kondisi cuaca - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kondisi-cuaca/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 10 May 2022 05:56:57 +0000 id hourly 1 BMKG : Waspadai Panas Terik Hingga Pertengahan Mei https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-panas-terik-hingga-pertengahan-mei/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-waspadai-panas-terik-hingga-pertengahan-mei https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-panas-terik-hingga-pertengahan-mei/#respond Tue, 10 May 2022 05:56:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36124 Jakarta (Greeners) – Panas terik karena suhu yang lebih panas dari biasanya dialami sebagian besar wilayah di Indonesia belakangan ini. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan panas tersebut bukan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Panas terik karena suhu yang lebih panas dari biasanya dialami sebagian besar wilayah di Indonesia belakangan ini. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan panas tersebut bukan fenomena gelombang panas atau heatwave.

Namun BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kondisi ini akan berlangsung hingga pertengahan Mei 2022.

Mengutip @infoBMKG, suhu maksimum harian di Indonesia periode 9-10 Mei 2022 yang tercatat Stasiun Meteorologi Sanggu, Barito Selatan, Kalimantan Tengah mencapai 36 derajat Celcius, Stasiun Meteorologi Kertajati 35,8 derajat Celcius, Balai Besar Wilayah 2 Ciputat 35 derajat Celcius. Selanjutnya Stasiun Meteorologi Kemayoran 34 derajat Celcius dan suhu terendah 33 derajat Celcius terpantau Stasiun Meteorologi Radin Inten II Lampung.

Deputi Bidang Meteorologi Guswanto melalui keterangan tertulisnya menyatakan, berdasarkan data hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum terukur selama periode 1-7 Mei 2022 berkisar antara 33 – 36,1 derajat Celcius. Suhu maksimum tertinggi hingga 36,1 derajat Celcius terjadi di wilayah Tangerang-Banten dan Kalimarau-Kalimantan Utara.

Suhu maksimum tertinggi di Indonesia pada bulan April selama 4-5 tahun terakhir sekitar 38,8 derajat Celcius di Palembang pada tahun 2019. Sedangkan di bulan Mei sekitar 38,8 derajat Celcius di Temindung Samarinda pada tahun 2018.

Bukan Termasuk Gelombang Panas

Sementara itu, menurut World Meteorological Organization (WMO), heatwave merupakan fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama 5 hari atau lebih secara berturut-turut. Saat kondisi tersebut, suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5 derajat Celcius atau lebih.

Fenomena gelombang panas ini biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika. Kondisi ini dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer di lintang menengah.

“Sedangkan yang terjadi di wilayah Indonesia adalah fenomena kondisi suhu panas atau terik dalam skala variabilitas harian,” katanya, Senin (9/5).

Guswanto mengungkapkan, fenomena suhu udara terik yang terjadi pada siang hari tersebut dipicu oleh beberapa hal. Misalnya, posisi semu matahari saat ini sudah berada di wilayah utara ekuator. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau.

Adapun tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujannya akan sangat berkurang. Sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang hari akan cukup mendominasi.

Kemudian dominasi cuaca yang cerah dan tingkat perawanan yang rendah tersebut dapat mengoptimumkan penerimaan sinar matahari di permukaan bumi. Hal ini menyebabkan masyarakat merasakan cuaca cukup terik pada siang hari.

“Kewaspadaan kondisi suhu panas atau terik pada siang hari masih harus masyarakat waspadai hingga pertengahan Mei,” imbuhnya.

Dalam Jangka Panjang Pemanasan Global Pengaruhi Kondisi Panas Terik

Sementara itu Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan menyebut, panas terik untuk variasi yang sifatnya keseharian lebih disebabkan fluktuasi radiasi matahari dan kondisi cuaca. Akan tetapi secara jangka panjang terdapat kontribusi pemanasan global yang memengaruhinya.

“Secara jangka panjang, gas rumah kaca yang mengendalikan atau memfilter radiasi matahari turut mempengaruhi kenaikan suhu global,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kondisi stamina tubuh dan cairan tubuh. Utamanya bagi warga yang beraktifitas di luar ruangan pada siang hari dan juga warga dalam perjalanan mudik arus balik supaya tidak terjadi dehidrasi hingga kelelahan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-panas-terik-hingga-pertengahan-mei/feed/ 0
Gede-Pangrango Diguyur Hujan, Jalur Pendakian Tetap Dibuka https://www.greeners.co/berita/gede-pangrango-diguyur-hujan-jalur-pendakian-tetap-dibuka/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gede-pangrango-diguyur-hujan-jalur-pendakian-tetap-dibuka https://www.greeners.co/berita/gede-pangrango-diguyur-hujan-jalur-pendakian-tetap-dibuka/#respond Mon, 10 Oct 2016 10:45:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14932 Jalur pendakian gunung di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dipastikan tetap dibuka seperti biasa, walau intensitas curah hujan cukup tinggi beberapa waktu belakangan.]]>

Jakarta (Greeners) – Jalur pendakian gunung di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dipastikan tetap dibuka seperti biasa, walau intensitas curah hujan cukup tinggi akhir-akhir ini.

Kepala Balai Besar TNGGP Soejatno Sukandar menyebutkan, dalam pemantauan harian yang dilakukan sampai saat ini, kondisi cuaca yang diguyur hujan terus-menerus itu masih dalam taraf normal. “Ini kan hutan hujan tropis, yang memang cuacanya basah dan lembab. Sampai kini masih normal kok,” katanya di Cibodas, Tangerang, Senin (10/10).

BACA JUGA: Sakit, Pendaki Asal Depok Meninggal di Semeru

Namun diingatkan kepada wisatawan dan pecinta alam yang hendak mendaki di kawasan tersebut agar mempersiapkan diri dengan peralatan yang lengkap, makanan yang cukup dan kesiapan fisik yang memadai. “Kami mempersilakan pengunjung mendaki gunung karena di sini adalah tempat terbaik untuk mempelajari konservasi lingkungan hidup di hutan hujan tropis,” ujarnya menambahkan.

Konservasi yang dimaksud Soejatno adalah, sebagai taman nasional yang paling dekat dengan dua kota besar, Jakarta dan Bandung, TNGGP mendapat ancaman limbah pendaki yang tidak sedikit.

Jika diasumsikan jumlah pendaki yang datang mencapai 600 orang per hari, dengan pendakian selama 2 hari, maka dalam satu waktu jumlah pendaki di Gunung Gede Pangarango bisa mencapai 1.200 orang. Menurut Soejatno, jumlah tersebut bisa mencapai 1.800 orang saat memasuki waktu liburan.

BACA JUGA: Sampah dan Musim Pendakian Semeru

Tidak ada yang bisa menjamin angka pendaki yang jumlahnya mencapai ribuan tersebut akan mematuhi aturan untuk tidak meninggalkan sampah di kawasan konservasi. Jika satu orang meninggalkan sampah sekitar 0,5 kg saja, maka jika dikalikan 1800 orang, sampah di Gunung Gede Pangrango dalam satu waktu pendakian sama dengan 900 kg.

“Namun kami menyambut baik bagi pendaki gunung yang ingin melakukan bakti sosial membersihkan sampah di TNGGP, karena itu sejalan dengan program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang getol-getolnya mengajak partisipasi masyarakat mengelola lingkungan,” tukasnya.

Penulis: TAT

]]>
https://www.greeners.co/berita/gede-pangrango-diguyur-hujan-jalur-pendakian-tetap-dibuka/feed/ 0
Sempat Siaga Tiga, Debit Air di Katulampa Kembali Normal https://www.greeners.co/berita/sempat-siaga-tiga-debit-air-di-katulampa-kembali-normal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sempat-siaga-tiga-debit-air-di-katulampa-kembali-normal https://www.greeners.co/berita/sempat-siaga-tiga-debit-air-di-katulampa-kembali-normal/#respond Tue, 10 Nov 2015 02:00:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11839 Jakarta (Greeners) – Intensitas curah hujan yang mulai tinggi mengakibatkan status debit air di Bendungan Katulampa, Bogor, Jawa Barat mulai meningkat. Tercatat hingga pukul 19.30 WIB, Minggu (08/11) malam, debit […]]]>

Jakarta (Greeners) – Intensitas curah hujan yang mulai tinggi mengakibatkan status debit air di Bendungan Katulampa, Bogor, Jawa Barat mulai meningkat. Tercatat hingga pukul 19.30 WIB, Minggu (08/11) malam, debit air di Bendungan Katulampa mencapai angka ketinggian hingga 120 cm yang artinya memasuki status Siaga Tiga.

Namun, Kepala Teknis Bendung Katulampa Bogor Andi Sudirman saat dihubungi oleh Greeners mengatakan bahwa debit air tersebut telah turun dan mencapai batas normal hingga pukul 17.00 WIB, Senin (09/11) sore. Menurutnya, hujan yang berhenti pada Minggu malam di wilayah Bogor menyebabkan debit air dibendungan tersebut menyusut.

“Tadi siang sekitar pukul 13.00 WIB debit airnya sudah 10 sentimeter. Sekarang pukul 17.00 WIB debit air masih diangka 40 sentimeter yang artinya masih berada dibatas normal. Nanti kalau sudah naik sampai angka di atas 50 sentimeter baru statusnya jadi siaga empat,” terang Andi, Jakarta, Senin (09/11).

Andi menambahkan, hingga Senin sore, kondisi cuaca di Kota Bogor masih dalam keadaan gerimis. Diperkirakan debit air di Bendungan Katulampa masih berada dalam batas normal mengingat curah hujan yang masih fluktuatif. Namun, Andi juga mengimbau kepada masyarakat Jakarta agar selalu waspada terhadap banjir kiriman dari Bogor yang bisa datang sewaktu-waktu.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/sempat-siaga-tiga-debit-air-di-katulampa-kembali-normal/feed/ 0
BMKG: Indonesia Belum Akan Terkena Dampak El Nino https://www.greeners.co/berita/bmkg-indonesia-belum-akan-terkena-dampak-el-nino/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-indonesia-belum-akan-terkena-dampak-el-nino https://www.greeners.co/berita/bmkg-indonesia-belum-akan-terkena-dampak-el-nino/#respond Wed, 01 Jul 2015 02:30:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10069 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa saat ini Indonesia belum terkena dampak El Nino atau fenomena perbedaan suhu permukaan laut dan interaksi perbedaan sirkulasi tekanan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa saat ini Indonesia belum terkena dampak El Nino atau fenomena perbedaan suhu permukaan laut dan interaksi perbedaan sirkulasi tekanan udara di atmosfer.

Kepala Balitbang BMKG, Edvin Aldrian kepada Greeners mengatakan bahwa dampak El Nino di Indonesia baru akan dirasakan pada bulan Agustus hingga September dan menyerang wilayah Indonesia bagian Timur dan Selatan.

“Saat ini masih belum lah, masih terlalu cepat,” katanya saat dihubungi oleh Greeners melalui sambungan telepon, Jakarta, Selasa (30/06/2015).

Menurutnya, dampak El Nino paling besar akan dirasakan di Pulau Jawa, yakni Jawa Timur, kemudian seluruh Pulau Jawa, Papua bagian selatan, Sulawesi, Kalimantan bagian selatan, serta Nusa Tenggara, Lampung dan Bali. Sementara di bagian utara Indonesia tidak akan terkena dampak sama sekali namun harus tetap diwaspadai.

“Musim kemarau sendiri akan mencapai puncaknya pada September mendatang,” imbuhnya.

Di lain pihak, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa sejumlah wilayah di Indonesia saat ini telah mengalami kondisi kekeringan dengan rata-rata curah hujan kurang dari 100 milimeter per bulan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa di beberapa daerah telah terjadi kekeringan seperti Purbalingga, Gunung Kidul, Wonogiri, Tuban, Bojonegoro, Boyolali, Lombok Utara dan Nusa Tenggara Timur.

“Bahkan di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) curah hujan kurang dari 50 mm,” kata Sutopo.

Ia juga mengingatkan kalau kondisi cuaca yang makin kering ini dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah Sumatera.

Sebagai informasi, pada Minggu (28/6) lalu, satelit Modis telah memantau 207 titik api di Sumatera, dimana 71 titik api berada di Riau.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-indonesia-belum-akan-terkena-dampak-el-nino/feed/ 0
Cuaca Buruk Masih Membayangi Selat Karimata Seminggu Kedepan https://www.greeners.co/berita/cuaca-buruk-masih-membayangi-selat-karimata-seminggu-kedepan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cuaca-buruk-masih-membayangi-selat-karimata-seminggu-kedepan https://www.greeners.co/berita/cuaca-buruk-masih-membayangi-selat-karimata-seminggu-kedepan/#respond Sun, 04 Jan 2015 07:52:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6982 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerangkan bahwa pada awal Januari 2015, diperkirakan akan kembali terbentuk awan kumulonimbus di perairan Malaysia yang bergerak menuju Selat Karimata sehingga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerangkan bahwa pada awal Januari 2015, diperkirakan akan kembali terbentuk awan kumulonimbus di perairan Malaysia yang bergerak menuju Selat Karimata sehingga berpotensi mengubah kondisi cuaca.

Kepala Pusat Data dan Informasi Publik BMKG, Mulyono R Prabowo, mengungkapkan, pada Selasa (06/01) mendatang, BMKG memperkirakan akan terjadi hujan dengan skala ringan dengan diikuti tinggi gelombang air laut yang mampu mencapai tiga meter di Selat Karimata.

“Ini masih bisa berubah karena fluktuatif cuaca yang sulit diprediksi,” ujar Mulyono saat dikonfirmasi oleh Greeners melalui sambungan telepon, Jakarta, Minggu (04/01).

Berdasarkan normal prakiraan curah hujan untuk 3 bulan ke depan, lanjutnya, puncak musim hujan khususnya wilayah Jawa akan terjadi pada bulan Januari dan Februari dengan curah hujan lebih dari 400 mm per bulan. Sedangkan untuk puncak musim hujan 2014/2015, diperkirakan akan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2015.

Puncak musim hujan ini, menurut Mulyono, juga akan meliputi wilayah Sawah Lunto, Solok, Tembilahan, Rengat, Sumatera Selatan bagian barat, sebagian besar Lampung, Bangka, sebagian besar Jawa, Bali, sebagian besar NTB, NTT, Kalimantan Barat bagian Utara, Kuala Kapuas, Banjarmasin, Kalimantan Selatan bagian timur, Pulau Laut, Barru, Pangkajene, Makasar, Sulawesi Tengah bagian barat, Gorontalo, Kendari, Pulau Buton, Pulau Seram bagian utara, Kepulauan Aru, dan Merauke.

“Puncak curah hujan tertinggi nantinya sebagian besar akan terjadi pada bulan Januari 2015,” katanya.

Prakiraan Gelombang Maksimum. Sumber: BMKG

Prakiraan Gelombang Maksimum. Sumber: BMKG

Terkait kasus kecelakaan yang terjadi pada pesawat AirAsia QZ8501, Mulyono juga menyarankan agar sebaiknya kru maskapai atau pilot bisa terlebih dahulu mengambil dokumen fisik informasi cuaca di kantor BMKG bandara setempat sebelum melakukan penerbangan. Dengan begitu, jelasnya, kru pesawat akan mendapat penjelasan langsung dari petugas BMKG terkait pengaruh cuaca dalam rencana penerbangan.

“Ini perlu agar BMKG bisa menjelaskan informasi cuaca saat pilot mengambil dokumen fisik tersebut. Petugas BMKG nantinya akan mengarahkan kalau ada angin maka jalur kanan atau kiri yang harus diambil, atau kondisi awan di tiap lapisan,” tambahnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, telah beredar laporan dari kepala BMKG, Andi Eka Satya kepada Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, yang menyebutkan bahwa kru AirAsia QZ8501 mengambil bahan informasi cuaca pada pukul 07.00 WIB sesudah pesawat berjenis Airbus 320 tersebut hilang kontak.

Padahal, seharusnya, kru pesawat mengambil dokumen fisik prakiraan cuaca penerbangan sebelum pesawat lepas landas. Namun, BMKG Bandar Udara Juanda di Sidoarjo menyatakan tim AirAsia jarang mengambil dokumen informasi cuaca secara langsung.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/cuaca-buruk-masih-membayangi-selat-karimata-seminggu-kedepan/feed/ 0