jamur beracun - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/jamur-beracun/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 27 Oct 2023 15:58:49 +0000 id hourly 1 Devil’s Bolete, Jamur Berbatang Merah Beracun dari Eropa https://www.greeners.co/flora-fauna/devils-bolete-jamur-berbatang-merah-beracun-dari-eropa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=devils-bolete-jamur-berbatang-merah-beracun-dari-eropa https://www.greeners.co/flora-fauna/devils-bolete-jamur-berbatang-merah-beracun-dari-eropa/#respond Sun, 29 Oct 2023 03:00:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=42100 Devil’s Bolete atau Rubroboletus satanas memiliki sebutan lain jamur setan karena penampilan dan efek bercaunnya. Jamur yang berasal dari famili Boletaceae ini dideskripsikan oleh ahli mikologi Jerman, Harald Othmar Lenz […]]]>

Devil’s Bolete atau Rubroboletus satanas memiliki sebutan lain jamur setan karena penampilan dan efek bercaunnya. Jamur yang berasal dari famili Boletaceae ini dideskripsikan oleh ahli mikologi Jerman, Harald Othmar Lenz di tahun 1831 dengan nama Boletus satanas.

Pada tahun 2015, ahli mikologi Spanyol, J. B. Blanco-Dios memberikan nama ilmiah Suillellus satanas pada jamur ini. Meskipun begitu, sebagian besar pihak berwenang menggunakan nama ilmiah Rubroboletus satanas untuk jamur devil’s bolete ini.

BACA JUGA: Rooting Bolete, Jamur Boletaceae yang Pahit dan Berbau Busuk

Nama genus Rubroboletus merujuk pada warna merah di batang dan pori-pori jamur ini. Sementara, satanas yang berarti ‘setan’ mengacu pada efek jahat (keracunan) dari konsumsi devil’s bolete. Kebanyakan orang yang pernah melihat jamur ini secara langsung di alam mengatakan ini adalah salah satu jamur liar yang paling indah dan menawan penampilannya.

Taksonomi Devil's Bolete atau Rubroboletus satanas. Foto: Greeners

Taksonomi Devil’s Bolete atau Rubroboletus satanas. Foto: Greeners

Devil’s Bolete Tumbuh Terbatas di Area Berkapur

Tudung jamur ini memiliki diameter antara 6 hingga 30 cm yang berwarna putih berkapur serta terlihat seperti beludru. Seiring waktu, tudungnya berubah warna menjadi gelap dengan semburat warna zaitun atau sedikit kemerahan.

Ketika masih muda, tudungnya berbentuk bulat dan berkubah, kemudian terus mengalami perubahan saat masa pertumbuhannya hingga menjadi melengkung. Ketika dipotong, daging buangnya yang berwarna kuning ini secara perlahan berubah menjadi biru pucat dan kemudian berubah lagi menjadi putih pucat.

Bagian tabung dan pori-porinya berwarna kuning ketika masih muda, dan berubah menjadi oranye hingga merah ketika dewasa. Pori-pori yang terletak di tepi biasanya berwarna lebih pucat daripada yang terletak dekat batang.

BACA JUGA: Jamur Goblet, Bersifat Saprobik dan Berbatang Sangat Keras

Selain itu, jamur ini memiliki batang yang gemuk, dengan pola jaringan pada permukaanya yang berwarna kuning-oranye. Batang tersebut memiliki daging yang lunak dan kenyal. Jamur ini memiliki spora berwarna cokelat zaitun, berbentuk Subfusiform, dengan ukuran 9,5-15 x 4,5-7µm.

Jamur ini tumbuh di seluruh Eropa selatan dan tengah, dan terbatas pada area batuan kapur. Biasanya mereka tumbuh di bawah pohon ek dan pohon beech yang sudah tua.

Konsumsinya Menyebabkan Diare hingga Mual

Jamur ini beracun, terutama jika dikonsumsi secara mentah. Memiliki kandungan Muscarine (senyawa alkaloid bersifat toksik) dalam jumalh yang sangat sedikit. Para ahli menganggap konsentrasinya tidak cukup untuk menyebabkan keracunan. Namun, efek konsumsi pada sebagian orang menunjukkan adanya gejala keracunan seperti diare, sakit perut, dan mual.

Kasus keracunan jamur ini sebenarnya sangat jarang terjadi, karena spesimen yang matang akan berbau busuk sehingga kebanyakan orang pasti menghindarinya. Selain itu, beberapa negara Eropa melaporkan bahwa jamur ini kerap dikonsumsi. Meskipun begitu, perlu kehati-hatian saat mengidentifikasi dan mengolahnya jika benar-benar ingin mengonsumsinya.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/devils-bolete-jamur-berbatang-merah-beracun-dari-eropa/feed/ 0
Rooting Bolete, Jamur Boletaceae yang Pahit dan Berbau Busuk https://www.greeners.co/flora-fauna/rooting-bolete-jamur-boletaceae-yang-pahit-dan-berbau-busuk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rooting-bolete-jamur-boletaceae-yang-pahit-dan-berbau-busuk https://www.greeners.co/flora-fauna/rooting-bolete-jamur-boletaceae-yang-pahit-dan-berbau-busuk/#respond Wed, 20 Sep 2023 03:56:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=41657 Jamur Caloboletus radicans atau rooting bolete merupakan salah satu jamur yang terasa pahit dan berbau busuk dari famili Boletaceae. Jamur ini biasa tumbuh di bawah pohon ek di tepi jalan […]]]>

Jamur Caloboletus radicans atau rooting bolete merupakan salah satu jamur yang terasa pahit dan berbau busuk dari famili Boletaceae. Jamur ini biasa tumbuh di bawah pohon ek di tepi jalan raya atau jalan setapak hingga taman di selatan Inggris dan Irlandia, serta di sebagian besar daratan Eropa lainnya.

Seperti jamur bolete lainnya, C. radicans termasuk jamur ektomikoriza, yaitu bersimbiosis dengan sistem akar pohon. Simbiosis yang terjadi saling menguntungkan keduanya, karena tanaman dapat mengambil nutrisi tanah dan air melalui jamur. Sementara, jamur ini menggunakan beberapa senyawa karbon yang diproduksi oleh tanaman dari sinar matahari melalui proses fotosintesis terlebih dulu.

BACA JUGA: Jamur Landak, Sporanya Tersimpan dalam Duri-Duri di Tudung

Christiaan Hendrik Persoon  pertama kali mendeskripsikan jamur ini secara ilmiah pada tahun 1801 dengan nama Boletus radicans. Kemudian, di tahun 2014, berdasarkan hasil temuan DNA oleh ahli mikologi Italia Alfredo Vizzini, taksonomi jamur ini berpindah ke genus Caloboletus sehingga namanya menjadi Caloboletus radicans. Jamur ini juga memiliki nama ilmiah sinonim, yakni Boletus radicans Pers, Boletus albidus Roques, atau Boletus pachypus Fr.

Taksonomi jamur Caloboletus radicans atau rooting bolete. Foto: Greeners

Taksonomi jamur Caloboletus radicans atau rooting bolete. Foto: Greeners

Rooting Bolete Menjadi Kebiruan saat Memar

Jamur ini memiliki tudung berukuran lebar 5 hingga 20 cm. Bentuknya tak beraturan dan bercorak abu-abu, berasap, lalu lambat laun menjadi kusam. Sementara, bagian tengah tudungnya cenderung retak saat matang. Daging buahnya yang berwarna kuning pucat akan berubah menjadi biru muda yang akan memudar jika didiamkan.

Di balik tudungnya, terdapat tabung dan pori-pori berwarna kuning yang berubah menjadi kebiruan ketika dipotong atau memar karena tersentuh. Sementara, bagian batangnya dapat tumbuh tinggi berkisar antara 7 sampai 14 cm dengan diameter 3 hingga 5 cm.

Bentuk batangnya bervariasi, mulai dari terlihat membengkak, atau berbentuk silinder dan berbuku-buku di bagian pangkalnya. Batang tersebut berwarna kuning dan tertutupi retikulum halus yang terkadang ada zona kemerahan di bagian pangkalnya.

BACA JUGA: Lactarius deterrimus, Jamur yang Mengeluarkan Lateks Pahit

Spora jamur ini berbentuk subfusiform atau sepeti gelondong, berukuran 10-15 x 4-6μm, dan cetakan sporanya berwarna cokelat zaitun. First Nature melaporkan bahwa terdapat spesies jamur yang memiliki penampilan serupa dengan rooting bolete, namun mereka sebetulnya berbeda.

Jamur Suillellus luridus akan terlihat memiliki tudung yang lebih gelap. Selain itu, berwarna oranye di pangkal batang dan langsung membiru ketika dipotong. Sementara, jamur Rubroboletus satanas memiliki topi putih dan pori-pori oranye atau kemerahan ketika dewasa. Memotong jamur ini akan membuat warnanya biru pucat dan akan kembali memudar menjadi warna pucat aslinya.

Konsumsinya Menyebabkan Gastrointestinal Parah

Jamur ini memiliki rasa pahit yang kuat dan berbau busuk sehingga tak layak konsumsi. Bahkan, suatu penelitian di Swiss menemukan bahwa konsumsi jamur ini dapat menyebabkan gastrointestinal yang parah, muntah berulang, dan diare berdarah.

 

Penulis: Anisa Putri

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/rooting-bolete-jamur-boletaceae-yang-pahit-dan-berbau-busuk/feed/ 0
Beechwood Sickener, Beracun Bagi Manusia Tapi Disukai Siput https://www.greeners.co/flora-fauna/beechwood-sickener-beracun-bagi-manusia-tapi-disukai-siput/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=beechwood-sickener-beracun-bagi-manusia-tapi-disukai-siput https://www.greeners.co/flora-fauna/beechwood-sickener-beracun-bagi-manusia-tapi-disukai-siput/#respond Fri, 18 Aug 2023 03:00:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=41234 Russula mairei atau beechwood sickener ialah jamur beracun yang rapuh dan berwarna merah dari famili Russulaceae. Memiliki beberapa nama sinonim yakni Russula nobilis, Russula fageticola Melzer ex S. Lundell, dan […]]]>

Russula mairei atau beechwood sickener ialah jamur beracun yang rapuh dan berwarna merah dari famili Russulaceae. Memiliki beberapa nama sinonim yakni Russula nobilis, Russula fageticola Melzer ex S. Lundell, dan Russula mairei var. fageticola Romagn.

Pertama kali ahli mikologi Ceko, Josef Velenovský mendeskripsikannya pada tahun 1920 dengan nama Russula nobilis, yang hingga kini juga masih digunakan. Sebelumnya jamur beechwood sickener dikenali sebagai spesies yang sama dengan the sickener (Russula emetica). Namun kini keduanya dianggap spesies yang berbeda.

Rapuh dan Mudah Rusak Ketika Disentuh

Jamur beechwood sickener memiliki tudung berdiameter 3 hingga 9 cm, bertekstur halus, tak bergaris, dan berwarna merah terang atau merah muda. Umumnya tudung tersebut akan tetap cembung hingga tua. Ketika basah, tudungnya terasa lengket jika disentuh dan saat kering warnanya berubah menjadi kusam.

Salah satu ciri khas jamur ini ialah lamellanya yang sangat rapuh dan mudah rusak ketika disentuh. Berwarna putih dan tersusun padat, terkadang dilengkapi dengan semburat kehijauan. Sementara bagian batangnya berdiameter 10 hingga 15 mm dengan tinggi sekitar 20-40 mm.

Batang tersebut berwarna putih halus dan sedikit berbuku-buku, dagingnya berwarna putih, dan tidak memiliki cincin batang. Spora jamur ini berbentuk bulat telur, berukuran 7-8 x 6-6,5µm, dan berwarna putih.

Ektomikoriza di Bawah Pohon Beech

Dapat kita temukan di bawah pohon beech dan merupakan ektomikoriza yang muncul di bulan Agustus hingga November. Umum dan tersebar luas di daratan Eropa, beberapa negara Amerika Utara dan Asia.

Beechwood Sickener Beracun Bagi Manusia

Jamur beechwood sickener terasa pahit dan panas jika dikonsumsi. Selain itu dapat juga menyebabkan keracunan dengan gejala awal mual dan muntah, disertai sakit perut hingga diare. Meskipun begitu keracunan jamur ini tidak fatal, kecuali pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh terganggu dan anak kecil.

Berbagai sumber mengatakan jika memasak jamur ini dengan baik dan benar dapat menghilangkan sebagian racunnya. Namun sebagian besar pihak berwenang masih memperlakukan jamur ini sebagai spesies beracun yang tak boleh manusia konsumsi.

Biarpun rasanya tak enak, banyak serangga menghindari jamur ini, namun tidak berlaku bagi siput! Karena mereka sangat menyukai konsumsi jamur beechwood sickener.

Taksonomi Beechwood Sickener

Penulis : Anisa Putri

Editor : RIK

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/beechwood-sickener-beracun-bagi-manusia-tapi-disukai-siput/feed/ 0
Jack-o’lantern, Jamur Oranye Penyebab Sakit Perut https://www.greeners.co/flora-fauna/jack-olantern-jamur-oranye-penyebab-sakit-perut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jack-olantern-jamur-oranye-penyebab-sakit-perut https://www.greeners.co/flora-fauna/jack-olantern-jamur-oranye-penyebab-sakit-perut/#respond Mon, 05 Jun 2023 03:00:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=40299 Jamur Jack-o’lantern atau Omphalotus illudens merupakan jamur beracun yang dapat memancarkan cahaya di kegelapan. Saat siang hari, jamur ini terlihat mencolok karena berwarna terang, namun ketika malam hari, jamur ini […]]]>

Jamur Jack-o’lantern atau Omphalotus illudens merupakan jamur beracun yang dapat memancarkan cahaya di kegelapan. Saat siang hari, jamur ini terlihat mencolok karena berwarna terang, namun ketika malam hari, jamur ini dapat memancarkan cahaya yang terlihat berwarna hijau dari bagian lamelanya. Berasal dari famili Omphalotaceae yang salah satu kerabatnya ialah jamur Mycetinis alliaceus.

Lewis David von Schweinitz, seorang ahli botani-mikologi Amerika mendeskripsikan jamur ini pertama kali pada tahun 1822 dan memberinya nama Agaricus illudens. Kemudian pada tahun 1979, seorang ahli mikologi Jerman Andreas Bresinsky, mempublikasikan nama yang kita kenal hingga saat ini Omphalotus illudens.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Tudung jamur ini berukuran 3 hingga 20 cm yang semula berbentuk cembung dengan benjolan atau titik di bagian tengahnya. Seiring bertambahnya usia, tudung ini akan berubah bentuk menjadi seperti vas pendek. Teksturnya kering atau berminyak, berwarna oranye terang atau seperti labu, dan umumnya menggulung ketika masih muda.

Sementara itu, bagian lamelanya tersusun di sepanjang batang, berwarna oranye terang hingga oranye pucat, dan bercahaya saat segar. Sedangkan bagian batangnya, berukuran panjang 3-13 cm dengan tebal 1-2 cm yang meruncing ke bagian pangkalnya. Daging jamur ini berwarna oranye pucat dan tidak berubah ketika diiris.

Selain itu, bagian spora jamur ini berukuran 3,5-4,5 µ, berbentuk subglobose, bertekstur halus, dan cetakan spora berwarna putih, krem, atau kuning pucat.

Habitat dan Distribusi Jamur Jack-o’lantern

Jamur Jack-o’lantern biasanya tumbuh dari akar-akar pohon yang membusuk, ataupun pohon yang meranggas, tunggul pohon mati, hingga batang-batang pohon yang tumbang. Jamur ini dikatakan cukup langka ditemukan di Inggris. Sementara itu distribusinya disebut meliputi Eropa bagian tengah dan selatan serta di Amerika Utara dan sebelah timur Pegunungan Rocky.

Penyebab Sakit Perut Berkepanjangan

Jamur ini merupakan jamur payung yang sangat beracun karena mengandung racun muskarin. Jika termakan, jamur ini dapat menyebabkan sakit perut yang berlangsung hingga berhari-hari.

Selain itu, gejala lain yang muncul ialah sakit kepala, berkeringat, mual, kelelahan, muntah, rasa pahit, air liur, dan rasa dingin. Timbulnya gejala biasanya 1-3 jam setelah konsumsi. Sebagian besar pasien sembuh dalam 5-6 hari.

Meskipun sangat beracun, tidak ada laporan fatal kematian dari keracunan jamur ini. Tetapi tetap saja kita harus menghindarinya agar tidak merasakan sakit perut berkepanjangan!

Taksonomi Jamur Jack-o’lantern

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jack-olantern-jamur-oranye-penyebab-sakit-perut/feed/ 0
The Yellow Stainer, Jamur Beracun yang Cepat Terluka Saat Disentuh https://www.greeners.co/flora-fauna/the-yellow-stainer-jamur-beracun-yang-cepat-terluka-saat-disentuh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-yellow-stainer-jamur-beracun-yang-cepat-terluka-saat-disentuh https://www.greeners.co/flora-fauna/the-yellow-stainer-jamur-beracun-yang-cepat-terluka-saat-disentuh/#respond Wed, 24 May 2023 03:00:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=40170 Jamur Agaricus xanthodermus atau yang dikenal juga dengan nama The Yellow Stainer, merupakan salah satu jamur beracun yang membingungkan. Hal ini karena penampilan jamur yellow stainer mirip sekali dengan jamur […]]]>

Jamur Agaricus xanthodermus atau yang dikenal juga dengan nama The Yellow Stainer, merupakan salah satu jamur beracun yang membingungkan. Hal ini karena penampilan jamur yellow stainer mirip sekali dengan jamur dari famili Agaricaceae lainnya. Terutama sangat mirip dengan jamur kompos (A. campestris) dan jamur kuda (A. arvensis) yang merupakan jenis jamur konsumsi.

Ahli botani Prancis, Léon Gaston Genevier, pertama kali mendeskripsikan dan memberi nama ilmiah jamur Agaricus xanthodermus ini pada tahun 1876. Di samping itu, jamur yellow stainer memiliki beberapa nama sinonim, yaitu Psalliota flavescens Richon & Roze, Psalliota xanthoderma (Genev.) Richon & Roze, Agaricus xanthodermus var. lepiotoides Maire, dan lainnya.

Disebut yellow stainer karena tubuh jamur ini akan berubah menjadi warna kuning dengan sangat cepat ketika terluka ataupun tersentuh.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Tudung jamur yellow stainer berbentuk bulat yang datar di bagian atasnya. Berwarna putih hingga keabu-abuan dengan diameter 5-15 cm saat dewasa. Dapat berubah menjadi kuning dengan cepat ketika ketika memar atau luka, kemudian secara bertahap berubah menjadi kecokelatan.

Sementara bagian lamelanya berwarna putih pudar hingga merah muda, dan berubah menjadi abu-abu kecokelatan saat dewasa.

Selain itu, jamur yellow stainer memiliki batang berdiameter 1-2 cm, permukaan halus, serta cincin batang yang berjumbai. Ketika dipotong, daging batangnya berubah menjadi kuning, yang paling terlihat jelas di bagian pangkalnya.

Di samping itu, spora jamur ini berbentuk bulat telur dan bertekstur halus, dengan ukuran 4,5-6,5 x 3,5-5,5μm. Jamur yellow stainer umumnya muncul pada bulan Juni hingga Oktober.

Habitat dan Distribusi

Bersifat saprobik dan umumnya dapat kita temukan di bawah pagar, tepi taman, dan kebun. Biasanya mereka tumbuh dalam kelompok kecil, bahkan tak jarang ditemukan tumbuh sendiri. Distribusinya cukup luas, mereka umum kita temukan di Amerika Utara, Inggris, Irlandia, daratan Eropa lainnya dari Skandinavia utara sampai ke wilayah Mediterania.

Kandungan Jamur The Yellow Stainer

Melansir berbagai sumber, jika mengonsumsi jamur yellow stainer dapat menyebabkan kram perut, mual, muntah, berkeringat, diare, bahkan hingga koma. Meskipun begitu, sebagian orang yang tidak sensitif dapat mengonsumsi jamur ini tanpa merasakan efek apapun.

Selain itu, jamur ini juga mengandung 4,4′-dihydroxy-azobenzene yang dalam dosis tinggi dapat bersifat karsinogenik pada tikus. Namun, pada konsentrasi yang lebih rendah, senyawa azo tidak memiliki efek pemicu tumor.

Taksonomi Jamur The Yellow Stainer

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/the-yellow-stainer-jamur-beracun-yang-cepat-terluka-saat-disentuh/feed/ 0
Jamur Amanita rubescens, Si Ikan Buntal di Dunia Jamur https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-amanita-rubescens-si-ikan-buntal-di-dunia-jamur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-amanita-rubescens-si-ikan-buntal-di-dunia-jamur https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-amanita-rubescens-si-ikan-buntal-di-dunia-jamur/#respond Tue, 09 May 2023 03:00:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39988 Jamur Amanita rubescens dikenal juga dengan sebutan the blusher. Hal ini karena tubuh jamurnya yang memerah ketika memar, terluka, ataupun ketika dipotong. Di samping itu, A. rubescens dianggap sebagai ikan […]]]>

Jamur Amanita rubescens dikenal juga dengan sebutan the blusher. Hal ini karena tubuh jamurnya yang memerah ketika memar, terluka, ataupun ketika dipotong. Di samping itu, A. rubescens dianggap sebagai ikan buntal di dunia jamur. Dapat kita makan, tetapi kesalahan mengolahnya dapat mematikan.

Spesies ini pertama kali Christiaan Hendrik Persoon deskripsikan dan beri nama pada tahun 1797. Berasal dari famili Amanitaceae yang terkenal beranggotakan jamur beracunnya, tetapi ada juga anggotanya yang dapat kita makan.

Di beberapa negara, jamur ini memiliki penyebutan yang berbeda yaitu Eurasian Blusher, Perlpilz (Jerman), Parelamaniet (Belanda), Muchomůrka Růžovka (Republik Ceko), Cuc atau Cuci atau Plopenchi atau Borșgombă (Rumania).

Yang perlu kita perhatikan, jamur blusher memiliki banyak variasi warna mulai dari sangat pucat hampir keputihan bergantung pada kondisi kelembapan dan usia berbuahnya. Polimorfisme warna ini dapat menyebabkan kebingungan dengan spesies jamur Amanita berbahaya lainnya.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Tudung jamur blusher berdiameter sekitar 5 hingga 20 cm ketika mengembang penuh. Umumnya berwarna merah muda kecokelatan, namun sangat bervariasi. Terdapat fragmen berwarna putih pudar atau abu-abu yang tersebar di tudungnya.

Di samping itu, tudung jamur blusher awalnya berbentuk seperti kubah, kemudian menjadi datar saat matang dan terkadang menjadi seperti corong. Ketika bagian daging buahnya rusak, ia akan berubah warna menjadi merah muda atau merah kusam.

Sementara lamelanya berwarna putih dan tersusun cukup rapat. Pada jamur blusher dewasa lamelanya seringkali ditandai dengan adanya bintik-bintik merah muda atau merah berkarat. Ketika tangan memegangnya, lamelanya akan sangat cepat jadi merona merah muda atau merah kusam.

Selain itu, batang jamur blusher berukuran panjang sekitar 7 cm hingga 15 cm dengan diameter 1 hingga 2 cm. Berwarna putih di bagian atas cincin batangnya, sedangkan di bagian bawahnya berwarna cokelat kemerahan. Seiring bertambahnya usia, batang jamur ini menjadi berlubang dan memiliki cincin batang yang menggantung tipis dan rapuh. Sementara bagian volvanya hanya nampak pada jamur yang masih muda.

Di samping itu, spora jamur blusher berbentuk bulat panjang atau bulat telur. Bertekstur halus, berukuran 8-9 x 5-5,5 µm dengan cetakan sporanya berwarna putih. Biasanya jamur ini muncul di bulan Juni hingga Oktober, terkadang juga muncul selama musim dingin hingga akhir Desember.

Habitat dan Distribusi Jamur Amanita rubescens

Jamur blusher merupakan mikoriza yang hidup di pohon kayu keras dan kayu lunak, serta banyak tumbuh di hutan konifer. Umumnya ditemukan tumbuh bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil. Sementara distribusinya tersebar luas di seluruh Inggris dan Irlandia serta di daratan Eropa dan Amerika Utara. Di Afrika Selatan, Amanita rubescens dianggap sebagai spesies yang diintroduksi dan bukan spesies asli.

Kandungan dan Manfaat

Tak seperti kebanyakan jamur genus Amanita lainnya, jamur A. rubescens dapat kita makan jika diolah dengan baik dan benar. Namun, diketahui mengandung racun hemolitik yang memicu terjadinya hemolisis (kerusakan sel darah merah) jika dalam keadaan mentah.

Oleh karena itu dapat menyebabkan anemia jika kita makan secara mentah. Kebanyakan orang menghindari untuk tak mengonsumsi jamur ini sama sekali. Melansir berbagai sumber, jamur ini aman untuk kita makan jika dimasak dalam suhu 80°C agar racunnya hancur.

Taksonomi Jamur Amanita rubescens

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-amanita-rubescens-si-ikan-buntal-di-dunia-jamur/feed/ 0
Fool’s Funnel, Jamur Pasir Pantai yang Memiliki Racun Muskarin https://www.greeners.co/flora-fauna/fools-funnel-jamur-pasir-pantai-yang-memiliki-racun-muskarin/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fools-funnel-jamur-pasir-pantai-yang-memiliki-racun-muskarin https://www.greeners.co/flora-fauna/fools-funnel-jamur-pasir-pantai-yang-memiliki-racun-muskarin/#respond Sat, 06 May 2023 03:18:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39953 Jamur corong bodoh, champignon palsu, atau Fool’s funnel dikenal juga dengan ilmiah Clitocybe rivulosa. Berasal dari famili Tricholomataceae yang beranggotakan lebih dari 100 genus. Jamur dari famili ini umumnya dapat […]]]>

Jamur corong bodoh, champignon palsu, atau Fool’s funnel dikenal juga dengan ilmiah Clitocybe rivulosa. Berasal dari famili Tricholomataceae yang beranggotakan lebih dari 100 genus.

Jamur dari famili ini umumnya dapat dimakan, namun sebagian jenis lainnya dapat beracun dan mematikan contohnya jamur C. rivulosa ini. Berkerabat dengan Tricholoma acerbum (Bitter Knight mushroom), Lepista multiformis, Melanoleuca cinereifolia (Dune Cavalier mushroom), dan lainnya.

Sementara itu, jamur fool’s funnel memiliki beberapa nama sinonim di antaranya Agaricus rivulosus Pers., Agaricus rivulosus var. neptunus Berk. & Broome, Clitocybe dealbata var. minor Cooke, Clitocybe rivulosa var. neptunus (Berk. & Broome) Massee.

Christiaan Hendrik Persoon pertama kali mendeskripsikan jamur ini pada tahun 1801 dengan nama Agaricus rivulosus. Kemudian pada tahun 1871, seorang ahli mikologi memasukkan jamur ini ke dalam genus Clitocybe, dan menetapkan nama ilmiahnya yang dikenal hingga saat ini.

Nama genus Clitocybe berarti kepala miring, sedangkan rivulosa berasal dari kata latin yang artinya saluran, sungai, atau aliran. Hal ini mengacu pada saluran samar atau tonjolan melingkar yang terbentuk pada tudung jamur dewasanya.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Tudung jamur fool’s funnel berbentuk cembung dengan lebar 1 cm hingga 6 cm. Tepiannya rata namun terkadang juga bergelombang dan tergulung. Terkadang juga terbentuk corong yang dangkal di bagian tengahnya. Tekstur permukaannya halus serta bertepung atau seperti sutra saat kering. Warna tudungnya putih dan umumnya terdapat semburat warna putih seiring bertambahnya usia.

Selain itu, seiring bertambahnya usia akan muncul cincin konsentris samar pada permukaan tudungnya. Namun saat cuaca sangat kering cincin konsentris tersebut akan retak.

Lamellanya sedikit menurun, tersusun padat dan berwarna putih. Seiring bertambahnya usia, lamellanya akan berubah warna menjadi merah muda ke abu-abuan. Sementara batangnya berukuran panjang 3 cm hingga 4 cm dengan diameter 0,4-1 cm.

Sama seperti tudungnya, batang jamur ini bertekstur halus dan bertepung berwarna putih. Selain itu, terdapat juga bulu halus pada bagian pangkalnya, serta tidak ada cincin batang.

Spora jamur fool’s funnel berbentuk ellips, bertekstur halus, dengan ukuran 4-5,5 x 2-4,5 μm, dan cetakan spora berwarna putih. Melansir berbagai sumber, jamur ini berbau manis namun jangan sekali-sekali mencicipi rasanya karena jamur ini beracun.

Jamur C. rivulosa dan C. dealbata secara umum dianggap meragukan untuk dikatakan sebagai dua spesies yang berbeda. Hal ini karena secara makroskopis maupun mikroskopis perbedaan karakter fisik yang ada sangatlah minim.

Oleh karena itu, sebagian besar pihak berwenang menganggap kedua spesies ini sebagai nama sinonim. Namun, sebagian yang lainnya menganggap kedua spesies ini berbeda terutama di habitatnya. Jamur C. rivulosa berada di padang rumput berpasir seperti perbukitan sekitar pantai. Sedangkan jamur C. dealbata ada di padang rumput yang kaya tanah humus.

Habitat dan Distribusi

Jamur fool’s funnel umumnya ditemukan di padang rumput yang tak terawat, tepi jalan dan taman, serta tumpukan pasir tepi pantai atau perbukitan pasir dekat pantai. Jamur ini tersebar luas di Inggris dan Irlandia, tapi ada juga di sebagian besar daratan Eropa dan Amerika Utara.

Racun Jamur Fool’s Funnel

Melansir berbagai sumber, jamur fool’s funnel merupakan spesies jamur beracun yang mengandung racun muskarin. Jamur ini umumnya muncul pada tempat di mana kebanyakan orang berharap menemukan jamur yang dapat dimakan. Hal inilah yang membuat jamur ini menjadi sangat berbahaya karena dapat mengelabui kita.

Gejala keracunan akibat mengonsumsi jamur ini ialah munculnya air liur dan keringat berlebih dalam waktu 30 menit setelah konsumsi. Kemudian muncul gejala lanjutan seperti sakit perut, mual dan diare, bersama dengan penglihatan yang kabur dan kesulitan bernapas.

Namun, jarang dilaporkan adanya kasus kematian akibat keracunan jamur ini. Tetapi berhati-hati dan menghindari konsumsi jamur ini tentu lebih baik bagi kita.

Taksonomi Fool’s Funnel

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/fools-funnel-jamur-pasir-pantai-yang-memiliki-racun-muskarin/feed/ 0
Panther Cap, Jamur Beracun yang Dapat Menyebabkan Koma https://www.greeners.co/flora-fauna/panther-cap-jamur-beracun-yang-dapat-menyebabkan-koma/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=panther-cap-jamur-beracun-yang-dapat-menyebabkan-koma https://www.greeners.co/flora-fauna/panther-cap-jamur-beracun-yang-dapat-menyebabkan-koma/#respond Mon, 24 Apr 2023 03:00:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39812 Menarik dipandang namun mematikan, itulah jamur Panther cap (Amanita pantherina) yang memiliki racun mirip dengan jamur Fly Agaric, A. muscaria. Berasal dari famili Amanitaceae dan berkerabat dengan A. phalloides, A. […]]]>

Menarik dipandang namun mematikan, itulah jamur Panther cap (Amanita pantherina) yang memiliki racun mirip dengan jamur Fly Agaric, A. muscaria. Berasal dari famili Amanitaceae dan berkerabat dengan A. phalloides, A. caesarea, dan lainnya.

Panther cap terlihat begitu mirip dengan kerabatnya Amanita excelsa var. spissa. Fragmen seperti bercak pada tudung jamur A. excelsa berwarna abu-abu, sedangkan pada jamur Panther cap berwarna putih bersih.

Penamaan spesies pantherina mengacu pada tampilan bintik-bintik cokelat dan putih pada tudungnya yang terlihat mirip seperti corak pada macan kumbang. Sementara itu, jamur Panther cap pertama kali ahli mikologi dari Swiss, Augustin Pyramis De Candolle deskripsikan pada tahun 1815 dengan nama Agaricus pantherinus. Kemudian pada tahun 1871, Paul Kummer ahli mikologi Jerman, memindahkan Panther cap ke dalam genus yang saat ini, yaitu Amanita.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Tudung jamur Panther cap berdiameter 5 hingga 12 cm, berwarna cokelat terang atau abu-abu kecokelatan yang mengkilap saat basah. Tepiannya bergaris sangat halus, bentuk awal tudungnya seperti lonceng, kemudian berubah menjadi datar seiring matangnya tubuh buah.

Sisa-sisa bercak berwarna putih bersih biasanya tersebar merata di atas permukaan tudung. Daging jamur ini berwarna putih tidak berubah ketika dipotong.

Selain itu, terdapat lamella yang berwarna putih dan tersusun padat. Batang jamur ini berukuran panjang sekitar 6 hingga 12 cm dengan diameter 0,6-2 cm. berwarna putih bersih dengan terdapat bagian seperti cincin yang menggantung, berubah menjadi tipis dan rapuh seiring pertumbuhannya. 

Selain itu, terdapat juga volva pada pangkal batangnya. Spora jamur ini berukuran 8-12 x 6,7-7,5µm berbentuk bulat telur dan bertekstur halus dengan cetakan spora berwarna putih.

Habitat dan Morfologi

Jamur ini umum tumbuh di hutan campuran dan umumnya muncul dekat pohon pinus dan cemara, tapi pernah juga ada temuan jamur ini pada pohon kayu keras lainnya. Tumbuh sendiri ataupun berkelompok saat musim dingin dan musim gugur. Distribusinya meliputi Eropa Selatan, Pantai Barat dari California hingga Pasifik Barat Laut, dan barat daya Pegunungan Rocky.

Racun Jamur Panther Cap

Melansir berbagai sumber, jamur Panther cap diketahui mengandung asam ibotenat, senyawa kimia psikoaktif muscimol, muskazon dan muscarin. Senyawa asam ibotenat menghasilkan efek rangsangan pada sistem saraf pusat, sementara muscimol menghasilkan efek penghambatan.

Jamur ini biasanya memberikan efek samping koma pada korban. Hal ini menunjukkan bahwa jamur ini mengandung banyak muscimol yang menekan sistem saraf parasimpatis. Di samping itu, gejala keracunan akan muncul saat 30-180 menit setelah konsumsi dan puncaknya muncul pada 2 hingga 5 jam setelah konsumsi.

Gejala yang muncul di antaranya, muntah, kejang, histeria bergantian, delirium dan kelesuan atau koma berlangsung selama beberapa jam. Pemulihan biasanya terjadi dalam waktu 4 hingga 12 jam setelah gejala pertama, dan membutuhkan waktu lebih lama apabila mengonsumsi lebih banyak. Meskipun begitu, kematian akibat keracunan jamur ini jarang terjadi.

Taksonomi Panther Cap

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/panther-cap-jamur-beracun-yang-dapat-menyebabkan-koma/feed/ 0
Western Destroying Angel, Jamur Mematikan dari California https://www.greeners.co/flora-fauna/western-destroying-angel-jamur-mematikan-dari-california/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=western-destroying-angel-jamur-mematikan-dari-california https://www.greeners.co/flora-fauna/western-destroying-angel-jamur-mematikan-dari-california/#respond Fri, 21 Apr 2023 03:00:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39775 Jamur Amanita ocreata atau Western Destroying Angel merupakan jamur beracun mematikan dari California. Termasuk dalam famili Amanitaceae dan berkerabat dengan destroying angel dari Eropa (A. virosa), death angel (A. bisporigera), […]]]>

Jamur Amanita ocreata atau Western Destroying Angel merupakan jamur beracun mematikan dari California.

Termasuk dalam famili Amanitaceae dan berkerabat dengan destroying angel dari Eropa (A. virosa), death angel (A. bisporigera), fly amanita (A. muscaria), dan lainnya. Selain itu, jamur A. ocreata juga memiliki nama sinonim, yakni Amanita bivolvata Peck.

C. H. Peck pertama kali mendeskripsikan jamur A. ocreata pada tahun 1990 berdasarkan spesimen jamur yang ia terima dari Claremont, California. Jamur ini memiliki kemiripan morfologi dengan jamur yang dapat dimakan, A. velosa, A. lanei, atau Volvariella speciosa. Hal ini tentu cukup berbahaya, karena dapat meningkatkan potensi terjadinya keracunan yang tidak disengaja.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Tudung jamur A. ocreata berukuran lebar 5 hingga 13 cm berbentuk cembung dengan tepiannya yang melengkung. Sering kali saat jamur sudah matang tepiannya menjadi rata dan tidak bercorak.

Permukaan tudungnya lengket ketika lembap dan sedikit licin ketika kita sentuh. Berwarna pucat krem, terkadang juga berwarna merah muda. Selain itu, terkadang juga terdapat bercak samar dan sangat tipis, bahkan sering kali tidak ada sama sekali. Dagingnya tebal dan berwarna putih dengan tekstur sedikit keras. Ketika ditetesi larutan KOH tudung jamur ini akan bereaksi dengan menguning.

Lamelanya berwarna putih krem, saling menempel ketika masih muda dan akan melebar ketika sudah dewasa. Sementara itu, tangkainya berukuran panjang sekitar 10-22 cm dengan ketebalan 1,5-3 cm. Berbentuk bulat, terisi padat saat dewasa, berwarna putih, bersisik halus. Sedangkan volvanya berselaput tipis berwarna putih, berbentuk seperti kantung, tegak atau pipih pada pangkal batang.

Di samping itu, spora jamur A. ocreata berbentuk subglobose hingga lonjong dengan ukuran 9-12,5 x 7-9 µm, bertekstur halus, dindingnya tipis, dan cetakan sporanya berwarna putih. Sementara itu, periode tumbuh jamur ini jauh lebih lambat dari periode tumbuh jamur genus Amanita lainnya.

Habitat dan Distribusi Western Destroying Angel

Jamur ini biasanya tumbuh soliter atau berkelompok dekat pohon oak (Quercus agrifolia). Biasa muncul saat akhir musim dingin hingga musim semi atau sekitar bulan Januari hingga April. Umumnya berada di hutan pantai dan kaki bukit Pegunungan Sierra Nevada. Distribusi jamur ini ada secara pasti mulai dari San Diego County hingga San Francisco County di California.

Kandungan Racun dan Efek Samping

Jamur A. ocreata merupakan salah satu yang paling beracun dari semua jamur payung yang awam kenal dan bertanggung jawab atas sejumlah kasus keracunan di California. Jamur ini mengandung α-amanitin, yang dapat merusak hati dan ginjal bahkan seringkali berakibat fatal hingga kematian. Serta belum ahli temukan penawar dari racunnya.

Gejala awal keracunan jamur ini gangguan pencernaan dan termasuk sakit perut kolik, diare, dan muntah. Gejala-gejala ini akan mereda sementara setelah 2-3 hari, meskipun kerusakan organ dalam yang berkelanjutan selama masa ini sering kali tetap terjadi.

Kemudian gejala seperti penyakit kuning, diare, mengigau, kejang, dan koma dapat terjadi hingga berujung pada kematian akibat gagal hati di hari ke 6-16 setelah konsumsi jamur ini.

Taksonomi Western Destroying Angel

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/western-destroying-angel-jamur-mematikan-dari-california/feed/ 0
Jamur Amanita virosa, Destroying Angel dari Eropa https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-amanita-virosa-destroying-angel-dari-eropa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-amanita-virosa-destroying-angel-dari-eropa https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-amanita-virosa-destroying-angel-dari-eropa/#respond Sat, 15 Apr 2023 03:06:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39698 Jamur Amanita virosa dikenal juga dengan nama destroying angel atau death angel merupakan jamur beracun dari Eropa. Termasuk dalam famili Amanitaceae dan berkerabat dengan A. bisporigera, A. muscaria, A. ocreata, […]]]>

Jamur Amanita virosa dikenal juga dengan nama destroying angel atau death angel merupakan jamur beracun dari Eropa. Termasuk dalam famili Amanitaceae dan berkerabat dengan A. bisporigera, A. muscaria, A. ocreata, yang termasuk jamur paling mematikan.

Spesies jamur ini pertama kali Elias Magnus Fries dari Swedia deskripsikan. Ia memberinya nama Agaricus virosus. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, taksonomi dan nama latin jamur ini berubah menjadi Amanita virosa (yang saat ini kita kenal) sejak adanya publikasi pada tahun 1836 oleh ahli statistik Prancis Louis-Adolphe Bertillon (1821 – 1883).

Jamur A. virosa terlihat sangat mirip dengan kerabatnya fool’s mushroom (A. verna), yang biasa muncul di musim semi. Kedua jamur ini hampir tidak bisa dibedakan jika hanya melihat secara makro dan mikroskopis.

Namun, akan mudah terlihat berbeda jika menggunakan pengujian kimiawi, karena fool’s mushroom tidak bereaksi dengan kalium hidroksida (KOH), sementara daging A. virosa langsung berubah menjadi kuning.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Tudung jamur A. virosa berdiameter 5 hingga 10 cm dan berwarna putih bersih tanpa garis-garis pada tepiannya. Pada awalnya tudung jamur ini berbentuk seperti telur yang kemudian berubah menjadi seperti lonceng. Lamelanya berwarna putih, sporanya berbentuk bulat berdiameter 7-8μm dengan cetakan sporanya berwarna putih.

Batang jamur ini tingginya berkisar antara 9 hingga 15 cm dengan diameter 0,6-2 cm. sering kali bentuknya agak melengkung, berwarna putih bersih serta berserat. Bagian volva jamur ini biasanya terkubur dalam tanah. Jamur A. virosa biasa muncul di Eropa pada bulan Juli, Agustus dan September.

Habitat dan Distribusi

Jamur ini dapat kita temukan di hutan konifer pada kayu oak ataupun kayu keras lainnya. Mereka biasa tumbuh individual ataupun dalam kelompok kecil. Jamur ini jarang ada pada dataran rendah, mereka lebih banyak tumbuh di daerah pegunungan di Inggris dan Irlandia. Tetapi tidak jarang juga berada pada dataran rendah di Skotlandia Utara.

Kandungan Jamur Amanita virosa

Beberapa racun yang ada dalam genus Amanita adalah amatoksin, falotoksin, dan virotoksin. Jamur A. virosa mengandung racun amatoksin dan virotoksin. Racun amatoksin juga terkandung pada jamur dari genus Galerina, Lepiota dan Conocybe.

Jurnal Toxicology Reports menyebutkan temuan racun phallotoxin pada A. virosa untuk pertama kalinya pada tahun 1974. Ketika jamur ini tertelan, ada periode jeda setelah gejala awal yang dapat membuai pasien ke dalam rasa aman yang salah, percaya bahwa bahaya telah berlalu.

Racun amatoksin menyebabkan gangguan pencernaan dengan gejala-gejala seperti diare, mual dan sakit perut yang muncul dalam waktu lima hingga dua belas jam. Sebuah studi menunjukkan jamur A. virosa adalah penyebab paling umum dari keracunan jamur di Iran.

Penanganan keracunan ini bersifat suportif, meskipun berbagai terapi spesifik telah digunakan, namun masih rendah untuk mengurangi risiko kesakitan dan kematian. Oleh karena itu, pencegahan sangat penting dan terutama informasi dan pendidikan yang tepat pada masyarakat.

Taksonomi Amanita virosa

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-amanita-virosa-destroying-angel-dari-eropa/feed/ 0
Amanita bisporigera, Jamur Mematikan dari Amerika Utara https://www.greeners.co/flora-fauna/amanita-bisporigera-jamur-mematikan-dari-amerika-utara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=amanita-bisporigera-jamur-mematikan-dari-amerika-utara https://www.greeners.co/flora-fauna/amanita-bisporigera-jamur-mematikan-dari-amerika-utara/#respond Tue, 28 Mar 2023 03:00:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39488 Jamur Amanita bisporigera dikenal juga dengan nama Destroying Angel atau Death Angel. Merupakan jenis jamur beracun dari famili Amanitaceae yang terkenal beranggotakan banyak genus jamur beracun bagi manusia. Penamaanya berdasarkan […]]]>

Jamur Amanita bisporigera dikenal juga dengan nama Destroying Angel atau Death Angel. Merupakan jenis jamur beracun dari famili Amanitaceae yang terkenal beranggotakan banyak genus jamur beracun bagi manusia.

Penamaanya berdasarkan penampilannya yang terlihat biasa saja namun memiliki racun yang mematikan. Namun, nama Destroying Angel atau Death Angel tidak hanya dimiliki oleh jamur ini saja, tetapi juga pada jamur A. virosa dan A. verna di Amerika Utara bagian timur dan A. ocreata di Amerika Utara bagian barat.

Jamur Destroying Angel berkerabat dengan jamur death cap (Amanita phalloides), Jackson’s Slender (Amanita jacksonii), dan Fly agaric (Amanita muscaria).

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Jamur ini memiliki tampilan yang mencolok berwarna putih bersih di seluruh tubuhnya. Tudung jamur ini hampir terlihat tidak pernah memiliki bercak atau benjolan yang tumbuh. Tudungnya berukuran 2,5-10 cm dengan agak lonjong, sedikit cembung seperti lonceng.

Teksturnya kering atau sedikit lengket berwarna putih pekat atau putih gading. Seiring bertambahnya usia, warna jamur ini juga sedikit berubah menjadi agak kuning atau merah muda.

Selain itu, panjang batangnya berkisar antara 5,5-14 cm dengan tebal 0,5-2 cm. Jamur ini umumnya berbentuk meruncing ke ujung dan melebar pada bagian pangkalnya. Terdapat volva atau sisa pembungkus yang pada dasar batang yang berwarna putih. Bagian daging jamur ini ketika dibelah juga berwarna putih. Sporanya berukuran 7-10 x 6-9 µ berbentuk subglobose atau elips.

Sementara itu, jamur A. bisporigera tidak memiliki aroma khas ketika masih muda. Namun seiring bertambahnya usia akan muncul aroma busuk seperti daging busuk. Mengutip dari berbagai sumber, jamur A. bisporigera dapat dibedakan dari jenis jamur destroying angel lainnya berdasarkan basidianya yang bercabang dua, sporanya berbentuk bundar, serta reaksi munculnya warna kuning pada tudungnya ketika ditetesi zat kimia KOH.

Habitat dan Distribusi

Jamur A. bisporigera bersimbiosis dengan pohon ek, tetapi dapat tumbuh juga di atas batang kayu yang lain. Dapat kita temukan pada musim panas dan musim gugur. Jamur Destroying Angel telah terdistribusi secara luas dan paling banyak ditemukan di Amerika Utara bagian timur.

Kandungan Jamur Amanita bisporigera

Jamur ini mengandung amatoksin, yakni racun yang sangat kuat, kerapkali menimbulkan efek gagal fungsi hati pada korbannya. Efek racun yang muncul setelah mengonsumsi jamur ini tidak langsung muncul. Hal ini menyebabkan orang yang memakannya merasa aman (palsu).

Kasus keracunan akibat makan jamur ini pertama kali dilaporkan terjadi pada tahun 1957 di Meksiko. Dari ke tiga anggota keluarga yang memakan jamur ini, hanya satu orang yang selamat. Keracunan jamur ini ditandai dengan beberapa tahapan yang berbeda.

Tahap inkubasi, berlangsung sekitar 6-12 jam setelah konsumsi, tahapan ini belum muncul gejala apapun. Selanjutnya tahap gastrointestinal sekitar 6-16 jam setelah konsumsi, mulai muncul rasa sakit perut, muntah-muntah, hingga diare selama 24 jam.

Hal ini menyebabkan terjadinya dehidrasi parah, ketidakseimbangan elektrolit, dan syok. Gejala awal ini mungkin terkait dengan racun lain seperti phalloidin.

Kemudian tahap sitotoksik, sekitar 24-48 jam setelah konsumsi, mulai muncul tanda-tanda kerusakan hati seperti penyakit kuning, hipoglikemia, asidosis, dan perdarahan. Akhirnya, terjadi peningkatan kadar protrombin dan kadar amonia dalam darah, serta muncul tanda-tanda gagal ginjal.

Taksonomi Amanita bisporigera

 

Penulis: Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/amanita-bisporigera-jamur-mematikan-dari-amerika-utara/feed/ 0
Jamur Plantpot Dapperling, Beracun Tapi Sediakan Unsur Hara https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-plantpot-dapperling-berfungsi-sebagai-indikator-tanaman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-plantpot-dapperling-berfungsi-sebagai-indikator-tanaman https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-plantpot-dapperling-berfungsi-sebagai-indikator-tanaman/#respond Fri, 17 Feb 2023 03:00:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39006 Plantpot dapperling (Leucocoprinus birnbaumii) merupakan salah satu jenis jamur beracun dari famili Agaricaceae. Spesies jamur insang ini biasa tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Uniknya, di daerah seperti Amerika Utara, […]]]>

Plantpot dapperling (Leucocoprinus birnbaumii) merupakan salah satu jenis jamur beracun dari famili Agaricaceae. Spesies jamur insang ini biasa tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Uniknya, di daerah seperti Amerika Utara, Eropa dan Australia jamur ini kerap ditemukan di rumah kaca dan pot tanaman dibanding di alam liar.

Meski jamur ini mengandung racun, tapi bermanfaat baik untuk tanaman. Jamur ini berfungsi sebagai indikator yang membantu memastikan tanaman tetap sehat.

Spesies ini pertama kali dideskripsikan sebagai Agaricus luteus pada tahun 1788 oleh ahli mikologi Inggris James Bolton. Istilah Agaricus dan luteus berasal dari bahasa Latin yakni kuning atau kuning-oranye. Ini mengacu pada tekstur jamur yang lembut berwarna kuning-oranye dan bersisik.

Selanjutnya ahli mikologi Prancis Marcel Locquin mengklasifikasinya sebagai Leucocoprinus luteus pada tahun 1945. Kemudian ahli mikologi Jerman Rolf Singer mengklasifikasi ulang sebagai Leucocoprinus birnbaumii pada tahun 1962.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum Plantpot Dapperling

Salah satu ciri jamur ini yang tidak sering dideskripsikan tetapi sering terlihat adalah sklerotia di antara miselium di permukaan tanah. Ini merupakan ciri yang tak biasa di antara anggota Agaricales.

Tubuh buah jamur ini berbentuk agaricoid dan muncul sendiri-sendiri atau dalam rumpun kecil.

Tudung

Lebarnya mencapai 2 hingga 7,5 sentimeter saat dewasa dengan bentuk mulai dari bulat hingga silindris sebelum menjadi hemisferis atau kerucut dan mendatar. Permukaannya berwarna kuning oranye hingga kuning belerang halus dengan sisik berserat kasar.

Bagian sisiknya berwarna kuning tua atau kecoklatan sering bertambahnya usia. Daging tudungnya keras saat masih muda tapi menjadi lebih lembut seiring pertambahan usia.

Insang

Berwarna kuning belerang dengan lebar hingga 4 milimeter. Seiring pertambahan usia, insang mungkin menonjol di tengah (ventrikel) dan ujungnya bisa berjumbai.

Batang

Panjangnya 2,5 hingga 9 sentimeter dan tebalnya 2 hingga 6 milimeter di bagian atas dan meruncing ke pangkal berbentuk bulat dengan tebal 4 hingga 15 milimeter. Bagian dalamnya berlubang tetapi bernas dengan warna putih mengkilap.

Spora

Ellipsoid sampai amygdaliform. Kisaran ukuran rata-rata adalah 7,7-10,5 x 5,9-7,3 μm. Saat kering, jamur dapat berubah warna menjadi cokelat serupa tudung jamur yang gagal tumbuh.

Habitat dan Distribusi Penyebaran 

Seperti semua spesies Leucocoprinus, spesies ini merupakan saprotrof yang hidup dari bahan tanaman yang sudah sangat busuk (humus atau kompos). Jamur ini umumnya tumbuh di seluruh daerah tropis dan subtropis, meluas ke bagian yang lebih hangat dari zona beriklim sedang. 

Manfaat dan Kegunaan Plantpot Dapperling

Spesies ini merupakan jamur beracun menyebabkan sakit perut karena mekanisme racunnya memicu iritasi gastrointestinal. North Carolina State University mengklasifikasikan spesies tersebut memiliki karakteristik racun tingkat sedang. Sementara University of Massachusetts Amherst menyebut bahwa tingkat toksisitasnya tak diketahui.

Namun, cendawan ini dapat meningkatkan kualitas tanaman. Karena, mereka dapat membantu memecah bahan organik dan menyediakan unsur hara. Akan tetapi, jika jamur muncul secara teratur, menjadi tanda bahwa tanah terlalu lembab dan tanaman mungkin terlalu banyak disiram.

Kondisi kelembaban yang tinggi ini dapat mengundang sejumlah spesies jamur dan kapang lain yang dapat merusak tanaman. Dalam hal ini L. birnbaumii dapat berfungsi sebagai indikator yang berguna untuk membantu memastikan tanaman tetap sehat.

Taksonomi Plantpot Dapperling (Leucocoprinus birnbaumii)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-plantpot-dapperling-berfungsi-sebagai-indikator-tanaman/feed/ 0
Jamur White Coral, Serupa Karang Putih yang Bisa Dimakan https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-white-coral-serupa-karang-putih-yang-bisa-dimakan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-white-coral-serupa-karang-putih-yang-bisa-dimakan https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-white-coral-serupa-karang-putih-yang-bisa-dimakan/#respond Tue, 14 Feb 2023 03:00:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38978 Jamur white coral (Ramariopsis kunzei) merupakan spesies jamur karang dari famili Clavariaceae dan genus Ramariopsis. Seperti halnya namanya, bentuknya menyerupai karang putih di laut. Spesies ini pertama kali dideskripsikan sebagai […]]]>

Jamur white coral (Ramariopsis kunzei) merupakan spesies jamur karang dari famili Clavariaceae dan genus Ramariopsis. Seperti halnya namanya, bentuknya menyerupai karang putih di laut.

Spesies ini pertama kali dideskripsikan sebagai Clavaria kunzei oleh ahli mikologi perintis Elias Magnus Fries pada tahun 1821. Lalu, EJH Corner memindahkan spesies tersebut ke Ramariopsis pada tahun 1950. Meski bernama white coral, jamur ini bisa kita makan tanpa rasa dan bau yang khas.

Morfologi dan Ciri-Ciri Umum 

Badan buahnya biasanya mencapai 8 sentimeter dan lebar 6 sentimeter dengan banyak cabang yang berasal dari batang pendek yang belum sempurna. Spesimen yang lebih tua memiliki semburat berwarna merah muda.

Menariknya, bagian cabang-cabangnya bertekstur halus, berwarna putih, dan biasanya ujungnya berwarna kekuningan. Tak seperti spesies jamur karang lain seperti Clavulina cristata, ujung jamur ini tumpul tak berjambul. Tebal cabangnya yakni 1 hingga 5 milimeter.

Saat terkena benturan, jamur ini tidak mengalami perubahan warna sedikitpun. Namun, larutan 10 % FeSO4 yang dioleskan ke daging akan mengubahnya menjadi hijau.

Sementara sporanya berwarna putih. Namun, saat kita lihat dengan mikroskop cahaya, sporanya tembus cahaya dan memiliki bentuk ellipsoid hingga bulat dengan duri di permukaannya. Spora bersifat non-amiloid, artinya tidak menyerap yodium saat diwarnai dengan reagen Melzer.

Habitat dan Distribusi Penyebaran Jamur White Coral

Spesies ini dianggap saprobik dan tumbuh di tanah, atau jarang di kayu yang lapuk. Mereka biasa tumbuh sendiri atau berkelompok.

Di Eropa, R. kunzei terkumpul di Skotlandia (khususnya, di Pulau Arran, Gigha dan Semenanjung Kintyre), Belanda, Norwegia, bekas Cekoslowakia, Jerman, Polandia, dan Rusia (Pegunungan Zhiguli).

Mereka juga ada di China, India, Iran, Kepulauan Solomon, dan Australia. Di Amerika Utara, distribusi meluas ke utara ke Kanada, dan termasuk Amerika Serikat (termasuk Hawaii dan Puerto Rico).

Spesies Mirip dengan Jamur White Coral

Meski bernama jamur karang, tapi daging jamur ini dapat kita makan, tapi tanpa rasa. Konon, bau dan rasanya memang tidak khas. Spesies lain yang mirip dengan jamur ini yakni Clavulina cristata, sama-sama bisa kita makan. Lalu ada spesies Tremellodendron pallidum yang juga dapat kita makan, memiliki cabang berwarna keputihan, keras, bertulang rawan dengan ujung tumpul.

Morfologi R. kunzei mirip dengan Ramariopsis lentofragilis tapi Ramariopsis lentofragilis beracun. Bahkan, menyebabkan sakit perut yang parah, kelemahan umum, dan nyeri di bawah tulang dada.

Taksonomi Jamur White Coral (Ramariopsis kunzei)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-white-coral-serupa-karang-putih-yang-bisa-dimakan/feed/ 0
Star Fibrecap, Jamur Beracun yang Bisa Berakibat Fatal  https://www.greeners.co/flora-fauna/star-fibrecap-jamur-beracun-yang-bisa-berakibat-fatal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=star-fibrecap-jamur-beracun-yang-bisa-berakibat-fatal https://www.greeners.co/flora-fauna/star-fibrecap-jamur-beracun-yang-bisa-berakibat-fatal/#respond Fri, 27 Jan 2023 03:04:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38768 Jamur bisa jadi berguna untuk bahan pangan. Namun, bisa juga beracun hingga menyebabkan kematian. Seperti halnya Star Fibrecap atau Inocybe asterospora.  Nama binomial Inocybe asterospora berasal dari ahli mikologi Prancis, […]]]>

Jamur bisa jadi berguna untuk bahan pangan. Namun, bisa juga beracun hingga menyebabkan kematian. Seperti halnya Star Fibrecap atau Inocybe asterospora. 

Nama binomial Inocybe asterospora berasal dari ahli mikologi Prancis, Lucien Quelet dalam Volume 26 Jurnal Bulletin de la Société mycologique de France pada tahun 1879. 

Julukan khusus yakni Star Fibrecap berasal dari kata Latin, astrum berarti bintang, konstelasi, bintang dan kata Yunani Kuno σπόρος berarti biji, biji-bijian. Ini karena penampakan luar spora jamur. 

Morfologi dan Ciri-Ciri Umum 

Tudung

Jamur ini memiliki tudung yang kuat dan berserat berdiameter 3 hingga 6 sentimeter. Bentuknya kerucut dengan lonceng yang menonjol dan secara bertahap menjadi rata seiring usianya. 

Pada bagian ini berwarna cokelat muda. Sedangkan pada bagian tengah lebih gelap dan semakin terang pada bagian tepi. Namun, sering kali juga muncul dua warna, karena daging tudungnya yang tembus pandang.

Lamellae

Agak tipis dan padat, serta bulat lemah. Warna awalnya abu-abu pucat hingga zaitun muda. Pada usia tua warnanya berubah menjadi abu-abu kecokelatan dengan tepi keputihan. Ia juga akan berubah menjadi cokelat kemerahan setelah ditekan.

Tangkai

Berserat dengan tinggi mencapai 5 hingga 8 sentimeter dan tebal 0,5-0,8 sentimeter. Berbentuk silinder, penuh, tanpa cincin. 

Warnanya cokelat pucat atau cokelat kemerahan. Lebih gelap ke arah pangkal, dan semakin merah muda pada bagian ujung. Kadang-kadang bahkan cokelat kemerahan seluruhnya.

Habitat dan Distribusi Persebaran

Keluarga Inocybaceae ini merupakan spesies jamur payung beracun dan tersebar luas di dunia. Di Rumania, Bessarabia dan Bucovina Utara, mereka tumbuh berkelompok di tanah berkapur di hutan gugur.

Biasanya mereka tumbuh di dataran hingga pegunungan pada bulan Juli hingga November. 

Kandungan Star Fibrecap 

Spesies ini tinggi akan muscarine. Jamur ini bukan sebagai bahan makanan karena bisa berakibat fatal. Namun, bau dan rasanya yang tak sedap mampu mengurungkan niat kita untuk memakannya. 

Di Taiwan sempat ada tiga kasus keracunan jamur ini dan berakibat fatal. Karena sifatnya yang sangat beracun maka sangat tidak disarankan untuk memetik, mencicipi atau memakan jamur ini.

Taksonomi Star Fibrecap (Inocybe asterospora)

Penulis: Ramadani Wahyu 

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/star-fibrecap-jamur-beracun-yang-bisa-berakibat-fatal/feed/ 0
Sulphur Tuft, Jamur Beracun yang Hidup Bergerombol https://www.greeners.co/flora-fauna/sulphur-tuft-jamur-beracun-yang-hidup-bergerombol/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sulphur-tuft-jamur-beracun-yang-hidup-bergerombol https://www.greeners.co/flora-fauna/sulphur-tuft-jamur-beracun-yang-hidup-bergerombol/#respond Sat, 14 Jan 2023 03:00:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38597 Hypholoma fasciculare atau umumnya dikenal sebagai Sulphur Tuft merupakan jamur hutan berkelompok. Seperti halnya namanya, jamur beracun ini memiliki warna kuning belerang dan tumbuh saat musim gugur dan semi. Muasal […]]]>

Hypholoma fasciculare atau umumnya dikenal sebagai Sulphur Tuft merupakan jamur hutan berkelompok. Seperti halnya namanya, jamur beracun ini memiliki warna kuning belerang dan tumbuh saat musim gugur dan semi.

Muasal nama spesifiknya berasal dari bahasa Latin fascicularis yang berarti ‘dalam bundel’ atau ‘berkerumun’. Ini mengacu pada kebiasaannya yang tumbuh berkelompok. Namanya dalam bahasa Jepang adalah Nigakuritake berarti ‘kuritake pahit’.

Morfologi dan Ciri-Ciri Umum 

Berkatup setengah bola dengan diameter 2 hingga 6 sentimeter, jamur ini memiliki warna halus kuning belerang. Pada bagian tengah berwarna jingga-cokelat dan pinggiran keputihan.

Bagian insang yang sedianya berwarna kuning perlahan menjadi gelap berwarna hijau yang khas. Sebab, spora kehitaman berkembang pada bagian ini.

Sementara bagian cetakan sporanya berwarna ungu kecokelatan. Tangkainya memiliki panjang 3-10 sentimeter dengan lebar 4-10 milimeter, berwarna kuning muda dan orange cokelat di bagian bawah.

Sekilas, spesies ini serupa dengan Capnoides Hypholoma tapi tak memiliki insang kuning kehijauan dan rasa pahit. Spesies lain yang serupa dengan Sulphur Tuft yaitu H. sublateritium dengan tudung berwarna kemerahan.

Habitat dan Distribusi

Sulphur Tuft tumbuh subur di kayu mati dari pohon gugur dan pohon jenis konifera. Mereka kerap berada pada kayu gugur yang busuk karena kandungan ligninnya yang lebih rendah.

Jamur ini bisa muncul kapan saja, baik di musim semi hingga gugur. Mereka tersebar luas dan melimpah di Eropa bagian utara dan Amerika Utara, Iran dan Anatolia timur di Turki.

Kandungan dan Manfaat

Sulphur Tuft sudah pasti mengandung racun. Kandungan steroid depsipeptida fasciculol E dan fasciculol F menyebabkan diare, mual, muntah, proteinuria, dan kolaps. Selain itu, kelumpuhan, hingga gangguan penglihatan. Meski demikian, gejalanya bisa sembuh dalam beberapa hari.

Dalam Significant Biogenesis of Chlorinated Aromatics by Fungi in Natural Environments (1994), De Jong menyatakan, beberapa studi lapangan menunjukkan kemampuan jamur ini untuk mengendalikan kolonisasi organisme pembusuk kayu lainnya.

Sebelumnya telah dilaporkan dalam literatur bahwa jamur ini kaya akan produk alami terpenoid dan organohalogen termasuk metabolit fascicularones dan anisaldehyde.

Hypholoma fasciculare telah berhasil digunakan sebagai pengobatan eksperimental dan secara kompetitif menggantikan penyakit jamur umum tumbuhan runjung, Armillaria solidipes, dari hutan jenis konifera.

Taksonomi Sulphur Tuft (Hypholoma fasciculare) 

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/sulphur-tuft-jamur-beracun-yang-hidup-bergerombol/feed/ 0
Jamur Merah, Meski Beracun tapi Berpotensi sebagai Obat https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-merah-meski-beracun-tapi-berpotensi-sebagai-obat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-merah-meski-beracun-tapi-berpotensi-sebagai-obat https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-merah-meski-beracun-tapi-berpotensi-sebagai-obat/#respond Wed, 28 Dec 2022 03:00:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38385 Spesies Pycnoporus sanguineus cukup mudah kita kenali dari tubuh buahnya yang berwarna merah oranye. Jamur merah ini sejatinya mempunyai khasiat obat, tetapi tidak bisa dikonsumsi secara langsung karena mengandung racun […]]]>

Spesies Pycnoporus sanguineus cukup mudah kita kenali dari tubuh buahnya yang berwarna merah oranye. Jamur merah ini sejatinya mempunyai khasiat obat, tetapi tidak bisa dikonsumsi secara langsung karena mengandung racun yang berbahaya.

Berasal dari genus Pycnoporus, jamur merah atau jamur brama merupakan salah satu anggota famili Polyporaceae yang tergabung dalam divisi Basidiomycota dan kelas Agaricomycetes.

Anggota keluarga ini biasanya dapat kita identifikasi dari tubuh buahnya yang berbentuk kipas. Permukaan jamur tersebut terasa cukup keras, sehingga mirip seperti tekstur kayu atau papan.

Selain P. sanguineus, spesies Pycnoporus yang ditemukan di Indonesia adalah P. puniceus. Keduanya terlihat sangat mirip, sehingga sangat sukar dibedakan dengan mata telanjang.

Morfologi dan Ciri-Ciri Jamur Merah

Jika diperhatikan, warna jamur merah memiliki sedikit corak kekuningan dan jingga. Jamur ini tidak memiliki batang, sehingga tubuh buahnya tumbuh secara langsung dari permukaan kayu.

Seperti yang telah disebutkan, bentuk jamur tersebut mirip seperti kipas; hampir bulat dengan pinggiran mengeriting. Walau bertekstur keras, daging buahnya terlihat cukup mengkilat.

Berbeda dengan bagian atas, permukaan bawah jamur ini berwarna oranye gelap. Terdapat pori-pori berbentuk bulat pada bagian tersebut, jumlahnya sekitar 5–6 pori tiap 1 mm persegi.

Bila dihitung secara keseluruhan, diameter P. sanguineus sekitar antara 4–5 cm. Ketebalannya hanya mencapai 0,4 cm, dengan tekstur yang semakin menipis pada bagian pinggirnya.

Secara mikroskopis bisa terlihat bahwa sporanya berbentuk silinder dan agak runcing di bagian ujung. Spora tersebut menempel pada sterigma, dengan ukuran 5–6 x 2–2,5 mikrometer.

Habitat dan Distribusi Jamur Merah

Jamur merah ditemukan hidup pada batang pohon yang telah mati. Daerah teritorinya biasanya berada di area terbuka, dengan tumbuhan yang menjadi substrat berasal dari jenis hardwood.

Beberapa spesies tumbuhan tersebut adalah Acacia spp., Fagus spp., Quercus spp., Nyssa spp., Liquidambar spp. dan Platanus spp, serta beberapa spesies dari keluarga Juglandaceae.

Di Indonesia sendiri, fungi ini biasa ditemukan di dahan mati atau tunggul-tunggul pohon seperti Acacia mangium, Tamarindus indica, Quercus spp., hingga pohon merbau dan kayu lawak.

Peta persebarannya terbilang sangat luas karena meliputi wilayah bagian tenggara hingga utara benua Amerika, Afrika bagian timur, Malaysia, benua Australia, sampai dengan Indonesia.

Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Sumba, dan Sumbawa merupakan distribusi jamur ini. Salah satu habitat terbesarnya dapat kita temukan di Taman Nasional Gunung Leuser.

Tak cuma itu, beberapa daerah juga memiliki julukan berbeda bagi fungi ini. Ia dikenal sebagai kulat bireng seruh di Bangka, brama di Jawa, kolat brama di Madura, dan pipi eja di Sulawesi.

Manfaat dan Kegunaan Jamur Merah

Sejak dahulu kala, masyarakat Indonesia dan Malaysia mengenal jamur merah sebagai bahan baku obat. Ini dipercaya ampuh menyembuhkan berbagai penyakit, terutama untuk obat luar.

Penyakit kandungan, kelamin, kusta, kulit, hingga pendarahan dapat diobati dengan fungi ini. Cara raciknya pun beragam, salah satunya mencampurkan jamur dengan minyak dan rempah.

Di Malaysia, jamur ini bermanfaat untuk mengobati eksema dan menghilangkan benjolan kusta. Sedangkan di Indonesia, bubuknya dicampurkan dengan minyak untuk mengobati bengkak.

Merujuk publikasi LIPI, kulat bireng seruh mempunyai sifat antibakteri dan antijamur. Ekstraknya juga berkhasiat untuk mengatasi penyakit persendian, seperti rematik, artritis, hingga gout.

Mengonsumsi spesies P. sanguineus sangat tidak disarankan, sebab dapat memicu terjadinya keracunan. Efek taksin jamur ini di antaranya muntah-muntah, mabuk, sampai dengan diare.

Taksonomi Pycnoporus Sanguineus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-merah-meski-beracun-tapi-berpotensi-sebagai-obat/feed/ 0
Russula Emetica, Jamur Beracun yang Berguna bagi Tanaman https://www.greeners.co/flora-fauna/russula-emetica-jamur-beracun-yang-berguna-bagi-tanaman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=russula-emetica-jamur-beracun-yang-berguna-bagi-tanaman https://www.greeners.co/flora-fauna/russula-emetica-jamur-beracun-yang-berguna-bagi-tanaman/#respond Wed, 21 Dec 2022 03:00:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38342 Salah satu ciri jamur beracun adalah memiliki warna yang cerah. Selain itu, jamur tersebut juga memiliki bau menyengat serta mudah hancur bila diraba. Ketiga ciri ini melekat pada Russula emetica, […]]]>

Salah satu ciri jamur beracun adalah memiliki warna yang cerah. Selain itu, jamur tersebut juga memiliki bau menyengat serta mudah hancur bila diraba. Ketiga ciri ini melekat pada Russula emetica, spesies inedible fungi dari divisi Basidiomycota.

Russula emetica dijuluki sebagai jamur muntah. Mereka berasal dari famili Russulaceae, serta tergolong sebagai satu dari 750 anggota genus Russula yang tersebar di seluruh dunia.

Seperti julukannya, jamur ini memang dapat mengakibatkan mual dan muntah-muntah. Hal itu disebabkan oleh kadar toksisitasnya yang tinggi, sehingga tidak layak untuk dimakan.

Selain itu, jamur muntah juga terkenal memiliki tampilan yang cantik. Spesies ini sangat mirip dengan beberapa jamur lain, yang mana sebagian jenisnya masih dapat kita konsumsi.

Morfologi dan Ciri-Ciri Russula Emetica

Russula emetica dapat kita kenali dari tampilan payung atau tudungnya yang berwarna merah pekat. Tudung tersebut memiliki diameter 8,5 cm, dengan tinggi batang berkisar 10,5 cm.

Beberapa jamur muntah mempunyai permukaan tudung yang cembung hingga mendatar rata saat muda. Ada pula yang memiliki tudung cekung dengan ukuran batang yang pendek.

Batang jamur ini biasanya berwarna putih dengan ketebalan mencapai 2,4 cm. Dagingnya pun berwarna putih, sementara bagian bawah tudung berwarna merah dengan tebal 4–9 mm.

Melansir berbagai sumber, daging jamur muntah memiliki cita rasa yang kuat dan pedas. Spora yang dihasilkan jamur ini berwarna putih kekuningan, dengan bentuk oval atau bulat telur.

Jika diperhatikan, tampilan Russula emetica sangat mirip dengan Russula vinosa dan Russula xerampelina. Kedua spesies itu dapat dikonsumsi, bahkan sangat terkenal di Finlandia.

Karena beberapa spesies Russula tak dapat dibedakan dengan mata telanjang, para ilmuwan tidak menyarankan untuk mengonsumsi jamur tersebut bila menemukannya di alam liar.

Habitat dan Distribusi Russula Emetica

Russula emetica adalah jamur mikoriza yang melakukan simbiosis mutualisme dengan akar pohon dan tumbuhan tertentu. Ini biasanya terjadi selama pertumbuhan aktif tanaman tersebut.

Di alam liar, tumbuhan runjung yang kerap dijadikan inang oleh jamur ini adalah pinus. Mereka tumbuh di berbagai habitat (biasanya relatif kering) pada bulan Juni sampai Oktober.

Afrika Utara, Asia, Eropa, dan Amerika Utara adalah tempat ditemukannya fungi ini. Ia sempat diisukan tumbuh di Australia, tetapi jamur tersebut nyatanya berasal dari spesies yang berbeda.

Spesies Russula yang dijumpai di Australia adalah Russula persanguinea. Fungi ini sama-sama mempunyai tudung berwarna merah, tetapi bentuknya terlihat lebih cembung dan kecil.

Selain itu, ada pula spesies Russula lain yang ditemukan di Amerika Utara. Spesies ini dikenal sebagai Russula silvicola, yang hanya dapat dibedakan melalui pengamatan mikroskopis.

Kandungan dan Manfaat Russula Emetica

Russula emetica sudah pasti mengandung racun. Mengonsumsi jamur ini dapat mengakibatkan rasa mual, pusing dan muntah-muntah, lalu diikuti dengan sakit perut parah hingga diare.

Efek samping jamur ini bahkan berlangsung selama berhari-hari pada orang dengan kondisi tertentu. Namun, uniknya beberapa hewan justru dapat mengonsumsi jamur ini dengan aman.

Jamur muntah adalah sumber makanan bagi siput, tupai, dan rusa. Mereka juga berjasa bagi pertumbuhan tanaman, sebab dapat melindungi akar dari ancaman mikroorganisme patogen.

Merujuk laman cybex.pertanian.go.id, jamur mikoriza membantu kinerja akar dalam menyerap unsur hara, mendapatkan air di musim kemarau, hingga memacu pertumbuhan tanaman.

Di sisi lain, jamur ini membutuhkan tanaman untuk melengkapi daur hidupnya. Ia “menyerang” organ tanaman di bawah tanah, serta bertahan hidup dengan menyerap unsur-unsur organik.

Walau terkesan seperti parasit, menariknya proses tersebut justru menguntungkan sang inang. Karena itu, terjadi hubungan simbiosis mutulisme kompleks antara jamur dan tanaman tersebut.

Taksonomi Spesies Jamur Muntah

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/russula-emetica-jamur-beracun-yang-berguna-bagi-tanaman/feed/ 0
Jamur Webcap, Salah Satu Jamur Paling Beracun di Dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-webcap-salah-satu-jamur-paling-beracun-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-webcap-salah-satu-jamur-paling-beracun-di-dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-webcap-salah-satu-jamur-paling-beracun-di-dunia/#respond Tue, 22 Nov 2022 03:00:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38030 Jamur webcap berbeda dengan tipikal jamur beracun pada umumnya. Ia tidak mempunyai tampilan yang mencolok, baunya pun cenderung menyerupai lobak. Namun jangan pernah memakan jamur ini, sebab mereka mengandung toksin […]]]>

Jamur webcap berbeda dengan tipikal jamur beracun pada umumnya. Ia tidak mempunyai tampilan yang mencolok, baunya pun cenderung menyerupai lobak. Namun jangan pernah memakan jamur ini, sebab mereka mengandung toksin yang sangat mematikan.

Webcap merupakan spesies jamur beracun yang berasal dari keluarga Cortinariaceae. Jamur ini tergabung dalam genus Cortinarius, sehingga dikenal dengan nama binomial Cortinarius rubellus.

Sebelum diperkenalkan sebagai C. rubellus oleh Mordecai Cooke pada tahun 1887, webcap lebih dulu dinamai sebagai C. speciosissimus, C. orellanoides, C. rainierensis, dan Dermocybe orellanoides.

Cortinarius sendiri adalah genus jamur dengan anggota terbanyak di dunia. Sebagian spesiesnya dapat kita konsumsi seperti C. caperatus, tetapi sebagian lainnya sangat beracun seperti C. rubellus.

Morfologi dan Ciri-Ciri Jamur Webcap

Secara klasifikasi, jamur webcap tergolong sebagai jamur agaric. Jamur ini bisa dikenali dari bagian payung, batang, dan insangnya. Beberapa anggota agaric juga memiliki cincin, tetapi webcap tidak.

Jamur webcap dikenal mempunyai ukuran yang cukup besar dengan warna cokelat kemerahan. Mereka tumbuh di lantai hutan atau di balik serasah, dengan payung berbentuk kerucut sampai cembung.

Saat berubah menjadi cembung, warna awal payung webcap berubah menjadi agak jingga. Permukaan payungnya mempunyai diameter 4–8 cm, terlihat kering dan terkadang sedikit bersisik.

Bagian insang bisa kita lihat dengan jelas karena memiliki rongga besar. Insangnya itu tertutupi oleh cortina (kerudung seperti sarang laba-laba) saat muda, tapi berangsur-angsur menghilang ketika dewasa.

Warna insang berubah dari kekuningan pucat menjadi cokelat berkarat. Tangkainya agak bengkok dengan tinggi 5–10 cm dan diameter 15 mm. Coraknya tampak seperti kulit ular dengan warna khas kekuningan.

Habitat dan Distribusi Jamur Webcap

Jamur webcap sebenarnya bukan jenis fungi yang gampang ditemukan. Mereka memiliki peta persabaran cukup spesifik, yakni di daerah hutan beriklim sedang hingga subalpine di Eurasia dan Amerika Utara.

Untuk bertahan hidup, jenis jamur ini menjalin hubungan mutualisme dengan pohon konifer, khususnya pinus dan cemara. Mereka tumbuh dalam kelompok kecil di atas tanah yang lembap dan agak asam.

Spesies C. rubellus membantu menguraikan organisme yang telah mati, sehingga dapat menyuburkan tanah di sekitar pohon konifer. Sebagai gantinya, pohon ini memberikan sumber nutrisi bagi jamur tersebut.

Sampai saat ini, webcap sempat dijumpai di Pegunungan Yatsugatake, Jepang, British Columbia dan Washington barat, Amerika Utara, hingga wilayah Skotlandia dan pulau-pulau kecil di bagian utara Inggris.

Jamur webcap muncul pada akhir musim panas dan awal musim dingin. Mereka terlihat mekar pada bulan Agustus sampai November di Inggris. Namun, sangat jarang ditemukan tumbuh di area yang sama.

Kandungan dan Racun Jamur Webcap

Jamur webcap adalah satu dari tujuh spesies jamur paling mematikan di dunia. Jamur ini tidak dapat dikonsumsi dengan metode memasak apapun, sebab racunnya sudah ada sejak mereka masih kecil.

Tidak cuma C. rubellus, kerabatnya yakni C. orellanus juga mempunyai kandungan yang sama. Kandungan racun itu dikenal sebagai orellanin, yang awalnya menyebabkan gejala penyakit seperti terserang flu.

Dibanding racun lainnya, periode laten racun orellanin tergolong cukup lama. Reaksi puncaknya baru bisa terlihat dalam waktu 2 hari hingga 3 minggu, sehingga sering menyebabkan kesalahan diagnosis.

Apabila dibiarkan terlalu lama, kandungan racun orellanin bisa memicu terjadinya kerusakan gijal dan hati. Bantuan medis sangat diperlukan, sebab toksisitas racun tersebut dapat menyebabkan kematian.

Penting mengenali morfologi C. rubellus untuk menghindarinya. Selain itu, jangan pernah memakan jamur liar yang dijumpai di dalam hutan. Apalagi jika tidak memiliki pemahaman cukup terkait jamur tersebut.

Taksonomi Cortinarius Rubellus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-webcap-salah-satu-jamur-paling-beracun-di-dunia/feed/ 0
Jamur Payung Busuk, Fungi Kecil dengan Aroma Menyengat https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-payung-busuk-fungi-kecil-dengan-aroma-menyengat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-payung-busuk-fungi-kecil-dengan-aroma-menyengat https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-payung-busuk-fungi-kecil-dengan-aroma-menyengat/#respond Sat, 12 Nov 2022 03:00:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37938 Jenis jamur beracun sudah banyak ditemukan. Namun, bagaimana dengan jamur yang beracun sekaligus dapat mengeluarkan bau tidak sedap? Inilah jamur payung busuk, salah satu spesies agaric fungus yang tergabung ke […]]]>

Jenis jamur beracun sudah banyak ditemukan. Namun, bagaimana dengan jamur yang beracun sekaligus dapat mengeluarkan bau tidak sedap? Inilah jamur payung busuk, salah satu spesies agaric fungus yang tergabung ke dalam divisi Basidiomycota.

Stinking dapperling, stinking parasol atau jamur payung busuk, adalah spesies jamur paling menyebar dari genus Lepiota. Mereka berasal dari famili Agaricaceae, sehingga masih berkerabat dengan jamur Agaricus.

Bahkan, saat awal ditemukan jamur ini diberi nama Agaricus cristatus oleh naturalis Inggris James Bolton. Namun, namanya kemudian diganti oleh ahli mikologi Jerman Paul Kummer menjadi Lepiota cristata.

Menurut Kummer, DNA stinking dapperling lebih mirip kelompok Lepiota daripada Agaricus. Hal tersebut dibuktikan dari morfologi mereka, yang mana memiliki ciri khas sisik-sisik kasar pada permukaan payungnya.

Morfologi dan Ciri-Ciri Jamur Payung Busuk

Cukup sulit memang membedakan jamur payung busuk dengan jenis agaric lainnya. Beberapa di antara mereka mempunyai morfologi yang mirip, sehingga hanya dapat diidentifikasi secara mikroskopis saja.

Seperti jamur bertopi pada umumnya, spesies L. cristata terdiri atas tiga bagian inti, yakni payung (cap), insang (gills), dan batang (stipe). Supaya tidak keliru dalam mencirikan kelompoknya, simak uraian berikut ini:

  • Payung; memiliki ukuran 2–4 cm. Mulanya berbentuk cembung atau tumpul, tetapi jadi melebar dan hampir rata ketika dewasa. Terlihat sisik kasar berwarna cokelat merah muda hingga cokelat kemerahan pada permukaan payung. Bagian tengah tampak lebih gelap, sedangkan tepian payung justru tanpa sisik atau bercak.
  • Insang; melekat di bagian bawah payung, bukan pada batangnya. Berbeda dengan spesies lain, insang jamur ini tampak menyatu atau tidak memiliki banyak celah. Warnanya sendiri cenderung mirip dengan permukaan payung, tetapi tanpa sisik.
  • Batang; panjangnya antara 3–7 cm dengan tebal 2–3 mm. Warna batang keputihan tapi dapat berubah menjadi merah muda atau kecokelatan ke arah pangkal. Terdapat cincin atau ring berwarna senada pada batang tersebut. Permukaan batang cenderung agak rapuh.

Jika dibelah, permukaan daging telihat keputihan dan sangat tipis. Fungi ini diklaim tidak memiliki rasa yang khas, tetapi mengeluarkan bau yang cukup menyengat seperti aroma busuk.

Habitat dan Jenis-Jenis Jamur Payung Busuk

Jamur payung busuk adalah fungi saprobik yang mendapatkan nutrisi dari penguraian bahan organik yang telah mati. Karena itu, spesies ini jamak ditemukan di hutan konifer tak jauh dari tumbuhan runjung.

Beberapa spesies ditemukan tumbuh secara soliter, sedangkan lainnya berada dalam kelompok kecil. Jamur ini bisa kita temukan di banyak tempat mulai dari hutan, kebun, parit, sampai padang rumput.

Dibanding spesies lain, L. cristata memiliki persebaran yang paling luas. Mereka berkembang di berbagai iklim dan kawasan, mulai dari Amerika Utara (terutama utara Meksiko), Eropa, utara Asia, serta Selandia Baru.

Melansir berbagai sumber, setidaknya ada delapan subspesies L. cristata yang berhasil ahli temukan di seluruh dunia. Subspesies tersebut ialah;

  • Lepiota cristata var. adextrinoidea
  • Lepiota cristata var. congolensis
  • Lepiota cristata var. cristata
  • Lepiota cristata var. exannulata
  • Lepiota cristata var. felinoides
  • Lepiota cristata var. macrospora
  • Lepiota cristata var. pallidior
  • Lepiota cristata var. viridispora

Lalu, apakah jamur payung busuk dapat dikonsumsi? Sayangnya tidak. Walau toksisitasnya masih perlu diteliti, jamur ini pakar sinyalir beracun mengingat sebagian besar spesies Lepiota memiliki sifat demikian.

Karena itu, selama kepastian toksisitas jamur ini belum diketahui, maka kita dilarang untuk mengonsumsi spesies L. cristata. Apalagi mereka sangat mirip dengan spesies lainnya, yang notabene-nya beracun.

Taksonomi Spesies Lepiota Cristata

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-payung-busuk-fungi-kecil-dengan-aroma-menyengat/feed/ 0
Podostroma Cornu-Damae, Jamur Karang dengan Racun Mematikan https://www.greeners.co/flora-fauna/podostroma-cornu-damae-jamur-karang-dengan-racun-mematikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=podostroma-cornu-damae-jamur-karang-dengan-racun-mematikan https://www.greeners.co/flora-fauna/podostroma-cornu-damae-jamur-karang-dengan-racun-mematikan/#respond Wed, 19 Jan 2022 03:10:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35030 Tidak hanya tertelan, beberapa jamur beracun dapat mengancam keselamatan jiwa meski hanya tersentuh. Seperti Podostroma cornu-damae, spesies jamur beracun yang menyebar di wilayah Jepang dan Korea. Podostroma cornu-damae atau kaentake […]]]>

Tidak hanya tertelan, beberapa jamur beracun dapat mengancam keselamatan jiwa meski hanya tersentuh. Seperti Podostroma cornu-damae, spesies jamur beracun yang menyebar di wilayah Jepang dan Korea.

Podostroma cornu-damae atau kaentake dalam bahasa Jepang, merupakan spesies jamur beracun langka yang ahli gabungkan dalam keluarga Hypocreaceae dan ordo Hypocreales.

Spesiesnya dikenal juga sebagai jamur merah tanduk rusa atau jamur karang api (poison fire coral). Ini merujuk pada tampilan jamur yang tampak seperti tanduk atau terumbu karang.

Jika kita lihat sekilas, ciri fisik Podostroma cornu-damae sebenarnya cukup unik dan cantik. Namun ini tergolong berbahaya, sebab mengandung beberapa mikotoksin trichothecene.

Morfologi dan Ciri-Ciri Podostroma Cornu-Damae

Jamur karang api dapat kita tandai dari warnanya yang mencolok. Sebagian besar tubuhnya memiliki corak berwarna oranye kemerahan, bahkan ada pula yang berwarna merah terang.

Jamur karang api sendiri umumnya tumbuh secara berkelompok. Jumlahnya tidak terlalu besar (terbatas), mereka dapat kita temukan di area tanah di dekat perakaran tumbuhan.

Berbeda dengan jamur karang lain, tubuh buah (stromata) poison fire coral lebih sederhana. Ia tumbuh dari basal yang sama, serta memiliki percabangan dengan ukuran yang seragam.

Stromata di bagian atas basal biasanya berbentuk silindris, lurus atau bercabang. Warnanya dominan jingga pada bagian bawah, namun terlihat jingga kemerahan pada bagian atasnya.

Sebagai informasi, Podostroma cornu-damae memiliki tubuh buah berukuran makroskopik. Karena ukurannya yang besar, jamur ini kerap awam sama ratakan dengan Basidiomycota.

Habitat dan Distribusi Podostroma Cornu-Damae

Pada mulanya, jamur karang api pakar anggap endemik di Jepang dan Korea. Namun pada 2019 silam, jamur ini ditemukan oleh seorang fotografer di pinggiran Cairns, utara Australia.

Ilmuwan mengatakan penemuan poison fire coral di hutan hujan, Redlynch, menunjukkan bahwa fungi ini kemungkinan tumbuh secara alami di sebagian Australia dan Asia Tenggara.

Hal ini sejalan dengan riset dari Universitas Bengkulu, yang mengatakan Podostroma cornu-damae pernah warga temukan di Bogor (1934), Kalimantan Tengah dan Sukabumi (2020).

Meski begitu, kasus keracunan jamur ini belum pernah dilaporkan di Indonesia. Sejauh ini, hanya Jepang, China, Taiwan dan Korea yang pernah menemukan kasus keracunan tersebut.

Melansir berbagai sumber, setidaknya ada 100 jenis Podostroma yang telah mengakibatkan keracunan jamur di masyarakat. Korban rerata mengalami gejala serius bahkan meninggal.

Toksisitas Jamur Podostroma Cornu-Damae

Kontaminasi racun Podostroma cornu-damae memang sangat berbahaya. Pada tahun 1999, satu orang meninggal akibat meminum sake yang telah terkontaminasi oleh jamur tersebut.

Sedangkan tahun 2000, seseorang dari prefektur Gunma meninggal setelah memakan jamur Podostroma goreng. Gejala yang ditimbulkan mirip, seperti sakit perut, pusing dan muntah.

Dalam kasus yang lebih parah, jumlah leukosit dan trombosit penderita akan turun secara drastis. Ini memicu terjadinya pengelupasan kulit wajah, rambut rontok, hingga disorientasi.

Berdasarkan hasil otopsi korban, ahli menemukan jika keracunan Podostroma cornu-damae dapat mengakibatkan kerusakan ginjal akut, nekrosis hati, hingga otak kecil yang menyusut.

Karena itu, mengonsumsi jamur liar sejatinya tidak ahli rekomendasikan. Apalagi jika Anda tidak memiliki pengetahuan seputar jenis beracun maupun cara mengidentifikasinya.

Taksonomi Spesies Jamur Karang Api

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/podostroma-cornu-damae-jamur-karang-dengan-racun-mematikan/feed/ 0