HUT ke-170, Konservasi Kebun Raya Cibodas Berawal dari Kina

Reading time: 2 menit
Kebun Raya Cibodas kini berusia 170 tahun. Perjalanan panjang melakukan konservasi untuk Indonesia. Foto: kebunraya.id

Jakarta (Greeners) – Langkah inovasi dalam pemanfaatan, pengembangan dan pengenalan tanaman baru, keanekaragaman hayati lokal melalui domestikasi tumbuhan tak sekadar mengembangkan tumbuhan yang bernilai penting terhadap kehidupan. Akan tetapi, domestikasi mengiringi sejarah berdirinya Kebun Raya Cibodas.

Kebun Raya Cibodas sangat berkaitan erat dengan kurator Kebun Raya Bogor, Johannes Elias Teijsmann. Tahun 1852, ia awalnya menjadikan Kebun Raya Cibodas sebagai tempat aklimatisasi jenis-jenis tumbuhan asal luar negeri yang mempunyai nilai penting dan ekonomi tinggi. Salah satunya yaitu pohon kina, tumbuhan obat asal Bolivia.

Saat ini Kebun Raya Cibodas telah berusia 170 tahun. Kebun raya yang berdiri pada 11 April 1852 ini memiliki peran penting sebagai lembaga konservasi tumbuhan ex-situ. Perannya penting dalam konservasi dan penyelamatan biodiversitas tumbuhan Indonesia.

Berbagai macam kegiatan riset di kebun raya ini, di antaranya pengembangan riset terkait biomassa hutan dan peranannya terhadap regulasi iklim. Selain itu juga konservasi dan domestikasi tanaman.

Peneliti Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Imam Surya menyatakan, kegiatan domestikasi merupakan proses dari tumbuhan liar berevolusi menjadi tanaman yang dibudidayakan melalui proses seleksi buatan manusia.

“Perjalanan Johannes Elias tersebut merupakan salah satu kegiatan awal domestikasi Kebun Raya di Cibodas. Ia mencoba memanfaatkan tumbuhan menjadi bahan baku obat yang kemudian kita kenal sebagai obat malaria,” katanya dalam Webinar Hidup Berdampingan dengan Alam, Kontribusi Riset Multidisiplin Kebun Raya Cibodas BRIN baru-baru ini.

Kebun Raya Cibodas Konservasi Bernilai Tinggi

Lebih jauh ia menyebut masih sangat banyak tumbuh-tumbuhan liar yang memiliki potensi nilai yang tinggi. Misalnya Rubus spp. atau wild raspberry. Setidaknya terdapat 13 dari 25 jenis wild raspberry yang ada di Indonesia telah kebun raya ini konservasi.

Selain itu, terdapat domestikasi tanaman berpotensi hias, Rhododendron spp. Sebanyak 193 jenis Rhododendron spp di Indonesia, sebagian besar yaitu Vireya Rhododendron. Kebun Raya Cibodas, sambung dia cukup banyak melakukan perakitan varietas Rhododendron (hybrid).

Setidaknya, sampai saat ini terdapat 8 varietas Rhododendron (hybrid) baru yang telah kebun raya ini daftarkan. Khusus tahun 2022 ini, terdapat empat jenis yang didaftarkan, yaitu Rhododendron. x cibodas, Rhododendron. x cibodaslite, Rhododendron. x naura dan Rhododendron. x aini.

Kegiatan domestikasi diawali dengan proses eksplorasi tumbuhan yang berpotensi (pangan, hias, obat, industri). Selanjutnya, yaitu kegiatan karakterisasi dan studi pertumbuhan dan perkembangan tanaman (budi daya, fenologi, biologi reproduksi, nutrisi tanaman). Lalu perbanyakan dengan berbagai tanaman terpilih, pemuliaan tanaman (seleksi, hibrida, mutasi, induksi ploidi, sitogenetika, rekayasa genetik, transfer gen).

Selanjutnya, pemanfaatan dan pengembangan produk turunan dari tumbuhan asli Indonesia yang telah didomestikasi dapat sebagai tanaman hias, bahan baku makanan serta obat. “Kita prioritas menunjang kegiatan domestikasi tumbuhan asli indonesia,” ujar dia.

Tingkatkan Populasi Spesies Terancam Punah

Kepala Organisasi Riset Ilmu Hayati dan Lingkungan BRIN Iman Hidayat menyebut, dengan pengalamannya yang panjang, ia berharap Kebun Raya Cibodas mampu berperan aktif di tingkat nasional dan global dalam bidang konservasi tumbuhan ex-situ dan in-situ.

“Salah satunya dengan meningkatkan jumlah populasi spesies tumbuhan yang terancam punah,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kebun Raya Cibodas BRIN Fitri Kurniawati mengatakan BRIN telah menyiapkan berbagai skema untuk memfasilitasi aktivitas riset dan inovasi, kerja sama serta pengembangan dan pembangunan kapasitas.

Skema tersebut antara lain open platform fasilitas riset untuk semua pihak, skema pendanaan riset, dan skema pusat kolaborasi riset. Dengan begitu harapannya jumlah kolaborasi riset di kebun raya ini semakin meningkat.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page