calendar
Sabtu, 15 Desember 2018
Pencarian

Pemanasan Global Membuat Laut Semakin Asam

Berita Harian

Oleh Alex Kirby via Climate News Network

LONDON, 26 Agustus 2013 – Para peneliti di Jerman menyatakan karbon dioksida yang terserap laut ini menambah tingkat keasaman. Dan saat CO2 terserap lautan, gas ini akan merusak baik laut itu sendiri maupun atmosfer bumi.

Para peneliti menyatakan, hal ini terjadi karena saat CO2 terserap laut, maka gas rumah kaca itu akan menyebabkan pengurangan kemampuan lautan memproduksi gas dimethylsuphide (DMS). DMS adalah gas yang selama ini diproduksi laut untuk membantu mendinginkan bumi. Gas DMS membantu memadatkan awan dan memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa sehingga membantu mengurangi pemanasan global.

Dengan terserapnya CO2 ke dalam laut, maka kemampuan laut memproduksi gas pendingin bumi ini pun menjadi berkurang.

Para ilmuwan khawatir tingkat CO2 di lautan akan berdampak ganda, yaitu meningkatkan keasaman laut dan memanaskan atmosfer bumi. Bertambahnya tingkat keasaman laut berarti kabar buruk bagi berbagai bentuk kehidupan di dalamnya. Sementara pemanasan global sendiri juga telah mengancam kehidupan laut itu.

Kenaikan tingkat keasaman laut selain mengancam kehidupan di dalamnya, juga akan mengurangi produksi DMS. Pembentukan DMS di laut tergantung pada temperatur dan tingkat keasaman laut, sehingga kenaikan temperatur maupun tingkat keasaman akibat CO2 akan langsung berdampak kepada produksi DMS.

Tim ilmuwan internasional dari Institut Meteorologi Max Planck (MPI-M) mempublikasikan penelitian ini dalam jurnal Nature Climate Change. Mereka menyatakan : “Kesimpulan kami adalah adanya indikasi pengasaman lautan berpotensi memperburuk polusi yang menyebabkan pemanasan bumi, melalui mekanisme yang selama ini belum diperhitungkan dalam perkiraan perubahan iklim di masa depan.”

Penggunaan bahan bakar fosil menghasilkan lebih dari 6 miliar ton CO2 ke atmosfer setiap tahunnya dan membuat temperatur atmosfer naik. Namun para ilmuwan ini menyatakan pemanasan global bukanlah satu-satunya ancaman yang dapat ditimbulkan oleh naiknya kadar CO2 di atmosfer.

Pengasaman atau asidifikasi, timbul ketika CO2 di atmosfer bereaksi dengan air laut dan menciptakan karbon asid, yang sebenarnya telah meningkat 30 persen di lautan sejak terjadinya Revolusi Industri.

 

Perkiraan Peningkatan

Tergantung kepada berapa besar kenaikan emisi CO2 dan faktor lainnya, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan tingkat keasaman laut akan naik 150 persen pada 2100, dari kadar sebelumnya pada 2007.

Kenaikan konsentrasi CO2 ini mulai dari tingkat pasca industrial yaitu dari 280 bagian per juta hingga 400 ppm pada 2013, dan ini berarti tingkat karbon di lautan juga akan meningkat bertahap dan cepat.

Data global dalam beberapa dekade terakhir menyatakan lautan menyerap setidaknya setengah dari CO2 yang berada di atmosfer sejak tahun 1750.

Ketika DMS memasuki atmosfer, gas pendingin ini akan membentuk partikel gas yang membuat awan mampu memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa, dan mendinginkan permukaan bumi. Jika produksi DMS dari lautan berkurang, maka tentu saja, kemampuan awan mendinginkan bumi juga akan menurun.

Dalam skenario sederhana oleh IPCC, di mana kita beranggapan tidak akan ada pengurangan jumlah emisi rumah kaca, maka temperatur bumi diperkirakan akan naik antara 2.1 hingga 4.4 derajat celcius pada 2100.

Namun jika kita menambahkan efek asifidikasi terhadap DMS, maka kemungkinan naiknya suhu bumi ini akan lebih panas 0.23 hingga 0.48 derajat celcius dari pertambahan suhu semula.

Para peneliti menyatakan, penemuan mereka ini membuktikan asidifkasi lautan berpotensi mempercepat terjadinya pemanasan global secara signifikan. *G04

Top