kadal - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kadal/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 23 Dec 2024 07:17:17 +0000 id hourly 1 Peneliti Identifikasi 35 Spesies Kadal Baru di Kepulauan Karibia https://www.greeners.co/aksi/peneliti-identifikasi-35-spesies-kadal-baru-di-kepulauan-karibia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-identifikasi-35-spesies-kadal-baru-di-kepulauan-karibia https://www.greeners.co/aksi/peneliti-identifikasi-35-spesies-kadal-baru-di-kepulauan-karibia/#respond Mon, 23 Dec 2024 07:17:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45529 Sebuah studi ilmiah terbaru dari College of Science and Technology (CST) Universitas Temple mengungkapkan temuan luar biasa tentang keanekaragaman hayati di Kepulauan Karibia. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 35 spesies kadal […]]]>

Sebuah studi ilmiah terbaru dari College of Science and Technology (CST) Universitas Temple mengungkapkan temuan luar biasa tentang keanekaragaman hayati di Kepulauan Karibia. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 35 spesies kadal hutan baru.

Temuan ini terdiri dari 17 spesies baru, 17 subspesies yang diangkat, dan satu spesies yang diangkat dari sinonim. Hasil penelitian ini terbit dalam jurnal ilmiah Zootaxa dengan judul “A new forest lizard fauna from Caribbean islands (Squamata, Diploglossidae, Celestinae)”.

Profesor Keanekaragaman Hayati Laura H. Carnell memimpin studi tersebut. Ia merupakan direktur Pusat Keanekaragaman Hayati di CST, S. Blair Hedges, dan Molly Schools yang meraih gelar Ph.D pada tahun 2023. 

Hedges menyatakan bahwa penelitian ini mengungkapkan keragaman spesies yang menakjubkan di pulau-pulau Karibia yang sebelumnya tidak teridentifikasi. 

“Itu adalah langkah pertama. Langkah selanjutnya adalah mencari cara untuk mencegah kepunahan spesies ini,” kata Hedges dalam keterangannya yang dikutip oleh Greeners dari Phys, Senin (23/12).

BACA JUGA: Kadal Air Jambul Berkutil, Amfibi Unik yang Berasal dari Eropa

Namun, meskipun temuan ini penting, Hedges juga menekankan bahwa spesies-spesies ini tidak akan bertahan lama kecuali ada upaya konservasi yang signifikan untuk melindunginya.

Di samping itu, proses penyelesaian studi ini sangat kompleks dan memakan waktu. Hedges dan Schools melakukan kerja lapangan dan laboratorium. Selain itu, memeriksa 958 spesimen museum, serta melakukan analisis molekuler. Hal itu untuk mengungkapkan hubungan evolusi antar spesies. 

Mereka juga meninjau spesimen museum yang berusia lebih dari 200 tahun dari spesies yang kemungkinan sudah punah. Bagi mereka, mengamankan spesimen untuk analisis bukanlah tugas mudah. Sebab, ada banyak spesies yang sudah tidak terlihat lebih dari dua abad.

Hedges dan Schools berhasil memperoleh sampel jaringan kecil dari spesimen yang diawetkan di museum-museum ternama di London, Paris, dan Harvard. Sampel-sampel ini kemudian mereka gunakan untuk analisis DNA. Hal itu memungkinkan mereka untuk menempatkan spesies-spesies ini pada pohon spesies yang masih hidup.

Kadal Terancam Punah

Keduanya kemudian menggunakan metode Red List. Metode tersebut mengklasifikasikan spesies atau ekosistem yang berisiko punah atau mengalami kerusakan lainnya. Hal itu untuk menentukan status konservasi masing-masing spesies. 

Hasilnya, mereka menemukan bahwa lebih dari setengah (54%) spesies kadal hutan Karibia yang mereka identifikasi terancam punah. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat rata-rata 21% untuk semua reptil di seluruh dunia.

Di antara spesies yang mereka temukan, 14 terancam punah, yang masuk dalam kategori ancaman tertinggi. Sementara, tiga spesies lainnya kemungkinan sudah punah.

Para peneliti menyatakan ada berbagai faktor yang mempengaruhi siklus hidup kadal hutan ini. Salah satunya adalah hilangnya hutan primer yang terjadi dengan cepat di pulau-pulau Karibia. Akibatnya, habitat alami mereka tidak hanya semakin menyusut. Kadal-kadal ini juga terancam oleh predator pendatang, seperti luwak dari Asia yang semakin memperburuk kondisi mereka.

Dorong Ilmuwan 

Penelitian ini dapat memberikan informasi bagi penelitian-penelitian di masa depan. Selain itu, mendorong para ilmuwan dan peneliti untuk memprioritaskan kesehatan serta kelangsungan hidup populasi kadal hutan. 

“Penelitian ini juga akan menyediakan kerangka kerja sistematis bagi para peneliti di masa depan. Hal itu untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan ekologi, evolusi, dan biogeografi yang berkaitan dengan spesies kadal hutan Karibia,” tulis mereka dalam artikel penelitian tersebut.

BACA JUGA: Kadal Rumput, Si Langsing Berekor Panjang yang Ahli Berlari

Hedges dan Schools menegaskan pentingnya pemantauan terhadap spesies-spesies ini. Hal itu mengetahui ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan hidup mereka, termasuk spesies yang tampak tidak terlalu terancam.

Mereka juga meyakini bahwa penelitian ini memberikan bukti lebih lanjut bahwa fauna di kepulauan Karibia itu unik, rapuh, dan kurang diteliti. Fauna tersebut juga tetap terancam oleh gangguan habitat yang terus-menerus, seperti penggundulan hutan dan pemangsaan oleh mamalia pendatang. 

 

Penulis: Dini Jembar Wardani 

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/peneliti-identifikasi-35-spesies-kadal-baru-di-kepulauan-karibia/feed/ 0
Crotaphytus collaris Mampu Lari Kencang dengan Kaki Belakang https://www.greeners.co/flora-fauna/crotaphytus-collaris-mampu-lari-kencang-dengan-kaki-belakang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=crotaphytus-collaris-mampu-lari-kencang-dengan-kaki-belakang https://www.greeners.co/flora-fauna/crotaphytus-collaris-mampu-lari-kencang-dengan-kaki-belakang/#respond Tue, 27 Jun 2023 03:17:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=40587 Eastern collared lizard atau kadal berkerah timur memiliki nama ilmiah Crotaphytus collaris dan berasal dari famili Crotaphytidae. Berkerabat dengan kadal berkerah hitam atau Black-collared lizards (Crotaphytus insularis). Kadal ini dapat […]]]>

Eastern collared lizard atau kadal berkerah timur memiliki nama ilmiah Crotaphytus collaris dan berasal dari famili Crotaphytidae. Berkerabat dengan kadal berkerah hitam atau Black-collared lizards (Crotaphytus insularis).

Kadal ini dapat berlari kencang hanya dengan menggunakan kaki belakangnya saja. Pergerakan mereka sangat cepat dengan langkah hingga tiga kali panjang tubuhnya. Selain itu, kadal betinanya yang akan bertelur, biasanya memiliki bercak merah terang pada tubuhnya yang akan menghilang setelah ia bertelur.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum C. collaris

Tubuh C. collaris dari ujung moncong hingga ujung ekornya berukuran panjang 22 hingga 35,5 cm. Jantan biasanya berwarna hijau, zaitun, cokelat hingga kebiruan dan kuning dengan pola bintik-bintik dan garis-garis di punggungnya. Selain itu, pejantan juga memiliki kepala yang berwarna kuning dan oranye cerah.

Sementara, C. collaris betina tubuhnya kurang berwarna kecuali pada saat musim kawin, di mana mereka menunjukkan bintik atau garis-garis berwarna oranye terang di tubuhnya. Baik kadal jantan ataupun betina memiliki dua pita hitam seperti kerah yang menonjol di bagian lehernya, sesuai dengan namanya.

C. collaris umumnya aktif pada siang hari dan mereka gemar berjemur di atas bebatuan. Kadal ini juga merupakan pemakan serangga dan karnivora. Tapi terkadang mereka juga memakan tumbuhan sebagai selingan.

Berasal Dari Negara Bagian Barat Amerika Serikat

Eastern collared lizard berasal dari negara bagian barat Amerika Serikat. Distribusinya meliputi tenggara Utah, Colorado selatan, Kansas, Missouri tengah dan selatan, Arizona, New Mexico, Texas bagian barat dan tengah, Oklahoma, Arkansas, Sonora, dan Meksiko utara-tengah.

Mereka biasanya mendiami daerah berbatu dengan vegetasi yang tidak rapat, seperti lereng bukit berbatu. Mereka juga kerap menggali di bawah batu besar untuk menaruh telur-telurnya dan beristirahat.

Populasinya Stabil dan Tak Dilindungi

Melansir dari laman IUCN, status konservasi C. collaris ialah least concern (kurang diperhatikan), dengan status populasi yang dikatakan stabil yakni lebih dari 100.000 ekor, meskipun angka pastinya belum diketahui.

Kadal ini juga tidak dilindungi oleh pemerintah, baik itu terkait penangkapan ataupun perdagangannya. Meskpiun begitu, kita harus tetap menjaga populasinya lestari di habitat aslinya, agar di masa depan kadal berkerah timur ini tidak menghadapi kepunahan seperti pendahulunya yang lain.

Taksonomi C. collaris

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/crotaphytus-collaris-mampu-lari-kencang-dengan-kaki-belakang/feed/ 0
Bunglon Surai Terpotong, Spesies “Naga” Penghuni Hutan Asia Tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/bunglon-surai-terpotong-spesies-naga-penghuni-hutan-asia-tenggara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bunglon-surai-terpotong-spesies-naga-penghuni-hutan-asia-tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/bunglon-surai-terpotong-spesies-naga-penghuni-hutan-asia-tenggara/#respond Thu, 11 Aug 2022 03:00:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36980 Penampilan bunglon surai terpotong memang sangat unik. Tidak cuma memiliki corak tubuh yang beragam, permukaan surai atau rambutnya juga tidak merata. Seakan-akan ada pembatas antara rambut kepala dan punggungnya, sehingga […]]]>

Penampilan bunglon surai terpotong memang sangat unik. Tidak cuma memiliki corak tubuh yang beragam, permukaan surai atau rambutnya juga tidak merata. Seakan-akan ada pembatas antara rambut kepala dan punggungnya, sehingga tampak seperti “terpotong.”

Bunglon surai terpotong mempunyai nama ilmiah Gonocephalus grandis. Satwa ini tergabung dalam keluarga Agamidae, sehingga masih berkerabat dengan cecak terbang atau Draco.

Uniknya, sebagian spesies Agamidae dijuluki sebagai naga atau kadal naga. Ini merujuk pada morfologi mereka, yang umumnya mempunyai tubuh dan ekor panjang serta dilengkapi dengan surai.

Karena itu, jenis bunglon ini dikenal juga sebagai giant forest dragon atau naga hutan besar. Mereka merupakan spesies hewan arboreal, meskipun memiliki kemampuan renang yang menakjubkan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Bunglon Surai Terpotong

Dibanding spesies lainnya, ukuran bunglon surai terpotong masuk dalam kategori sedang. Panjang kepala sampai pangkal ekor berkisar 8,8 cm, sedangkan total panjang tubuhnya mencapai 27 cm.

Bunglon ini dapat kita tandai dari corak dasar tubuhnya yang berwarna hijau. Pejantan memiliki bercak biru terang dan bintik-bintik kuning pada bagian samping tubuhnya, sedangkan spesies betina tidak.

Bunglon betina umumnya mempunyai warna tubuh cokelat gelap dengan corak kekuningan. Ukuran tubuh mereka juga relatif lebih kecil dibandingkan dengan kelompok pejantan.

Jika dilihat sekilas, permukaan punggung betina seperti tidak memiliki surai. Padahal ukuran surai mereka terhitung sangat kecil, sehingga hanya terlihat seperti gerigi-gerigi halus.

Sedangkan surai sang pejantan tampak sangat jelas dan panjang. Surai atau rambutnya itu berbentuk menyerupai sisik. Tampilannya memipih dan runcing, meskipun terasa cukup lunak apabila kita sentuh.

Habitat dan Distribusi Bunglon Surai Terpotong

Anggota genus Gonocephalus adalah spesies asli dari kawasan Asia Tenggara. Karena itu, bunglon surai terpotong sendiri dapat kita jumpai di Thailand, Vietnam, Malaysia, Myanmar, sampai ke Indonesia.

Di tanah air, spesies G. grandis terdistribusi mulai dari Pulau Sumatra dan sebagian wilayah Kalimantan. Mereka cukup jamak ditemukan di Kepulauan Mentawai, terutama di kawasan hutan yang lembap.

Melansir berbagai sumber, spesies ini umumnya mendiami wilayah hutan hujan serta hutan rawa air tawar. Mereka hidup pada dataran rendah sampai ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl).

Sebagian besar waktu giant forest dragon dihabiskan berada di atas pohon. Mereka acap kali terlihat menempel pada bagian batangnya, khususnya pada pohon-pohon yang tumbuh di sekitar sungai.

Merujuk IUCN Red List, status konservasi G. grandis berada pada kategori “least concern” atau risiko rendah. Tren populasinya juga cukup stabil, sehingga tidak tergolong sebagai hewan yang dilindungi.

Perilaku dan Kebiasaan Bunglon Surai Terpotong

Bunglon surai terpotong memiliki perilaku dan kebiasaan yang unik. Hewan ini dapat melompat ke dalam air ketika terancam, kemudian melakukan gerakan renang dengan cepat untuk menghindari predator.

Bahkan, terkadang mereka menenggelamkan diri ke dasar sungai dan berenang sampai ke daratan. Pejantan umumnya hidup di atas pohon yang lebih tinggi daripada betina, yakni berkisar 15 meter di atas tanah.

Hewan satu ini juga memiliki kemampuan untuk mengubah warna kulit. Meskipun tidak sebaik kelompok kameleon, kemampuan kamuflasenya tersebut ampuh menyamarkan tubuhnya dari pantauan pemangsa.

Perlu diketahui, kemampuan kamuflase bunglon didapatkan dari zat nanokristal yang ada di bagian bawah kulitnya. Ini bisa memantulkan cahaya, sehingga sama dengan corak dedaunan yang ada di sekitarnya.

Di alam liar, spesies G. grandis memakan invertebrata seperti serangga dan belatung. Mereka juga memburu beberapa spesies laba-laba, terutama yang memiliki tubuh kecil dan tidak beracun.

Taksonomi Spesies Gonocephalus Grandis

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bunglon-surai-terpotong-spesies-naga-penghuni-hutan-asia-tenggara/feed/ 0
Kadal Air Jambul Berkutil, Amfibi Unik yang Berasal dari Eropa https://www.greeners.co/flora-fauna/kadal-air-jambul-berkutil-amfibi-unik-yang-berasal-dari-eropa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kadal-air-jambul-berkutil-amfibi-unik-yang-berasal-dari-eropa https://www.greeners.co/flora-fauna/kadal-air-jambul-berkutil-amfibi-unik-yang-berasal-dari-eropa/#respond Fri, 01 Jul 2022 03:01:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36600 Kadal air jambul berkutil adalah spesies hewan yang unik. Mereka hidup di dua alam, namun sebagian besar waktunya justru dihabiskan di atas tanah. Sekilas tampilan satwa ini memang cukup menyeramkan, […]]]>

Kadal air jambul berkutil adalah spesies hewan yang unik. Mereka hidup di dua alam, namun sebagian besar waktunya justru dihabiskan di atas tanah. Sekilas tampilan satwa ini memang cukup menyeramkan, sebab memiliki tubuh kekar dan kulit yang gelap.

Triturus cristatus merupakan nama latin kadal air jambul berkutil. Kelompoknya dikenal juga sebagai kadal jambul besar, yang merujuk pada permukaan bergerigi di punggung pejantan.

Jangan salah, jambul atau permukaan bergerigi tersebut tidak selamanya terlihat. Bagian itu baru akan muncul saat musim kawin, yang umumnya berlangsung ketika musim semi Eropa.

Spesies T. cristatus sendiri tergabung dalam keluarga Salamandridae. Kelompok ini memiliki 74 anggota spesies yang menyebar mulai dari Eropa, Asia, utara Afrika, serta Amerika Utara.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kadal Air Jambul Berkutil

Dibanding kadal air lainnya, spesies kadal jambul besar memiliki tubuh yang paling besar. Ini dapat berkembang biak hingga 16 cm, sedangkan sang jantan hanya mencapai 13,5 cm saja.

Memang benar, ukuran tubuh betina terhitung lebih besar daripada pejantan. Tetapi betina tidak mempunyai jambul, corak tubuhnya pun cenderung berbeda dibanding spesies jantan.

Kadal air jambul berkutil memiliki kulit kasar dengan warna cokelat tua pada bagian belakang dan sampingnya. Ia juga punya bintik-bintik hitam dan bintik-bintik putih tebal di sisi-sisinya.

Sedangkan betina bisa kita tandai dari garis kuning di sepanjang tepi ekor bawah. Keduanya sama-sama mempunyai perut kuning sampai oranye, dengan bercak gelap dan tidak teratur.

Jambul pejantan dapat mengembang sampai setinggi 1,5 cm. Fitur ini terbentang mulai dari punggung sampai ke ekor, terlihat bergerigi di bagian belakang tetapi lebih halus di ekornya.

Habitat dan Distribusi Kadal Air Jambul Berkutil

Kadal air jambul berkutil hanya bisa kita temukan di Benua Eropa. Mereka biasanya hidup di hutan gugur atau rumpun, meskipun ada pula yang pakar temukan di wilayah hutan konifer.

Kendati demikian, hewan satu ini dikenal juga sebagai jenis yang adaptif. Sehingga beberapa individu dapat hidup di dalam semak belukar, tumbuhan pagar dan padang rumput berawa.

Saat musim kawin atau berkembang biak, satwa ini memilih perairan tenang sebagai habitat sekunder mereka. Ini bisa berupa kolam air besar, parit, saluran danau, hingga kolam taman.

Habitat sekunder kadal jambul besar biasanya tidak bercampur dengan hewan lain. Ini untuk menghindari predator, terutama saat pertumbuhan mereka masih berupa larva dan remaja.

Dibandingkan spesies Triturus lain, distribusi T. cristatus terbilang paling luas dan menyebar. Mereka ditemukan di Inggris, Ukraina, Swiss, Swedia, Rusia, Belanda, Jerman hingga Austria.

Pola Hidup dan Reproduksi Kadal Air Jambul Berkutil

Seperti kadal pada umumnya, kadal air jambil berkutil kembali ke perairan saat berkembang biak. Mereka hidup di dalam air saat larva dan remaja, serta beralih ke dataran saat dewasa.

Kadal dewasa menghabiskan waktu sekitar 7 bulan di dataran. Larva berbiak menjadi remaja setelah 1 tahun, kemudian ia memerlukan waktu sekitar 2 tahun lagi untuk menjadi dewasa.

Tahap larva dan remaja adalah yang paling berisiko bagi kadal air. Sementara kelangsungan hidup spesies dewasa terbilang lebih tinggi, karena bisa mencapai usia 25 tahun di alam liar.

Saat bulan Maret dan suhu telah mencapai 4–5 derajat Celsius lebih, hewan ini mulai masuk ke perairan. Saat fase akuatik, mereka relatif lebih aktif di malam hari untuk mencari makan.

Bagian perairan dalam merupakan lokasi favorit satwa ini. Mereka tidak hanya bereproduksi di sana, namun sekaligus mencari makanan seperti invertebrata air, kecebong, hingga katak.

Taksonomi Spesies Triturus Cristatus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kadal-air-jambul-berkutil-amfibi-unik-yang-berasal-dari-eropa/feed/ 0
Veiled Chameleon, Bunglon Berkerudung dari Jazirah Arab https://www.greeners.co/flora-fauna/veiled-chameleon-bunglon-berkerudung-dari-jazirah-arab/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=veiled-chameleon-bunglon-berkerudung-dari-jazirah-arab https://www.greeners.co/flora-fauna/veiled-chameleon-bunglon-berkerudung-dari-jazirah-arab/#respond Fri, 05 Nov 2021 03:00:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34300 Veiled chameleon atau bunglon berkerudung adalah salah satu spesies kadal yang berasal dari famili Chamaeleonidae. Mereka pakar ketahui menyebar di wilayah Yaman dan Arab Saudi, sehingga sering pula awam sebut […]]]>

Veiled chameleon atau bunglon berkerudung adalah salah satu spesies kadal yang berasal dari famili Chamaeleonidae. Mereka pakar ketahui menyebar di wilayah Yaman dan Arab Saudi, sehingga sering pula awam sebut sebagai bunglon Yaman.

Penampilan bunglon Yaman memang terbilang sangat indah. Hewan ini bisa kita kenali dari corak kulitnya yang beragam, serta bagian jambul atau kerudung yang tampak cukup besar.

Dibanding Partner chameleon, warna kulit bunglon Yaman memang tidak terlalu kaya. Akan tetapi, satwa ini tetap diminati sebagai hewan peliharaan karena bentuknya yang eksotis.

Aktivitas penangkaran dan jual-beli veiled chameleon terhitung marak. Karena populasinya ahli anggap stabil, reptil berordo Squamata itu masih boleh publik memiliki secara pribadi.

Morfologi dan Ciri-Ciri Veiled Chameleon

Spesies bunglon kerudung jantan dan betina dapat kita bedakan melalui ukuran tubuhnya. Pejantan biasanya tumbuh sepanjang 43-61 cm, sedangkan betina mencapai 35 cm saja.

Selain itu, tubuh betina umumnya terlihat lebih tebal. Sedangkan pejantan memiliki tubuh yang ramping, dengan corak lebih cerah serta ornamen pita berwarna kuning atau biru.

Warna kulit veiled chameleon betina tampak hijau pekat dengan bintik-bintik putih, oranye, kuning, atau cokelat. Keduanya memiliki kerudung (casques) dengan ukuran berkisar 5 cm.

Corak bayi bunglon Yaman terbilang berbeda dengan orang tuanya. Bayi-bayi ini menetas dengan warna kulit hijau pastel, walaupun akan terus berubah seiring pertambahan usia.

Seperti bunglon biasa, veiled chameleon memiliki kemampuan mengubah warna kulit. Ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor yaitu ancaman, status sosial, reproduksi dan lain-lain.

Baca juga: Bunglon Surai, Si Hijau Lincah yang mampu Berubah Warna

Habitat dan Distribusi Veiled Chameleon

Bunglon kerudung adalah hewan arboreal, spesiesnya berasal dari Jazirah Arab tepatnya di bagian barat daya. Karena itu, hewan ini lebih menyukai iklim yang semi kering atau tropis.

Melihat peta persebarannya, veiled chameleon bisa kita temukan di hampir seluruh negara. Mereka dibawa oleh para pedagang, kebanyakan ke daerah Asia, Australia, hingga Amerika.

Wilayah dataran tinggi, pegunungan, serta area lembah merupakan tipe habitat hewan satu ini. Mereka menyukai daerah bersuhu hangat antara 24-35 Celsius atau 75-95 Fahrenheit.

Perlu Anda ingat, kehidupan veiled chameleon sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Jika habitatnya tidak sesuai, hewan tersebut rentan mengalami stres bahkan mati.

Di alam liar, bunglon Yaman memangsa jenis serangga untuk bertahan hidup. Mereka juga mengonsumsi tumbuh-tumbuhan untuk mendapatkan asupan air selama musim kemarau.

Pola Hidup dan Kebiasaan Veiled Chameleon

Harapan hidup veiled chameleon jantan mencapai 8 tahun, sedang sang betina berkisar 5 tahun. Kendati demikian, mereka mencapai fase kematangan seksual antara 4-5 bulanan.

Sekali melahirkan induk betina menghasilkan telur sampai 85 butir. Tampilan telur bunglon mirip seperti telur-telur biasa, warnanya tampak putih bersih dengan cangkang yang keras.

Saat memasuki masa reproduksi, warna kulit bunglon betina relatif mengalami perubahan. Proses ini juga terjadi ketika bunglon merasa stres maupun menghadapi serangan musuh.

Uniknya, seekor veiled chameleon tidak pernah melawan individu lain yang dianggap lebih lemah. Sehingga, sebelum bertanding mereka merubah warna kulit untuk memberi isyarat.

Sebagai informasi, IUCN Red List memasukkan Chamaeleo calyptratus (nama ilmiah bunglon Yaman) di level least concern. Ini merujuk pada angka populasinya yang masih cukup besar.

Baca juga: Kadal Rumput, Si Langsing Berekor Panjang yang Ahli Berlari

Taksonomi Spesies Chamaeleo Calyptratus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/veiled-chameleon-bunglon-berkerudung-dari-jazirah-arab/feed/ 0
Bunglon Surai, Si Hijau Lincah yang Mampu Berubah Warna https://www.greeners.co/flora-fauna/bunglon-surai-si-hijau-lincah-yang-mampu-berubah-warna/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bunglon-surai-si-hijau-lincah-yang-mampu-berubah-warna https://www.greeners.co/flora-fauna/bunglon-surai-si-hijau-lincah-yang-mampu-berubah-warna/#respond Wed, 22 Sep 2021 07:12:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=33657 Bunglon Surai atau Bunglon Pohon adalah salah satu spesies kadal yang berasal dari famili Agamidae. Kadal ini masih satu golongan dengan cecak terbang dan soa-soa, serta tersebar secara luas di […]]]>

Bunglon Surai atau Bunglon Pohon adalah salah satu spesies kadal yang berasal dari famili Agamidae. Kadal ini masih satu golongan dengan cecak terbang dan soa-soa, serta tersebar secara luas di berbagai kepulauan Indonesia.

Bronchocela jubata merupakan nama ilmiah spesies bunglon pohon. Hewan ini biasa awam sebut sebagai ‘bunglon’ saja, sebab merujuk pada populasi dan tingkat kelimpahannya.

Istilah ‘bunglon’ sendiri mencakup begitu banyak spesies. Setidaknya ada lima jenis kadal lain yang umum khayalak juluki sebagai ‘bunglon,’ termasuk Calotes dan Chamaeleonidae.

Bunglon surai tergabung dalam genus Bronchocela. Seperti kelompok reptilia kebanyakan, pakar mengidentifikasi hewan dengan warna kulit hijau terang ke dalam ordo Squamata.

Morfologi dan Ciri-Ciri Bunglon Surai

Ciri-ciri bunglon pohon sebenarnya sangat mudah kita kenali. Ukuran tubuhnya terbilang sedang, dengan panjang mencapai 55 cm jika diukur dari kepala sampai ke pangkal ekor.

Serupa dengan namanya, keunikan bunglon surai terletak pada deretan gerigi (surai) di leher belakangnya. Geriginya itu bersisik pipih, panjang dan meruncing, namun agak lunak.

Kepalanya dilapisi sisik-sisik bersudut dan menonjol. Kelopak mata mereka memiliki bintik-bintik berwarna agak hijau gelap, dengan punggung dan sisi badan berwarna hijau muda.

Warna kulit mereka sejatinya dapat berubah-ubah. Kemampuan ini sebagai kamuflase, yang berguna untuk mengelabui mangsa dan predator yang ada di sekitarnya.

Seiring bertambahnya usia, warna dasar bunglon surai pun menyilih jadi cokelat kekuningan sampai hijau tua kekuningan. Sedang kulit bawahnya berwarna hijau pucat atau keputihan.

Telapak tangan dan kaki berwarna coklat kekuningan. Ekornya berwarna hijau muda dengan belang-belang hijau tua agak kebiruan. Semakin ke ujung, coraknya terlihat cokelat ranting.

Baca juga: Kadal Rumput, Si Langsing Berekor Panjang yang Ahli Berlari

Habitat dan Persebaran Bunglon Surai

Di Tanah Air, spesies B. jubata dapat kita temukan menyebar mulai dari Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Singkep, Sulawesi, Karakelang, sampai Kepulauan Salibabu.

Sedangkan di regional Asia Tenggara, selain Indonesia populasi terbesarnya justru bisa kita jumpai di Filipina. Julukan atau nama lain spesies kadal ini juga tak kalah banyaknya.

Mereka dikenal sebagai Green Crested Lizards secara internasional, Bengkarung Surai bagi warga Melayu, serta bunglon, Londok atau Lunduk untuk masyarakat Jawa dan Sunda.

Semak-samak serta pepohonan di pinggiran hutan merupakan lokasi favorit bunglon surai. Mereka juga sering awam temukan di area kebun hingga pekarangan sekitar perumahan.

Saat membuat sarang, induk bunglon akan menggali tanah menggunakan moncongnya. Induk betina menyukai lahan yang subur, berpasir, atau berserasah untuk bertelur.

Menurut IUCN Red List, status konservasi bunglon surai sejatinya berisiko rendah. Tren populasinya pun relatif stabil sehingga tidak dikategorikan sebagai satwa dilindungi.

Karakteristik dan Kebiasaan Bunglon Surai

Bunglon mengonsumsi kupu-kupu, ngengat, capung, nyamuk, lalat, hingga laron untuk bertahan hidup. Ia menangkap mangsanya dengan cara berdiam diri di antara dedaunan.

Saat berburu, tak jarang spesies kadal tersebut justru tergelincir dari atas dahan. Ia lantas berlari menuju pohon terdekat untuk menyelamatkan diri dari serangan pengganggu.

Bunglon surai memang dapat mengubah warna kulitnya ketika merasa terancam, namun perubahan tersebut pakar nilai tidak terlalu mencolok atau signifikan seperti Kameleon.

Perlu anda ketahui, banyak penelitian yang menyebutkan bahwa bunglon mampu berubah warna karena kombinasi pigmen kulit. Akan tetapi, asumsi tersebut agaknya cukup keliru.

Merujuk penelitian terbaru, kemampuan ini mereka dapatkan dari zat nanokristal. Zat ini terkandung di bawah kulit terluar bunglon, yang funginya dapat memantulkan cahaya.

Ketika cahaya masuk ke pori-pori kulit terjadi perubahan ruang antarnanokristal. Proses inilah yang menentukan warna cahaya tertentu, yang akan dipantulkan oleh bunglon surai.

Baca juga: Mengenal Tokek: Berbagai Jenis dan Mitos di Tengah Masyarakat

Taksonomi Spesies Bronchocela Jubata

Penulis: Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bunglon-surai-si-hijau-lincah-yang-mampu-berubah-warna/feed/ 0
Kadal Rumput, Si Langsing Berekor Panjang yang Ahli Berlari https://www.greeners.co/flora-fauna/kadal-rumput-si-langsing-berekor-panjang-yang-ahli-berlari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kadal-rumput-si-langsing-berekor-panjang-yang-ahli-berlari https://www.greeners.co/flora-fauna/kadal-rumput-si-langsing-berekor-panjang-yang-ahli-berlari/#respond Mon, 17 May 2021 02:42:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=32753 Kadal Rumput (Takydromus sexlineatus) merupakan reptil bertubuh panjang yang berasal dari keluarga Lacertidae. Meski dapat kita temukan di hampir seluruh negara di dunia, populasi terbesar hewan tersebut ahli ketahui berasal […]]]>

Kadal Rumput (Takydromus sexlineatus) merupakan reptil bertubuh panjang yang berasal dari keluarga Lacertidae. Meski dapat kita temukan di hampir seluruh negara di dunia, populasi terbesar hewan tersebut ahli ketahui berasal dari Asia Tenggara.

Bagi masyarakat Indonesia, T. sexlineatus tentu bukan hewan yang asing untuk dilihat. Fauna berbadan ramping tersebut sering kita jumpai berada di sekitar rumah, kebun atau taman.

Di sejumlah daerah, sebutan bagi hewan ini terhitung cukup banyak. Warga Jawa Barat bahkan mengenal reptil unik tersebut dengan dua julukan nama, yakni Orong-orong dan Oloonyon.

Rujukan nama ilmiah kadal rumput juga sangat unik. Kata ‘Takydromus sexlineatus’ ahli ambil dari ‘Tachydromus’ yang berarti ‘pelari cepat,’ serta ‘Sexlineatus’ yang bermakna ‘bergaris enam.’

Morfologi dan Ciri-Ciri Kadal Rumput

Seperti yang telah disebut, Asian Grass Lizard (kadal rumput dalam bahasa Inggris) memiliki tubuh yang langsing dan panjang. Bentuk kepala mereka lancip dengan ekor dan kaki yang jenjang.

Panjang tubuh fauna tersebut bisa mencapai 29 cm, dengan lebih dari separuhnya merupakan panjang ekor. Punggung mereka umumnya berwarna cokelat kekuningan atau cokelat zaitun.

Sedang bagian bawah tubuhnya berwarna kuning terang atau kuning agak kehijauan. Warna tubuh bagian atas dan bawah dipisahkan oleh garis berwarna kehitaman.

Garis tersebut biasanya membentang mulai dari bagian leher hingga ke area pinggul. Bagian bawah ekor kadal rumput juga cukup khas, yakni mempunyai corak merah muda atau merah jambu.

Sebagai informasi, spesies T. sexlineatus sendiri sejatinya cukup sering masyarakat pelihara. Mereka mampu bertahan hidup hingga usia 5 tahun, serta bisa kita manfaatkan sebagai pakan reptil lainnya.

Penyebaran, Habitat dan Perilaku Kadal Rumput

Peta penyebaran kadal rumput sebenarnya sangat luas. Satwa asli kawasan tropis ini menyebar mulai dari barat India, timur dan Selatan Cina, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja hingga Vietnam.

Bukan cuma itu, hewan berordo Squamata pun mudah kita temukan di kawasan Nusantara. Ia terdistribusi mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali dan pulau-pulau di sekitarnya.

Berdasarkan habitatnya, Asian Grass Lizard sering ahli jumpai berada di sekitar lapangan berumput atau sawah yang mengering. Mereka juga hidup di sekitar area semak-semak serta hutan terbuka.

Jenis kadal ini memang lebih menyukai tempat-tempat terbuka dan terkena sinar matahari langsung. Ia senang berlari dan menyusup di antara rerumputan, serta berjemur di atas semak-semak kecil.

Uniknya, kebiasaan berjemur ini sering mereka lakukan secara berkelompok. Kadal rumput akan berjemur dengan posisi saling berdekatan di ujung dedaunan atau rerumputan pada pagi hari.

Perlu kita ketahui, orong-orong tergolong sebagai hewan yang aktif di siang hari. Ia mengonsumsi hewan kecil seperti lalat, ngengat dan belalang untuk mempertahankan hidupnya.

Mirip sepeti cecak, spesies reptil ini mampu memutuskan ekornya (ototomi) saat merasa terancam. Ekor yang putus dapat bergerak sendiri, sehingga dapat mengalihkan perhatian mangsanya.

Reproduksi dan Konservasi Kadal Rumput

Melansir Jurnal Biologi Indonesia (2011), dapat kita ketahui bahwa spesies kadal Takydromus sexlineatus jantan memiliki panjang dan lebar kepala lebih besar dibandingkan betinanya.

Bagian ekor hewan jantan juga lebih panjang daripada sang betina. Secara garis besar, Kadal ini bertelur sepanjang tahun dengan puncak reproduki terjadi antara bulan November – Desember.

Jumlah telur yang mereka hasilkan dalam sekali berbiak mencapai 1 – 3 butir, sedangkan durasi bertelurnya sendiri bisa terjadi sebanyak 1 – 3 kali per tahun.

Spesies kadal rumput memang tidak tergolong sebagai satwa yang dilindungi oleh negara. Namun populasinya terus mengalami penurunan, seiring masifnya kerusakan pada habitat asli mereka.

Menurut IUCN Red List, status konservasi orong-orong berada di level hampir terancam (Near Threatened). Karena itu, langkah pelestarian terhadap hewan ini perlu segera kita galakkan.

Taksonomi Takydromus Sexlineatus

Penulis : Yuhan Al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kadal-rumput-si-langsing-berekor-panjang-yang-ahli-berlari/feed/ 0
Cecak Terbang, Kerabat Tokek yang Pandai Berkamuflase https://www.greeners.co/flora-fauna/cecak-terbang-kerabat-tokek-yang-pandai-berkamuflase/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cecak-terbang-kerabat-tokek-yang-pandai-berkamuflase https://www.greeners.co/flora-fauna/cecak-terbang-kerabat-tokek-yang-pandai-berkamuflase/#respond Wed, 15 Jul 2020 00:00:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=27871 Cecak terbang memiliki kemampuan kamuflase yang luar biasa. Kelepak kulit di sepanjang sisinya membantu mereka menyatu dengan warna kulit pohon.]]>

Cecak terbang atau Ptychozoon kuhli dikenal dikenal dalam Bahasa Inggris sebagai Kuhl’s flying gecko. Sedangkan dalam Bahasa Jerman hewan ini disebut dengan Kuhls faltengecko. Persebarannya di Indonesia dapat ditemukan di wilayah Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Pulau Enggano. Di luar negeri cecak terbang dapat ditemukan di Sarawak, Sabah, Brunei Darusalam, Malaysia Barat, Thailand, Myanmar, India, Pulau Nicobar, hingga Singapura (Das 2007 dan J. Craigh Venter Instistute, 2009).

Secara morfologi, kadal ini memiliki corak lurik bergelombang transversal dari kepala, leher, hingga punggung. Cecak terbang memiliki panjang badan hingga ekor (Snout Vent Length) sekitar 98 milimeter. Ciri lain dari spesies ini yakni garis berwarna cokelat kehitaman yang terletak di sisi mata kanan maupun kiri. Marka ini memanjang seperti corak lurik pada punggung bagian pertama. Bagian bawah tubuhnya tidak memiliki corak dan berwarna kuning (Das 2007).

Baca juga: Bandikut, Mamalia Endemis dari Papua

Draco atau cecak terbang mempunyai bentuk kepala yang pipih dan berbentuk bulat telur. Moncongnya lebih panjang daripada jarak antara mata dan lubang telinga. Hewan melata ini berekor panjang, pipih, dan kaki yang berselaput. Keunggulan tubuhnya ini membuat spesies dapat meluncur pada jarak pendek.

Cecak Terbang

Foto: shutterstock

Hewan pemakan serangga ini memiliki kemampuan kamuflase yang luar biasa. Kelepak kulit di sepanjang sisinya membantu mereka menyatu dengan warna kulit pohon. Cecak terbang layaknya sebagian spesies tokek lain, menggunakan bantalan jari kaki dan rambut yang berukuran mikroskopis untuk dapat melekat pada hampir semua permukaan termasuk kaca.

Dalam anggota Famili Gekkonidae, kelompok hewan melata lebih dikenal sebagai cecak dan tokek. Famili tersebut terdiri dari 83 genus dan 670 spesies di seluruh dunia (Grizemk’s, 1975). Sebagian besar anggotanya adalah insektivor atau hewan pemakan serangga (Mattison, 1992; Eprilurahman dan Rohmah, 2008).

Baca juga: Kecoak, Serangga Indikator Kebersihan Rumah

Di Indonesia terdapat 13 genus dan 50 spesies (Schmidt, 1997). Sedangkan dalam data statistik kehutanan terdapat 6 genus dan 13 spesies yang terdaftar sebagai reptil yang diperdagangkan ke luar negeri (Departemen Kehutanan, 2009). Seperti kadal pada umumnya, anggota Famili Gekkonidae memiliki dua pasang tungkai, gendang telinga, dan tulang dada. Jenis tersebut dapat dijumpai di berbagai habitat yang berbeda dari hutan hingga ke permukiman.

Taksonomi Cecak Terbang

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/cecak-terbang-kerabat-tokek-yang-pandai-berkamuflase/feed/ 0
Peneliti: Kadal Dapat Membantu Menjelaskan Dampak Iklim https://www.greeners.co/berita/peneliti-kadal-dapat-membantu-menjelaskan-dampak-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-kadal-dapat-membantu-menjelaskan-dampak-iklim https://www.greeners.co/berita/peneliti-kadal-dapat-membantu-menjelaskan-dampak-iklim/#respond Thu, 07 Dec 2017 05:08:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19487 Para peneliti AS berpikir bahwa kadal dapat membantu mereka satu langkah lebih maju kepada mimpi lama, yaitu 'tabel periodik' untuk ekologi.]]>

LONDON, 23 November 2017 – Para peneliti AS berpikir bahwa kadal dapat membantu mereka satu langkah lebih maju kepada mimpi lama, yaitu ‘tabel periodik’ untuk ekologi.

Saat wawasan yang dikemukakan oleh ahli kimia dari Rusia Dmitri Mendeleev saat ini berarti ahli kimia dapat mengerti lebih baik hubungan antara elemen dan memprediksi reaksi mereka, sebuah klasifikasi relung ekologi dapat membantu para ahli biologi lebih mengerti dampak perubahan iklim terhadap jutaan spesies di Bumi.

Proyek yang mungkin tidak akan pernah bisa diselesaikan, namun sebuah studi terbaru di The American Naturalist memperlihatkan bahwa hal tersebut baru saja dimulai.

Sebuah relung ekologi merupakan keterkaitan antara kondisi lingkungan hidup dan perilaku biologi yang berarti seekor serangga, amfibi, reptil, burung atau mamalia dispesialisasikan untuk memberikan yang terbaik dari hidup mereka yang singkat. Misalnya, tawon membutuhkan pohon ara untuk hidup, dan apabila ada 900 spesies pohon ara di planet, 900 spesies tawon pohon ara akan berevolusi untuk mengisi relung ekologi tersebut.

Para peneliti telah menemukan apa yang menjadikan suatu relung. Mereka memilih habitat, diet, sejarah kehidupan, metabolisme dan pertahanan, kemudian mencatatkan antara tujuh hingga 15 variable dari setiap elemen tersebut. Lalu, mereka mengumpulkan semua data yang bisa ditemukan terkait 134 spesies kadal di empat benua dari 24 famili kadal (total 38 famili kadal yang ada). Selanjutnya, mereka mulai memaksakan perintah untuk bahan-bahan mereka.

Mereka bisa melakukan hal tersebut karena meskipun kadal gurun Australia merupakan spesies yang terpisah dari kadal gurun di Afrika atau Amerika, mereka mencari makanan, hidup atau tidur pada waktu tertentu, reproduksi dan mengeksploitasi habitat mereka dengan cara yang sama. Tekanan evolusi berarti bahwa mereka telah berkumpul untuk mengisi relung ekologi yang serupa.

“Menyimpulkan ciri ekologi utama pada skema yang sederhana tersebut memudahkan para ahli untuk memprediksi bagaimana spesies beraksi terhadap kondisi lingkungan yang baru dan potensi spesies asing,” jelas Eric Pianka, ahli ilmu hewan dari Universitas Texas, di Austin yang memimpin studi tersebut.

“Hal tersebut akan menjelaskan bagaimana relung bisa berevolusi di masa lalu dan bahkan bagaimana mereka bisa berevolusi di masa depan, semua mempunyai pengaruh langsung terhadap dampak perubahan iklim.”

Perubahan iklim menghadirkan masalah bagi para ahli biologi: manusia tergantung kepada alam melalui segudang cara; tanaman, jamur, dan spesies hewan mendaur ulang air dan udara di dunia, mempertahankan curah hujan, menyerbuki tanaman, menumbuhkan buah-buahan dan biji untuk nutrisi dan bahan kimia untuk farmasi, dan pabrik untuk baju serta perumahan.

Mereka membuang kotoran dan limbah biologis dan setiap spesies di ekonomi yang rumit ini bertahan hidup karena mereka hidup dalam relung ekologi.

Risiko global

Namun, ekosistem yang mendukung jaringan tersebut kini sedang menghadapi risiko di mana-mana akibat perubahan iklim. Mereka mengalami kekacauan pada skala global dan pada level negara atau lingkungan laut.

Tanpa kerangka intelektual yang bisa mengidentifikasikan fitur di mana ekosistem dan relung ekologi dalam ekosistem tersebut, mungkin memiliki kesamaan, para ahli konservasi biologi tidak tahu dari mana harus memulai.

Apa yang mereka ketahui adalah konservasi merupakan vital dan mahkluk hidup di dunia menjadi lebih kuat karena mereka sangat banyak dan bervariasi. Namun penelitian lain yang berasal dari Swiss yang melibatkan 2.200 spesies di 450 lanskap yang berbeda telah mengkonfirmasi sekali lagi bahwa semakin kaya ragam kehidupan, semakin produktif lanskap tersebut dan semakin baik untuk bertahan melawan perubahan.

Saat ini, para peneliti dari Texas, Oklahoma, dan Argentina telah mengkonfirmasi hal tersebut dengan yang disebut sebagai “Hipervolume relung kadal”, kemungkinan kehidupan ekuivalen dengan tabel periodik yang memungkinkan adanya prediksi yang bisa dikonfirmasi melalui observasi atau uji coba, tidak hanya bagi kadal tapi juga famili lainya.

Relung yang terpisah

Kadal, seperti burung, hidup di pohon, bertelur dan memangsa serangga. Tidak seperti burung, mereka bergantung pada lingkungan untuk mempertahankan suhu tubuh, sehingga yang bisa menjadi pangan satu hari bagi burung bisa membuat kadal hidup selama sebulan.

Dengan demikian, burung dan kadal menempati relung ekologi yang terpisah. Para ahli ekologi memiliki struktur atau perancah yang bisa menempatkan spesimen hewan dan habitat ideal dan menganggapnya sebaga berelasi dengan relung ekologi lainnya.

Namun, para peneliti menekankan, sejauh ini hanya 2,2 persen dari kadal yang diketahui dimasukkan ke dalam analisa mereka dan lingkungan merupakan hal yang dinamis karena berubah seiring dengan waktu.

Banyak hal yang bisa dilakukan saat meneliti klad, grup organisme yang memiliki leluhur dan keturunan yang sama.

“Dengan banyak tabel periodik diciptakan,” tulis mereka, “analisa komparatif antara klad yang lebih berbeda (ikan-katak-salamander-kadal-ular-burung-mamalia) menjadi lebih mungkin, akhirnya akan menuju pada pemahaman tentang relung evolusi pada vertebrata.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/peneliti-kadal-dapat-membantu-menjelaskan-dampak-iklim/feed/ 0
Biawak, Predator Oportunistik Khas Indonesia https://www.greeners.co/flora-fauna/biawak-predator-oportunistik-khas-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=biawak-predator-oportunistik-khas-indonesia https://www.greeners.co/flora-fauna/biawak-predator-oportunistik-khas-indonesia/#respond Tue, 06 Jun 2017 07:29:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=17212 Biawak (famili Varanidae) adalah kadal yang dianggap sebagai salah satu jenis kadal terbesar di dunia. Sebanyak 53 spesies teridentifikasi di seluruh dunia.]]>

Biawak (famili Varanidae) adalah kadal yang dianggap sebagai salah satu jenis kadal terbesar di dunia. Sebanyak 53 spesies teridentifikasi di seluruh dunia. Adapun, lebih dari 40% seluruh jenis biawak di dunia terdapat di wilayah Indonesia dan sisanya ditemukan di Asia, Amerika, Australia juga Afrika.

Biawak termasuk kedalam fauna tipe peralihan yang penyebarannya hampir di seluruh Indonesia, mulai dari wilayah Indonesia bagian barat hingga ke wilayah Indonesia bagian timur. Biawak berasal dari kata Arab ‘waran’ yang berarti monitor.

Secara bentuk fisik, biawak dapat mengangkat dirinya secara vertikal dengan menopang pada kedua kaki belakang dan ekornya sehingga memiliki pandangan yang lebih jelas dan tinggi dari sekitarnya. Berdasarkan indikator tersebut maka penamaannya dalam bahasa Inggris yaitu ‘monitor lizard’ (Pianka et al, 2004; Parameswari, 2012). Di Indonesia, penamaan biawak memiliki panggilan tersendiri, seperti bayawak (Sunda), menyawak atau nyambik (Jawa), berekai (Madura), dan dalam bahasa Nias disebut boroe.

Uniknya lagi penamaan biawak dipakai sebagai nama salah satu pulau di wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat yaitu Pulau Biawak. Keunikan dari Pulau Biawak ini ialah adanya spesies biawak air Asia (Varanus salvator) yang paling banyak penyebarannya meliputi wilayah Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Spesies ini memiliki panjang tubuh sekitar satu hingga 2,5 meter.

Berdasarkan tulisan dari penelitian Parameswari (2012), biawak adalah predator oportunistik sehingga dapat mengubah pola pakannya berdasarkan ketersediaan pakan di habitatnya.

Pada biawak jantan terdapat sepasang hemipenis yang berbentuk seperti kantung, terletak di pangkal ekor dan menimbulkan tonjolan pada bagian ventral ekor. Sedangkan pada biawak betina memiliki sepasang oviduk dan ovarium. Ovarium terletak pada posisi yang sama dengan testis pada biawak jantan yaitu di dorsomedial rongga abdomen.

Faktor penentu utama kematangan seksual pada biawak adalah ukuran tubuh. Usia dianggap tidak terlalu berpengaruh pada kematangan seksual karena berbeda antara biawak di alam liar dan penangkaran. Usia kematangan seksual biawak di alam liar berkisar antara 3-4 tahun, sedangkan usia kematangan seksual biawak di penangkaran tidak dapat ditentukan karena dipengaruhi oleh perawatan dan pakan yang berbeda.

Musim kawin pada biawak ditentukan oleh suhu, hujan dan ketersediaan pakan. Biawak jantan akan menjadi agresif dan menjaga teritorial ketika musim kawin. Frekuensi reproduksi biawak tergantung pada kondisi lingkungan dan nutrisi biawak tersebut. Biawak bersifat ovipar dan dapat menghasilkan telur lebih dari satu kali dalam setahun.

Kelangsungan hidup biawak dapat terganggu akibat degradasi lingkungan, polusi, dan ulah manusia. Di beberapa daerah, biawak diolah dagingnya menjadi bermacam-macam hidangan. Konsumen daging biawak meningkat karena daging biawak dipercaya dapat bertindak sebagai aphrodisiac dan memiliki khasiat untuk mengobati gatal, menghaluskan kulit, mengobati luka bakar, dan mengencangkan payudara.

Disisi lain, biawak merupakan karnivora utama sehingga rentan terhadap polutan dan toksin lingkungan yang dapat mengakibatkan penyakit dan mutasi genetik. Biawak yang memakan amfibi, serangga, atau mamalia yang terkena polutan lingkungan dapat mengalami mutasi genetik sehingga menurunkan kemampuannya untuk bertahan hidup.

Kerusakan habitat akibat penebangan pohon dan pembangunan perumahan atau kawasan komersial juga telah menurunkan populasinya di alam. Perburuan untuk mendapatkan kulit dan dagingnya telah mengurangi populasi fauna ini hingga ke ambang kepunahan.

Populasinya menurun drastis akibat meningkatnya perdagangan biawak sebagai hewan peliharaan eksotik yang telah meningkat sejak tahun 1990-an, dan biawak merupakan komoditi mahal dalam perdagangan karena fauna ini secara umum jinak, mudah dilatih, dan memiliki rentang hidup yang panjang (Travis 2011; Parameswari, 2012).

Semua spesies dan subspesies dari biawak termasuk dalam CITES Appendix II, kecuali Varanus bengalensis, Varanus flavescens, Varanus griseus, Varanus komodoensis, dan Varanus nebulosis termasuk dalam Appendix I (Ananjeva et al. 2006). Spesies yang termasuk dalam Appendix I adalah spesies terancam punah yang dipengaruhi atau dapat dipengaruhi oleh perdagangan satwa liar. Spesies yang termasuk dalam Appendix II adalah spesies yang belum terancam punah namun dapat terancam punah bila perdagangan spesies tersebut tidak diatur dan diawasi secara ketat.

predator

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/biawak-predator-oportunistik-khas-indonesia/feed/ 0
Bunglon Taman https://www.greeners.co/flora-fauna/bunglon-taman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bunglon-taman https://www.greeners.co/flora-fauna/bunglon-taman/#respond Sat, 17 May 2014 04:45:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_kehati&p=4616 Bunglon taman (Calotes versicolor) atau Green-venced Lizard adalah salah satu jenis bunglon jenis pendatang yang terlepas ke alam liar. Diduga jenis ini awalnya adalah binatang peliharaan yang terlepas ke alam. […]]]>

Greeners BioDiversity LOGOBunglon taman (Calotes versicolor) atau Green-venced Lizard adalah salah satu jenis bunglon jenis pendatang yang terlepas ke alam liar. Diduga jenis ini awalnya adalah binatang peliharaan yang terlepas ke alam. Untuk distribusi aslinya hanya sampai di Thailand.

Saat musim kawin tiba, tenggorokan bunglon jantan akan berwarna merah cerah untuk menarik perhatian bunglon betina. Bunglon dapat berkembang biak setelah usia mereka mencapai satu tahun. Sekitar 10-20 telur dihasilkan bunglon betina dan telur-telur tersebut akan menetas setelah 6-7 minggu.

Bunglon ini merupakan pemakan serangga. Meskipun bunglon memiliki gigi, namun biasanya mereka menelan utuh mangsanya. Bunglon taman ini mampu beradaptasi di lingkungan keras seperti kota Jakarta karena jenis ini mampu memakan serangga apa saja, dan jenis ini bisa menyebrang jalan untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

 

Photographer : Ady Kristanto
Kamera : Nikon D80 + Lensa Sigma 28 – 300 mm
Lokasi : Hutan Kota Pesanggrahan, Jakarta Selatan

 

 

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bunglon-taman/feed/ 0
Pemanasan Suhu Global Ancam Kepunahan Kadal https://www.greeners.co/news/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal https://www.greeners.co/news/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/#respond Fri, 14 May 2010 16:02:39 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=1471

(ScienceDaily) – Pemanasan suhu global dapat menyebabkan kepunahan kadal. Peningkatan suhu, yang terjadi akibat tingginya tingkat emisi global ternyata berdampak pada kehidupan reptil jenis kadal. Jika peningkatan suhu terus berlanjut, diperkirakan 20 persen spesies kadal yang ada akan punah pada tahun 2080.

Peneliti dari Universitas California, Barry Sinervo, bersama kolega penelitiannya dari seluruh penjuru dunia menyimpulkan hal ini setelah melakukan perbandingan studi di lapangan atas populasi kadal di Meksiko dengan data lain di seluruh dunia.

Sinervo, yang memimpin penelitian ini, melakukan survey atas populasi jenis kadal selama satu dekade di Meksiko. Selama waktu tersebut Sinervo menyimpulkan kenaikan temperatur suhu global memengaruhi kelangsungan 12 persen populasi kadal langka.

Sinervo mulai memfokuskan perhatiannya pada kepunahan kadal setelah dia melihat sebuah kecenderungan yang tampak selama melakukan pekerjaan lapangan di Perancis. Dia mengidentifikasi pola mengkhawatirkan dari grafik kepunahan kadal dengan peneliti Prancis, Jean Clobert dan Benoit Heulin.

Berdasarkan temuan itu mereka menghubungi rekan-rekannya di seluruh dunia – Jack Miles Situs dan Donald di Amerika Serikat, Fausto Méndez-de-la-Cruz di Meksiko, dan Carlos Frederico Duarte Rocha di Brazil. Kolaborasi global pun terjadi.

“Seberapa cepat kadal-kadal di bumi beradaptasi dengan peningkatan suhu global? adalah sebuah pertanyaan yang penting,” kata Sinervo

Setelah mengompilasinya dengan data dari penjuru dunia, Sinervo dan koleganya mempelajari efek peningkatan suhu pada tubuh kadal, dan membuat sebuah model resiko kepunahan pada berbagai spesies kadal di seluruh dunia, yang sekarang sudah hampir punah. Model ini jadi informasi bagi peneliti mengenai bagaimana pola kepunahan ini akan berlanjut pada masa datang.

Tim peneliti kemudian mengumpulkan berbagai jenis kadal dari 200 wilayah berbeda di Mexico. Menurut tim peneliti, suhu di daerah tersebut telah berubah terlalu cepat bagi kadal disana. Tim peneliti menyimpan model tersebut tersebar di beberapa lokasi di Meksiko, yaitu lokasi yang populasi kadal telah punah, lokasi populasi kadal hampir punah, dan lokasi populasi kadal yang masih terus berkembang.

“Ada periode hari ketika kadal tidak dapat keluar, dan pada dasarnya harus mundur ke tempat-tempat dingin,” kata Sinervo. “Ketika mereka tidak keluar, kadal tidak dapat makanan Jadi kita bisa memperkirakan berapa banyak waktu yang membuat kadal itu terusir karena suhu. Sehingga, kami mampu membuat parameter untuk model global kami.”

Model yang dibuat oleh peneliti-peneliti dunia ini menggambarkan bila kecenderungan peningkatan temperatur global akibat emisi karbondioksida terus bertambah, sekitar 6 persen spesies kadal akan punah pada tahun 2050. Jumlah 20 persen spesies kadal pun diperkirakan akan hilang dari planet bumi pada 2080.

Sinervo mengatakan, “Kita melihat spesies yang hidup di dataran rendah mulai berpindah ke dataran tinggi. Perpindahan ini secara perlahan mengakibatkan species dataran tinggi terancam kehidupannya apabila mereka (spesies dataran tinggi) tidak bisa berevolusi dengan baik.”

Walaupun begitu, prediksi tahun 2080, menurut Sinervo bisa saja berubah jika manusia berhasil menghambat pemanasan global.

“Jika pemerintah dunia dapat menerapkan perubahan terpadu untuk membatasi emisi karbondioksida kita, maka kita dapat menekuk kurva skenario tingkat kepunahan,” simpul Sinervo. Jumlah spesies kadal di seluruh dunia saat ini sekitar 1200 jenis.

]]>
https://www.greeners.co/news/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/feed/ 0
Pemanasan Suhu Global Ancam Kepunahan Kadal https://www.greeners.co/berita/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal https://www.greeners.co/berita/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/#respond Fri, 14 May 2010 16:02:39 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=1471

(ScienceDaily) – Pemanasan suhu global dapat menyebabkan kepunahan kadal. Peningkatan suhu, yang terjadi akibat tingginya tingkat emisi global ternyata berdampak pada kehidupan reptil jenis kadal. Jika peningkatan suhu terus berlanjut, diperkirakan 20 persen spesies kadal yang ada akan punah pada tahun 2080.

Peneliti dari Universitas California, Barry Sinervo, bersama kolega penelitiannya dari seluruh penjuru dunia menyimpulkan hal ini setelah melakukan perbandingan studi di lapangan atas populasi kadal di Meksiko dengan data lain di seluruh dunia.

Sinervo, yang memimpin penelitian ini, melakukan survey atas populasi jenis kadal selama satu dekade di Meksiko. Selama waktu tersebut Sinervo menyimpulkan kenaikan temperatur suhu global memengaruhi kelangsungan 12 persen populasi kadal langka.

Sinervo mulai memfokuskan perhatiannya pada kepunahan kadal setelah dia melihat sebuah kecenderungan yang tampak selama melakukan pekerjaan lapangan di Perancis. Dia mengidentifikasi pola mengkhawatirkan dari grafik kepunahan kadal dengan peneliti Prancis, Jean Clobert dan Benoit Heulin.

Berdasarkan temuan itu mereka menghubungi rekan-rekannya di seluruh dunia – Jack Miles Situs dan Donald di Amerika Serikat, Fausto Méndez-de-la-Cruz di Meksiko, dan Carlos Frederico Duarte Rocha di Brazil. Kolaborasi global pun terjadi.

“Seberapa cepat kadal-kadal di bumi beradaptasi dengan peningkatan suhu global? adalah sebuah pertanyaan yang penting,” kata Sinervo

Setelah mengompilasinya dengan data dari penjuru dunia, Sinervo dan koleganya mempelajari efek peningkatan suhu pada tubuh kadal, dan membuat sebuah model resiko kepunahan pada berbagai spesies kadal di seluruh dunia, yang sekarang sudah hampir punah. Model ini jadi informasi bagi peneliti mengenai bagaimana pola kepunahan ini akan berlanjut pada masa datang.

Tim peneliti kemudian mengumpulkan berbagai jenis kadal dari 200 wilayah berbeda di Mexico. Menurut tim peneliti, suhu di daerah tersebut telah berubah terlalu cepat bagi kadal disana. Tim peneliti menyimpan model tersebut tersebar di beberapa lokasi di Meksiko, yaitu lokasi yang populasi kadal telah punah, lokasi populasi kadal hampir punah, dan lokasi populasi kadal yang masih terus berkembang.

“Ada periode hari ketika kadal tidak dapat keluar, dan pada dasarnya harus mundur ke tempat-tempat dingin,” kata Sinervo. “Ketika mereka tidak keluar, kadal tidak dapat makanan Jadi kita bisa memperkirakan berapa banyak waktu yang membuat kadal itu terusir karena suhu. Sehingga, kami mampu membuat parameter untuk model global kami.”

Model yang dibuat oleh peneliti-peneliti dunia ini menggambarkan bila kecenderungan peningkatan temperatur global akibat emisi karbondioksida terus bertambah, sekitar 6 persen spesies kadal akan punah pada tahun 2050. Jumlah 20 persen spesies kadal pun diperkirakan akan hilang dari planet bumi pada 2080.

Sinervo mengatakan, “Kita melihat spesies yang hidup di dataran rendah mulai berpindah ke dataran tinggi. Perpindahan ini secara perlahan mengakibatkan species dataran tinggi terancam kehidupannya apabila mereka (spesies dataran tinggi) tidak bisa berevolusi dengan baik.”

Walaupun begitu, prediksi tahun 2080, menurut Sinervo bisa saja berubah jika manusia berhasil menghambat pemanasan global.

“Jika pemerintah dunia dapat menerapkan perubahan terpadu untuk membatasi emisi karbondioksida kita, maka kita dapat menekuk kurva skenario tingkat kepunahan,” simpul Sinervo. Jumlah spesies kadal di seluruh dunia saat ini sekitar 1200 jenis.

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/feed/ 0