Kota Besar di Dunia Andalkan Sepeda untuk Tangkal Pencemaran Udara

Reading time: 3 menit
Pesepeda
Foto: shutterstock

Jakarta (Greeners) – Berbagai negara menyusun kembali kehidupan akibat pandemi corona. Salah satunya dengan menciptakan lebih banyak ruang untuk bersepeda dan berjalan kaki. Dengan meningkatnya aktivitas bersepeda selama karantina wilayah (lockdown), perluasan infrastruktur bersepeda dinilai akan membantu memenuhi tuntutan era pasca-Covid 19 dan mendukung pemulihan ekonomi yang sehat dan hijau.

Data yang dikumpulkan oleh European Cyclist’s Association mencatat, sebanyak 3.607 kilometer jalur sepeda telah dibuka secara global. Panjang jalur tersebut setara dengan jarak dari London ke Ankara, Turki. Paris menjadi kota dengan rencana paling ambisius karena membuka 650 kilometer jalur sepeda. Sedangkan di Jakarta, pemerintah pusat menargetkan jalur sepeda sepanjang 545,8 kilometer yang akan dilakukan secara bertahap. Target pada tahun ini panjang jalur sepeda yang akan dibuat sepanjang 200 kilometer.

Baca juga: Pemegang IPPKH Diwajibkan Merehabilitasi Daerah Aliran Sungai

Saat ini di Ibu Kota jalur sepeda yang baru tersedia, yakni sepanjang 63 kilometer. Sementara peningkatan volume pesepeda meningkat setiap Minggu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut bahwa volume tertinggi tercatat pada Minggu ketujuh atau dari 20 Juli sampai dengan 26 Juli 2020 dengan jumlah sebanyak 82.380 pesepeda.

Menurut Manajer Komunikasi dan Kerja Sama Institute Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Fani Rachmita, pemerintah kota di Indonesia telah menyadari kebutuhan untuk mengakomodir sepeda terutama selama masa pandemi. Meski belum ideal, kota seperti Bandung, Surabaya, dan Salatiga sudah memulai membuat jalur khusus sepeda bahkan sebelum pandemi.

Ia mengatakan penyebab tertundanya jalur khusus sepeda di berbagai daerah disebabkan karena pemerintah daerah kebingungan untuk mulai membangun infrastruktur sepeda yang ideal. Menurutnya, sebagian besar pembangunan kota-kota di Indonesia pada awalnya lebih mengutamakan kendaraan pribadi atau car-oriented sehingga fasilitas dan infrastruktur sepeda belum menjadi prioritas.

“Jalur sepeda yang ada saat ini pun belum sesuai dengan lima prinsip dasar pengembangan fasilitas pesepeda, yaitu keamanan, kelangsungan rute, keterpaduan, kenyamanan, dan menarik,” ujar Fani kepada Greeners, Rabu (09/09/2020).

Pesepeda

Foto: shutterstock

Hal yang sama juga disampaikan oleh Pengamat Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno. Ia mengatakan secara umum untuk moda transportasi yang memiliki desain, hanya DKI Jakarta yang memiliki peraturan terkait. “Untuk daerah lainnya sangat ngeri dan kurang perhatian apalagi untuk sepeda. Beberapa daerah yang sudah memiliki jalur sepeda, seperti Surabaya, Balikpapan, Batam, Bandung, dan Palembang. Namun, kurang greget pemdanya sehingga implementasi pembuatan jalur sepedanya mandek,” ucapnya.

Pada akhir Agustus 2020, pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan, kata Djoko, akan mengeluarkan pedoman teknis keselamatan pesepeda di jalan. Bahkan pemerintah pusat mulai tahun depan mulai menganggarkan bagi daerah-daerah yang ingin membangun jalur sepeda.

Baca juga: Paus Menyerap Lebih Banyak Karbon Dibanding Pohon

Sementara Ketua Umum Bike to Work Indonesia, Poetoet Soedarjanto mengatakan masih kurangnya jalur sepeda di Indonesia diakibatkan oleh pola pikir sebagian besar pejabat dan masyarakat yang tidak menganggap sepeda sebagai alat transportasi. “Selama ini komitmen kami terus mendorong pembangunan jalur dan atau fasilitas bagi pesepeda dengan advokasi dan kampanye,” ujarnya.

Untuk pembuatan jalur sepeda, Eropa memimpin dunia karena sebanyak 36 kota besarnya menjanjikan pembuatan jalur sepeda sepanjang 2.329 kilometer. Selanjutnya disusul Amerika dengan jalur sepeda sepanjang 1.052 kilometer dan Asia-Pasifik 226 kilometer. Untuk kota-kota besar, yakni Lima 301 kilometer, New York 161 km, Roma 150 km, dan Mexico City 129 km.

Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru

Polusi udara ekstrem mendorong upaya global untuk mencanangkan Hari Udara Bersih Internasional pada 7 September 2020. Resolusi Majelis Umum PBB pada 2019 mengadopsi hari penting tersebut yang difasilitasi oleh Program Lingkungan PBB, yaitu UNEP. Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru ini bertujuan untuk menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran publik di semua level. Berikutnya untuk mempromosikan juga memfasilitasi tindakan untuk meningkatkan kualitas udara.

PBB menyebut pencemaran udara tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga berdampak negatif pada tumbuhan dan ekosistem. Polusi udara ozon, misalnya, dapat menyebabkan 52 juta ton panen global hilang setiap tahun. Dua per tiga orang yang disurvei di Eropa menyatakan tidak ingin kembali ke situasi polusi udara sebelum pandemi. Sementara 68 persen di antaranya menginginkan kebijakan untuk mengurangi polusi udara termasuk melarang mobil di pusat kota.

Baca juga: Akademisi: RUU Cipta Kerja Mengerdilkan Makna Pembangunan

Orang-orang juga memilih untuk bersepeda dan berjalan kaki secara massal. Pandemi Covid-19 mengakibatkan ledakan kegiatan bersepeda di berbagai negara. Kota-kota di dunia juga memberi ruang bagi pengendara sepeda dan pejalan kaki. Saat ini, ratusan kota di dunia menciptakan lebih banyak ruang untuk bersepeda dan berjalan kaki agar lingkungan terbebas dari pencemaran hingga membantu menjaga jarak sosial.

Proses karantina wilayah (lockdown) yang dilakukan berbagai negara merupakan salah satu cara menekan penyebaran Covid-19 dan secara signifikan berhasil mengurangi pencemaran udara. Perubahan aktivitas juga terjadi di berbagai aspek. Contohnya bukan hanya beralih bekerja dari gedung perkantoran ke rumah, tetapi juga pergeseran transportasi publik yang sebelumnya mengandalkan kendaraan bermotor, kini menjadi bersepeda.

Penulis: Dewi Purningsih

Top