habitat gajah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/habitat-gajah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 25 Aug 2023 08:24:33 +0000 id hourly 1 Habitat Gajah Makin Berkurang Akibat Alih Fungsi Lahan https://www.greeners.co/berita/habitat-gajah-makin-berkurang-akibat-alih-fungsi-lahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=habitat-gajah-makin-berkurang-akibat-alih-fungsi-lahan https://www.greeners.co/berita/habitat-gajah-makin-berkurang-akibat-alih-fungsi-lahan/#respond Fri, 25 Aug 2023 08:24:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=41304 Jakarta (Greeners) – Habitat alami gajah kini terus berkurang akibat alih fungsi hutan. Sebagian besar areal telah berubah menjadi perkebunan, permukiman, jalan, dan areal tambang. Gajah merupakan satwa yang perlu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Habitat alami gajah kini terus berkurang akibat alih fungsi hutan. Sebagian besar areal telah berubah menjadi perkebunan, permukiman, jalan, dan areal tambang.

Gajah merupakan satwa yang perlu dilindungi kelestariannya. Hewan ini merupakan penjaga keseimbangan ekosistem di hutan kawasan. Gajah juga berperan sebagai penyebar benih tumbuh tanaman atau pepohonan di dalam hutan.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), kini estimasi jumlah gajah sumatra tercatat 928 dan gajah kalimantan 1.379 individu. Sayangnya, selama tahun 2023 terdapat 13 ekor gajah sumatera telah mati, baik liar maupun jinak.

Ketua FKGI, Donny Gunaryadi mengatakan ada hal yang kini mengancam gajah di Indonesia. Di antaranya alih fungsi habitat, perburuan dengan motif perdagangan gading, konflik manusia, penyakit, dan fragmentasi habitat.

“Ada dua subspesies gajah asia yang hidup di Indonesia, yakni gajah sumatera dan gajah kalimantan. Keduanya dalam status kritis, terancam punah dan dinyatakan sebagai satwa dilindungi oleh negara,” kata Donny kepada Greeners baru-baru ini.

BACA JUGA: Cyanobacteria Sebabkan Kematian Ratusan Gajah di Botswana

Sementara itu, beberapa wilayah dilewati gajah yang akan terkena skema pembangunan juga perlu dicek kembali untuk risiko potensi konflik gajah dan manusia. Pendekatan Smart Green Infrastructure bisa menjadi pedoman.

Di sisi lain, pemerintah juga sudah memiliki pedoman untuk pembangunan jalan dan infrastruktur di wilayah kawasan konservasi. Oleh karena itu, perlu kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah (NGO) untuk melestarikan populasi gajah dan lingkungan mereka.

Dalam analisis Sistem Informasi Geografi, 85% populasi gajah berada di luar areal konservasi juga rentan dialihfungsikan menjadi areal produksi untuk kepentingan ekonomi.

“Perencanaan tata ruang yang memperhatikan keberadaan dan kebutuhan dasar gajah seperti akses untuk ke sumber pakan, air, garam, serta menjelajah untuk bertemu kelompok lain menjadi hal terpenting,” lanjut Donny.

Perlu Upaya untuk Jaga Habitat Gajah

Menurut Donny, perlu kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan NGO untuk menjaga habitat gajah. Pertama, terkait perlindungan habitat. Pemerintah harus mengidentifikasi, mendefinisikan, melindungi habitat gajah melalui pembuatan, dan penegakan hukum lingkungan yang kuat.

Kemudian, lanjutnya, masyarakat dan NGO dapat berperan dalam memantau dan melaporkan aktivitas ilegal seperti pembalakan liar, perambahan hutan, dan pembangunan infrastruktur yang merusak habitat gajah.

Habitat alami gajah terus berkurang akibat alih fungsi hutan. Foto:  Forum Konservasi Gajah Indonesia

Habitat alami gajah terus berkurang akibat alih fungsi hutan. Foto: Forum Konservasi Gajah Indonesia

“Pemerintah bersama dengan NGO juga dapat mengembangkan strategi untuk mengurangi konflik antara manusia dan gajah. Terutama di daerah habitat gajah berbatasan dengan pemukiman manusia,” ujar Donny.

Donny mengatakan, upaya pelestarian harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat lokal yang tinggal di sekitar habitat gajah. Sebab, pendekatan berkelanjutan yang mengintegrasikan kesejahteraan masyarakat dengan pelestarian lingkungan perlu diutamakan.

BACA JUGA: Dongeng Rajut Keharmonisan Hidup Manusia dan Gajah

Perhatikan Kesejahteraan Gajah dalam Aktivitas Wisata

Donny mengatakan, manusia kerap memanfaatkan aktivitas gajah sebagai objek wisata. Oleh sebab itu, pemenuhan kebutuhan dasar (makan, minum, istirahat, waktu sosialisasi dengan gajah lain) juga perlu mendapatkan perhatian.

Donny juga menyoroti kegiatan menunggang gajah yang berpotensi menimbulkan penangkapan gajah liar baru. Apalagi kalau proses penjinakannya tidak berperikebinatangan. Oleh sebab itu, tidak perlu kegiatan wisata menunggangi gajah apabila hanya menimbulkan dampak negatif.

“Saat ini cukup banyak gajah captive kita. Dari sekitar 500-an ekor gajah captive, sekitar 100 ekor ada di beberapa tempat wisata,” lanjut Donny.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/habitat-gajah-makin-berkurang-akibat-alih-fungsi-lahan/feed/ 0
Perlindungan Gajah Lewat Film “Asa Gajah Sumatra di Air Sugihan” https://www.greeners.co/aksi/perlindungan-gajah-lewat-film-asa-gajah-sumatra-di-air-sugihan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perlindungan-gajah-lewat-film-asa-gajah-sumatra-di-air-sugihan https://www.greeners.co/aksi/perlindungan-gajah-lewat-film-asa-gajah-sumatra-di-air-sugihan/#respond Wed, 28 Sep 2022 05:09:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=37470 Jakarta (Greeners) – Guna memberikan perlindungan dan masa depan gajah Sumatra di Sugihan- Simpang Heran, Belantara Foundation berkolaborasi dengan Forest Wildlife Society dan Rumah Sriksetra menggelar pelatihan mitigasi konflik. Selain […]]]>

Jakarta (Greeners) – Guna memberikan perlindungan dan masa depan gajah Sumatra di Sugihan- Simpang Heran, Belantara Foundation berkolaborasi dengan Forest Wildlife Society dan Rumah Sriksetra menggelar pelatihan mitigasi konflik. Selain itu mereka juga mengedukasi anak muda melalui nonton dan diskusi film dokumenter “Asa Gajah Sumatra di Air Sugihan”.

Kegiatan ini berlangsung di Gedung Fisip UIN Raden Fatah Palembang, Minggu (25/9). Acara ini juga mendapat dukungan dari Keidanren Nature Conservation Fund (KNCF) dan APP Sinar Mas, melibatkan puluhan dosen dan mahasiswa di UIN Raden Fatah Palembang.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation Dolly Priatna menyatakan, sejumlah tokoh masyarakat, guru, dan anak-anak dari sejumlah desa di Air Sugihan, yang berbatasan langsung dengan kantong Sugihan-Simpang Heran ternyata memahami gajah sumatra.

“Mereka sadar bahwa gajah sumatra harus dilindungi. Mereka rela berbagi ruang hidup dengan gajah sumatra,” kata Dolly.

Harapan tersebut merupakan kabar baik. Penting untuk kita jaga, sehingga gajah sumatra di Sugihan-Simpang Heran terus hidup harmonis dengan manusia yang berada di sekitarnya.

“Maka upaya selanjutnya adalah memperluas kesadaran tersebut pada masyarakat di Air Sugihan. Serta melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi di Sumatra Selatan, sebagai laboratorium ilmu pengetahuan dan edukasi,” kata Dosen Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan ini.

Perlindungan Gajah dari Berbagai Ancaman

Wakil Dekan I Fisip UIN Raden Fatah Palembang Yenrizal, mendukung upaya perlindungan gajah sumatera yang terancam.

“Kami sangat mendukung berbagai kegiatan terkait persoalan lingkungan hidup, termasuk gajah sumatra yang saat ini hidupnya terus terancam. Selain minat saya pada komunikasi lingkungan, juga Fisip UIN Raden Fatah Palembang berkomitmen terhadap berbagai upaya atau tindakan menyelamatkan lingkungan. Menyelamatkan bumi,” paparnya.

Perwakilan dari Forest Wildlife Society Syamsuardi menyatakan, perguruan tinggi memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya menyelamatkan gajah sumatra.

“Kami percaya para peneliti, dosen, mahasiswa dari Fisip UIN Raden Fatah Palembang dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan. Kemudian juga tenaga dan waktunya dalam upaya menyelamatkan gajah sumatra yang terus terdesak hidupnya,” tuturnya.

Sejumlah mahasiswa menyimak diskusi film tentang gajah. Foto: Belantara Foundation

Gajah sumatra di Sugihan-Simpang Heran

Selama ratusan tahun masyarakat hidup berdampingan harmonis dengan gajah. Hingga salah satu yang masih bertahan saat ini adalah gajah sumatra (Elephas maximus sumatrensis) di Pulau Sumatra.

Namun dalam 25 tahun terakhir, muncul konflik antara manusia dengan gajah sumatra. Korbannya bukan hanya gajah tapi juga manusia.

Salah satu wilayah konflik tersebut di kantong gajah Sugihan-Simpang Heran, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan. Hingga saat ini jumlah gajah di Sugihan-Simpang Heran berjumlah sekitar 48 ekor.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/perlindungan-gajah-lewat-film-asa-gajah-sumatra-di-air-sugihan/feed/ 0
Kerusakan Hutan Meningkat, Populasi Gajah Menyusut https://www.greeners.co/berita/kerusakan-hutan-meningkat-populasi-gajah-menyusut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kerusakan-hutan-meningkat-populasi-gajah-menyusut https://www.greeners.co/berita/kerusakan-hutan-meningkat-populasi-gajah-menyusut/#respond Sun, 21 Jun 2015 08:00:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9881 Jakarta (Greeners) – Dalam kurun 25 tahun, sebanyak 70 persen dari hutan dataran rendah yang menjadi habitat gajah telah musnah. Bahkan, diperkirakan jumlah gajah liar Sumatera telah berkurang populasinya menjadi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam kurun 25 tahun, sebanyak 70 persen dari hutan dataran rendah yang menjadi habitat gajah telah musnah. Bahkan, diperkirakan jumlah gajah liar Sumatera telah berkurang populasinya menjadi 2.500 ekor akibat meningkatnya konflik antara satwa dan komunitas pertanian. Kini, gajah Sumatra yang merupakan subspesies gajah Asia masuk dalam daftar spesies yang terancam punah.

Franck Viault, Kepala Bagian Kerjasama dari Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dalam keterangan resminya menyatakan, dengan adanya masalah perubahan iklim yang semakin memprihatinkan, upaya menjaga keutuhan Kawasan Ekosistem Leuser menjadi semakin penting dan menjadi tanggung jawab mendesak bagi siapapun demi kelestarian alam.

“Uni Eropa yakin bahwa kerusakan hutan akibat tindakan yang tidak bertanggung jawab hanya akan mendatangkan keuntungan sementara. Pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam Indonesia secara berkelanjutan adalah sebuah investasi sosial ekonomi jangka panjang untuk generasi mendatang,” jelasnya, Jakarta, Kamis (18/06) lalu.

Kawasan Ekosistem Leuser mencakup areal seluas 2,6 juta hektar hutan hujan tropis yang wilayahnya berada diantara provinsi Aceh dan Sumatra Utara. Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang teramat penting dan merupakan salah satu diantara 25 ekosistem dunia yang kian kritis. Kawasan Ekosistem Leuser juga merupakan satu-satunya tempat di bumi dengan areal yang cukup luas untuk menjamin kelangsungan hidup jangka panjang populasi spesies-spesies langka, termasuk orangutan, harimau, gajah dan badak.

“Kawasan Ekosistem Leuser juga menyerap karbondioksida dalam jumlah besar sehingga membuatnya menjadi modulator yang kuat terkait iklim kawasan dan sebuah tempat penyerapan karbon yang penting dengan peranan mitigasi yang unik untuk menangani perubahan iklim global,” tambahnya.

Salah satu dari upaya Uni Eropa untuk menyelamatkan kawasan ini, lanjut Viault, adalah Program Pembangunan Leuser (LDP) yang berlangsung pada tahun 1997-2004 untuk mendukung pelestarian jangka panjang ekosistem ini dan pembangunan berkelanjutan dari kawasan sekitarnya. Sebagai bagian dari strategi keberlanjutan LDP dan untuk melanjutkan kegiatan pelestarian setelah dukungan Uni Eropa dan lembaga donor lainnya berakhir, didirikanlah Yayasan Leuser Internasional (YLI).

“Oleh karena itu, dalam rangka Climate Diplomacy Day 2015 (Hari Diplomasi Iklim), kami ingin mengumumkan pengadopsian Aras kecil (anak gajah) yang diambil dari Unit Patroli Gajah (UPG) Aras Napal sebagai utusan khusus permanen Uni Eropa di Kawasan Ekosistem Leuser dan maskot resmi dari Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia. Selain itu, adopsi ini juga untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan dan bagaimana hal tersebut berkontribusi terhadap penanganan perubahan iklim,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kerusakan-hutan-meningkat-populasi-gajah-menyusut/feed/ 0