pesepeda - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pesepeda/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 22 Dec 2025 07:51:47 +0000 id hourly 1 Refleksi Mobilitas Bandung: Fasilitas Pejalan Kaki dan Pesepeda Masih Minim https://www.greeners.co/berita/refleksi-mobilitas-bandung-fasilitas-pejalan-kaki-dan-pesepeda-masih-minim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=refleksi-mobilitas-bandung-fasilitas-pejalan-kaki-dan-pesepeda-masih-minim https://www.greeners.co/berita/refleksi-mobilitas-bandung-fasilitas-pejalan-kaki-dan-pesepeda-masih-minim/#respond Mon, 22 Dec 2025 07:44:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=47881 Jakarta (Greeners) – Sejumlah komunitas dan inisiatif warga berkumpul untuk merefleksikan mobilitas Kota Bandung 2025 di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung pada Jumat (19/12). Dalam forum ini, mereka menyoroti fasilitas […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sejumlah komunitas dan inisiatif warga berkumpul untuk merefleksikan mobilitas Kota Bandung 2025 di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung pada Jumat (19/12). Dalam forum ini, mereka menyoroti fasilitas pendukung bagi pejalan kaki dan pesepeda masih minim, tidak layak, terputus, dan dalam banyak kasus mengalami kerusakan atau terbengkalai.

Foum Refleksi Mobilitas Kota Bandung 2025 gagasan Bike to Work Bandung bersama Koalisi Pejalan Kaki Bandung, Transport for Bandung dan Bandung Bergerak, mengungkap bahwa trotoar dan jalur sepeda kerap tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal itu imbas adanya alih fungsi, parkir kendaraan bermotor, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), maupun kurangnya perawatan.

Situasi tersebut mencerminkan masih kuatnya dominasi kendaraan bermotor dalam perencanaan dan pengelolaan ruang jalan. Hal itu berdampak langsung pada rendahnya rasa aman bagi warga yang berjalan kaki dan bersepeda.

Meski Kota Bandung telah memiliki regulasi seperti Peraturan Wali Kota Nomor 47 Tahun 2022 tentang Keselamatan dan Fasilitas  Pesepeda, implementasi di lapangan tampak belum konsisten. Selain itu, juga belum sepenuhnya berpihak pada perlindungan pengguna jalan rentan.

Menurut Ketua Bike to Work Bandung, Moch Andi Nurfauzi, refleksi ini penting agar kebijakan tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi diuji melalui praktik di ruang jalan sehari-hari. 

“Keselamatan tidak cukup diukur dari angka kecelakaan semata, melainkan dari pengalaman konkret warga. Mulai dari kondisi fasilitas yang layak, kesinambungan jalur, hingga rasa aman dan aksesibilitas bagi pejalan kaki dan pesepada dalam melakukan perjalanan harian,” kata Andi.

Perlunya Integrasi

Dalam forum ini, Koalisi Pejalan Kaki Bandung menyoroti trotoar yang terputus, digunakan parkir, dan tidak ramah lansia serta disabilitas. Transport for Bandung menekankan perlunya integrasi serius antara transportasi publik, berjalan kaki, dan bersepeda. Integrasi tersebut diperlukan agar mobilitas ramah lingkungan menjadi pilihan utama warga kota.

Melalui forum ini, tiga inisiatif warga sepakat memperkuat Koalisi Mobilitas Ramah Lingkungan Berkelanjutan. Koalisi ini menjadi ruang advokasi bersama yang mendorong kota berpihak pada manusia dan lingkungan hijau. Pendekatan tersebut menolak dominasi mesin yang berdampak pada udara kotor dan pencemaran lingkungan lainnya.

Empat Catatan Reflektif Utama

Diskusi ini menghasilkan empat catatan reflektif utama terkait dorongan mobilitas ramah lingkungan dan berkelanjutan di Kota Bandung. Pertama, perlu legitimasi keselamatan yang berpihak pada pejalan kaki, pesepeda, dan pengguna transportasi publik.

Legitimasi tersebut dapat berjalan melalui pembentukan Peraturan Daerah Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat. Regulasi ini menjadi dasar perlindungan pengguna jalan rentan dalam sistem mobilitas perkotaan yang adil.

Kedua, perlu evaluasi nyata terhadap implementasi regulasi pejalan kaki, pesepeda, dan pengguna transportasi publik. Evaluasi mencakup kebijakan, pengawasan, serta dampaknya terhadap keselamatan dan kenyamanan mobilitas harian.

Ketiga, integrasi infrastruktur mobilitas harian perlu terwujud secara inklusif dan saling terhubung. Integrasi ini bertujuan menciptakan sistem mobilitas yang aman, adil, dan aksesnya mudah.

Keempat, penguatan kerja kolektif antargerakan warga kota dan kabupaten perlu terus berkembang dan berkelanjutan. Upaya ini didukung literasi mobilitas ramah lingkungan yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Forum menegaskan bahwa perubahan sistem mobilitas kota tidak lahir dari satu kebijakan semata. Perubahan membutuhkan keberanian belajar dan bergerak bersama antara eksekutif, legislatif, dan masyarakat.

Koalisi Mobilitas Ramah Lingkungan Berkelanjutan akan melanjutkan upaya advokasi regulasi yang berpihak pada kepentingan publik. Upaya tersebut berlangsung melalui diskusi bersama DPRD Kota Bandung, Dinas Perhubungan, dan OPD terkait.

Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 27 Desember 2025 di Kedai Kopi Celah Kota, Jalan Buahbatu, Bandung. Diskusi ini akan mengundang komunitas pesepeda, pejalan kaki, dan pengguna transportasi publik untuk membahas regulasi bagi pengguna jalan rentan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/refleksi-mobilitas-bandung-fasilitas-pejalan-kaki-dan-pesepeda-masih-minim/feed/ 0
Bersepeda Jakarta-NTT Membawa Misi Merenovasi Sekolah di Lembata https://www.greeners.co/aksi/bersepeda-jakarta-ntt-membawa-misi-merenovasi-sekolah-di-lembata/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersepeda-jakarta-ntt-membawa-misi-merenovasi-sekolah-di-lembata https://www.greeners.co/aksi/bersepeda-jakarta-ntt-membawa-misi-merenovasi-sekolah-di-lembata/#respond Tue, 03 Jun 2025 09:06:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46715 Jakarta (Greeners) – Seorang penggiat olahraga sepeda, Dody Johanjaya menempuh perjalanan luar biasa sejauh 2.500 kilometer dari Jakarta menuju Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perjalanan ini bukan sekadar tentang menaklukkan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Seorang penggiat olahraga sepeda, Dody Johanjaya menempuh perjalanan luar biasa sejauh 2.500 kilometer dari Jakarta menuju Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perjalanan ini bukan sekadar tentang menaklukkan jarak. Ia membawa misi sosial yang kuat, yaitu menggalang dana untuk merenovasi sebuah sekolah agar anak-anak di Lembata dapat belajar di tempat yang lebih layak.

Bagi Dody, ini bukan hanya petualangan bersepeda jarak jauh. Perjalanan ini adalah pengalaman pertamanya menggabungkan hobi ekstrem dengan aksi kemanusiaan. Ia menempuh rute menantang yang melewati Jakarta, Banyuwangi, Bali, Labuan Bajo, hingga Lembata. Setiap harinya ia mengayuh sejauh 200 hingga 300 kilometer dengan target mencapai tujuan dalam waktu 20 hari.

Persiapannya dilakukan dengan sangat serius. Ia menjalani latihan sejauh 500 hingga 600 kilometer per minggu, termasuk simulasi rute Jakarta ke Yogyakarta sambil membawa seluruh perlengkapan yang dibutuhkan. Dengan biaya operasional yang minim, Dody memilih untuk melakukan perjalanan ini seorang diri. Meski penuh risiko dan kelelahan, keputusan ini diambil demi efisiensi.

BACA JUGA: Puan-Puan Bersepeda Solid Gandeng Pesepeda Pemula

“Ini ujian terbesar. Tapi, bayangkan senyum anak-anak Lembata demi pendidikan yang setara. Itu bahan bakar terbaik,” ujar Dody dalam keterangan tertulisnya.

Hingga kini, dana yang berhasil terkumpul baru mencapai sekitar 25 persen dari target Rp100 juta. Namun, Dody tak gentar dan terus melangkah.

“Saya tidak berharap banyak, yang penting saya sudah berusaha, dan semoga usaha ini bisa berdampak. Sekolah nanti yang akan mengelola dana itu sebaik mungkin. Tugas saya adalah bergerak, dan itulah yang akan saya lakukan,” tambah Dody.

Dari layar kaca ke jalur berdebu sepanjang ribuan kilometer, ia membuktikan bahwa perjalanan hidup bisa berubah arah, tapi tetap bermakna. “Terkadang, langkah yang paling bermakna justru adalah langkah, atau kayuhan, yang kita ambil untuk orang lain,” ucapnya.

Penggiat olahraga sepeda, Dody Johanjaya menempuh perjalanan sejauh 2.500 kilometer dari Jakarta menuju Lembata, NTT. Foto: Yayasan Plan International Indonesia.

Penggiat olahraga sepeda, Dody Johanjaya menempuh perjalanan sejauh 2.500 kilometer dari Jakarta menuju Lembata, NTT. Foto: Yayasan Plan International Indonesia.

Ketimpangan yang Memilukan

Sebelumnya, pada 2022 ia juga pernah membawa sepeda lipatnya ke Lembata. Di sana, ia menyaksikan langsung ketimpangan yang memilukan. Dody melihat anak-anak bersekolah tanpa alas kaki, bangunan yang reyot, dan keterbatasan fasilitas.

“Saya nggak bisa diam. Harus ada yang saya lakukan,” ujar Dody.

Inspirasi itu datang saat ia mengawali petualangan Devi, pegiat Run for Equality yang bersepeda untuk air bersih di NTT dengan rute dari Jakarta ke Bali. Dody lantas berpikir, “Kenapa nggak saya lakukan hal serupa untuk pendidikan di Lembata?”

Pikiran itu akhirnya mengkristal menjadi proyek sosial pertamanya yang berkolaborasi dengan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia).  Kisah tentang sebuah madrasah di Desa Wowong, Lembata sampai ke telinga Dody. Ia pun terinspirasi oleh semangat warga, akhirnya Dody memutuskan untuk bertindak.

Pendidikan di Lembata Terancam

Di pulau Lembata, NTT, banyak anak lulusan SD yang nasib pendidikannya terancam. Tidak ada sekolah menengah di desa mereka. Bahkan, jarak yang jauh membuat orang tua ragu melepas anaknya pergi.

Tahun lalu, warga sebuah desa di Lembata memutuskan untuk bertindak sendiri. Dengan swadaya, mereka mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara SMP. Bangunannya seadanya, yaitu bambu untuk dinding, papan bekas untuk meja, dan atap yang tak selalu mampu menahan terik matahari atau hujan.

Tapi dari “sekolah darurat” ini, harapan tumbuh. Awalnya, hanya anak-anak Wowong yang bersekolah di sini. Kini, murid-murid dari desa tetangga mulai berdatangan. Setiap pagi, puluhan anak berjalan kaki melintasi bukit, seragam mereka mungkin sudah lusuh, tapi mata mereka tetap berbinar.

BACA JUGA: Sejuta Sepeda Satu Indonesia untuk Lestarikan Lingkungan

Namun, masalah baru muncul: ruangan tak lagi cukup. Beberapa kelas harus bergantian menggunakan ruangan yang sama. Saat hujan, pembelajaran sering terhenti karena atap bocor.

Kepala Desa Wowong, Jubir Latif menatap bangunan sekolah sederhana itu. Dinding bambu yang mulai lapuk, atap yang bocor ketika hujan, dan ruang kelas sempit yang harus menampung puluhan anak. Tapi di mata pria paruh baya itu, bangunan darurat ini adalah sebuah benteng terakhir.

“Kalau kami tidak mendirikan MTs ini, anak-anak di sini akan putus sekolah. Mereka harus berjalan puluhan kilometer ke desa lain, atau berhenti belajar sama sekali,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bersepeda-jakarta-ntt-membawa-misi-merenovasi-sekolah-di-lembata/feed/ 0
Susuri Jakarta-Lombok, Empat Pesepeda Bakal Tanam 1.000 Mangrove https://www.greeners.co/aksi/susuri-jakarta-lombok-empat-pesepeda-bakal-tanam-1-000-mangrove/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=susuri-jakarta-lombok-empat-pesepeda-bakal-tanam-1-000-mangrove https://www.greeners.co/aksi/susuri-jakarta-lombok-empat-pesepeda-bakal-tanam-1-000-mangrove/#respond Wed, 24 Jul 2024 05:40:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44341 Jakarta (Greeners) – Empat pesepeda dari Komunitas Perpustakaan Alam Malabar (Perpusalam) Bandung telah memulai perjalanannya untuk menyusuri Jakarta hingga Lombok dengan jarak tempuh 1.700 kilometer. Dalam Ekspedisi Mengembara Biru ini, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Empat pesepeda dari Komunitas Perpustakaan Alam Malabar (Perpusalam) Bandung telah memulai perjalanannya untuk menyusuri Jakarta hingga Lombok dengan jarak tempuh 1.700 kilometer. Dalam Ekspedisi Mengembara Biru ini, mereka juga akan menanam 1.000 pohon mangrove di lima kota yang mereka lalui, yakni Cirebon, Kudus, Surabaya, Ketapang, dan Karangasem.

Perjalanan telah dimulai pada Selasa, (23/7) di Kantor Kitabisa, Cilandak, Jakarta Selatan. Selama perjalanan, mereka akan menempuh jalur utara menuju Kota Mataram di Provinsi Nusa Tenggara Barat.​ Dalam perjalanan tersebut, mereka membawa misi kampanye “Hidup Minim Emisi”.

Ekspedisi akan memakan waktu 41 hari. Rute yang mereka tempuh mulai dari Jakarta, Cirebon, Kudus, Surabaya, Ketapang, dan Karangasem, kemudian berakhir di Kota Mataram. Perkiraan waktu tiba di Kota Mataram pada 1 September 2024.​

Dalam perjalanannya, mereka juga akan mendokumentasikan dampak krisis iklim atau kerusakan lingkungan yang terjadi di pesisir utara Jawa, Bali, dan Lombok. Kegiatan bersepeda tersebut merupakan salah satu upaya untuk melestarikan lingkungan. Program ini juga didukung oleh Askara Nusantara dari Kitabisa yang berkolaborasi dengan Komunitas Mengembara Biru dan Perpusatakaan Alam Malabar.

BACA JUGA: Greeners Jalin Kerja Sama Penanaman Mangrove dengan Kemangteer

Keempat pesepeda tersebut merupakan sosok pemuda yang senang beraktivitas di alam bebas. Mereka adalah Iman Sulaeman, Thariq Alhafizh, Farid Marwan Hamid, dan Baiq Laella.

Baiq Laella mengatakan, ekspedisi ke Lombok memerlukan persiapan yang cukup matang. Ia dan tiga pesepeda lainnya telah melatih fisik sejak setahun lalu.

“Kami persiapan dari satu tahun sebelumnya dengan melakukan sepedahan jarak dekat. Kemudian, simulasi juga dari Bandung ke Pengalengan, terus balik lagi ke Bandung,” kata Laella saat Greeners temui sebelum memulai perjalanannya ke Lombok, Selasa (23/7).

Empat pesepeda dari Komunitas Perpustakaan Alam Malabar (Perpusalam) Bandung menyusuri Jakarta-Bandung. Foto: Dini Jembar Wardani

Empat pesepeda dari Komunitas Perpustakaan Alam Malabar (Perpusalam) Bandung menyusuri Jakarta-Lombok. Foto: Dini Jembar Wardani

Pesepeda Petik Pelajaran dari Perjalanan

Ekspedisi Mengembara Biru ini merupakan potret kegiatan positif yang mendorong setiap orang untuk melakukan perjalanan dengan emisi rendah, sambil membawa misi berkelanjutan. Khusus bagi generasi muda, mereka menjadi sosok inspiratif yang mendorong generasi muda lainnya untuk mengambil tindakan positif.

Tentu saja perjalanan jauh ini tidak mudah bagi mereka. Namun, dengan semangat dan percaya diri, mereka yakin bisa menghadapi segala tantangan dalam perjalanan ekspedisi ini.

Laella satu-satunya perempuan yang ikut bersepeda berharap dirinya bisa memetik banyak makna dan pelajaran dari perjalanan bersama tiga kawan laki-lakinya. 

BACA JUGA: Walhi dan Dompet Dhuafa Tanam 1.000 Bibit Mangrove di Pulau Pari

Selain itu, keempat pesepeda ini juga akan mengajak masyarakat lokal untuk melakukan aksi pelestarian lingkungan. Nantinya, mereka akan berdiskusi bersama teman-teman pencinta alam di daerah yang menjadi titik pemberhentian mereka.

“Kami juga akan berdiskusi tentang sampah dengan masyarakat lokal di sana. Lalu, berkoordinasi dengan para mahasiswa pencinta alam yang ada di titik-titik pemberhentian,” kata Laella.

Buktikan Kemampuan Perempuan

Menurut Laella, kini masih banyak orang yang menganggap aktivitas berat fisik seperti ini hanya bisa dilakukan oleh laki-laki. Namun, bagi Laella, kegiatan ini bisa menjadi momentum baginya untuk membuktikan kemampuan perempuan dalam melakukan aktivitas berat, salah satunya bersepeda jarak jauh.

“Intinya, sebagai perempuan aku sebisa mungkin tidak ingin merepotkan yang lain. Sebab, saat ini perspektif orang lain kepada perempuan itu kan ribet. Nah, jadi aku mau dalam perjalanan ini membuktikan bahwa aku gak ribet dan gak mau repotin mereka,” ungkap Laella.

Dengan kegiatan ini, Laella termotivasi untuk bisa membuktikan bahwa perempuan bisa melakukan banyak hal yang sama seperti laki-laki. Misalnya, kegiatan-kegiatan ekstrem seperti yang gemar ia lakukan, yaitu panjat tebing maupun bersepeda dengan jarak tempuh yang jauh.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/susuri-jakarta-lombok-empat-pesepeda-bakal-tanam-1-000-mangrove/feed/ 0
Kang Coe, 25 Tahun Bersepeda Sambil Motivasi Anak Muda https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kang-coe-25-tahun-bersepeda-sambil-motivasi-anak-muda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kang-coe-25-tahun-bersepeda-sambil-motivasi-anak-muda https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kang-coe-25-tahun-bersepeda-sambil-motivasi-anak-muda/#respond Mon, 07 Nov 2022 04:24:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=37889 Bandung (Greeners) – Demi kualitas hidup yang lebih baik dan sehat, usia tak menjadi penghambat untuk melakukan segudang aktivitas olahraga seperti sepeda. Hal inilah yang mendorong pesepeda senior Cucu Eman […]]]>

Bandung (Greeners) – Demi kualitas hidup yang lebih baik dan sehat, usia tak menjadi penghambat untuk melakukan segudang aktivitas olahraga seperti sepeda. Hal inilah yang mendorong pesepeda senior Cucu Eman Haryanto masih bersepeda atau gowes di usianya yang sudah 60 tahun.

Kepada Greeners.co, lelaki yang akrab disapa Kang Coe ini mengatakan, tak ada motivasi khusus di balik kegemarannya gowes tersebut. “Ingin sehat saja. Kalau kita sehat, life time-nya tinggi, di umur tua tak gampang sakit dan menyusahkan keluarga, bahagia,” katanya di sela-sela acara Hello Bike Festival di Bandung, Sabtu (6/11).

Pesepeda kawakan ini tak sekadar gemar menggowes, tapi juga berkali-kali menyabet penghargaan lomba balap sepeda. Bahkan di usianya yang telah lansia tersebut ia kerap memecahkan rekor dan keluar sebagai pemenang.

Tahun 2019 lalu misalnya, lelaki yang bersepeda sejak tahun 1997 ini berhasil memecahkan rekor bersepeda bolak balik Bandung-Pangandaran dengan jarak 430 kilometer. Ia membutuhkan waktu sekitar 22 jam. Menariknya, selama berangkat dari Bandung ke Pangandaran, ia sama sekali tak beristirahat. Jalan jam 5 subuh dan tiba pukul 02.00 WIB. Tak sia-sia, perjalanan ini memecahkan rekor tercepat.

“Ini adalah rekor bersepeda paling gila yang pernah saya lakukan, otot sampai kram semua, babak belur. Cukup sekali saya lakukan, tak mau lagi,” ujarnya terkekeh.

Selain itu, ia juga pernah melakukan perjalanan sejauh 405 kilometer selama 26 jam dari Bandung hingga Yogyakarta mulai dari Kamis pagi pukul 05.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB Jumat pagi di tengah guyuran hujan.

Tak sekadar bersepeda atau memecahkan rekor dan perlombaan, Kang Coe memiliki misi khusus. Salah satunya untuk terus memotivasi generasi muda agar memiliki semangat dalam bersepeda.

“Ada anak saya juga lelaki yang sepeda seperti saya. Ini tak hanya untuk menang atau rekor tapi memotivasi mereka, khususnya generasi muda agar ayo terus semangat bersepeda,” ucapnya.

Tips Aktif Bersepeda

Meski usianya tak lagi muda, Kang Coe mempunyai rahasia untuk tetap aktif dan fit dalam menjalani hari-harinya, yakni membiasakan tubuhnya bergerak dengan bersepeda. Kebiasaan saat weekday, ia biasa menempuh sepeda sekitar 50 kilometer.

Sementara saat hari weekend ia biasa menempuh sepeda hingga 100 kilometer. “Biasanya Minggu off agar otot beristirahat, tapi itu sudah menjadi rutinitas yang tak boleh ditinggal,” ucapnya.

Ia menambahkan, tips untuk pesepeda pemula yang ingin menggeluti dunia gowes. Salah satunya memastikan, pentingnya mengetahui kemampuan diri sebelum bersepeda. Sebelum melakukan touring, pesepeda pemula harus mempunyai basic berupa daya tahan.

Selanjutnya tinggal menaikkan speed-nya diikuti latihan rutin terus menerus. “Ini penting, sebab banyak di antara teman-teman yang kecelakaan itu karena kurang kontrol. Kuncinya harus tahu kemampuan diri,” ungkapnya.

Gowes tak sekadar olahraga tapi menjadi ruang terjalinnya keluarga baru dan misi pelestarian lingkungan. Foto: istimewa

Kenali Kondisi Fisik

Demi keamanan dan kenyamanan pesepeda hendaknya harus memastikan kesesuaian setting sepeda dengan postur tubuh. Kemudian demi kesehatan jantung, ia menyatakan gowes sepeda di jalan menanjak akan melatih kekuatan otot. Sedangkan untuk RPM datar akan lebih menyehatkan kesehatan jantung.

Untuk menunjang kebiasaan kompetisinya, ia aktif mengikuti kegiatan dalam Salasakahiji, yakni event lomba sepeda tiap minggu pada hari Selasa di Kota Bandung. Agenda ini sekaligus menjadi perkumpulan pesepeda di Kota Bandung dari berbagai komunitas dan jenis sepeda untuk adu kecepatan.

Menariknya, para pesepeda dapat mengumpulkan poin yang mereka dapat dalam setiap perlombaan dan ditukar dengan berbagai hadiah menarik pada akhir tahun.

“Ini sekaligus mendorong kita untuk tetap kompetitif bersepeda, karena di sana banyak juga yang seusia saya,” katanya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kang-coe-25-tahun-bersepeda-sambil-motivasi-anak-muda/feed/ 0
Jamin Keamanan Parkir Sepeda di Stasiun https://www.greeners.co/berita/jamin-keamanan-parkir-sepeda-di-stasiun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamin-keamanan-parkir-sepeda-di-stasiun https://www.greeners.co/berita/jamin-keamanan-parkir-sepeda-di-stasiun/#respond Sun, 18 Sep 2022 05:00:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37375 Jakarta (Greeners) – Sepeda dan transportasi publik menjadi garda terdepan moda transportasi ramah lingkungan. Namun, Komunitas Bike To Work (B2W) mengungkap masih tingginya potensi kehilangan sepeda di area parkir transportasi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sepeda dan transportasi publik menjadi garda terdepan moda transportasi ramah lingkungan. Namun, Komunitas Bike To Work (B2W) mengungkap masih tingginya potensi kehilangan sepeda di area parkir transportasi publik, termasuk stasiun. Oleh sebab itu perlu jaminan keamanan parkir sepeda di Jakarta.

Ketua Umum B2W Fahmi Saimima mengatakan, aksi kriminal pencurian sepeda sangat tinggi dua tahun belakangan seiring maraknya pesepeda.

“Tempat yang paling sering dicuri adalah yang tak terpantau, jauh dari pengawasan karena tak terlindungi keamanannya meski di fasilitas publik seperti stasiun. Di sinilah B2W menyuarakan agar fasilitas publik itu harus ramah sepeda,” katanya di sela-sela diskusi bertajuk “Menuju Stasiun Ramah Sepeda” di Jakarta, akhir pekan lalu.

Fahmi menyebut, momentum penyesuaian tarif bahan bakar bersubsidi (BBM) saat ini berdampak signifikan terhadap kembali maraknya pengguna sepeda. Oleh karena itu, pemerintah harus mendukung pertumbuhan ekosistem pesepeda dengan fasilitas yang layak.

“Penyediaan fasilitas adalah kewajiban dari pengelola. Digunakan atau tidak, ramai atau tidak, adalah kewajiban pengelola untuk menjaga agar konsumen bisa menggunakan dengan aman dan nyaman,” ucapnya.

Laporan Pencurian Sepeda

Berdasarkan temuan B2W, sejak April 2021 sudah ada sebanyak 27 sepeda yang pesepeda laporkan hilang di area parkir stasiun Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Pihak pengelola stasiun tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas kehilangan tersebut. Puncaknya, yakni ada salah satu stasiun yang justru menutup area parkir di stasiun sehingga membuat komunitas pesepeda geram.

Saat ini, kurang lebih terdapat lima kapasitas area sepeda yang ada di setiap stasiun di Jabodetabek. Fahmi menilai, jumlah kapasitas tersebut bisa ditambah seiring dengan maraknya para pengguna sepeda. Ia juga tak mempermasalahkan jika memang para pesepeda dibebankan tarif parkir seperti halnya sepeda motor atau mobil jika memang menjamin keamanan dan kenyamanan mereka.

“Ini bukan soal uang, tapi soal jaminan keamanan dan kenyamanan para pesepeda agar mendapat hak yang sama dengan pengguna kendaraan bermotor,” imbuhnya.

Pengguna transportasi publik commuter line berjalan di peron stasiun. Foto: Shutterstock

KCI Siap Bangun Area Parkir Sepeda

Sementara itu, Vice President PT KAI Commuter Indonesia (KCI) Teguh mohon maaf atas kurang optimalnya layanan penyediaan area parkir sepeda selama ini.

Teguh mengungkapkan, dalam seminggu ke depan pihak KCI akan menutup parkir sepeda di 10 stasiun commuter line untuk mereka relokasi. Penutupan area parkir tersebut bertujuan agar KAI Commuter dan KAI Daop 1 Jakarta memberikan pelayanan dan pengamanan yang lebih baik lagi.

Sepuluh stasiun itu antara lain Manggarai, Lenteng Agung, Pondok Ranji, Tanah Abang, Palmerah, Sudirman, Jurangmangu, Bekasi, Tangerang, dan Serang. Pihak PT KCI juga akan membangun bike shelter pada area parkir yang mudah petugas keamanan awasi.

Dalam pembangunan tersebut akan ada dua tipe ukuran parkiran sepeda, yakni 8 meter dengan kapasitas 10 sepeda, 8 sepeda lipat, terdapat locker dan cabin shower.

Sedangkan untuk tipe kedua, berukuran 6 meter yang dapat menampung kapasitas 15 sepeda, pada tipe ukuran ini tidak terdapat loker dan cabin shower. “Ini sudah semangat kami untuk memberikan layanan yang terbaik, apapun itu bentuknya sekecil apapun kami berikan yang terbaik. Jadi fasilitas parkir sepeda adalah salah satu wujud dari kami untuk memberikan layanan pada pelanggan,” tuturnya.

Terkait rencana tersebut, KCI akan menerapkan sejumlah aturan baru parkir sepeda di stasiun. Pesepeda wajib membawa kunci sepeda, jika tidak KCI melarang sepeda mereka parkir di stasiun. Pengguna (pesepeda) wajib meminta kunci tambahan ke petugas stasiun. Hal ini sekaligus menginformasikan identitas diri si pesepeda.

Setelah penguncian ganda sepeda, kunci tambahan harus pesepeda serahkan kembali ke petugas untuk ditukar dengan kartu parkir. Saat pengambilan sepeda akan ada verifikasi identitas atau nomor identitas lainnya. Kunci tambahan pesepeda serahkan kembali ke petugas sesaat setelah pengambilan sepeda.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/jamin-keamanan-parkir-sepeda-di-stasiun/feed/ 0
Pesepeda: Kami Memiliki Hak yang Sama di Jalan Raya https://www.greeners.co/aksi/pesepeda-kami-memiliki-hak-yang-sama-di-jalan-raya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pesepeda-kami-memiliki-hak-yang-sama-di-jalan-raya https://www.greeners.co/aksi/pesepeda-kami-memiliki-hak-yang-sama-di-jalan-raya/#respond Sun, 27 Sep 2020 03:30:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=28936 Menurut Ketua Bike to Work Indonesia, Poetoet Soedarjanto, selama ini keberadaan pesepeda masih dianggap mengganggu pengguna jalan raya lainnya.]]>

Jakarta (Greeners) – Keberadaan para pesepeda di jalan raya dianggap masih menjadi masalah. Perlakuan yang berbeda hingga diskriminasi tak luput diterima oleh para pengguna kereta angin itu. Hal lain juga terlihat dari fasilitas untuk para pengguna sepeda hingga implementasi regulasi yang ada. Dalam sebuah diskusi virtual bertajuk “Aman di Jalan Menularkan Kebiasaan Baik Bersepeda” yang diadakan pada Jum’at, (25/9) lalu, sejumlah pegiat sepeda memaparkan pendapat mereka.

Acara yang diselenggarakan melalui akun instagram triathlonseries.id itu, juga turut mengundang Poetoet Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia,  Tabby Sumendap, Founder Women Cycling Community (WCC), dan pesepeda Fitra Tara Mizar. Mereka prihatin atas kurangnya edukasi dan minimnya fasilitas untuk bersepeda bahkan di saat masa pandemi seperti saat ini.

Baca juga: Komunitas Pesepeda Kritisi Regulasi Keselamatan di Jalan

Menurut Poetoet Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia, edukasi yang dimaksud adalah edukasi kepada seluruh pengguna jalan. Menurutnya selama ini keberadaan pesepeda masih dianggap mengganggu pengguna jalan raya lainnya. Jika diibaratkan, kata dia, saat ini sepeda seolah-olah jadi penyakit dan masalah layaknya hama wereng. “Jadi, maksud saya, sepeda juga punya hak yang sama di jalan raya,” ucap Poetoet.

Pesepeda

Pesepeda melakukan sosialisasi dan kampanye edukasi dalam aksi “Yang Bersepeda Yang Istimewa”, di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Juli 2020. Foto: www.greeners.co/RidhoPambudi

Ia merasa masih banyak pihak yang menganggap sepeda hanya mengganggu. Padahal menurutnya kendaraan bermotor lebih berperan besar dalam persoalan yang terjadi di jalan raya. Tiga persoalan besar tersebut, kata Poetoet, yakni polusi udara, kemacetan, dan kecelakaan. Merujuk dari data yang ada, ia mengatakan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan hanya memiliki tiga hari saja yang dinyatakan bersih dari pencemaran udara.

“Kemudian tingginya angka kecelakaan lalu lintas, kalau saya merujuk data Korlantas Polri 2019, ada 23 ribu nyawa sia-sia di jalan raya, penyebabnya siapa? Dominan kendaraan bermotor. Jadi, sesungguhnya kendaraan bermotor ini jadi penyebab tiga persoalan tadi,” ucapnya.

Kondisi Jalan Belum Nyaman untuk Bersepeda

Adapun menurut Tabby Sumendap, waktu dan ruang gerak untuk bersepeda dinilai sangat terbatas ditambah dengan adanya pandemi. Ia menuturkan, saat ini para pesepeda hanya bisa gowes dalam jangka waktu satu jam dan hanya bisa dilakukan pada pagi hari.

Namun, waktu tersebut cukup rawan bagi para wanita. Sebagai pesepeda ia hanya bisa mengikuti peraturan yang telah ada. “Kondisi jalan di Jakarta belum sepenuhnya nyaman buat gowes, ya. Apalagi (sebagai) wanita, aman dan nyaman itu sangatlah penting buat kita,” kata dia.

Baca juga: Gowes Baraya Bandung: Pesepeda Butuh Jalur yang Aman dan Nyaman

Selain itu, menurut Tabby, jalur sepeda bukan satu-satunya persoalan yang dialami pesepda. “Memang benar jalur sepeda, cuma jalur sepeda itu banyak juga yang lainnya di dalam situ, jalanan juga tidak mulus, tapi ya yaudah ikutin aja apa adanya,” ucapnya.

Dengan adanya peraturan terbaru mengenai keselamatan pesepeda, mereka berharap regulasi tersebut bisa disampaikan dengan baik melalui edukasi kepada masyarakat. Dengan begitu masyarakat akan lebih paham mengenai keberadaan sepeda yang seharusnya setara dengan alat transportasi lainnya.

Penulis: Ridho Pambudi

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pesepeda-kami-memiliki-hak-yang-sama-di-jalan-raya/feed/ 0
Komunitas Pesepeda Kritisi Regulasi Keselamatan di Jalan https://www.greeners.co/berita/komunitas-pesepeda-kritisi-regulasi-keselamatan-di-jalan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komunitas-pesepeda-kritisi-regulasi-keselamatan-di-jalan https://www.greeners.co/berita/komunitas-pesepeda-kritisi-regulasi-keselamatan-di-jalan/#respond Mon, 21 Sep 2020 10:48:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=28713 Diperlukan kerja sama dalam untuk membangun infrastruktur bagi pesepeda dengan melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. ]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Perhubungan menerbitkan peraturan baru tentang keselamatan pesepeda di jalan. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 59 Tahun 2020 tersebut resmi diundangkan pada Selasa, 25 Agustus lalu. Menanggapi terbitnya regulasi, Institute Transportation and Development Policy dan Komunitas Bike to Work Indonesia pun memberikan sejumlah catatan bagi pemerintah.

Ketua Umum B2W Indonesia Poetoet Soedarjanto, misalnya, menyoroti tidak dipertimbangkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai rujukan peraturan. Ia mengutip sejumlah pasal dalam undang-undang yang telah mengatur kemudahan berlalu lintas bagi pesepeda (Pasal 62), keselamatan, dan keamanan para pejalan kaki maupun pesepeda (Pasal 106, Pasal 284, Pasal 106).

“Di UU Nomor 22/2009 ini banyak pasal yang membahas sepeda, tapi tidak dijadikan salah satu rujukan,” ujarnya kepada Greeners, Senin, (21/09/2020).

Baca juga: Kota Besar di Dunia Andalkan Sepeda untuk Tangkal Pencemaran Udara

Menurutnya, Pasal 4 Ayat 1 Permenhub Nomor 59 Tahun 2020 juga tak secara rinci merujuk ke undang-undang tertentu. Ia justru mempertanyakan perundang-undangan yang digunakan pemerintah. Dalam pasal dan ayat yang sama, kata dia, regulasi tersebut mengecualikan sepeda balap, sepeda gunung, dan jenis sepeda lain untuk menggunakan spakbor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. “Sepeda lipat, sepeda tandem atau sepeda kargo tidak ada undang-undang yang mengatur,” ujarnya.

Pesepeda

Seorang pesepeda melintas di lajur khusus sepeda di Jakarta. Foto: shutterstock

Hal yang sama juga disampaikan oleh Manajer Komunikasi dan Kerja Sama, Institute Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Fani Rachmita. Ia mengatakan lembaganya mengapresiasi hadirnya Permenhub Nomor 59 Tahun 2020 tersebut. Meski begitu, masih ada beberapa catatan untuk peraturan baru ini. Menurutnya, salah satu aturan mengenai perlengkapan seperti baju dan spakbor yang ditekankan dalam permenhub kurang diperlukan.

Fani mengutip Pasal 2 Ayat 2 Permenhub Nomor 59 Tahun 2020 yang menyebutkan bahwa sepeda harus memenuhi persyaratan keselamatan dengan menyertakan spakbor, bel, sistem rem, dan lampu saat beroperasi di jalan. Selain itu moda transportasi ini juga disebut perlu dilengkapi alat pemantul cahaya berwarna merah, alat pemantul cahaya roda berwarna putih atau kuning, dan pedal. 

“Di beberapa kota di dunia (yang) mewajibkan pesepeda menggunakan perlengkapan tertentu berdampak pada penurunan penggunaan sepeda itu sendiri,” ucapnya ketika dihubungi Greeners, pada Sabtu, (19/09/2020).

Baca juga: Gowes Baraya Bandung: Pesepeda Butuh Jalur yang Aman dan Nyaman

Catatan kedua, yakni kewajiban pembangunan infrastruktur sepeda atau jalur sepeda dibagi berdasarkan wewenang jalan. Menurut Fani, jika pemerintah daerah seperti Jakarta ingin membangun jalur sepeda, hal  itu hanya bisa dilakukan di jalan-jalan kolektor dan tidak bisa di jalan arteri. Penyebabnya karena wewenang berada di Kementerian Perhubungan dan atau Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ).

Ketiga, acuan teknis yang tertera di Permenhub dinilai tidak detail dan kurang mengakomodir pelaksanaan di lapangan. Fani menyebut pada Pasal 13 Permenhub 59/2020, misalnya, jalur sepeda minimal dibuat 1,2 meter dan tidak ada ketentuan proteksi atau pembatas yang memisahkan jalur sepeda dengan jalan kendaraan bermotor.

“Belum lagi masalah ketentuan jalur ketika ada on street parking dan jalur khusus bus di Pasal 13. Hal ini harus dipertimbangkan lagi karena malah menempatkan sepeda di tengah (konflik dengan pengendara),” kata dia.

Baca juga: YLKI Tolak Air Kemasan Galon Sekali Pakai

Ia mengatakan keselamatan pesepeda harus menjadi prioritas para pengambil kebijakan. Sebab, penggunaan sepeda bukan hanya sebagai moda transportasi, tetapi juga alat untuk memutar kegiatan ekonomi. Mewajibkan berbagai atribut tanpa mengidentifikasi isu, kata dia, malah akan menurunkan minat penggunaan sepeda.

“Keselamatan pesepeda wajib dijamin oleh negara, sehingga jalur sepeda terproteksi seharusnya menjadi prioritas kebijakan utama untuk mendorong penggunaan sepeda lebih masif lagi,” ucapnya.

Menurutnya diperlukan kerja sama dan visi yang selaras dalam hal pembangunan infrastruktur bagi pesepeda. Koordinasi tersebut, kata dia, dapat dilakukan dengan melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang mempunyai tugas pokok dan fungsi serupa. Hal tersebut bertujuan agar Permenhub Keselamatan Pesepeda di Jalan tersebut dapat diimplementasikan dengan maksimal dan sebaik-baiknya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/komunitas-pesepeda-kritisi-regulasi-keselamatan-di-jalan/feed/ 0
Bike to Work Indonesia Edukasi Pengguna Jalan Tertib Berlalu Lintas https://www.greeners.co/aksi/bike-to-work-indonesia-edukasi-pengguna-jalan-tertib-berlalu-lintas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bike-to-work-indonesia-edukasi-pengguna-jalan-tertib-berlalu-lintas https://www.greeners.co/aksi/bike-to-work-indonesia-edukasi-pengguna-jalan-tertib-berlalu-lintas/#respond Sat, 11 Jul 2020 02:00:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=27832 Ketua Bike to Work Indonesia mengatakan semua aksi tersebut bertujuan untuk mengedukasi pengguna jalan untuk tertib berlalu lintas termasuk pesepeda.]]>

Bike to Work Indonesia bersama Koalisi Pejalan Kaki menggelar kampanye edukasi bertajuk “Yang Bersepeda Yang Istimewa”, di Jalan Sudirman, Jumat, (10/07/2020). Acara ini dilakukan untuk mendorong para pengguna jalan termasuk pesepeda agar tertib berlalu lintas.

Kegiatan tersebut mengundang ribuan pesepeda dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Pada aksi kali ini, para anggota Bike to Work menggelar karpet merah di jalur sepeda di sepanjang Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, menggunakan atribut poster, dan menampilkan sosok koki yang melayani para pesepeda. Ikon koki tersebut diilustrasikan sebagai pemerintah yang melayani warganya.

Baca juga: 60 Komunitas dan Organisasi Serukan Pengurangan Plastik Sekali Pakai di Tengah Pandemi

Menurut Ketua Bike to Work Indonesia Poetoet Soedarjanto, semua aksi tersebut bertujuan untuk mengedukasi pengguna jalan untuk tertib berlalu lintas termasuk pesepeda. Ia mengatakan sepeda menjadi solusi sekaligus berperan penting dalam transportasi ramah lingkungan. “Pemerintah harusnya melayani dengan baik semua pengguna jalan di jalan raya,” ucapnya saat ditemui Greeners, kemarin.

Ia menilai pemerintah belum sepenuhnya peduli terhadap transportasi alternatif tersebut. Hal itu, kata dia, terlihat dari fasilitas sepeda yang masih kurang memadai. “Ketika pesepeda mengalami peningkatan dianggap menjadi masalah bukan sebagai solusi,” ujarnya.

Selain itu menurut Poetoet, kebutuhan pesepeda bukan hanya jalur sepeda, tetapi fasilitas pendukung lainnya. “Kalau jalur sepeda banyak kota sudah membuat, tetapi hanya sekadar simbol saja. Implementasinya tidak ada,” ujarnya.

Bike to Work Indonesia

Anggota Bike to Work Indonesia memegang poster kampanye edukasi dalam aksi “Yang Bersepeda Yang Istimewa”, di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Juli 2020. Foto: www.greeners.co/RidhoPambudi

Mengenai transportasi ramah lingkungan, ia mengatakan bukan hanya sepeda saja. Menurutnya pemerintah sebaiknya mulai membangun fasilitas angkutan publik yang mendukung transportasi hijau (Green Transportation) dan tidak hanya berada di Jakarta tetapi juga di Indonesia.

“Dengan fasilitas yang memadai dapat mengurangi ketergantungan menggunakan kendaraan bermotor. Mengurangi bukan berarti  meniggalkan sama sekali. Tetap membutuhkan motor, mobil, tetapi  gunakan secara bijak,” kata dia.

Maraknya kegiatan bersepeda di saat pandemi ini, kata dia, juga memiliki sisi baik dan buruk. Menurutnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan sepeda untuk berolahraga meningkat dengan sangat pesat. Namun, banyak juga di antara para pesepeda yang masih mengabaikan protokol kesehatan, aturan berlalu lintas, dan etika saat berada di jalan.

Baca juga: Arka Kinari Berlayar Jelajahi Dunia Menyuarakan Isu Lingkungan

Bike to Work Indonesia meminta agar para pesepeda maupun masyarakat di seluruh Indonesia untuk tetap menaati peraturan lalu lintas dan memerhatikan protokol kesehatan saat berkendara.

Poetoet menambahkan dibutuhkan peran semua pihak untuk saling mengedukasi agar tercipta rasa aman dan nyaman bagi semua pengguna saat berada di jalan raya. “Selalu niatkan jangan sampai diri celaka,  hormati pengguna jalan yang lain. Terakhir jangan sampai kita tertular Covid-19 atau menularkan virus. Caranya ikuti protokol kesehatan,” ujarnya.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bike-to-work-indonesia-edukasi-pengguna-jalan-tertib-berlalu-lintas/feed/ 0
Menciptakan Jalan yang Aman bagi Pesepeda https://www.greeners.co/aksi/menciptakan-jalan-yang-aman-bagi-pesepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menciptakan-jalan-yang-aman-bagi-pesepeda https://www.greeners.co/aksi/menciptakan-jalan-yang-aman-bagi-pesepeda/#respond Wed, 08 Jan 2020 08:31:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=25268 Kecelakaan lalu lintas terhadap pesepeda meningkat seiring dengan bertumbuhnya kegiatan tersebut sehingga diperlukan edukasi bagi pengguna kendaraan lain.]]>

Bandung (Greeners) – Kecelakaan lalu lintas terhadap pesepeda meningkat seiring dengan bertumbuhnya kegiatan tersebut. Desember lalu, tujuh pesepeda mengalami luka-luka usai ditabrak pengemudi Avanza di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada pagi hari. Diperlukan edukasi bagi para pengguna kendaraan mobil dan motor agar lebih berhati-hati dalam berbagi ruang dengan pemakai jalan lain.

Ketua Komunitas Bike to Work Indonesia Poetoet Soedarjanto mengatakan, di tahun 2019 jumlah kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan korban meninggal sebanyak 18 orang. Sedangkan jumlah pesepeda yang mengalami kecelakaan dan tidak menyebabkan wafat yakni 20 orang.

“Ini yang kami tahu dan catat, artinya di luar sana mungkin banyak sekali kasus yang kita tidak tahu, tidak terlaporkan, dan tidak terekspos,” ucap Poetoet saat menghadiri diskusi “Ciptakan Jalan yang Aman Bagi Pesepeda, Bersama Kita Bisa” di Bandung, Sabtu, 4 Januari, 2020.

Baca juga: Perjuangan Hak Bagi Pesepeda di Jalan Raya Belum Akan Berhenti

Menurut Poetoet kecelakaan terhadap pesepeda terjadi tidak hanya di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Medan, tetapi juga di daerah kecil seperti Jombang dan Jogjakarta. Untuk itu, Bike to Work melakukan advokasi, kampanye, dan edukasi mengenai keselamatan pesepeda di jalan. “Bike to Work membangun jaringan dengan berbagai koalisi. Hal yang kita alami di jalan kita bagi juga dengan perusahaan dan para pekerja.”

Aktivitas bersepeda menjadi bagian dari mobilitas (transportasi), olahraga, dan gabungan keduanya. Sepeda sebagai alat transportasi digunakan untuk menempuh perjalanan ke suatu lokasi tujuan. Sementara kereta angin diperuntukkan dalam mengisi waktu luang atau berolahraga. Poetoet menyebut mayoritas kecelakaan pada pesepeda hingga berakibat kematian dikarenakan korban ditabrak dari belakang. Ia juga menuturkan kecelakaan banyak terjadi pada pagi hari dibanding siang dan sore. “Waktu kejadian paling banyak di bawah jam 10 pagi,” kata dia.

Grafik Kecelakaan pada Pesepeda

Grafik kecelakaan terhadap pesepeda selama 2017-2019. Sumber: Bike to Work

Kemudahan untuk memiliki kendaraan bermotor melalui angsuran atau kredit memicu peningkatan jumlah kendaraan di jalanan. Akibatnya para pengguna jalan harus berbagi ruang di sarana yang terbatas. Poetoet menuturkan para pesepeda sebenarnya dilindungi oleh beberapa aturan hukum, misalnya, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013, dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3 Tahun 2014. Namun, antara undang-undang dan implementasi, kata dia, masih jauh panggang dari api sehingga perlu dikaji ulang.

“Ini yang tidak terfasilitasi di Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Karena undang-undang ini didesain hanya untuk mobilitas saja, tidak memfasilitasi olahraga. Sedangkan untuk olahraga berada di velodrome dan fasilitasnya masing-masing hanya ada satu di Jakarta dan Cimahi, Bandung,” ucap Poetoet.

Baca juga: Karavan untuk Pesepeda

Sebagai infomasi, pada kesempatan yang sama, Greeners.co meluncurkan program terbaru bernama “Jurnalis Bersepeda”. Program ini merupakan sebuah sumbangsih Greeners.co dalam menyajikan berita dengan aksi yang ramah lingkungan. Jurnalis Bersepeda bertugas melaporkan masalah lingkungan yang ditemui selama liputan yang dilakukan menggunakan sepeda. Pembaca akan mendapat informasi dalam bentuk foto dan video yang akan ditayangkan berseri di Youtube dan Instagram Greeners.co.

“Diharapkan hasil dari laporan atau berita tersebut nantinya bisa disalurkan kepada pihak-pihak yang memang concern mengenai isu lingkungan di Indonesia untuk ditindaklanjuti,” ujar Pemimpin Redaksi Greeners.co, Syaiful Rochman.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/menciptakan-jalan-yang-aman-bagi-pesepeda/feed/ 0
Pesepeda Ini Tempuh 405 KM dalam 26 Jam https://www.greeners.co/aksi/pesepeda-ini-tempuh-405-km-dalam-26-jam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pesepeda-ini-tempuh-405-km-dalam-26-jam https://www.greeners.co/aksi/pesepeda-ini-tempuh-405-km-dalam-26-jam/#respond Fri, 27 Nov 2015 12:27:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12057 Jakarta (Greeners) – Fungsi dasar sepeda sebagai alat transportasi kembali dibuktikan dengan perjalanan sejauh 405 kilometer dari Bandung hingga Yogyakarta. Cucu Eman Haryanto atau akrab disapa Kang Coe yang berhasil […]]]>

Jakarta (Greeners) – Fungsi dasar sepeda sebagai alat transportasi kembali dibuktikan dengan perjalanan sejauh 405 kilometer dari Bandung hingga Yogyakarta. Cucu Eman Haryanto atau akrab disapa Kang Coe yang berhasil membuktikan hal tersebut.

Pria 53 tahun ini berhasil mencatat waktu 26 jam perjalanan dengan jarak tempuh 405 kilometer. Ia mengaku hanya beristirahat sebanyak delapan hingga sembilan kali selama perjalanan. Awalnya, kata Kang Coe, aksi ini dilakukan hanya untuk menguji diri sendiri serta memberi semangat pada putranya yang mulai merasa kendur semangatnya untuk bersepeda.

“Saya tuh mau tahu, bisa enggak sih saya sepedaan 24 jam dari Bandung ke Yogya? Saya coba berangkat pukul 05.00 pagi di hari Kamis (26/11) hingga akhirnya saya tiba di Yogya pukul 07.00 hari Jumat (27/11) pagi. Sekarang sudah terbukti ternyata bisa, meski dalam perjalanan sempat diguyur hujan. Tapi saya berhasil,” ujar Kang Coe saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Jumat (27/11).

Kang Coe sempat memposting rute 70 kilometer terakhir sebelum dirinya tiba di Yogyakarta. Foto: dok. Cucu Eman Haryanto/Facebook

Kang Coe sempat memposting rute 70 kilometer terakhir sebelum dirinya tiba di Yogyakarta. Foto: dok. Cucu Eman Haryanto/Facebook

Selain senang bersepeda, Kang Coe menyatakan bahwa aksi ini juga bermaksud untuk kembali mengajak anak-anak muda untuk mulai bersemangat dan mulai menggunakan sepeda sebagai moda transportasi. Ia sendiri mengaku akan kembali melakukan perjalanan ke Klaten untuk menghadiri reuni akbar para peserta “Jelajah Sepeda Kompas”.

“Saya setiap hari naik sepeda, ke kantor naik sepeda, kemanapun pakai sepeda. Sekarang saya mau menghadiri acara di Klaten ini juga mencoba menggunakan sepeda. Jadi kalau orang tua seperti saya saja bisa, masak anak-anak mudanya kalah sama saya,” tambah pria yang sehari-harinya bekerja di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional dengan candaannya.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Bike2Work Indonesia, Toto Sugito mengapresiasi dan kagum dengan aksi yang dilakukan oleh Kang Coe. Menurutnya, aksi tersebut seharusnya bisa membuat siapapun tergerak dan mulai mengembalikan sepeda kepada fungsi dasarnya.

“Ini luar biasa ya dan sudah seharusnya diekspose dan diinformasikan kepada semua orang,” katanya.

Lebih lanjut Toto menyatakan bahwa sebenarnya sudah banyak pihak-pihak baik perseorangan maupun rombongan yang melakukan aksi bersepeda dengan misi mengampanyekan penggunaan sepeda. Hal tersebut, katanya lagi, dilakukan sebagai informasi dan mengembalikan fungsi dasar sepeda sebagai moda transportasi.

“Ada Jelajah Sepeda Kompas, ada juga yang lainnya seperti Srikandi kemarin. Itu kan kita menyindir kaum adam untuk mulai bersepeda. Masa perempuan bisa tapi laki-laki enggak? Setidaknya, ya, mulai dari jarak-jarak pendek dalam kota,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pesepeda-ini-tempuh-405-km-dalam-26-jam/feed/ 0
Ratusan Pesepeda dari Berbagai Daerah Silaturahmi di Cianjur https://www.greeners.co/aksi/ratusan-pesepeda-dari-berbagai-daerah-silaturahmi-di-cianjur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ratusan-pesepeda-dari-berbagai-daerah-silaturahmi-di-cianjur https://www.greeners.co/aksi/ratusan-pesepeda-dari-berbagai-daerah-silaturahmi-di-cianjur/#respond Wed, 28 Oct 2015 12:55:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11690 Jakarta (Greeners) – Ratusan pesepeda yang berasal dari berbagai daerah berkumpul di Cianjur untuk menghadiri gathering yang diadakan oleh komunitas sepeda Kompi 7s. Ratusan pesepeda yang tergabung dalam belasan komunitas […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ratusan pesepeda yang berasal dari berbagai daerah berkumpul di Cianjur untuk menghadiri gathering yang diadakan oleh komunitas sepeda Kompi 7s. Ratusan pesepeda yang tergabung dalam belasan komunitas itu berkumpul dalam sebuah acara yang bertajuk “Cibodas Bike Camping” di Cibodas, Cianjur pada tanggal 23-25 Oktober lalu.

Pihak penyelenggara, Feri Soemantri, menyatakan bahwa gathering ini diadakan untuk mempererat silaturahmi di antara komunitas pesepeda yang berasal dari beberapa daerah. “Supaya saling mengenal, lebih banyak dan lebih dekat,” ujar Feri kepada Greeners pada Sabtu (24/10) lalu di Lapangan Golf Cibodas, Cianjur.

Selain silaturahmi, Feri menyatakan sosialisasi sepeda kepada masyarakat adalah hal lain yang ingin dilakukan dalam gathering ini. Feri mengatakan bahwa meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang berbanding lurus dengan polusi udara haruslah diperhatikan dan dicari solusinya.

Bagi Feri, bersepeda dapat menjadi solusi untuk mengurangi polusi udara dan juga dapat menghemat penggunaan energi berbahan bakar fosil. “Kita berharap orang bersepeda itu bukan cuma senang-senang saja, tapi mungkin bisa bike to work atau bike to campus. Jadi bisa mengurangi polusi udara,” jelas pria berusia 51 tahun ini.

(kiri ke kanan) Dadang Mardiyanto dan Feri. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

(kiri ke kanan) Dadang Mardiyanto dan Feri. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Feri mengisahkan bahwa awalnya acara ini adalah pertemuan rutin tiga bulan untuk komunitas sepeda yang ada di Bandung dan Jakarta. Namun, menurut Feri, jika dibandingkan dengan pertemuan tiga bulan lalu yang diadakan di Sukabumi, acara kali ini lebih ramai. Sekitar dua ratus pesepeda asal 14 komunitas sepeda yang tersebar dari berbagai daerah mengikuti acara ini. Selain komunitas sepeda asal Bandung dan Jakarta, hadir pula komunitas sepeda asal Tangerang, Bogor, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjarsari.

“Alhamdulillah, limit pesertanya ternyata di luar prediksi,” ucap Feri sambil tertawa.

Dalam pantauan Greeners, peserta yang mengikuti “Cibodas Bike Camping” tidak hanya anak muda yang berkisar antara 20 hingga 30 tahunan. Peserta berusia diatas 50 tahun pun tampak turut serta dalam, acara ini.

Dadang Mardiyanto, pesepeda yang usianya telah menginjak 72 tahun ini mengaku telah melakukan aktivitas sepeda sejak kecil. Lelaki yang biasa disapa Pak Guru ini menjelaskan bahwa bedanya, ketika kecil sepeda hanya sekedar menjadi alat transportasi saja. Rutinitas bersepeda sebagai olah raga baru dilakoninya dalam 10 tahun terakhir.

Untuk tiba di Cianjur, Pak Guru harus menempuh jarak sekitar 89 km dari Bandung. Jarak ini menurut Pak Guru belumlah seberapa jika dibandingkan dengan jarak yang ia tempuh saat menjelajahi Pulau Sulawesi pada September lalu.

“Alhamdulillah saya sehat, jarak 1.900 km ditempuh selama 17 hari,” cerita Pak Guru tentang penjelajahan Manado-Makassar yang ia jalani bersama tiga orang lainnnya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ratusan-pesepeda-dari-berbagai-daerah-silaturahmi-di-cianjur/feed/ 0
Eiger dan Bike to Campus Ngabuburit Bersama Komunitas Sepeda https://www.greeners.co/aksi/eiger-dan-bike-to-campus-ngabuburit-bersama-komunitas-sepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eiger-dan-bike-to-campus-ngabuburit-bersama-komunitas-sepeda https://www.greeners.co/aksi/eiger-dan-bike-to-campus-ngabuburit-bersama-komunitas-sepeda/#respond Tue, 30 Jun 2015 08:56:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=10060 Bandung (Greeners) – Perusahaan penyedia perlengkapan aktifitas outdoor, Eiger dan Bike to Campus Bandung mengadakan talkshow dan ngabuburit bersama komunitas sepeda se-Bandung Raya di Eiger Setiabudi, Bandung, Sabtu (27/06). Sekretaris […]]]>

Bandung (Greeners) – Perusahaan penyedia perlengkapan aktifitas outdoor, Eiger dan Bike to Campus Bandung mengadakan talkshow dan ngabuburit bersama komunitas sepeda se-Bandung Raya di Eiger Setiabudi, Bandung, Sabtu (27/06).

Sekretaris Ikatan Sepeda Sports Indonesia (ISSI) Jawa Barat sekaligus mantan atlet sepeda, Goestarmono yang diundang sebagai salah satu narasumber dalam talkshow tersebut berbagi pengalaman dengan para peserta talkshow. Ia mengupas tentang potensi atlet khususnya di Bandung, mulai dari tantangan hingga pencarian bibit muda yang dapat mengharumkan nama kota Bandung dan Indonesia.

Selain Goestarmono, diundang pula Dudi Sugandi, seorang wartawan senior di Harian Umum Pikiran Rakyat sekaligus pengurus Boseh to Graphy. Pada kesempatan tersebut, Dudi menjelaskan pengembangan wisata lokal Bandung dari sudut pandang pesepeda dan fotografer.

Acara ini dihadiri 220 pesepeda dari 70 komunitas sepeda. Banyaknya peserta yang juga pesepeda membuat separuh areal parkir toko Eiger penuh dengan ratusan sepeda berbagai jenis dan model, mulai dari mountain bike, touring bike, hingga sepeda onthel.

“Kami semakin terpacu untuk mengadakan event seperti ini. Senang melihat antusias pesepeda untuk hadir walaupun di bulan puasa,” ungkap Didin Bachrudin, Branch Manager Eiger Jawa Barat, saat ditemui Greeners usai buka puasa bersama.

Selain talkshow, acara ngabuburit juga dimeriahkan dengan pengenalan produk Eiger terbaru, fashion show, dan penampilan musik akustik. Usai berbuka puasa, para pesepeda kompak melakukan bersepeda malam (niteride) ke salah satu toko Eiger yang berada di jalan Sumatera.

Ketua pelaksana acara yang juga anggota Bike to Campus Bandung, Faris Sidiq mengaku cukup senang dengan antusiasme anggota komunitas sepeda yang hadir. “Anak-anak Bike to Campus semakin solid, tinggal kepekaan ditingkatkan untuk event selanjutnya,” katanya.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/eiger-dan-bike-to-campus-ngabuburit-bersama-komunitas-sepeda/feed/ 0
Srikandi Inspirasi Bagi Negeri Jilid 5, Tantangan Menggempur Srikandi di Etape 3 https://www.greeners.co/aksi/srikandi-inspirasi-bagi-negeri-jilid-5-tantangan-menggempur-srikandi-di-etape-3/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=srikandi-inspirasi-bagi-negeri-jilid-5-tantangan-menggempur-srikandi-di-etape-3 https://www.greeners.co/aksi/srikandi-inspirasi-bagi-negeri-jilid-5-tantangan-menggempur-srikandi-di-etape-3/#respond Fri, 12 Jun 2015 01:30:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=9619 Sumbawa Besar (Greeners) – Tim “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” Jilid 5 sudah memasuki etape 3. Dalam etape ini, 21 pesepeda perempuan akan menyusuri Sumbawa Besar hingga Pelabuhan Pototano sepanjang 98 […]]]>

Sumbawa Besar (Greeners) – Tim “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” Jilid 5 sudah memasuki etape 3. Dalam etape ini, 21 pesepeda perempuan akan menyusuri Sumbawa Besar hingga Pelabuhan Pototano sepanjang 98 kilometer. Dari titik tersebut, mereka menyeberang dengan kapal Ferry ke Pelabuhan Khayangan dan meneruskan mengayuh sepeda sepanjang 20 kilometer menuju hotel sebagai titik akhir etape 3.

Pada Minggu (07/06/2015), tim Srikandi dilepas oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumbawa. Namun, etape ke tiga baru dimulai setelah para Srikandi mengunjungi Istana Dalam Loka, yaitu Istana Kerajaan Sumbawa Besar. Tepat pukul 08.41 WITA, tim Srikandi akhirnya memulai etape 3 dengan diiringi komunitas sepeda setempat, Sabic.

Perjalanan mulai terasa berat pada kilometer 11 dengan jalanan yang menanjak. Hawa panas dan angin kencang menerpa para Srikandi di jalur ini, namun para perempuan tangguh ini tidak mengeluh. Setelah berjuang menghadapi tanjakan, 21 Srikandi mendapat kesempatan untuk menikmati kelapa muda di pinggir pantai di kilometer 24. Setelah beristirahat selama kurang lebih 30 menit, tim Srikandi kembali ke atas sadle dan kembali menerjang panas dan jalanan menanjak pada kilometer 45.

Akhirnya, jalanan berubah menjadi halus dan rata pada kilometer 50. Pada titik ini, rombongan pengiring semakin besar dengan bergabungnya rekan-rekan pesepeda dari UCC. Sayang, jalanan kembali tidak bersahabat selepas kilometer 50 dengan adanya beberapa spot jalan rusak yang harus dihindari.

Insiden pun terjadi ketika menghadapi KM 58. Yuni, peserta asal Batam, terjatuh ketika berusaha menghindari sebuah lubang. Jatuhnya Yuni dari atas sepeda mengakibatkan dua Srikandi yang berada di belakangnya juga terjatuh. Yuni terpaksa dievakuasi karena lututnya terkena benturan sehingga tim paramedis menyarankan Yuni untuk sementara di mobil ambulance.

Saat menjelang tengah hari, matahari justru tertutup awan sehingga satu tantangan berkurang bagi 21 Srikandi. Cuaca teduh membuat kayuhan sepeda menjadi sedikit lebih bersemangat. Terlebih lagi ketika mencapai titik KM 63 ada beberapa teman dari komunitas setempat lain yang sudah menunggu dan siap bergabung mengiringi 21 Srikandi.

Tibalah waktunya bagi tim Srikandi menikmati santap siang di BNI Alas pada kilometer 74. Tak hanya itu, Bapak Camat Kecamatan Alas turut memberi sambutan atas kedatangan mereka.

“Saya malu melihat ibu-ibu dan mbak-mbak ini karena sampai sekarang saya belum pernah bikin komunitas sepeda. Dengan kedatangan Srikandi ke sini, saya terinspirasi untuk bikin komunitas sepeda Arjuna, nanti pakai seleksi juga,” ujarnya pada sambutan tersebut.

Pukul 14.43 WITA, tim Srikandi tiba di Pelabuhan Poto Tano di KM 98. Kebaikan hati pun diterima oleh tim Srikandi dan tim dari ASDP dengan diberikannya harga gratis. Perjalanan ferry ini memakan waktu sekitar 1 jam 50 menit. Waktu di kapal dimanfaatkan untuk tidur oleh sebagian besar Srikandi.

Walau tidak mendapat pengawalan dan sedikit rasa takut, tim Srikandi berhasil melalui jalur sempit dan ramai dengan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Ke 21 pesepeda perempuan ini tiba di Hotel Tunjung Biru, pada pukul 18.13 WITA dengan total jarak 118 kilometer.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/aksi/srikandi-inspirasi-bagi-negeri-jilid-5-tantangan-menggempur-srikandi-di-etape-3/feed/ 0
Bike Share, Ketika Kota Besar Memberi Ruang Bagi Sepeda https://www.greeners.co/ide-inovasi/bike-share-ketika-kota-besar-memberi-ruang-bagi-sepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bike-share-ketika-kota-besar-memberi-ruang-bagi-sepeda https://www.greeners.co/ide-inovasi/bike-share-ketika-kota-besar-memberi-ruang-bagi-sepeda/#respond Sun, 31 May 2015 06:35:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=9355 Program “Bike Share” bukan hal yang biasa di negara kita. Akan tetapi sebaliknya, di beberapa negara maju di Eropa dan beberapa negara bagian Amerika, “Bike Share” atau berbagi sepeda merupakan […]]]>

Program “Bike Share” bukan hal yang biasa di negara kita. Akan tetapi sebaliknya, di beberapa negara maju di Eropa dan beberapa negara bagian Amerika, “Bike Share” atau berbagi sepeda merupakan hal yang umum.

Penggunaan sepeda untuk transportasi umum sangat dianjurkan. Sepeda adalah alternatif alat transportasi yang ramah lingkungan. Pemerintah di beberapa negara di dunia menyediakan sepeda untuk disewa warganya. Hal ini demi mendukung kampanye sepeda sebagai alat transportasi. Tidak hanya sepeda, fasilitas pendukung lainnya juga dibuat dalam rangka membentuk perilaku bersepeda yang masif.

Di Amerika, khususnya di Washington DC, Minneapolis, Miami Beach, dan Boston, disediakan pool untuk penyewaan sepeda. Harga sewa selama satu hari adalah 7 dollar, sementara biaya untuk sewa satu tahun hanya 75 dollar saja atau sekitar 975.000 rupiah (1 dollar = 13.000 rupiah).

Pemerintah setempat menyediakan beberapa titik yang berfungsi sebagai terminal sepeda. Pemakainya dapat memakai sepeda di terminal satu selama 30 menit dan mengendarainya di sekitar kota dan menyimpannya di terminal yang lain.

Ide “Bike Share” ini dimula tahun 2007 dan langsung mendunia. Di Paris saja tercatat ada 16.000 sepeda yang disewakan, di London disediakan 8.000 sepeda dan di Tiongkok terdapat 65.000 sepeda. Pada awal tahun 2014, New York meluncurkan 10.000 unit sepeda untuk disewakan pada warganya. Akankah kota-kota besar di Indonesia mengikuti langkah ini?

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/bike-share-ketika-kota-besar-memberi-ruang-bagi-sepeda/feed/ 0
21 Srikandi Siap Bersepeda 700 Km Bawa Pesan Lingkungan https://www.greeners.co/berita/21-srikandi-siap-bersepeda-700-km-bawa-pesan-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=21-srikandi-siap-bersepeda-700-km-bawa-pesan-lingkungan https://www.greeners.co/berita/21-srikandi-siap-bersepeda-700-km-bawa-pesan-lingkungan/#respond Sun, 10 May 2015 11:30:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8940 Jakarta (Greeners) – Srikandi Inspirasi Bagi Negeri kembali mengadakan kegiatan touring bersepeda untuk ke lima kalinya dan tahun ini akan melalui rute Bima (NTB) hingga Denpasar, Bali. Seperti sebelumnya, touring […]]]>

Jakarta (Greeners) – Srikandi Inspirasi Bagi Negeri kembali mengadakan kegiatan touring bersepeda untuk ke lima kalinya dan tahun ini akan melalui rute Bima (NTB) hingga Denpasar, Bali. Seperti sebelumnya, touring bersepeda tahunan yang digagas oleh komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia ini kembali membawa 21 pesepeda perempuan tangguh yang terpilih melalui proses seleksi yang cukup ketat.

Ketua Pelaksana Srikandi, Tense Manalu kepada Greeners mengungkapkan, kegiatan yang delapan puluh persen dilaksanakan oleh para perempuan ini akan mulai start pada tanggal lima Juni 2015, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia. Oleh karena itu, beberapa pesan yang akan disampaikan dalam kampanye kali ini juga akan banyak membawa pesan-pesan lingkungan.

“Misalnya nanti itu, bersama Yayasan BALIFOKUS, kita akan ada bakti sosial dan pemeriksaan kesehatan gratis di Kecamatan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat karena banyak dari warga sana yang terpapar limbah merkuri akibat pertambangan emas masyarakat,” jelasnya di Jakarta, Minggu (10/05).

Selain itu, lanjutnya lagi, Srikandi tahun ini juga tetap akan menggalakkan ketertarikan masyarakat agar menggunakan sepeda sebagai transportasi alternatif yang ramah lingkungan sekaligus meneladani jasa kepahlawanan perempuan Indonesia.

Kegiatan touring bersepeda yang dilakukan oleh para perempuan tangguh ini juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KPAA). Heru Kasidi, Deputi Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Sospolkum KPPA, saat dihubungi melalui telepon mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh para perempuan ini menunjukkan kalau perempuan juga bisa melakukan sesuatu yang berat seperti laki-laki.

“Ini kampanye yang menarik ya. Selain memang karena kami sudah mendukung selama empat tahun belakangan, ini juga satu bentuk kegiatan yang seperti memperlihatkan pada kita semua kalau perempuan juga bisa,” tukasnya.

Sebagai informasi, touring bersepeda Srikandi kali ini memiliki jarak tempuh sekitar 700 Kilometer dari Bima, NTB hingga Denpasar, Bali. Setelah melalui proses seleksi yang diadakan di 15 Kota di Indonesia dan 108 peserta terdaftar, panitia seleksi pun akhirnya menetapkan, 21 Srikandi terpilih dengan latar profesi mulai dari Ibu Rumah Tangga, Karyawan, dan Profesional muda dengan rata-rata usia dari 20 hingga 50 tahun.

Salah satu peserta terpilih dari Jawa Barat Nisa Fadilatul Rohmah yang akrab dipanggil Caca mengaku sangat senang dan bersyukur bisa terpilih dan lulus dalam seleksi Srikandi tahun ini. Caca berhasil menyisihkan 11 pendaftar lain dari Jawa Barat yang mendaftar tahun ini. “Alhamdulillah seneng, sekarang tinggal persiapan kondisi fisik agar fit sampai hari pelaksanaan nanti” terangnya ketika dihubungi Greeners via telepon.

Ke 21 Srikandi terpilih tersebut berasal dari Aceh satu orang, Batam satu orang, Bangka Belitung satu orang, Lampung satu orang, Jawa Barat dua orang, Jawa Tengah satu orang, Jabodetabek tiga orang, Nusa Tenggara Barat lima orang, Bali dua orang, Sulawesi Barat satu orang dan Sulawesi Selatan satu orang.

Berikut adalah daftar nama nama perempuan tangguh yang terpilih menjadi peserta Srikandi Inspirasi Bagi Negeri 2015 :

Sumber : Panitia Srikandi Inspirasi Bagi Negeri 2015

Sumber : Panitia Srikandi Inspirasi Bagi Negeri 2015

Penulis : Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/21-srikandi-siap-bersepeda-700-km-bawa-pesan-lingkungan/feed/ 0
Helm Pembaca Gelombang Otak Untuk Memetakan Lokasi Bagi Pesepeda https://www.greeners.co/ide-inovasi/helm-pembaca-gelombang-otak-untuk-memetakan-lokasi-bagi-pesepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=helm-pembaca-gelombang-otak-untuk-memetakan-lokasi-bagi-pesepeda https://www.greeners.co/ide-inovasi/helm-pembaca-gelombang-otak-untuk-memetakan-lokasi-bagi-pesepeda/#respond Wed, 04 Feb 2015 05:41:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_technology&p=7250 Aplikasi untuk memudahkan pengendara kendaraan roda empat sudah banyak. Salah satu aplikasi tersebut berfungsi mengabarkan jalur kemacetan yang datanya diambil dari testimoni pengendara kendaraan lain. Namun, bagaimana dengan aplikasi untuk […]]]>

Aplikasi untuk memudahkan pengendara kendaraan roda empat sudah banyak. Salah satu aplikasi tersebut berfungsi mengabarkan jalur kemacetan yang datanya diambil dari testimoni pengendara kendaraan lain. Namun, bagaimana dengan aplikasi untuk para pengendara sepeda? Adakah aplikasi khusus untuk mereka yang menggunakan moda transportasi sepeda?

Di Manhattan, New York, seorang perempuan lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) tengah mengembangkan sebuah aplikasi yang dapat memberikan info kenyamanan bersepeda. Yang unik dari aplikasi ini adalah teknik pengumpulan datanya. Pesepeda lah yang merangkum data kenyamanan bersepeda di Manhattan.

Perempuan tersebut bernama Arlene Ducao. Ia menciptakan MindRider Map yang dibuat dengan cara mengumpulkan data gelombang otak pesepeda melalui helm yang dipakai pesepeda. Caranya, helm tersebut dipasangi sensor gelombang otak EEG (electroencephalography).

Seorang pelajar menengah tengah memegang helm MindRider. Ia ditugasi untuk memetakan tiga lokasi di Manhattan. Foto: Ben Tudhope/www.wired.com

Dalam mengerjakan proyek ini, Ducao bekerja sama dengan delapan pesepeda. Mereka setiap hari bersepeda mengelilingi kota Manhattan selama dua bulan sambil mengenakan helm MindRider. Setiap detik, melalui Bluetooth, sensor EEG mengirimkan data tentang tingkat fokus pengendara selama di jalan. Mana saja jalur yang membuat stres dan mana jalur yang dirasakan nyaman untuk bersepeda.

Data tersebut kemudian diurutkan dalam angka 0 sampai 100 dan dihubungkan pada skala warna, dari hijau ke kuning dan ke merah. Saat dihubungkan dengan peta Manhattan, hasilnya adalah sebuah peta yang menampilkan mana lokasi bersepeda yang nyaman (ditandai dengan warna hijau) dan mana lokasi yang penuh stres (ditandai dengan warna merah).

Peta hasil pembacaan gelombang otak (MindRider Map) dari sensor EEG yang dipasang pada helm pesepeda. Foto: ©Mapbox ©OpenStreetMap/www.wired.com

Nampaknya peta ini bisa membantu untuk membuat kota menjadi ramah bagi pesepeda, dengan memberi tahu lokasi mana yang membutuhkan marka jalan atau penanda lainnya. Namun, alat ini belum dipasarkan secara umum. Masih banyak variabel yang harus diteliti lebih lanjut. Misalnya, mengenai asupan data, konsentrasi pesepeda yang berbeda-beda, sampai pada pertanyaan apakah sensor pada helm menempel di kulit dengan benar.

Walau demikian, alat ciptaan Ducao ini mempunyai masa depan yang cerah. Banyak potensi yang bisa digunakan dengan informasi peta ini ini. Turis bisa menemukan jalur yang lebih nyaman dan pemerintah kota bisa mengidentifikasi area yang harus diperbaiki untuk pesepeda.

(G15)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/helm-pembaca-gelombang-otak-untuk-memetakan-lokasi-bagi-pesepeda/feed/ 0
Tweed Ride, Bersepeda Dengan Pakaian Rapi ala Eksekutif Muda https://www.greeners.co/aksi/tweed-ride-bersepeda-dengan-pakaian-rapih-ala-eksekutif-muda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tweed-ride-bersepeda-dengan-pakaian-rapih-ala-eksekutif-muda https://www.greeners.co/aksi/tweed-ride-bersepeda-dengan-pakaian-rapih-ala-eksekutif-muda/#respond Mon, 22 Dec 2014 06:45:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=6836 Jakarta (Greeners) – Umumnya pesepeda bersepeda dengan mengenakan kaus dan celana pendek. Namun, “aturan” ini tidak berlaku dalam Tweed Ride. Di Tweed Ride, para anggota komunitas sepeda berkumpul dan bersepeda […]]]>

Jakarta (Greeners) – Umumnya pesepeda bersepeda dengan mengenakan kaus dan celana pendek. Namun, “aturan” ini tidak berlaku dalam Tweed Ride. Di Tweed Ride, para anggota komunitas sepeda berkumpul dan bersepeda bersama dengan mengenakan pakaian resmi, seperti batik, jas, kemeja, bahkan dasi yang biasa dipakai untuk bekerja.

Adit Satria atau yang lebih dikenal dengan nama Hippo Satria, moderator komunitas sepeda Kaskus, mengatakan, Tweed Ride dilakukan untuk menunjukan kepada masyarakat termasuk para eksekutif muda bahwa bersepeda juga bisa dilakukan sambil bergaya dengan mengenakan pakaian resmi ala masing-masing pesepeda.

“Jadi, enggak perlu gengsi untuk bersepeda,” terangnya kepada Greeners, Jakarta, Sabtu (20/12).

Hippo menjelaskan bahwa kegiatan Tweed Ride kali merupakan kegiatan kedua setelah sebelumnya telah dilakukan kegiatan yang sama pada Sabtu, tanggal 18 Oktober lalu. Sama seperti sebelumnya, kegiatan ini dilakukan tidak hanya di Jakarta. Bedanya, kali ini Tweed Ride tidak dilakukan secara serentak.

“Tanggal 14 kemarin itu di Semarang, hari ini Kepulauan Riau dan Jakarta, besok Kota Malang, dan Surabaya akhir tahun nanti,” jelasnya.

Menanggapi peraturan baru tentang larangan melintas bagi sepeda motor di jalur Sudirman-MH Thamrin-Medan Merdeka Barat yang telah diuji cobakan sejak tanggal 17 Desember kemarin, Hippo mengaku merasakan manfaat yang cukup berarti. Menurutnya, dengan ketiadaan sepeda motor seperti saat ini, pesepeda dan pejalan kaki menjadi lebih nyaman daripada sebelumnya.

“Bahkan kalo boleh berharap mobil juga dilarang melintas di sana, mungkin hanya pesepeda, pejalan kaki dan kendaraan umum saja, pasti enak banget,” tambahnya.

Kegiatan Tweed Ride kali ini kembali diikuti oleh berbagai komunitas sepeda, seperti komunitas sepeda ontel, fixie, celli, MTB, Bike To Work, serta komunitas sepeda kaskus. Mereka bersepeda dengan mengenakan setelah rapih dan resmi lalu berkayuh mengitari jalur Thamrin dan berhenti di Taman Kodok, Jakarta. Pada Tweed Ride kali ini juga akan diberikan sebuah penghargaan bagi pesepeda dengan setelan terbaik.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/tweed-ride-bersepeda-dengan-pakaian-rapih-ala-eksekutif-muda/feed/ 0
B2W Indonesia Ingatkan Pesepeda Bagian Dari Pengguna Jalan Raya https://www.greeners.co/berita/b2w-indonesia-ingatkan-pesepeda-bagian-dari-pengguna-jalan-raya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=b2w-indonesia-ingatkan-pesepeda-bagian-dari-pengguna-jalan-raya https://www.greeners.co/berita/b2w-indonesia-ingatkan-pesepeda-bagian-dari-pengguna-jalan-raya/#respond Sun, 31 Aug 2014 00:30:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5622 Jakarta (Greeners) – Sembilan tahun yang lalu, sebuah komunitas sepeda berbasis gerakan moral lahir di Jakarta. Balaikota DKI Jakarta menjadi saksi pendeklarasian komunitas bernama Bike To Work Indonesia ini. Sebelum […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sembilan tahun yang lalu, sebuah komunitas sepeda berbasis gerakan moral lahir di Jakarta. Balaikota DKI Jakarta menjadi saksi pendeklarasian komunitas bernama Bike To Work Indonesia ini.

Sebelum pendeklarasian tersebut, Bike To Work (B2W) Indonesia telah mengampanyekan kepada masyarakat untuk kembali pada moda transportasi sepeda setahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 2004 lalu.

Ketua Umum B2W Indonesia, Toto Sugito mengatakan, bahwa para pesepeda juga merupakan bagian dari pengguna jalan raya. Oleh karena itu, B2W Indonesia masih akan terus berkampanye untuk mendapatkan hak-hak pesepeda sebagai pengguna jalan raya.

“Kami masih terus mengawal penerapan UU nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan transportasi publik agar hak-hak kita sebagai pesepeda bisa dirasakan,” ujar Toto saat berbincang dengan Greeners pada acara ulang tahun Bike To Work di Taman Menteng, Jakarta, Jumat (29/08).

Toto menjelaskan, bahwa Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo juga serius mendukung apa yang telah dikampanyekan oleh B2W Indonesia. Dia juga menyatakan bahwa saat pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) selesai, maka peremajaan jalan untuk mengadakan jalur khusus sepeda langsung akan dikerjakan.

“Pak Joko Widodo mendukung sekali kegiatan kami. Sebelum dia mencalonkan diri sebagai calon Presiden, dia masih sering bersepeda bersama kami setiap satu minggu sekali,” katanya.

Toto juga sangat menyayangkan jalur sepeda yang ada di Kanal Banjir Timur. Pasalnya, di daerah tersebut, jalur sepeda diokupasi oleh sepeda motor dan bis kota.

Dalam perayaan ulang tahun yang kesembilan, Bike To Work Indonesia bersama dengan beberapa komunitas sepeda yang ada di Jakarta menggelar acara syukuran dan potong tumpeng bersama untuk mengikat tali silaturahmi antar komunitas sepeda di Jakarta.

“Ada komunitas sepeda fixie, ada sepeda lipat, dan banyak lagi,” pungkasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/b2w-indonesia-ingatkan-pesepeda-bagian-dari-pengguna-jalan-raya/feed/ 0
Bersepeda Ratusan Kilometer Demi Mudik Tanpa Polusi https://www.greeners.co/berita/bersepeda-ratusan-kilometer-demi-mudik-tanpa-polusi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersepeda-ratusan-kilometer-demi-mudik-tanpa-polusi https://www.greeners.co/berita/bersepeda-ratusan-kilometer-demi-mudik-tanpa-polusi/#respond Thu, 31 Jul 2014 08:11:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5339 Bandung (Greeners) – Bagi sebagian orang, Lebaran sering dijadikan momentum untuk pulang kampung atau yang biasa disebut dengan mudik. Setiap musim mudik datang, jalan-jalan di jalur selatan dan utara Jawa […]]]>

Bandung (Greeners) – Bagi sebagian orang, Lebaran sering dijadikan momentum untuk pulang kampung atau yang biasa disebut dengan mudik. Setiap musim mudik datang, jalan-jalan di jalur selatan dan utara Jawa tidak pernah luput dari pemberitaan karena membludaknya jumlah kendaraan bermotor yang digunakan pemudik.

Namun, cara mudik ini akan berbeda bila pemudiknya adalah penggemar sepeda. Alih-alih memilih menggunakan moda trasportasi publik atau kendaraan bermotor, beberapa di antara mereka tetap memilih sepeda sebagai kendaraan untuk pulang kampung. Jarak ratusan kilometer rela ditempuh dengan mengayuh sepeda, demi dapat berlebaran bersama sanak saudara di kampung halaman.

Agus Septian salah satunya. Mahasiswa salah satu universitas swasta di Bandung ini rela menempuh jarak lebih dari 400 kilometer dengan sepeda besi buatan dalam negeri bermerek Federal, demi berlebaran di kampung halaman orang tuanya di Magelang, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Tiap hari kan pulang pergi kuliah pakai sepeda. Setahun sekali nyobainlah bersepeda jauh, mumpung momentumnya pas,” ungkap Agus saat ditemui di Bikepacker Shop, Bandung, Kamis (28/07) lalu.

Untuk mudik dengan sepeda, Agus yang merupakan salah seorang pengurus bike to campus Bandung ini mengaku tidak melakukan persiapan khusus. Dia menuturkan bahwa dirinya hanya cukup menjaga kondisi badan agar tetap fit.

“Enggak ada persiapan yang spesial, cuma latihan biasa saja pake onthel, nabung sejak dulu, sama tanya-tanya rute ke peturing yang sudah sering lewat jalur yang sama,” tuturnya.

Perjalanan mudik bersepeda ini merupakan perjalanan mudik pertama Agus dengan sepeda. Selain untuk menguji kemampuannya bersepeda jarak jauh, pria yang aktif di beberapa gerakan pelestarian lingkungan ini menjadikan faktor lingkungan sebagai alasannya.

“Saya kan aktif di beberapa gerakan lingkungan, jadi yah naik sepeda sebagai tanda cinta saya pada lingkungan dengan tidak bikin polusi,” ujarnya.

Agus sangat berharap jika di tahun-tahun berikutnya, semakin banyak orang yang memilih mudik dengan bersepeda agar tidak ada lagi kemacetan dan peningkatan polusi udara.

(Rifki A. Fahmi)

]]>
https://www.greeners.co/berita/bersepeda-ratusan-kilometer-demi-mudik-tanpa-polusi/feed/ 0
Bike To Work Indonesia; Kesetaraan Jender dalam Srikandi Inspirasi Bagi Negeri https://www.greeners.co/berita/bike-to-work-indonesia-kesetaraan-jender-dalam-srikandi-inspirasi-bagi-negeri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bike-to-work-indonesia-kesetaraan-jender-dalam-srikandi-inspirasi-bagi-negeri https://www.greeners.co/berita/bike-to-work-indonesia-kesetaraan-jender-dalam-srikandi-inspirasi-bagi-negeri/#respond Tue, 15 Apr 2014 13:00:07 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_news&p=4350 Jakarta (Greeners) – Komunitas Bike to Work Indonesia (B2W Indonesia) kembali mengadakan touring bersepeda khusus perempuan bertajuk Srikandi Inspirasi Bagi Negeri. Kegiatan akan berlangsung pada tanggal 21-30 April mendatang dengan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Komunitas Bike to Work Indonesia (B2W Indonesia) kembali mengadakan touring bersepeda khusus perempuan bertajuk Srikandi Inspirasi Bagi Negeri. Kegiatan akan berlangsung pada tanggal 21-30 April mendatang dengan total jarak tempuh sekitar 843 kilometer, mulai dari kota Mamuju, Sulawesi Barat hingga ke kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Bersepeda jarak jauh umumnya dilakukan pria karena olah raga ini menuntut ketahanan fisik dan kesiapan mental yang baik. Namun, anggapan ini coba ditepis oleh para perempuan anggota komunitas B2W Indonesia. “Ini ide dari teman-teman perempuan Bike to Work sendiri. Mereka ingin membuat sesuatu yang berbeda tapi konkrit. Kalau laki-laki saja bisa, mestinya perempuan juga bisa,” ujar Toto Sugito, Ketua Umum B2W Indonesia.

Toto yang ditemui pada konferensi pers yang diadakan di Kantor Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PP-PA), Menara Merdeka, Jakarta Pusat, pada Senin (14/04), menyatakan bahwa kegiatan ini juga untuk mendukung kegiatan dari Kemen PP-PA, yaitu adanya kesetaraan jender antara wanita dan pria.

“Menurut kami sangat ‘seksi’ jika perempuan yang melakukannya, karena kalau laki-laki akan sangat biasa. Ini sesuatu yang bisa diikuti, bahwa perempuan mampu menempuh jarak yang sangat jauh, bukan balapan, dan bukan atlet,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa dengan kegiatan ini, laki-laki dan perempuan akan bersinergi untuk melakukan kampanye lingkungan.

Kegiatan Srikandi Inspirasi Bagi Negeri telah memasuki tahun ke empat sejak dimulai pada tahun 2011. Dalam setiap penyelenggaraannya, tidak hanya kampanye sepeda sebagai transportasi alternatif yang menyehatkan yang disampaikan, mereka juga membawa program tanam dan pelihara pohon.

“Kalau dari dulu hanya terdengar menanam saja, sekarang harus dipelihara, dan gerakan ini dilakukan oleh perempuan,” ujarnya. Menanam bibit pohon bakau di daerah Mamuju, Sulawesi Barat akan menjadi kampanye pembuka yang akan dilakukan oleh 21 Srikandi terpilih yang mengikuti kegiatan ini.

Ia juga menegaskan, “Ini adalah gerakan sosial, kampanye lingkungan. Kami serius melakukannya.”

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/bike-to-work-indonesia-kesetaraan-jender-dalam-srikandi-inspirasi-bagi-negeri/feed/ 0