Perhutani - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/perhutani/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 10 Mar 2023 06:01:44 +0000 id hourly 1 Balap Trail di Ranca Upas Sisakan Kerusakan Serius di Alam https://www.greeners.co/berita/balap-trail-di-ranca-upas-sisakan-kerusakan-serius-di-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=balap-trail-di-ranca-upas-sisakan-kerusakan-serius-di-alam https://www.greeners.co/berita/balap-trail-di-ranca-upas-sisakan-kerusakan-serius-di-alam/#respond Fri, 10 Mar 2023 06:01:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39280 Jakarta (Greeners) – Ajang balap trail yang telah berlangsung di Kampung Cai, Ranca Upas di Kabupaten Bandung pada Minggu (5/3) berdampak buruk. Tak hanya merusak tanaman langka bunga edelweis rawa, ikon […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ajang balap trail yang telah berlangsung di Kampung Cai, Ranca Upas di Kabupaten Bandung pada Minggu (5/3) berdampak buruk. Tak hanya merusak tanaman langka bunga edelweis rawa, ikon tanaman di kawasan ini. Akan tetapi juga merusak ekosistem keanekaragaman hayati secara luas.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat Meiki W. Paendong mengatakan, kawasan Ranca Upas dikenal sebagai kawasan esensial karena memiliki keunikan tersendiri berupa landscape rawa pegunungan.

Kawasan ini juga ditumbuhi rumput dan bunga edelweis rawa yang langka. “Itu menjadi kekhasan Ranca Upas makanya kita sebut kawasan esensial,” katanya kepada Greeners, Kamis (9/3).

Berdampak Luas pada Ekosistem di Ranca Upas

Lebih dari itu, balap motor trail komunitas motor trail lakukan juga memicu kerusakan ekosistem di sekitarnya. Meiki menyebut, rute balap trail tersebut masuk ke dalam kawasan hutan lindung.

“Secara status memang hutan lindung. Tapi secara kondisi fisik sudah sangat mirip dengan kondisi hutan cagar alam,” imbuhnya.

Artinya, dalam habitat hutan tersebut ada beberapa satwa yang terlindungi. Misalnya, owa Jawa, lutung, macan dahan hingga macan tutul. “Jika balap liar itu kita anggap peristiwa yang biasa saja akan berdampak fatal ke depannya,” tandasnya.

Tak hanya itu lanjutnya, beberapa sungai alami yang dilalui pemotor berpotensi tercemar. “Karena itu kan ratusan motor trail dan bukan tak mungkin olinya tercecer terbuang ke sungai sehingga mencemari sungai,” imbuhnya.

Terkupasnya tanah yang terbawa oleh roda-roda motor juga bisa memicu sedimentasi dan pendangkalan sungai. Padahal, sungai yang mendangkal akan memengaruhi habitat satwa di air.

Bunga Edelweis. Foto: Freepik

Penegakkan Hukum agar Pelaku Jera

Meiki mendorong agar pemerintah daerah melakukan penegakkan hukum dan memberi sanksi kepada para pelaku. “Karena ini butuh waktu untuk pemulihannya. Maka penegakkan hukum harus kita lakukan sesuai dengan bobotnya masuk kategori pidana lingkungan atau tidak,” kata dia.

Pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menilai, Program Lingkungan PBB (UNEP) telah memberikan pesan pada seluruh dunia, saat ini kita menghadapi Triple Planetary Crisis berupa perubahan iklim, pencemaran dan biodiversity.

Konferensi Keanekaragaman Hayati COP 15 di Montreal juga menyepakati target ambisius untuk memproteksi 30 % daratan dan 30 % lautan. 

Jadi tambahnya, sudah kewajiban bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk institusi untuk turut menjaga. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

“Kejadian di Ranca Upas itu secara institusi justru Perhutani izinkan. Padahal mereka memiliki fungsi penting untuk melindungi hutan dan ekosistem,” ungkapnya.

Berkaca dari hal itu, Mahawan menyatakan adanya persoalan etik dalam institusi ini. “Kerusakan spesies tumbuhan atau ekosistem langka jauh tak ternilai daripada pendapatan tak seberapa dari bagi hasil dengan penyelenggara acara balap trail,” imbuhnya.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/balap-trail-di-ranca-upas-sisakan-kerusakan-serius-di-alam/feed/ 0
Warga Sekitar Hutan Diajak Tanam Pohon Lestarikan Mata Air https://www.greeners.co/aksi/warga-sekitar-hutan-diajak-tanam-pohon-lestarikan-mata-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warga-sekitar-hutan-diajak-tanam-pohon-lestarikan-mata-air https://www.greeners.co/aksi/warga-sekitar-hutan-diajak-tanam-pohon-lestarikan-mata-air/#respond Wed, 20 Sep 2017 14:12:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18751 Yayasan Sanggar Indonesia Hijau (Si Hijau) mengajak Perhutani dan masyarakat sekitar hutan di wilayah Pasuruan, Malang dan Mojokerto menanam pohon untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan juga menjaga kelestarian hutan.]]>

Pasuruan (Greeners) – Yayasan Sanggar Indonesia Hijau (Si Hijau), Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mengajak Perhutani dan masyarakat sekitar hutan di wilayah Pasuruan, Malang dan Mojokerto menanam pohon. Upaya konservasi ini selain untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan juga menjaga kelestarian hutan terutama mata air.

“Kami menargetkan sebanyak 25 ribu pohon akan ditanam di sejumlah titik. Penanaman pohon ini dilakukan secara bertahap,” kata pegiat lingkungan dari Lembaga Pelatihan dan Pemagangan Yayasan Sanggar Indonesia Hijau, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Sugiarto, Senin (18/09).

Sugiarto yang juga peraih Kalpatru atas kerja kerasnya melestarikan sumber mata air di wilayah Pasuruan ini mengungkapkan pihaknya memiliki kepentingan dalam usaha konservasi. Selain pendidikan lingkungan dan aplikasi di lembaga pemagangannya, juga karena ingin melestarikan mata air yang terus bekurang karena kerusakan hutan.

“Masyarakat harus sadar tak bisa terus memanfaatkan air dan hutan tanpa memikirkan konservasi. Pendidikan lingkungan bagi warga dan usaha konkrit untuk melestarikan lingkungan hutan dengan cara konservasi harus terus dilakukan. Kita akui upaya konservasi ini sangat berat. Saya sudah bertahun-tahun konsisten dalam konservasi hutan tahu betul akan hal itu. Jangankan diajak menanam, merawat hutan saja susah,” urainya.

Sugiarto mengatakan selain akan menerjunkan kader-kader lingkungan, pihaknya juga akan menyediakan bibit dan semua keperluan untuk konservasi tersebut. “Ini wujud komitmen kami terus-menerus berkampanye kelestarian hutan. Kami ingin kesadaran pelestarian lingkungan hutan menjadi kesadaran bersama dan kebutuhan bersama. Di tempat kami banyak kader lingkungan, ada pembibitan dan kegiatan ini bisa menjadi pemagangan,” tandasnya.

Wakil Administratur Pehutani Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pasuruan, Untung Saptono Hadi, mengatakan pihaknya menyambut baik rencana penanaman 25 pohon tersebut. “Kami menyediakan lahan untuk kegiatan konservasi Sanggar Indonesia Hijau dan LMDH. Yayasan ini merupakan salah satu tempat pendidikan untuk lingkungan, harapannya setiap adanya kegiatan ada aplikasinya,” katanya.

Untung mengatakan dalam konservasi ini pihaknya memilih lokasi yang terdapat sumber mata air. “Kami pilih lokasi-lokasi yang memiliki sumber air. Sehingga Usaha konservasi ini selain pendidikan juga menjaga sumber-sumber air yang ada,” tandasnya.

Pohon-pohon yang ditanam di lokasi-lokasi konservasi tak untuk ditebang, sebagaimana pohon di hutan produksi. Pihaknya meminta agar pohon yang ditanam berupa pohon produktif seperti nangka, durian dan lainnya. “Sehingga masyarakat hutan tak tergoda untuk menebang pohon, tapi tetap bisa menikmati hasil pohon yang ditanam,” katanya.

Dijelaskannya 25 ribu pohon tersebut akan ditanam di Resort Pemangku Hutan (RPH) Cowek, Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Lawang Timur, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pasuruan Perum Perhutani. Antara lain di petak 39e, petak 39f, petak 39a2, petak 39 I, petak 39 M. Selain di lima petak tersebut, kedepan lokasi lain juga disiapkan untuk lokasi konservasi.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/aksi/warga-sekitar-hutan-diajak-tanam-pohon-lestarikan-mata-air/feed/ 0
Menteri Siti Nurbaya Evaluasi Pengelolaan Hutan yang Dikelola BUMN https://www.greeners.co/berita/menteri-siti-nurbaya-evaluasi-pengelolaan-hutan-dikelola-bumn/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menteri-siti-nurbaya-evaluasi-pengelolaan-hutan-dikelola-bumn https://www.greeners.co/berita/menteri-siti-nurbaya-evaluasi-pengelolaan-hutan-dikelola-bumn/#respond Mon, 26 Sep 2016 06:32:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14799 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, saat ini tengah mengevaluasi total pengelolaan hutan yang dilakukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), baik dari sisi bisnis maupun pengelolaannya.]]>

Malang (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, saat ini tengah mengevaluasi total pengelolaan hutan yang dilakukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), baik dari sisi bisnis maupun pengelolaannya. Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Kongres Sungai Indonesia II, di Waduk Selorejo, Ngantang, Malang, Jawa Timur, Jumat (23/09/2016).

Menurut Siti, Direksi Perhutani yang baru telah diminta untuk mengevaluasi secara keseluruhan, bisnisnya juga sampai detail. Pernyataan Siti Nurbaya ini menanggapi pertanyaan salah satu peserta Kongres Sungai Indonesia II, Teguh Poe Jatmono dari Komunitas Gimbal Alas yang bermarkas di lereng Semeru.

BACA JUGA: Pengembangan Wisata Alam Optimalkan Aset Hutan dan Taman Nasional

Menurut Teguh, kondisi hutan penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang dikelola Perhutani banyak yang kritis dan beralih fungsi menjadi lahan budidaya, terutama jenis sayur-sayuran. Selain itu, di wilayah Tumpang, kata Teguh, ada sumber mata air yang disebut Sumber Pitu. Di sekitar sumber itu secara tiba-tiba dibangun semacam penampung air yang dialirkan ke kota. “Yang saya tahu tidak ada Amdalnya dan masyarakat di bawah mayoritas menggantungkan air dari aliran sumber ini,” kata Teguh menambahkan.

Ia berpendapat, lahan kritis bagaimanapun, terutama yang menjadi penyangga taman nasional, mestinya harus menjadi kawasan yang dilindungi dan bukan diperuntukkan untuk kawasan budidaya.

BACA JUGA: Akhirnya, KLHK Buka Dokumen Pengelolaan Hutan ke Publik

Dalam paparannya di acara Kongres Sungai II di Malang, Siti Nurbaya mengatakan bahwa luas lahan kritis di Indonesia mencapai 24,3 juta hektare. Dari jumlah itu, pemerintah melalui APBN hanya mampu merehabilitasi 500 ribu haktare per tahun.

Ia mengatakan, perlu keterlibatan semua pihak untuk merehabilitasi lahan kritis. Salah satunya dengan menanam pohon sejumlah 25 pohon selama hidup dan kerjasama dengan berbagai pihak, baik kampus maupun sekolah-sekolah.

Menteri Siti menyatakan saat ini tengah mengevaluasi pengelolaan hutan yang dilakukan BUMN untuk mengetahui gambaran yang pas bagaimana kondisi sesungguhnya. “Saya sedang minta izin Presiden agar peraturan-peraturan pemerintahnya bisa diubah,” kata Siti Nurbaya.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/menteri-siti-nurbaya-evaluasi-pengelolaan-hutan-dikelola-bumn/feed/ 0
Walhi Jabar: Hutan Gundul Sebabkan Longsor di Pengalengan https://www.greeners.co/berita/walhi-jabar-hutan-gundul-sebabkan-longsor-di-pengalengan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=walhi-jabar-hutan-gundul-sebabkan-longsor-di-pengalengan https://www.greeners.co/berita/walhi-jabar-hutan-gundul-sebabkan-longsor-di-pengalengan/#respond Fri, 08 May 2015 04:30:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8900 Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengamatan, kondisi hutan gundul menjadi penyebab longsor disertai ledakan pipa gas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengamatan, kondisi hutan gundul menjadi penyebab longsor disertai ledakan pipa gas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Star Energi Wayang Windu di Kampung Cibitung, Desa Marga Mukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Staf Advokasi Kebencanaan Walhi Jabar, Iwank Wahyudin, mengatakan, ada kemungkinan retakan tanah sedalam 2,5 meter dengan luas 300 meter yang disebutkan oleh Badan Geologi diakibatkan karena rusaknya hutan. Namun, di sisi lain, aktivitas geotermal juga bisa menyebabkan kondisi tanah menjadi berubah dengan adanya getaran-getaran yang disebabkan oleh eksploitasi panas bumi.

“Satu sisi lainnya juga instensitas hujan selama beberapa hari belakangan ini memang cukup tinggi,” jelasnya, Jakarta, Kamis (07/05).

Iwank juga menilai bahwa dalam bencana ini pemerintah dan pihak PT. Star Energy tidak cukup baik dalam memperhatikan kondisi lingkungan, baik kondisi kawasan hutan maupun masyarakat sekitar. Selain itu, ia menyatakan bahwa Walhi Jabar sangat kecewa dan menyayangkan keberadaan Perum Perhutani sebagai institusi yang memilki kewenangan dalam mengelola hutan malah mengabaikan kondisi lingkungan yang dianggap sudah rusak.

“Hutan yang gundul seharusnya segera dihijaukan kembali bukan malah dibiarkan karena jika diabaikan bisa memicu terjadi bencana. PT. Star Energi juga memiliki andil untuk menjaga, merawat serta melestarikan lingkungan di sekitar hutan. Termasuk menjamin warga sekitar yang berada di lokasi kegiatan aman, selamat dan sejahtera,” ujarnya.

Oleh karena itu, Walhi meminta kepada pemerintah untuk segera melakukan evaluasi terhadap PT. Star Energi terkait kegiatan ekspolitasi panas bumi dan perusahaan lain yang bergerak di sektor geotermal di Jabar serta di Indonesia. Selain itu, pemerintah juga harus mempertanyakan kinerja Perhutani terkait dengan pengelolaan hutan yang bekerjasama dengan perusahaan geotermal.

“PT. Star Energi serta Perhutani harus bertanggung jawab untuk perbaikan dan pemulihan kerusakan hutan ini dan juga lingkungan yang ada di kawasan hutan,” katanya.

Sebagai informasi, pada Selasa (05/05) lalu, sekitar pukul 14.30 di Dusun Cibitung (Gunung Bedil) Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, telah terjadi longsor yang menghantam pipa panas bumi milik PT Star Energy dan mengakibatkan ledakan.

Kepala Pusat Data Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho saat dihubungi Greeners pada Kamis (07/05) menyatakan sebanyak empat orang warga ditemukan meninggal akibat longsor. Mereka adalah Iran, laki-laki berusia 55 tahun; Dating, perempuan berusia 60 tahun; Pardi, laki-laki berusia 70; dan Naela, perempuan berusia 1,5 tahun. Kemudian, untuk korban luka berat berjumlah 1 orang atas nama Rukman dan telah dirawat di RS Al Iksan, sedangkan 8 orang lainnya mengalami luka ringan dan sudah kembali ke rumah masing-masing.

Presiden Direktur Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd, Rudy Suparman, melalui keterangan tertulisnya juga menyatakan bahwa tanah longsor menyebabkan pipa gas yang berada di kawasan tersebut meledak.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/walhi-jabar-hutan-gundul-sebabkan-longsor-di-pengalengan/feed/ 0
Hutan Gundul Akibatkan Banjir Bandang di Pasuruan https://www.greeners.co/berita/hutan-gundul-akibatkan-banjir-bandang-di-pasuruan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hutan-gundul-akibatkan-banjir-bandang-di-pasuruan https://www.greeners.co/berita/hutan-gundul-akibatkan-banjir-bandang-di-pasuruan/#respond Thu, 16 Apr 2015 00:30:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8567 Pasuruan (Greeners) – Banjir bandang menerjang sejumlah wilayah bantaran Sungai Petung di Pasuruan. Banjir yang menyebabkan puluhan rumah hancur dan ribuan rumah terendam lumpur ini akibat penebangan hutan besar-besaran yang […]]]>

Pasuruan (Greeners) – Banjir bandang menerjang sejumlah wilayah bantaran Sungai Petung di Pasuruan. Banjir yang menyebabkan puluhan rumah hancur dan ribuan rumah terendam lumpur ini akibat penebangan hutan besar-besaran yang dilakukan pihak Perhutani di wilayah Kecamatan Tutur pada musim kemarau 2014 lalu. Banjir bandang tersebut bersamaan dengan longsor skala kecil di wilayah Kecamatan Tutur dan Puspo.

“Pada kemarau 2014 Perhutani menebang habis sebagian kawasan hutan sehingga ada beberapa hektare lahan sehingga menyebabkan longsor dan banjir. Ada lahan gundul di hutan,” kata Nizar Subandono, warga Desa Andonosari Kecamatan Tutur, Kamis (09/04) lalu.

Nizar mengharapkan adanya upaya komprehensif dalam pencegahan banjir dan tanah longsor yang masih rentan terjadi karena intensitas hujan masih tinggi. “Pemkab harus bekerja sama dengan Perhutani. Meski lahan yang dipanen bukan milik warga tapi kalau ada bencana warga yang terdampak,” ujar Nizar.

Banjir bandang yang terjadi Jumat lalu, selain merusak puluhan rumah juga menghancurkan sedikitnya 40 hektare tanaman padi siap panen. Lahan yang hancur tersebar di sembilan di empat kecamatan.

“Kerugian material mencapai Rp 16 miliar. Kerugian di sektor pertanian mencapai Rp 15 miliar sementara bangunan rumah warga mencapai Rp 1 miliar. Angka tersebut tentu bisa bertambah karena sampai saat ini kita masih lakukan pendataan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Derah Kabupaten Pasuruan, Bakti Jati Permana saat meninjau ke Desa Klinter, Kecamatan Kejayan, salah satu lokasi terparah terdampak banjir bandang.

Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di bantaran Sungai Petung, Pasuruan diperkirakan akibat penebangan hutan besar-besaran yang dilakukan pihak Perhutani di wilayah Kecamatan Tutur pada musim kemarau 2014 lalu. Foto: greeners.co

Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di bantaran Sungai Petung, Pasuruan diperkirakan akibat penebangan hutan besar-besaran yang dilakukan pihak Perhutani di wilayah Kecamatan Tutur pada musim kemarau 2014 lalu. Foto: greeners.co

Pihaknya sudah menyalurkan bantuan logistik berupa makanan, air bersih hingga peralatan masak dan peralatan tidur. Rata-rata setiap desa menghabiskan Rp 60 juta. Sementara untuk kerusakan fisik pemerintah daerah memberikan bantuan stimulan.

Para petani mengatakan puluhan hektare tanaman padi yang hancur rata-rata siap panen. Seorang petani di Desa Tebas Kecamatan Gondangwetan, Hasan (58), mengatakan tanaman padi miliknya akan dipanen lima belas hari lagi. “Semuanya hancur. Tak ada lagi yang dipanen,” ujar Hasan.

Kondisi korban banjir masih sangat memprihatinkan, terutama yang rumahnya rusak parah. Mereka terpaksa tidur di tenda-tenda darurat sederhana dari terpal sehingga selalu kedinginan saat malam. Hal itu terlihat di Desa Klinter Kejayan dan Desa Rejosalam Kecamatan Pasrepan, yang merupakan dua lokasi terparah.

Banjir bandang akibat peluapnya Sungai Petung sepekan lalu menyebabkan lebih dari 24 rumah rusak parah dan hancur. Ribuan rumah di sembilan desa tersebar di empat kecamatan diantaranya Kecamatan Kejayan, Pasrepan, Gondangwetan dan Rejoso terendam lumpur. Beberapa jembatan penghubung antar desa rusak dan salah satu diantaranya ambruk.

Selain di wilayah Kabupaten, dampak banjir lumpur juga dirasakan 10.20 kepala keluarga di Kota Pasuruan. Empat kelurahan di Kota Pasuruan berada di bantaran Sungai Petung yang berhilir di Selat Madura.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/berita/hutan-gundul-akibatkan-banjir-bandang-di-pasuruan/feed/ 0
Empat Ekor Lutung Jawa Dibebaskan Di Rimba Coban Talun https://www.greeners.co/berita/empat-ekor-lutung-jawa-dibebaskan-di-rimba-coban-talun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=empat-ekor-lutung-jawa-dibebaskan-di-rimba-coban-talun https://www.greeners.co/berita/empat-ekor-lutung-jawa-dibebaskan-di-rimba-coban-talun/#respond Wed, 29 Oct 2014 04:53:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6288 Malang (Greeners) – Empat ekor lutung Jawa Linseed, Diamond, Rus dan Bobby dilepas ke alam bebas pada Senin 27 Oktober setelah 1,5 tahun menjalani proses karantina dan rehabilitasi di Javan […]]]>

Malang (Greeners) – Empat ekor lutung Jawa Linseed, Diamond, Rus dan Bobby dilepas ke alam bebas pada Senin 27 Oktober setelah 1,5 tahun menjalani proses karantina dan rehabilitasi di Javan Langur Center (JLC) atau pusat rehabilitasi lutung jawa, Coban Talun, Kota Batu, Jawa Timur.

Linseed dan Diamond adalah lutung Jawa kelahiran kebun binatang Howletts, Inggris. Sedangkan Rus dan Bobby adalah dua dari tiga lutung sitaan yang masih survive, satu di antaranya mati karena tidak bisa diselamatkan.

Empat ekor lutung jawa yang dikepalai Booby sebagai pejantan ini akhirnya dilepas Balai Besar KSDA Jawa Timur dan JLC di kawasan hutan Gunung Biru, Coban Talun. Kawasan Gunung Biru berada di batas wilayah pengelolaan Tahura R. Soerjo dan Hutan Lindung Perhutani KPH Malang. Tipe habitat di kawasan tersebut merupakan hutan hujan pegunungan dengan vegetasi yang beragam.

Project Manager JLC, Iwan Kurniawan mengatakan, ada 65 jenis tumbuhan tingkat pohon dan 58 jenis di antaranya merupakan jenis tumbuhan pakan lutung jawa, seperti Quercus sondaicus (pasang), Slonea sigun (rambutan hutan), Engelhardia spicata (sapen), dan lain-lain.

Keluarga Bobby yang beranggotakan tiga lutung betina ini dilepas di kandang habituasi dulu yang berada di dalam hutan. Kandang hanya dibatasi jarring dengan luas sekira 5×5 meter persegi dengan tinggi juga sekitar 5 meter. Satu per satu keluarga Bobby mulai dilepas dari boks yang dipanggul empat relawan JLC yang sebelumnya harus berjalan sekira 1 jam dari tempat rehabilitasi.

Daily News Tiga Generasi Lutung Jawa 01 (1)

Mereka ditempatkan di kandang habituasi antara 3 sampai 4 hari sebelum kandang itu dibuka dan benar-benar bebas di alam liar. Tiga petugas monitoring juga akan melakukan monitoring selama tiga bulan penuh dan memantau pergerakan keluarga ini. Mereka setiap hari mencatat dan mendokumentasikan apa saja yang dimakan dan bergerak ke wilayah mana untuk pemantauan dan pendataan.

Kepala Resort KSDA Malang dan Batu, K. Gunawan, yang turut mengawal pelepasan lutung jawa ini mengaku peredaran perdagangan satwa dilindungi termasuk lutung jawa di wilayah malang Raya sudah menurun. Hampir seminggu tiga kali dirinya memantau pusat-pusat penjualan satwa seeprti di Pasar Splendid Kota Malang yang disinyalir sebagai tempat jual beli satwa liar dilindungi. “Sudah menurundi banding tahun sebelumnya,” kata Gunawan.

Selain itu, kesadaran masyarakat sekitar Coban Talun dan sekitarnya selama tiga tahun terakhir juga sudah tidak lagi seneaknya memanggul senjata untuk berburu satwa liar di hutan. Ini karena JLC juga kerap memberikan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan agar tidak melakukan perburuan lutung jawa. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/empat-ekor-lutung-jawa-dibebaskan-di-rimba-coban-talun/feed/ 0
Kebakaran Hutan Arjuno Welirang Ancam Keberadaan Sumber Mata Air https://www.greeners.co/berita/kebakaran-hutan-arjuno-welirang-ancam-keberadaan-sumber-mata-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kebakaran-hutan-arjuno-welirang-ancam-keberadaan-sumber-mata-air https://www.greeners.co/berita/kebakaran-hutan-arjuno-welirang-ancam-keberadaan-sumber-mata-air/#respond Tue, 30 Sep 2014 05:05:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5981 Malang (Greeners ) – Kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Gunung Arjuno, Ringgit, Welirang, sejak awal November 2014, setidaknya telah menghanguskan 250 hektare lebih area hutan di kawasan itu. Beberapa […]]]>

Malang (Greeners ) – Kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Gunung Arjuno, Ringgit, Welirang, sejak awal November 2014, setidaknya telah menghanguskan 250 hektare lebih area hutan di kawasan itu. Beberapa pohon seperti cemara gunung, kesemek, akasia, dan satwa juga terancam kehilangan tempat mencari makan. Bahkan, di daerah Pacet, Kabupaten Mojokerto, satwa sudah turun ke rumah penduduk untuk mencari makan.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Ony Mahardika, mengatakan kebakaran yang terus terjadi setiap tahun di kawasan hutan Arjuno-Welirang mengancam keberadaan sumber mata air. Menurutnya, para pemangku wilayah tersebut, baik Perhutani maupun Taman Hutan Rakyat atau Tahura R Soerjo, harus serius memulihkan kawasan itu demi menyelamatkan sumber mata air yang ada di sana. “Kawasan itu harus dipulihkan,” kata Ony, Senin (29/9/2014).

Data yang dihimpun Greeners, kebakaran yang terjadi di kawasan hutan Arjuno Welirang terjadi di daerah yang dikelola Perhutani dan Tahura R Soerjo, dimana kawasan tersebut merupakan hutan produksi dan hutan lindung. Kebakaran terakhir berada di sisi lereng di wilayah Mojokerto, Jawa Timur.

Ony meminta aparat penegak hukum bertindak tegas dan mencari penyebab siapa yang sengaja membakar karena kebakaran diduga akibat ulah pemburu liar. Ony menyebutkan, kawasan Arjuno-Welirang merupakan daerah yang terdapat ratusan sumber mata air yang digunakan oleh masyarakat di Malang, Batu, Mojokerto, Pasuruan, dan daerah sekitarnya.

Terlebih lagi kawasan ini, kata Ony, akan dijadikan lokasi eksplorasi energi panas bumi yang jelas mengancam keberadaan sumber mata air di kawasan hulu karena airnya akan dibutuhkan banyak untuk operasi ini.

Data Walhi Jawa Timur, di kawasan ini terdapat 164 mata air yang dimanfaatkan untuk berbagai macam kebutuhan, seperti aliran irigasi, bahan baku air minum, industri air minum kemasan, dan pasokan untuk hotel dan industri. Warga juga memanfaatkan aliran air dari hulu untuk berbagai keperluan, seperti irigasi, ternak, dan air minum. Namun, sejak sepuluh tahun terakhir, tersisa 11 mata air dan 5 di antaranya memiliki debit air yang besar.

Kepala seksi Tahura R Soerjo wilayah Malang-Pasuruan, Murbandarto, mengatakan, penyebab kebakaran diduga karena ulah pemburu liar yang menggunakan api untuk menggiring buruannya. Karena musim kemarau, api sulit dikendalikan sehingga meluas.

“Api juga sulit dipadamkan karena medan sulit,” katanya.

Ia menyatakan upaya petugas, relawan, dan masyarakat sudah dilakukan untuk memadamkan api sejak awal bulan lalu, meski api kadang menyala lagi setelah dipadamkan. Menurutnya, kebakaran hutan di kawasan itu telah menghanguskan ilalang serta pohon cemara gunung. Petugas dan relawan terus berupaya memadamkan api dengan alat seadanya dan mencegah agar api tidak meluas. Petugas, katanya, masih terus disiagakan untuk berjaga-jaga apabila api kembali menyala setelah dipadamkan.

(G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/kebakaran-hutan-arjuno-welirang-ancam-keberadaan-sumber-mata-air/feed/ 0
Ratusan Hektare Hutan Arjuno Terbakar Akibat Ulah Pemburu Liar https://www.greeners.co/berita/ratusan-hektare-hutan-arjuno-terbakar-akibat-ulah-pemburu-liar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ratusan-hektare-hutan-arjuno-terbakar-akibat-ulah-pemburu-liar https://www.greeners.co/berita/ratusan-hektare-hutan-arjuno-terbakar-akibat-ulah-pemburu-liar/#respond Wed, 26 Sep 2012 03:12:58 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3052 MALANG (Greenersmagz) – Ratusan hutan di kawasan Gunung Arjuno (3339 mdpl), yang terletak di dua wilayah, Pasuruan dan Malang, Jawa Timur mengalami kebakaran hebat. Bahkan, hingga Selasa (25/09/2012) api belum […]]]>

MALANG (Greenersmagz) – Ratusan hutan di kawasan Gunung Arjuno (3339 mdpl), yang terletak di dua wilayah, Pasuruan dan Malang, Jawa Timur mengalami kebakaran hebat. Bahkan, hingga Selasa (25/09/2012) api belum bisa dijinakkan dan semakin meluas karena cuaca panas dan angin yang berhembus kencang.

Dari data yang dihimpun Kelompok Tani Tahura, ada 12 blok hutan yang terbakar di bawah pengelolaan Perhutani dan Taman Hutan Rakyat (Tahura) R Soerjo. Di antaranya Blok Sidomulyo, Watu Lawang, Persil Trenggiling, Ratawu, Torong Wedhus, Tong Roto, masuk wilayah Perhutani. Sedangkan Blok Semar Sepilar, Lincing, Rangsang, Gumandar berada di wilayah Tahura R Soejo.

Sekretaris Kelompok Tani Tahura (KTT), Prigen, Dardiri, mengatakan, lebih dari 200 petani dan petugas naik untuk memadamkan kebakaran yang terjadi sejak dua bulan terakhir. Menurutnya, tercata sudah 20 kali kebakaran sejak Agustus-September ini. “Kami seperti tidak berdaya memadamkan api dengan cara seadanya,” kata Dardiri, Selasa (25/09/2012).

Di bulan Agustus saja, kata Dardiri, terjadi Sembilan kali kebakaran. Sedangkan pada bulan ini sudah 11 kali api membakar Gunung Arjuno yang penuh cerita legenda ini. Namun, pihaknya masih belum mempunyai data resmi total areal hutan yang mengalami kebakaran. Namun diperkirakan mencapai 700 hektare lahan hutan di kawasan pegunungan Arjuna sudah habis terbakar. “Pada Senin kemarin saja sudah sekitar 250 hektare lahan terbakar,” katanya.

Kepala Seksi Malang – Pasuruan Tahura R Soerjo, Gatot Sundoro, mengatakan, kebakaran yang terjadi saat ini sudah merembet ke wilayah Malang. Dari pantauan terakhir, kata dia, kobaran api kini sudah berada di hutan wilayah Lawang, tepatnya di Blok Lincing atau pos II dan III.

Menurutnya, kobaran api bisa merembet ke atas maupun ke bawah, tergantung arah anginnya. Di Lawang, jarak terdekat dengan pemukiman warga sekitar delapan kilometer. Untuk itu, pihaknya saat ini mengantisipasi agar api tidak sampai ke pemukiman warga. Pihaknya bersama masyarakat kini sudah kehilangan akal untuk memadamkan api. Energi yang digunakan seperti terkuras habis selama dua bulan terakhir. “Pihak pemerintah daerah maupun swasta sepertinya kurang peduli,” katanya.

Gatot meyakini, penyebab kebakaran ini akibat ulah manusia. Sebab, dari pantauan petugas yang berusaha memadamkan api, ditemukan bekas perkemahan manusia, handphone bahkan jaring. “99,9% adalah ulah pemburu liar yang membakar hutan,” katanya.

Ia meyakini hal ini karena, para pemburu liar ini melakukan pembakaran agar hewan turun ke bawah sehingga mudah tertangkap. Hal ini diperkuat dengan temuan beberapa barang milik manusia yang turut terbakar. Bahkan, beberapa tulang belulang Kijang juga ditemukan, diduga hewan itu menjadi santapan para pemburu liar.  (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/ratusan-hektare-hutan-arjuno-terbakar-akibat-ulah-pemburu-liar/feed/ 0