Kenaikan Permukaan Laut Ekstrem Diprediksi Terjadi Setiap Tahun

Reading time: 2 menit
Kenaikan Permukaan Laut
Musala Waladuna yang terendam air laut di sekitar tanggul raksasa (Giant Sea Wall) di Muara Baru, Jakarta Utara. Musala ini terendam banjir pasang surut air laut (rob) sejak tahun 2000. Foto: Shutterstock

Kenaikan permukaan laut ekstrem telah menimbulkan dampak buruk. Di lokasi yang rentan, kondisi tersebut menyebabkan kerusakan pada permukiman dan ekosistem pesisir. Sejumlah studi yang membahas banjir pesisir pada skala global pun mencatat evolusi kenaikan permukaan laut di masa depan.

 

Jakarta (Greeners) – Peningkatan suhu global diketahui akan terus menyebabkan kenaikan permukaan laut secara rata-rata global. Bahkan tanpa potensi efek krisis iklim, kondisi tersebut akan menyebabkan peningkatan banjir dan erosi pantai.

Penelitian terbaru yang terbit dalam jurnal Nature Climate Change memprediksi, kenaikan permukaan laut ekstrem di sepanjang garis pantai di seluruh dunia akan terjadi setiap tahun atau 100 kali lebih sering pada akhir abad ini.

Riset edisi 30 Agustus 2021 itu juga mencatat, fenomena tersebut terjadi akibat meningkatnya suhu bumi. Separuh dari 7.283 lokasi yang menjadi target penelitian pun akan terdampak.

Para peneliti memperkirakan kenaikan permukaan laut berlangsung karena kombinasi gelombang badai, pasang surut air laut, dan ombak. Peristiwa yang dulunya terjadi sekali dalam satu abad kini berganti menjadi peristiwa tahunan.

Wilayah yang akan terkena dampak terparah antara lain belahan bumi bagian selatan, semenanjung Arab, bagian selatan pantai Pasifik Amerika Utara, Hawaii, Karibia, Filipina, dan Indonesia. Sementara lokasi di garis pantai Asia Pasifik tak akan terlalu terpengaruh.

Kenaikan Permukaan Laut

Bencana banjir yang melanda Desa Uepai, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin, 10 Juni 2019. Banjir merusak infrastruktur jalan raya. Foto: Shutterstock

Kenaikan Suhu Berdampak Substansial

Peneliti iklim dari Departemen Energi Amerika Serikat, Claudia Tebaldi mengatakan, meski terdapat sedikit peningkatan terhadap suhu global, hal tersebut akan memiliki konsekuensi besar.

Mengutip independent.co.uk, Claudia yang juga pemimpin proyek penelitian ini menuturkan, salah satu pertanyaan yang mendorong riset adalah seberapa tinggi suhu yang dapat memengaruhi bencana satu abad lantas berubah menjadi bencana tahunan. “Jawaban kami tidak lebih dari yang sudah tercatat,” ucapnya.

Ia dan para peneliti lain memperkirakan kenaikan 1,5 atau 2 derajat celcius di atas masa pra-industri akan memiliki efek substansial pada frekuensi dan kenaikan permukaan laut ekstrem.

“Studi ini memberikan gambaran yang lebih lengkap di seluruh dunia. Kami dapat melihat tingkat pemanasan yang lebih luas dengan spasial yang sangat halus,” kata dia.

Kendati masih terdapat banyak ketidakpastian iklim di masa depan, para peneliti menyebut pola kenaikan permukaan laut akan terus terjadi bersamaan dengan melonjaknya suhu global.

Para peneliti memprediksi suhu tersebut sebagai kondisi terparah yang mungkin terjadi akibat pemanasan global. Perubahan itu kemungkinan akan berlangsung lebih cepat lagi pada 2100. Hal ini berdasarkan banyaknya lokasi yang mengalami kenaikan permukaan laut 100 kali lipat dan diprediksi terjadi sebelum 2070.

Penulis: Dewi Purningsih

Baca juga: Ubur-Ubur Mastigias Papua: Terancam Kenaikan Suhu Global

Baca juga: Pengaruh Polar Vortex Split Pada Kondisi Cuaca Indonesia

Top
You cannot copy content of this page