hewan terancam punah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hewan-terancam-punah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 11 Apr 2023 06:37:51 +0000 id hourly 1 Pari Sungai Raksasa, Ikan Sungai yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/pari-sungai-raksasa-ikan-sungai-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pari-sungai-raksasa-ikan-sungai-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/pari-sungai-raksasa-ikan-sungai-yang-terancam-punah/#respond Sat, 08 Apr 2023 03:37:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39622 Pari sungai raksasa atau Giant freshwater stingray bernama ilmiah Urogymnus polylepis memiliki sinonim Himantura polylepis. Berasal dari famili Dasyatidae dan berkerabat dengan pari sengat (Dasyatis brevicaudata), Bluespotted ribbontail ray (Taeniura […]]]>

Pari sungai raksasa atau Giant freshwater stingray bernama ilmiah Urogymnus polylepis memiliki sinonim Himantura polylepis. Berasal dari famili Dasyatidae dan berkerabat dengan pari sengat (Dasyatis brevicaudata), Bluespotted ribbontail ray (Taeniura lymma), dan lainnya.

Deskripsi pertama kali tentang Pari sungai raksasa pada tahun 1990 dari Sungai Chao Phraya di Thailand bernama Himantura chaophraya. Kemudian ada penelitian lebih lanjut untuk membandingkannya dengan ikan pari sungai dari Jawa, Thailand, Sabah dan India. Hingga akhirnya valid dengan nama ilmiah H. polylepis yang kini lebih umum kita kenal U. polylepis.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Tubuhnya berbentuk lempengan yang membulat dan berujung lancip pada bagian moncong. Punggungnya berwarna cokelat atau keabuan dengan deretan dentikel kecil di bagian tengahnya. Selain itu, bagian tubuh bawah atau perutnya berwarna putih dengan tepian berwarna lebih gelap. Lebar cakram tubuhnya dapat mencapai 2,6 meter.

Melansir dari National Geographic, panjang tubuh ikan ini dapat mencapai 50 m (ujung moncong hingga ujung ekor) dengan perkiraan bobot hingga 500 kg.

Ekor ikan pari raksasa terlihat seperti cambuk dan berukuran panjang. Selain itu, terdapat duri tajam di bagian pangkal ekornya. Duri yang dapat menyengat tersebut berukuran panjang hingga 38 cm dan biasanya ikan pari gunakan untuk melindungi dirinya.

Mata ikan ini relatif berukuran kecil dan tidak menonjol keluar. Di samping itu, ikan ini gemar mengubur dirinya di dasar sungai yang berpasir atau berlumpur.

Habitat dan Distribusi

Ikan pari raksasa biasa menempati sungai-sungai besar dengan substrat berpasir ataupun berlumpur. Selain itu, terdapat juga di daerah estuari atau payau. Distribusi ikan ini meliputi Bangladesh, Brunei Darussalam, Kambodia, India, Indonesia (Jawa, Kalimantan, Sumatera), Laos, Malaysia (Sarawak, Sabah, Peninsular Malaysia), Thailand, dan Vietnam.

Ancaman dan Konservasi

Hingga saat ini ancaman yang nyata bagi ikan pari raksasa ialah kerusakan serta perubahan habitat aslinya. Di Indonesia ikan ini terkadang secara tidak sengaja tertangkap oleh nelayan, beberapa kasus di lepas kembali, tapi yang lainnya oknum tangkap mereka konsumsi.

Sedangkan di Thailand, pada tahun 2016 ada 70 ekor ikan pari raksasa mati karena keracunan limbah sianida yang dibuang ke sungai.

Di Indonesia, ikan ini telah berstatus dilindungi penuh berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Jenis Ikan Yang Dilindungi. Sedangkan status konservasinya menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), yakni terancam punah (endangered) berdasarkan asesmen terakhir di tahun 2021.

Taksonomi Pari sungai raksasa

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pari-sungai-raksasa-ikan-sungai-yang-terancam-punah/feed/ 0
Oryx Arab, Hewan Gurun yang Bangkit dari Kepunahan https://www.greeners.co/flora-fauna/oryx-arab-hewan-gurun-yang-bangkit-dari-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=oryx-arab-hewan-gurun-yang-bangkit-dari-kepunahan https://www.greeners.co/flora-fauna/oryx-arab-hewan-gurun-yang-bangkit-dari-kepunahan/#respond Sat, 25 Jun 2022 03:05:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36541 Di alam liar, populasi hewan ini sempat ahli nyatakan punah. Spesiesnya dapat diselamatkan lewat program penangkaran, hingga membuat jumlah mereka makin bertambah. Inilah oryx Arab, salah satu spesies antelop dari […]]]>

Di alam liar, populasi hewan ini sempat ahli nyatakan punah. Spesiesnya dapat diselamatkan lewat program penangkaran, hingga membuat jumlah mereka makin bertambah. Inilah oryx Arab, salah satu spesies antelop dari Jazirah Arab.

Semua spesies antelop disebut sebagai Oryx. Ini sebenarnya adalah nama dari suatu genera, yang membawahi empat spesies hewan dari keluarga Bovidae dan upafamili Hippotraginae.

Oryx Arab sendiri memiliki nama latin Oryx leucoryx. Spesiesnya berkerabat dengan O. beisa, O. dammah dan O. gazella; tiga kelompok antelop yang ahli temukan di bagian kering Afrika.

Spesies O. leucoryx merupakan satu-satunya kelompok yang berasal dari Semenanjung Arab. Hewan ini dijuluki juga sebagai kijang putih, kendati penampilannya lebih mirip seperti rusa.

Morfologi dan Ciri-Ciri Oryx Arab

Jika diukur dari kaki ke bahu, tinggi tubuh oryx Arab bisa mencapai 1 meter dengan berat 70 kg. Bagian tubuh atas berwarna putih, sedangkan bagian bawahnya berwarna cokelat pekat.

Kaki dan wajahnya mempunyai corak garis yang khas berwarna hitam. Di bagian muka, garis ini melintas dari leher, dahi, hidung, lalu turun melalui tanduk sampai ke mata hingga mulut.

Panjang tubuh hewan ini rata-rata berkisar 60–150 cm. Tanduknya panjang, tajam, bercincin dan nyaris lurus, namun ukuran tanduk betina umumnya lebih panjang dibandingkan jantan.

Berbeda dengan rusa, tanduk spesies antelop dapat terus tumbuh sepanjang waktu. Mereka umumnya mempunyai jumlah kuku kaki genap, serta ekor atau buntut sepanjang 45–90 cm.

Selain itu, para pejantan bisa kita tandai dari seberkas ramput di bagian tenggorokan. Anak-anak tidak memiliki tanda khusus di kaki dan wajah, melainkan pada bagian ekor serta lutut.

Habitat dan Populasi Oryx Arab

Secara garis besar oryx Arab tinggal di dataran yang kering pada daerah gurun. Meski begitu, ada pula individu yang menetap di lereng bukit berbatu dan area semak-belukar yang lebat.

Suriah, Irak, Israel, Yordania dan Sinai adalah wilayah persebaran hewan ini. Mereka sempat dinyatakan punah pada 1970-an, tapi statusnya berubah menjadi “rentan” pada tahun 2011.

Populasinya saat itu mencapai 1.000 ekor di alam liar dan 6.000–7.000 ekor di penangkaran. Menurut IUCN Red List, tren populasinya cenderung stabil serta berpotensi terus meningkat.

Faktor terbesar pemicu kepunahan kijang putih, ialah perburuan liar. Satwa ini diburu untuk diambil daging dan juga kulitnya, serta bagian tanduk yang berguna untuk membuat senjata.

Padahal, harapan hidup spesies O. leucoryx terbilang cukup tinggi. Mereka mampu bertahan hidup dalam lingkungan ekstrem selama 10–15 tahun, serta sekitar 20 tahun di penangkaran.

Pola Hidup dan Kebiasaan Oryx Arab

Oryx Arab hidup di habitat yang suhunya dapat mencapai 50 derajat Celsius. Mereka adalah spesies yang berkoloni, sehingga satu kelompoknya dapat diisi oleh sebanyak 5–30 anggota.

Akan tetapi, perkelahian kerap kali membuat kelompok ini bercerai menjadi grup yang lebih kecil. Anggota grup tersebut biasanya tak lebih dari 3–5 individu atau anggota keluarga saja.

Spesies O. leucoryx juga tergolong sebagai hewan nomaden. Mereka berkelana ke berbagai tempat untuk mencari rumput dan tumbuh-tumbuhan dengan mengikuti pergerakan hujan.

Kemampuan mendeteksi curah hujan ini memang sangat membantu. Bukan hanya mencari makanan, tetapi juga menemukan semak untuk bernaungan serta pohon untuk beristirahat.

Selain iklim dan perburuan, tantangan utama pelestarian kijang putih ialah pola reproduksi. Masa kehamilan betina terbilang sangat lama, yaitu mencapai 240 hari untuk satu ekor bayi.

Taksonomi Spesies Oryx Leucoryx

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/oryx-arab-hewan-gurun-yang-bangkit-dari-kepunahan/feed/ 0
Keledai Liar Afrika, Spesies Kuda Gurun yang Makin Langka https://www.greeners.co/flora-fauna/keledai-liar-afrika-spesies-kuda-gurun-yang-makin-langka/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keledai-liar-afrika-spesies-kuda-gurun-yang-makin-langka https://www.greeners.co/flora-fauna/keledai-liar-afrika-spesies-kuda-gurun-yang-makin-langka/#respond Tue, 30 Nov 2021 03:00:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34547 Keledai Liar Afrika (Equus africanus) adalah satu dari sepuluh spesies Equidae yang masih tersisa di dunia. Seperti namanya, keledai ini memang berasal dari benua Afrika. Mereka cukup unik karena dianggap […]]]>

Keledai Liar Afrika (Equus africanus) adalah satu dari sepuluh spesies Equidae yang masih tersisa di dunia. Seperti namanya, keledai ini memang berasal dari benua Afrika. Mereka cukup unik karena dianggap sebagai nenek moyang keledai jinak (E. a. asinus).

Menurut IUCN Red List, status konservasi E. africanus berada pada level terancam kritis atau Critically Endangered. Total populasi hewan ini ahli sinyalir hanya berkisar 570 individu saja.

Selain rusaknya habitat, kepunahan keledai liar ahli duga akibat aktivitas perkawinan silang. Spesiesnya bahkan awam buru dan ambil dagingnya karena mereka anggap berkhasiat sebagai obat.

Spesies E. a. asinus sendiri adalah satu dari tiga subspesies keledai liar Afrika. Ia berkerabat dekat dengan E. a. somaliensis, serta E. a. atlantikus yang kini menyandang status punah.

Morfologi dan Ciri-Ciri Keledai Liar Afrika

Jika kita bandingkan dengan kelompok kuda lain, ukuran tubuh E. africanus terbilang yang paling mini. Mereka hanya berbiak hingga setinggi 1,2 m dengan bobot berkisar 250 kg.

Spesies keledai yang satu ini dapat kita cirikan dari bulu pendek dan halus berwarna abu-abu muda sampai cokelat kekuningan, yang menyebar hampir ke seluruh bagian tubuhnya.

Bagian kaki-kaki keledai liar Afrika umumnya bercorak putih pucat. Terdapat garis punggung ramping dan gelap di semua subspesies, bahkan ada pula yang terletak di bagian bahunya.

Tengkuk mereka dilengkapi dengan surai atau rambut, tampilannya kaku dan tegak. Warna bulu ini biasanya senada dengan warna bulu badan, namun dengan ujung yang kehitaman.

Telinga keledai liar Afrika terlihat cukup besar dengan corak kehitaman. Ekornya memiliki rambut berwarna hitam, dengan kuku-kuku kaki yang ramping dan berdiameter seperti kaki.

Baca juga: Kuda Sumbawa, Kuat Berpacu dan Menghasilkan Susu

Habitat dan Distribusi Keledai Liar Afrika

Walau bertubuh kecil, keledai liar mampu beradaptasi dengan baik di daerah gurun. Mereka memiliki sistem pencernaan yang kuat, serta mampu mengekstrak makanan secara efisien.

Spesies keledai ini bahkan mampu bertahan hidup dengan pasokan air yang minim. Telinga besarnya mempunyai indera pendengaran yang baik sehingga berguna mendeteksi musuh.

Karena populasinya sedikit, jenis keledai liar Afrika biasanya hidup secara terpisah. Mereka memiliki suara yang keras sehingga dapat terdengar oleh kelompoknya sampai sejauh 3 km.

Hewan ini hidup secara liar di area tanduk Afrika, Eritrea, Ethiopia sampai Somalia. Kendati demikian, mereka dulunya menyebar mulai dari utara dan barat Sudan, Mesir, hingga Libya.

Di habitatnya keledai liar Afrika mengonsumsi rumput, kulit kayu, serta dedaunan. Mereka setidaknya minum sekali dalam tiga hari, serta ada laporan keledai ini mampu meminum air asin.

Perilaku dan Kebiasaan Keledai Liar Afrika

Sebagian besar waktu keledai liar Afrika mereka habiskan pada pagi dan sore hari. Sedang pada waktu siang, mereka mencari naungan di antara bukit berbatu untuk beristirahat.

Jantan dewasa menandai serta mempertahankan wilayahnya dengan tumpukan kotoran. Meski begitu, pejantan lain yang masuk ke daerah teritorinya tidak akan diusir atau dilawan.

Sebaliknya, para pejantan penyusup ini ditoleransi serta diperlakukan sebagai “bawahan”. Mereka dijauhkan dari betina, namun tetap diberi ruang untuk hidup dan mencari makan.

Masa kehamilan betina terjadi berkisar 11-12 bulan. Anak-anak keledai ini akan disapih selama 6-8 bulan setelah lahir, lalu mencapai usia kematangan seksualnya pada 2 tahun.

Tak banyak yang tahu bahwa harapan hidup spesies E. africanus terbilang sangat lama. Kelompoknya dapat berbiak hingga 35 tahun di alam liar serta 40 tahun di penangkaran.

Baca juga: Mengenal Jerapah, Mamalia Tertinggi dari Benua Afrika

Taksonomi Spesies Equus Africanus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/keledai-liar-afrika-spesies-kuda-gurun-yang-makin-langka/feed/ 0
Kelelawar Putih Honduras, Si Putih Kecil yang Makin Langka https://www.greeners.co/flora-fauna/kelelawar-putih-honduras-si-putih-kecil-yang-makin-langka/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kelelawar-putih-honduras-si-putih-kecil-yang-makin-langka https://www.greeners.co/flora-fauna/kelelawar-putih-honduras-si-putih-kecil-yang-makin-langka/#respond Fri, 19 Nov 2021 03:00:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34434 Penampilan kelelawar putih Honduras memang sangat unik, jauh dari stereotip kelelawar yang menyeramkan. Dengan warna bulu putih bersih, ukuran kelelawar tersebut justru hanya sebesar telapak tangan. Spesies kelelawar putih dikenal […]]]>

Penampilan kelelawar putih Honduras memang sangat unik, jauh dari stereotip kelelawar yang menyeramkan. Dengan warna bulu putih bersih, ukuran kelelawar tersebut justru hanya sebesar telapak tangan.

Spesies kelelawar putih dikenal juga sebagai kelelawar pembuat tenda. Mereka memiliki kebiasaan membalikan daun Heliconia, lalu menjadikan bagian bawahnya sebagai sarang.

Sebagai famili Phyllostomatidae, kelelawar ini merupakan satu-satunya anggota dari genus Ectophylla. Mereka pertama diperkenalkan pada 1892 dengan nama latin Ectophylla alba.

Sayangnya, status konservasi kelelawar putih Honduras kini mendekati terancam punah. Populasinya makin menurun akibat kehilangan hilangnya habitat serta sumber makanan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kelelawar Putih Honduras

Seperti namanya, warna dasar spesies E. alba cenderung putih cerah. Tiap ujung rambutnya mempunyai corak abu-abu, yang tampak lebih pekat pada area belakang (posterior) badan.

Selain itu, kelelawar ini juga memiliki hidung unik dengan ukuran cukup besar. Warnanya terlihat oranye terang kekuningan, persis seperti warna bibir dan juga daun telinga mereka.

Pigmentasi ini sebagai besar disebabkan oleh konsentrasi karotenoid. Jumlah senyawa itu ilmuwan ketahui sangat besar, bahkan lebih besar dibandingkan spesies mamalia lainnya.

Spesies kelelawar jantan dan betina juga bisa kita identifikasi dari pigmentasi ini. Menurut penelitan, warna kuning pada hidung pejantan biasanya lebih cerah daripada spesies betina.

Beralih ke ukurannya, panjang kepala dan tubuh kelelawar putih Honduras rata-rata 37-47 mm. Panjang lengan bawah mereka 27,8-29,3 mm dengan ukuran telinga antara 10-15 mm.

Bobotnya pun sangat ringan, yakni hanya berkisar 5-6 gram saja. Mereka tidak mempunyai ekor namun memiliki telinga besar dan bulat. Gigi-giginya tampak kecil dengan jumlah 28 buah.

Baca juga: Ular Kawat, Salah Satu Reptil Terkecil yang Mirip Cacing

Habitat dan Distribusi Kelelawar Putih Honduras

Tak banyak yang mengetahui, bahwa kelelawar putih pembuat tenda merupakan satu dari empat spesies kelelawar berhidung daun yang endemik di Amerika Tengah dan Selatan.

Mereka menyebar di kawasan Kosta Rika, Honduras, Nikaragua, sampai Panama. Habitatnya berada di kawasan berketinggian rendah sampai dengan 700 meter di atas permukaan laut (dpl).

Melihat habitatnya, kelelawar putih Honduras lebih menyukai area hutan basah dan hutan sekunder. Mereka tinggal di kawasan hutan terbuka yang banyak disinari cahaya matahari.

Daun Heliconia imbricata, H. latispatha, H. pogonantha, sampai H.  tortuosa adalah tempat bernaung E. alba. Mereka tergolong pemakan buah, terutama yang berasal dari spesies ara.

Sebagai informasi, kisaran teritori kelelawar putih Honduras hanya berkisar 63,2 hektare. Mereka tidak akan membangun rumah baru atau mencari makan di luar wilayah tersebut.

Faktor Kelangkaan Kelelawar Putih Honduras

Tidak bisa dipungkiri, sempitnya distribusi dan habitat spesies E. alba membuat populasinya makin menipis. Mereka sulit beradaptasi di wilayah baru, bahkan cenderung akan mati.

Di sisi lain, jenis makanan yang mereka konsumsi juga sangat terbatas. Mereka menyukai habitat yang terbuka, meskipun membutuhkan kanopi hutan sebagai tempat naungan.

Pepohonan rimbun mampu melindungi sarang kelelawar putih Honduras dari terpaan hujan dan angin. Akan tetapi, dedaunannya yang lebat mempersulit masuknya sinar matahari.

Sinar matahari berperan penting dalam proses perkembangbiakkan spesies kelelawar mini. Tanpa sinar matahari, mereka tidak bisa melakukan kamuflase serta merasa kedinginan.

Sebagai upaya konservasi, beberapa hutan di Kosta Rika pemerintah jadikan sebagai hutan lindung. Ini berguna untuk menjaga flora dan fauna endemik langka di wilayah tersebut.

Baca juga: Kuskus Waigeo, Satwa Langka Bertutul Kebanggaan Papua Barat

Taksonomi Spesies Kelelawar Ectophylla Alba

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kelelawar-putih-honduras-si-putih-kecil-yang-makin-langka/feed/ 0
Teknologi Bio-bank Jaga Badak Sumatera dari Kepunahan https://www.greeners.co/berita/teknologi-bio-bank-jaga-badak-sumatera-dari-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=teknologi-bio-bank-jaga-badak-sumatera-dari-kepunahan https://www.greeners.co/berita/teknologi-bio-bank-jaga-badak-sumatera-dari-kepunahan/#respond Thu, 07 Oct 2021 04:55:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34006 Bogor (Greeners) – Populasi badak Sumatera di alam perlu perhatian serius. Institut Pertanian Bogor (IPB) University menyebut populasi badak Sumatera yang tersebar di Lampung dan Aceh tidak lebih dari 100 […]]]>

Bogor (Greeners) – Populasi badak Sumatera di alam perlu perhatian serius. Institut Pertanian Bogor (IPB) University menyebut populasi badak Sumatera yang tersebar di Lampung dan Aceh tidak lebih dari 100 ekor. IPB University mengaplikasikan Bio-bank, sebuah inovasi teknologi untuk menjaga badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dari kepunahan.

Pakar Teknologi Reproduksi Berbantu IPB University Muhammad Agil mengatakan, konservasi dengan teknologi dan inovasi perlu agar populasi badak sumatera ini tidak punah.

Menurutnya, salah satu langkah konservasi dengan teknologi bio-bank (cryo-preservation) dapat membantu menjaga ketersediaan plasma nutfah. Dengan demikian, ada usaha penyelamatan satwa langka yang hampir punah.

“Sejak 2019, Indonesia mulai menerapkan Bio-bank sebagai pelaksanaan mandat dari rencana aksi darurat (RAD) yang diterbitkan oleh pemerintah,” kata Agil, di Bogor, baru-baru ini.

Agil menambahkan, saat ini ada sejumlah penyebab sulitnya proses konservasi badak Sumatera di alam. Sebabnya populasi badak tersebar dalam kantung-kantung kecil di berbagai wilayah yang terisolasi. Hal ini menyebabkan badak jantan dan betina sulit bertemu.  Kedunya juga sulit melakukan perkawinan karena jumlahnya yang terlalu sedikit, sementara habitatnya terlalu luas.

“Pengembangbiakan di lingkungan ex situ tanpa adanya rekayasa teknologi hanya mampu menghasilkan lima badak dalam tempo 40 tahun di seluruh dunia. Sedangkan masalah kesehatan memperparah kondisi badak di Indonesia,” ungkapnya.

Penyelamatan Badak Terisolasi

Oleh karena itu lanjutnya, perlu program pencarian dan penyelamatan badak pada populasi yang terisolasi dan tidak bisa berpindah ke fasilitas pengembangbiakan.

“Di dalam pusat pengembangbiakan materi genetik dikumpulkan untuk memastikan keragaman genetik dari badak. Langkah tersebut harus dilakukan agar tidak terjadi perkawinan antar kerabat yang dapat menyebabkan kecacatan,” imbuhnya.

Agil menjelaskan, teknologi ini memungkinkan pengumpulan bahan genetik dalam bentuk embrio, semen beku serta induced-pluripotent stem cell. Ketiga bahan tersebut dapat menjadi cadangan untuk menghasilkan individu badak baru.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sudah menyusun prosedur ini dan termuat dalam dokumen Bio-bank Badak Sumatera tahun 2021-2026.

“Meski begitu faktor etika tentu harus tetap diperhatikan. Materi genetik tidak bisa serta merta dikumpulkan, dimanipulasi, lalu dikembangbiakkan hingga menimbulkan ketidakseimbangan di alam. Keanekaragaman genetik harus terjaga agar populasi badak yang sehat dapat terus berlanjut,” tuturnya.

Populasi Badak Sumatera

Berdasarkan data KLHK tahun 2021, populasi badak Sumatera pada awal rencana aksi darurat adalah 80 individu, kemudian sedikit turun populasinya menjadi 74-77 individu. Namun, penurunan angka itu belum bisa memastikan bahwa populasi badak Sumatera benar-benar menurun.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno mengatakan, angka 80 adalah angka estimasi baseline. Sedangkan angka 77 adalah hasil monitoring real time di lapangan.

“Bukan berarti penurunan, tetapi bisa banyak faktor, seperti badak yang sifatnya soliter dan peka terhadap aktivitas manusia. Sehingga ada individu yang belum terdeteksi, bisa terjadi angkanya lebih dari 80 individu,” kata Wiratno kepada Greeners.

Wiratno menyebut, merujuk data tahun 2020, populasi badak di Taman Nasional Way Kambas berjumlah 7 individu. Sekitar 21 individu lainnya berada di alam liar. Sedangkan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, sebanyak 12 individu badak terpantau hingga tahun 2019.

Sementara estimasi jumlah populasi Badak Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser sebanyak 35 individu berdasarkan data tahun 2018, di Aceh Barat 30 individu dan Aceh Timur sebanyak 5 individu. Selain itu, 2 individu badak juga terdata di Kalimantan Timur.

Prioritaskan Bio-Bank

Terkait teknologi reproduksi berbantuan atau Assisted Reproduction Technology (ART), ini bagian dari program Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) yang tercantum di dalam rencana aksi darurat.

ART meliputi program koleksi spermatozoa (semen collection), fibroblast dari kulit, inseminasi buatan, penyimpanan (bio bank) di dalam Nitrogen cair (N2 cair)dan penampung sel telur (oocyte).

“Bio-bank yang sudah ada saat ini berada di SRS Way Kambas dan sebaiknya dapat membangun bio bank di tempat lain, sebagai alternatif atau cadangan penyimpanan,” ungkap Wiratno.

Wiratno berpendapat, bukan hanya lokasi atau perbanyakan Bio-bank, namun konsepnya perlu masif dari badak Sumatera terhindar dari kepunahan.

“Kebutuhan Bio-bank merupakan kegiatan prioritas. Bukan lokasi yang menjadi kebutuhan mendesak tapi kegiatan Bio-bank ini penting untuk penyelamatan satwa dengan bantuan atau intervensi manusia lewat teknologi,” papar Wiratno.

Hanya saja Wiranto melihat masih ada kendala saat menampung sel telur. Jumlah laboratorium penyimpanan terbatas, SDM bidang medis ART terbatas. Selain itu badak sulit berkembangbiak secara alami di habitatnya.

Penulis : Sol

]]>
https://www.greeners.co/berita/teknologi-bio-bank-jaga-badak-sumatera-dari-kepunahan/feed/ 0
Laba-Laba: Walaupun Bikin Merinding tapi Bisa Usir Hama https://www.greeners.co/flora-fauna/laba-laba/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=laba-laba https://www.greeners.co/flora-fauna/laba-laba/#respond Thu, 07 Jan 2021 00:00:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16672 Laba-laba merupakan hewan yang kompleks, bukan karena sifat namun lebih kepada jenisnya yang beragam. Spesies satwa berkaki banyak ini memang sangat besar, peneliti percaya ada 200.000 jenis Arachnida (bangsa laba-laba) di dunia dan sebagian di antaranya belum teridentifikasi.]]>

Laba-laba merupakan hewan yang kompleks, bukan karena sifat namun lebih kepada jenisnya yang beragam. Spesies satwa berkaki banyak ini memang sangat besar, peneliti percaya ada 200.000 jenis Arachnida (bangsa laba-laba) di dunia dan sebagian di antaranya belum teridentifikasi.

Hewan yang satu ini tergolong cukup kuat, ia tergabung ke dalam organisme yang mampu bertahan hidup, mulai dari daerah dingin seperti kutub hingga kawasan padang pasir yang kering.

Secara umum, kita dapat menemukan fauna berfilum Arthropoda ini hampir di seluruh belahan bumi. Namun jenis, klasifikasi dan ciri dari spesies-spesies tersebut tentu berbeda satu dengan lainnya.

Itu sebabnya, karena jumlahnya yang besar penting untuk mengetahui ciri-ciri serta karakteristik dari laba-laba. Agar tidak salah menilai hewan tersebut, simak ulasannya di bawah ini!

Jenis Laba-Laba yang Ada di Dunia

Membahas jenis laba-laba di dunia tentu enggak ada habisnya, terdapat sekitar 40.000 spesies hewan berkaki delapan yang telah pakar temukan, lalu masuk dalam 111 golongan suku yang berbeda.

Seperti yang telah saya sebutkan, populasi hewan ini memang sangat banyak sehingga para peneliti biasanya mengidentifikasi spesies fauna tersebut berdasarkan tiga subordonya, yakni:

1. Mesothelae

Laba-laba yang tergabung dalam subordo Mesothelae adalah jenis arachnida primitif yang tak berbisa.

Ciri dari hewan ini bisa terlihat dari ruas-ruas tubuhnya yang nampak jelas, sehingga memperlihatkan hubungan kekerabatan lebih dekat dengan leluhurnya, yakni arthropoda beruas-ruas.

2. Mygalomorphae atau Orthognatha

Mygalomorphae atau Orthognatha adalah kelompok hewan pembuat lubang persembunyian serta liang jebakan di dalam tanah. Ciri dari subordo ini biasanya bertubuh besar, contohnya Tarantula.

laba-laba syfney funnel

Sydney funnel-web spider dari Australia termasuk dalam subordo Mygalomorphae. Gigitan fauna ini bisa mengancam nyawa manusia. Foto: Shutterstock.

3. Araneomorphae

Araneomorphae adalah golongan arthropoda ‘modern.’ Kelompok yang satu ini memiliki anggota yang paling besar, serta mendominasi 94% populasi hewan berkaki delapan yang ada di dunia.

Subordo araneomorphae sendiri terdiri dari 95 suku, taring dari kelompok ini biasanya mengarah agak miring ke depan dan bisa bergerak berlawanan arah (seperti capit) saat menggigit mangsa.

Tidak cuma subordo, berbagai spesies dan jenis laba-laba juga dapat kita kelompokkan ke dalam dua golongan berbeda yakni kelompok satwa penjaring dan pemburu. 

  • Laba-laba penjaring

Laba-laba penjaring adalah jenis arachnida yang paling sering kita temui berada di sekitar rumah. Hewan ini umumnya menghasilkan benang dari kelenjar (spinneret) yang berada di bagian belakang tubuhnya. Jaring itu sendiri berguna untuk menjerat lawan atau serangga kecil yang kerap menjadi panganan satwa tersebut.

  • Laba-laba pemburu

Jenis ini biasanya lebih aktif. Jenis arachnida ini sering menjelajahi pepohonan, sela-sela rumput atau permukaan dinding berbatu untuk mencari mangsa. Fauna yang satu ini dapat mengejar dan melompat dalam menerkam mangsanya.

Morfologi dan Ciri-Ciri Umum

Spesies hewan berkaki delapan ini memiliki dua segmen tubuh yakni bagian depan (cephalothorax atau prosoma), serta bagian belakang (abdomen atau opisthosoma).

Cephalothorax atau prosoma sendiri merupakan gabungan dari kepala dan dada (toraks). Sedang, bagian atas dan bawahnya terdapat sebuah penghubung tips (pedicle atau pedicellus).

Pada bagian cephalothorax, melekat empat pasang kaki serta satu sampai empat pasang mata. Selain itu, ada pula sepasang rahang bertaring besar (chelicera).

Terdapat sepasang atau beberapa alat bantu mulut serupa tangan (pedipalpus). Saat usia dewasa, bagian ini akan terlihat membesar serta berubah fungsi menjadi alat bantu perkawinan.

Dari segi ukurannya, bobot serta ketinggian laba-laba bergantung pada jenisnya. Namun, para ahli mengklaim bahwa jenis pejantan memiliki ukuran tubuh lebih besar daripada sang betina.

Perlu Anda ketahui, spesies fauna pemalu ini sebenarnya tidak memiliki mulut atau gigi untuk mengunyah. Hewan tersebut justru memiliki alat pengisap untuk menyedot cairan tubuh dari mangsanya.

sutra

Laba-laba membangun sarangnya dengan sutra. Sarang ini juga sekaligus alat untuk menjebak mangsa. Foto: Pixabay.

 

Laba-Laba Rumah dan Manfaatnya

Tak bisa dipungkiri, jika kita melihatnya dengan saksama, bentuk laba-laba memang cukup menyeramkan. Namun, bukan berarti hewan tersebut harus kita berantas dan serta-merta mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Pakar berpendapat, sebagain besar spesies arachnida merupakan hewan yang tertutup. Mayoritas spesies yang awam jumpai bahkan tidak tergolong agresif dan jauh dari kata berbahaya.

Uniknya, hewan-hewan tersebut justru bisa menjadi sahabat manusia karena membantu mengurangi hama dan serangga pengganggu layaknya nyamuk (jenis pakanan laba-laba).

Sebagian besar dari hewan berkaki delapan ini memang dibekali dengan bisa yang beracun. Namun ahli percaya, kadar racun yang terdapat pada laba-laba rumah tidak membahayakan jiwa manusia.

Benang sutra dari sarang arachnida juga sangat bermanfaat. Jenis benang tersebut memiliki ketahanan lima kali lebih kuat ketimbang benang serupa yang terbuat dari baja.

Maka dari itu, jangan langsung parno ketika melihat laba-laba di rumah, ya. Percayalah, manusia pada dasarnya jauh lebih ‘berbahaya’ daripada hewan berbulu dan berkaki banyak tersebut.

Taksonomi Laba-Laba

sutra

Referensi:

Nurlaela, Universitas Islam Negeri Makassar

Khairun Nisa, dkk., dari Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh

Muhammad Gagit Syafriansyah, dkk., Universitas Tanjungpura

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/laba-laba/feed/ 0
Tuntong Laut, Kura-Kura Mangrove yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/tuntong-laut-kura-kura-mangrove-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tuntong-laut-kura-kura-mangrove-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/tuntong-laut-kura-kura-mangrove-yang-terancam-punah/#respond Tue, 12 Jun 2018 08:38:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=20711 Tuntong laut (Batagur borneoensis) adalah salah satu spesies kura-kura air tawar dan darat dari 29 spesies kura-kura yang ada di Indonesia. Hewan akuatik ini termasuk salah satu hewan yang terancam punah di dunia.]]>

Tuntong laut (Batagur borneoensis) adalah salah satu spesies kura-kura air tawar dan darat dari 29 spesies kura-kura yang ada di Indonesia. Keluarga tuntong memiliki dua spesies, tuntong laut dan tuntong sungai. Keduanya mendiami habitat yang sama, yaitu hutan mangrove.

Umumnya tuntong laut mendiami daerah muara hingga 4 km ke arah hulu sungai yang masih dipengaruhi pasang surut air laut. Layaknya penyu, tuntong bertelur di pantai pasir pinggir laut. Saat ini populasinya berada di Aceh, Tamiang.

Tuntong laut termasuk salah satu kura-kura yang paling berwarna (sering dijumpai pada tuntong laut jantan). Karapas tuntong laut berukuran sekitar 60 cm. Mereka memiliki tempurung dan plastron berwarna putih atau abu-abu dan bintik-bintik besar berwarna hitam serta kepala putih dan oranye atau merah.

Kura-kura jantan dewasa akan mengalami dimorpisme seksual (sexual dimorphism) yaitu perubahan warna pada musim kawin. Jantan berubah dari warna coklat muda ke putih atau abu-abu dengan corak merah atau oranye di antara kedua mata.

Berdasarkan handbook Joko Guntoro dari Lembaga SatuCita, kebanyakan kura-kura memiliki lapisan luar tempurung yang dilapisi oleh sisik-sisik keras dikenal dengan nama scute yang merupakan bagian dari kulit luarnya atau epidermis. Scute terbuat dari protein berserat yang disebut keratin yang juga membentuk sisik pada reptil lainnya. Scute ini tumbuh melebihi lapisan-lapisan antara tulang-tulang tempurung dan menambah kekuatan tempurung. Beberapa kura-kura tidak memiliki scute yang keras. Contohnya, penyu berpunggung kulit dan labi-labi yang memiliki tempurung yang dilapisi kulit scute yang halus dan bukan scute yang keras.

tuntong laut

Tuntong laut (Batagur borneoensis). Foto: opencage.info

Bentuk tempurung kura-kura menunjukkan bagaimana kura-kura tersebut hidup. Kebanyakan kura-kura darat memiliki tempurung yang besar dan berbentuk kubah yang menyulitkan pemangsa untuk menghancurkan tempurung diantara taring-taringnya. Sedangkan kebanyakan kura-kura akuatik memiliki tempurung yang datar dan beralur yang membantu dalam berenang dan menyelam.

Tempurung pada umumnya berwarna cokelat, hitam, atau hijau gelap. Pada beberapa spesies, tempurungnya memiliki tanda-tanda berwarna merah, oranye, kuning, atau abu-abu dan tanda-tanda ini bisa berupa totol-totol, garis-garis, atau bintik-bintik acak.

Kura-kura darat yang hidup di dataran memiliki tempurung yang lebih berat. Kebalikannya, kura-kura akuatik dan labi-labi memiliki tempurung yang lebih ringan yang membantunya untuk tidak tenggelam dalam air dan berenang dengan laju yang lebih cepat. Tempurung yang lebih ringan ini memiliki sebuah ruang kosong besar yang disebut fontanelles diantara tulang-tulang tempurung.

Hewan akuatik ini termasuk salah satu hewan yang terancam punah di dunia. Tuntong laut terdaftar dalam 25 spesies kura-kura kritis terancam punah (critically endangered) dalam skala global (IUCN, 2011). Selain penyusutan habitat, pengambilan telur oleh penduduk untuk konsumsi dan perburuan untuk dijadikan hewan peliharaan menyebabkan penurunan populasi mereka secara drastis.

Hewan ini menghasilkan antara 12-22 butir telur dalam satu sarang. Oleh Karena itu, sejak tahun 2008 melalui Permenhut Nomor 8 Tahun 2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018, satwa ini ditetapkan sebagai prioritas untuk dikonservasi dan diteliti lebih jauh (Laporan Yayasan Satucita Lestari Indonesia dan PT Pertamina, 2013).

Mereka juga merupakan hewan herbivora yang gemar makan daun, tunas, buah mangrove dan tumbuhan liar yang tumbuh di sisi sungai. Rumput sungai merupakan salah satu sumber makanan terpenting bagi hewan ini.

Meski demikian, dalam penangkaran tuntong laut dapat memakan berbagai jenis sayuran seperti bayam, kale, bok choy, sawi, selada dan enceng gondok. Terkadang, mereka juga memakan sampah dapur yang dibuang oleh penduduk desa ke sungai. Hal ini yang harus diwaspadai, jangan sampai sampah-sampah buangan tersebut merugikan nyawa tuntong laut karena populasi satwa ini sudah mengalami ancaman serius.

tuntong laut

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tuntong-laut-kura-kura-mangrove-yang-terancam-punah/feed/ 0
Dugong dan Habitatnya Butuh Upaya Konservasi Terpadu https://www.greeners.co/berita/dugong-dan-habitatnya-butuh-upaya-konservasi-terpadu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dugong-dan-habitatnya-butuh-upaya-konservasi-terpadu https://www.greeners.co/berita/dugong-dan-habitatnya-butuh-upaya-konservasi-terpadu/#respond Thu, 21 Apr 2016 08:00:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13507 Gerakan konservasi penyelamatan dugong membutuhkan perhatian mendesak dari banyak pihak agar upaya penyelamatan terpadu antar lembaga bisa mendekatkan model konservasi dugong yang benar-benar sesuai.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan mengakui bahwa saat ini ancaman terhadap populasi dugong terus meningkat. Untuk itu, gerakan konservasi penyelamatan dugong membutuhkan perhatian mendesak dari banyak pihak agar upaya penyelamatan terpadu antar lembaga bisa mendekatkan model konservasi dugong yang benar-benar sesuai.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Brahmantya Setyamurti Poerwadi, S.T, menyatakan, untuk menetapkan arah kebijakan jangka panjang serta merumuskan pengelolaan dugong dan habitatnya di Indonesia, dibutuhkan data dan sejumlah informasi pendukung sebagai bentuk landasan ilmiah yang kuat.

“Maka dari itu, upaya konservasi dugong dan habitatnya di Indonesia tidak hanya bisa dilakukan oleh pemerintah saja tetapi juga didukung oleh sejumlah lembaga internasional, seperti United Nation Environment Programme-Conservation Migratory Species (UNEP-CMS) yang bekerjasama dengan Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund (MbZ) melalui program Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP),” katanya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Kamis (21/04).

Selain konservasi dugong, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mendorong daerah agar menginisiasi ekosistem padang lamun sebagai habitat kunci dugong untuk menjadi Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD). Dirhamsyah, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) mengatakan bahwa kondisi habitat lamun sangat mempengaruhi keberadaan dugong, sehingga penyebaran hewan ini terbatas pada kawasan pantai tempat tumbuhan lamun dapat berkembang.

Laju kerusakan lamun di Indonesia, lanjutnya, khususnya padang lamun, juga berkontribusi terhadap meningkatnya ancaman terhadap kepunahan dugong. Luas padang lamun di Indonesia hingga saat ini diperkirakan mencapai 31.000 km2. Namun data dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) menyatakan, sejauh ini baru 25.752 hektare padang lamun yang tervalidasi dari 29 lokasi di Indonesia.

“Habitat dugong sangat perlu dijaga agar populasi mamalia laut ini tidak terancam. Kelestarian dugong sangat terkait erat dengan keberadaan padang lamun. Oleh karena itu sangat diperlukan pertukaran data dan hasil kajian yang terkait dengan dugong dan habitatnya. Selain itu, pertemuan antara perumus kebijakan, akademisi, peneliti dan praktisi yang memahami dugong dan habitat lamun sangat perlu dilakukan agar dapat menyusun rekomendasi penyelamatan populasi dugong dan habitat lamun,” tutupnya.

Sebagai informasi, dugong (Dugong dugon) merupakan jenis mamalia laut yang dilindungi dan merupakan salah satu spesies dari 20 spesies prioritas yang menjadi target penting Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dugong memiliki ancaman kehidupan yang tinggi. Secara alami dugong memiliki reproduksi yang lambat. Dibutuhkan waktu 10 tahun untuk menjadi dewasa dan 14 bulan untuk melahirkan satu individu baru pada interval 2,5 – 5 tahun.

Ancaman lainnya yaitu tertangkapnya dugong secara tidak sengaja oleh alat tangkap perikanan (bycatch), perburuan masif untuk pemanfaatan daging, dan taring serta air mata dugong yang disinyalir memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Secara Nasional, dugong dilindungi melalui UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya serta UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Sedangkan secara internasional, dugong telah terdaftar di dalam ‘Global Red List of IUCN’ sebagai ‘Vulnerable to extinction’ atau rentan terhadap kepunahan dan juga telah masuk dalam Appendix I CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti bagian tubuh dugong tidak dapat diperdagangkan dalam bentuk apapun.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/dugong-dan-habitatnya-butuh-upaya-konservasi-terpadu/feed/ 0
Pecuk-Ular Asia, Si Leher Panjang yang Mampu Menyelam https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/#respond Mon, 25 Jan 2016 09:44:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12638 Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) memiliki leher yang panjang serupa ular. Burung yang masuk dalam kategori hampir terancam punah ini mampu menyelam dalam waktu lama untuk mencari ikan.]]>

Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) atau oriental darter atau snakebird merupakan salah satu jenis burung air yang mudah dikenali. Dinamakan Pecuk-ular Asia karena memiliki leher yang panjang dan ramping menyerupai ular.

Pecuk-ular Asia memiliki kepala dan leher berwarna coklat, terdapat strip berwarna putih pada bagian dagu sampai leher. Bagian tubuh, sayap dan ekor berwarna hitam, bagian paruh runcing berwarna kuning kecoklatan. Pada bagian kakinya terdapat selaput dan berwarna hitam.

Pecuk-ular Asia mampu menyelam dan tinggal dibawah air dalam waktu yang lama serta mampu mereduksi daya apung sehingga hanya bagian kepalanya yang terlihat pada saat berenang dan mencari makan.

Pecuk-ular Asia dapat dijumpai di hutan mangrove, danau, sungai besar, daerah tambak, rawa dan muara. Pecuk-ular Asia menghabiskan waktu yang lama untuk mengeringkan bulu di tempat ia bertengger. Burung ini berkumpul dalam kelompok kecil (2-5 individu) maupun dalam kelompok besar di atas pohon tinggi yang gundul.

Burung yang lehernya menyerupai ular ini tersebar luas di India, Asia Tenggara, Sulawesi, Sumbawa, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Di Jakarta, tercatat satwa ini berkembang biak di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu pada Bulan Desember – Juni. Mencari makan di pesisir Jakarta seperti di Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk.

Berdasarkan IUCN ((International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) Pecuk-ular Asia masuk dalam kategori hampir terancam (near threatened). Hal ini dikarenakan semakin menyempit dan menurunnya kualitas habitat burung air ini akibat alih fungsi lahan. Selain itu, perburuan untuk jenis burung ini juga cukup tinggi.

Pecuk-ular Asia termasuk dalam burung yang dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia, yaitu UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Terdapat hukuman bagi yang melanggar peraturan tersebut yaitu tindak pidana penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 100.000.000,- (Seratus Juta Rupiah).

Pengamatan burung air ini biasanya dilakukan setiap bulan Januari di seluruh belahan dunia. Di Jakarta, pengamatan burung air ini biasa dilakukan di daerah pesisir Jakarta seperti Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Cukup banyak burung air yang teramati di kawasan tersebut, salah satunya burung Pecuk-ular Asia. Kehadiran Pecuk-ular Asia di suatu kawasan mengindikasikan bahwa kualitas perairan pada kawasan tersebut masih terbilang baik.

Mari bersama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan agar seluruh keanekaragaman hayati didalamnya tetap lestari.

Fauna_Pecuk_Ular_Asia_Si_Leher_Panjang_yang_Mampu_Menyelam_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/feed/ 0
Tiga Anak Badak Baru Ditemukan di Ujung Kulon https://www.greeners.co/berita/tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon https://www.greeners.co/berita/tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon/#respond Fri, 25 Sep 2015 12:01:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11239 Jakarta (Greeners) – Tim Rhino Monitoring Unit atau RMU Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berhasil menemukan tiga anak badak jawa baru di Semenanjung Ujung Kulon dalam periode waktu antara […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tim Rhino Monitoring Unit atau RMU Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berhasil menemukan tiga anak badak jawa baru di Semenanjung Ujung Kulon dalam periode waktu antara Maret hingga Agustus 2015.

Atas temuan ketiga anak badak ini, Bambang Dahono Adji, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengaku sangat bahagia karena penemuan ini telah membuka harapan baru terhadap populasi badak yang mana sebelumnya para peneliti tidak pernah menemukan keberadaan badak secara fisik.

“Ini luar biasa, saya sangat bahagia karena ini berarti terget kita untuk peningkatan spesies langka bisa terwujud,” ujar Bambang kepada Greeners, Jakarta, Jumat (25/09).

Anak badak jawa yang pertama sendiri berjenis kelamin betina. Pertama kali terekam kamera video pada tanggal Sembilan April 2015, pukul 17.29 WIB di Blok Citengah (bagian timur Semenanjung Ujung Kulon). Anak badak ini merupakan anak dari induk yang bernama Desy. Pada tahun 2012, Desy pernah punya anak jantan yang bernama Arjuna yang pada akhir tahun 2013 telah disapih. Sedangkan selama tahun 2014 Desy terekam selalu sendiri, dan terakhir pada tanggal 13 Agustus 2014 pukul 19.22 WIB di Blok Cigenter, Desy terekam dalam kondisi perut besar (hamil).

Lalu, anak badak jawa kedua berjenis kelamin jantan. Pertama kali terekam kamera video pada tanggal 25 Mei 2015 pukul 18.24 WIB di Blok Cijengkol, kaki Gunung Kendeng (bagian barat Semenanjung Ujung Kulon). Anak badak ini merupakan anak dari induk yang bernama Siti. Pada tahun 2011, Siti pernah punya anak jantan yang bernama Dwipa dan pada tahun 2013 Dwipa sudah di sapih. Selama tahun 2014 Siti terekam selalu sendiri, dan terakhir terekam pada tanggal tiga Desember 2014 pukul 06.13 WIB di Blok Hulu Cidatahan, yang berjarak sekitar 3 Km dari Blok Cijengkol dalam kondisi perut besar.

Terakhir, anak badak jawa yang ketiga juga berjenis kelamin jantan. Pertama terekam kamera video pada tanggal Delapan Juli 2015 pukul 13.16 WIB di Blok Rorah Daon, Cikeusik (bagian selatan Semenanjung Ujung Kulon). Anak badak ini merupakan anak dari induk yang bernama Ratu. Pada tahun 2011, Ratu pernah punya anak betina yang bernama Suci dan pada tahun 2012 Suci sudah di sapih. Selama tahun 2014 Ratu terekam sendiri, dan terakhir terekam pada tanggal 13 September 2014 pukul 03.48 WIB di Blok Citadahan dalam kondisi perut besar.

“Dengan ditemukannya tiga anak badak jawa tersebut, maka populasi satwa langka yang kini hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon tersebut sekarang meningkat menjadi 60 ekor yang sebelumnya berdasarkan hasil monitoring tahun 2014 jumlah badak jawa di TN Ujung Kulon sebanyak 57 ekor, terdiri dari 31 ekor jantan dan 26 ekor betina,” tambah Bambang.

Terkait target peningkatan populasi spesies hewan langka di Indonesia seperti harimau sumatera (Phantera tigris sumatrae), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), dan jalak bali (Leucopsar rothchildi), Bambang mengatakan kalau pihaknya telah menargetkan peningkatan jumlah 25 spesies terancam punah sebesar 10 persen hingga tahun 2019. Untuk memenuhi target tersebut, selain melalui penangkaran dan pelepasliaran satwa, kebun binatang juga wajib melakukan breeding.

“Kami juga sangat berterimakasih pada teman-teman NGO (non-goverment organization) yang sangat banyak membantu kami dalam hal melindungi dan menjaga hewan-hewan langka ini,” tutupnya.

Sebagai informasi, berikut 25 spesies terancam punah yang diprioritaskan meningkat populasinya sebesar 10 persen pada tahun 2019 sesuai kondisi biologis dan ketersediaan habitat :
1. Harimau sumatera
2. Gajah sumatera
3. Badak jawa
4. Owa (Owa jawa, Bilou)
5. Banteng
6. Elang (elang jawa dan elang flores)
7. Jalak bali
8. Kakatua (kakatua jambul kuning, kakatua jingga, kakatua alba)
9. Orangutan (orangutan kalimantan dan orangutan sumatera)
10. Komodo
11. Bekantan
12. Anoa
13. Babirusa
14. Maleo
15. Macan tutul
16. Cendrawasih
17. Rusa bawean
18. Tarsius
19. Surili
20. Macaca maura
21. Julang sumba
22. Nuri kepala hitam
23. Kangguru pohon
24. Penyu (penyu sisik dan penyu belimbing)
25. Celepuk rinjani

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon/feed/ 0
Nyaringnya Suara Paus Biru https://www.greeners.co/flora-fauna/nyaringnya-suara-paus-biru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nyaringnya-suara-paus-biru https://www.greeners.co/flora-fauna/nyaringnya-suara-paus-biru/#respond Tue, 04 Aug 2015 07:52:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=10599 Seperti halnya manusia, hewan juga bisa berkomunikasi. Meski tak dapat berbicara seperti manusia, hewan juga mengeluarkan suara untuk berkomunikasi dengan kawanannya. Begitu pula dengan paus biru. Meskipun hidup di dalam […]]]>

Seperti halnya manusia, hewan juga bisa berkomunikasi. Meski tak dapat berbicara seperti manusia, hewan juga mengeluarkan suara untuk berkomunikasi dengan kawanannya. Begitu pula dengan paus biru. Meskipun hidup di dalam lautan, paus dapat mengeluarkan suara untuk berkomunikasi.

Paus Biru yang memiliki nama latin Balaenoptera musculus ini panjang tubuhnya bisa mencapai 33 meter. Bobot tubuhnya bisa mencapai 181 ton lebih atau hampir menyamai berat mesin ekskavator.

Menurut beberapa sumber, selain dianggap sebagai hewan terbesar dan paling berkuasa di lautan, paus biru juga merupakan hewan yang memiliki suara paling nyaring di bumi. Bahkan, suara dari paus biru konon bisa mencapai 188 desibel. Dengan angka ini, suara seekor paus biru dapat mengalahkan suara deru mesin motor Harley Davidson, bisingnya konser music rock, hingga suara ledakan bom. Itu sebabnya tak heran kalau suara paus biru dapat terdengar hingga ratusan kilometer di bawah laut.

Suara atau panggilan paus biru ini dapat berlangsung antara 10 hingga 30 detik. Terbayang jika paus biru hidup di daratan dan mengeluarkan suara, pasti akan berisik sekali.

Seorang ilmuwan di LGL Limited asal Amerika Serikat, W. John Richardson dalam bukunya berjudul Marine Mammals and Noise menyatakan ada beberapa kemungkinan mengenai suara-suara yang digunakan paus biru ketika berkomunikasi. Richardson memperkirakan suara tersebut diantaranya adalah untuk menjaga jarak antar individu paus, mengenali spesies dan individu paus, serta ungkapan ketika menemukan makanan ataupun mengenali suatu kawasan di sekitarnya.

Pada awal abad ke-20, keberadaan mamalia laut ini masih sangat berlimpah di samudera yang ada di dunia. Sayangnya, meski tidak mudah ditangkap karena kekuatan, kecepatan dalam bergerak dan ukuran tubuhnya, selama lebih dari satu abad terakhir paus yang berwarna dominan biru keabuan ini telah banyak diburu dan dinyatakan hampir punah.

Hingga akhirnya, pada tahun 2008, lembaga konservasi internasional IUCN mengkategorikan paus biru dalam status terancam punah (Endangered) dan dinyatakan sebagai hewan laut yang dilindungi.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/nyaringnya-suara-paus-biru/feed/ 0
Berang-berang Laut, Hadapi Pengganggu dengan Berpegangan Tangan https://www.greeners.co/flora-fauna/berang-berang-laut-hadapi-pengganggu-dengan-berpegangan-tangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=berang-berang-laut-hadapi-pengganggu-dengan-berpegangan-tangan https://www.greeners.co/flora-fauna/berang-berang-laut-hadapi-pengganggu-dengan-berpegangan-tangan/#respond Mon, 13 Jul 2015 12:06:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=10316 Siapa yang tidak mengenal hewan yang satu ini. Berang-berang laut atau yang memiliki nama latin Enhydra lutris ini merupakan keluarga Mustelida. Hewan lucu ini biasa ditemui di pantai utara Samudera […]]]>

Siapa yang tidak mengenal hewan yang satu ini. Berang-berang laut atau yang memiliki nama latin Enhydra lutris ini merupakan keluarga Mustelida. Hewan lucu ini biasa ditemui di pantai utara Samudera Pasifik, sekitar Amerika Serikat dan Kanada bagian barat hingga Alaska.

Mereka memiliki susunan bulu yang sangat padat dibandingkan dengan hewan lainnya. Kepadatan bulunya bisa mencapai 100.000 rambut per sentimeter persegi. Banyak jenis berang-berang yang menghuni perairan yang dingin karena berang-berang memiliki laju metabolisme yang tinggi untuk menjaga agar tubuhnya tetap hangat.

Berang-berang pantai memerlukan makanan hingga sebanyak 15% bobot tubuhnya setiap hari, sementara jika dibandingkan dengan kebutuhan berang-berang laut berkisar antara 20–25% bergantung kepada temperatur lingkungannya. Di perairan sedingin 10 °C (50 °F), seekor berang-berang memerlukan sekitar 100 gram ikan per jam untuk tetap bertahan hidup. Kebanyakan jenis berang-berang menghabiskan 3 hingga 5 jam perhari untuk berburu mangsa, sementara induk berang-berang yang tengah mengasuh anaknya memerlukan waktu yang lebih banyak, yaitu hingga 8 jam sehari.

Seekor berang-berang laut tengah berpegangan tangan dengan sesamanya. Foto: wikimedia.org

Seekor berang-berang laut tengah berpegangan tangan dengan sesamanya. Foto: wikimedia.org

Sebagian besar hidup berang-berang laut dihabiskan dalam permukaan air sambil bergerombol dengan koloninya, sesekali berang-berang laut akan naik ke daratan untuk bermain dan beristirahat. Hal ini karena ancaman dari daratan lebih besar didapat dibandingkan di laut.

Hewan karnivora ini memiliki kebiasaan unik saat mereka tidur ataupun beristirahat. Mereka sering kali kedapatan tidur sambil berpegangan tangan satu dengan lainnya. Berang-berang melakukan hal itu untuk memastikan agar ia tidak terpisah dari kawanannya. Namun, bukan hanya ketika tidur, binatang mamalia laut ini juga sering kali ditemukan berpegangan tangan atau bahkan berpelukan saat makan ataupun bersantai sambil mengapung di air.

Karena banyak beraktivitas di air, mereka harus saling berpegangan untuk mengamankan diri mereka agar tidak hanyut terbawa arus dan terpisah dari kelompoknya. Berang-berang laut memang sering kali ditemukan berkumpul hingga mencapai puluhan bahkan ratusan ekor. Kumpulan berang-berang laut yang saling berpegangan tangan ini sekilas nampak seperti rakit yang mengapung di tepi laut.

Berdasarkan daftar merah yang dirilis situs IUCN, berang-berang laut saat ini terancam punah atau endangered. Penyebab pasti menurunnya populasi hewan ini belum diketahui, namun infeksi penyakit dan serangan parasit, seperti bakteri dan jamur menjadi beberapa faktor penyebab kematian hewan ini.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/berang-berang-laut-hadapi-pengganggu-dengan-berpegangan-tangan/feed/ 0
Hiu dan Pari Masih Diburu Sebagai Tangkapan Utama https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-dan-pari-masih-diburu-sebagai-tangkapan-utama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hiu-dan-pari-masih-diburu-sebagai-tangkapan-utama https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-dan-pari-masih-diburu-sebagai-tangkapan-utama/#respond Sun, 14 Jun 2015 02:30:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=9659 Jakarta (Greeners) – Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam menjaga bumi dan isinya, termasuk hiu dan pari. Hingga saat ini, hiu dan pari masih banyak diburu sebagai tangkapan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam menjaga bumi dan isinya, termasuk hiu dan pari. Hingga saat ini, hiu dan pari masih banyak diburu sebagai tangkapan utama maupun tangkapan sampingan (bycatch) di beberapa lokasi di Indonesia seperti Laut Jawa Selat Karimata, Selat Makassar, serta dekat Samudera Hindia, Laut Tiongkok Selatan dan Samudera Pasifik.

Direktur Kawasan Konservasi dan Jenis Ikan (KKJI) KKP, Agus Dermawan mengatakan, kedua ikan bertulang rawan tersebut ditangkap dan dijadikan komoditi berkeuntungan besar. Hiu diburu untuk sirip, daging, kulit, minyak hati, dan tulang rawannya, sementara pari diambil insangnya untuk dimanfaatkan sebagai bahan tonik kesehatan di Tiongkok.

“Untuk menanggulangi permasalahan ini, perlu ditetapkannya sebuah kebijakan sebagai dasar implementasi Rencana Aksi Nasional (National Plan of Action/NPOA) untuk pengelolaan hiu dan pari di Indonesia secara berkelanjutan,” ujarnya saat dihubungi oleh Greeners melalui sambungan telepon, Jakarta, Jumat (12/06).

Senada dengan Agus, Direktur Program Coral Triangle WWF-Indonesia, Wawan Ridwan pun mengungkapkan kalau upaya pengelolaan hiu dan pari memang harus dijalankan secara berkelanjutan demi menjaga produktivitas laut dalam menyediakan sumber pangan dari sektor perikanan. Namun untuk menunjang aksi tersebut, dibutuhkan data lengkap mengenai populasi, biologi, dan ekologi kedua jenis ikan tersebut, yang mana hingga saat ini masih sangat minim dan tersebar diberbagai pihak.

“Kami (WWF-Indonesia) siap untuk bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli dalam meningkatkan upaya pengelolaan hiu dan pari di Indonesia,” tambahnya.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan habitat bagi lima jenis hiu dan dua jenis pari manta yang tercantum dalam daftar Appendix II Konvensi Perdagangan Internasional Terhadap Satwa dan Tumbuhan yang Terancam Punah (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna/ CITES).

Jenis hiu dan pari manta tersebut adalah hiu paus (whale shark), hiu koboi (oceanic whitetip shark), tiga jenis hiu martil (scalloped hammerhead, smooth hammerhead dan great hammerhead sharks), oceanic manta, dan reef manta.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-dan-pari-masih-diburu-sebagai-tangkapan-utama/feed/ 0
Makin Marak, Media Sosial Dijadikan Media Transaksi Satwa Liar https://www.greeners.co/berita/makin-marak-media-sosial-dijadikan-media-transaksi-satwa-liar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=makin-marak-media-sosial-dijadikan-media-transaksi-satwa-liar https://www.greeners.co/berita/makin-marak-media-sosial-dijadikan-media-transaksi-satwa-liar/#respond Wed, 04 Mar 2015 06:53:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8035 Malang (Greeners) – Center for Orangutan Protection (COP) dan Animals Indonesia menggelar aksi seruan kepada masyarakat luas agar tidak membeli satwa liar yang dijual melalui media sosial seperti facebook dan […]]]>

Malang (Greeners) – Center for Orangutan Protection (COP) dan Animals Indonesia menggelar aksi seruan kepada masyarakat luas agar tidak membeli satwa liar yang dijual melalui media sosial seperti facebook dan situs jual beli dalam jaringan (daring). Seruan ini setidaknya bisa memutus mata rantai jual beli satwa liar yang kian marak di Indonesia.

Juru kampanye COP, Daniek Hendarto mengungkapkan, selama kurun 2012 hingga 2015, pihaknya telah membantu aparat terkait melakukan operasi penyitaan dan penegakan hukum 8 kasus perdagangan satwa liar melalui daring. Dari jumlah itu terdapat 28 jenis satwa liar dilindungi dan 65 ekor orangutan, termasuk bayi orangutan, dijual seharga Rp 50 juta.

“Facebook masih menjadi media yang berbahaya bagi satwa liar,” katanya saat menggelar aksi yang menyertakan dua ‘orangutan’ di depan Balikota Malang, Jawa Timur, Selasa (3/3/2015).

Menurut Daniek, beberapa pedagang ini memiliki jaringan internasional untuk menjual satwa liar asli Indonesia. Operasi penegakan hukum selama ini masih sulit dilakukan karena media sosial seperti facebook tidak menerapkan sistem keamanan untuk memblokir akun yang memperjualbelikan satwa liar seperti yang dilakukan forum Kaskus misalnya. Kaskus, katanya, sudah menerapkan banned bagi akun yang memperjualbelikan satwa liar dilindungi sehingga bisa memblokir akun yang memperdagangkan satwa liar.

Juru kampanye Animals Indonesia, Elizabeth Laksmi menambahkan, adanya media sosial seperti facebook membuat para pehobi satwa liar dilindungi dan pedagang bisa berkumpul di dunia maya untuk mendapatkan informasi seputar jual beli satwa.

Modusnya, kata Laksmi, para pedagang memasang foto-foto satwa beserta harganya dan akan terjadi tawar menawar harga. “Jika sepakat, pedagang akan mengirim satwa itu melalui jalur darat setelah proses transaksi,” ujar Laksmi.

Para pedagang ini mendapatkan kemudahan dengan memanfaatkan facebook karena media sosial ini belum menerapkan sistem keamanan untuk memblokir akun penjahat satwa. Transaksi bisa dilakukan melalui dunia maya tanpa harus tatap muka seperti jual beli satwa di pasar hewan yang mudah dipantau petugas. Pedagang,katanya, biasanya membentuk grup atau komunitas secara tertutup untukmelakukan promosi dan jual beli satwa.

Sejauh ini, Animals Indonesia bersama COP masih sebatas berkampanye kepada masyarakat agar tidak membeli satwa liar yang dijual secara daring atau online maupun di pasar-pasar hewan. Ke depan, pihaknya juga berencana mengirim surat kepada pihak facebook agar memblokir langsung akun yang jelas memperjualbelikan satwa liar dilindungi agar kejahatan ini tidak semakin marak terjadi yang berakibat pada cepatnya kepunahan satwa-satwa liar dilindungi.

“Masyarakat bisa menghentikan ini dengan tidak membeli satwa liar,” kata Laksmi mengimbau.

(G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/makin-marak-media-sosial-dijadikan-media-transaksi-satwa-liar/feed/ 0
Tulus, Pelajaran Berharga Dari Gajah https://www.greeners.co/gaya-hidup/tulus-pelajaran-berharga-dari-gajah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tulus-pelajaran-berharga-dari-gajah https://www.greeners.co/gaya-hidup/tulus-pelajaran-berharga-dari-gajah/#respond Mon, 17 Nov 2014 12:11:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_green_carpet&p=6445 (Greeners) – Pada bulan April lalu, upaya pelestarian gajah sempat digagas oleh model ternama Nadya Hutagalung dengan program Let Elephants Be Elephant. Program ini untuk menyadarkan publik luas bahwa perdagangan […]]]>

(Greeners) – Pada bulan April lalu, upaya pelestarian gajah sempat digagas oleh model ternama Nadya Hutagalung dengan program Let Elephants Be Elephant. Program ini untuk menyadarkan publik luas bahwa perdagangan gading gajah yang tinggi di kawasan Asia berimbas pada tingginya angka kematian gajah karena perburuan liar.

Ternyata, situasi ini juga menjadi perhatian bagi penyanyi solo, Tulus. Pria dengan perawakan tinggi besar ini mengungkapkan kalau dulu dirinya pernah dijuluki “gajah”. Rasa kesal sempat menghinggapi hatinya. Namun, setelah mengetahui perilaku gajah, ia justru membuat sebuah lagu berjudul “Gajah” berdasarkan pengalamannya itu.

“Gajah itu sosok makhluk yang penyayang dan setia. Kayaknya menyenangkan juga jadi gajah,” ujarnya sambil tertawa.

Pria bernama asli Muhammad Tulus ini menyatakan prihatin dengan populasi gajah Sumatera yang terus menyusut. Ia juga mengaku mengikuti isu gajah setelah menyelesaikan pembuatan video klip untuk lagunya yang berjudul “Gajah”.

“Untuk video musik “Gajah”, saya didukung oleh WWF Indonesia sehingga saya bisa mendapatkan tempat ke situs-situs atau tempat yang tidak boleh dikunjungi manusia sebelumnya,” ujar pria bersuara khas ini saat dijumpai usai mengadakan jumpa pers terkait konser tunggalnya bertajuk “Konser Gajah Tulus” beberapa waktu lalu.

Tulus bercerita bahwa selama satu bulan lebih, ia harus tinggal di barak di dalam hutan untuk mengerjakan video klipnya. Selama itu pula ia mengaku mendapat banyak pelajaran berharga tentang alam dan hewan yang berkeliaran di sana.

“Hubungan kita dengan makhluk (hewan liar, Red) yang kita pikir enggak ada pengaruhnya dengan kita, ternyata bisa menentukan bumi ini bisa jalan atau enggak,” ujarnya.

Pelantun lagu “Teman Hidup” ini pun menyatakan bahwa dirinya sangat terpukul ketika mengetahui bahwa populasi gajah Sumatera menuju kepunahan.

“Jumlah gajah di Sumatera tinggal empat ribu ekor di dunia dan itu mengkhawatirkan. Kalau ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membuat keadaan itu bisa menjadi lebih baik, saya akan lakukan,” katanya.

Tulus mengingatkan bahwa meskipun banyak orang tidak bersentuhan atau merasakan efek langsung dengan hewan-hewan yang hidup di alam liar seperti gajah, namun keberadaan makhluk tersebut turut menentukan keberlangsungan bumi.

“Kalau kita sayang sama mereka (hewan yang hidup di alam liar), mereka akan menjaga kita. Kalau kita ganggu mereka, mereka akan mengganggu balik. Saat mereka kalah, kita akan hancur pelan-pelan bersama alam,” pungkasnya.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tulus-pelajaran-berharga-dari-gajah/feed/ 0
Selenting Cerita Tentang Hari Ciliwung https://www.greeners.co/berita/selenting-cerita-tentang-hari-ciliwung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=selenting-cerita-tentang-hari-ciliwung https://www.greeners.co/berita/selenting-cerita-tentang-hari-ciliwung/#respond Tue, 11 Nov 2014 07:38:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6390 Jakarta (Greeners) – Menjaga kebersihan bukanlah sebuah program, melainkan sebuah keharusan yang wajib dilakukan oleh setiap orang, siapapun itu dengan tidak mengenal strata sosial. Setidaknya begitulah yang disampaikan oleh Walikota […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menjaga kebersihan bukanlah sebuah program, melainkan sebuah keharusan yang wajib dilakukan oleh setiap orang, siapapun itu dengan tidak mengenal strata sosial. Setidaknya begitulah yang disampaikan oleh Walikota Jakarta Timur, H.R Krisdianto saat menyampaikan sambutannya pada peringatan Hari Ciliwung ke 3 di Kelurahan Balekambang, Jakarta Timur.

Kris yang datang menggantikan Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini menceritakan bahwa sudah sejak dahulu Sungai Ciliwung terkenal dengan kebersihannya. Namun, lanjutnya, sangat disayangkan bahwa hal tersebut terhenti sejak kesadaran masyarakat dalam membuang sampah di sungai semakin menurun.

“Kita harus sama-sama berkomitmen untuk mengembalikan Ciliwung seperti dahulu. Nantinya, kalau Ciliwung sudah bersih, bisa menjadi tempat wisata. Ada banyak (tempat) kuliner dipinggirnya. Semua akan kita perindah tapi tidak bisa sekarang karena masih kotor. Jadi, mari kita bersihkan Ciliwung,” terang Kris saat ditemui oleh Greeners usai memberikan sambutan, Jakarta, Selasa (11/11).

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Dalam kesempatan tersebut Kris juga menyampaikan bahwa Ahok telah meresmikan tanggal 11 November sebagai Hari Ciliwung. Namun, ia juga meminta bahwa peresmian ini harus membawa dampak positif bagi kelestarian Ciliwung dan bukan hanya menjadi perayaan semata.

Abdul Kodir, selaku Ketua dari Komunitas Ciliwung Condet, menerangkan, pada awalnya pengakuan Hari Ciliwung tersebut ditujukan sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang tinggal dan menggantungkan hidupnya pada Sungai Ciliwung. Termasuk dengan mereka yang bercocok tanam, memancing, ataupun melestarikan kebersihan dan keindahan Sungai Ciliwung sejak lama.

“Banyak yang harus diapresiasi dari Ciliwung. Namun, sampai sekarang hanya sedikit orang yang menyadari bahwa Ciliwung adalah situs yang harus diselamatkan. Sekarang, kalau ditanya, banyak yang masih tidak tahu yang mana itu Sungai Ciliwung,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kodir menceritakan kenapa tanggal 11 yang dipilih menjadi Hari Ciliwung. Saat itu, terangnya, tepat pada tanggal 11 bulan 11 tahun 2011 lalu, wargaTanjung Barat Selatan, Lenteng Agung, Jakarta menangkap seekor senggawangan atau bulus atau dalam bahasa latinnya Chitra chitra javanensis di Sungai Ciliwung yang masuk daftar terancam punah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

“Sebelum ditemukan, senggawangan tersebut dianggap mitos kalau hewan itu adalah siluman. Namun setelah tertangkap masyarakat menjadi tahu kalau senggawangan yang muncul di Sungai Ciliwung itu adalah hewan,” tuturnya.

Berbagai permainan menarik diadakan di pinggir Sungai Ciliwung untuk meramaikan perayaan Hari Ciliwung, Selasa (11/11/2014). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Berbagai permainan menarik diadakan di pinggir Sungai Ciliwung untuk meramaikan perayaan Hari Ciliwung, Selasa (11/11/2014). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Atas dasar penemuan itulah maka masyarakat yang peduli dengan konservasi Sungai Ciliwung menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Ciliwung dan menetapkan senggawangan tersebut sebagai maskot untuk mendukung konservasi Sungai Ciliwung.

“Penemuan senggawangan itu adalah momentum untuk peduli pada kegiatan konservasi sungai dan flora faunanya. Makhluk ini diharapkan menjadi simbol masih adanya sumberdaya alam hayati yang tersisa dan hewan langka yang tersisa,” katanya.

Nur Faizah, salah seorang warga Eretan Dua, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Keramat Jati, Jakarta Timur yang juga mengikuti perayaan Hari Ciliwung ketiga ini mengaku tidak berharap banyak dengan keadaan Ciliwung. Menurutnya, selama Sungai Ciliwung tidak menjadi lebih buruk sudah merupakan hal yang lebih baik bagi masyarakat.

“Kalau tidak bisa jadi lebih baik, paling tidak jangan malah semakin buruk deh mas,” tutupnya.

Sebagai informasi, saat ini, sumberdaya alam hayati di Ciliwung kian susut seiring rusaknya ekosistem Ciliwung. Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 92 persen ikan Ciliwung telah punah dan sekitar 60 persen spesies mollusca dan crustacea juga telah menghilang.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/selenting-cerita-tentang-hari-ciliwung/feed/ 0
Beberapa Spesies Hiu dan Pari Manta Tidak Lagi Diperdagangkan https://www.greeners.co/berita/hiu-dan-pari-manta-tidak-lagi-diperdagangkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hiu-dan-pari-manta-tidak-lagi-diperdagangkan https://www.greeners.co/berita/hiu-dan-pari-manta-tidak-lagi-diperdagangkan/#respond Wed, 17 Sep 2014 05:05:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5833 Jakarta (Greeners) – Lima spesies hiu dan dua spesies pari manta yang terancam punah kini telah mendapat perlindungan terhadap aktivitas perikanan di pasar perdagangan internasional. Konvensi Perdagangan Internasional Terhadap Satwa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Lima spesies hiu dan dua spesies pari manta yang terancam punah kini telah mendapat perlindungan terhadap aktivitas perikanan di pasar perdagangan internasional.

Konvensi Perdagangan Internasional Terhadap Satwa dan Tumbuhan yang Terancam Punah (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna/ CITES) menjelaskan bahwa terhitung sejak tanggal 14 September 2014, lima spesies hiu dan dua spesies pari manta yang terancam punah tidak lagi masuk dalam kategori perdagangan komersil dan masuk dalam daftar Appendix II CITES.

Spesialis Perdagangan Satwa Liar dari WWF-Internasional, Dr. Colman O Criodain mengatakan, bahwa terhitung tanggal 14 tersebut, akan diatur regulasi untuk memastikan tidak ada lagi hiu dan pari manta yang berasal dari sumber yang ilegal.

“Nantinya, regulasi perdagangannya akan diawasi agar tidak mengancam kelangsungan populasi mereka,” ujar Colman dalam siaran pers yang diterima Greeners, Jakarta, Selasa (16/09).

Colman berharap, nantinya regulasi CITES ini tidak hanya tegas dalam penerapannya, tetapi juga mampu mendorong pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

“Jumlah populasi spesies hiu dan pari manta yang langka ini sudah masuk status tidak layak ditangkap lagi karena dibutuhkan waktu pemulihan untuk menyelamatkan spesies-spesies tersebut dari ancaman kepunahan,” katanya.

Untuk jenis spesies hiu dan pari manta yang dilindungi tersebut, lanjut Colman, adalah spesies oceanic whitetip shark, tiga jenis hiu kepala martil atau hammerhead shark (scalloped hammerhead, smooth hammerhead, great hammerhead), oceanic manta dan reef manta.

Menanggapi regulasi CITES ini, Wawan Ridwan, Direktur Coral Triangle WWF-Indonesia mengatakan, bahwa pemerintah Indonesia sendiri telah mengeluarkan kebijakan perlindungan penuh terhadap hiu paus, oceanic manta dan reef manta; serta menyusun Rencana Aksi Nasional.

Selain itu, lanjutnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (KKJI), juga berkolaborasi dengan Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) dalam penyusunan dokumen-dokumen pelengkap dalam pengelolaan perikanan hiu.

“Perlu ada langkah cepat untuk menyusun rencana pengelolaan di tingkat nasional agar penerapan ratifikasi CITES ini dapat berjalan dengan baik dan populasi hiu dapat dilestarikan,” katanya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/hiu-dan-pari-manta-tidak-lagi-diperdagangkan/feed/ 0
Sup Sirip Hiu Dorong Hiu Kepala Martil Menuju Kepunahan https://www.greeners.co/berita/sup-sirip-hiu-dorong-hiu-kepala-martil-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sup-sirip-hiu-dorong-hiu-kepala-martil-terancam-punah https://www.greeners.co/berita/sup-sirip-hiu-dorong-hiu-kepala-martil-terancam-punah/#respond Mon, 07 Jul 2014 06:23:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5104 (Greeners) – Badan Kelautan dan Perikanan Nasional Amerika atau National Marine Fisheries Service menyatakan hiu kepala martil (Sphyrna lewini) dan empat populasi hiu diklasifikasikan sebagai terancam punah. Hal ini dikarenakan […]]]>

(Greeners) – Badan Kelautan dan Perikanan Nasional Amerika atau National Marine Fisheries Service menyatakan hiu kepala martil (Sphyrna lewini) dan empat populasi hiu diklasifikasikan sebagai terancam punah. Hal ini dikarenakan semakin tingginya permintaan sup sirip ikan hiu. Klasifikasi ini dikeluarkan secara resmi sejak awal bulan Juli 2014.

Seperti dilansir dari laman Huffingtonpost.com, badan tersebut menyatakan populasi hiu kepala martil yang berada di bagian timur Samudera Atlantik dan Pasifik terancam punah. Begitu juga yang ada di pusat dan barat daya Atlantik dan Indo-Pasifik Barat. Ini artinya, hiu tersebut menghadapi resiko kepunahan di masa depan.

Sedangkan populasi yang ada di Pasifik tengah, termasuk hiu kepala martil yang hidup di perairan Hawaii, dianggap cukup memadai dan tidak masuk ke dalam daftar tersebut.

Tingginya permintaan sirip hiu untuk dijadikan sup membuat spesies ini menghadapi penangkapan berlebihan (overfishing). Foto Ilustrasi: hammerheadblog.files.wordpress.com

Tingginya permintaan sirip hiu untuk dijadikan sup membuat spesies ini ditangkap secara berlebihan (overfishing). Foto Ilustrasi: hammerheadblog.files.wordpress.com

Klasifikasi tersebut merupakan respon dari petisi yang diajukan oleh kelompok pecinta lingkungan WildEarth Guardians dan Friends of Animals. “Pencatatan hiu kepala martil merupakan indikasi penting bahwa eksploitasi yang dilakukan manusia terhadap spesies laut telah memakan korban,” ujar Michael Harris, Direktur Bidang Hukum Satwa Liar dari Friends of Animals.

Klasifikasi ini akan berlaku mulai bulan September. Begitu masuk dalam daftar, agen federal akan memastikan tindakan mereka tidak membahayakan spesies atau merusak habitat spesies yang sudah kritis.

Hiu kepala amartil akan menerima perlindungan internasional di bulan yang sama dari Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Tumbuhan dan Satwa Liar atau CITES. Di bawah pengaturan CITES yang baru, perdagangan hiu kepala martil akan diizinkan hanya bila negara pengekspor mengeluarkan izin setelah hiu tersebut dinyatakan diperoleh secara sah dan menjual hiu tidak akan membahayakan kelangsungan hidup spesies tersebut atau perannya dalam ekosistem.

Hiu kepala martil masuk dalam Apendix II dalam CITES sejak Oktober 2012 sebagai hewan terancam punah (endangered). Namun status yang sama sudah lebih dulu dikeluarkan oleh IUCN Red List pada tahun 2007.

Carl Meyer, peneliti dari Hawaii Institute for Marine Biology, mengatakan permintaan akan sirip hiu mendorong penangkapan hiu secara berlebihan (overfishing). Tingginya jumlah serat dalam sirip hiu kepala martil membuat hiu tersebut sangat diinginkan untuk dijadikan sup sirip ikan hiu. “Nelayan tidak hanya menangkap hiu dewasa, tetapi juga anak hiu,” ungkap Carl.

Tubuh hiu kepala martil betina dapat mencapai panjang hingga empat meter. Spesies ini memiliki bentuk kepala pipih memanjang seperti martil. Makanannya antara lain, ikan pari, cumi-cumi, dan hiu lainnya.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/sup-sirip-hiu-dorong-hiu-kepala-martil-terancam-punah/feed/ 0
Armadillo, Maskot Piala Dunia 2014 yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah/#respond Tue, 01 Jul 2014 00:30:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_kehati&p=5041 Armadillo, spesies yang dijadikan sebagai maskot resmi Piala Dunia 2014, merupakan hewan yang terancam punah di alam liar karena perburuan liar, hilangnya habitat asli mereka, dan bahkan karena turnamen Piala […]]]>

Armadillo, spesies yang dijadikan sebagai maskot resmi Piala Dunia 2014, merupakan hewan yang terancam punah di alam liar karena perburuan liar, hilangnya habitat asli mereka, dan bahkan karena turnamen Piala Dunia itu sendiri. Hal ini dikatakan para ilmuwan seperti dikutip dari laman Hufingtonpost.com.

Armadillo Tiga Ruas Brasil (Tolypeutes tricinctus) mempertahankan diri dengan cara menggulung dirinya seperti sebuah bola. Bentuk ini terlihat menarik sebagai simbol dari Piala Dunia.

Namun, dijadikannya armadillo sebagai maskot tidak mampu melawan para pemburu yang dapat mengambil hewan ini tanpa susah payah. Dan, ada ketakutan bahwa publikasi Piala Dunia akan menggiring orang untuk mengadopsi hewan lucu ini sebagai peliharaan. Hal ini membuat jumlah armadillo yang sudah sedikit semakin menyusut.

Biodiversity_Armadillo_Three_Banded_Greeners

Saat merasa terancam, armadillo tiga ruas Brasil (Tolypeutes tricinctus) akan ‘melipat’ tubuhnya serupa bola.

Menurut situs untuk spesies yang terancam punah, Red List, spesies ini diyakini semakin menurun lebih dari sepertiganya selama 10 hingga 15 tahun terakhir karena hilangnya 50 persen habitat lahan semak kering “Caatinga“.

Berdasarkan data 2014 menurut versi International Union for Conservation of Nature (IUCN), armadillo merupakan hewan asli asal daerah timur Brasil yang “rentan” (vulnerable) menuju kepunahan, kondisi ini sama dengan penilaian yang dilakukan tahun 2009.

Namun seorang pakar terkemuka mengatakan bukti baru dari Brasil menunjukan bahwa ancaman terhadap hewan yang dapat tumbuh hingga 50 sentimeter ini, semakin meningkat dan ini akan menempatkan hewan tersebut ke kategori ancaman yang lebih tinggi, yaitu “terancam punah” (endangered) pada bulan-bulan mendatang.

“Situasinya bahkan lebih buruk dari yang kita pikirkan,” ujar Mariella Superina, Ketua kelompok spesialis anteater, sloth dan armadillo IUCN, kepada Reuters. “Armadillo tiga ruas sangat mudah untuk ditangkap.”

Fuleco, maskot resmi Piala Dunia 2014.

Fuleco, maskot resmi Piala Dunia 2014.

‘Fuleco’, nama maskot FIFA, adalah kombinasi dari kata “Futebol” (football yang berarti sepak bola) dan “Ecologia” (ecology). Mariella mendesak FIFA untuk mendanai usaha untuk melindungi hewan tersebut, termasuk yang mungkin akan mengacaukan publikasi Piala Dunia.

“Orang-orang mungkin melihatnya sebagai makhluk yang lucu karena spesies ini bisa menggulung tubuhnya menjadi seperti bola. Kami khawatir orang-orang akan menginginkan hewan ini sebagai peliharaan. Hewan ini sama sekali bukan hewan peliharaan,” katanya tegas.

Dari 20 jenis armadillo, hanya satu yang habitatnya di luar Amerika Latin. Armadillo bangkit kembali dari jurang kepunahan setelah sebelumnya diyakini punah sampai ditemukan kembali pada awal tahun 1990-an.

Caroline Pollock, Program Officer dari Red List, mengatakan bahwa pembukaan lahan untuk tebu dan kedelai telah memangkas habitat armadillo dalam beberapa waktu belakangan.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah/feed/ 0
Cerek Melayu https://www.greeners.co/flora-fauna/cerek-melayu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cerek-melayu https://www.greeners.co/flora-fauna/cerek-melayu/#respond Thu, 22 May 2014 02:00:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_kehati&p=4664 Cerek melayu (Charadrius peronii) atau Malaysian plover bertubuh kecil dengan panjang sekitar 15 sentimeter. Burung ini berparuh pendek, dengan warna bulu hitam, coklat, dan putih. Ciri fisik lainnya, cerek melayu […]]]>

Greeners BioDiversity LOGOCerek melayu (Charadrius peronii) atau Malaysian plover bertubuh kecil dengan panjang sekitar 15 sentimeter. Burung ini berparuh pendek, dengan warna bulu hitam, coklat, dan putih. Ciri fisik lainnya, cerek melayu memiliki iris mata berwarna coklat, paruh hitam, dan kaki berwarna abu-abu.

Musim kawin cerek melayu dimulai pada akhir Maret dan berakhir pada akhir September. Ketika burung betina menghasilkan telur, ia meletakkan telur-telurnya yang berjumlah 2-5 telur dalam sarang di pinggir pantai. Pasangan burung ini mengerami telur mereka secara bergantian selama 30 hari. Dan, setelah menetas, anak-anak burung ini tetap dijaga oleh burung dewasa selama 30 hari ke depan.

Cerek melayu hidup berpasangan di pantai berpasir. Unggas ini lebih menyukai pantai kecil dengan kolam koral murni. Tidak membentuk kelompok atau berbaur dengan burung perancah lain, dan biasanya agak jinak. Populasi burung ini tersebar di wilayah Thailand selatan, semenanjung Malaysia, Vietnam selatan, Filipina, sampai ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara Timur.

Perbedaannya dengan cerek pasir mongolia atau cerek pasir besar , ukuran cerek melayu jauh lebih kecil dengan pola kerah sempit berwarna hitam pada jantan atau berwarna merah pada betina. Dan bila dibedakan dengan cerek tilil, kerah pada punggung cerek melayu seluruhnya putih, bercak telinga terpisah dan tidak tersambung sampai ke mata.

Status IUCN RedList dari spesies ini adalah Near Threatened atau mendekati terancam punah. Tidak ada data pasti mengenai penyebab berkurangnya populasi cerek melayu. Namun, erosi pantai, pembangunan di daerah pesisir, dan gangguan manusia mempersulit burung cerek melayu mencari makan dan bersembunyi. Kondisi tersebut juga membuat kualitas telur cerek melayu menurun.

 

Photographer : Ady Kristanto
Kamera : Nikon Coolpix P510
Lokasi : Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur

 

 

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/cerek-melayu/feed/ 0