir. Periode 1-25 September, gempa tremor menerus yang amplituda maksimum fluktuatif berkisar 0,5-23 milimeter (dominan 1-3 milimeter). Sejak 24 September 2016, terjadi peningkatan signifikan jumlah gempa vulkanik dangkal (VB) yang mencapai 63 kejadian dan kejadian tremor menerus hari ini sejak pukul 13.00 WIB.

PVMBG mengingatkan, potensi bahaya ketika Bromo dalam status Siaga adalah potensi erupsi magmatik menerus masih dapat terjadi dan dapat disertai sebaran material vulkanik hasil erupsi berupa hujan abu lebat dan lontaran batu (pijar) mulai sekitar kawah hingga radius 2,5 kilometer dari pusat erupsi.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/gunung-bromo-siaga-radius-25-kilometer-harus-steril/feed/ 0
Gunung Bromo Waspada, Masyarakat Tengger Tetap Gelar Upacara Kasada https://www.greeners.co/berita/gunung-bromo-waspada-masyarakat-tengger-tetap-gelar-upacara-kasada/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gunung-bromo-waspada-masyarakat-tengger-tetap-gelar-upacara-kasada https://www.greeners.co/berita/gunung-bromo-waspada-masyarakat-tengger-tetap-gelar-upacara-kasada/#respond Tue, 19 Jul 2016 10:26:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14271 Meski Gunung Bromo saat ini masih dalam status Waspada, masyarakat suku Tengger akan tetap melangsungkan upacara Kasada.]]>

Jakarta (Greeners) – Meski Gunung Bromo saat ini masih dalam status Waspada, masyarakat suku Tengger akan tetap melangsungkan upacara Kasada. Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) John Kennedie, saat dihubungi oleh Greeners mengatakan bahwa pelaksanaan Kasada akan mengundang para wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara. Hanya saja, pelaksanaan upacara akan berbeda dari sebelumnya.

John menyatakan, terkait status Gunung Bromo, pihak TNBTS hanya mengizinkan masyarakat Tengger yang melakukan upacara yang boleh mendekati kawah. Sedangkan bagi wisatawan yang ingin menyaksikan upacara tersebut, dapat menyaksikan di belakang garis polisi yang dipasang dalam radius satu kilometer dari kawah.

“Meskipun tengah erupsi, Hari Raya Kasada tetap digelar. Pelemparan sesembahan ke dalam kawah tetap dilakukan meskipun Gunung Bromo dalam status Waspada. Masih boleh masyarakat umum datang dalam batas radius satu kilometer,” kata John saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jakarta, Selasa (19/07).

Menurut rencana, puncak upacara Kasada akan digelar pada Kamis (21/07) mendatang namun prosesi diawali sejak satu hari sebelumnya. Masyarakat Tengger akan menjalani berbagai proses ritual dan puncaknya melemparkan persembahan ke lubang kawah. Persembahan dalam bentuk aneka hasil bumi, termasuk kepala sapi utuh.

BACA JUGA: Badan Otoritas Bromo Tengger Semeru Ditargetkan Aktif Juli 2016

John menyatakan pihak TNBTS akan memantau kondisi di lapangan bersama para pihak terkait. Untuk membantu membedakan antara pengunjung dan masyarakat peserta upacara, pihak TNBTS akan melibatkan masyarakat setempat. Setiap pintu masuk dari Jemplang, Trisula, Cemoro Lawang dan Monokitri akan dijaga oleh masyarakat lokal.

“Untuk mengamankan pelaksanaan Kasada, kami juga akan mengeluarkan kekuatan penuh dengan 50 personel polisi hutan dan masyarakat setempat mitra polisi hutan, 69 personel SAR TNBTS serta kerjasama dengan TNI/POLRI dan pemerintah daerah setempat,” tambahnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, PVMBG, TNBTS, dan pemangku kepentingan lainnya telah merekomendasikan beberapa hal terkait status Gunung Bromo dan pelaksanaan upacara Kasada.

Rekomendasi tersebut antara lain warga Tengger dan seluruh pengunjung dilarang memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif Gunung Bromo. Lalu, kunjungan wisatawan hanya boleh sampai patok batas yang telah dibuat oleh TNBTS. Kegiatan lontar persembahan pun hanya boleh dilakukan oleh orang tertentu saja dan penentuan pelakunya ditentukan dalam rapat koordinasi oleh ketua adat Desa Wonokitri dan Desa Ngadisari.

“Terakhir, harus dilakukan patroli 24 jam di lautan pasir Bromo sebelum ritual Kasada dimulai,” kata Sutopo.

BACA JUGA: Berburu dengan Waktu Selamatkan Danau Ranu Pane

Sebagai informasi, pembatasan jarak pengunjung tersebut dilakukan berdasarkan penetapan status Waspada Gunung Bromo dan juga rekomendasi dari Pusat Vulkanologi, Mitigasi, Bencana dan Geologi (PVMBG) Bandung dengan jarak terdekat dari bibir kawah yaitu dalam radius 1 kilometer.

Pelaksanaan Kasada nantinya juga akan disesuaikan dengan kesepakatan bersama antara TNBTS, PVMBG, pemerintah daerah setempat dan pemangku kepentingan lainnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/gunung-bromo-waspada-masyarakat-tengger-tetap-gelar-upacara-kasada/feed/ 0
Operasi Pencarian Pendaki Asal Swiss di Semeru Diperluas https://www.greeners.co/berita/operasi-pencarian-pendaki-asal-swiss-semeru-diperluas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=operasi-pencarian-pendaki-asal-swiss-semeru-diperluas https://www.greeners.co/berita/operasi-pencarian-pendaki-asal-swiss-semeru-diperluas/#respond Tue, 14 Jun 2016 05:11:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13968 Tim Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue) memperluas orientasi pencarian pendaki asal Swiss, Lionel Du Creaux yang dilaporkan hilang ke Pos Ranupane 7 Juni 2016. ]]>

MALANG (Greeners) – Tim Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue) memperluas orientasi pencarian pendaki asal Swiss, Lionel Du Creaux yang dilaporkan hilang ke Pos Ranupane 7 Juni 2016. Du Creaux sebelumnya mendaki bersama rekannya Alice pada 3 Juni 2016. Mereka terpisah dan Alice ditemukan guide di kawasan Arcopodo setelah bermalam dua hari dua malam.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) John Kennedie menginformasikan, berdasarkan laporan terakhir yang masuk pada Senin, 13 Juni 2016, tim SAR gabungan masih belum menemukan Du Creaux hingga saat ini. Sekitar 80 personel sudah dikerahkan menyisir ke berbagai titik sejak 8 Juni 2016.

Informasi yang diterima John Kennedie, operasi SAR pada Senin, 13 Juni 2016, OSC (On Scene Commander) Kalimati yang sejak awal terbagi menjadi tiga SRU (Search and Rescue Unit) memperlebar orientasi pencarian. SRU 1 dan 2 menyisir ke areal bawah Sumber Mani. Sedangkan SRU 3 ke arah Blank kiri Arcopodo. Masing-masing memperluas areal penyisiran.

“OSC Tawon Songo yang terbagi menjadi enam SRU juga terus bergerak menyisir kawasan yang sebelumnya ditemukan petunjuk-petunjuk,” ujarnya, Senin (13/06/2016).

BACA JUGA: Mendaki ke Semeru Tanpa Izin, Warga Swiss Belum Kembali

OSC Tawon Songo, SRU 1 dan 2 memperlebar areal pencarian di Gunung Boto ke arah Air Terjun Punuk dan Tempuk. Sedangkan SRU 3 (fliying camp di Gunung Pakis) menyisir ke Ranu Pakis dengan radius 2 kilometer ke kanan dan ke kiri. Sementara SRU 6 menyisir dari Wonorenggo (Candipuro) ke arah Gunung Papak, sedangkan SRU 4 dan 5 dalam posisi standby.

Sejak Open SAR digelar 9 Juni 2016, beberapa petunjuk ditemukan oleh kedua OSC. Petunjuk yang diduga kuat mengarah kepada keberadaan Du Creaux berada di jalur penyisiran OSC Tawon Songo. Baik berupa jejak kaki, patahan ranting, sobekan raincoat, dan tambatan tali.

Dari laporan yang diterima TNBTS, berikut laporan operasi SAR dua hari lalu. Pada 11 juni 2016, tim potensi SAR yang melakukan kegiatan SAR berjumlah 75 personel. Untuk OSC Kalimati terbagi menjadi 3 tim SRU. Pada hari itu, ketiga SRU bersama-sama ke puncak Mahameru lalu menyebar menjadi tiga SRU.

SRU 1 puncak menyisir ke arah Arcopodo dan sekitarnya, SRU 2 puncak ke batas vegetasi dan sekitarnya, dan SRU 3 puncak ke Sumber Mani. Dari penyisiran ketiga SRU ini hasilnya nihil, namun tim menemukan beberapa jejak sepatu, sol sepatu, tisu, kacamata, dan daypack. Setelah dikonfirmasi ke Alice, rekan Du Creaux yang turut mendaki bersama pada 3 Juni lalu, diakui berkas-berkas tersebut milik Du Creaux saat di puncak.

BACA JUGA: Penyisiran Pendaki Asal Swiss yang Hilang di Semeru Dibagi Dua

Sementara itu, OSC Tawon Songo terbagi menjadi 4 SRU. SRU 1 dan 2 menyisir dari bawah (Pos Aru) menuju Pal A dan B areal Gunung Boto, di sini posisi jejak ditemukan dan hilang. Pencarian kemudian diperlebar areal orientasinya.

SRU 3 fliying camp di bawah Blank Merah menyisir ke arah kiri saat ada jejak ditemukan mendekati areal Gunung Boto. SRU 4 menyisir dari bawah Sumberringin ke atas menuju Gunung Tompe (mengikuti aliran sungai). Hasil kegiatan SRU Tawon Songo juga nihil. Penemuan berupa jejak dan patahan ranting tetapi rata-rata hilang di seputaran blank/jurang, ada penemuan potongan/sobekan bagian bawah raincoat warna biru-hitam, setelah dikonfirmasi ke Alice ternyata bukan milik Du Creaux.

Operasi SAR pada Minggu, 12 Juni 2016, pergerakan SAR melalui OSC Kalimati sebanyak 3 tim SRU kembali menyapu dari arah atas puncak, menyebar ke batas vegetasi, Arcopodo dan Sumber Mani. Meski masing-masing SRU memperlebar orientasi 1 kilometer hasilnya masih nihil.

Di hari yang sama, pergerakan OSC Tawon Songo bertambah menjadi 6 SRU dari sebelumnya berjumlah empat. SRU 1 dan 2 menyisir areal Gunung Boto dan menemukan jejak dan patahan ranting. Setelah diorientasi 300 meter kanan dan kiri hasilnya nihil.

SRU 3 fokus penyisiran areal Besuk Tompe sampai Ranu Kuning dengan hasil nihil. SRU 4 menyisir ke arah barat Watu Klosot sampai Keting juga hasilnya nihil. SRU 5 menyisir sungai ke arah air terjun Watu Jaran sejauh 5 kilometer dengan orientasi 100 meter kanan-kiri tetapi hasilnya juga nihil. SRU 6 menyisir dari Sumber Ringin sampai mendekati Gunung Tompe sejauh 5 kilometer tetapi hasilnya nihil.

Petunjuk terakhir yang ditemukan tim berupa sobekan kain kanfas/polar sekitar jurang deket Gunung Boto. Dari petunjuk ini, tim SAR hari ini kembali menyisir dengan melebarkan areal penyisiran terutama dari OSC Tawon Songo.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/operasi-pencarian-pendaki-asal-swiss-semeru-diperluas/feed/ 0
Penyisiran Pendaki Asal Swiss yang Hilang di Semeru Dibagi Dua https://www.greeners.co/berita/penyisiran-pendaki-asal-swiss-hilang-semeru-dibagi-dua/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penyisiran-pendaki-asal-swiss-hilang-semeru-dibagi-dua https://www.greeners.co/berita/penyisiran-pendaki-asal-swiss-hilang-semeru-dibagi-dua/#respond Sun, 12 Jun 2016 10:19:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13947 Tim Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue) gabungan terus menyisir lereng-lereng Gunung Semeru untuk mencari Lionel Du Creaux (26), seorang pendaki asal Swiss yang dilaporkan hilang sejak 7 Juni 2016.]]>

Malang (Greeners) – Tim Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue) gabungan terus menyisir lereng-lereng Gunung Semeru untuk mencari Lionel Du Creaux (26), seorang pendaki asal Swiss yang dilaporkan hilang sejak 7 Juni 2016.

Du Creaux mendaki ke Semeru sejak 3 Juni 2016 bersama rekannya Alice Guignard. Namun, saat mendaki puncak Mahameru, Alice memutuskan kembali setelah sampai di Watugede karena tidak kuat. Sedangkan Du Creaux tetap melanjutkan ke puncak dan belum kembali hingga kini.

Sejak pencarian terbuka atau Open SAR digelar pada 9 Juni 2016, tim yang menyisir dari Kalimati dan Tawonsongo belum menemukan keberadaan Du Creaux. Sejumlah jejak kaki dan tambatan tali sempat ditemukan pada tanggal 10 Juni 2016.

BACA JUGA: Mendaki ke Semeru Tanpa Izin, Warga Swiss Belum Kembali

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Balai Besar TNBTS Budi Mulyanto menambahkan, fokus pencarian Lionel Du Creaux terbagi menjadi dua. Selain itu, tim yang menyisir dari Pos Kalimati dibagi lagi menjadi tiga tim.

“Mereka menyisir di tiga lokasi, Arcopodo dan sekitarnya, Watugede, dan Sumbermani,” kata Budi, Minggu (12/6/2016) pagi.

Sementara tim yang dari Tawonsongo menyisir kea rah Blank 75, Patok A dan Patok B, serta sekitar Gunung Boto yang sebelumnya menjadi lokasi ditemukannya dua pendaki asal Cirebon hilang akhir Mei lalu.

Budi menegaskan, Open SAR akan dilakukan selama 7 hari sesuai SOP. Open SAR bisa diperpanjang dengan segala sesuatunya ditanggung oleh keluarga atau pihak luar. Sejauh ini, kata Budi, pihak TNBTS sudah berkomunikasi dengan Kedutaan Swiss. “Prinsip mereka merespons positif dan siap mendukung pencarian,” ujar Budi.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari akun resmi Basarnas Pos Jember, @POSSARJEMBER, diinformasikan pada pukul 04.30 WIB pagi tadi, Posko Tawonsongo telah memberangkatkan 19 personel dan 2 porter untuk bergabung dengan SRU yang sudah terlebih dulu di ARU.

BACA JUGA: Dua Pendaki Asal Cirebon yang Hilang di Semeru Ditemukan Tim SAR Gabungan

Sebagai informasi, Lionel Du Creaux mendaki ke puncak Mahameru pada 3 Juni 2016 dan hingga kini belum ditemukan. Ia dilaporkan hilang di Semeru sejak 7 Juni 2016 oleh rekannya bernama Alice. Alice sendiri tersesat setelah memutuskan kembali ke Kalimati karena tidak kuat mendaki puncak. Ia tersesat di kawasan Arcopodo selama dua hari dua malam sebelum ditemukan salah seorang guide.

Pada 8 Juni 2016 pagi diberangkatkan tim advance sebanyak 20 orang (porter, Saver, Gimbal Alas, dan potensi SAR lainnya) untuk melakukan SAR awal di titik-titik yang diidentifikasi menjadi lokasi hilangnya pendaki asal Swiss tersebut. Dengan hasil nihil, Open SAR digelar sejak 9 Juni 2016 dan hingga kini sudah ada sekitar 80 personel dikerahkan mencari keberadaan Du Creaux.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/penyisiran-pendaki-asal-swiss-hilang-semeru-dibagi-dua/feed/ 0
Dua Pendaki Asal Cirebon yang Hilang di Semeru Ditemukan Tim SAR Gabungan https://www.greeners.co/berita/dua-pendaki-asal-cirebon-hilang-semeru-ditemukan-tim-sar-gabungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-pendaki-asal-cirebon-hilang-semeru-ditemukan-tim-sar-gabungan https://www.greeners.co/berita/dua-pendaki-asal-cirebon-hilang-semeru-ditemukan-tim-sar-gabungan/#respond Wed, 25 May 2016 09:47:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13774 Tim Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue/SAR) gabungan berhasil menemukan dua pendaki asal Cirebon yang dilaporkan hilang di kawasan Gunung Semeru sejak 20 Mei 2016.]]>

Malang (Greeners) – Tim Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue/SAR) gabungan berhasil menemukan dua pendaki asal Cirebon yang dilaporkan hilang di kawasan Gunung Semeru sejak 20 Mei 2016.

Dua pendaki tersebut, Supriadi dan Zirli Gita Ayu Saditri, ditemukan tim SAR pada Selasa, 24 Mei 2016 sekitar pukul 16.05 WIB. Mereka ditemukan di kawasan Gunung Boto, Tawonsongo, Pasrujambe, Lumajang, Jawa Timur.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Lumajang, Hendro Wahyono membenarkan kabar ini. Mereka ditemukan dalam kondisi selamat meski fisik kedua penyintas tersebut lemas.

“Kondisinya lemas tapi masih bisa berjalan,” kata Hendro Wahyono, Selasa (24/5/2016) sore.

Tim SAR mengevakuasi keduanya menuju Puskesmas terdekat setelah mendapatkan pertolongan pertama dan memberikan asupan makanan dan minuman. Diperkirakan membutuhkan waktu 4-5 jam dari lokasi ditemukannya dua penyintas menuju pos SAR di Pasrujambe.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, John Kennedie juga membenarkan informasi ini. “Alhamdulilah, sudah ditemukan,” katanya.

BACA JUGA: Pencarian Dua Pendaki yang Hilang di Gunung Semeru Terus Dilakukan

Seperti diketahui, Supriadi (26), alamat Blok 4 Tegal Lempuyangan Lor, Tegal Gubug, Cirebon, dan Zirli Gita Ayu Safitri (16), pelajar, warga Desa Bojong Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, dilaporkan hilang saat mendaki Mahameru.

Keduanya diketahui terakhir menuju puncak Mahameru pada tanggal 19 Mei 2016, namun tidak kunjung kembali meski ditunggu dua rekannya di Watugede atau jalur terjal menuju puncak di zona berpasir sebelum puncak.

Pihak TNBTS memutuskan pendakian ke Gunung Semeru dinyatakan tertutup untuk umum dan dinyatakan Open SAR untuk mencari Supriadi dan Zirli, sejak 21 Mei pukul 20.00 WIB.

John Kennedie menegaskan, sesuai dengan rekomendasi PVMBG, pendakian Gunung Semeru hanya diperkenankan sampai Kalimati.

Para pendaki, katanya, juga sudah menandatangani surat pernyataan di atas materai untuk mendaki hanya sampai Kalimati. Meski demikian, rata-rata para pendaki yang menuju Kalimati sebagian besar melanggar surat pernyataan ini dan menuju puncak Mahameru.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/dua-pendaki-asal-cirebon-hilang-semeru-ditemukan-tim-sar-gabungan/feed/ 0
Pencarian Dua Pendaki yang Hilang di Gunung Semeru Terus Dilakukan https://www.greeners.co/berita/pencarian-dua-pendaki-hilang-gunung-semeru-terus-dilakukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pencarian-dua-pendaki-hilang-gunung-semeru-terus-dilakukan https://www.greeners.co/berita/pencarian-dua-pendaki-hilang-gunung-semeru-terus-dilakukan/#respond Tue, 24 May 2016 14:37:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13766 Tim Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue) gabungan terus mencari keberadaan dua pendaki asal Cirebon yang tersesat di kawasan Gunung Semeru. Hingga Selasa (24/05/2016) pagi, tim masih belum menemukan keberadaan mereka.]]>

Malang (Greeners) – Tim Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue) gabungan terus mencari keberadaan dua pendaki asal Cirebon yang tersesat di kawasan Gunung Semeru. Hingga Selasa (24/05/2016) pagi, tim masih belum menemukan keberadaan mereka.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, John Kennedie menginformasikan, hasil pencarian tim gabungan sejak dilaporkan tanggal 20 Mei 2016 masih nihil. “Masih nihil, mohon doanya,” ujar John Kennedie, Selasa (24/5) pagi.

Kabid Pencehan dan Kesiapsiagan BPBD Lumajang Hendro Wahyono juga menyatakan hal yang sama. Pihaknya belum memeroleh informasi bahwa kedua pendaki ditemukan. “Belum ada informasi ditemukan,” kata Hendro.

Seperti diketahui, Supriadi (26), alamat Blok 4 Tegal Lempuyangan Lor, Tegal Gubug, Cirebon, dan Zirli Gita Ayu Safitri (16), pelajar, warga Desa Bojong Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, dilaporkan hilang saat mendaki Mahameru.

Keduanya diketahui terakhir menuju puncak Mahameru pada tanggal 19 Mei 2016, namun tidak kunjung kembali meski ditunggu dua rekannya di Watugede atau jalur terjal menuju puncak di zona berpasir sebelum puncak.

BACA JUGA: Naik ke Mahameru, Dua Pendaki Asal Cirebon Dilaporkan Hilang

Sebanyak 50 personel telah dikerahkan untuk menyisir tiga titik yaitu kawasan Watugede, Jurang Blank 75, dan area Sumber Mani. Namun, hingga kini belum ditemukan keberadaan keduanya.

Sejak Sabtu (21/05) pukul 20.00 WIB, pihak TNBTS memutuskan jalur pendakian ditutup total sementara sampai batas waktu yang belum ditentukan untuk kepentingan pencarian dua pendaki ini. Ratusan pendaki yang akan mendaki Gunung Semeru terpaksa menunda pendakian dan pendaki yang sudah berada di gunung diminta untuk turun.

John Kennedie menegaskan, sesuai dengan rekomendasi PVMBG, pendakian Gunung Semeru hanya diperkenankan sampai Kalimati. Para pendaki, katanya, juga sudah menandatangani surat pernyataan di atas materai untuk mendaki hanya sampai Kalimati. Meski demikian, rata-rata para pendaki yang menuju Kalimati sebagian besar melanggar surat pernyataan ini dan menuju puncak Mahameru.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/pencarian-dua-pendaki-hilang-gunung-semeru-terus-dilakukan/feed/ 0
Naik ke Mahameru, Dua Pendaki Asal Cirebon Dilaporkan Hilang https://www.greeners.co/berita/naik-mahameru-dua-pendaki-asal-cirebon-dilaporkan-hilang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=naik-mahameru-dua-pendaki-asal-cirebon-dilaporkan-hilang https://www.greeners.co/berita/naik-mahameru-dua-pendaki-asal-cirebon-dilaporkan-hilang/#respond Sun, 22 May 2016 13:10:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13738 Dua pendaki asal Cirebon dilaporkan hilang dalam pendakian di Gunung Semeru. Kejadian ini dilaporkan ke Kantor Resort Ranupani, Jumat, 20 Mei 2016 sekitar pukul 20.00 WIB. Atas kejadian ini pihak TNBTS memutuskan pendakian ke Gunung Semeru dinyatakan tertutup untuk umum.]]>

Malang (Greeners) – Dua pendaki asal Cirebon dilaporkan hilang dalam pendakian di Gunung Semeru. Kejadian ini dilaporkan ke Kantor Resort Ranupani, Jumat, 20 Mei 2016 sekitar pukul 20.00 WIB. Dua pendaki tersebut atas nama Supriadi (26), dengan alamat blok 4 Tegal Lempuyangan Lor, Tegal Gubug, Cirebon, dan Zirli Gita Ayu Savitri (16), Pelajar, warga Desa Bojong Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru John Kennedie membenarkan laporan adanya dua pendaki yang hilang. Usai mendapat laporan, petugas langsung memberangkatkan tim Advance untuk melakukan pencarian selama 1x 24 jam. Namun, pencarian tidak membuahkan hasil alias nihil.

“Untuk memudahkan pencarian, pendakian ke Semeru ditutup sementara hingga ditemukan,” kata John, Sabtu (21/5/2016).

John juga menyatakan mulai Sabtu malam telah disiapkan operasi Search and Rescue (SAR) dengan melibatkan semua potensi SAR yang ada dalam upaya pencarian dua pendaki tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, dua pendaki dilaporkan hilang di kawasan puncak Mahameru. Dua pendaki ini berangkat dalam rombongan beranggotakan enam orang. Dari enam pendaki, hanya dua pendaki ini yang berangkat ke puncak Mahameru.

Awalnya, Supriadi dan Zirli berangkat bersama empat orang lainnya dengan ketua rombongan bernama Sukron. Mereka berangkat menuju Ranukumbolo pada tanggal 17 Mei 2016. Esok harinya, tanggal 18 Mei 2016, rombongan berangkat menuju Kalimati.

Tanggal 19 Mei 2016, rombongan berangkat dari Kalimati menuju puncak Mahameru. Namun, sesampai di batas vegetasi terakhir, dua orang memutuskan kembali ke Kalimati karena sakit. Sedangkan empat orang lainnya melanjutkan perjalanan ke puncak.

BACA JUGA: Pencarian Dua Pendaki yang Hilang di Gunung Semeru Terus Dilakukan

Sekitar pukul 08.00 WIB, empat orang ini tiba di Watugede dan berhenti untuk istirahat. Namun, dua orang berhenti di Watugedhe karena ada yang sakit dan dua orang lainnya yakni Supriadi dan Zirli Gita Ayu Savitri melanjutkan perjalanan ke puncak.

Sukron dan temannya menunggu Supriadi dan Zirli di Watugede hingga pukul 14.00 WIB, namun kedua pendaki tersebut tidak kunjung turun. Sukron dan temannya memutuskan turun ke Kalimati.

Sesampai di Kalimati, rombongan menemui Sukaryo (Saver Semeru) dan melaporkan hilangnya dua teman mereka. Kemudian tanggal 20 Mei pukul 06.00 WIB, Sukaryo dan teman-temannya melakukan pencarian di puncak Mahameru, namun tidak ditemukan keberadaan dua pendaki tersebut.

Pukul 20.00 WIB, teman dari dua pendaki tersebut melaporkan secara resmi ke Kantor Resort Ranupani. Kepala Resort Ranupani kemudian memberangkatkan tim Advance untuk melakukan pencarian selama 1x 24 jam dengan hasil nihil.

Pihak TNBTS memutuskan pendakian ke Gunung Semeru dinyatakan tertutup untuk umum dan dinyatakan Open SAR untuk pencarian dua pendaki yang hilang sejak 21 Mei, pukul 20.00 WIB.

Saat ini, petugas gabungan di Ranupani sedang melakukan persiapan untuk pelaksanaan Open SAR, sedangkan petugas yang sudah diterjunkan untuk melakukan pencarian berjumlah 20 orang.

John Kennedie menegaskan, sesuai dengan rekomendasi PVMBG, pendakian Gunung Semeru hanya diperkenankan sampai Kalimati. Para pendaki, katanya, juga sudah menandatangani surat pernyataan di atas materai untuk mendaki hanya sampai Kalimati.

Meski demikian, rata-rata para pendaki yang menuju Kalimati sebagian besar melanggar surat pernyataan ini dan menuju puncak Mahameru.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/naik-mahameru-dua-pendaki-asal-cirebon-dilaporkan-hilang/feed/ 0
Pembukaan Jalur Pendakian Semeru Dipadati 839 Pendaki https://www.greeners.co/berita/pembukaan-jalur-pendakian-semeru-dipadati-839-pendaki/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pembukaan-jalur-pendakian-semeru-dipadati-839-pendaki https://www.greeners.co/berita/pembukaan-jalur-pendakian-semeru-dipadati-839-pendaki/#respond Tue, 03 May 2016 05:16:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13609 Berdasarkan catatan dari resort Ranu Pani, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), jumlah pendaki per tanggal satu dan dua Mei 2016 setelah jalur pendakian dibuka mencapai 839 orang pendaki.]]>

Lumajang (Greeners) – Jalur pendakian Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dengan Malang, Jawa Timur telah dibuka pada 1 Mei 2016 lalu. Berdasarkan catatan dari resort Ranu Pani, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), jumlah pendaki per tanggal satu dan dua Mei 2016 setelah jalur pendakian dibuka mencapai 839 orang pendaki.

Rizki Ardiansyah dari Sahabat Volunteer Semeru (Saver) mengatakan, dari 839 pendaki tersebut, tercatat ada 36 orang Warga Negara Asing (WNA) dan sisanya adalah pendaki dari berbagai daerah di dalam negeri. Namun, pembukaan kembali jalur pendakian Semeru kali ini ternyata tidak berjalan terlalu mulus.

Saat ini, kata pria yang akrab disapa Cak Kid, sistem pembelian tiket masuk, pemeriksaan barang, dan pengarahan kepada pendaki telah diubah. Berdasarkan angket yang disebar kepada pendaki oleh komunitas Saver per tanggal satu sejak jalur pendakian dibuka, ternyata banyak pendaki yang mengeluhkan sistem baru tersebut.

“Kalau sebelumnya, pendaki dari Tumpang (Malang) langsung ke pos Ranu Pani, lalu ada pemeriksaan barang dan pengarahan kepada para pendaki. Setelah selesai, tiketnya kita stempel lalu mereka bisa langsung naik,” ujar Cak Kid saat disambangi oleh Greeners di kantornya, Lumajang, Selasa (03/04).

Rizki Ardiansyah, Humas Sahabat Volunteer Semeru (Saver). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Rizki Ardiansyah, Humas Sahabat Volunteer Semeru (Saver). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Mengenai sistem yang baru diterapkan tersebut, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) John Kennedie menjelaskan, pembukaan pembelian tiket memang dibagi di beberapa pos yaitu di Balai TNBTS, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah 2 Tumpang, dan Resort Ranu Pani. Hal ini untuk memudahkan pendaki dan pengendalian petugas agar tidak menumpuk di satu titik pos Ranu Pani saja.

Untuk pos di Balai TNBTS dan SPTN wilayah 2 Tumpang, lanjut John, adalah untuk membantu pembelian tiket online dan pembelian langsung pendaki dari arah Malang dan sekitarnya. Di dua pos tersebut dilakukan pengecekan cepat (kelengkapan persyaratan administrasi) yang selanjutnya di arahkan ke pos Ranu Pani untuk dilakukan pengecekan lengkap (perlengkapan lapangan dan barang bawaan) sekaligus pengarahan pendakian. “Pelayanannya itu di mulai dari jam 7.30 sampai dengan 16.00 WIB,” imbuhnya.

Khusus pos Resort Ranu Pani, melayani tiket online maupun pembelian tiket langsung dari arah Lumajang dan beberapa tempat yang belum terlayani proses tiketnya, sekaligus pengecekan lengkap (kelengkapan administrasi, kelengkapan lapangan dan bawaan) dan memberikan pengarahan pendakian.

“Pelayanannya juga sama mulai pukul 7.30 sampai dengan 16.00 WIB. Mengingat ini sistem baru, nanti sambil berjalan akan dievaluasi secara berkala,” tegas John.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pembukaan-jalur-pendakian-semeru-dipadati-839-pendaki/feed/ 0
Berburu dengan Waktu Selamatkan Danau Ranu Pane https://www.greeners.co/berita/berburu-dengan-waktu-selamatkan-danau-ranu-pane/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=berburu-dengan-waktu-selamatkan-danau-ranu-pane https://www.greeners.co/berita/berburu-dengan-waktu-selamatkan-danau-ranu-pane/#respond Sun, 01 May 2016 05:40:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13594 Di sela-sela tanaman invasi jenis Salvinia molesta terselip beberapa sampah. Sedimentasi yang melaju cepat setiap musim hujan juga menambah percepatan pendangkalan Danau Ranu Pane yang menjadi saksi banyak pecinta alam dan seniman ini.]]>

Malang (Greeners) – Sebaran tanaman invasi jenis Salvinia molesta terserak di tepian Danau Ranu Pane yang berada di kaki Gunung Semeru. Di sela-sela tanaman yang entah berasal dari mana ini juga terselip beberapa sampah. Di tepian danau yang mendangkal ini juga terlihat banyak sampah plastik dan botol air mineral berserakan. Sedimentasi yang melaju cepat setiap musim hujan juga menambah percepatan pendangkalan danau yang menjadi saksi banyak pecinta alam dan seniman ini.

Berada di Desa Ranu Pane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, danau yang diperkirakan seluas 1 hektare ini kian hari semakin menyusut seiring pendangkalan yang terjadi. Upaya penyelamatan atau restorasi juga telah dilakukan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan berbagai komunitas beberapa tahun lalu.

Namun, persoalan sampah masih menjadi yang utama, sedimentasi juga tak kunjung berkurang. Bahkan, petani tetap menggarap lahannya seperti mengeksploitasi habis-habisan lahan mereka, tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya.

Salah satu petani Desa Ranu Pane, Sukodono, mengaku kalau persoalan mengubah pola pertanian warga Ranu Pane sudah beberapa kali dicoba, namun warga rata-rata ada yang mau dan ada yang tidak. Ia sendiri sepakat kalau model pertanian dibuat terasering untuk mengurangi sedimentasi yang berdampak pada pendangkalan Danau Ranu Pane. “Saya sebagai petani di sini setuju sekali kalau dibuat terasering,” kata Sukodono kepada Greeners, Sabtu (30/04) di sela-sela pembukaan Jambore Sapu Gunung.

Ia menilai, kalau mengandalkan masyarakat saja untuk mengubah pola pertanian yang sudah dilakukan sejak lama akan sulit kalau tidak dibarengi dan didukung oleh pihak-pihak terkait. Misalnya, kata Sukodono, untuk mendukung pembuatan terasering harus ada tanaman penahan seperti rumput gajah. “Nah, kalau warga tidak punya hewan ternak, rumput gajah tidak bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Ia sendiri mengaku kecewa melihat kondisi Danau Ranu Pane yang mengalami pendangkalan cukup parah dan persoalan sampah. Ia mencoba membandingkan Danau Ranu Pane yang dulu dan sekarang. Banyak satwa dan tanaman yang berkurang, burung-burung endemik Ranu Pane sudah jarang bermunculan. “Bahkan, di tahun 1970-an warga memanfaatkan air danau untuk memasak dan kebutuhan air bersih. Sekarang tidak bisa karena airnya kotor dan bercampur limbah pupuk,” katanya.

Bupati Lumajang, As’at menjelaskan, untuk persoalan sampah, dinas terkait sudah memulai untuk memanfaatkan sampah dari para pendaki dengan dipilah-pilah lalu dijual. “Memang tidak diolah di sini. Tapi sekarang akan dicoba untuk diolah di sini dengan adanya Bank Sampah yang baru di launching,” ujar Bupati As’at.

Bupati As’at juga meminta kepada para pengunjung untuk peduli terhadap kelestarian Ranu Pane dan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan membawa sampah turun kembali dan tidak ditinggalkan di atas. “Perlu kerjasama dari semua pihak,” katanya menegaskan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan, ada 50 taman nasional di Indonesia yang mengalami persoalan hampir sama, seperti sampah. Namun, masih 10 taman nasional yang diprioritaskan dari kondisi darurat sampah.

Persoalan sampah sebenarnya pada bagaimana mengubah perilaku pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan di kawasan taman nasional dan wisata alam lainnya. “Ini perlu edukasi dan pengawasan,” ujarnya.

Untuk persoalan Danau Ranu Pane yang ‘diserang’ tanaman invasif dan ancaman pendangkalan, pihaknya akan berupaya mengajak lembaga terkait terutama PU dalam hal mengambil kembali tanah yang masuk ke danau agar bisa terlihat seperti dulu. “Setelah dikeruk bisa menampung air yang lebih banyak,” ujarnya.

Tidak hanya itu, edukasi kepada petani terkait pola pertanian juga penting agar tanah dari ladang tidak masuk ke kawasan danau dengan membuat pola pertanian terasering. “Kalau dibiarkan, bisa hilang danau ini,” kata Tuti.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/berburu-dengan-waktu-selamatkan-danau-ranu-pane/feed/ 0
TNBTS Buka Taman Edukasi Edelweis https://www.greeners.co/berita/tnbts-buka-taman-edukasi-edelweis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tnbts-buka-taman-edukasi-edelweis https://www.greeners.co/berita/tnbts-buka-taman-edukasi-edelweis/#respond Mon, 28 Mar 2016 09:35:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13295 Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hari ini meresmikan taman edukasi edelweis di kawasan Penanjakan. Taman edukasi ini diharapkan bisa menjadi salah satu usaha konservasi tanaman yang semakin jarang dijumpai.]]>

Malang (Greeners) – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hari ini meresmikan taman edukasi edelweis di kawasan Penanjakan. Taman edukasi ini diharapkan bisa menjadi salah satu usaha konservasi tanaman yang semakin jarang dijumpai.

Kepala Balai Besar TNBTS, Ayu Dewi Utari mengatakan, taman ini dibangun sejak Januari 2016 di lahan sekitar 100 hektare. Taman edelweis ini berada di kawasan Gunung Penanjakan di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dan Gunung Argowulan di Desa Ngadisari, Kecamatan Sekarpura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

“Hari ini diresmikan Menteri LHK Siti Nurbaya,” kata Ayu Dewi Utari, Senin (28/3/2016).

Foto: dok. TNBTS

Foto: dok. TNBTS

Selain meresmikan taman edukasi edelweis, Menteri Siti Nurbaya juga memberikan bibit kepada para siswa Sekolah Dasar Negeri di Desa Ngadisari. Setelah itu dilanjutkan dengan penanaman edelweis di halaman Musala Bank Syariah Mandiri di Penanjakan.

Siti Nurbaya mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu kampanye pelestarian ekosistem melalui pemberdayaan masyarakat dengan mengedepankan kearifan lokal masyarakat Tengger. Usai dari TNBTS, Menteri Siti Nurbaya juga bakal mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran.

“Kelestarian kawasan ekosistem TNBTS harus dijaga dengan mengharmonisasikan kepentingan konservasi ekosistem, ekowisata dan pemberdayaan masyarakat,” kata Siti Nurbaya berpesan.

Sementara itu, menurut Ayu, keberadaan edelweis (Anaphalis javanica) di kawasan TNBTS terancam punah. Selain disebabkan ulah manusia, juga faktor perubahan cuaca yang ekstrem.

Ia menyontohkan, perburuan edelweis untuk dijual kembali menambah ancaman serius bagi tanaman yang tumbuh di pegunungan ini. Tidak sedikit, pengunjung atau pendaki yang memetik bunga tersebut untuk kenang-kenangan atau hiasan di rumah.

“Banyak pengunjung atau pendami yang belum sepenuhnya sadar, padahal mereka bisa menikmatinya di alam tanpa harus membawanya pulang,” kata Ayu.

Edelweis tumbuh liar di kawasan TNBTS dan berada di kawasan pendakian menuju Gunung Semeru. Meski petugas rutin patroli dan rajin mengingatkan pengunjung, namun masih ada saja yang pulang membawa tanaman yang hanya tumbuh di pegunungan ini.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/tnbts-buka-taman-edukasi-edelweis/feed/ 0
Libur Panjang, Sampah Pendaki Semeru Capai Tiga Truk https://www.greeners.co/berita/libur-panjang-sampah-pendaki-semeru-capai-tiga-truk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=libur-panjang-sampah-pendaki-semeru-capai-tiga-truk https://www.greeners.co/berita/libur-panjang-sampah-pendaki-semeru-capai-tiga-truk/#comments Tue, 19 May 2015 04:33:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9135 Malang (Greeners) – Jalur pendakian ke Gunung Semeru resmi kembali dibuka per 1 Mei 2015. Antusiasme para pendaki dari dalam maupun luar negeri pun sangat banyak, tak terkecuali pada libur […]]]>

Malang (Greeners) – Jalur pendakian ke Gunung Semeru resmi kembali dibuka per 1 Mei 2015. Antusiasme para pendaki dari dalam maupun luar negeri pun sangat banyak, tak terkecuali pada libur panjang akhir pekan kemarin. Kuota pendaki 500 orang per hari yang ditetapkan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) sedikit bisa mengendalikan membludaknya pendaki di kawasan taman nasional ini. Namun, persoalan sampah masih menjadi kendala lain karena sampah terkumpul di Pos Ranupani pada akhir pekan kemarin mencapai tiga truk.

Kepala BB TNBTS, Ayu Dewi Utari mengatakan, pada libur akir pekan kemarin sampah dari para pendaki Semeru yang dikumpulkan di Pos Ranupani mencapai tiga truk. “Masing-masing truk terdapat sekitar 500 kilogram sampah,” kata Ayu Dwi Utari, Senin (18/05/2015).

Sampah para pendaki ini, kata Ayu, dibawa petugas turun menuju ke tempat pembuangan sampah yang ada di Malang. Sedangkan sampah yang bernilai komersil atau sampah botol plastik dan lainnya dikelola oleh Karang Taruna Desa Ranupani untuk dijual kembali. Banyaknya sampah ini karena kuota 500 orang pendaki sejak tanggal 14 -16 Mei penuh dengan asumsi 500 pendaki di Ranupani, 500 orang bermalam di Ranu Kumbolo atau Kali Mati dan 500 pendaki lainnya perjalanan turun ke Ranupani. Sehingga pada tiga hari itu ada 1.500 pendaki.

Pembatasan pendaki Semeru 500 orang per hari ini, kata Ayu, untuk menjaga kelestarian kawasan selain penutupan rutin yang biasanya dilakukan akhir tahun atau cuaca buruk untuk pemulihan ekosistem. Penambahan kuota biasanya dilakukan pada peringatan HUT Kemerdekaan di bulan Agustus menjadi 1.000 orang per hari karena jumlah pendaki lebih banyak dibanding hari libur umum. Mereka ingin merayakan Hari Kemerdekaan dengan mengadakan upacara bendera di Ranu Kumbolo, Kali Mati.

Animo pengunjung yang ingin mendaki ke Semeru memang semakin meningkat pada hari-hari libur. Kondisi ini juga menyebabkan perjalanan pendakian semakin lambat karena harus antri ketika menapaki jalur yang hanya bisa dilalui satu orang.

Hal ini diakui Bakhtiar, salah satu pendaki yang ditemui di Stasiun Kota Baru, Kota Malang, Jawa Timur. Pendaki asal Jawa Barat ini mengaku menempuh perjalanan dari Pos Ranu Pani ke Ranu Kumbolo selama 6 jam. “Seperti pasar malam, Mas. Jalan kami jadi pelan,” ujarnya.

Menurutnya, kepadatan pendaki terutama di jalur Ranupani menuju Ranu Kumbolo yang berada di ketinggian 2.390 mdpl. Biasanya, dari Pos Ranupani ke Ranu Kumbolo bisa ditempuh selama 3-4 jam saja. Kendati perjalanan semakin lama, namun mereka mengaku senang bisa mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa Ini.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/libur-panjang-sampah-pendaki-semeru-capai-tiga-truk/feed/ 1
Pengelolaan Taman Nasional di Indonesia Masih Belum Maksimal https://www.greeners.co/berita/pengelolaan-taman-nasional-di-indonesia-masih-belum-maksimal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengelolaan-taman-nasional-di-indonesia-masih-belum-maksimal https://www.greeners.co/berita/pengelolaan-taman-nasional-di-indonesia-masih-belum-maksimal/#respond Sun, 29 Mar 2015 00:30:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8331 Jakarta (Greeners) – Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Meski demikian, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Eka Soegiri mengakui secara teknis dan manajemen, pengelolaan taman nasional di Indonesia memang masih harus terus ditingkatkan agar dapat mencapai hasil yang lebih baik.

Ia mengungkapkan, peningkatan pengelolaan taman nasional diperlukan karena sering terjadinya gangguan di taman nasional, seperti adanya perambahan hutan, perburuan satwa langka, dan konflik dengan penduduk akibat adanya klaim bahwa lahan di dalam taman nasional adalah milik komunitas yang berada di sana.

“Hal lain adalah adanya pembangunan infrastruktur antara lain jalan, jembatan maupun instalasi lainnya yg masuk ke taman nasional. Ini tentu memerlukan kesepahaman semua pihak,” jelasnya saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Jumat (27/03).

Menurut Eka, perlu dibentuk task force atau tim gugus tugas yang berkaitan dengan klaim ataupun pengaduan masyarakat agar aduan bisa cepat ditangani dan diselesaikan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dengan mengedepankan aspek-aspek kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, dibutuhkan adanya upaya membangun model desa konservasi di luar taman nasional agar mereka (masyarakat di sekitar taman nasional) bisa merasakan manfaat dari taman nasional tanpa harus masuk dan mengganggu ekosistem yang ada.

“Upaya itu bisa dilihat di Sarongge di Taman Nasional Gede pangrango ataupun di desa desa sekitar Taman Nasional Komodo, maupun di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jendral Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan berpendapat lain. Kepada Greeners ia menyatakan bahwa jika dilihat secara umum, pengelolaan taman nasional di Indonesia masih jauh dari kata baik. Masih banyaknya kasus penebangan hutan dan konflik yang luar biasa yang terjadi pada masyarakat adat di wilayah Taman Nasional, menurutnya, memperlihatkan buruknya kualitas pemerintah dalam mengelola Taman Nasional.

Masyarakat adat, lanjutnya, saat ini masih menjadi korban dari pola represif yang dilakukan pemerintah, padahal pola tersebut menjadi sumber konflik antara pemerintah dan masyarakat adat. Abdon juga mengatakan bahwa selama ini masyarakat adat hanya menjadi penonton dalam upaya konservasi taman nasional.

“Sistem konservasi berbasis hak seharusnya menjadi prioritas. Tidak bisa masyarakat adat diusir seenaknya hanya karena fungsi taman nasional membuat mereka jadi tergusur,” tegasnya.

Menurut Abdon, taman nasional di seluruh Indonesia sebaiknya dirancang ulang atau dibangun kembali bersama masyarakat adat dan masyarakat lokal yang berada di dalam dan di sekitar taman nasional. Hal ini harus segera dilakukan untuk mengurangi konflik dan mengefektifkan manajemen kawasan yang sedang berjalan saat ini.

Sebagai informasi, Indonesia memiliki kawasan taman nasional yang jumlahnya 50 unit dengan luas diperkirakan mencapai 16.375.253,31 hektare. Selain taman nasional, Indonesia juga memiliki 535 unit kawasan konservasi, yaitu kawasan penyangga cagar alam (249 unit), taman wisata alam (124 unit), penyangga suaka margasatwa (77 unit), taman hutan raya (21 unit), dan taman buru (14 unit). Dari keseluruhan potensi tersebut, 81 persen berada di daratan dan sisanya, 19 persen, ada di perairan.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pengelolaan-taman-nasional-di-indonesia-masih-belum-maksimal/feed/ 0