desa - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/desa/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 05 Oct 2022 05:38:43 +0000 id hourly 1 1.148 Desa Tenggelam di Tahun 2020, Jawa Tengah Mendominasi https://www.greeners.co/berita/1-148-desa-tenggelam-di-tahun-2020-jawa-tengah-mendominasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=1-148-desa-tenggelam-di-tahun-2020-jawa-tengah-mendominasi https://www.greeners.co/berita/1-148-desa-tenggelam-di-tahun-2020-jawa-tengah-mendominasi/#respond Wed, 05 Oct 2022 05:38:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37548 Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut, total desa tenggelam di Indonesia selama tahun 2020 sebanyak 1.148 desa. Dari jumlah itu, Jawa tengah merupakan wilayah tertinggi mencapai 109 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut, total desa tenggelam di Indonesia selama tahun 2020 sebanyak 1.148 desa. Dari jumlah itu, Jawa tengah merupakan wilayah tertinggi mencapai 109 desa tenggelam.

Sebelumnya hingga saat ini ada 12.000 desa di Indonesia yang tenggelam. Penyebabnya tak sekadar peningkatan air laut imbas krisis iklim. Penurunan muka tanah imbas peningkatan sektor industri ekstraktif di Indonesia memperburuk penyebab tenggelamnya ribuan desa tersebut.

Saat air laut naik, banjir rob menerjang wilayah pesisir. Celakanya desa yang mengalami penurunan permukaan tanah dampak rob akan parah dari tahun ke tahun.

Sebaran banjir rob di desa pesisir Indonesia selama empat tahun terakhir melanda 5.416 desa. Pada tahun 2018 yaitu sebanyak 1.685 desa. Lalu tahun 2019 yaitu sebanyak 1.099 desa dan 2020 yaitu sebanyak 1.148 desa.

Manajer Eksekutif Kampanye Pesisir dan Laut Walhi Parid Ridwanuddin mengatakan, berdasarkan pemetaan, ancaman tenggelamnya desa-desa di Indonesia paling besar yaitu ada di Pulau Jawa.

Rinciannya ada di sepanjang Pantai Utara Jawa, mulai dari Jakarta, Bekasi, Cirebon, Jawa Tengah, Semarang, hingga Jepara. Wilayah lain yaitu pesisir barat wilayah Sumatra.

“Kenapa Jawa parah? Selain ancaman dari air laut juga ada beban industri yang besar. Di Jakarta misalnya industri-industri ini menyebabkan penurunan tanah hingga 12 sentimeter per tahun,” katanya kepada Greeners, Selasa (4/10).

Faktor Lain Picu Desa Tenggelam

Hal yang sama terjadi di Pesisir Barat Sumatra, seperti wilayah Bengkulu. Selain berhadapan dengan ancaman dari Samudera Hindia, wilayah ini rentan karena banyak proyek ekstraktif. Misalnya, tambang pasir besi dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Parid menambahkan, tenggelamnya desa-desa di Indonesia juga akan berdampak pada kedaulatan Indonesia sebagai negara kepulauan. “Jika krisis iklim terus terjadi maka kenaikan muka air laut semakin naik dan pulau terdepan tenggelam,” ucapnya.

Oleh sebab itu, masyarakat pesisir merupakan kelompok paling rentan di seluruh dunia. Selain berhadapan dengan ancaman kenaikan muka air laut, mereka berhadapan dengan ancaman kebijakan pembangunan yang merugikan.

Ia mendorong agar pemerintah Indonesia mendeklarasikan kiamat iklim dengan memastikan evaluasi regulasi-regulasi yang memperparah krisis iklim.

“UU Cipta Kerja, UU Minerba, hingga aturan-aturan lain yang mengeksploitasi sumber daya alam harus dievaluasi dan dicabut,” tegasnya.

Perubahan iklim ancam pesisir

Banjir rob berulang karena kenaikan permukaan air laut. Foto: Shutterstock

Perkuat Ketangguhan Masyarakat Pesisir

Sementara itu, Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Medrilzam menyatakan, krisis iklim merugikan potensi sektor pesisir dan laut sebesar Rp 81,82 triliun.

Pasalnya, peningkatan permukaan laut mengakibatkan tenggelamnya pulau-pulau kecil dan berujung banjir. Selanjutnya, peningkatan temperatur pada permukaan laut mengakibatkan coral bleaching serta berimbas pada fish production.

“Dampak paling signifikan yaitu garis pantai Indonesia yang rentan sekitar 18.000 kilometer akan terdampak karena rob, gelombang pasang dan kenaikan air muka laut,” ungkapnya.

Ia menegaskan, pentingnya peningkatan daya resilience di kawasan pesisir mengingat fenomena ini merugikan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/1-148-desa-tenggelam-di-tahun-2020-jawa-tengah-mendominasi/feed/ 0
Banjir Bandang Terjang Satu Desa di Malang, Satu Tewas https://www.greeners.co/berita/banjir-bandang-terjang-satu-desa-di-malang-satu-tewas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=banjir-bandang-terjang-satu-desa-di-malang-satu-tewas https://www.greeners.co/berita/banjir-bandang-terjang-satu-desa-di-malang-satu-tewas/#respond Wed, 10 Jul 2013 08:00:18 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3765 Malang  (Greeners) – Bencana alam berupa banjir bandang menerjang Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (9/7/2013) malam. Banjir terjadi mulai pukul 20.00 WIB hingga Rabu (10/7) […]]]>

Malang  (Greeners) – Bencana alam berupa banjir bandang menerjang Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (9/7/2013) malam. Banjir terjadi mulai pukul 20.00 WIB hingga Rabu (10/7) dini hari air baru mulai surut. Ketinggian air mencapai 1-2 meter dan menenggelamkan ratusan rumah serta menghanyutkan ratusan hewan ternak.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malang Menyebutkan, total ada 847 keluarga dari 2.928 keluarga di Desa Sitiarjo yang menjadi korban banjir bandang. Saat air mulai menggenangi rumah mereka, warga mencari perlindungan di atap rumah, perbukitan, dan mengungsi di tempat yang lebih tinggi.

Kepala Bidang Tanggap Darurat BPBD Malang, Bagyo Setyono, mengatakan, seorang warga bernama Ngatinah (80) meninggal dunia karena terseret arus air. Ngatinah memang sedang sakit dan saat itu berbaring di atas kasurnya. Ia terseret sejauh 25 meter dan tersangkut di atas pohon saat banjir menerjang rumahnya.

Hingga Rabu siang, hujan masih mengguyur kawasan Sitiarjo dan sekitarnya. PMI Malang juga telah membuka dapur umum di belakang gedung GKJW. Petugas TNI, Polri, Tim SAR gabungan dari SAR Mahameru dan Tagana Basarnas (Taruna Siaga Bencana Badan SAR Nasional), serta relawan lainnya bersama warga sejak pagi tadi bahu-membahu membersihakn sampah dan batang pohon pisang yang berserakan di jalanan dan halaman rumah warga.

Menurut cerita Sriani (42) warga yang rumahnya berjarak beberapa meter dari sungai mengatakan, air meluap dan menerjang apa saja yang didepannya. Ia kemudian menyelematkan diri bersama keluarganya di atas atap rumahnya. Namun, hewan-hewan ternaknya tak bisa terselamatkan dan turut hanyut bersama derasnya arus air. “Tiga ekor kambing sisa banjir tahun 2003 dan  2010 sudah habis sekarang,” katanya saat akan menuju rumahnya dengan membawa ember air bersih, Rabu (10/9/2013).

Bersamaan dengan Sriani, tiga orang tetangganya juga hampir pingsan saat banjir terjadi, Sutris, Bili, Yadi, yang naik kandang hewan ternak hanyut beberapa saat sebelum akhirnya naik pohon kelapa. Karena kecapekan, ketiga tetangganya tadi hampir pingsan. Mereka kemudian ditolong warga lainnya dan ditarik ke tempat aman.

Selain merusak, bangunan, irigasi, jalan, serta pasar, banjir bandang juga meluluhlantakkan sawah seluas 166 hektare dan perkebunan pisang seluas 145 hektare. Selain itu, ratusan hewan ternak juga hanyut dan hanya beberapa saja yang bisa selamat.

Banjir bandang di Desa Sitiarjo datangnya memang seperti musiman. Greeners mencatat, sudah beberapa kali banjir bandang terjadi di wilayah ini. Setiap kali terjadi banjir bandang, hampir bisa dipastikan dampak dan volume air selalu paling besar kejadian yang terakhir. Seperti yang terjadi Selasa kemarin, pengakuan Pak Sikam, mantan ketua RW 15, banjir kali ini merupakan banjir terbesar dari sebelumnya tahun April 2010, November 2003, dan tahun 1997, dan 1985. “Banjir kali ini yang terparah kerusakannya,” katanya.

Kawasan Desa Sitiarjo memang dilalui sungai besar yang muaranya ke arah laut selatan. Desa ini juga berada di lembah dan dikelilingi perbukitan yang sudah tidak banyak lagi pepohonannya. Banyak hutan beralih fungsi menjadi sawah dan kebun-kebun. Jika hujan turun dengan lebat, sementara air sungai tidak bisa mengalir karena air laut pasang, maka luapan air sungai dipastikan menerjang desa, ditambah air yang turun dari perbukitan. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/banjir-bandang-terjang-satu-desa-di-malang-satu-tewas/feed/ 0
Bukit Gundul, Banjir Bandang Menerjang https://www.greeners.co/berita/bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang https://www.greeners.co/berita/bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang/#respond Fri, 09 Mar 2012 03:37:04 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2309 Malang (Greeners) – Banjir bandang menerjang Desa Tunpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (08/03). Sedikitnya 60 warga desa setempat terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian maupun rumah saudara lainnya. […]]]>

Malang (Greeners) – Banjir bandang menerjang Desa Tunpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (08/03). Sedikitnya 60 warga desa setempat terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian maupun rumah saudara lainnya. Banjir juga menggenangi pemukiman warga. Ketinggian air mencapai 2,5 meter dan diperkirakan surut dalam sepekan.

Banjir bandang terjadi setelah hujan terus mengguyur selama kurang lebih 15 jam. Selain factor intensitas hujan yang terjadi terus menerus, Desa Tumpakrejo yang lokasinya berada di lembah tidak dapat menampung semua air hujan yang turun di bukit sekitar desa mengalir ke bawah semuanya. Bukit di yang mengelilingi desa tersebut sudah berubah fungsi menjadi lahan pertanian warga.

Camat Kalipare, Ahmad Aziz mengatakan, banjir bandang di desa tersebut memang terjadi setiap tahun, namun baru kali ini yang terparah. Akibatnya, sebanyak 17 rumah yang dihuni 16 kepala keluarga (KK) atau 60 warga Desa tumpakrejo terpaksa mengungsi. “Mereka mengungsi ke tempat saudaranya yang terdekat,” kata Ahmad Aziz, saat berada di lokasi kejadian.

Selain mengakibatkan puluhan warga mengungsi, banjir juga merendam sektiar 10 hektare lahan pertanian ditanami tanaman Jagung, Tebu, dan Padi. Kerugian akibat kejadian ini diperkirakan mencapai Rp 60 juta.
Salah satu warga korban banjir bandang Sujono (60), mengatakan, Ia bersama lima anggota keluarganya saat ini mengungsi di rumah saudaranya. Semua perabotan rumah tangga dan barang berharga lainnya tak sempat diselamatkan karena air yang datang cukup cepat. “Semua barang-barang tidak sempat saya bawa mengungsi,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Malang berencana akan membangun slauran sudetan dari desa tersebut menuju aliran sungai terdekat untuk mencegah agar air dapat mengalir ke sungai. Hal ini untuk mencegah agar banjir bandang tidak terjadi lagi.

Asisten Kesejahteraan Pemkab Malang, saat berada di lokasi banjir mengatakan, Desa Tumpakrejo memang posisinya berada di lembah, sehingga semua air hujan yang turun mengalir ke bawah semua karena di bukit sudah beralih menjadi lahan pertanian. “Solusinya pemerintah akan membangun sudetan agar air yang mengalir dapat langsung menuju sungai,” katanya.

Banjir yang menerjang wilayah ini memang setiap tahun terjadi, namun di tahun-tahun sebelumnya air yang mengalir ke lembah dapat meresap ke dalam tanah karena ada semacam rekahan bumi, sehingga air cepat meresap. Namun, kondisi rekahan tersebut kini telah beralih menjadi lahan pertanian dan tersumbat batang-batang pohon sehingga air tak bias langsung meresap. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang/feed/ 0