Pengendalian Eceng Gondok di Danau Batur Libatkan Siswa SMK

Reading time: 2 menit
Beberapa siswa SMK 2 Kintamani sedang mengambil eceng gondok di pinggir Danau Batur. Eceng gondok ini akan dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Bali (Greeners) – Danau Gunung Batur yang terletak tepat di lereng Gunung Batur, Bali tengah mengalami ancaman serius, mulai dari aktivitas penambangan golongan C (kelompok bahan galian industri) hingga serbuan eceng gondok yang tumbuh subur di Danau Batur.

Menurut pemerhati lingkungan dari Universitas Udaya, Dr. Niluh Kartini, serbuan eceng gondok tersebut terjadi karena tingginya kandungan fosfat pada air danau. Eceng gondok dalam jumlah yang banyak menyebabkan penguapan yang tinggi melalui daun tanaman. Selain itu, terjadi pula penurunan jumlah cahaya yang masuk ke dalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air. Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Bali dan Nusa Tenggara terus berupaya menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapi oleh danau yang mendapat status sebagai kawasan geopark oleh UNESCO tersebut.

“Salah satunya itu kita mengajak siswa SMKN 2 Kintamani untuk mengambil dan mengolah enceng gondok di Danau Batur menjadi pupuk organik,” tegas Niluh saat disambangi oleh Greeners di Danau Batur, Bali, Rabu (11/11) lalu.

Dr. Niluh Kartini, pemerhati lingkungan dari Universitas Udayana, Bali. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Dr. Niluh Kartini, pemerhati lingkungan dari Universitas Udayana, Bali. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Senada dengan Niluh, Kepala P3E Bali dan Nusa Tenggara KLHK, Rijaluzzaman mengakui bahwa berbagai persoalan yang mendera Danau Batur harus segera diatasi. Untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, katanya, diperlukan peran serta dari segala pihak termasuk masyarakat dan pemerintah.

“Permasalahan di Danau Batur ini cukup kompleks. Jika tidak segera ditangani maka dikhawatirkan akan terjadi persoalan yang lebih besar lagi,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Danau Batur termasuk jenis danau kaldera aktif yang berada pada ketinggian 1.050 meter diatas permukaan laut (dpl). Daerah sekitar Danau Batur, dipengaruhi oleh iklim tropis dengan dua musim, yaitu musim penghujan yang ditandai dengan berhembusnya angin Muson Barat dan musim kemarau yang dipengaruhi oleh angin Muson Timur dengan rata-rata kecepatan angin harian tiap tahunnya adalah 0,62 meter/detik.

Sebagian besar lahan di sekitar danau dimanfaatkan sebagai tegalan yang mencapai 49,35 persen. Lahan ini digunakan untuk budidaya tanaman sayur-sayuran dan hortikultura, terutama di bagian barat dan selatan danau.

Di sekitar danau terdapat sebaran hutan berupa hutan rakyat dan hutan negara. Sebaran hutan negara di sekitar danau meliputi areal seluas 3.281,7 ha (27,84%), meliputi hutan lindung di bagian utara dan selatan danau dan hutan taman wisata alam di bagian barat. Lahan yang dimanfaatkan untuk kebun sebesar 4,59%, lahan untuk pekarangan hanya sebesar 2,22% dan selebihnya berupa lahan lain-lain yaitu lahan kritis bekas lahan Gunung Batur.

Danau Batur memiliki fungsi sebagai sumber keanekaragaman hayati berbagai biota air dan darat, habitat berbagai jenis fauna endemik, serta fungsi sosial ekonomi budaya di kawasan tersebut. Berbagai jenis tumbuhan air yang terdapat di Danau Batur menurut laporan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali (2005) antara lain eceng gondok (Eichornia crasipess), ganggang (Hydrilla verticillata), dan rumput jarum (Najas indica). Sedangkan jenis-jenis plankton yang ada tergolong kedalam tiga kelas, yaitu ganggang hijau-biru (Cyanophyta), ganggang hijau (Clorophyta) dan Diatomae.

Penulis: Danny Kosasih

Top