Inovasi - Greeners.Co https://www.greeners.co/ide-inovasi/category/inovasi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 20 Jun 2026 01:44:53 +0000 id hourly 1 BRIN Ubah Bakteri Ungu Menjadi Energi Listrik Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-ubah-bakteri-ungu-menjadi-energi-listrik-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-ubah-bakteri-ungu-menjadi-energi-listrik-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-ubah-bakteri-ungu-menjadi-energi-listrik-ramah-lingkungan/#respond Sun, 21 Jun 2026 01:40:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48625 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan teknologi energi terbarukan melalui inovasi sel surya bio-fotovoltaik berbasis pigmen fotosintesis dari bakteri ungu (Rhodobacter sphaeroides). Teknologi ini memanfaatkan material biologis sebagai […]]]>

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan teknologi energi terbarukan melalui inovasi sel surya bio-fotovoltaik berbasis pigmen fotosintesis dari bakteri ungu (Rhodobacter sphaeroides). Teknologi ini memanfaatkan material biologis sebagai komponen utama perangkat sel surya generasi ketiga yang lebih ramah lingkungan.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Tulus, menjelaskan bahwa penelitian tersebut berfokus pada pemanfaatan protein kompleks fotosintesis reaction center-light harvesting 1 (RC-LH1) dari bakteri ungu sebagai lapisan penyerap cahaya pada perangkat sel surya.

“Material biologis tersebut dikombinasikan dengan berbagai lapisan semikonduktor untuk menghasilkan pemisahan muatan listrik ketika terpapar cahaya matahari,” jelas Tulus melansir Berita BRIN, Jumat (19/6).

Dalam pengembangannya, kata Tulus, tim peneliti menggunakan struktur elektroda berlapis indium tin oxide (ITO), zinc oxide (ZnO), dan fullerene (C60) sebagai katoda untuk mengumpulkan elektron. Sementara itu, lapisan molibdenum oksida dan perak digunakan sebagai anoda untuk mengumpulkan hole. Di antara kedua elektroda tersebut ditempatkan material aktif RC-LH1 yang berperan dalam proses konversi energi cahaya menjadi energi listrik.

Menurut Tulus, riset ini menghadirkan pendekatan baru dalam pengembangan teknologi fotovoltaik dengan memanfaatkan sistem fotosintesis alami yang dimiliki bakteri ungu. Bakteri tersebut tidak bersifat patogen sehingga aman digunakan dan memiliki kemampuan fotosintesis yang sangat efisien.

“Pada prinsipnya, fotosintesis dan fotovoltaik memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memanfaatkan energi cahaya matahari. Fotosintesis mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, sedangkan fotovoltaik mengubahnya menjadi energi listrik,” ujarnya.

Keunggulan Utama

Selain itu, menurut Tulus, keunggulan utama sistem fotosintesis bakteri ungu terletak pada efisiensi kuantum yang tinggi dan kemampuan pemisahan muatan yang sangat baik. Karakteristik tersebut menjadikan RC-LH1 sebagai salah satu material biologis yang potensial untuk mendukung pengembangan teknologi bio-fotovoltaik.

Selain menghasilkan inovasi energi bersih, penelitian ini juga membuka peluang peningkatan nilai tambah biomassa bakteri ungu. Biomassa tersebut selama ini belum memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Melalui penelitian ini, kami berupaya memanfaatkan komponen fotosintesis bakteri ungu sebagai material pengonversi energi cahaya menjadi energi listrik yang bernilai lebih tinggi,” ujarnya.

Teknologi yang dikembangkan BRIN, menurutnya, termasuk dalam kategori sel surya generasi ketiga (third-generation solar cells). Ini merupakan bagian dari teknologi fotovoltaik baru (emerging photovoltaics), khususnya bio-solar cell. Teknologi ini dinilai lebih berkelanjutan karena menggunakan material hijau, diproses pada suhu rendah, serta memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah.

Tulus yakin, hasil penelitian menunjukkan capaian yang menjanjikan. Perangkat bio-fotovoltaik yang dikembangkan berhasil menghasilkan nilai open circuit voltage (tegangan rangkaian terbuka) yang sangat tinggi untuk kategori bio-fotovoltaik padat.

“Sepengetahuan kami, capaian ini masih menjadi salah satu hasil terbaik pada bidang bio-fotovoltaik padat untuk parameter open circuit voltage. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan arus yang dihasilkan agar efisiensi keseluruhan perangkat semakin tinggi,” ungkapnya.

Riset ini merupakan hasil kolaborasi internasional antara BRIN dengan University of Bristol. Kolaborasi ini melalui Mike Jones serta para peneliti dari Vrije Universiteit Amsterdam. Kolaborasi tersebut bertujuan mengembangkan desain sel surya inovatif yang dapat mendukung transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan di masa depan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-ubah-bakteri-ungu-menjadi-energi-listrik-ramah-lingkungan/feed/ 0
Dosen UNP Ciptakan Bulu Mata Palsu dari Pelepah Pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-unp-ciptakan-bulu-mata-palsu-dari-pelepah-pisang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dosen-unp-ciptakan-bulu-mata-palsu-dari-pelepah-pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-unp-ciptakan-bulu-mata-palsu-dari-pelepah-pisang/#respond Thu, 18 Jun 2026 11:49:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48611 Produk kecantikan hingga kini masih didominasi bahan sintetis. Di balik itu, inovasi produk kecantikan ramah lingkungan hadir dari tangan dosen Departemen Tata Rias dan Kecantikan Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas […]]]>

Produk kecantikan hingga kini masih didominasi bahan sintetis. Di balik itu, inovasi produk kecantikan ramah lingkungan hadir dari tangan dosen Departemen Tata Rias dan Kecantikan Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang (UNP), Vivi Efrianova. Ia menciptakan bulu mata palsu berbahan dasar serat pelepah batang pisang kepok.

Inovasi tersebut berangkat dari keresahan Vivi terhadap dampak lingkungan dan potensi bahaya penggunaan bahan sintetis. Dari situ, ia melihat peluang besar pada serat alami yang selama ini belum banyak dimanfaatkan. Pelepah pisang kepok yang kerap dianggap limbah ternyata memiliki karakteristik yang menyerupai bulu mata manusia. Mulai dari tekstur hingga kilau alaminya.

“Produk bulu mata palsu yang terbuat dari serat pelepah batang pisang kepok dapat berkontribusi signifikan pada keberlanjutan dan ramah lingkungan,” ungkap Vivi melansir Berita UNP, Kamis (18/6).

Tak hanya menyerupai bulu mata sintetis secara visual, penggunaan serat alami ini juga lebih ringan dan nyaman, bahkan dalam waktu yang lama. Penggunaan bahan alami tersebut menjadikannya pilihan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan daripada produk konvensional.

Proses pembuatannya pun tidak sederhana. Serat pelepah pisang harus melalui berbagai tahapan, mulai dari pemotongan, penyerutan, pencucian, penjemuran, hingga pewarnaan. Setelah itu, serat dirangkai secara manual dengan tingkat ketelitian tinggi hingga menjadi bulu mata palsu yang siap digunakan.

Di balik inovasi tersebut, terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku berkualitas. Untuk mengatasinya, Vivi menggandeng petani pisang lokal guna memastikan pasokan serat terbaik sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.

Menjawab Kebutuhan Konsumen

Uniknya, inovasi ini juga mampu menjawab kebutuhan konsumen Muslim. Dengan bahan alami yang halal, produk tersebut aman tanpa menimbulkan keraguan dalam aspek ibadah.

“Serat alami yang lebih ringan dan nyaman membuat pengguna dapat mengenakan bulu mata palsu ini dalam waktu yang lebih lama tanpa merasa tidak nyaman,” tambah Vivi.

Saat ini, produk tersebut masih berada pada tahap pengujian untuk memastikan kualitas dan keamanannya sebelum dipasarkan secara luas. Di saat yang sama, Vivi tengah mengajukan hak paten sebagai bentuk perlindungan atas karya inovatif tersebut.

Ia juga menjalin kerja sama dengan industri, termasuk PT Nanotech Natura Indonesia, untuk mengembangkan produk melalui pemanfaatan teknologi, salah satunya nanoteknologi.

Tak sekadar menawarkan alternatif produk kecantikan yang lebih ramah lingkungan, inovasi ini juga membuka peluang ekonomi baru. Pemanfaatan pelepah pisang sebagai bahan baku memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus mendorong praktik pertanian berkelanjutan.

“Dengan bekerja sama langsung dengan petani lokal, kami tidak hanya mendukung ekonomi masyarakat, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan,” kata dia.

Vivi berharap inovasi ini tidak hanya menjadi pilihan produk kecantikan yang aman dan ramah lingkungan. Lebih dari itu, ia ingin temuannya dapat menginspirasi lahirnya lebih banyak inovasi berbasis bahan alami yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-unp-ciptakan-bulu-mata-palsu-dari-pelepah-pisang/feed/ 0
Mahasiswa UGM Teliti Daun Kirinyuh untuk Atasi Mikroplastik pada Unggas https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-teliti-daun-kirinyuh-untuk-atasi-mikroplastik-pada-unggas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-teliti-daun-kirinyuh-untuk-atasi-mikroplastik-pada-unggas https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-teliti-daun-kirinyuh-untuk-atasi-mikroplastik-pada-unggas/#respond Wed, 10 Jun 2026 05:00:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48586 Jakarta (Greeners) – Pencemaran mikroplastik kini tidak hanya ditemukan di lingkungan perairan, tetapi juga pada bahan baku pakan komersial ayam broiler. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pencemaran mikroplastik kini tidak hanya ditemukan di lingkungan perairan, tetapi juga pada bahan baku pakan komersial ayam broiler. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi berbasis daun kirinyuh (Chromolaena odorata) untuk membantu mengatasi dampak mikroplastik pada ternak unggas.

Melansir Berita UGM, partikel mikroplastik yang masuk ke tubuh ternak dapat memicu stres oksidatif, merusak saluran pencernaan, mengganggu penyerapan nutrisi, hingga menurunkan performa pertumbuhan. Selain berdampak pada kesehatan hewan, kondisi ini juga berpotensi membahayakan manusia melalui transfer trofik saat konsumsi produk ternak.

Sebagai solusi, mahasiswa UGM mengembangkan feed additive alami berbasis nanopartikel daun kirinyuh. Produk ini memiliki mekanisme kerja ganda, yaitu sebagai adsorben alami yang mampu mengikat mikroplastik di saluran pencernaan sekaligus sebagai sumber senyawa antioksidan alami.

Inovasi tersebut merupakan hasil pengembangan tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE). Ketua program ini adalah Fauzan Akbar Nugroho dari Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan angkatan 2024. Riset juga telah melibatkan kolaborasi lintas disiplin bersama mahasiswa dari berbagai fakultas di UGM di bawah bimbingan Sofi’ul Anam.

Tim peneliti terdiri atas Fauzan Akbar Nugroho dan Dhiaz Larasati dari Fakultas Peternakan. Kemudian, Dimas Jati dari Sekolah Vokasi, Muhammad Fazli dari Fakultas Biologi, serta Nabilla Saver dari Fakultas Farmasi juga ikut terlibat.

Mengikat Mikroplastik secara Efektif

Sementara itu, Fauzan mengatakan inovasi dari hasil kolaborasi lintas bidang ini untuk menghadirkan solusi inovatif, khususnya terhadap permasalahan mikroplastik. Sebab, mikroplastik kini menjadi ancaman serius bagi rantai makanan terestrial.

“Ukuran partikel berskala nano pada produk dari daun kirinyuh ini memungkinkan peningkatan luas permukaan sehingga mampu mengikat mikroplastik secara lebih efektif dan membantu proses ekskresi melalui feses,” kata Fauzan melansir Berita UGM, Selasa (9/6).

Selain itu, kata Fauzan, kandungan flavonoid dan senyawa fenolik pada daun kirinyuh memiliki peran penting. Di antaranya bisa menekan stres oksidatif serta membantu menjaga kesehatan jaringan usus ternak.

Fauzan berharap pengembangan riset ini dapat menjadi salah satu langkah inovatif dalam mendukung keamanan pangan dan produktivitas peternakan berkelanjutan. “Riset kolaborasi lintas bidang ilmu bisa mendukung SDGs dari aspek ketahanan pangan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-teliti-daun-kirinyuh-untuk-atasi-mikroplastik-pada-unggas/feed/ 0
Desainer Tokyo Buat Lampu Artistik dari Kaleng Soda Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-tokyo-buat-lampu-artistik-dari-kaleng-soda-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=desainer-tokyo-buat-lampu-artistik-dari-kaleng-soda-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-tokyo-buat-lampu-artistik-dari-kaleng-soda-bekas/#respond Thu, 04 Jun 2026 08:46:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48555 Jakarta (Greeners) – Material daur ulang dari sampah menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi produk yang unik dan bernilai. Hal ini dibuktikan oleh desainer produk asal Tokyo, Kenji Abe, yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Material daur ulang dari sampah menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi produk yang unik dan bernilai. Hal ini dibuktikan oleh desainer produk asal Tokyo, Kenji Abe, yang menciptakan lampu artistik dari kaleng soda bekas.

Alih-alih memurnikan aluminium hasil daur ulang hingga menyerupai material baru, Kenji justru mempertahankan berbagai ketidaksempurnaan yang muncul selama proses pengolahan. Kerutan, gelembung udara, hingga bekas tinta dari kaleng asli dibiarkan tetap terlihat sebagai bagian dari karakter material.

Tinta yang tersisa pada permukaan kaleng meresap ke dalam logam saat proses peleburan. Hasilnya menghadirkan tekstur yang lebih menyerupai batuan atau tulang lapuk dibandingkan aluminium yang diproduksi secara massal. Karakter inilah yang membuat setiap lampu memiliki tampilan berbeda dan sulit untuk direplikasi.

Pada hasil akhirnya, material tersebut tampak seperti bahan alami. Permukaannya menampilkan lekukan, tonjolan tak beraturan, serta garis-garis halus yang jauh dari kesan logam hasil proses industri. Jejak asal-usul kaleng soda masih tersimpan dalam material tersebut, meski hampir tidak lagi terlihat dalam bentuk akhirnya.

Terinspirasi Organisme Laut Mikroskopis

Keunikan lampu ini tidak hanya terletak pada materialnya, tetapi juga pada bentuknya. Kenji mengambil inspirasi dari foraminifera, organisme laut mikroskopis yang memiliki cangkang berpori dengan banyak lubang dan rongga kecil.

Bentuk tersebut kemudian dipadukan dengan karakter batuan yang terkikis oleh alam. Melalui proses penambahan dan pengurangan elemen geometris secara cermat, terciptalah struktur organik yang berongga dan penuh detail.

Saat lampu menyala, cahaya memantul di dalam ruang kosong tersebut sebelum keluar melalui lubang-lubang kecil di permukaannya. Efek yang dihasilkan menciptakan permainan cahaya yang lembut sekaligus memperkuat kesan alami pada objek tersebut.

Lampu ini bernama Aperire, yang berasal dari bahasa Latin dan berarti “membuka”. Nama tersebut berkaitan dengan aperture pada kamera, yaitu mekanisme yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke lensa. Selain itu, kata Aperire juga memiliki hubungan dengan bulan April, musim ketika bunga-bunga mulai bermekaran.

Melalui karya dari buah tangan Kenji ini menunjukkan bahwa desain berkelanjutan tidak harus mengorbankan nilai estetika. Sebaliknya, material bekas yang sering dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk dengan karakter visual yang kuat dan fungsi yang tetap relevan.

Inovasi tersebut menjadi inspirasi bagi para desainer dan pegiat seni untuk melihat sampah dari perspektif berbeda. Dengan kreativitas dan pendekatan yang tepat, barang-barang bekas dapat bertransformasi menjadi karya yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menghadirkan nilai artistik untuk mengisi ruangan lebih memukau.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-tokyo-buat-lampu-artistik-dari-kaleng-soda-bekas/feed/ 0
BRIN Ubah Gas Metana TPA Menjadi Sumber Energi https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-ubah-gas-metana-tpa-menjadi-sumber-energi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-ubah-gas-metana-tpa-menjadi-sumber-energi https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-ubah-gas-metana-tpa-menjadi-sumber-energi/#respond Tue, 02 Jun 2026 13:09:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48547 Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pemanenan gas metana dari tempat pemrosesan akhir (TPA). Inovasi ini bisa menjadi sumber energi alternatif […]]]>

Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pemanenan gas metana dari tempat pemrosesan akhir (TPA). Inovasi ini bisa menjadi sumber energi alternatif bagi masyarakat.

Teknologi ini telah dirancang sederhana dan mudah diterapkan sehingga berpotensi digunakan di berbagai daerah. Peneliti Ahli Utama BRIN, Sri Wahyono mengatakan, pengembangan teknologi tersebut berdasarkan pengalaman lapangan serta kolaborasi dengan pengelola TPA di sejumlah daerah, termasuk Malang.

“Teknologi ini memanfaatkan peralatan sederhana, seperti pipa, suction blower, dan unit pemurnian gas. Gas metana yang terkumpul dapat menjadi bahan bakar kompor maupun sumber energi untuk generator yang dimodifikasi agar dapat menghasilkan listrik dari gas metana TPA,” ujar Sri melansir Berita BRIN.

Sri mengungkapkan bahwa pengembangan teknologi ini diawali dengan studi lapangan. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik timbunan sampah dan kandungan gas metana di lokasi TPA. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak untuk memprediksi potensi gas sekaligus menentukan titik optimal pemasangan sumur gas.

Pemasangan sumur berlangsung secara horizontal maupun vertikal dengan jarak tertentu dengan menyesuaikan kondisi timbunan sampah. Dalam proses instalasi, tim juga menghadapi tantangan lingkungan TPA yang bersuhu tinggi dan berbau menyengat.

Gas metana yang terkumpul dialirkan melalui jaringan pipa dan disedot menggunakan suction blower karena tekanan gas relatif rendah. Sebelum dimanfaatkan, gas terlebih dahulu dimurnikan untuk mengurangi kandungan air, karbon dioksida, dan hidrogen sulfida agar lebih aman digunakan.

Bahan Bakar Memasak

Saat ini, gas metana hasil pemanenan dimanfaatkan untuk kebutuhan bahan bakar memasak masyarakat sekitar maupun operasional internal pengelola TPA. Selain itu, gas tersebut juga dapat digunakan untuk pembangkit listrik skala kecil, meski kestabilan pasokan masih menjadi tantangan.

Sri menjelaskan bahwa pengembangan teknologi pemanenan gas metana melalui sejumlah tahapan. Tahapan tersebut meliputi identifikasi potensi gas, penentuan lokasi sumur, pemasangan instalasi, pengaliran gas menggunakan suction blower, hingga proses pemurnian sebelum dimanfaatkan sebagai sumber energi.

“Teknologi ini sebenarnya sederhana, tetapi telah terbukti dapat dimanfaatkan di beberapa tempat pemrosesan akhir (TPA) dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Sri.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-ubah-gas-metana-tpa-menjadi-sumber-energi/feed/ 0
Dosen Universitas Brawijaya Buat Sunscreen dari Ekstrak Rambut Jagung https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-universitas-brawijaya-buat-sunscreen-dari-ekstrak-rambut-jagung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dosen-universitas-brawijaya-buat-sunscreen-dari-ekstrak-rambut-jagung https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-universitas-brawijaya-buat-sunscreen-dari-ekstrak-rambut-jagung/#respond Sun, 24 May 2026 03:00:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48511 Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya, Rosalina Ariesta Laeliocattleya menciptakan inovasi produk sunscreen (tabir surya) anak dari ekstrak rambut jagung melalui Hi-To-Go Sun Protector. Inovasi produk perawatan kulit tersebut […]]]>

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya, Rosalina Ariesta Laeliocattleya menciptakan inovasi produk sunscreen (tabir surya) anak dari ekstrak rambut jagung melalui Hi-To-Go Sun Protector. Inovasi produk perawatan kulit tersebut menjadi terobosan baru dalam memanfaatkan limbah pertanian menjadi produk yang ramah lingkungan.

Kini, produk ini merupakan bagian dari lini BOUMI, merek perawatan diri khusus anak usia 4-14 tahun hasil kolaborasi Universitas Brawijaya bersama PT Cedefindo yang berada di bawah Martha Tilaar Group.

Rosalina menjelaskan bahwa inovasi ini berangkat dari potensi limbah yang belum termanfaatkan secara optimal. “Kami ingin mengkaji nilai bahan aktif dalam suatu produk yang awalnya dianggap limbah, seperti rambut jagung, sehingga bisa memberikan nilai tambah sekaligus ramah lingkungan,” kata Rosalina melansir Berita UB, Jumat (22/5).

Secara formulasi, Hi-To-Go Sun Protector mengombinasikan ekstrak rambut jagung (zea mays silk extract) dengan bahan alami lain seperti minyak atsiri dan lavandula hybrida oil. Produk ini memiliki kandungan SPF 50 PA++ yang efektif melindungi kulit anak dari paparan sinar UVA dan UVB.

Selain itu, sunscreen ini berfungsi menjaga kelembapan kulit dan memberikan sensasi nyaman melalui aroma alami lavender. Produk ini juga aman untuk kulit anak yang sensitif dan aktif.

“Produk ini kami rancang agar praktis, sehingga bentuknya spray dan mudah anak-anak gunakan,” tambahnya.

Rosalina menambahkan bahwa penelitian terhadap bahan aktif lokal tidak berhenti pada produk sunscreen saja. Berbagai komponen pangan lokal berpotensi berkembang menjadi agen perlindungan sinar UV.

“Pada dasarnya, banyak bahan aktif pangan lokal yang kami kaji memiliki potensi anti UV, sehingga ke depan bisa berkembang lebih luas, termasuk dikombinasikan dengan bahan lain untuk meningkatkan efektivitasnya,” ungkapnya.

Tahap Produksi Massal

Produk sunscreen tersebut saat ini telah memasuki tahap produksi massal melalui kerja sama dengan PT Cedefindo. Dalam proses produksinya, bahan baku rambut jagung diperoleh dari kerja sama dengan petani, khususnya di wilayah Pulau Jawa.

“Kami bekerja sama dengan petani untuk memanfaatkan limbah rambut jagung. Namun, tidak menutup kemungkinan dapat bekerja sama dengan industri lain yang juga menghasilkan limbah rambut jagung,” tambahnya.

Selain itu, produk ini juga memiliki keunggulan pada efisiensi biaya produksi dan keberlanjutan lingkungan. Dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan utama, produk ini mampu menekan biaya sekaligus menghadirkan inovasi berbasis sumber daya lokal.

“Keunggulan kami adalah mengangkat bahan yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi, serta membuka peluang kolaborasi dengan industri berbasis bahan lokal Indonesia,” kata Rosalina.

Ke depannya, kata dia, pengembangan produk berbasis rambut jagung juga diarahkan pada inovasi lain. Contohnya, minuman herbal hingga potensi anti kanker, meskipun masih dalam tahap penelitian. Tim peneliti juga sedang mengkaji penggunaan rambut jagung seara langsung, misalnya untuk teh herbal. Namun, saat ini masih dalam tahap riset lebih lanjut.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-universitas-brawijaya-buat-sunscreen-dari-ekstrak-rambut-jagung/feed/ 0
Desainer Asal Korea Buat Lampu dari Rumput Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut/#respond Fri, 22 May 2026 05:33:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48502 Desainer Korea Selatan Su Yang Choi menghadirkan inovasi desain ramah lingkungan melalui karya instalasi lampu bertajuk Slow2 yang terbuat dari rumput laut. Karya ini ia pamerkan dalam ajang Salone Satellite […]]]>

Desainer Korea Selatan Su Yang Choi menghadirkan inovasi desain ramah lingkungan melalui karya instalasi lampu bertajuk Slow2 yang terbuat dari rumput laut. Karya ini ia pamerkan dalam ajang Salone Satellite 2026 di Milan, Italia, dan menjadi bagian dari seri Slow Project.

Berbeda dari pendekatan desain berkelanjutan yang umumnya hanya menempatkan material alami sebagai pengganti bahan konvensional, Choi mencoba menunjukkan bahwa material ramah lingkungan juga dapat memiliki identitas visual dan nilai estetika yang kuat.

Slow2 terbuat dari agar rumput laut, biopolimer biodegradable yang diformulasikan tanpa tambahan sintetis. Material tersebut dilapisi pada struktur tubular berbahan baja dan dipadukan dengan strip LED di bagian dalamnya. Hasilnya adalah instalasi bercahaya dengan efek semi-transparan yang menciptakan tampilan futuristis sekaligus organik.

Desain karya ini terinspirasi dari konsep baramgil dalam arsitektur hanok tradisional Korea, yaitu prinsip ruang yang menciptakan kesan kedalaman melalui susunan bidang dan perspektif. Choi menerjemahkan ide tersebut menjadi dua bentuk lingkaran tubular yang saling terhubung secara vertikal.

Saat digantung dari langit-langit, instalasi memproyeksikan bayangan lingkaran bertumpuk ke dinding sehingga menghadirkan dimensi visual tambahan. Dari sudut tertentu, karya tampak seperti satu bentuk utuh, sementara dari sudut lain terlihat lapisan ruang yang lebih dalam.

Warna dari Pigmen Alami

Warna dalam karya ini juga berasal dari pigmen alami, khususnya gardenia dan paprika. Keduanya menghasilkan gradien dari kuning keemasan dan kuning hangat di bawah hingga merah yang pekat di bagian atas.

Pergeseran warnanya pun tidak diterapkan dalam pita datar tetapi bergerak secara bertahap di seluruh bentuk. Kemudian, terdapat cahaya LED memperkuat variasi tersebut secara berbeda melalui setiap lapisan agar, sehingga pewarnaan berubah tergantung dari mana pengunjung melihatnya. 

Tidak hanya menonjolkan bentuk, Choi juga mempertahankan tekstur alami material agar pada permukaan lampu. Detail tersebut memperkuat karakter organik sekaligus menunjukkan potensi estetika material berbasis alam.

Melalui Slow2, Choi ingin memperlihatkan bahwa material berkelanjutan tidak sekadar menjadi alternatif ramah lingkungan, tetapi juga mampu melahirkan pendekatan baru dalam desain modern.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut/feed/ 0
Peneliti BRIN Kembangkan Katalis Nanokarbon dari Limbah Baterai https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-kembangkan-katalis-nanokarbon-dari-limbah-baterai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-brin-kembangkan-katalis-nanokarbon-dari-limbah-baterai https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-kembangkan-katalis-nanokarbon-dari-limbah-baterai/#respond Mon, 06 Apr 2026 09:03:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48316 Jakarta (Greeners) – Seiring peralihan transportasi dari bahan bakar fosil ke energi listrik, tengah memunculkan tantangan baru, yakni meningkatnya limbah baterai yang berpotensi mencemari lingkungan. Di tangan seorang peneliti Badan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Seiring peralihan transportasi dari bahan bakar fosil ke energi listrik, tengah memunculkan tantangan baru, yakni meningkatnya limbah baterai yang berpotensi mencemari lingkungan. Di tangan seorang peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), limbah baterai tersebut berubah menjadi produksi hidrogen.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Katalisis BRIN, Indri Badria Adilina mengembangkan penelitiannya dengan memanfaatkan limbah baterai sebagai bahan dasar pembuatan katalis nanokarbon. Dalam inovasi ini, ia memanfaatkan kandungan karbon dari black mass baterai bekas sebagai katalis nanokarbon untuk produksi gas hidrogen dari air (electrocatalytic water splitting) sebagai bahan bakar alternatif.

Menurut Indri, karbon dari limbah baterai memiliki keunikan tersendiri. Setelah ia modifikasi, material ini memiliki konduktivitas listrik yang tinggi. Alhasil, mampu menghantarkan elektron secara efektif dalam proses elektrokatalitik untuk menghasilkan hidrogen.

“Di dalam limbah baterai terdapat material berbasis karbon yang berpotensi sebagai bahan baku katalis. Melalui modifikasi dengan pendekatan nanoteknologi, material ini dapat berkembang menjadi material maju berstruktur nano yang efektif untuk berbagai reaksi katalitik,” kata Indri melansir Berita BRIN, Senin (6/4).

Selain itu, katalis berbasis karbon dari limbah baterai ini juga memiliki luas permukaan yang besar serta struktur nano berpori. Ini sangat berperan dalam meningkatkan efisiensi transfer elektron dan mempercepat produksi hidrogen.

Carbon black mass atau karbon dari baterai bekas, mempunyai uniqueness yang setelah kami modifikasi bisa memiliki konduktivitas yang besar. Dengan demikian, mampu menghantarkan elektron untuk proses elektrokatalitik dalam proses water splitting menjadi hidrogen. Dalam proses elektrokatalitik ini, air dipecah menjadi hidrogen dan oksigen menggunakan katalis nanokarbon, sehingga menghasilkan green hydrogen sebagai alternatif biofuel hidrogen,” tambah Indri.

Katalis untuk Berbagai Bidang

Dalam riset tersebut, Indri menguji katalis berstruktur nano melalui analisis luas permukaan, morfologi, struktur, serta pori dan nanopori. Karakterisasi ini menggunakan teknik pencitraan seperti scanning electron microscopy (SEM) dan transmission electron microscopy (TEM).

Sementara, untuk analisis mendalam pada tingkat atomik dan molekuler dilakukan melalui karakterisasi lanjut berbasis fasilitas akselerator. Khususnya, sinkrotron sinar-X dan neutron scattering.

“Melalui karakterisasi lanjut, kita bisa melihat lebih dalam terkait struktur kimia dan pori dan nanokarbon ini sehingga mendapatkan katalis yang efektif, tanpa adanya structural changes atau perubahan-perubahan yang tidak diinginkan pada reaksi elektrokatalis ini,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengatakan bahwa saat ini lebih dari 90 persen industri membutuhkan katalis. Katalis di berbagai bidang bermanfaat untuk penelitian, seperti bidang kedokteran, tekstil, dan pangan. Menurutnya, katalis dapat dianalogikan sebagai “magic powder” karena mampu menurunkan energi aktivasi dalam suatu proses kimia. Tanpa kehadiran katalis, energi untuk menjalankan proses tersebut akan jauh lebih besar.

“Secara penelitian, katalis dapat menurunkan energi aktivasi 2-3 kali lipat dari proses-proses tanpa katalis.  Dengan menggunakan katalis nanokarbon ini dapat menurunkan energi aktivasi yang diperlukan dalam proses produksi hidrogen sebagai alternatif energi,” tambah Indri.

Dukung Ekonomi Sirkular

Indri mengungkapkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mendukung pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia. Selain itu, juga berkontribusi pada kemajuan teknologi hijau, baik di tingkat nasional maupun global.

Ia menjelaskan, inovasi ini tidak hanya berfokus pada upaya menekan potensi pencemaran. Namun, juga membuka peluang dalam pengembangan material katalitik yang lebih efisien dan berkelanjutan guna mendukung produksi kimia hijau.

Lebih lanjut, Indri menegaskan bahwa mewujudkan ekonomi sirkular di Indonesia tidak dapat dilakukan oleh periset saja. Perlu kolaborasi yang erat dengan sektor industri untuk bersama-sama mendorong pengembangan green and sustainable chemistry. Kolaborasi ini penting dalam mempercepat transformasi industri menuju arah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Ke depan, ia berharap dapat berperan dalam mengedukasi sektor industri sekaligus menjembatani kolaborasi antara industri dan para peneliti. Indri juga menyebutkan bahwa saat ini BRIN tengah mengembangkan sains berbasis teknologi canggih, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi akselerator.

Teknologi tersebut memungkinkan identifikasi dini terhadap berbagai fenomena, seperti deaktivasi katalis dan perubahan struktur nano pada katalis yang dapat menurunkan performanya. Dengan demikian, penggunaan teknologi ini berpotensi meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya dalam proses industri.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-kembangkan-katalis-nanokarbon-dari-limbah-baterai/feed/ 0
BRIN Temukan Metode Alternatif Pengolahan Air Limbah https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-temukan-metode-alternatif-pengolahan-air-limbah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-temukan-metode-alternatif-pengolahan-air-limbah https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-temukan-metode-alternatif-pengolahan-air-limbah/#respond Thu, 02 Apr 2026 12:45:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48292 Aktivitas industri kerap menghasilkan air limbah yang mengandung logam berat seperti tembaga. Untuk mengatasi hal tersebut, Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi […]]]>

Aktivitas industri kerap menghasilkan air limbah yang mengandung logam berat seperti tembaga. Untuk mengatasi hal tersebut, Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi guna membersihkan air limbah tercemar, khususnya tembaga (Cu²⁺).

Air limbah yang tercemar apabila tidak terolah dengan baik, zat ini akan mencemari lingkungan dan berdampak pada kesehatan manusia. Sebab, mengandung zat toksik dan sulit terurai secara alami. Menanggapi kondisi tersebut, BRIN mengembangkan teknologi dengan memanfaatkan karbon aktif yang dimodifikasi menggunakan iridiasi gamma dan bahan tambahan yang lebih ramah lingkungan.

Dalam pengembangan tersebut, karbon aktif yang umum digunakan sebagai penyaring air, ditingkatkan kemampuannya melalui proses modifikasi. Karbon aktif dicampur dengan surfaktan Methyl Ester Sulfonate (MES), yaitu bahan yang lebih mudah terurai dan berasal dari sumber yang lebih ramah lingkungan. Selanjutnya, material tersebut diproses menggunakan iradiasi gamma untuk memperbaiki struktur permukaan dan meningkatkan daya serapnya terhadap logam berat.

Hasilnya menunjukkan bahwa karbon aktif yang telah dimodifikasi mampu menyerap logam tembaga secara lebih cepat dan efektif dibandingkan karbon aktif biasa. Kondisi optimal dicapai pada waktu kontak 15 menit dengan dosis iradiasi gamma 10 kGy, dengan kapasitas adsorpsi yang lebih tinggi.

Dosen Poltek Nuklir, Dhita Ariyanti menjelaskan bahwa inovasi ini merupakan upaya untuk menghadirkan solusi praktis dalam pengolahan air limbah. Tim periset mengembangkan metode untuk meningkatkan kemampuan karbon aktif dalam menyerap logam berat. Hasilnya menunjukkan potensi yang baik untuk diterapkan dalam pengolahan air limbah, terutama karena prosesnya relatif cepat dan efisien.

“Namun demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi meningkatkan kinerja penyerapan limbah karbon aktif melalui inovasi teknologi radiasi,” ujar Dhita melansir Berita BRIN.

Dhita menambahkan bahwa penggunaan surfaktan MES menjadi keunggulan tersendiri karena lebih aman bagi lingkungan dibandingkan bahan kimia konvensional.

BRIN menemukan metode alternatif pengolahan air limbah. Foto: BRIN

BRIN menemukan metode alternatif pengolahan air limbah. Foto: BRIN

Tingkatkan Peforma Material

Sementara itu, dari sisi mekanisme, proses iradiasi gamma terbukti berperan dalam meningkatkan performa material. Dosen Poltek Nuklir, Deny Swantomo, menjelaskan bahwa iradiasi mampu mengubah struktur karbon aktif hingga tingkat mikro.

“Iradiasi gamma memungkinkan perubahan struktur material hingga tingkat mikro, sehingga karbon aktif memiliki lebih banyak ruang dan situs aktif untuk menangkap logam berat. Ini menunjukkan bahwa teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk mendukung solusi lingkungan,” ujarnya.

Selain meningkatkan efektivitas penyerapan, metode ini juga berpotensi menghemat waktu dalam proses pengolahan air. Hal ini menjadi nilai tambah, terutama untuk aplikasi di sektor industri yang membutuhkan proses cepat dan efisien. Meskipun demikian, penelitian masih terus berlanjut sebagai bentuk penyempurnaan hasil penelitian sebelumnya.

Di masa depan, tim peneliti berharap inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Inovasi tersebut juga diharapkan dapat diterapkan secara luas, baik untuk pengolahan limbah industri maupun penyediaan air bersih. Hal ini sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/brin-temukan-metode-alternatif-pengolahan-air-limbah/feed/ 0
GOB: Penyumbat Telinga Ramah Lingkungan dari Miselium https://www.greeners.co/ide-inovasi/gob-penyumbat-telinga-ramah-lingkungan-dari-miselium/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gob-penyumbat-telinga-ramah-lingkungan-dari-miselium https://www.greeners.co/ide-inovasi/gob-penyumbat-telinga-ramah-lingkungan-dari-miselium/#respond Thu, 02 Apr 2026 12:29:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48290 Penyumbat telinga busa merupakan salah satu barang yang kerap digunakan, terutama saat menghadiri konser atau bepergian dengan pesawat. Namun, di balik fungsinya yang melindungi pendengaran, produk ini juga menyumbang timbulan […]]]>

Penyumbat telinga busa merupakan salah satu barang yang kerap digunakan, terutama saat menghadiri konser atau bepergian dengan pesawat. Namun, di balik fungsinya yang melindungi pendengaran, produk ini juga menyumbang timbulan sampah plastik karena umumnya sekali pakai.

Selama lebih dari setengah abad, penyumbat telinga berbahan busa digunakan secara luas tanpa disadari dampak lingkungannya. Setelah digunakan, produk ini sering kali langsung dibuang dan berakhir menjadi limbah plastik yang sulit terurai.

Menjawab permasalahan tersebut, perusahaan asal San Francisco, GOB, menghadirkan inovasi penyumbat telinga berbahan dasar miselium. Miselium merupakan jaringan akar jamur yang memiliki struktur kompleks. Ia bisa dimanfaatkan sebagai material alternatif yang ramah lingkungan.

Produk ini dirancang untuk menyumbat telinga, tetapi dengan siklus hidup yang jauh berbeda. Tidak seperti produk berbasis plastik, penyumbat telinga ini dapat dikomposkan dan kembali ke tanah sebagai nutrisi.

GOB mengembangkan material ini tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Mereka menyebutnya sebagai busa biofabrikasi berbahan tunggal, yang berarti tidak mengandung pengikat maupun aditif tambahan. Material miselium bersifat lembut dan berpori, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan saluran telinga tanpa tekanan ekspansi berlebih seperti busa memori.

Perusahaan mengklaim produk ini memiliki rentang perlindungan frekuensi antara 12 hingga 25 desibel, sehingga cocok untuk kebutuhan umum seperti konser maupun lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi.

Strategi Distribusi

Sementara itu, dalam memasarkan produknya, GOB memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih bersaing di rak apotek, mereka menjalin kemitraan dengan penyelenggara acara besar seperti AEG Live dan Bowery Presents.

Strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan popularitas produk sekaligus mendorong permintaan dari publik. GOB juga menyadari bahwa mengubah perilaku konsumen bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, mereka berfokus pada inovasi material yang lebih berkelanjutan tanpa mengorbankan fungsi utama produk, yakni melindungi pendengaran.

Inovasi GOB ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mengurangi polusi plastik. GOB membuktikan bahwa alam memiliki potensi sebagai solusi yang lebih berkelanjutan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/gob-penyumbat-telinga-ramah-lingkungan-dari-miselium/feed/ 0
Peneliti IPB Temukan Potensi Kangkung Katup sebagai Obat Herbal Diabetes https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-temukan-potensi-kangkung-katup-sebagai-obat-herbal-diabetes/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-ipb-temukan-potensi-kangkung-katup-sebagai-obat-herbal-diabetes https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-temukan-potensi-kangkung-katup-sebagai-obat-herbal-diabetes/#respond Mon, 30 Mar 2026 10:01:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48278 Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati. Dari kekayaan itu ada banyak potensi yang terselubung di Pulau Lingga, salah satunya baru-baru ini peneliti IPB University menemukan potensi […]]]>

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati. Dari kekayaan itu ada banyak potensi yang terselubung di Pulau Lingga, salah satunya baru-baru ini peneliti IPB University menemukan potensi tanaman kangkung katup (Phanera semibifida) sebagai antidiabetes dan antioksidan.

Business Innovation Center (BIC) tahun 2025 merilis riset tersebut dan masuk dalam 117 Inovasi Indonesia. Tim peneliti inovasi tersebut terdiri dari Meyla Suhendra, Berry Juliandi, Huda Darusman, Siti Sa’diah, dan Fitmawati.

Peneliti dalam riset ini mengungkap bahwa tanaman kangkung katup saat ini masih belum banyak terbudidayakan secara luas. Namun, masyarakat di Pulau Lingga telah lama memanfaatkannya sebagai bahan utama minuman herbal pahit. Mereka mempercayai bahwa tanaman ini memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan, termasuk memberikan efek awet muda dan umur panjang.

Salah satu peneliti, Berry menjelaskan bahwa inovasi ini memanfaatkan ekstrak batang kangkang katup yang mengandung senyawa polifenol. Senyawa tersebut berfungsi menghambat enzim α-glukosidase. Selain itu, juga mampu menekan kadar glukosa darah (antihiperglikemik) sekaligus berperan sebagai antioksidan, khususnya bagi penderita prediabetes dan diabetes tipe 2.

“Berdasarkan analisis in vitro dan in vivo, ekstrak batang kangkang katup terbukti efektif menurunkan kadar glukosa darah dan aman pada uji toksisitas akut,” ujar Berry melansir Berita IPB, Senin (30/3).

Berpotensi Jadi Obat Herbal

Menurut Berry, inovasi ini berpotensi menjadi obat herbal terstandar berbasis sumber daya alam lokal. Obat herbal dari tanaman tersebut bisa bermanfaat untuk terapi antihiperglikemia. Selain itu, ekstraknya juga punya potensi sebagai antioksidan alami guna mencegah stres oksidatif pada penderita diabetes.

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif dengan jumlah penderita yang terus meningkat secara global. Pada 2024, tercatat sekitar 589 juta orang di dunia mengidap diabetes. Indonesia termasuk dalam lima negara dengan jumlah penderita tertinggi, yakni mencapai 20,4 juta orang.

Selama ini, kata dia, terapi diabetes sering kali menggunakan obat-obatan kimia. Hal ini berpotensi menimbulkan efek samping seiring peningkatan penggunaannya. Kendati demikian, kondisi tersebut mendorong pengembangan alternatif pengobatan berbasis herbal yang efektif dan minim efek samping, salah satunya melalui inovasi kangkang katup ini.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-temukan-potensi-kangkung-katup-sebagai-obat-herbal-diabetes/feed/ 0
Desainer Denmark Kembangkan Pintu Ramah Lingkungan Berbahan Jamur https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-denmark-kembangkan-pintu-ramah-lingkungan-berbahan-jamur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=desainer-denmark-kembangkan-pintu-ramah-lingkungan-berbahan-jamur https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-denmark-kembangkan-pintu-ramah-lingkungan-berbahan-jamur/#respond Sat, 28 Mar 2026 04:05:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48265 Membayangkan pintu yang tidak terbuat dari kayu, melainkan dari jamur, mungkin terdengar mustahil. Namun, perusahaan miselium asal Denmark, Rebound, bersama studio arsitektur Det Levende Hus, berhasil mewujudkan inovasi tersebut melalui […]]]>

Membayangkan pintu yang tidak terbuat dari kayu, melainkan dari jamur, mungkin terdengar mustahil. Namun, perusahaan miselium asal Denmark, Rebound, bersama studio arsitektur Det Levende Hus, berhasil mewujudkan inovasi tersebut melalui pintu yang “tumbuh” dari jamur.

Pintu ini diklaim sebagai yang pertama di dunia yang dibudidayakan dari miselium (struktur akar jamur). Meski masih dalam tahap prototipe, produk ini merupakan bagian dari koleksi pintu interior dengan desain modern dan berbahan ramah lingkungan.

Melansir Yanko Design, Rebound mengembangkan struktur miselium dengan menumbuhkannya dalam cetakan khusus. Proses ini menghasilkan panel yang kaku namun ringan, serta memiliki kemampuan peredam suara alami. Inti miselium tersebut kemudian dibungkus dalam kerangka kayu daur ulang, termasuk sisa potongan dari produsen lantai Denmark, Dinesen. Dengan demikian, pintu ini meminimalkan limbah material dari awal hingga akhir produksi.

Salah satu pendiri Rebound, Jon Strunge, menyebut inovasi ini sebagai tantangan terhadap ketergantungan industri konstruksi pada kayu keras yang tumbuh lambat. Ia menekankan bahwa material berbasis miselium yang regeneratif dan berkinerja tinggi, membuka peluang baru bagi pengembangan komponen bangunan yang inovatif dan berskala besar.

Proses pertumbuhan miselium ini memakan waktu sekitar dua minggu dan dirancang agar dapat diproduksi secara industri. Artinya, pintu ini tidak hanya sebatas eksperimen, tetapi berpotensi diproduksi secara massal.

Keunggulan lain dari desain ini adalah sifatnya yang adaptif. Warna dan tekstur permukaan dapat diatur selama proses pertumbuhan, sehingga tidak memerlukan tahap finishing tambahan. Prototipe saat ini memiliki permukaan halus dan lembut, namun materialnya juga dapat diubah warna atau dilapisi tanah liat untuk tampilan yang lebih hangat dan alami.

Perkuat Konsep Keberlanjutan

Selain estetika, performa struktural juga menjadi fokus utama. Lapisan berbasis bio yang ditambahkan selama proses pertumbuhan mampu memperkuat struktur pintu serta meningkatkan ketahanan terhadap api. Metode ini juga menghilangkan kebutuhan akan lem atau proses manufaktur tambahan.

Pintu ini dirancang untuk memenuhi standar bangunan modern, khususnya untuk hunian pribadi, termasuk dalam aspek ketahanan terhadap api dan kelembapan. Hal ini menjadikannya kandidat yang layak untuk diterapkan dalam konstruksi secara nyata.

Aplikasi pertama pintu ini akan terwujud dalam proyek perumahan ramah lingkungan Kaerhytten di Ramløse, yang dirancang oleh arsitek Jens Martin Suzuki-Højrup dan dijadwalkan selesai pada tahun 2026.

Prototipe ini juga dilengkapi gagang pintu “Moom” karya arsitek Bjarne Hammer untuk merek Denmark Randi. Gagang tersebut dibuat dari cangkang kerang daur ulang, menambah nilai estetika sekaligus memperkuat konsep keberlanjutan.

Ke depan, Rebound dan Det Levende Hus berencana mengembangkan material miselium ini ke berbagai aplikasi lain, seperti panel dinding dan langit-langit akustik. Menurut Suzuki-Højrup, inovasi ini menunjukkan bagaimana material alami dapat memberikan perspektif baru bagi manusia terhadap ruangan baik secara visual, akustik, maupun emosional.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-denmark-kembangkan-pintu-ramah-lingkungan-berbahan-jamur/feed/ 0
Inacell, Inovasi BRIN Ubah Limbah Sawit Jadi Bahan Industri https://www.greeners.co/ide-inovasi/inacell-inovasi-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-bahan-industri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=inacell-inovasi-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-bahan-industri https://www.greeners.co/ide-inovasi/inacell-inovasi-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-bahan-industri/#respond Fri, 13 Mar 2026 07:59:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48219 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pengolahan limbah padat industri kelapa sawit, khususnya tandan kosong sawit, menjadi bahan industri bernilai tinggi. Inovasi tersebut bernama Inacell, yaitu produk mikrokristalin […]]]>

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pengolahan limbah padat industri kelapa sawit, khususnya tandan kosong sawit, menjadi bahan industri bernilai tinggi. Inovasi tersebut bernama Inacell, yaitu produk mikrokristalin selulosa (MCC).

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN, Holilah mengatakan bahwa MCC merupakan produk hidrolisis selulosa terkontrol yang teraplikasi di banyak sektor industri. Produk tersebut dapat digunakan di bidang farmasi, pangan, kosmetik, hingga bahan coating.

“Inovasi ini tidak hanya mengatasi masalah limbah, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi bagi industri kelapa sawit nasional,” kata Holilah melansir Berita BRIN, Rabu (11/3).

Berdasarkan data industri dan ekonomi, Indonesia memproduksi crude palm oil (CPO) dengan capaian 48,5 – 51,0 juta ton pada 2026, sehingga menghasilkan limbah yang sangat melimpah. Menurut Holilah, potensi limbah ini sangat besar untuk dikonversi menjadi produk bernilai tambah seperti MCC.

Sementara itu, pemilihan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku juga didasarkan pada ketersediannya yang berkelanjutan. Potensinya sebagai bahan baku lignoselulosa selama ini juga belum dimanfaatkan secara optimal.

“Dari hasil riset, setelah melalui proses dari limbah menjadi selulosa, kami bisa menghasilkan kandungan selulosa hingga 65,21 persen. Metode yang kami gunakan utamanya adalah menghilangkan lignin dan menghasilkan MCC yang murni, dengan kadar lignin akhir hanya sekitar 1 persen,” jelasnya.

Kebutuhan MCC Meningkat

Kebutuhan MCC di Indonesia dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Angka impornya mencapai sekitar 4 juta kilogram per tahun. Holilah membandingkan Inacell-MCC dengan MCC komersial. Hasilnya menunjukkan karakteristik water holding capacityoil holding capacity, dan swelling index Inacell lebih besar daripada MCC komersial.

Holilah menjelaskan beragam aplikasi MCC di berbagai bidang industri. Di bidang farmasi, MCC menjadi bahan tablet yang mudah terurai di usus, dapat berkombinasi dengan senyawa bioaktif, dan terjamin keamanannya karena berasal dari tumbuhan.

Di bidang pangan, berfungsi sebagai texturizing agent yang dapat meningkatkan volume roti. Bahkan, berfungsi sebagai bahan stabilisasi dan pengental dalam pembuatan saus. MCC juga berperan sebagai long term product integrity yang mampu mengontrol kadar air sehingga memperpanjang usia produk pangan.

Di bidang komposit, MCC jadi agen reinforcement untuk meningkatkan sifat mekanik material. Terutama dalam bentuk nanoselulosa yang dapat teraplikasi di berbagai jenis komposit. Sementara di bidang kosmetik, berperan sebagai texturizing, bulking, dan stabilizing agent pada krim, bedak padat, foundation, serta berfungsi sebagai oil control.

Terkait rencana produksi skala industri, Holilah menegaskan timnya telah melakukan perhitungan matang. Penggunaan asam organik dengan bahan baku kimia teknis (bukan grade PA) menjadi strategi untuk menekan biaya produksi.

“Pemilihan asam organik memang memerlukan waktu proses yang lebih lama, tetapi dari sisi distribusi dan kualitas hasil lebih baik. Jika produk ini diarahkan untuk kebutuhan pangan dan farmasi, akan lebih baik menggunakan asam organik,” ujar Holilah.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/inacell-inovasi-brin-ubah-limbah-sawit-jadi-bahan-industri/feed/ 0
Peneliti IPB Kembangkan Teknologi EC+ untuk Olah Limbah Sawit https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-kembangkan-teknologi-ec-untuk-olah-limbah-sawit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-ipb-kembangkan-teknologi-ec-untuk-olah-limbah-sawit https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-kembangkan-teknologi-ec-untuk-olah-limbah-sawit/#respond Wed, 11 Mar 2026 08:40:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48215 Peneliti IPB University menghadirkan inovasi untuk mendukung guna ulang limbah sawit. Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknik dan Teknologi, Suprihatin, mencetuskan ide tersebut. Suprihatin mengungkap bahwa latar belakang inovasi […]]]>

Peneliti IPB University menghadirkan inovasi untuk mendukung guna ulang limbah sawit. Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknik dan Teknologi, Suprihatin, mencetuskan ide tersebut.

Suprihatin mengungkap bahwa latar belakang inovasi ini adalah pesatnya perkembangan pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia yang memberikan kontribusi ekonomi signifikan. Namun, industri tersebut juga menyisakan persoalan lingkungan serius, terutama dari limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS).

Menurut Suprihatin, setiap ton tandan buah segar (TBS) dapat menghasilkan limbah cair sekitar 0,75–0,90 m³. Hal itu setara 3,33 m³ per ton minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Limbah tersebut mengandung berbagai polutan seperti padatan tersuspensi (TSS), bahan organik, minyak dan lemak, serta nutrien yang berpotensi mencemari lingkungan.

Untuk memanfaatkan kembali limbah tersebut, Suprihatin mengembangkan proses EC+, yakni teknologi pengolahan lanjutan berbasis elektrokimia (elektrokoagulasi). Inovasi ini telah terpilih menjadi salah satu 117 Inovasi Indonesia-2025 versi Business Innovation Center.

Secara sederhana, proses ini menggunakan arus listrik searah untuk melepaskan ion positif (Al³⁺) dari elektroda anoda. Ion tersebut berperan mendestabilisasi partikel koloid dan membentuk flok Al (OH) yang mampu mengikat kontaminan dalam limbah cair.

“Proses ini efektif menghilangkan TSS, COD, BOD, warna, minyak atau lemak hingga nutrien seperti fosfat. Air limbah dapat menjadi bersih dan layak guna kembali. Keunggulan EC+ juga tidak hanya pada kinerja teknisnya, tetapi juga pada aspek lingkungan dan ekonomi,” ujar Suprihatin melansir Berita IPB, Selasa (10/3).

Suprihatin menjelaskan, proses EC+ tersebut tidak memerlukan tambahan bahan kimia seperti tawas. Dengan demikian, hasilnya lebih ramah lingkungan dan biaya pengolahannya lebih murah sekitar 50 persen daripada metode koagulasi kimia. Konsumsi energi listriknya pun relatif terukur, yakni sekitar 9,80 kWh per meter kubik limbah.

“Proses berlangsung cepat, dapat dirancang secara modular, dioperasikan secara kontinu maupun batch, serta mudah untuk ditingkatkan skalanya (scale up). Endapan (sludge) yang dihasilkan bahkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pembenah tanah (soil improver),” ujarnya.

Dukung ekonomi Sirkular

Menurut Suprihatin, EC+ berperan penting dalam mendukung konsep ekonomi sirkular pada industri kelapa sawit. Air hasil olahan dapat digunakan kembali untuk mencuci peralatan dan lantai pabrik, maupun penyiraman tanaman. Sludge juga dapat berkombinasi dengan biochar dari pirolisis tandan kosong untuk memperkaya unsur hara tanah.

“Proses EC+ dapat menjadi komponen kunci dalam membentuk siklus tertutup air dan unsur hara, mengurangi penggunaan input pupuk sintetis, serta mendukung terwujudnya konsep zero waste di industri kelapa sawit,” tambahnya.

Ia berharap inovasi ini bisa menghadirkan solusi teknologi yang tidak hanya menyelesaikan masalah limbah. Namun, harapannya bisa menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan bagi industri strategis nasional.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-ipb-kembangkan-teknologi-ec-untuk-olah-limbah-sawit/feed/ 0
Komposit Kayu Ramah Lingkungan IPB Tembus 117 Inovasi Indonesia 2025 https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposit-kayu-ramah-lingkungan-ipb-tembus-117-inovasi-indonesia-2025/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komposit-kayu-ramah-lingkungan-ipb-tembus-117-inovasi-indonesia-2025 https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposit-kayu-ramah-lingkungan-ipb-tembus-117-inovasi-indonesia-2025/#respond Sun, 08 Mar 2026 07:05:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48198 Jakarta (Greeners) – Peneliti IPB University mengembangkan komposit kayu yang aman dan ramah lingkungan. Inovasi ini menjadi salah satu dari 117 inovasi Indonesia 2025 yang terpilih dalam ajang yang Business […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peneliti IPB University mengembangkan komposit kayu yang aman dan ramah lingkungan. Inovasi ini menjadi salah satu dari 117 inovasi Indonesia 2025 yang terpilih dalam ajang yang Business Innovation Center (BIC) selenggarakan.

Komposit merupakan material gabungan untuk menghasilkan sifat yang lebih kuat dan stabil. Dalam industri kayu, komposit bermanfaat sebagai panel seperti kayu lapis, oriented strand board (OSB), medium density fiberboard (MDF), dan papan partikel. Namun, produk-produk tersebut saat ini masih bergantung pada perekat berbasis formaldehida dan isosianat yang berisiko bagi kesehatan dan lingkungan.

Riset ini merupakan hasil pengembangan dosen Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Rita Kartika Sari. Ia bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Lampung.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 menunjukkan produksi kayu bulat terbesar kedua di Indonesia berasal dari genus akasia, khususnya kayu mangium (Acacia mangium). Jumlahnya mencapai 42,52 persen dari total kayu bulat nasional atau sekitar 27,57 juta meter kubik.

Dalam proses pengolahan kayu tersebut, sekitar 10 persen volumenya berupa kulit kayu sehingga menghasilkan kurang lebih 2,7 juta meter kubik limbah setiap tahun. Jumlah ini menyimpan potensi kimia hijau bernilai tinggi. Sebab, kulit mangium kaya tanin yang dapat diolah menjadi bahan baku industri berkelanjutan.

“Dari potensi itu, lahir teknologi sintesis dan formula resin bio-poliuretan non-isosianat berbasis tanin kulit kayu mangium sebagai perekat kayu bebas formaldehida,” kata Rita melansir Berita IPB, Jumat (6/3).

Lampaui Fungsi Tradisional

Selama ini, menurut Rita, industri panel kayu bertumpu pada resin urea-formaldehida dan fenol-formaldehida. Hal itu berpotensi melepaskan emisi formaldehida. Selain itu, industri juga menggunakan poliuretan berbasis isosianat yang bersifat reaktif dan berisiko bagi pekerja.

“Melalui modifikasi tanin kulit mangium menjadi biopoliol, sistem ini menggantikan poliol berbasis petrokimia. Proses berlangsung pada suhu moderat sekitar 80°C dengan tahapan relatif sederhana menggunakan dimetil karbonat dan heksametilentetramina sebagai pembentuk jaringan polimer yang lebih aman dan rendah risiko,” jelasnya.

Optimasi formula perekat menggunakan response surface methodology. Hasilnya, resin memiliki kadar padatan 58,16 persen, waktu gelatinasi sekitar 1,07 menit, serta kestabilan termal dan ketahanan air yang baik. Perekat ini berpotensi untuk pembuatan komposit kayu seperti OSB, MDF, kayu lapis, dan papan partikel.

Di tengah dorongan menuju ekonomi sirkular dan target Net Zero Emission 2060, inovasi ini menunjukkan bahwa riset berbasis sumber daya alam nasional mampu melampaui fungsi tradisionalnya.

“Hutan tropis Indonesia tidak hanya menyediakan kayu, tetapi juga fondasi material maju yang lebih aman dan berkelanjutan. Dari biomassa lokal, kita dapat membangun industri yang mandiri sekaligus rendah emisi,” tambah Rita.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposit-kayu-ramah-lingkungan-ipb-tembus-117-inovasi-indonesia-2025/feed/ 0
OBRO Sulap Limbah Kulit Jadi Produk Fesyen Premium https://www.greeners.co/ide-inovasi/obro-sulap-limbah-kulit-jadi-produk-fesyen-premium/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=obro-sulap-limbah-kulit-jadi-produk-fesyen-premium https://www.greeners.co/ide-inovasi/obro-sulap-limbah-kulit-jadi-produk-fesyen-premium/#respond Sun, 22 Feb 2026 03:00:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48168 Di tengah meningkatnya sorotan terhadap limbah industri fesyen, inovasi material kembali menawarkan pendekatan berbeda. OBRO, material komposit dari Sanyo Co., Ltd., menghadirkan cara baru memandang sisa produksi kulit. Bukan sebagai […]]]>

Di tengah meningkatnya sorotan terhadap limbah industri fesyen, inovasi material kembali menawarkan pendekatan berbeda. OBRO, material komposit dari Sanyo Co., Ltd., menghadirkan cara baru memandang sisa produksi kulit. Bukan sebagai residu yang tersembunyi, melainkan sebagai elemen estetika.

Material ini memanfaatkan bubuk kulit daur ulang yang dicampurkan dalam PVC hitam transparan. Hasilnya, permukaan dengan efek visual menyerupai taburan bintang di langit malam. Fragmen kulit tampak mengambang di dalamnya, menciptakan kedalaman tekstur yang berubah mengikuti arah cahaya.

Limbah Jadi Identitas Visual

Melansir Yanko Design, nama OBRO berasal dari kata Jepang oboro yang berarti “berkabut” atau “samar.” Karakter ini tercermin pada tampilannya yang tidak sepenuhnya solid, namun juga tidak transparan sepenuhnya. Saat terkena cahaya, serpihan kulit memunculkan kilau metalik sekaligus kesan hangat yang organik.

Alih-alih meniru kulit konvensional dengan emboss atau pola imitasi, OBRO justru menegaskan bahwa ia adalah material baru. Bubuk kulit digiling hingga menyatu dalam komposit, membentuk bahasa desain yang berbeda dari kulit tradisional maupun material sintetis murni.

Pendekatan ini relevan dengan tantangan industri kulit global, di mana sisa potongan produksi kerap berakhir sebagai limbah. Dengan memanfaatkan kembali serpihan tersebut, OBRO menghadirkan alternatif pengolahan limbah yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis.

Produk perdana OBRO hadir dalam bentuk tote bag, sacoche, dan tempat kunci. Desainnya minimalis dan netral gender, membiarkan material menjadi pusat perhatian. Panel OBRO berpadu dengan aksen kulit asli, menghadirkan kontras antara komposit berkabut dan tekstur solid yang lebih familier.

Dari sisi teknis, material ini lebih ringan daripada kulit full-grain. Kandungan PVC membuatnya lebih tahan air tanpa perlu perlakuan kimia tambahan. OBRO juga cukup kokoh mempertahankan bentuk, sehingga sesuai untuk produk yang membutuhkan struktur tanpa bobot berlebih.

Menjadikan Limbah sebagai Nilai Tambah

Sebagian besar inovasi berkelanjutan di sektor material berfokus pada pengurangan bahan baku atau pencarian alternatif biodegradable. OBRO mengambil jalur berbeda: menjadikan aliran limbah sebagai elemen visual utama. Fragmen kulit tidak disamarkan, melainkan dibiarkan terlihat, menciptakan efek yang tidak mungkin dicapai PVC murni.

Langkah ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu berarti kompromi estetika. Justru, nilai tambah dapat muncul ketika jejak produksi mendapat pengakuan secara terbuka.

Desainer Satoru Shimizu bersama tim Sanyo memposisikan OBRO sebagai opsi ketiga di antara kulit konvensional dan kulit sintetis berbasis klaim “vegan.” Material ini tidak menutup mata terhadap limbah produksi, tetapi juga tidak berusaha menyaru menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Bagi kalangan desain, teknologi, maupun fesyen urban, OBRO menunjukkan bahwa sisa produksi dapat menjadi produk bernilai tinggi. Di tengah maraknya praktik greenwashing, transparansi yang tampil secara harfiah di permukaan material menjadi pesan yang tak kalah penting.

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/obro-sulap-limbah-kulit-jadi-produk-fesyen-premium/feed/ 0
Mahasiswa UGM Ciptakan Penyerap Gas Karbon dari Limbah Plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik/#respond Mon, 02 Feb 2026 07:17:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48073 Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan alat penyerap gas karbon dari limbah plastik. Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih medali emas dalam ajang 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO), […]]]>

Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan alat penyerap gas karbon dari limbah plastik. Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih medali emas dalam ajang 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO), mengungguli 629 peserta dari 13 negara.

Ketua tim, Pandu Sukma Hastyadi, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada pemanfaatan limbah botol plastik polyethylene terephthalate (PET) yang diolah menjadi karbon aktif untuk mengadsorpsi gas CO₂ di atmosfer. Melalui riset ini, tim mengembangkan Carbon Capture Technology (CCT) berbasis material limbah plastik PET.

“Inovasi ini menawarkan alternatif penangkap gas yang lebih ekonomis dibandingkan teknologi komersial yang saat ini masih terkendala biaya operasional tinggi,” kata Pandu melansir Berita UGM, Jumat (30/1).

Menurut Pandu, pengembangan adsorben berbiaya rendah menjadi faktor krusial dalam keberhasilan implementasi teknologi CCT. Selama ini, tingginya biaya operasional menjadi hambatan utama penerapan teknologi penangkapan karbon.

“Kami melihat potensi besar pada limbah botol plastik PET. Dengan kandungan karbonnya tinggi, limbah botol plastik PET sangat ideal untuk dijadikan prekursor karbon aktif,” jelasnya.

Urgensi Pengelolaan Sampah

Pemilihan limbah botol plastik PET juga didorong oleh persoalan pengelolaan sampah di Indonesia yang masih belum optimal. Anggota tim, Samuel Khrisna Wira Waskita, memaparkan bahwa sekitar 48% sampah plastik di Indonesia saat ini masih dikelola melalui pembakaran, yang justru berkontribusi pada peningkatan emisi CO₂ ke atmosfer. Selain itu, rasio daur ulang PET di Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 13% dari total kapasitas produksinya.

“Bagi kami, mengubah limbah ini menjadi material fungsional penangkap emisi menjadi langkah strategis yang saling menguntungkan bagi lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Billy menjelaskan bahwa meskipun penelitian mengenai penggunaan adsorben berbasis limbah plastik untuk aplikasi CCT telah banyak dilakukan, keterbatasan kapasitas penyerapan gas CO₂ masih menjadi kendala utama. Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim menemukan bahwa penggunaan zeolit dapat menjadi solusi.

“Berdasarkan referensi yang kami peroleh, pembuatan komposit karbon aktif dan zeolit memang mampu untuk mengatasi hal tersebut,” paparnya.

Dosen pendamping tim, Fajar Inggit Pambudi, menekankan bahwa keunikan riset ini terletak pada aspek keberlanjutannya. Pemanfaatan limbah plastik yang dikombinasikan dengan material berpori seperti zeolit dinilai mampu menciptakan nilai keberlanjutan yang kuat.

“Riset ini menyelesaikan dua masalah sekaligus, yakni limbah plastik dan emisi CO₂,” tuturnya.

Lebih lanjut, Fajar mengungkapkan bahwa inovasi ini memiliki potensi untuk dikomersialisasi. Pasalnya, industri saat ini membutuhkan teknologi yang efisien untuk mengolah emisi gas buang. Tujuannya agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri atau sumber energi.

Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi tim yang terdiri dari Pandu Sukma Hastyadi, Samuel Khrisna Wira Waskita, dan Aqila Dziki Muhamad Iqbal dari Program Studi Ilmu Kimia angkatan 2022, serta Billy Natanael dan Muhammad Radithya Akmal Rasheed dari Program Studi Teknik Kimia angkatan 2023. Di bawah bimbingan Fajar Inggit Pambudi dari FMIPA UGM, tim berhasil mengintegrasikan pendekatan komputasi dan eksperimental dalam penelitian ini.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik/feed/ 0
Eco-C CUBE, Blok Konstruksi dari Sampah Jaring Ikan dan Plastik Multilayer https://www.greeners.co/ide-inovasi/eco-c-cube-blok-konstruksi-dari-sampah-jaring-ikan-dan-plastik-multilayer/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-c-cube-blok-konstruksi-dari-sampah-jaring-ikan-dan-plastik-multilayer https://www.greeners.co/ide-inovasi/eco-c-cube-blok-konstruksi-dari-sampah-jaring-ikan-dan-plastik-multilayer/#respond Mon, 19 Jan 2026 06:50:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48014 Plastik seperti jaring ikan dan kemasan multilayer kerap berakhir di tempat pembuangan. Eco-C CUBE, sebuah blok penahan dinding mengubah limbah tersebut menjadi material konstruksi. Eco-C CUBE dikembangkan oleh WES-Tec Global […]]]>

Plastik seperti jaring ikan dan kemasan multilayer kerap berakhir di tempat pembuangan. Eco-C CUBE, sebuah blok penahan dinding mengubah limbah tersebut menjadi material konstruksi.

Eco-C CUBE dikembangkan oleh WES-Tec Global bersama Asosiasi Pembangunan Berdampak Rendah Korea. Inovasi ini mengubah sampah plastik yang selama ini dianggap tak bernilai, menjadi balok bangunan tiga dimensi melalui proses New-Cycling.

Dalam proses tersebut, plastik seperti jaring ikan dan kemasan berlapis dilelehkan pada suhu rendah tanpa perlu disortir maupun dicuci. Lalu, langsung diekstrusi menjadi balok yang saling mengunci.

Balok Eco-C CUBE memiliki kekuatan tarik dan tekan yang tinggi, bahkan dalam beberapa aspek melampaui beton. Karakteristik ini menjadikannya cocok digunakan sebagai dinding penahan lereng yang harus mampu bertahan dari hujan ekstrem, serta perubahan suhu yang berulang.

Selain itu, dibuat dengan desain interlocking tiga dimensi, memungkinkan Eco-C CUBE dipasang tanpa semen atau perekat. Stabilitas struktur mengandalkan gravitasi dan bentuk balok, sehingga pemasangan menjadi lebih cepat, mudah dibongkar, dan minim risiko kegagalan struktural.

Keunggulan lainnya terletak pada sistem drainase bawaan. Rongga internal pada Eco-C CUBE memungkinkan air mengalir keluar secara alami, mencegah penumpukan tekanan air di belakang dinding—masalah yang kerap ditemui pada struktur beton konvensional.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep low-impact development, yakni pengelolaan air hujan langsung di lokasi. Bagi kota-kota pesisir atau wilayah rawan erosi, Eco-C CUBE dapat menjadi alternatif pengganti beton dalam memperkuat lereng, sekaligus membantu menekan emisi karbon dan mengurangi beban material berat.

Eco-C CUBE kurangi Emisi

Dari sisi lingkungan, setiap kilogram Eco-C CUBE mampu mengurangi sekitar 2,99 gram emisi CO₂ dibandingkan pendekatan bisnis seperti biasa, berdasarkan hasil Life Cycle Assessment yang telah diverifikasi. Pengurangan emisi ini berasal dari penghindaran pembakaran limbah, berkurangnya proses daur ulang yang boros energi, serta substitusi penggunaan beton. Selain itu, bahan bakunya memanfaatkan sistem tanggung jawab produsen yang sudah berjalan, tanpa memerlukan infrastruktur pengumpulan baru.

Eco-C CUBE tidak berupaya “memurnikan” plastik campuran. Sebaliknya, inovasi ini menerima realitas sampah plastik yang kompleks dan mengubahnya menjadi solusi nyata di lapangan.

Inovasi ini telah menunjukkan bahwa limbah bukan hanya persoalan yang harus dikelola, tetapi juga memiliki potensi untuk diberikan kesempatan dua kali dan dimanfaatkan menjadi barang yang lebih bermanfaat.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/eco-c-cube-blok-konstruksi-dari-sampah-jaring-ikan-dan-plastik-multilayer/feed/ 0
Peneliti ITB Ciptakan Panel Antipeluru dari Serat Rami https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-itb-ciptakan-panel-antipeluru-dari-serat-rami/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-itb-ciptakan-panel-antipeluru-dari-serat-rami https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-itb-ciptakan-panel-antipeluru-dari-serat-rami/#respond Sat, 10 Jan 2026 05:48:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47981 Tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan panel antipeluru berbahan dasar alam. Inovasi ini memanfaatkan karet alam Indonesia, khususnya serat rami, sebagai material komposit panel antipeluru. Salah satu peneliti, Mardiyati, […]]]>

Tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan panel antipeluru berbahan dasar alam. Inovasi ini memanfaatkan karet alam Indonesia, khususnya serat rami, sebagai material komposit panel antipeluru.

Salah satu peneliti, Mardiyati, mengungkapkan bahwa produk tersebut telah menjalani uji tembak di PT Pindad (Persero). Pengujian mengacu pada Standar NIJ 0108.01 Level III dengan munisi 7,62 mm pada jarak tembak lima meter. Hasilnya, sampel panel yang tim kembangkan lolos uji sesuai standar.

“Karena ini produk militer, tentu ada standar pengujian yang harus kami lakukan supaya produk tersebut memang layak untuk digunakan,” ujar Mardiyati.

Keberhasilan lolos uji tembak bersama PT Pindad menjadi pencapaian tersendiri bagi tim peneliti. Menurut Mardiyati, hal ini membuktikan bahwa bahan alam Indonesia memiliki potensi besar untuk jadi material strategis.

“(Penghargaan ini) semakin meningkatkan motivasi saya untuk melakukan yang lebih baik lagi di bidang inovasi, sehingga nantinya produk-produk inovasi tersebut dapat menjadi produk yang turut memberikan solusi terhadap permasalahan yang kita hadapi bersama,” ucap Mardiyati.

Berkat inovasi tersebut, Mardiyati terpilih sebagai inovator terbaik dalam ajang PRIMA Award ITB 2021. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi di bidang penelitian, pengabdian masyarakat, dan inovasi oleh LPPM ITB bekerja sama dengan Kantor Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB.

Sepanjang kiprahnya, Mardiyati telah menghasilkan berbagai produk inovasi, sebagian di antaranya bahkan telah dihilirkan melalui perusahaan rintisan binaan LPiK ITB. Salah satu inovasi terbaru yang ia kembangkan pada 2021 bersama timnya adalah panel antipeluru untuk Modular Armor System pada kapal patroli.

Ia menjelaskan, sebagai negara maritim, Indonesia membutuhkan kapal patroli untuk menjaga pertahanan dan keamanan wilayah perairan. Pada kapal-kapal tersebut, panel antipeluru biasanya terpasang di ruang kemudi, lambung, dan ruang mesin untuk melindungi dari ancaman tembakan. Selama ini, material panel antipeluru umumnya masih impor dari luar negeri.

Tidak Terlepas dari Tantangan

Dalam mengembangkan serat rami menjadi panel antipeluru, tim peneliti tidak terlepas dari tantangan. Salah satunya soal memberikan solusi atas permasalahan di Indonesia dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, beserta kelebihan dan keterbatasannya.

Selain itu, kata Mardiyati, tim peneliti juga perlu memastikan produk tersebut benar-benar digunakan serta mendapatkan kepercayaan dari bangsa sendiri.

“Tentu saja di tahap ini peran berbagai pihak diperlukan. Pemerintah, industri, akademisi, seluruh komponen bangsa,” ujarnya.

Bagi Mardiyati, menjadi seorang inovator adalah perjalanan yang penuh tantangan sekaligus menyenangkan. Ia pun berpesan kepada para inovator agar tidak pernah berhenti berkarya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-itb-ciptakan-panel-antipeluru-dari-serat-rami/feed/ 0
Mahasiswa ITB Ubah Ampas Tebu dan Sabut Kelapa Jadi Kertas https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-ubah-ampas-tebu-dan-sabut-kelapa-jadi-kertas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-itb-ubah-ampas-tebu-dan-sabut-kelapa-jadi-kertas https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-ubah-ampas-tebu-dan-sabut-kelapa-jadi-kertas/#respond Thu, 08 Jan 2026 07:58:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47973 Sekelompok mahasiswa dari Program Studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil mengembangkan ampas tebu dan sabut kelapa menjadi lembaran kertas fungsional. Inovasi ini menghasilkan kertas ramah lingkungan […]]]>

Sekelompok mahasiswa dari Program Studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil mengembangkan ampas tebu dan sabut kelapa menjadi lembaran kertas fungsional. Inovasi ini menghasilkan kertas ramah lingkungan bernama biokertas.

Biokertas berbeda dari kertas daur ulang pada umumnya, terutama dari segi bahan baku, tekstur, serta nilai ekonomisnya. “Pembuatan biokertas ini berbahan dasar dari penggabungan dua limbah organik, yaitu ampas tebu dan sabut kelapa yang masih banyak tidak terpakai,” ujar anggota kepala tim, Muhammad Labib Widianto melansir Berita ITB, Rabu (7/1).

Proses pembuatannya melibatkan beberapa tahap. Pertama, para mahasiswa tersebut mengeringkan ampas tebu dan sabut kelapa di bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air, lalu memotongnya kecil-kecil. Bahan tersebut kemudian mereka rebus selama 30 menit. Selanjutnya, mereka menambahkan larutan NaOH 3% serta Alkohol 70% sebelum mereka rebus kembali hingga mendidih.

Setelah tiris, bahan dihaluskan hingga menjadi bubur kertas (pulp). Kemudian, pulp ini dicampur dengan larutan pengental dari tapioka dan kaolin sebelum dicetak menjadi lembaran kertas.

Hasilnya, biokertas ini memiliki keunggulan dapat digunakan sebagai bahan tulis normal menggunakan pulpen. Selain itu, produk ini juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai kemasan makanan ramah lingkungan.

Biokertas Perlu Pengujian Lebih Lanjut

Tak hanya itu, inovasi ini juga tim pamerkan dalam pameran karya bertajuk “ALICE: Abyanara’s Legendary Imagination, Creativity, and Enchantment”. Acara tersebut merupakan inisiasi mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa limbah dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai tinggi.

Labib mengakui bahwa ada beberapa tantangan dalam proses pembuatan biokertas ini. Terutama pada proses pemasakan yang volume airnya harus presisi dan proses pengeringan yang masih bergantung pada cuaca, karena menggunakan sinar matahari.

Meski memiliki nilai jual yang potensial dengan target pasar industri kertas, proyek biokertas ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut. “Belum kami lakukan uji tarik dan tahan terhadap biokertas. Untuk kemasan pangan juga harus kami kembangkan lebih lanjut agar bahannya aman,” tambah Labib.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-itb-ubah-ampas-tebu-dan-sabut-kelapa-jadi-kertas/feed/ 0