Dongeng Rajut Keharmonisan Hidup Manusia dan Gajah

Reading time: 3 menit
Anak-anak mendengar Inug Dongeng mendongeng tentang gajah. Foto: Belantara Foundation

Jakarta (Greeners) – Ratusan siswa dan guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Desa Jadimulya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatra Selatan, sedih dan tertawa, ketika Inug Dongeng mendongeng tentang gajah.

Inug mengisahkan, seorang anak melarang warga dan keluarga di dusunnya yang mengusir gajah masuk kebunnya dengan cara kasar.

“Siapa yang lebih dulu hidup di sini (Air Sugihan), gajah atau manusia?” tanya Inug, seusai pertunjukan, baru-baru ini.

“Gajah!” jawab puluhan siswa dengan suara lantang.

“Nah, maka kita harus hormat dan sayang dengan gajah. Kita harus berbagi tempat hidup dan juga makanan. Kita tidak boleh berkata dan bertindak kasar dengan gajah, sebab kalau gajah marah kita akan rugi,” jelas Inug.

“Kalau kita baik dan hormat dengan gajah, dia juga akan baik dengan kita. Tapi, jangan sesekali mendekati gajah liar, sebab dia adalah satwa. Satwa yang besar dan kuat, kalau dia bercanda pasti cideralah kita. Kucing yang bercanda saja sering melukai kita,” kata Inug.

Inug Dongeng merupakan seniman dongeng dan pendidik yang menetap di Palembang. Pria kelahiran Yogyakarta ini sering tampil sebagai pendongeng di televisi dan sekolah. Di rumahnya, Inug dan istrinya mengajar sastra, teater dan berdongeng, kepada sejumlah anak-anak kampung.

Kepala SDN 1 Jadi Mulya, Gomfrid Tambunan, dalam sambutannya mengajak para siswa di sekolahnya untuk bersama-sama menjaga dan menyayangi gajah. “Gajah kan hidup lebih dulu dari manusia di bumi, maka manusia wajib melindungi gajah,” kata Gomfrid.

Selain siswa SDN 1 Desa Jadimulya, hadir pula ratusan siswa lainnya dari sejumlah sekolah di sekitar Jadimulya. Pertunjukan dongeng ini merupakan bagian dari kegiatan “Gajah dan Manusia Hidup Harmonis” yang merupakan edukasi tentang gajah bagi para siswa sekolah dasar di Kecamatan Air Sugihan, yang berlangsung Juli-September 2022.

Seusai pertunjukan para siswa menuliskan pesan dan kesan. Selain itu, mereka mendapatkan buku saku tentang gajah Sumatra.

Hidup Berdampingan dengan Gajah

Selain dongeng, ada pula pemutaran film dokumenter cuplikan pertunjukan dongeng, pandangan pakar gajah, pemerintah desa, tokoh masyarakat, para guru, serta para siswa.

Perwakilan dari Rumah Sriksetra, Taufik Wijaya berharap dari kegiatan ini akan menambah pengetahuan generasi muda di Air Sugihan. “Sehingga saat ini dan mendatang mereka dapat hidup berdampingan, berbagi dan harmonis dengan gajah,” katanya.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Belantara Foundation, Forest Wildlife Society dan Rumah Sriksetra, yang juga dapat dukungan dari Keidanren Nature Conservation Fund yang berbasis di Jepang.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation Dolly Priatna, menyatakan Lanskap Padang Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan merupakan salah satu dari sedikit kantong populasi gajah yang memiliki peluang hidup jangka panjang.

Melalui program konservasi gajah Sumatra di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, ia berharap akan menguatkan program konservasi gajah. Hal ini akan mendorong terwujudnya harmonisasi dan koeksistensi kehidupan gajah dan manusia di wilayah tersebut.

Inug Dongeng membawa pesan untuk membangun keharmonisan hidup dengan gajah. Foto: Belantara Foundation

Memiliki Hubungan Istimewa dengan Pulau Sumatra

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis), salah satu spesies atau sub spesies gajah yang masih bertahan di Pulau Sumatra. Dari masa purba (megalitikum) hingga hari ini, gajah memiliki hubungan istimewa dengan manusia di Pulau Sumatra.

Ancaman populasi gajah Sumatra berasal dari perburuan (gading), dibunuh karena ada anggapan sebagai hama perkebunan dan pertanian, hingga hilangnya habitat dan koridornya.

Saat ini populasi gajah Sumatra tidak mencapai 2.000 individu. Mereka hidup dalam sejumlah kantong pada wilayah dataran tinggi hingga dataran rendah (pesisir), mulai dari Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung dan Bengkulu.

Salah satu kantong gajah di Sumatra Selatan berada di Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yakni kantong Sugihan-Simpang Heran. Tercatat sedikitnya 48 individu gajah liar hidup di kantong Sugihan-Simpang Heran, yang terbagi dalam empat kelompok (keluarga).

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page