Krisis Iklim Bisa Picu Jutaan Anak dan Keluarga Jatuh Miskin

Reading time: 3 menit
Tanpa mitigasi dan adaptasi serius, jutaan anak dan keluarga terdampak iklim jatuh miskin. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim harus masuk ke dalam kurikulum pendidikan secara berjenjang dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Hal ini penting untuk membangun pelibatan dan kesadaran anak-anak terhadap dampak krisis iklim. Sebab dalam sebuah laporan, tapi aksi pencegahan, krisis iklim berpotensi membuat jutaan anak dan keluarga jatuh miskin.

Ketua Satgas Bencana Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kurniawan Taufiq Kadafi menyatakan, permasalahan iklim sangat nyata anak Indonesia rasakan. Langkah memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan ini merupakan investasi jangka panjang. “Karena kesadaran (permasalahan iklim) tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu yang singkat,” katanya kepada Greeners, baru-baru ini.

Adapun bentuk-bentuk impelementasi pembelajaran terkait kurikulum ini sangat bervariasi. Misalnya pada tingkat pendidikan usia dini dan dasar bisa dengan praktek lapangan dengan melihat langsung ke hutan. Ajarkan mereka membuat simulasi sederhana kebakaran hutan dan dampaknya pada lingkungan dan kesehatan tentu jadi edukasi yang efektif.

Selain itu, perkenalkan anak sejak dini terhadap dampak perubahan iklim, bencana alam dan kesehatan. Termasuk, dampaknya bagi alam, lingkungan dan wabah hingga penyakit. “Anak bisa diajarkan dengan metode sederhana dan tetap konsisten baik di sekolah maupun di luar sekolah,” ucapnya.

Pengajaran sederhana dalam kehidupan sehari-hari juga penting. Misalnya, dengan meminimalkan penggunaan plastik dalam berkegiatan di sekolah, penghematan dalam pemakaian listrik dan air hingga meminimalisasi konsumsi makanan junk food.

Dampak Nyata Krisis Iklim Bagi Anak-Anak

Sebelumnya, berdasarkan laporan global organisasi “Save the Children” berjudul “Born into the Climate Crisis” menyebut krisis iklim di Indonesia membawa dampak nyata dan anak-anak rasakan saat ini.

“Studi kami sangat jelas menggambarkan bahwa anak-anak menanggung beban berat karena tumbuh dalam situasi yang mengancam. Anak memiliki beragam faktor yang membuat mereka lebih rentan secara fisik, sosial dan ekonomi,” kata Ketua Pengurus Yayasan Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan laporan global yang mereka rilis September 2021 tersebut, anak-anak di Indonesia yang lahir tahun 2020 berisiko menghadapi 3 kali lebih banyak ancaman banjir dari luapan sungai.

Selanjutnya 2 kali lebih banyak mengalami kekeringan serta 3 kali lebih banyak gagal panen dan lebih buruk lagi. Dampak krisis iklim membuat jutaan anak dan keluarga jatuh dalam kemiskinan jangka panjang di Indonesia.

Secara nasional, hasil prediksi iklim sepuluh tahunan laporan global “Save the Children” menunjukkan bahwa akan terjadi pengurangan jumlah curah hujan selama El Nino.

Laporan itu pun mengungkapkan jika kenaikan suhu manusia jaga tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius, dampak dari ancaman iklim pada generasi mendatang dapat berkurang. Misalnya, kekeringan berkurang sebesar 39 %, 38 % untuk banjir sungai, 28 % hingga mencapai 139.746 jiwa, termasuk anak-anak.

“Investasi pada penurunan emisi seharusnya berjalan beriringan dan saling melengkapi dengan upaya penurunan risiko dan meningkatkan kapasitas adaptasi pada anak,” tambah Selina.

Upaya Anak Muda Adaptasi dan Mitigasi

Sebelumnya, Save the Children Indonesia menggandeng sejumlah pihak yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meluncurkan kampanye Aksi Generasi Iklim bertepatan pada Hari Bumi 22 April 2022 lalu.

Aksi generasi iklim ini harus menyentuh anak-anak Indonesia terutama mereka yang berhadapan dan terdampak langsung dari krisis iklim. Anak-anak tersebut berasal dari Provinsi Jawa Barat, Sulawesi Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.

Aksi generasi iklim sendiri, menurut Selina, merupakan gerakan inisiasi anak-anak dan orang muda. Tujuannya, untuk memastikan anak-anak dan keluarga terutama mereka yang terdampak secara langsung dari krisis iklim dapat melakukan upaya-upaya bertahan hidup dan beradaptasi. Selanjutnya mereka bisa memperkuat sistem terkait penanganan perubahan iklim yang lebih berpihak pada anak.

Perwakilan ‘Child Campaigner’ Jawa Barat “Save the Children” Indonesia menyatakan pemerintah harus melibatkan anak-anak dalam membangun kesadaran dampak krisis iklim.

“Harusnya, semua anak bisa mulai berpartisipasi. Tapi sayangnya masih banyak anak-anak belum tahu tentang krisis iklim dan bagaimana mereka bisa berperan untuk membuat perubahan. Sebagai ‘Child Campaigner’, saya ingin mengajak semua anak bergerak dan tidak takut untuk bersuara,” ungkap Ranti.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page