Inovasi - Greeners.Co https://www.greeners.co/ide-inovasi/category/inovasi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 06 Apr 2026 09:03:48 +0000 id hourly 1 Peneliti BRIN Kembangkan Katalis Nanokarbon dari Limbah Baterai https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-kembangkan-katalis-nanokarbon-dari-limbah-baterai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-brin-kembangkan-katalis-nanokarbon-dari-limbah-baterai https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-kembangkan-katalis-nanokarbon-dari-limbah-baterai/#respond Mon, 06 Apr 2026 09:03:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48316 Jakarta (Greeners) – Seiring peralihan transportasi dari bahan bakar fosil ke energi listrik, tengah memunculkan tantangan baru, yakni meningkatnya limbah baterai yang berpotensi mencemari lingkungan. Di tangan seorang peneliti Badan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Seiring peralihan transportasi dari bahan bakar fosil ke energi listrik, tengah memunculkan tantangan baru, yakni meningkatnya limbah baterai yang berpotensi mencemari lingkungan. Di tangan seorang peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), limbah baterai tersebut berubah menjadi produksi hidrogen.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Katalisis BRIN, Indri Badria Adilina mengembangkan penelitiannya dengan memanfaatkan limbah baterai sebagai bahan dasar pembuatan katalis nanokarbon. Dalam inovasi ini, ia memanfaatkan kandungan karbon dari black mass baterai bekas sebagai katalis nanokarbon untuk produksi gas hidrogen dari air (electrocatalytic water splitting) sebagai bahan bakar alternatif.

Menurut Indri, karbon dari limbah baterai memiliki keunikan tersendiri. Setelah ia modifikasi, material ini memiliki konduktivitas listrik yang tinggi. Alhasil, mampu menghantarkan elektron secara efektif dalam proses elektrokatalitik untuk menghasilkan hidrogen.

“Di dalam limbah baterai terdapat material berbasis karbon yang berpotensi sebagai bahan baku katalis. Melalui modifikasi dengan pendekatan nanoteknologi, material ini dapat berkembang menjadi material maju berstruktur nano yang efektif untuk berbagai reaksi katalitik,” kata Indri melansir Berita BRIN, Senin (6/4).

Selain itu, katalis berbasis karbon dari limbah baterai ini juga memiliki luas permukaan yang besar serta struktur nano berpori. Ini sangat berperan dalam meningkatkan efisiensi transfer elektron dan mempercepat produksi hidrogen.

Carbon black mass atau karbon dari baterai bekas, mempunyai uniqueness yang setelah kami modifikasi bisa memiliki konduktivitas yang besar. Dengan demikian, mampu menghantarkan elektron untuk proses elektrokatalitik dalam proses water splitting menjadi hidrogen. Dalam proses elektrokatalitik ini, air dipecah menjadi hidrogen dan oksigen menggunakan katalis nanokarbon, sehingga menghasilkan green hydrogen sebagai alternatif biofuel hidrogen,” tambah Indri.

Katalis untuk Berbagai Bidang

Dalam riset tersebut, Indri menguji katalis berstruktur nano melalui analisis luas permukaan, morfologi, struktur, serta pori dan nanopori. Karakterisasi ini menggunakan teknik pencitraan seperti scanning electron microscopy (SEM) dan transmission electron microscopy (TEM).

Sementara, untuk analisis mendalam pada tingkat atomik dan molekuler dilakukan melalui karakterisasi lanjut berbasis fasilitas akselerator. Khususnya, sinkrotron sinar-X dan neutron scattering.

“Melalui karakterisasi lanjut, kita bisa melihat lebih dalam terkait struktur kimia dan pori dan nanokarbon ini sehingga mendapatkan katalis yang efektif, tanpa adanya structural changes atau perubahan-perubahan yang tidak diinginkan pada reaksi elektrokatalis ini,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengatakan bahwa saat ini lebih dari 90 persen industri membutuhkan katalis. Katalis di berbagai bidang bermanfaat untuk penelitian, seperti bidang kedokteran, tekstil, dan pangan. Menurutnya, katalis dapat dianalogikan sebagai “magic powder” karena mampu menurunkan energi aktivasi dalam suatu proses kimia. Tanpa kehadiran katalis, energi untuk menjalankan proses tersebut akan jauh lebih besar.

“Secara penelitian, katalis dapat menurunkan energi aktivasi 2-3 kali lipat dari proses-proses tanpa katalis.  Dengan menggunakan katalis nanokarbon ini dapat menurunkan energi aktivasi yang diperlukan dalam proses produksi hidrogen sebagai alternatif energi,” tambah Indri.

Dukung Ekonomi Sirkular

Indri mengungkapkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mendukung pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia. Selain itu, juga berkontribusi pada kemajuan teknologi hijau, baik di tingkat nasional maupun global.

Ia menjelaskan, inovasi ini tidak hanya berfokus pada upaya menekan potensi pencemaran. Namun, juga membuka peluang dalam pengembangan material katalitik yang lebih efisien dan berkelanjutan guna mendukung produksi kimia hijau.

Lebih lanjut, Indri menegaskan bahwa mewujudkan ekonomi sirkular di Indonesia tidak dapat dilakukan oleh periset saja. Perlu kolaborasi yang erat dengan sektor industri untuk bersama-sama mendorong pengembangan green and sustainable chemistry. Kolaborasi ini penting dalam mempercepat transformasi industri menuju arah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Ke depan, ia berharap dapat berperan dalam mengedukasi sektor industri sekaligus menjembatani kolaborasi antara industri dan para peneliti. Indri juga menyebutkan bahwa saat ini BRIN tengah mengembangkan sains berbasis teknologi canggih, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi akselerator.

Teknologi tersebut memungkinkan identifikasi dini terhadap berbagai fenomena, seperti deaktivasi katalis dan perubahan struktur nano pada katalis yang dapat menurunkan performanya. Dengan demikian, penggunaan teknologi ini berpotensi meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya dalam proses industri.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-kembangkan-katalis-nanokarbon-dari-limbah-baterai/feed/ 0
BRIN Temukan Metode Alternatif Pengolahan Air Limbah https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-temukan-metode-alternatif-pengolahan-air-limbah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-temukan-metode-alternatif-pengolahan-air-limbah https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-temukan-metode-alternatif-pengolahan-air-limbah/#respond Thu, 02 Apr 2026 12:45:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48292 Aktivitas industri kerap menghasilkan air limbah yang mengandung logam berat seperti tembaga. Untuk mengatasi hal tersebut, Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi […]]]>

Aktivitas industri kerap menghasilkan air limbah yang mengandung logam berat seperti tembaga. Untuk mengatasi hal tersebut, Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi guna membersihkan air limbah tercemar, khususnya tembaga (Cu²⁺).

Air limbah yang tercemar apabila tidak terolah dengan baik, zat ini akan mencemari lingkungan dan berdampak pada kesehatan manusia. Sebab, mengandung zat toksik dan sulit terurai secara alami. Menanggapi kondisi tersebut, BRIN mengembangkan teknologi dengan memanfaatkan karbon aktif yang dimodifikasi menggunakan iridiasi gamma dan bahan tambahan yang lebih ramah lingkungan.

Dalam pengembangan tersebut, karbon aktif yang umum digunakan sebagai penyaring air, ditingkatkan kemampuannya melalui proses modifikasi. Karbon aktif dicampur dengan surfaktan Methyl Ester Sulfonate (MES), yaitu bahan yang lebih mudah terurai dan berasal dari sumber yang lebih ramah lingkungan. Selanjutnya, material tersebut diproses menggunakan iradiasi gamma untuk memperbaiki struktur permukaan dan meningkatkan daya serapnya terhadap logam berat.

Hasilnya menunjukkan bahwa karbon aktif yang telah dimodifikasi mampu menyerap logam tembaga secara lebih cepat dan efektif dibandingkan karbon aktif biasa. Kondisi optimal dicapai pada waktu kontak 15 menit dengan dosis iradiasi gamma 10 kGy, dengan kapasitas adsorpsi yang lebih tinggi.

Dosen Poltek Nuklir, Dhita Ariyanti menjelaskan bahwa inovasi ini merupakan upaya untuk menghadirkan solusi praktis dalam pengolahan air limbah. Tim periset mengembangkan metode untuk meningkatkan kemampuan karbon aktif dalam menyerap logam berat. Hasilnya menunjukkan potensi yang baik untuk diterapkan dalam pengolahan air limbah, terutama karena prosesnya relatif cepat dan efisien.

“Namun demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi meningkatkan kinerja penyerapan limbah karbon aktif melalui inovasi teknologi radiasi,” ujar Dhita melansir Berita BRIN.

Dhita menambahkan bahwa penggunaan surfaktan MES menjadi keunggulan tersendiri karena lebih aman bagi lingkungan dibandingkan bahan kimia konvensional.

BRIN menemukan metode alternatif pengolahan air limbah. Foto: BRIN

BRIN menemukan metode alternatif pengolahan air limbah. Foto: BRIN

Tingkatkan Peforma Material

Sementara itu, dari sisi mekanisme, proses iradiasi gamma terbukti berperan dalam meningkatkan performa material. Dosen Poltek Nuklir, Deny Swantomo, menjelaskan bahwa iradiasi mampu mengubah struktur karbon aktif hingga tingkat mikro.

“Iradiasi gamma memungkinkan perubahan struktur material hingga tingkat mikro, sehingga karbon aktif memiliki lebih banyak ruang dan situs aktif untuk menangkap logam berat. Ini menunjukkan bahwa teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk mendukung solusi lingkungan,” ujarnya.

Selain meningkatkan efektivitas penyerapan, metode ini juga berpotensi menghemat waktu dalam proses pengolahan air. Hal ini menjadi nilai tambah, terutama untuk aplikasi di sektor industri yang membutuhkan proses cepat dan efisien. Meskipun demikian, penelitian masih terus berlanjut sebagai bentuk penyempurnaan hasil penelitian sebelumnya.

Di masa depan, tim peneliti berharap inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Inovasi tersebut juga diharapkan dapat diterapkan secara luas, baik untuk pengolahan limbah industri maupun penyediaan air bersih. Hal ini sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-temukan-metode-alternatif-pengolahan-air-limbah/feed/ 0
GOB: Penyumbat Telinga Ramah Lingkungan dari Miselium https://www.greeners.co/ide-inovasi/gob-penyumbat-telinga-ramah-lingkungan-dari-miselium/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gob-penyumbat-telinga-ramah-lingkungan-dari-miselium https://www.greeners.co/ide-inovasi/gob-penyumbat-telinga-ramah-lingkungan-dari-miselium/#respond Thu, 02 Apr 2026 12:29:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48290 Penyumbat telinga busa merupakan salah satu barang yang kerap digunakan, terutama saat menghadiri konser atau bepergian dengan pesawat. Namun, di balik fungsinya yang melindungi pendengaran, produk ini juga menyumbang timbulan […]]]>

Penyumbat telinga busa merupakan salah satu barang yang kerap digunakan, terutama saat menghadiri konser atau bepergian dengan pesawat. Namun, di balik fungsinya yang melindungi pendengaran, produk ini juga menyumbang timbulan sampah plastik karena umumnya sekali pakai.

Selama lebih dari setengah abad, penyumbat telinga berbahan busa digunakan secara luas tanpa disadari dampak lingkungannya. Setelah digunakan, produk ini sering kali langsung dibuang dan berakhir menjadi limbah plastik yang sulit terurai.

Menjawab permasalahan tersebut, perusahaan asal San Francisco, GOB, menghadirkan inovasi penyumbat telinga berbahan dasar miselium. Miselium merupakan jaringan akar jamur yang memiliki struktur kompleks. Ia bisa dimanfaatkan sebagai material alternatif yang ramah lingkungan.

Produk ini dirancang untuk menyumbat telinga, tetapi dengan siklus hidup yang jauh berbeda. Tidak seperti produk berbasis plastik, penyumbat telinga ini dapat dikomposkan dan kembali ke tanah sebagai nutrisi.

GOB mengembangkan material ini tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Mereka menyebutnya sebagai busa biofabrikasi berbahan tunggal, yang berarti tidak mengandung pengikat maupun aditif tambahan. Material miselium bersifat lembut dan berpori, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan saluran telinga tanpa tekanan ekspansi berlebih seperti busa memori.

Perusahaan mengklaim produk ini memiliki rentang perlindungan frekuensi antara 12 hingga 25 desibel, sehingga cocok untuk kebutuhan umum seperti konser maupun lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi.

Strategi Distribusi

Sementara itu, dalam memasarkan produknya, GOB memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih bersaing di rak apotek, mereka menjalin kemitraan dengan penyelenggara acara besar seperti AEG Live dan Bowery Presents.

Strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan popularitas produk sekaligus mendorong permintaan dari publik. GOB juga menyadari bahwa mengubah perilaku konsumen bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, mereka berfokus pada inovasi material yang lebih berkelanjutan tanpa mengorbankan fungsi utama produk, yakni melindungi pendengaran.

Inovasi GOB ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mengurangi polusi plastik. GOB membuktikan bahwa alam memiliki potensi sebagai solusi yang lebih berkelanjutan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/gob-penyumbat-telinga-ramah-lingkungan-dari-miselium/feed/ 0
Peneliti IPB Temukan Potensi Kangkung Katup sebagai Obat Herbal Diabetes https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-temukan-potensi-kangkung-katup-sebagai-obat-herbal-diabetes/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-ipb-temukan-potensi-kangkung-katup-sebagai-obat-herbal-diabetes https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-temukan-potensi-kangkung-katup-sebagai-obat-herbal-diabetes/#respond Mon, 30 Mar 2026 10:01:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48278 Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati. Dari kekayaan itu ada banyak potensi yang terselubung di Pulau Lingga, salah satunya baru-baru ini peneliti IPB University menemukan potensi […]]]>

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati. Dari kekayaan itu ada banyak potensi yang terselubung di Pulau Lingga, salah satunya baru-baru ini peneliti IPB University menemukan potensi tanaman kangkung katup (Phanera semibifida) sebagai antidiabetes dan antioksidan.

Business Innovation Center (BIC) tahun 2025 merilis riset tersebut dan masuk dalam 117 Inovasi Indonesia. Tim peneliti inovasi tersebut terdiri dari Meyla Suhendra, Berry Juliandi, Huda Darusman, Siti Sa’diah, dan Fitmawati.

Peneliti dalam riset ini mengungkap bahwa tanaman kangkung katup saat ini masih belum banyak terbudidayakan secara luas. Namun, masyarakat di Pulau Lingga telah lama memanfaatkannya sebagai bahan utama minuman herbal pahit. Mereka mempercayai bahwa tanaman ini memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan, termasuk memberikan efek awet muda dan umur panjang.

Salah satu peneliti, Berry menjelaskan bahwa inovasi ini memanfaatkan ekstrak batang kangkang katup yang mengandung senyawa polifenol. Senyawa tersebut berfungsi menghambat enzim α-glukosidase. Selain itu, juga mampu menekan kadar glukosa darah (antihiperglikemik) sekaligus berperan sebagai antioksidan, khususnya bagi penderita prediabetes dan diabetes tipe 2.

“Berdasarkan analisis in vitro dan in vivo, ekstrak batang kangkang katup terbukti efektif menurunkan kadar glukosa darah dan aman pada uji toksisitas akut,” ujar Berry melansir Berita IPB, Senin (30/3).

Berpotensi Jadi Obat Herbal

Menurut Berry, inovasi ini berpotensi menjadi obat herbal terstandar berbasis sumber daya alam lokal. Obat herbal dari tanaman tersebut bisa bermanfaat untuk terapi antihiperglikemia. Selain itu, ekstraknya juga punya potensi sebagai antioksidan alami guna mencegah stres oksidatif pada penderita diabetes.

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif dengan jumlah penderita yang terus meningkat secara global. Pada 2024, tercatat sekitar 589 juta orang di dunia mengidap diabetes. Indonesia termasuk dalam lima negara dengan jumlah penderita tertinggi, yakni mencapai 20,4 juta orang.

Selama ini, kata dia, terapi diabetes sering kali menggunakan obat-obatan kimia. Hal ini berpotensi menimbulkan efek samping seiring peningkatan penggunaannya. Kendati demikian, kondisi tersebut mendorong pengembangan alternatif pengobatan berbasis herbal yang efektif dan minim efek samping, salah satunya melalui inovasi kangkang katup ini.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-temukan-potensi-kangkung-katup-sebagai-obat-herbal-diabetes/feed/ 0
Desainer Denmark Kembangkan Pintu Ramah Lingkungan Berbahan Jamur https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-denmark-kembangkan-pintu-ramah-lingkungan-berbahan-jamur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=desainer-denmark-kembangkan-pintu-ramah-lingkungan-berbahan-jamur https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-denmark-kembangkan-pintu-ramah-lingkungan-berbahan-jamur/#respond Sat, 28 Mar 2026 04:05:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48265 Membayangkan pintu yang tidak terbuat dari kayu, melainkan dari jamur, mungkin terdengar mustahil. Namun, perusahaan miselium asal Denmark, Rebound, bersama studio arsitektur Det Levende Hus, berhasil mewujudkan inovasi tersebut melalui […]]]>

Membayangkan pintu yang tidak terbuat dari kayu, melainkan dari jamur, mungkin terdengar mustahil. Namun, perusahaan miselium asal Denmark, Rebound, bersama studio arsitektur Det Levende Hus, berhasil mewujudkan inovasi tersebut melalui pintu yang “tumbuh” dari jamur.

Pintu ini diklaim sebagai yang pertama di dunia yang dibudidayakan dari miselium (struktur akar jamur). Meski masih dalam tahap prototipe, produk ini merupakan bagian dari koleksi pintu interior dengan desain modern dan berbahan ramah lingkungan.

Melansir Yanko Design, Rebound mengembangkan struktur miselium dengan menumbuhkannya dalam cetakan khusus. Proses ini menghasilkan panel yang kaku namun ringan, serta memiliki kemampuan peredam suara alami. Inti miselium tersebut kemudian dibungkus dalam kerangka kayu daur ulang, termasuk sisa potongan dari produsen lantai Denmark, Dinesen. Dengan demikian, pintu ini meminimalkan limbah material dari awal hingga akhir produksi.

Salah satu pendiri Rebound, Jon Strunge, menyebut inovasi ini sebagai tantangan terhadap ketergantungan industri konstruksi pada kayu keras yang tumbuh lambat. Ia menekankan bahwa material berbasis miselium yang regeneratif dan berkinerja tinggi, membuka peluang baru bagi pengembangan komponen bangunan yang inovatif dan berskala besar.

Proses pertumbuhan miselium ini memakan waktu sekitar dua minggu dan dirancang agar dapat diproduksi secara industri. Artinya, pintu ini tidak hanya sebatas eksperimen, tetapi berpotensi diproduksi secara massal.

Keunggulan lain dari desain ini adalah sifatnya yang adaptif. Warna dan tekstur permukaan dapat diatur selama proses pertumbuhan, sehingga tidak memerlukan tahap finishing tambahan. Prototipe saat ini memiliki permukaan halus dan lembut, namun materialnya juga dapat diubah warna atau dilapisi tanah liat untuk tampilan yang lebih hangat dan alami.

Perkuat Konsep Keberlanjutan

Selain estetika, performa struktural juga menjadi fokus utama. Lapisan berbasis bio yang ditambahkan selama proses pertumbuhan mampu memperkuat struktur pintu serta meningkatkan ketahanan terhadap api. Metode ini juga menghilangkan kebutuhan akan lem atau proses manufaktur tambahan.

Pintu ini dirancang untuk memenuhi standar bangunan modern, khususnya untuk hunian pribadi, termasuk dalam aspek ketahanan terhadap api dan kelembapan. Hal ini menjadikannya kandidat yang layak untuk diterapkan dalam konstruksi secara nyata.

Aplikasi pertama pintu ini akan terwujud dalam proyek perumahan ramah lingkungan Kaerhytten di Ramløse, yang dirancang oleh arsitek Jens Martin Suzuki-Højrup dan dijadwalkan selesai pada tahun 2026.

Prototipe ini juga dilengkapi gagang pintu “Moom” karya arsitek Bjarne Hammer untuk merek Denmark Randi. Gagang tersebut dibuat dari cangkang kerang daur ulang, menambah nilai estetika sekaligus memperkuat konsep keberlanjutan.

Ke depan, Rebound dan Det Levende Hus berencana mengembangkan material miselium ini ke berbagai aplikasi lain, seperti panel dinding dan langit-langit akustik. Menurut Suzuki-Højrup, inovasi ini menunjukkan bagaimana material alami dapat memberikan perspektif baru bagi manusia terhadap ruangan baik secara visual, akustik, maupun emosional.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-denmark-kembangkan-pintu-ramah-lingkungan-berbahan-jamur/feed/ 0
Inacell, Inovasi BRIN Ubah Limbah Sawit Jadi Bahan Industri https://www.greeners.co/ide-inovasi/inacell-inovasi-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-bahan-industri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=inacell-inovasi-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-bahan-industri https://www.greeners.co/ide-inovasi/inacell-inovasi-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-bahan-industri/#respond Fri, 13 Mar 2026 07:59:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48219 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pengolahan limbah padat industri kelapa sawit, khususnya tandan kosong sawit, menjadi bahan industri bernilai tinggi. Inovasi tersebut bernama Inacell, yaitu produk mikrokristalin […]]]>

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pengolahan limbah padat industri kelapa sawit, khususnya tandan kosong sawit, menjadi bahan industri bernilai tinggi. Inovasi tersebut bernama Inacell, yaitu produk mikrokristalin selulosa (MCC).

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN, Holilah mengatakan bahwa MCC merupakan produk hidrolisis selulosa terkontrol yang teraplikasi di banyak sektor industri. Produk tersebut dapat digunakan di bidang farmasi, pangan, kosmetik, hingga bahan coating.

“Inovasi ini tidak hanya mengatasi masalah limbah, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi bagi industri kelapa sawit nasional,” kata Holilah melansir Berita BRIN, Rabu (11/3).

Berdasarkan data industri dan ekonomi, Indonesia memproduksi crude palm oil (CPO) dengan capaian 48,5 – 51,0 juta ton pada 2026, sehingga menghasilkan limbah yang sangat melimpah. Menurut Holilah, potensi limbah ini sangat besar untuk dikonversi menjadi produk bernilai tambah seperti MCC.

Sementara itu, pemilihan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku juga didasarkan pada ketersediannya yang berkelanjutan. Potensinya sebagai bahan baku lignoselulosa selama ini juga belum dimanfaatkan secara optimal.

“Dari hasil riset, setelah melalui proses dari limbah menjadi selulosa, kami bisa menghasilkan kandungan selulosa hingga 65,21 persen. Metode yang kami gunakan utamanya adalah menghilangkan lignin dan menghasilkan MCC yang murni, dengan kadar lignin akhir hanya sekitar 1 persen,” jelasnya.

Kebutuhan MCC Meningkat

Kebutuhan MCC di Indonesia dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Angka impornya mencapai sekitar 4 juta kilogram per tahun. Holilah membandingkan Inacell-MCC dengan MCC komersial. Hasilnya menunjukkan karakteristik water holding capacityoil holding capacity, dan swelling index Inacell lebih besar daripada MCC komersial.

Holilah menjelaskan beragam aplikasi MCC di berbagai bidang industri. Di bidang farmasi, MCC menjadi bahan tablet yang mudah terurai di usus, dapat berkombinasi dengan senyawa bioaktif, dan terjamin keamanannya karena berasal dari tumbuhan.

Di bidang pangan, berfungsi sebagai texturizing agent yang dapat meningkatkan volume roti. Bahkan, berfungsi sebagai bahan stabilisasi dan pengental dalam pembuatan saus. MCC juga berperan sebagai long term product integrity yang mampu mengontrol kadar air sehingga memperpanjang usia produk pangan.

Di bidang komposit, MCC jadi agen reinforcement untuk meningkatkan sifat mekanik material. Terutama dalam bentuk nanoselulosa yang dapat teraplikasi di berbagai jenis komposit. Sementara di bidang kosmetik, berperan sebagai texturizing, bulking, dan stabilizing agent pada krim, bedak padat, foundation, serta berfungsi sebagai oil control.

Terkait rencana produksi skala industri, Holilah menegaskan timnya telah melakukan perhitungan matang. Penggunaan asam organik dengan bahan baku kimia teknis (bukan grade PA) menjadi strategi untuk menekan biaya produksi.

“Pemilihan asam organik memang memerlukan waktu proses yang lebih lama, tetapi dari sisi distribusi dan kualitas hasil lebih baik. Jika produk ini diarahkan untuk kebutuhan pangan dan farmasi, akan lebih baik menggunakan asam organik,” ujar Holilah.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/inacell-inovasi-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-bahan-industri/feed/ 0
Peneliti IPB Kembangkan Teknologi EC+ untuk Olah Limbah Sawit https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-kembangkan-teknologi-ec-untuk-olah-limbah-sawit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-ipb-kembangkan-teknologi-ec-untuk-olah-limbah-sawit https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-kembangkan-teknologi-ec-untuk-olah-limbah-sawit/#respond Wed, 11 Mar 2026 08:40:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48215 Peneliti IPB University menghadirkan inovasi untuk mendukung guna ulang limbah sawit. Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknik dan Teknologi, Suprihatin, mencetuskan ide tersebut. Suprihatin mengungkap bahwa latar belakang inovasi […]]]>

Peneliti IPB University menghadirkan inovasi untuk mendukung guna ulang limbah sawit. Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknik dan Teknologi, Suprihatin, mencetuskan ide tersebut.

Suprihatin mengungkap bahwa latar belakang inovasi ini adalah pesatnya perkembangan pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia yang memberikan kontribusi ekonomi signifikan. Namun, industri tersebut juga menyisakan persoalan lingkungan serius, terutama dari limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS).

Menurut Suprihatin, setiap ton tandan buah segar (TBS) dapat menghasilkan limbah cair sekitar 0,75–0,90 m³. Hal itu setara 3,33 m³ per ton minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Limbah tersebut mengandung berbagai polutan seperti padatan tersuspensi (TSS), bahan organik, minyak dan lemak, serta nutrien yang berpotensi mencemari lingkungan.

Untuk memanfaatkan kembali limbah tersebut, Suprihatin mengembangkan proses EC+, yakni teknologi pengolahan lanjutan berbasis elektrokimia (elektrokoagulasi). Inovasi ini telah terpilih menjadi salah satu 117 Inovasi Indonesia-2025 versi Business Innovation Center.

Secara sederhana, proses ini menggunakan arus listrik searah untuk melepaskan ion positif (Al³⁺) dari elektroda anoda. Ion tersebut berperan mendestabilisasi partikel koloid dan membentuk flok Al (OH) yang mampu mengikat kontaminan dalam limbah cair.

“Proses ini efektif menghilangkan TSS, COD, BOD, warna, minyak atau lemak hingga nutrien seperti fosfat. Air limbah dapat menjadi bersih dan layak guna kembali. Keunggulan EC+ juga tidak hanya pada kinerja teknisnya, tetapi juga pada aspek lingkungan dan ekonomi,” ujar Suprihatin melansir Berita IPB, Selasa (10/3).

Suprihatin menjelaskan, proses EC+ tersebut tidak memerlukan tambahan bahan kimia seperti tawas. Dengan demikian, hasilnya lebih ramah lingkungan dan biaya pengolahannya lebih murah sekitar 50 persen daripada metode koagulasi kimia. Konsumsi energi listriknya pun relatif terukur, yakni sekitar 9,80 kWh per meter kubik limbah.

“Proses berlangsung cepat, dapat dirancang secara modular, dioperasikan secara kontinu maupun batch, serta mudah untuk ditingkatkan skalanya (scale up). Endapan (sludge) yang dihasilkan bahkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pembenah tanah (soil improver),” ujarnya.

Dukung ekonomi Sirkular

Menurut Suprihatin, EC+ berperan penting dalam mendukung konsep ekonomi sirkular pada industri kelapa sawit. Air hasil olahan dapat digunakan kembali untuk mencuci peralatan dan lantai pabrik, maupun penyiraman tanaman. Sludge juga dapat berkombinasi dengan biochar dari pirolisis tandan kosong untuk memperkaya unsur hara tanah.

“Proses EC+ dapat menjadi komponen kunci dalam membentuk siklus tertutup air dan unsur hara, mengurangi penggunaan input pupuk sintetis, serta mendukung terwujudnya konsep zero waste di industri kelapa sawit,” tambahnya.

Ia berharap inovasi ini bisa menghadirkan solusi teknologi yang tidak hanya menyelesaikan masalah limbah. Namun, harapannya bisa menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan bagi industri strategis nasional.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-kembangkan-teknologi-ec-untuk-olah-limbah-sawit/feed/ 0
Komposit Kayu Ramah Lingkungan IPB Tembus 117 Inovasi Indonesia 2025 https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposit-kayu-ramah-lingkungan-ipb-tembus-117-inovasi-indonesia-2025/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komposit-kayu-ramah-lingkungan-ipb-tembus-117-inovasi-indonesia-2025 https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposit-kayu-ramah-lingkungan-ipb-tembus-117-inovasi-indonesia-2025/#respond Sun, 08 Mar 2026 07:05:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48198 Jakarta (Greeners) – Peneliti IPB University mengembangkan komposit kayu yang aman dan ramah lingkungan. Inovasi ini menjadi salah satu dari 117 inovasi Indonesia 2025 yang terpilih dalam ajang yang Business […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peneliti IPB University mengembangkan komposit kayu yang aman dan ramah lingkungan. Inovasi ini menjadi salah satu dari 117 inovasi Indonesia 2025 yang terpilih dalam ajang yang Business Innovation Center (BIC) selenggarakan.

Komposit merupakan material gabungan untuk menghasilkan sifat yang lebih kuat dan stabil. Dalam industri kayu, komposit bermanfaat sebagai panel seperti kayu lapis, oriented strand board (OSB), medium density fiberboard (MDF), dan papan partikel. Namun, produk-produk tersebut saat ini masih bergantung pada perekat berbasis formaldehida dan isosianat yang berisiko bagi kesehatan dan lingkungan.

Riset ini merupakan hasil pengembangan dosen Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Rita Kartika Sari. Ia bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Lampung.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 menunjukkan produksi kayu bulat terbesar kedua di Indonesia berasal dari genus akasia, khususnya kayu mangium (Acacia mangium). Jumlahnya mencapai 42,52 persen dari total kayu bulat nasional atau sekitar 27,57 juta meter kubik.

Dalam proses pengolahan kayu tersebut, sekitar 10 persen volumenya berupa kulit kayu sehingga menghasilkan kurang lebih 2,7 juta meter kubik limbah setiap tahun. Jumlah ini menyimpan potensi kimia hijau bernilai tinggi. Sebab, kulit mangium kaya tanin yang dapat diolah menjadi bahan baku industri berkelanjutan.

“Dari potensi itu, lahir teknologi sintesis dan formula resin bio-poliuretan non-isosianat berbasis tanin kulit kayu mangium sebagai perekat kayu bebas formaldehida,” kata Rita melansir Berita IPB, Jumat (6/3).

Lampaui Fungsi Tradisional

Selama ini, menurut Rita, industri panel kayu bertumpu pada resin urea-formaldehida dan fenol-formaldehida. Hal itu berpotensi melepaskan emisi formaldehida. Selain itu, industri juga menggunakan poliuretan berbasis isosianat yang bersifat reaktif dan berisiko bagi pekerja.

“Melalui modifikasi tanin kulit mangium menjadi biopoliol, sistem ini menggantikan poliol berbasis petrokimia. Proses berlangsung pada suhu moderat sekitar 80°C dengan tahapan relatif sederhana menggunakan dimetil karbonat dan heksametilentetramina sebagai pembentuk jaringan polimer yang lebih aman dan rendah risiko,” jelasnya.

Optimasi formula perekat menggunakan response surface methodology. Hasilnya, resin memiliki kadar padatan 58,16 persen, waktu gelatinasi sekitar 1,07 menit, serta kestabilan termal dan ketahanan air yang baik. Perekat ini berpotensi untuk pembuatan komposit kayu seperti OSB, MDF, kayu lapis, dan papan partikel.

Di tengah dorongan menuju ekonomi sirkular dan target Net Zero Emission 2060, inovasi ini menunjukkan bahwa riset berbasis sumber daya alam nasional mampu melampaui fungsi tradisionalnya.

“Hutan tropis Indonesia tidak hanya menyediakan kayu, tetapi juga fondasi material maju yang lebih aman dan berkelanjutan. Dari biomassa lokal, kita dapat membangun industri yang mandiri sekaligus rendah emisi,” tambah Rita.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposit-kayu-ramah-lingkungan-ipb-tembus-117-inovasi-indonesia-2025/feed/ 0
OBRO Sulap Limbah Kulit Jadi Produk Fesyen Premium https://www.greeners.co/ide-inovasi/obro-sulap-limbah-kulit-jadi-produk-fesyen-premium/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=obro-sulap-limbah-kulit-jadi-produk-fesyen-premium https://www.greeners.co/ide-inovasi/obro-sulap-limbah-kulit-jadi-produk-fesyen-premium/#respond Sun, 22 Feb 2026 03:00:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48168 Di tengah meningkatnya sorotan terhadap limbah industri fesyen, inovasi material kembali menawarkan pendekatan berbeda. OBRO, material komposit dari Sanyo Co., Ltd., menghadirkan cara baru memandang sisa produksi kulit. Bukan sebagai […]]]>

Di tengah meningkatnya sorotan terhadap limbah industri fesyen, inovasi material kembali menawarkan pendekatan berbeda. OBRO, material komposit dari Sanyo Co., Ltd., menghadirkan cara baru memandang sisa produksi kulit. Bukan sebagai residu yang tersembunyi, melainkan sebagai elemen estetika.

Material ini memanfaatkan bubuk kulit daur ulang yang dicampurkan dalam PVC hitam transparan. Hasilnya, permukaan dengan efek visual menyerupai taburan bintang di langit malam. Fragmen kulit tampak mengambang di dalamnya, menciptakan kedalaman tekstur yang berubah mengikuti arah cahaya.

Limbah Jadi Identitas Visual

Melansir Yanko Design, nama OBRO berasal dari kata Jepang oboro yang berarti “berkabut” atau “samar.” Karakter ini tercermin pada tampilannya yang tidak sepenuhnya solid, namun juga tidak transparan sepenuhnya. Saat terkena cahaya, serpihan kulit memunculkan kilau metalik sekaligus kesan hangat yang organik.

Alih-alih meniru kulit konvensional dengan emboss atau pola imitasi, OBRO justru menegaskan bahwa ia adalah material baru. Bubuk kulit digiling hingga menyatu dalam komposit, membentuk bahasa desain yang berbeda dari kulit tradisional maupun material sintetis murni.

Pendekatan ini relevan dengan tantangan industri kulit global, di mana sisa potongan produksi kerap berakhir sebagai limbah. Dengan memanfaatkan kembali serpihan tersebut, OBRO menghadirkan alternatif pengolahan limbah yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis.

Produk perdana OBRO hadir dalam bentuk tote bag, sacoche, dan tempat kunci. Desainnya minimalis dan netral gender, membiarkan material menjadi pusat perhatian. Panel OBRO berpadu dengan aksen kulit asli, menghadirkan kontras antara komposit berkabut dan tekstur solid yang lebih familier.

Dari sisi teknis, material ini lebih ringan daripada kulit full-grain. Kandungan PVC membuatnya lebih tahan air tanpa perlu perlakuan kimia tambahan. OBRO juga cukup kokoh mempertahankan bentuk, sehingga sesuai untuk produk yang membutuhkan struktur tanpa bobot berlebih.

Menjadikan Limbah sebagai Nilai Tambah

Sebagian besar inovasi berkelanjutan di sektor material berfokus pada pengurangan bahan baku atau pencarian alternatif biodegradable. OBRO mengambil jalur berbeda: menjadikan aliran limbah sebagai elemen visual utama. Fragmen kulit tidak disamarkan, melainkan dibiarkan terlihat, menciptakan efek yang tidak mungkin dicapai PVC murni.

Langkah ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu berarti kompromi estetika. Justru, nilai tambah dapat muncul ketika jejak produksi mendapat pengakuan secara terbuka.

Desainer Satoru Shimizu bersama tim Sanyo memposisikan OBRO sebagai opsi ketiga di antara kulit konvensional dan kulit sintetis berbasis klaim “vegan.” Material ini tidak menutup mata terhadap limbah produksi, tetapi juga tidak berusaha menyaru menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Bagi kalangan desain, teknologi, maupun fesyen urban, OBRO menunjukkan bahwa sisa produksi dapat menjadi produk bernilai tinggi. Di tengah maraknya praktik greenwashing, transparansi yang tampil secara harfiah di permukaan material menjadi pesan yang tak kalah penting.

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/obro-sulap-limbah-kulit-jadi-produk-fesyen-premium/feed/ 0
Mahasiswa UGM Ciptakan Penyerap Gas Karbon dari Limbah Plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik/#respond Mon, 02 Feb 2026 07:17:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48073 Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan alat penyerap gas karbon dari limbah plastik. Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih medali emas dalam ajang 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO), […]]]>

Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan alat penyerap gas karbon dari limbah plastik. Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih medali emas dalam ajang 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO), mengungguli 629 peserta dari 13 negara.

Ketua tim, Pandu Sukma Hastyadi, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada pemanfaatan limbah botol plastik polyethylene terephthalate (PET) yang diolah menjadi karbon aktif untuk mengadsorpsi gas CO₂ di atmosfer. Melalui riset ini, tim mengembangkan Carbon Capture Technology (CCT) berbasis material limbah plastik PET.

“Inovasi ini menawarkan alternatif penangkap gas yang lebih ekonomis dibandingkan teknologi komersial yang saat ini masih terkendala biaya operasional tinggi,” kata Pandu melansir Berita UGM, Jumat (30/1).

Menurut Pandu, pengembangan adsorben berbiaya rendah menjadi faktor krusial dalam keberhasilan implementasi teknologi CCT. Selama ini, tingginya biaya operasional menjadi hambatan utama penerapan teknologi penangkapan karbon.

“Kami melihat potensi besar pada limbah botol plastik PET. Dengan kandungan karbonnya tinggi, limbah botol plastik PET sangat ideal untuk dijadikan prekursor karbon aktif,” jelasnya.

Urgensi Pengelolaan Sampah

Pemilihan limbah botol plastik PET juga didorong oleh persoalan pengelolaan sampah di Indonesia yang masih belum optimal. Anggota tim, Samuel Khrisna Wira Waskita, memaparkan bahwa sekitar 48% sampah plastik di Indonesia saat ini masih dikelola melalui pembakaran, yang justru berkontribusi pada peningkatan emisi CO₂ ke atmosfer. Selain itu, rasio daur ulang PET di Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 13% dari total kapasitas produksinya.

“Bagi kami, mengubah limbah ini menjadi material fungsional penangkap emisi menjadi langkah strategis yang saling menguntungkan bagi lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Billy menjelaskan bahwa meskipun penelitian mengenai penggunaan adsorben berbasis limbah plastik untuk aplikasi CCT telah banyak dilakukan, keterbatasan kapasitas penyerapan gas CO₂ masih menjadi kendala utama. Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim menemukan bahwa penggunaan zeolit dapat menjadi solusi.

“Berdasarkan referensi yang kami peroleh, pembuatan komposit karbon aktif dan zeolit memang mampu untuk mengatasi hal tersebut,” paparnya.

Dosen pendamping tim, Fajar Inggit Pambudi, menekankan bahwa keunikan riset ini terletak pada aspek keberlanjutannya. Pemanfaatan limbah plastik yang dikombinasikan dengan material berpori seperti zeolit dinilai mampu menciptakan nilai keberlanjutan yang kuat.

“Riset ini menyelesaikan dua masalah sekaligus, yakni limbah plastik dan emisi CO₂,” tuturnya.

Lebih lanjut, Fajar mengungkapkan bahwa inovasi ini memiliki potensi untuk dikomersialisasi. Pasalnya, industri saat ini membutuhkan teknologi yang efisien untuk mengolah emisi gas buang. Tujuannya agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri atau sumber energi.

Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi tim yang terdiri dari Pandu Sukma Hastyadi, Samuel Khrisna Wira Waskita, dan Aqila Dziki Muhamad Iqbal dari Program Studi Ilmu Kimia angkatan 2022, serta Billy Natanael dan Muhammad Radithya Akmal Rasheed dari Program Studi Teknik Kimia angkatan 2023. Di bawah bimbingan Fajar Inggit Pambudi dari FMIPA UGM, tim berhasil mengintegrasikan pendekatan komputasi dan eksperimental dalam penelitian ini.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik/feed/ 0
Eco-C CUBE, Blok Konstruksi dari Sampah Jaring Ikan dan Plastik Multilayer https://www.greeners.co/ide-inovasi/eco-c-cube-blok-konstruksi-dari-sampah-jaring-ikan-dan-plastik-multilayer/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-c-cube-blok-konstruksi-dari-sampah-jaring-ikan-dan-plastik-multilayer https://www.greeners.co/ide-inovasi/eco-c-cube-blok-konstruksi-dari-sampah-jaring-ikan-dan-plastik-multilayer/#respond Mon, 19 Jan 2026 06:50:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48014 Plastik seperti jaring ikan dan kemasan multilayer kerap berakhir di tempat pembuangan. Eco-C CUBE, sebuah blok penahan dinding mengubah limbah tersebut menjadi material konstruksi. Eco-C CUBE dikembangkan oleh WES-Tec Global […]]]>

Plastik seperti jaring ikan dan kemasan multilayer kerap berakhir di tempat pembuangan. Eco-C CUBE, sebuah blok penahan dinding mengubah limbah tersebut menjadi material konstruksi.

Eco-C CUBE dikembangkan oleh WES-Tec Global bersama Asosiasi Pembangunan Berdampak Rendah Korea. Inovasi ini mengubah sampah plastik yang selama ini dianggap tak bernilai, menjadi balok bangunan tiga dimensi melalui proses New-Cycling.

Dalam proses tersebut, plastik seperti jaring ikan dan kemasan berlapis dilelehkan pada suhu rendah tanpa perlu disortir maupun dicuci. Lalu, langsung diekstrusi menjadi balok yang saling mengunci.

Balok Eco-C CUBE memiliki kekuatan tarik dan tekan yang tinggi, bahkan dalam beberapa aspek melampaui beton. Karakteristik ini menjadikannya cocok digunakan sebagai dinding penahan lereng yang harus mampu bertahan dari hujan ekstrem, serta perubahan suhu yang berulang.

Selain itu, dibuat dengan desain interlocking tiga dimensi, memungkinkan Eco-C CUBE dipasang tanpa semen atau perekat. Stabilitas struktur mengandalkan gravitasi dan bentuk balok, sehingga pemasangan menjadi lebih cepat, mudah dibongkar, dan minim risiko kegagalan struktural.

Keunggulan lainnya terletak pada sistem drainase bawaan. Rongga internal pada Eco-C CUBE memungkinkan air mengalir keluar secara alami, mencegah penumpukan tekanan air di belakang dinding—masalah yang kerap ditemui pada struktur beton konvensional.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep low-impact development, yakni pengelolaan air hujan langsung di lokasi. Bagi kota-kota pesisir atau wilayah rawan erosi, Eco-C CUBE dapat menjadi alternatif pengganti beton dalam memperkuat lereng, sekaligus membantu menekan emisi karbon dan mengurangi beban material berat.

Eco-C CUBE kurangi Emisi

Dari sisi lingkungan, setiap kilogram Eco-C CUBE mampu mengurangi sekitar 2,99 gram emisi CO₂ dibandingkan pendekatan bisnis seperti biasa, berdasarkan hasil Life Cycle Assessment yang telah diverifikasi. Pengurangan emisi ini berasal dari penghindaran pembakaran limbah, berkurangnya proses daur ulang yang boros energi, serta substitusi penggunaan beton. Selain itu, bahan bakunya memanfaatkan sistem tanggung jawab produsen yang sudah berjalan, tanpa memerlukan infrastruktur pengumpulan baru.

Eco-C CUBE tidak berupaya “memurnikan” plastik campuran. Sebaliknya, inovasi ini menerima realitas sampah plastik yang kompleks dan mengubahnya menjadi solusi nyata di lapangan.

Inovasi ini telah menunjukkan bahwa limbah bukan hanya persoalan yang harus dikelola, tetapi juga memiliki potensi untuk diberikan kesempatan dua kali dan dimanfaatkan menjadi barang yang lebih bermanfaat.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/eco-c-cube-blok-konstruksi-dari-sampah-jaring-ikan-dan-plastik-multilayer/feed/ 0
Peneliti ITB Ciptakan Panel Antipeluru dari Serat Rami https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-itb-ciptakan-panel-antipeluru-dari-serat-rami/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-itb-ciptakan-panel-antipeluru-dari-serat-rami https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-itb-ciptakan-panel-antipeluru-dari-serat-rami/#respond Sat, 10 Jan 2026 05:48:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47981 Tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan panel antipeluru berbahan dasar alam. Inovasi ini memanfaatkan karet alam Indonesia, khususnya serat rami, sebagai material komposit panel antipeluru. Salah satu peneliti, Mardiyati, […]]]>

Tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan panel antipeluru berbahan dasar alam. Inovasi ini memanfaatkan karet alam Indonesia, khususnya serat rami, sebagai material komposit panel antipeluru.

Salah satu peneliti, Mardiyati, mengungkapkan bahwa produk tersebut telah menjalani uji tembak di PT Pindad (Persero). Pengujian mengacu pada Standar NIJ 0108.01 Level III dengan munisi 7,62 mm pada jarak tembak lima meter. Hasilnya, sampel panel yang tim kembangkan lolos uji sesuai standar.

“Karena ini produk militer, tentu ada standar pengujian yang harus kami lakukan supaya produk tersebut memang layak untuk digunakan,” ujar Mardiyati.

Keberhasilan lolos uji tembak bersama PT Pindad menjadi pencapaian tersendiri bagi tim peneliti. Menurut Mardiyati, hal ini membuktikan bahwa bahan alam Indonesia memiliki potensi besar untuk jadi material strategis.

“(Penghargaan ini) semakin meningkatkan motivasi saya untuk melakukan yang lebih baik lagi di bidang inovasi, sehingga nantinya produk-produk inovasi tersebut dapat menjadi produk yang turut memberikan solusi terhadap permasalahan yang kita hadapi bersama,” ucap Mardiyati.

Berkat inovasi tersebut, Mardiyati terpilih sebagai inovator terbaik dalam ajang PRIMA Award ITB 2021. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi di bidang penelitian, pengabdian masyarakat, dan inovasi oleh LPPM ITB bekerja sama dengan Kantor Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB.

Sepanjang kiprahnya, Mardiyati telah menghasilkan berbagai produk inovasi, sebagian di antaranya bahkan telah dihilirkan melalui perusahaan rintisan binaan LPiK ITB. Salah satu inovasi terbaru yang ia kembangkan pada 2021 bersama timnya adalah panel antipeluru untuk Modular Armor System pada kapal patroli.

Ia menjelaskan, sebagai negara maritim, Indonesia membutuhkan kapal patroli untuk menjaga pertahanan dan keamanan wilayah perairan. Pada kapal-kapal tersebut, panel antipeluru biasanya terpasang di ruang kemudi, lambung, dan ruang mesin untuk melindungi dari ancaman tembakan. Selama ini, material panel antipeluru umumnya masih impor dari luar negeri.

Tidak Terlepas dari Tantangan

Dalam mengembangkan serat rami menjadi panel antipeluru, tim peneliti tidak terlepas dari tantangan. Salah satunya soal memberikan solusi atas permasalahan di Indonesia dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, beserta kelebihan dan keterbatasannya.

Selain itu, kata Mardiyati, tim peneliti juga perlu memastikan produk tersebut benar-benar digunakan serta mendapatkan kepercayaan dari bangsa sendiri.

“Tentu saja di tahap ini peran berbagai pihak diperlukan. Pemerintah, industri, akademisi, seluruh komponen bangsa,” ujarnya.

Bagi Mardiyati, menjadi seorang inovator adalah perjalanan yang penuh tantangan sekaligus menyenangkan. Ia pun berpesan kepada para inovator agar tidak pernah berhenti berkarya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-itb-ciptakan-panel-antipeluru-dari-serat-rami/feed/ 0
Mahasiswa ITB Ubah Ampas Tebu dan Sabut Kelapa Jadi Kertas https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-ubah-ampas-tebu-dan-sabut-kelapa-jadi-kertas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-itb-ubah-ampas-tebu-dan-sabut-kelapa-jadi-kertas https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-ubah-ampas-tebu-dan-sabut-kelapa-jadi-kertas/#respond Thu, 08 Jan 2026 07:58:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47973 Sekelompok mahasiswa dari Program Studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil mengembangkan ampas tebu dan sabut kelapa menjadi lembaran kertas fungsional. Inovasi ini menghasilkan kertas ramah lingkungan […]]]>

Sekelompok mahasiswa dari Program Studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil mengembangkan ampas tebu dan sabut kelapa menjadi lembaran kertas fungsional. Inovasi ini menghasilkan kertas ramah lingkungan bernama biokertas.

Biokertas berbeda dari kertas daur ulang pada umumnya, terutama dari segi bahan baku, tekstur, serta nilai ekonomisnya. “Pembuatan biokertas ini berbahan dasar dari penggabungan dua limbah organik, yaitu ampas tebu dan sabut kelapa yang masih banyak tidak terpakai,” ujar anggota kepala tim, Muhammad Labib Widianto melansir Berita ITB, Rabu (7/1).

Proses pembuatannya melibatkan beberapa tahap. Pertama, para mahasiswa tersebut mengeringkan ampas tebu dan sabut kelapa di bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air, lalu memotongnya kecil-kecil. Bahan tersebut kemudian mereka rebus selama 30 menit. Selanjutnya, mereka menambahkan larutan NaOH 3% serta Alkohol 70% sebelum mereka rebus kembali hingga mendidih.

Setelah tiris, bahan dihaluskan hingga menjadi bubur kertas (pulp). Kemudian, pulp ini dicampur dengan larutan pengental dari tapioka dan kaolin sebelum dicetak menjadi lembaran kertas.

Hasilnya, biokertas ini memiliki keunggulan dapat digunakan sebagai bahan tulis normal menggunakan pulpen. Selain itu, produk ini juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai kemasan makanan ramah lingkungan.

Biokertas Perlu Pengujian Lebih Lanjut

Tak hanya itu, inovasi ini juga tim pamerkan dalam pameran karya bertajuk “ALICE: Abyanara’s Legendary Imagination, Creativity, and Enchantment”. Acara tersebut merupakan inisiasi mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa limbah dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai tinggi.

Labib mengakui bahwa ada beberapa tantangan dalam proses pembuatan biokertas ini. Terutama pada proses pemasakan yang volume airnya harus presisi dan proses pengeringan yang masih bergantung pada cuaca, karena menggunakan sinar matahari.

Meski memiliki nilai jual yang potensial dengan target pasar industri kertas, proyek biokertas ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut. “Belum kami lakukan uji tarik dan tahan terhadap biokertas. Untuk kemasan pangan juga harus kami kembangkan lebih lanjut agar bahannya aman,” tambah Labib.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-ubah-ampas-tebu-dan-sabut-kelapa-jadi-kertas/feed/ 0
Casing Ponsel Gomi Terbuat dari 100 Persen Plastik Daur Ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/casing-ponsel-gomi-terbuat-dari-100-persen-plastik-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=casing-ponsel-gomi-terbuat-dari-100-persen-plastik-daur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/casing-ponsel-gomi-terbuat-dari-100-persen-plastik-daur-ulang/#respond Wed, 24 Dec 2025 06:56:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47886 Industri aksesoris ponsel kini bergerak sangat cepat. Setiap ponsel baru biasanya diikuti dengan pembelian casing baru sehingga casing lama sering menumpuk di laci atau berakhir di tempat sampah. Studio kecil […]]]>

Industri aksesoris ponsel kini bergerak sangat cepat. Setiap ponsel baru biasanya diikuti dengan pembelian casing baru sehingga casing lama sering menumpuk di laci atau berakhir di tempat sampah. Studio kecil di Brighton, Inggris, bernama Gomi hadir untuk mengatasi masalah ini dengan menciptakan casing ponsel daur ulang yang bisa diperbaiki dan dibentuk ulang.

Casing Forever Gomi dibuat tangan dari 100% plastik daur ulang. Studio ini menawarkan garansi sederhana, perbaikan gratis seumur hidup, dan opsi upgrade saat pengguna mengganti ponsel.

Pengguna dapat mengirimkan casing lama kembali untuk meningkatkan model terbarunya. Kemudian, material tersebut dibentuk ulang menjadi casing baru, menciptakan model sirkular. Retakan dan kerusakan kecil juga bisa diperbaiki, dan seluruh casing dapat dilebur menjadi produk baru. Dengan begitu, tidak ada istilah “akhir masa pakai.”

Setiap casing terbuat dari campuran plastik yang menghasilkan pola marmer yang unik. Tidak ada dua casing yang sama, sehingga keacakan pola menjadi bagian dari daya tarik. Warna seperti pastel campuran, hanya sebagai contoh untuk umum.

Praktisnya, casing ini memiliki tepi yang ditinggikan untuk melindungi layar dan kamera, pas, dan diuji ketahanan jatuh sesuai standar. Pengguna juga dapat menambahkan kompatibilitas MagSafe untuk menjaga aksesoris magnetik tetap sejajar.

Diciptakan Secara Berkelanjutan

Tim Gomi terdiri dari pembuat lokal yang bekerja secara independen sehingga setiap pembelian mendukung bengkel kecil di Brighton. Pengiriman gratis juga tersedia di Inggris, Uni Eropa, dan AS, serta ada garansi uang kembali 30 hari. Hal ini menekankan hubungan jangka panjang antara pengguna dan produk, berbeda dengan tren sekali pakai di industri aksesoris.

Ide Gomi juga tampak sederhana, meskipun ponsel terus berubah, material pelindungnya tidak harus ikut berubah. Dengan perbaikan, pembentukan ulang, dan upgrade, casing tetap digunakan dan mendukung ekonomi sirkular. Inovasi ini juga mengubah cara orang memandang aksesoris ponsel dari mode yang cepat menjadi produk berkelanjutan.

Gomi menunjukkan bahwa inovasi kecil pada produk sehari-hari bisa memiliki dampak besar terhadap lingkungan, sekaligus memberi  pengalaman unik bagi para pengguna. Casing ini juga bukan sekadar pelindung ponsel, tetapi juga menjadi barang yang mendukung gaya hidup kita bisa diciptakan secara berkelanjutan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/casing-ponsel-gomi-terbuat-dari-100-persen-plastik-daur-ulang/feed/ 0
Peneliti IPB Ciptakan Sampo Berbahan Dasar Daun Pandan https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-ciptakan-sampo-berbahan-dasar-daun-pandan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-ipb-ciptakan-sampo-berbahan-dasar-daun-pandan https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-ciptakan-sampo-berbahan-dasar-daun-pandan/#respond Sat, 13 Dec 2025 03:00:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47828 Daun pandan selama ini terkenal sebagai bahan pewangi dan pewarna alami dalam berbagai olahan makanan. Selain itu, tanaman ini juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan kulit kepala. Misalnya, membantu menghilangkan […]]]>

Daun pandan selama ini terkenal sebagai bahan pewangi dan pewarna alami dalam berbagai olahan makanan. Selain itu, tanaman ini juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan kulit kepala. Misalnya, membantu menghilangkan ketombe, menguatkan akar rambut, dan menghitamkan rambut secara alami.

Melihat potensi tersebut, peneliti IPB University mengembangkan inovasi pemanfaatan daun pandan sebagai bahan dasar sampo alami bernilai tinggi bagi masyarakat. Melalui riset inovatif, mereka mengolah kearifan lokal tersebut menjadi produk perawatan rambut ramah lingkungan dengan potensi ekonomi yang semakin meningkat.

“Kandungan bahan aktif dalam daun pandan berupa polifenol (flavonoid), saponin, dan alkaloid tidak hanya antioksidan, tapi juga antimikroba. Ekstrak pandan juga mencegah ketombe dan melindungi kulit kepala dari radikal bebas serta membantu pertumbuhan rambut baru,” ungkap ketua tim peneliti, Khaswar Syamsu mengutip Berita IPB, Jumat (12/12).

Berbeda dari sampo konvensional yang umumnya mengandung bahan kimia sintetis seperti Sodium Lauril Sulfat (SLS), formulasi sampo pandan ini menggunakan bahan-bahan alami yang lebih aman bagi kulit kepala dan lingkungan. Minat masyarakat terhadap tren back to nature yang meningkat turut memperkuat urgensi pengembangan produk ini.

Penelitian dimulai dari tahap laboratorium, di mana daun pandan diekstraksi menggunakan air. Kemudian, diolah menjadi bubuk instan pandan yang lebih tahan lama dan mudah digunakan. Bubuk ini kemudian diformulasikan bersama bahan alami lain seperti lidah buaya, minyak rosemary, dan minyak tea tree.

Kombinasi tersebut menghasilkan sampo yang tidak hanya efektif membersihkan, tetapi juga menutrisi kulit kepala serta membantu mengurangi kerontokan rambut.

Daun Pandan Punya Potensi Ekonomi

Menurut Khaswar, penggunaan daun pandan sebagai bahan utama memiliki potensi ekonomi besar. “Ketersediaannya melimpah di Indonesia, sehingga biaya produksi relatif rendah. Selain itu, meningkatnya permintaan pandan juga bisa membuka peluang ekonomi baru bagi petani desa,” ujarnya.

Saat ini, produk sampo daun pandan tengah dalam proses mendapatkan sertifikat CPKB (Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik), izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

“Apabila persyaratan sesuai regulasi, produk ini akan dikomersialkan secara legal, baik di dalam maupun luar negeri,” tambahnya.

Bersama Rumah Pertanian Indonesia, sampo daun pandan menunjukkan komitmen IPB University mendorong hilirisasi produk pertanian bernilai tambah tinggi. Tidak hanya bermanfaat bagi konsumen, inovasi ini juga berkontribusi pada peningkatan pendapatan petani dan pembangunan ekonomi pedesaan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-ciptakan-sampo-berbahan-dasar-daun-pandan/feed/ 0
Belém Punya Halte Bus Ikonik dari Baja Daur Ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/belem-punya-halte-bus-ikonik-dari-baja-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=belem-punya-halte-bus-ikonik-dari-baja-daur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/belem-punya-halte-bus-ikonik-dari-baja-daur-ulang/#respond Mon, 24 Nov 2025 09:00:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47733 Halte Bus Amazon di Belém, Brasil tampak megah dengan desain yang tidak biasa. Terminal ini terbuat dari baja bekas daur ulang. Halte bus ikonik tersebut merupakan rancangan desainer Fernando Andrade. […]]]>

Halte Bus Amazon di Belém, Brasil tampak megah dengan desain yang tidak biasa. Terminal ini terbuat dari baja bekas daur ulang. Halte bus ikonik tersebut merupakan rancangan desainer Fernando Andrade.

Struktur setinggi 16 meter tersebut telah rampung pada Februari 2024, memberikan ruang teduh bagi para penumpang melalui selubung pelindung baja berbentuk segitiga dan kaca reflektif. Lengkungan organiknya menciptakan ruang interior yang lapang. Sementara, jalur akses berwarna kuning memandu pengguna melewati area bebas hambatan yang tetap sejuk berkat ventilasi alami dari sirip atap khas arsitektur Amazon.

Seluruh bangunan tersusun dari modul segitiga berukuran 600 mm yang rakitannya menggunakan tabung baja segi empat 75×3 mm. Sistem triangulasi ini membuat beban struktur terdistribusi efisien sehingga bentang 16 meternya cukup ditopang empat titik saja.

Desain tersebut meminimalkan gangguan tanah dan memberikan fleksibilitas alur sirkulasi di permukaan jalan. Penggunaan baja daur ulang secara penuh juga berhasil menurunkan emisi karbon hingga 70 persen dibandingkan metode konstruksi konvensional.

Meski Belém hanya memiliki satu stasiun ini, pendekatan fabrikasi, pemilihan material, dan proses perakitan dari industri ke lokasi dapat diterapkan di berbagai kota lain yang menghadapi tantangan iklim dan keterbatasan anggaran serupa.

Halangi Radiasi Matahari

Tak hanya menarik dari sisi desain, halte ini juga memberikan banyak manfaat bagi para penumpang. Kaca laminasi 8 mm mampu menghalangi hingga 99,8 persen radiasi matahari langsung, sehingga area tunggu tetap teduh meski berada di wilayah khatulistiwa.

Halte ini juga memiliki sirip ventilasi di bagian bubungan atap yang memungkinkan udara panas keluar tanpa membiarkan air hujan masuk. Tanpa komponen elektronik maupun motor, sistem ini bekerja sepenuhnya secara alami mengikuti pola angin setempat.

Pembangunan halte memakan waktu sembilan bulan sejak tahap perancangan. Proses fabrikasi berlangsung di lingkungan industri yang terkontrol, melibatkan pembuat kapal lokal yang ahli menangani struktur berkontur rumit. Bangunan dirakit terlebih dahulu dalam tiga bagian besar sebelum dipindahkan ke lokasi dan disambungkan.

Metode prefabrikasi seperti ini memastikan sambungan sangat presisi. Terutama pada silikon struktural dan penyelarasan panel kaca. Proyek ini merupakan gagasan Centro Integrado de Inclusão e Reabilitação yang berfokus pada aksesibilitas. Dengan demikian, desain yang bebas hambatan menjadi prinsip utama sejak awal.

Meskipun stasiun baru ini tidak serta-merta mengubah pola penggunaan transportasi, kehadirannya menegaskan bahwa pengguna angkutan umum berhak mendapatkan ruang yang nyaman dan layak. Detail-detail rancangan yang pembuatannya saksama pun tidak hanya memenuhi kebutuhan pengguna, tetapi juga mendukung prinsip keberlanjutan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/belem-punya-halte-bus-ikonik-dari-baja-daur-ulang/feed/ 0
Sistem Cegah Kebakaran Gambut berbasis IoT Menang di Siak Innovation https://www.greeners.co/ide-inovasi/sistem-cegah-kebakaran-gambut-berbasis-iot-menang-di-siak-innovation/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sistem-cegah-kebakaran-gambut-berbasis-iot-menang-di-siak-innovation https://www.greeners.co/ide-inovasi/sistem-cegah-kebakaran-gambut-berbasis-iot-menang-di-siak-innovation/#respond Fri, 21 Nov 2025 01:44:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47709 Inovasi berbasis Internet of Things (IoT) dalam pemantauan tinggi muka air gambut berhasil menjadi salah satu inovasi terbaik dalam Siak Innovation Challenge 2025 di Riau. Inovasi ini bernama Peatronics IoT. […]]]>

Inovasi berbasis Internet of Things (IoT) dalam pemantauan tinggi muka air gambut berhasil menjadi salah satu inovasi terbaik dalam Siak Innovation Challenge 2025 di Riau. Inovasi ini bernama Peatronics IoT. Kreativitas tersebut lahir dari mahasiswa Politeknik Caltex Riau. Mereka adalah Aris Saputra Pasaribu, Artika Azzarah Ahmad, dan Amanda Putri Kinanti.

Siak Innovation Challenge 2025 merupakan bagian dari Festival Inovasi Lestari yang berlangsung pada 16–18 November 2025 di Gedung Kesenian Siak. Festival ini menghadirkan beragam kegiatan. Mulai dari eksibisi ramah gambut, pameran hilirisasi produk, pasar UMKM, talkshow, hingga pertunjukan seni.

Peatronics IoT memanfaatkan sensor ketinggian air untuk memantau kondisi gambut. Kemudian, mengirimkan data secara real-time melalui jaringan nirkabel LoRa yang hemat energi dan mampu menjangkau wilayah terpencil. Data pemantauan tampak di web dashboard dengan indikator status aman, waspada, atau kering. Sistem ini juga memberikan peringatan dini jika permukaan air turun di bawah batas aman.

BACA JUGA: Jaga Kesegaran Ikan Nelayan, Peneliti IPB Ciptakan Pendingin Tenaga Surya

“Teknologi ini dapat menjangkau area yang sangat jauh, dan cocok digunakan di wilayah terpencil. Peatronics membantu mencegah kebakaran, menjaga kelembapan gambut, serta meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat,” ujar Aris. Ia menambahkan bahwa sistem ini dikembangkan sebagai upaya mitigasi kebakaran, mengingat Kabupaten Siak pernah mengalami kebakaran besar pada 2014.

Kabupaten Siak memiliki 57% wilayah berupa lahan gambut, dengan 21% di antaranya merupakan gambut dalam yang menyimpan cadangan karbon besar. Kondisi ini menjadikan pemantauan gambut sebagai bagian penting dari upaya pencegahan kebakaran dan pelestarian lingkungan.

Inovasi Pangan Berkelanjutan

Sementara itu, pada kompetisi tahun ini, 94 ide masuk tahap kurasi awal. Setelah penyaringan, 20 ide lolos dan masuk tahap wawancara. Dari wawancara tersebut, 10 tim terpilih mempresentasikan hasil pengembangan mereka di hadapan lebih dari 30 mitra yang berpotensi mendukung kolaborasi lanjutan.

Selain Peatronics, dua inovasi lain juga menjadi inovasi terbaik dalam ajang ini. Pertama adalah Mangalo FortiRice, inovasi pangan berkelanjutan berupa beras analog berbasis singkong yang difortifikasi dengan tepung bonggol pisang. Inovasi ini menawarkan alternatif pangan rendah gula, memanfaatkan limbah pertanian, serta mengangkat pangan lokal suku Sakai.

BACA JUGA: Mahasiswa UGM Buat Mulsa Organik dari Eceng Gondok dan Limbah Cangkang Telur

Fortifikasi bonggol pisang dapat meningkatkan kandungan mineral dan antioksidan alami. Tim pengembang yang terdiri dari Lady Asia, Fahira Anggraini, dan Rahyu Zulaika, berharap inovasi tersebut dapat memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi petani singkong dan pisang.

Kemudian, inovasi selanjutnya dari kelompok Archiscape, berupa konsep wisata aroma Siak dengan tema Harmoni Aroma Melayu. Konsep ini mengangkat kekayaan bunga herbal Riau melalui wisata tematik edukatif yang berakar pada budaya Melayu Siak.

Tim yang terdiri dari Remiya Samantha, Doksa Safira Tarigan, dan Melly Erviani, memandang pendekatan ini sebagai strategi pelestarian budaya sekaligus peluang keterlibatan UMKM dan masyarakat dalam ekonomi berbasis lahan gambut.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sistem-cegah-kebakaran-gambut-berbasis-iot-menang-di-siak-innovation/feed/ 0
Jaga Kesegaran Ikan Nelayan, Peneliti IPB Ciptakan Pendingin Tenaga Surya https://www.greeners.co/ide-inovasi/jaga-kesegaran-ikan-nelayan-peneliti-ipb-ciptakan-pendingin-tenaga-surya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jaga-kesegaran-ikan-nelayan-peneliti-ipb-ciptakan-pendingin-tenaga-surya https://www.greeners.co/ide-inovasi/jaga-kesegaran-ikan-nelayan-peneliti-ipb-ciptakan-pendingin-tenaga-surya/#respond Tue, 18 Nov 2025 11:38:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47695 Tim peneliti IPB University mengembangkan sistem pendingin berbasis energi surya untuk kapal nelayan skala kecil. Inovasi ini bernama Palka Pendingin Tenaga Surya (PPTS). Teknologi tersebut untuk membantu nelayan menjaga kesegaran […]]]>

Tim peneliti IPB University mengembangkan sistem pendingin berbasis energi surya untuk kapal nelayan skala kecil. Inovasi ini bernama Palka Pendingin Tenaga Surya (PPTS). Teknologi tersebut untuk membantu nelayan menjaga kesegaran hasil tangkapan tanpa menggunakan es balok.

Dosen Divisi Akustik, Instrumentasi, dan Robotika Kelautan, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Ayi Rahmat mengatakan bahwa saat ini masih banyak nelayan yang masih mengandalkan es dari darat. Biaya penggunaan es tersebut pun mahal dan tidak efisien, terutama di daerah terpencil.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Ayi bersama peneliti lainnya akhirnya mengembangkan PPTS lewat proyek riset Integrated Smart System Instrument for Small-Scale Fishing Vessel. Hasil pengembangan ini tidak hanya membantu nelayan, tetapi juga lebih ramah lingkungan.

Palka pendingin telah mengandalkan panel surya berkapasitas 1 kWp hingga 5 kWp. Panel surya tersebut dipasangkan dengan baterai LiFePO₄ dan sistem kontrol pintar. Energi yang dihasilkan digunakan untuk mengoperasikan freezer berkapasitas 300 liter yang mampu menjaga suhu di bawah 4°C selama 24 jam penuh.

“Menurut laporan teknis, sistem juga terintegrasi dengan internet of things (IoT) yang memantau suhu ruang pendingin, posisi kapal, serta kondisi baterai secara real-time. Pengujian di Pelabuhan Ratu, Cirebon, dan Brebes menunjukkan performa stabil dengan efisiensi tinggi tanpa konsumsi bahan bakar fosil,” ujarnya mengutip Berita IPB, Selasa (18/11).

Rangkaian uji coba juga telah dilakukan pada tiga unit kapal berukuran 7–9 meter. Selama satu bulan pelayaran, sistem beroperasi dengan baik dan mempertahankan suhu ideal penyimpanan ikan. Pengujian meliputi stabilitas kapal (pitching, yawing, dan rolling), ketahanan sistem, serta uji kesegaran ikan secara organoleptik.

“Hasilnya menunjukkan ikan tetap segar hingga mendarat di pelabuhan. Ini berdampak langsung pada peningkatan nilai jual tangkapan,” ucap Ayi.

Inovasi IPB Dukung Transisi Energi

Teknologi palka pendingin tenaga surya ini mampu menekan biaya operasional nelayan hingga 30 persen. Sebab, nelayan tidak perlu lagi membeli es. Selain itu, hasil tangkapan juga lebih segar sehingga meningkatkan harga jual ikan sebesar 10 sampai 15 persen.

Ayi mengatakan bahwa inovasi ini bisa mendukung target ekonomi biru dan transisi energi bersih yang kini menjadi komitmen pemerintah. “Kami ingin nelayan kecil bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga bagian dari solusi energi terbarukan,” ujar Ayi.

Setelah uji coba sukses di Jawa Barat, tim IPB University bekerja sama dengan kementerian dan lembaga. Di antaranya Kementerian Kelautan dan Perikanan, United Nations Development Programme (UNDP), dan mitra industri PT Cahaya Hijau Indonesia. Tujuan kerja sama ini untuk memperluas implementasi ke wilayah potensial perikanan di Tanimbar dan Morotai.

“Rencana ini juga sejalan dengan program SeaBLUE Palka Pendingin Project yang menargetkan 300 kapal nelayan dengan sistem PLTS komunal 3–5 kWp,” tambah Ayi.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/jaga-kesegaran-ikan-nelayan-peneliti-ipb-ciptakan-pendingin-tenaga-surya/feed/ 0
Loop Lab RISD: Mengubah Limbah Kampus Jadi Bahan Seni Masa Depan https://www.greeners.co/ide-inovasi/loop-lab-risd-mengubah-limbah-kampus-jadi-bahan-seni-masa-depan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=loop-lab-risd-mengubah-limbah-kampus-jadi-bahan-seni-masa-depan https://www.greeners.co/ide-inovasi/loop-lab-risd-mengubah-limbah-kampus-jadi-bahan-seni-masa-depan/#respond Sun, 16 Nov 2025 03:00:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47661 Rhode Island School of Design (RISD) menemukan keajaiban di balik tumpukan sampahnya: bahan baku seni masa depan. Melalui inisiatif baru bernama Loop Lab, kampus ternama ini mengubah limbah studio dan […]]]>

Rhode Island School of Design (RISD) menemukan keajaiban di balik tumpukan sampahnya: bahan baku seni masa depan. Melalui inisiatif baru bernama Loop Lab, kampus ternama ini mengubah limbah studio dan laboratorium menjadi sumber daya siap pakai untuk generasi desainer berikutnya.

Proyek ini dipelopori oleh Edna W. Lawrence Nature Lab dengan dukungan hibah $100.000 dari Maxwell/Hanrahan Foundation. Konsepnya sederhana tetapi revolusioner. Alih-alih membuang material sisa dan membeli yang baru, RISD menciptakan sistem sirkular yang menutup siklus konsumsi material di kampus.

Dari Limbah Menjadi Sumber Daya

Saat berjalan di area Loop Lab, pengunjung bisa melihat proses yang nyaris seperti alkimia. Kertas isap bekas cat berubah menjadi substrat baru untuk karya eksperimental, dan sisa kain katun muslin yang tadinya akan dibuang kini disiapkan kembali untuk proyek mahasiswa.

Transformasi ini melampaui praktik daur ulang biasa. RISD mengajarkan sirkularitas secara langsung, bukan sekadar membicarakannya di ruang teori. Mahasiswa ikut terlibat penuh—mereka memilah, membersihkan, dan memproses ulang material, lalu menggunakannya untuk eksplorasi desain baru.

Pendekatan ini menjadikan keberlanjutan sebagai bagian inti dari proses kreatif, bukan hanya jargon akademis. Setiap lembar kertas atau potongan kain membawa cerita tentang pengurangan limbah, inovasi, dan tanggung jawab ekologis.

Dari Studio ke Dunia: Dampak yang Menginspirasi

Publikasi desain internasional seperti Dezeen telah menyoroti dampak luas Loop Lab terhadap masa depan pendidikan desain. Dalam liputannya, proyek ini disebut sebagai “contoh nyata dari hasil keberlanjutan paling mudah dipetik”—yakni memanfaatkan aliran limbah internal kampus untuk menciptakan dampak langsung.

RISD menunjukkan bahwa perubahan sistemik dapat kita mulai dari hal sederhana: memetakan ulang hubungan antara limbah dan potensi material. Sekolah desain di seluruh dunia kini menghadapi tekanan untuk memasukkan prinsip keberlanjutan dalam kurikulum. Loop Lab menawarkan model yang realistis dan bisa direplikasi tanpa perlu investasi besar atau perombakan total.

Loop Lab beroperasi di bawah filosofi penelitian sirkularitas material—menjadikan riset tentang siklus hidup material sebagai fondasi teori dan praktik langsung sebagai tulang punggung operasional harian.

Mahasiswa belajar membaca ulang material terbuang bukan sebagai limbah, melainkan sebagai sumber inspirasi desain regeneratif. Setiap proyek yang lahir di laboratorium ini menggabungkan potensi estetika dan tanggung jawab ekologis, memperluas makna “materiality” dalam dunia seni dan desain.

“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa setiap pilihan material adalah keputusan etis,” ujar salah satu pengajar Nature Lab. “Loop Lab membantu mereka mempraktikkan keberlanjutan dengan tangan sendiri.”

Arsip Hidup Desain Sirkular

Edna W. Lawrence Nature Lab mendokumentasikan perjalanan Loop Lab secara rutin melalui media sosial. Mahasiswa membagikan karya, eksperimen, dan hasil riset material, menciptakan arsip terbuka tentang praktik desain sirkular yang terus berkembang.

Pendokumentasian ini memperluas pengaruh Loop Lab melampaui batas kampus, menginspirasi institusi lain untuk mengintegrasikan prinsip sirkularitas ke dalam kurikulum seni dan desain.

Loop Lab tidak sekadar menghemat biaya material atau mengurangi limbah. Program ini menantang sistem pasokan material konvensional dan menawarkan alternatif konkret bagi pendidikan kreatif yang berkelanjutan.

Mahasiswa yang lulus dari RISD kini membawa pengalaman langsung dalam desain sirkular. Hal ini menjadikan mereka lebih siap menghadapi dunia profesional yang menuntut tanggung jawab lingkungan dalam setiap proyek.

Seiring dunia pendidikan desain beradaptasi terhadap tantangan lingkungan global, Loop Lab menunjukkan bagaimana institusi dapat mengubah masalah operasional menjadi peluang pembelajaran.

Keberhasilan proyek percontohan ini menegaskan bahwa aliran limbah kampus dapat menjadi bagian integral dari kurikulum kreatif—membangun paradigma baru di mana setiap sisa material memiliki potensi untuk bercerita dan berevolusi.

RISD kini berdiri di garis depan pendidikan desain berkelanjutan global, menggabungkan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab dengan keunggulan artistik dan inovasi kreatif.

Dengan Loop Lab, RISD menunjukkan masa depan di mana keberlanjutan bukan sekadar nilai tambah, tetapi standar baru bagi dunia desain.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/loop-lab-risd-mengubah-limbah-kampus-jadi-bahan-seni-masa-depan/feed/ 0
Mahasiswa IPB Kembangkan NacoPack, Kemasan Aktif Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ipb-kembangkan-nacopack-kemasan-aktif-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ipb-kembangkan-nacopack-kemasan-aktif-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ipb-kembangkan-nacopack-kemasan-aktif-ramah-lingkungan/#respond Wed, 12 Nov 2025 05:00:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47651 Tim mahasiswa IPB University yang tergabung dalam TechNature Group berhasil menciptakan NacoPack. Inovasi tersebut berupa kemasan aktif ramah lingkungan berbahan jerami padi dan karbon aktif tempurung kelapa. Kemasan tersebut bisa […]]]>

Tim mahasiswa IPB University yang tergabung dalam TechNature Group berhasil menciptakan NacoPack. Inovasi tersebut berupa kemasan aktif ramah lingkungan berbahan jerami padi dan karbon aktif tempurung kelapa. Kemasan tersebut bisa jadi solusi untuk mengurangi food loss pada buah pisang Cavendish selama distribusi. Selain itu, juga dapat mendukung penerapan ekonomi sirkular di sektor pertanian.

Ketua tim, Aisha Nurfadhilla, menjelaskan bahwa timnya memanfaatkan jerami padi sebagai bahan dasar serat kertas. Sementara, karbon aktif dari tempurung kelapa berfungsi menyerap gas etilen dan kelembapan udara.

“Kombinasi bahan alami ini menghasilkan kemasan aktif yang efisien, ekonomis, dan berkelanjutan,” ujar Aisha.

Selain Aisha, tim TechNature Group juga beranggotakan Hawa Zahra Ramadhani, Moch Ragil Zia Rahman, Pradiptha Aryasena, dan Qoida Amanina Syahadah.

Solusi untuk Kurangi Food Loss Nasional

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO) dan Kementerian Pertanian (2022), Indonesia mengalami kerugian pangan hingga Rp551 triliun per tahun. Kerugian utama dari food loss buah dan sayuran di sepanjang rantai pasok.

Salah satu penyebabnya adalah kerusakan pada buah pisang Cavendish, komoditas ekspor unggulan yang mudah rusak akibat proses pematangan cepat. Melihat kondisi itu, tim mahasiswa IPB University merancang NacoPack untuk memperpanjang umur simpan buah dan menjaga kualitas selama pengiriman.

NacoPack hadir dalam bentuk lembaran kemasan aktif (active packaging sheet) berukuran 60×40 cm. Produk ini menyerap gas etilen dan uap air yang buah hasilkan setelah panen, memperlambat proses pematangan, serta menjaga kesegaran buah lebih lama.

Keunggulan lain, NacoPack dapat digunakan beberapa kali sebelum dikomposkan, sehingga mengurangi limbah plastik sekali pakai.

“NacoPack tidak hanya memperpanjang kesegaran buah, tetapi juga menjadi solusi kemasan berkelanjutan yang bisa mengurangi sampah plastik dan memanfaatkan limbah pertanian secara produktif,” jelas Aisha.

Produk ini telah diperkenalkan dalam berbagai kegiatan ilmiah, termasuk Youth Action Exhibition 2025 dalam rangka The 24th International Student Summit on Food, Agriculture, and Environment. Acara tersebut hasil kolaborasi antara IPB University dan Tokyo University of Agriculture. Pameran tersebut menjadi ajang penting bagi mahasiswa IPB untuk menampilkan inovasi teknologi hijau dan praktik pertanian berkelanjutan.

Ke depan, tim TechNature Group berencana memperluas penerapan NacoPack untuk buah klimaterik lainnya, seperti mangga, pepaya, dan alpukat. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata mahasiswa IPB University dalam mendukung pertanian berkelanjutan dan pengurangan limbah pangan di Indonesia.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ipb-kembangkan-nacopack-kemasan-aktif-ramah-lingkungan/feed/ 0