ramadani wahyu - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/ramadani-wahyu/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 28 Feb 2023 02:34:02 +0000 id hourly 1 Paus Sei Mampu Berenang Cepat 34 Mil Per Jam https://www.greeners.co/flora-fauna/paus-sei-mampu-berenang-cepat-34-mil-per-jam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=paus-sei-mampu-berenang-cepat-34-mil-per-jam https://www.greeners.co/flora-fauna/paus-sei-mampu-berenang-cepat-34-mil-per-jam/#respond Tue, 28 Feb 2023 03:00:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39149 Paus sei atau paus berjala (Balaenoptera borealis) merupakan mamalia laut yang hidup di perairan subtropic, sedang dan subkutub di dunia. Famili Balaeniotiidae ini terkenal sebagai paus tercepat yang mampu berenang […]]]>

Paus sei atau paus berjala (Balaenoptera borealis) merupakan mamalia laut yang hidup di perairan subtropic, sedang dan subkutub di dunia. Famili Balaeniotiidae ini terkenal sebagai paus tercepat yang mampu berenang hingga 34 mil per jam.

Di permukaan air, paus sei dapat dikenali dari tiupan semburnya yang deras setinggi 10 hingga 13 kaki.

Populasi spesies ini sangat menurun akibat perburuan paus komersial bersejarah selama abad ke-19 dan ke-20. Diperkirakan 300.000 paus sei dibunuh untuk diambil daging dan minyaknya.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum 

Pemilik tubuh panjang ramping ini, berwarna abu-abu kebiruan hingga hitam sedangkan bagian bawahnya berwarna putih atau krem. Panjang paus ini rata-rata rata-rata 13 meter dan panjang maksimumnya 18 meter.

Tubuhnya sering ditutupi bekas luka berbentuk oval (kemungkinan akibat hiu lain dan gigitan lamprey) dan kadang memiliki bintik-bintik halus yang berubah warna.

Spesies ini memiliki sirip punggung yang tinggi dan bengkok yang terletak sekitar dua pertiga di punggungnya. Paus sei memiliki 219 hingga 410 pelat balin (berfungsi untuk menyaring air dan makanan yang masuk ke mulut), berwarna gelap dengan pinggiran dalam berwarna abu-abu atau putih.

Mereka juga memiliki 30 sampai 65 lipatan seperti akordeon yang relatif pendek. Bagian ini memanjang dari bawah mulut ke atas. Jumlah alur tenggorokan dan pelat balin tiap paus mungkin berbeda bergantung pada populasi geografis.

Sirip punggung paus ini biasanya muncul bersamaan dengan lubang sembur saat satwa ini muncul ke permukaan untuk bernapas.

Habitat dan Distribusi Penyebaran Paus Sei

Paus ini lebih menyukai perairan beriklim sedang di pertengahan garis lintang, dan ada di Samudera Atlantik, Hindia, dan Pasifik.

Selama musim panas, mereka biasanya ada di Teluk Maine, dan Georges Bank serta Stellwagen Bank di lepas pantai AS di Atlantik Utara bagian barat.

Pola pergerakan paus ini tidak diketahui dengan baik, tetapi biasanya bisa kita amati di perairan yang lebih dalam jauh dari garis pantai.

Mereka memiliki distribusi yang tidak dapat diprediksi. Banyak paus dapat tumbuh di satu area untuk suatu periode dan kemudian tidak kembali selama bertahun-tahun atau dekade. Perilaku ini tidak biasa pada paus besar, yang umumnya memiliki distribusi yang dapat kita prediksi.

Perilaku Paus Sei

Paus sei biasanya bisa hidup sendirian atau dalam kelompok kecil yang terdiri dari dua hingga lima paus.

Penyelaman paus sei berbeda dari kebanyakan paus. Mereka tidak melengkungkan punggung sebelum menyelam. Tapi mereka hanya tenggelam di bawah permukaan.

Rata-rata mereka makan sekitar 2.000 pon makanan per hari. Mereka dapat menyelam selama 5 hingga 20 menit untuk memakan plankton (termasuk copepoda dan krill), ikan kawanan kecil, dan cephalopoda (termasuk cumi-cumi). Mereka lebih suka makan saat fajar.

Umur dan Reproduksi

Paus ini menjadi dewasa secara seksual pada usia 6 hingga 12 tahun ketika panjangnya mencapai sekitar 45 kaki. Mereka umumnya kawin dan melahirkan selama musim dingin di garis lintang yang lebih rendah.

Betina berkembang biak setiap 2 hingga 3 tahun, dengan masa kehamilan 11 hingga 13 bulan. Anak paus ini memiliki panjang sekitar 15 kaki dan berat sekitar 1.500 pon saat lahir.

Induk mengasuh anaknya selama 6 hingga 9 bulan sebelum menyapihnya di tempat makan yang anak paus sukai.

Taksonomi Paus Sei (Balaenoptera borealis)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/paus-sei-mampu-berenang-cepat-34-mil-per-jam/feed/ 0
BRIN Tawarkan Teknologi Pengelolaan Sampah https://www.greeners.co/berita/brin-tawarkan-teknologi-pengelolaan-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-tawarkan-teknologi-pengelolaan-sampah https://www.greeners.co/berita/brin-tawarkan-teknologi-pengelolaan-sampah/#respond Wed, 22 Feb 2023 05:40:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39081 Jakarta (Greeners) – Dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2023, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan teknologi hasil riset untuk mengurangi dan memanfaatkan sampah bagi kesejahteraan masyarakat. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2023, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan teknologi hasil riset untuk mengurangi dan memanfaatkan sampah bagi kesejahteraan masyarakat.

Hal ini sesuai dengan tema HPSN tahun ini yakni “Tuntas Kelola Sampah untuk Kesejahteraan Masyarakat”.

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, Haznan Abimanyu menyatakan, beberapa produk riset BRIN terkait pengelolaan sampah untuk pengurangan dan pemanfaatan sampah baik sampah medis maupun sampah non medis.

“Untuk sampah medis, BRIN telah melakukan riset Alat Penghancur Jarum Suntik (APJS) generasi II yang kompak, murah, dan mudah kita pakai dan rawat, serta membutuhkan konsumsi listrik sangat rendah,” terangnya.

Riset pengelolaan sampah lain yaitu BRIN mengembangkan incenerator sampah infeksius Covid-19 skala kecil untuk pabrik dan perkantoran, teknologi bersih pengolahan sampah dengan incinerator-plasma. Kemudian juga instalasi pengolahan air limbah dengan plasma nanobubble, metode daur ulang plastik medis dengan rekristalisasi, dan daur ulang limbah masker.

Terkait sampah non medis, BRIN sedang mengembangkan alat pengolahan sampah plastik menjadi BBM pada skala komersial/industri (1-10 ton sampah plastik/hari). Adapun alat ini berbahan bakar sampah mudah terbakar non-plastik.

“Jadi alat ini dapat mengurangi 2 jenis sampah sekaligus. Dengan menerapkan teknologi ini, 20 % berat sampah atau 48 % volume sampah dapat terkurangi, dan akan menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) bagi daerah yang menerapkannya,” ungkap Haznan.

Kembangkan Teknologi Organic Rackine Cycle

Saat ini, BRIN tengah bekerja sama dengan mitra untuk mengembangkan teknologi Organic Rackine Cycle. Teknologi ini memanfaatkan panas buang incinerator berbasis Hydrodrive untuk tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) berskala 30 ton/hari untuk menghasilkan listrik.

Foto: BRIN

Partisipasi Aktif Pemilahan Sampah

Tak hanya pemanfaatan teknologi, BRIN juga memperkuat strategi managemen sampah yang optimal di masyarakat. Ia mengungkap bahwa kuncinya adalah pemilahan sampah dari sumbernya.

“Dari eksperimen kami dengan mengimbau 70% masyarakat berpartisipasi secara aktif dalam memilah sampah. Hasil eksperimen kami lainnya adalah bahwa seorang pekerja per hari dapat memungut dan memilah sampah untuk 250 kepala keluarga,” kata dia.

BRIN juga sudah mendaftarkan paten, alat pengolah sampah organik (Lahsamor). Alat ini dapat mengolah sampah organik di level rumah tangga, tidak bau, dan tidak memerlukan tambahan aditif saat mengolahnya. Cukup dengan 5 kg kompos lama sebagai starter, dan cukup tiap hari diputar manual sebanyak 5 kali.

“Jika dibuat secara massal, alat ini bisa kita produksi dengan biaya Rp 500.000, per buah. Apabila kita bagikan ke setiap rumah di Indonesia, maka sampah yang diurus oleh pemda tinggal sampah yang kering. Sampah yang bernilai kalor tinggi mudah kita olah,” rincinya.

Evaluasi PLTSa di TPA Bantargebang

Sementara itu, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih di Bantargebang sejak tahun 2018 dan selesai tahun 2019. PLTSa ini merupakan PLTSa pertama di Indonesia yang beroperasi secara kontinyu.

“Performance hingga saat ini masih bagus ditandai dengan parameter-parameter desain masih terpenuhi,” imbuhnya.

PLTSa ini mampu membuktikan bahwa emisi dari proses pembakaran sampahnya masih di bawah baku mutu dari ketentuan KLHK.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/brin-tawarkan-teknologi-pengelolaan-sampah/feed/ 0