200 Produsen Janji Bakal Penuhi Peta Jalan Pengurangan Sampah

Reading time: 2 menit
Foto bersama usai diskusi pengelolaan sampah Unilever. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Jakarta (Greeners) – Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menargetkan sekitar 200 perusahaan penuhi dokumen perencanaan peta jalan pengurangan sampah di tahun 2023. Saat ini, masih ada sekitar 40-an perusahaan yang telah memenuhi komitmen pengurangan sampah ini. 

Sebelumnya melalui Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen telah menargetkan pengurangan sampah sebesar 30 % pada tahun 2030. 

Kasubdit Tata Laksana Produsen Ditjen PSLB3 KLHK Ujang Solihin Sidik mengaku optimistis bisa mencapai target tersebut. “Karena ini mandatori, wajib maka akan kami dorong terus untuk memenuhi kewajibannya menyelesaikan dokumen perencanaan peta jalan ini. Tahun ini kita target kurang lebih 200-an,” katanya di sela-sela acara diskusi Hari Peduli Sampah Nasional 2023 yang diselenggarakan Unilever di Jakarta, Sabtu (18/2).

Lelaki yang akrab disapa Uso ini memastikan akan terus bekerja keras agar perusahaan-perusahaan terlibat aktif dalam mengurangi sampahnya.

“Kami terus approach, baik itu melalui asosiasi, Kadin dan pemerintah daerah seperti DLH DKI Jakarta untuk mendorong mereka. Kurang lebih kita sedang jajaki 100 produsen sektor ritel dan makanan minuman di Jakarta,” ungkap Uso.

Tantangan Perusahaan Besar Nasional

Ketentuan dalam Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019 berlaku untuk semua produsen baik dari sektor manufaktur, retail, makanan dan minuman. Namun, Uso menyebut perusahaan-perusahaan multinasional saat ini banyak yang telah patuh dan menyerahkan dokumen peta jalan pengurangan sampah ini.

“Justru yang lebih sulit perusahaan-perusahaan besar nasional. Kalau perusahaan multinasional sudah ada target global dan strategi targetnya in line dengan kita,” imbuhnya.

Uso juga memastikan transparansi dokumen perencanaan peta jalan pengurangan sampah sehingga masyarakat luas akan mengetahuinya. Namun tak semua detail informasi. “Karena ada yang sifatnya bagi produsen itu data sensitif. Saat ini sedang kita bicarakan mana saja yang bisa terpublikasi dan yang hanya untuk kepentingan pemerintah,” jelasnya.

Diskusi pengelolaan sampah Unilever. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Peta Jalan Pengurangan Sampah Unilever

Kepala Lingkungan Berkelanjutan Unilever Indonesia Foundation Maya Tamimi menyatakan, sebagai produsen barang konsumsi, Unilever turut berkontribusi terhadap pengurangan sampah. Hal ini sebagai langkah mendukung pelestarian lingkungan

“Isu keberlanjutan ini begitu penting. Plastik masih menjadi kemasan untuk menjaga produk kami. Tapi kami juga tak ingin akhirnya sampah tak terkelola dengan baik,” ucapnya.

Maya memastikan, Unilever Indonesia akan terus memperpanjang usia plastik melalui ekonomi sirkular. “Misalnya kemasan yang kita hasilkan lalu kita daur ulang menjadi produk yang sama. Begitu pula dengan produk botol menjadi botol yang sama,” kata dia.

Sementara aktris sekaligus pecinta lingkungan Adina Wirasti menyatakan pentingnya memilah sampah sebagai kebiasaan kecil untuk mengurangi sampah. “Ini sekaligus untuk melindungi bumi kita. Langkah kecil dan bisa kita lakukan terus menerus,” kata dia.

Meski di dalam keluarganya belum memilah sampah, tapi ia akan terus menularkan kebiasaan baik mulai dari lingkup terkecil yakni keluarga. “Kurang lebih aku sudah jalan 5 tahun dan aku coba tularkan ke keluarga,” ungkapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top