eceng gondok - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/eceng-gondok/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 22 Jul 2023 08:48:10 +0000 id hourly 1 Bersihkan Eceng Gondok Agar Ekosistem Perairan Terjaga https://www.greeners.co/berita/bersihkan-eceng-gondok-agar-ekosistem-perairan-terjaga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersihkan-eceng-gondok-agar-ekosistem-perairan-terjaga https://www.greeners.co/berita/bersihkan-eceng-gondok-agar-ekosistem-perairan-terjaga/#respond Sun, 23 Jul 2023 05:00:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40895 Jakarta (Greeners) – Eceng gondok yang hidup di perairan kerap kali tumbuh dengan pesat. Pertumbuhan yang tidak terkendali ini dapat menyebabkan gangguan pada ekosistem perairan. Untuk menjaga kelestarian spesies di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Eceng gondok yang hidup di perairan kerap kali tumbuh dengan pesat. Pertumbuhan yang tidak terkendali ini dapat menyebabkan gangguan pada ekosistem perairan. Untuk menjaga kelestarian spesies di dalam air, perlu pembersihan eceng gondok secara rutin.

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah tumbuhan gulma yang hidup di wilayah perairan seperti rawa, waduk, danau dan perairan lainnya. Eceng gondok dapat menyerap nutrisi. Oleh karena itu, tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan.

Pesatnya pertumbuhan eceng gondok mengakibatkan penutupan permukaan air. Ketebalan tumbuhan tersebut bisa menghalangi masuknya sinar matahari masuk ke dalam air, sehingga menghambat proses fotosintesis tumbuhan di bawah air dan menganggu ekosistem perairan.

Wakil Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian Universitas Nasional, Sri Endarti Rahayu mengatakan, eceng gondok dapat menurunkan kadar oksigen dalam air. Bahkan, berujung pada kematian organisme air seperti ikan dan makhluk lainnya.

“Karena fotosintesis tidak bisa berjalan dengan baik. Hal ini mengakibatkan kematian organisme air seperti ikan dan makhluk lain yang membutuhkan oksigen dalam mempertahankan hidupnya,” kata Sri kepada Greeners, baru-baru ini.

Keanekaragaman hayati di dalam air juga terancam hilang. Jika populasi eceng gondok terus mendominasi, hal itu dapat menggeser spesies air asli dan menyebabkan kepunahan banyak spesies di dalam air. Ketidakseimbangan pertumbuhan keanekaragaman hayati dan ekosistem menjadi salah satu penyebabnya.

Terganggunya Aktivitas Manusia

Sementara itu, eceng gondok tidak hanya mengganggu spesies di dalam air, tetapi juga memengaruhi aktivitas manusia. Misalnya navigasi kapal, akses perahu, hingga sistem irigasi pertanian.

“Pengaruhnya besar sekali terhadap lingkungan, sebab tanaman ini pasif. Tidak ada musuh alami eceng gondok ini, jadinya dia tumbuh pesat,” tambah Sri.

Eceng gondok juga dapat menurunkan kualitas pasokan air minum yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Eceng gondok juga bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab penyakit demam berdarah dan malaria.

Pantau dan Bersihkan Eceng Gondok

Oleh sebab itu deteksi dini dan pembersihan rutin penting untuk meminimalkan pertumbuhannya di lingkungan perairan. Sri menyebut, dengan lebih banyak pembersihan, populasi eceng gondok bisa berkurang. Masyarakat yang tinggal di dekat lingkungan perairan juga harus giat melaporkan pertumbuhan eceng gondok.

Misalnya, belum lama ini Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta telah membersihkan eceng gondok di Waduk Pluit setelah warga mengeluhkan bau tidak sedap yang timbul dari hamparan eceng gondok.

Foto : Pemerintah Administrasi Jakarta Utara

Miliki Ragam Manfaat

Meski dikenal sebagai gulma, tumbuhan hijau ini apabila dikelola dengan baik bisa memiliki banyak manfaat. Bahkan, beberapa penelitian telah membuktikan eceng gondok bisa menjadi alternatif energi terbarukan.

Selain itu, dalam beberapa kasus, eceng gondok juga berfungsi sebagai pengendali erosi. Sebab, akar dan jaringannya dapat menstabilkan tanah di sungai atau danau. Kemudian, dengan kemampuan fitoremediasi, eceng gondok mampu menyerap banyak polutan di dalam air.

“Jadi kasus perairan yang sudah terkontaminasi, tumbuhan ini dapat membantu mengurangi kontribusi polutan sehingga dapat memperbaiki kualitas air dan bisa menjadi tempat perlindungan satwa,” imbuh Sri.

Selebihnya, eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, tanaman hias kolam air, dan dikomposkan menjadi pupuk organik.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bersihkan-eceng-gondok-agar-ekosistem-perairan-terjaga/feed/ 0
Bengok Craft: Gebrakan Upcycle Eceng Gondok dari Desa Kesongo https://www.greeners.co/ide-inovasi/bengok-craft/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bengok-craft https://www.greeners.co/ide-inovasi/bengok-craft/#respond Sun, 21 Feb 2021 12:00:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=31616 Kemampuan adaptasi eceng gondok yang sangat baik bisa merusak ekosistem perairan. Menyadari ini, Firman Setyaji membentuk usaha berbasis pemberdayaan masyarakat untuk mengolah eceng gondok jadi kerajinan, dengan produk bernama Bengok Craft.]]>

Bengok Craft merupakan satu lagi karya putra Tanah Air yang tidak hanya menghadirkan solusi untuk masalah lingkungan, namun juga memberdayakan masyarakat. Simak kisah mereka berikut ini. 

Kita telah mengetahui informasi mengenai eceng gondok yang dapat merusak biota air. Kemampuan adaptasinya yang sangat baik membuatnya bertumbuh dengan pesat; sehingga bisa merusak ekosistem.

Menyadari ini, Firman Setyaji membentuk usaha kerakyatan yang berbasis pemberdayaan masyarakat untuk mengolah eceng gondok jadi kerajinan, dengan produk bernama Bengok Craft. Bengok craft melibatkan seluruh lapisan warga, mulai dari ibu-ibu sampai pemuda-pemudi Desa Kesongo, Jawa Tengah.

“Kita mulai memanfaatkan gulma. Hal yang tidak berguna itu diolah menjadi hal yang lebih bermanfaat,” kata Firman kepada Greeners (17/2/2021).

bengok craft

Firman Setyaji membentuk usaha kerakyatan yang berbasis pemberdayaan masyarakat untuk mengolah eceng gondok jadi kerajinan, dengan produk bernama Bengok Craft. Foto: Bengok Craft.

Berawal dari Bahan Mentah

Awalnya masyarakat Desa Kesongo juga telah memanfaatkan eceng gondok sebagai sumber penghasilan. Namun, pemanfaatan ini sebatas menyuplai bahan mentah dan mengirim eceng gondok yang mereka usahakan ke daerah Yogyakarta sampai Pekalongan.

“Di sini malah yang belum ada perajinnya. Nah, ini makanya kita bergerak untuk ayo kita di sini juga bisa bikin jadi daerah perajin. Angan-angan nantinya ingin jadi sentra kerajinan, itu kita mulai dan kita terus berproses dan berprogress,” ucap Firman.

Merek Bengok Craft bermakna sederhana, namun erat dengan ciri khas produk yang mereka jual. Firman menuturkan, bengok merupakan penyebutan nama lokal enceng gondok di daerah mereka.

“Sedangkan craft itu nama global. Kita sedari awal pengin bawa produk lokal ini ke ranah global,” tambahnya.

Ketika menjual eceng gondok basah ke para penjemur, biasanya bahan mentah itu terjual Rp500,00 per kilo.

“Dijemur selama 2-3 minggu sampai kering itu dijual per kilonya Rp5000,00. Apabila satu kilo ini dibikin kerajinan, itu bisa menghasilkan berkali-kali lipat,” jelas Firman.

Misalnya, perajin membuat topi; topi membutuhkan eceng gondok sekitar satu kilogram. “Jadi, ada peningkatan harga di situ. Bahkan 10 kali lipat lebih dengan kita berkreasi,” ucap Firman.

bengok craft

Firman menuturkan, bengok merupakan penyebutan nama lokal enceng gondok di Desa Kesongo, Jawa Tengah. Foto: Bengok Craft.

Pemberdayaan Masyarakat dengan Bengok Craft

Menurut Firman, pemanfaatan eceng gondok menjadi kerajinan merupakan peluang untuk meningkatkan taraf hidup.

“Untuk masalah bisa atau tidaknya, itu bisa dipelajari. Dengan kemauan, angan, dan keterampilan, nanti itu bisa menghasilkan suatu kreasi atau karya,” tutur Firman.

Bengok Craft memberikan solusi untuk warga agar bisa mengolah kerajinan enceng gondok. Biasanya mereka memikul bahan mentah, menjualnya, dan menghasilkan Rp100.000,00 – Rp200.000,00.

“Apabila dijadikan kerajinan bisa sampai jutaan rupiah. Caranya bagaimana? Kita mengolah, bisa jadi topi, bisa jadi tas, dan bisa jadi macam-macam kreasi lainnya,” cakap Firman.

bengok craft

Bengok Craft memberikan solusi untuk warga agar bisa mengolah kerajinan enceng gondok. Foto: Bengok Craft.

Harapan Menjadi Sentra Kerajinan Eceng Gondok

Firman berharap, jika semakin banyak warga yang mengolah kerajinan enceng gondok, desa mereka akan menjadi sentra kerajinan enceng gondok. Dia percaya, keunikan ini bisa menarik wisatawan. Selain menambahkan pemasukan untuk warga, mereka juga menularkan ilmu bagi orang-orang yang datang ke desa mereka.

Di samping menambah nilai bengok, usaha upcycle lewat bengok craft juga mengusung zero waste. Firman mengatakan, mereka sebisa mungkin meminimalisir sampah.

“Jadi sisa kerajinan, apabila kita bikin sandal atau bikin tas, kita bisa olah kembali menjadi sesuatu produk yang baru,” timpalnya.

Bengok Craft mendistribusikan kreasi eceng gondok melalui media sosial. Mereka menjangkau kota-kota yang memang menaruh apresiasi tinggi terhadap kreasi-kreasi upcycle lewat daring seperti Instagram dan Website. Menurut Firman, jika hanya memasarkan di area lokal saja, usahanya kurang bisa berkembang.

“Kita mencoba untuk menjangkau pasaran di kota-kota besar, yaitu di daerah Bali – Jakarta. Memang kita bukan seperti pabrikan atau yang produksi massal. Kita tetep kreasi terbatas. Kita perbanyak inovasi dengan kreasi-kreasi yang baru,” ucapnya.

Saat ini, macam-macam produk olahan eceng gondok yang mereka jual adalah dekorasi ruangan (tempat menyimpan barang), tas, sendal, phone case, dan mangkuk.

Penulis: Agnes Marpaung.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/bengok-craft/feed/ 0
Jacinto and Lirio: Produk Inovatif, Solusi Eceng Gondok yang Merajalela https://www.greeners.co/ide-inovasi/jacinto-and-lirio/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jacinto-and-lirio https://www.greeners.co/ide-inovasi/jacinto-and-lirio/#respond Mon, 21 Dec 2020 08:00:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=30599 Jacinto and Lirio, merek yang menjual solusi masalah pertumbuhan eceng gondok yang menyebabkan banjir, matinya ikan, dan penyakit.]]>

Infestation. Apakah Anda pernah mendengar kata itu? Jika belum mengetahuinya, arti dari kata tersebut adalah kehadiran hewan atau tumbuhan di suatu tempat dalam jumlah yang sangat besar sehingga menyebabkan kerusakan atau penyakit. Eceng gondok adalah salah satu contohnya.

Eceng gondok merupakan salah satu tumbuhan air yang paling merusak di dunia karena kemampuannya untuk berkembang biak dengan sangat cepat. Flora ini dapat tumbuh hingga lebar 2 meter, mengurangi cahaya dan oksigen, mengubah kandungan air, serta memengaruhi flora dan fauna lokal.

Eceng gondok mengakibatkan komunitas masyarakat di Filipina yang mata pencahariannya sebagai nelayan terhambat. Masalah transportasi laut dan irigasi, ikan-ikan terbunuh karena tidak mendapatkan sinar matahari, dan mereka harus mengungsi akibat banjir yang cukup tinggi sampai kedalaman 6 meter, karena eceng gondok menyumbat saluran air.

Mereka juga terkena penyakit seperti malaria dan demam berdarah yang penularannya lewat air. Melihat fenomena ini, salah satu pandangan dan solusi yang hadir adalah Jacinto and Lirio pada 2009.

Asal Muasal Penggunaan Eceng Gondok

Orang-orang di balik terciptanya perusahaan ini adalah Anne Mariposa-Yee, Noreen Bautista, Patricia Lalisan, Ryan Pelongco and Charm Cruz. Mereka memikirkan ide untuk menggunakan bahan asli Filipina.

Para pendiri merasa negaranya memiliki banyak sumber daya alam yang melimpah, namun pemanfaatan potensinya belum maksimal. Tante dari Noreen bekerja di Department of Trade and Industry (DTI) dan memberi tahu mereka bahwa eceng gondok saat itu menjadi salah satu masalah bagi pemerintah.

Kemudian informasi tersebut membawa mereka berangkat ke berbagai area di Filipina dengan komunitas terdampak eceng gondok seperti Las Piñas, Pampanga, dan Laguna. Mereka pun berpikir bagaimana membantu komunitas ini.

DTI sudah mulai mengatasi masalah ini dengan memulai program pelatihan keterampilan untuk mengubah eceng gondok menjadi produk bernilai komersial, seperti kerajinan anyaman. Mereka berpikir pasti ada sesuatu yang lebih dari sekadar menganyam keranjang dan tikar dari tanaman.

Jacinto and Lirio

Para pendiri merasa negaranya memiliki banyak sumber daya alam yang melimpah, namun pemanfaatan potensinya belum maksimal. Foto: Jacinto and Lirio.

Belum lagi kurangnya apresiasi orang Filipina akan produk asli. Mereka menyadari bahwa kerajinan tangan asli hanya dapat bersaing secara lokal. Jika ingin skala global mereka harus melalui pengembangan bahan dan desain berkualitas.

Sampai mereka meneliti lebih lanjut tentang eceng gondok dan menemukan bahwa mereka dapat memasarkannya sebagai bahan kulit dari tanaman. Akhirnya terbuatlah Jacinto and Lirio (artinya “Eceng Gondok” dan “Bakung”), sebagai wirausaha berbasis sosial yang mengubah “hama” menjadi barang berbahan kulit yang ramah lingkungan dan multifungsi.

Merek ini memanfaatkan eceng gondok yang pertumbuhannya berlebih sampai merusak keseimbangan lingkungan. Lewat pembuatan produknya, mereka memberdayakan keluarga yang terkena dampak negatif melimpahnya eceng gondok ini dengan solusi penciptaan mata pencaharian.

Mereka menjual barang-barang buatan tangan berbahan kulit dari tanaman. Tak hanya indah, tetapi juga memiliki berbagai macam fungsi serta bergaya profesional.

Lewat produk-produknya, perusahaan ingin menciptakan citra yang kuat akan patriotik, lingkungan, dan sosial-etis. Mereka pun hadir dengan mengusung 3 hal utama yaitu, gaya, keberlanjutan, dan kuasa untuk berbuat sesuatu.

Jacinto and Lirio

Mereka menjual barang-barang buatan tangan berbahan kulit dari tanaman. Tak hanya indah, tetapi juga memiliki berbagai macam fungsi serta bergaya profesional. Foto: Jacinto and Lirio.

Baca juga: Yayasan Pangeran Charles Berkomitmen Sokong Fesyen Berkelanjutan

Produk-produk Jacinto and Lirio

Pinto Journal dan Passport Holder

Produk ini sangat cocok untuk orang yang suka jalan-jalan dan ingin memiliki catatan pengingat yang praktis. Selain itu juga cocok untuk seniman yang ingin menampilkan karya-karya mereka baik membuat sketsa, lukisan, atau tulisan kaligrafi.

Kertasnya bisa untuk semua media penulisan, termasuk cat air. Jurnal ini juga memiliki fitur-fitur khusus. Misalnya, cover jurnal yang dapat Anda kreasikan, terdapat kantong di dalamnya untuk menyimpan kartu atau dokumen lain, dapat Anda isi ulang, serta tahan air.

Tali Kulit Vegan

Tas kulit yang terbuat dari eceng gondok yang dapat Anda gunakan untuk membawa kartu tanda pengenal Anda, mengaitkannya untuk kunci, telepon genggam Anda, atau barang-barang lain sehingga lebih praktis dan aman karena dalam jangkauan Anda.

Kimono APD

Ada juga edisi pandemi seperti Gouache Kimono. Ini berfungsi sebagai Alat Pelindung Diri (APD) yang dapat digunakan kembali. Kimono ini menjadi perlindungan Anda untuk bepergian keluar rumah, memenuhi keperluan sehari-hari seperti belanja dan bekerja.

Pemerintah Filipina menyarankan, orang-orang harus selalu memakai pakaian yang menutupi kulit dan perlengkapan pelindung seperti masker dan sarung tangan. Pelindung ini bekerja sebagai penghalang yang mengurangi kemungkinan bersentuhan, terpapar, dan penyebaran kuman.

Meskipun persediaan APD di Filipina ada banyak, beberapa negara kekurangan pasokan. Maka dari itu kimono ini tercipta dengan microfiber dan bahan tahan air.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Sumber:

Jacinto and Lirio

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/jacinto-and-lirio/feed/ 0
Eceng Gondok, Serba-serbi Gulma yang Kaya Guna https://www.greeners.co/flora-fauna/eceng-gondok-gulma-penghasil-pakan-ternak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eceng-gondok-gulma-penghasil-pakan-ternak https://www.greeners.co/flora-fauna/eceng-gondok-gulma-penghasil-pakan-ternak/#respond Tue, 08 Dec 2020 10:00:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=21276 Tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) tentu tidak asing lagi di masyarakat. Salah satu jenis gulma atau tanaman pengganggu ini kerap mengapung di air atau berakar dalam tanah]]>

Tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) tentu tidak asing lagi di tengah masyarakat. Salah satu jenis gulma atau tanaman pengganggu ini kerap mengapung di air atau berakar dalam tanah. Meski terkenal sebagai flora yang menggangu, nyatanya tanaman ini memiliki segudang manfaat lain yang berguna bagi kelestarian ekosistem sekitarnya. Jika demikian, mengapa tumbuhan ini tergolong sebagai gulma?

Dalam jumlah besar, tanaman yang sering disebut kelipuk – dalam dialek Palembang – digadang-gadang sebagai penyebab dari rusaknya biota air, tempat tanaman tersebut berkembang biak.

Namun seiring majunya ilmu pengetahuan, tanaman yang satu ini diketahui memiliki manfaat serta berguna untuk berbagai macam kebutuhan, seperti pakanan, industri hingga pelestarian alam.

Itu sebabnya, agar tidak keliru menilai flora satu ini, simak ulasan lengkapnya bersama Greeners.

Morfologi dan Ciri-Ciri

Ciri-ciri eceng gondok sebenarnya cukup mudah dikenali. Selain banyak ditemukan di rawa, danau dan sungai, salah satu kekhasan dari tumbuhan ini adalah siklus perkembangbiakannya yang cukup cepat.

Dikutip dari jurnal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), setiap sepuluh tanaman eceng gondok mampu berkembang biak menjadi 600.000 tanaman baru dalam kurun waktu delapan bulan saja.

Berdasarkan morfologinya, tumbuhan yang satu ini terdiri dari helai daun, pengapung, leher daun, ligula, akar, akar rambut, ujung akar dan stolon sebagai tempat perkembangbiakan.

Benar sekali, tumbuhan yang pertama kali ditemukan di perairan Amazon ini memang tidak memiliki batang, sehingga tinggi reratanya diketahui hanya berkisar 0,4-0,8 meter saja.

Ciri-ciri eceng gondok lain yang bisa kita lihat adalah bentuk daunnya yang oval dan tunggal. Pangkal daun tersebut biasanya runcing dan menggelembung, dengan permukaan licin serta berwarna hijau.

Selain itu, tanaman ini juga memiliki bunga yang tergolong majemuk, berbentuk bulir dengan kelopak menyerupai tabung. Biji bunga ini umumnya berwarna hitam dan berbentuk bulat.

Ditambah lagi, buah dari bunga tersebut berongga tiga dan berwarna hijau. Akarnya yang menjuntai merupakan akar serabut lebat berwarna hitam dengan permukaan bercorak ungu.

Habitat Eceng Gondok

Ecek gondok umumnya bisa tumbuh di hampir seluruh area perairan. Bahkan, daya adaptasi tumbuhan ini tergolong sangat baik karena tahan cuaca ekstrem dari ketinggian dan juga arus air.

Kandungan zat hara, kedalaman air, salinitas, pH dan intensitas cahaya merupakan faktor penentu pertumbuhan Eichhornia crassipes. Semakin banyak, maka pertumbuhannya akan semakin cepat.

Secara umum, tumbuhan ini bisa hidup di tanah yang selalu tertutup air serta mengandung banyak makanan. Dengan daya tahannya, eceng gondok juga bisa hidup di tanah asam dan tanah yang basah. 

Di Indonesia sendiri terdapat tiga jenis eceng gondok, penggolongan tersebut biasanya berdasarkan pada lokasi pengembangbaikannya seperti eceng gondok sungai, rawa serta eceng gondok kolam.

Dampak Negatif Eceng Gondok

Sebelum membahas manfaat eceng gondok, ada baiknya kita mengetahui dampak negatif tumbuhan pengganggu ini. Ada beberapa hal yang perlu Anda antisipasi dari masifnya pertumbuhan kelipuk, yakni:

  1. Meningkatkan penguapan air;
  2. Mengurangi intensitas cahaya dan oksigen yang masuk ke air;
  3. Menyebabkan pendangkalan;
  4. Mengganggu kelancaran transportasi air; serta
  5. Mengurangi nilai estetika area perairan.

Empat dari dampak negatif kelipuk tersebut secara umum penyebabnya yakni pertumbuhan yang tidak terkontrol (terlalu lebat), sehingga mengganggu ekosistem perairan.

Dalam kasus estetika, biasanya tanaman ini menjadi sumber keluhan bagi mereka yang memiliki kolam-kolam dangkal seperti area kolam rumah, taman dan ruang publik lainnya.

Lantas, bagaimana cara menanggulanginya? Setidaknya, ada empat langkah yang bisa Anda lakukan, seperti:

Cara Penanggulangan:

  1. Menggunakan penyiang gulma atau herbisida. Untuk Anda yang belum tahu, herbisida adalah senyawa atau material yang petani sebarkan pada lahan pertanian, yang berguna menekan atau memberantas gulma yang menyebabkan penurunan hasil pertanian;
  2. Mengangkat tumbuhan eceng gondok tersebut secara langsung dari permukaan air;
  3. Memanfaatkan predator atau hewan pemakan eceng gondok layaknya ikan grass carp; dan
  4. Mengolah tanaman tersebut menjadi berbagai macam kebutuhan.
Mengenal Eceng Gondok – Ciri-Ciri, Dampak dan Manfaat

Walaupun reputasinya sebagai gulma, namun flora ini memiliki banyak manfaat. Foto: Shutterstock.

Manfaat Eceng Gondok

Jika laju pertumbuhan flora ini sudah tidak terkendali, maka akan sulit untuk menanggulangi serta memberantas tumbuhan pengganggu tersebut pada area peraian.

Sehingga, cara terbaik untuk “berdamai” dengan tumbuhan ini hanyalah dengan memanfaatkannya untuk beragam kebutuhan. Berikut beberapa manfaat flora ini.

1. Sebagai Pupuk Organik

Banyak orang memanfaatkan kelipuk sebagai pupuk organik. Gulma yang kaya akan kandungan asam humat ini efektif mempercepat pertumbuhan akar tanaman serta menyuburkan tanah.

2. Mengurangi Kadar Logam Berat pada Air

Untuk area perairan yang cukup besar layaknya waduk dan danau, manfaat eceng gondok dapat kita rasakan untuk mengurangi kadar logam berat, seperti Fe, Zn, Cu, Mn, Cd dan Hg.

3. Sebagai Pakan Ternak

Bagi para peternak, eceng gondok kerap mereka gunakan sebagai pakan hewan. Jenis ternak yang cocok dengan pakan ini juga beragam, mulai dari ruminansia (sapi, domba dan kambing), unggas dan kelinci.

4. Bahan Dasar Kerajinan Tangan

Dewasa ini, manfaat kelipuk sebagai bahan dasar industri kreatif dan rumahan terjadi cukup pesat. Banyak orang menggunakan tanaman ini sebagai anyaman untuk membuat kerajinan tangan.

Tidak hanya ampuh dalam menekan pertumbuhannya, pemanfaatan flora ini sebagai bahan dasar kerajinan tangan juga berdampak positif bagi laju ekonomi serta kelestarian lingkungan.

5. Manfaat sebagai Biogas

Terakhir, tanaman ini berpotensi menjadi biogas. Biogas adalah campuran gas yang tercipta dari proses fermentasi bahan organik oleh bakteri dalam keadaan anaerobik.

Dengan manfaatnya sebagai bahan baku biogas, kita dapat mengurangi limbah yang ada di permukaan bumi sekaligus menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Demikian ciri-ciri, dampak hingga manfaat eceng gondok yang bisa kita aplikasikan. Semoga artikel ini mampu membuka cakrawala kita terhadap tumbuhan ini, ya.

Taksonomi Eceng Gondok 

gulma

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/eceng-gondok-gulma-penghasil-pakan-ternak/feed/ 0
Selamat Tinggal Styrofoam, Halo Biofoam Engkong! https://www.greeners.co/ide-inovasi/selamat-tinggal-styrofoam-halo-biofoam-engkong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=selamat-tinggal-styrofoam-halo-biofoam-engkong https://www.greeners.co/ide-inovasi/selamat-tinggal-styrofoam-halo-biofoam-engkong/#respond Mon, 26 Nov 2018 07:28:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=21609 Dua orang siswi kelas XII SMAN 1 Kedungpring, Lamongan membuat kemasan alternatif pengganti styrofoam yang mereka namakan Biofoam Engkong. Kemasan ini terbuat dari tanaman enceng gondok yang banyak ditemukan di daerah mereka.]]>

(Greeners) – Sampah styrofoam menjadi salah satu sampah yang paling banyak ditemukan di tempat pembuangan akhir (TPA). Seperti di daerah Benowo, Surabaya, sampah kemasan styrofoam yang ditemukan di TPA mencapai 1.000 ton per harinya. Sifat enceng gondok yang dapat berkembang biak dengan cepat juga sering sekali menyumbat aliran sungai sehingga berpotensi menyebabkan banjir.

Melihat fenomena ini, Suprihatin dan Siti Nur Kholisah, siswi kelas XII SMAN 1 Kedungpring, Lamongan melakukan eksperimen untuk memanfaatkan enceng gondok. Mereka membuat sebuah kemasan alternatif pengganti styrofoam yang terbuat dari tanaman eceng gondok atau enceng gondok (Eichhornia crassipes) yang banyak ditemukan di daerah Lamongan, Jawa Timur. Kemasan inovatif ini mereka namakan Biofoam Engkong.

“Kami mengetahui bahwa sampah styrofoam sangat mencemari lingkungan dan juga berdampak buruk untuk kesehatan manusia,” ujar Siti kepada Greeners saat ditemui di pameran Indonesia Science Expo (ISE) 2018, Serpong pada awal November lalu.

Lebih lanjut Siti menjelaskan, umumnya proses pembuatan styrofoam dilakukan dengan mencampurkan bahan utama berupa stirena dengan bahan lain yaitu seng dan butadiene. Untuk meningkatkan kelenturan kemasan tersebut ditambahkan zat plasticizer seperti dioctyl phthalate (DOP).

“Styrofoam kurang baik digunakan untuk mengemas produk makanan atau minuman karena adanya kemungkinan terjadi migrasi bahan kimia yang terkandung dalam kemasan ini ke dalam makanan atau minuman tersebut. Migrasi ini dipengaruhi oleh suhu, lama kontak dan tipe pangan. Semakin tinggi suhu, lama kontak dan kadar lemak suatu pangan maka migrasinya juga akan semakin besar,” kata Siti.

Dari hasil penelitian dan percobaan Suprihatin dan Siti, keduanya menemukan bahwa serat dan pati enceng gondok cocok diolah menjadi bahan wadah makanan. Enceng gondok mengandung serat selulosa yang melimpah pada batangnya. Tanaman ini juga bukan tanaman musiman, dan perkembangbiakannya secara generatif maupun vegetatif dengan kecepatan tumbuh 3% setiap hari membuat tanaman ini mudah diperbanyak. Dalam proses pembuatannya, Biofoam Engkong menggunakan pati singkong yang dimanfaatkan sebagai bahan perekat.

“Kami hanya mengambil bagian batangnya saja lalu kami keringkan selama 3 hari. Eceng gondok yang telah dikeringkan lalu dihaluskan dengan blender hingga berukuran partikel 60 mesh, setelah itu disaring dan dicampur dengan tepung singkong. Adonan itu kemudian dicetak lalu dimasukan ke dalam oven listrik selama 2 jam pada temperatur sekitar 70°C,” kata Siti menjelaskan.

biofoam engkong

Hasil biofoam engkong menggunakan cetakan piring dan gelas. Foto: greeners.co/Sarah R. Megumi

Lebih lanjut Suprihatin dan Siti menjelaskan bahwa selain menguji material yang dapat terurai di alam (biodegradable), mereka juga melakukan uji coba jumlah zat padat terlarut (TDS) dan pH pada kemasan Biofoam Engkong. Semua pengujian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Lamongan. Percobaan tersebut dilakukan untuk membuktikan agar kemasan enceng gondok ini aman dipakai sebagai wadah makanan dan tidak berbahaya bagi tubuh manusia.

“Jumlah zat padat terlarut pada kemasan ini adalah 154mg/liter. Menurut peraturan Kementerian Kesehatan jumlah TDS maksimal 500, dikarenakan (Biofoam Engkong) kita dibawah 500, jadi Biofoam Engkong masih aman untuk dipakai sebagai wadah makanan maupun minuman. Kita juga melakukan uji coba pH dan uji sianida yang ada pada singkong. Hasilnya tidak ada pengaruh asam pada makanan dan hasil uji sianida pada singkong pun nilainya nol, yang berarti tidak berpengaruh pada makanan,” kata Suprihatin.

Siti mengungkapkan bahwa saat ini mereka belum memiliki thermopressing (mesin yang biasa dipakai untuk mencetak kemasan styrofoam). “Kami belum punya thermopressin sehingga kami masih menggunakan piring atau gelas sebagai wadah cetakan sementara,” katanya.

Pihak sekolah sangat mendukung inovasi yang dilakukan oleh Suprihatin dan Siti. Kedepannya kedua siswi ini berencana akan membeli thermopressing agar kemasan Biofoam Engkong lebih menarik untuk dijual dan dapat diproduksi dalam jumlah banyak. Mereka juga ingin memperbaiki perwarnaan produk agar terlihat lebih menarik untuk disosialisasikan kepada masyarakat.

“Kalau kemasan kami sudah bagus kami ingin bekerjasama dengan tim ahli untuk memproduksi Biofoam Engkong dengan kuantitas yang lebih banyak. Harganya pun relatif lebih murah dibandingkan harga styrofoam umum. Setelah diperhitungkan tiap harinya kami bisa mencetak 33 Biofoam Engkong. Kami bisa menjual satu biofoam engkong seharga 100 rupiah, satu styrofoam yang biasa saja harganya berkisar antara 300 sampai 700 ratus rupiah,” kata Suprihatin.

Selain dapat memproduksi dalam skala besar, harapan dari kedua siswi yang berhasil memamerkan inovasinya di ISE 2018 ini adalah agar inovasi kemasannya bisa menjadi solusi kemasan ramah lingkungan dan mampu mengurangi permasalahan limbah styrofoam yang ada di Indonesia.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/selamat-tinggal-styrofoam-halo-biofoam-engkong/feed/ 0
Pengendalian Eceng Gondok di Danau Batur Libatkan Siswa SMK https://www.greeners.co/berita/pengendalian-eceng-gondok-di-danau-batur-libatkan-siswa-smk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengendalian-eceng-gondok-di-danau-batur-libatkan-siswa-smk https://www.greeners.co/berita/pengendalian-eceng-gondok-di-danau-batur-libatkan-siswa-smk/#respond Tue, 17 Nov 2015 08:42:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11927 Bali (Greeners) – Danau Gunung Batur yang terletak tepat di lereng Gunung Batur, Bali tengah mengalami ancaman serius, mulai dari aktivitas penambangan golongan C (kelompok bahan galian industri) hingga serbuan […]]]>

Bali (Greeners) – Danau Gunung Batur yang terletak tepat di lereng Gunung Batur, Bali tengah mengalami ancaman serius, mulai dari aktivitas penambangan golongan C (kelompok bahan galian industri) hingga serbuan eceng gondok yang tumbuh subur di Danau Batur.

Menurut pemerhati lingkungan dari Universitas Udaya, Dr. Niluh Kartini, serbuan eceng gondok tersebut terjadi karena tingginya kandungan fosfat pada air danau. Eceng gondok dalam jumlah yang banyak menyebabkan penguapan yang tinggi melalui daun tanaman. Selain itu, terjadi pula penurunan jumlah cahaya yang masuk ke dalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air. Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Bali dan Nusa Tenggara terus berupaya menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapi oleh danau yang mendapat status sebagai kawasan geopark oleh UNESCO tersebut.

“Salah satunya itu kita mengajak siswa SMKN 2 Kintamani untuk mengambil dan mengolah enceng gondok di Danau Batur menjadi pupuk organik,” tegas Niluh saat disambangi oleh Greeners di Danau Batur, Bali, Rabu (11/11) lalu.

Dr. Niluh Kartini, pemerhati lingkungan dari Universitas Udayana, Bali. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Dr. Niluh Kartini, pemerhati lingkungan dari Universitas Udayana, Bali. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Senada dengan Niluh, Kepala P3E Bali dan Nusa Tenggara KLHK, Rijaluzzaman mengakui bahwa berbagai persoalan yang mendera Danau Batur harus segera diatasi. Untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, katanya, diperlukan peran serta dari segala pihak termasuk masyarakat dan pemerintah.

“Permasalahan di Danau Batur ini cukup kompleks. Jika tidak segera ditangani maka dikhawatirkan akan terjadi persoalan yang lebih besar lagi,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Danau Batur termasuk jenis danau kaldera aktif yang berada pada ketinggian 1.050 meter diatas permukaan laut (dpl). Daerah sekitar Danau Batur, dipengaruhi oleh iklim tropis dengan dua musim, yaitu musim penghujan yang ditandai dengan berhembusnya angin Muson Barat dan musim kemarau yang dipengaruhi oleh angin Muson Timur dengan rata-rata kecepatan angin harian tiap tahunnya adalah 0,62 meter/detik.

Sebagian besar lahan di sekitar danau dimanfaatkan sebagai tegalan yang mencapai 49,35 persen. Lahan ini digunakan untuk budidaya tanaman sayur-sayuran dan hortikultura, terutama di bagian barat dan selatan danau.

Di sekitar danau terdapat sebaran hutan berupa hutan rakyat dan hutan negara. Sebaran hutan negara di sekitar danau meliputi areal seluas 3.281,7 ha (27,84%), meliputi hutan lindung di bagian utara dan selatan danau dan hutan taman wisata alam di bagian barat. Lahan yang dimanfaatkan untuk kebun sebesar 4,59%, lahan untuk pekarangan hanya sebesar 2,22% dan selebihnya berupa lahan lain-lain yaitu lahan kritis bekas lahan Gunung Batur.

Danau Batur memiliki fungsi sebagai sumber keanekaragaman hayati berbagai biota air dan darat, habitat berbagai jenis fauna endemik, serta fungsi sosial ekonomi budaya di kawasan tersebut. Berbagai jenis tumbuhan air yang terdapat di Danau Batur menurut laporan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali (2005) antara lain eceng gondok (Eichornia crasipess), ganggang (Hydrilla verticillata), dan rumput jarum (Najas indica). Sedangkan jenis-jenis plankton yang ada tergolong kedalam tiga kelas, yaitu ganggang hijau-biru (Cyanophyta), ganggang hijau (Clorophyta) dan Diatomae.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pengendalian-eceng-gondok-di-danau-batur-libatkan-siswa-smk/feed/ 0
Eceng Gondok sebagai Pakan Ternak https://www.greeners.co/berita/eceng-gondok-sebagai-pakan-ternak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eceng-gondok-sebagai-pakan-ternak https://www.greeners.co/berita/eceng-gondok-sebagai-pakan-ternak/#comments Thu, 21 Aug 2014 09:22:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=5506 Sabtu 16 agustus 2014, seperti yang kita ketahui, eceng gondok merupakan limbah perairan dimana pertumbuhan yang pesat dimana 10 individu dapat berkembang menjadi 600.000 individu dalam 8 bulan. Akibat potensinya […]]]>

Sabtu 16 agustus 2014, seperti yang kita ketahui, eceng gondok merupakan limbah perairan dimana pertumbuhan yang pesat dimana 10 individu dapat berkembang menjadi 600.000 individu dalam 8 bulan. Akibat potensinya yang sangat besar ini maka keberadaannya diperairan umum seringkali menjadi gulma pengganggu dalam jangka panjang dapat merusak fungsi dan keberadaan perairan umum. Pengembangan usaha ternak ruminansia (sapi potong/perah, kambing maupun domba) terus dipacu, utamanya guna menuju swasembada daging pada tahun 2014 dan swasembada susu pada tahun 2020. Kendala utama yang dihadapi peternak ruminansia adalah sulitnya penyediaan pakan yang berkualitas dan berkesinambungan.

Upaya penggunaan eceng gondok sebagai pakan dapat mempunyai 2 manfaat sekaligus yaitu mencukupi kebutuhan pakan ternak ruminansia dan menyelamatkan perairan umum. Oleh Ibu Dr. Ir. Anis Muktiani, M.Si. salah satu dosen di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas diponegoro, enceng gondok yang semula hanya menjadi gulma diolah menjadi pakan ternak dengan cara dibuat menjadi silase complete feed. Caranya yaitu dengan mencampur eceng gondok yang telah dicacah menjadi potongan kecil-kecil, dicampur dengan konsentrat agar dapat menurunkan kadar air dari eceng gondok tersebut. Kemudian mengawetkan dengan bantuan bakteri asam laktat yang bias menurunkan pH dan membuat pakan menjadi awet.

]]>
https://www.greeners.co/berita/eceng-gondok-sebagai-pakan-ternak/feed/ 1