rapid test - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/rapid-test/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 18:56:04 +0000 id hourly 1 Rapid Test Dinilai Tak Bisa Dijadikan Diagnosis Corona https://www.greeners.co/berita/rapid-test-dinilai-tak-bisa-dijadikan-diagnosis-corona/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rapid-test-dinilai-tak-bisa-dijadikan-diagnosis-corona https://www.greeners.co/berita/rapid-test-dinilai-tak-bisa-dijadikan-diagnosis-corona/#respond Fri, 07 Aug 2020 06:00:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=28107 World Health Organization bahwa tes berbasis serologi seperti rapid, ELISA, CLIA, tidak boleh digunakan untuk penegakkan diagnosis akut Covid-19.]]>

Jakarta (Greeners) – Pemakaian alat tes cepat dinilai menjadi diagnosis semu dalam mengetahui keberadaan virus korona di dalam tubuh. Kurangnya kapasitas pemeriksaan laboratorium molekuler Covid-19 membuka celah berbagai produsen mengembangkan dan menjual alat pembaca antibodi tersebut.

Rapid test yang beredar di Indonesia pada Maret lalu diduga menyesatkan hasil pendeteksian. Pasien yang terindikasi positif infeksi (negatif palsu) atau sebaliknya (positif palsu) kerap terlewat sehingga berpotensi menghalangi upaya pengendalian Covid-19.

Baca juga: Dua Orangutan Terindikasi Malnutrisi Diselamatkan di Jawa Tengah

Ahmad Utomo, Pakar Biologi Molekuler dan Senior Molecular Testing Laboratory Consultant at Clinical Lab Advisor di Jakarta menjelaskan bahwa infeksi coronavirus akan mengenali sel manusia yang memiliki reseptor Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2). Enzim tersebut menempel pada membran luar sel di organ seperti paru-paru, arteri, jantung, ginjal, dan usus.

Setelah menginfeksi, lanjutnya, virus akan berkembang biak dan keluar dari sel lalu berusaha menularkan dirinya ke sel lain. Apabila masuk ke rongga napas dia akan terbawa keluar untuk mencari manusia lain. Setelah keluar dari sel sebagian virus akan dikenali oleh sel imun dan memicu produksi antibodi. “Waktu yang diperlukan untuk munculnya antibodi berkisar antara 1-2 Minggu paska gejala,” ujarnya.

Berbagai Jenis Tes Covid-19

Berbagai Jenis Tes Covid-19. Foto: SISJ

Ia mengutip World Health Organization bahwa tes berbasis serologi seperti rapid, ELISA, CLIA, tidak boleh digunakan untuk penegakkan diagnosis akut Covid-19. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan keilmuan yang disebarkan oleh WHO pada 8 April 2020.

WHO menghargai upaya dan inovasi para pengembang alat tes dalam menanggapi kebutuhan masyarakat. Namun, sebelum dapat direkomendasikan, jenis-jenis alat tes ini harus divalidasi pada populasi dan tempat yang sesuai. Saat ini, dari bukti yang ada, WHO merekomendasikan penggunaan tes imunodiagnostik hanya untuk kepentingan penelitian. Tes ini tidak disarankan untuk digunakan di tempat kepentingan lain, termasuk untuk pengambilan keputusan klinis, sebelum terdapat bukti yang mendukung penggunaannya untuk indikasi-indikasi tertentu.”

Baca juga: Revitalisasi TPA Sarbagita Suwung Bali Tak Kunjung Selesai

Ahmad mengatakan bahwa saat ini terdapat tiga macam tes yang beredar. Tes pertama adalah tes berbasis serologi dan dapat dilakukan di tempat umum. Sedangkan yang kedua dilakukan di laboratorium dan tes ketiga berupa Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang menjadi standar baku pemeriksaan Covid-19.

Menurutnya tes PCR sangat sensitif karena bisa mendeteksi adanya virus korona lima hari sebelum gejala seperti pada kasus Orang Tanpa Gejala (OTG). Namun, penggunaan tes PCR maupun serologi harus mempertimbangkan kebutuhan.

“Apabila ingin memutus rantai transmisi atau mengenali orang yang psoitif Covid-19 tentu harus menggunakan tes RT-PCR. Tapi kalau kita ingin menguji keberhasilan vaksinasi atau melihat beban wilayah yang terpapar atau apakah herd immunity tercapai tentu tes serologi lebih bagus,” katanya.

Keakuratan Rapid Test Bervariasi

Ahmad mengatakan keakuratan tes cepat sangat bervariasi. Banyak merek dagang yang mengklaim hasilnya 90 hingga 100 persen akurat, tanpa menampilkan kapan tes dilakukan. Misalnya apakah pada fase awal (1-7 hari), tengah (8-14 hari), atau akhir (>14 hari) paska gejala. Namun, menurutnya mayoritas tes serologi bagus digunakan di fase akhir.

“Kalau digunakan untuk screening maupun penegakkan diagnosis akan banyak yang lolos. Covid-19 ini akan sulit dikendalikan kalau kita tidak bisa mengenali OTG yang akan terus menulari orang lain tanpa mereka sadari,” ujarnya.

Menurutnya kasus infeksi akan terus bertambah dan jika tidak terkendali angka kematian dapat terus melonjak. Ia menilai peningkatan kasus infeksi tidak bermasalah selama kasusnya adalah OTG dan bisa segera diisolasi serta tidak dibiarkan berada di tengah masyarakat. Agar pelacakan berjalan efektif, kata dia, upaya isolasi juga harus maksimal bersamaan dengan tes masif.

“Kita sudah duga angka infeksi ini sebenarnya lebih tinggi dari yang tercatat sekarang. Kalau kita sudah tahu adanya kendala lab, seharusnya bukan menggunakan tes yang inferior, tetapi melakukan pembatasan sosial dan edukasi intens dengan komunikasi sains yang tepat,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/rapid-test-dinilai-tak-bisa-dijadikan-diagnosis-corona/feed/ 0
Rapid Test Tidak Dilakukan untuk Semua Masyarakat https://www.greeners.co/berita/rapid-test-tidak-dilakukan-untuk-semua-masyarakat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rapid-test-tidak-dilakukan-untuk-semua-masyarakat https://www.greeners.co/berita/rapid-test-tidak-dilakukan-untuk-semua-masyarakat/#respond Sat, 21 Mar 2020 03:58:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=26531 Pemerintah hanya memprioritaskan wilayah rapid test pada lokasi yang paling rawan terinfeksi. Artinya tidak semua masyarakat akan mendapatkan tes cepat ini.]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah akan mempersiapkan satu juta kit alat pemeriksaan Covid-19. Penapisan secara massal akan dilakukan untuk mengidentifikasi kasus corona yang ada di masyarakat. Namun, pemerintah hanya memprioritaskan wilayah pemeriksaan yang menunjukkan indikasi paling rawan terinfeksi berdasarkan hasil pemetaan. Artinya tidak semua masyarakat akan mendapatkan tes cepat ini.

Wilayah prioritas ini berada di Jakarta Selatan yang merupakan tempat ditemukannya kasus pertama dan kedua. Rapid test sudah dilakukan sore hari kemarin (20/3) dengan mendatangi rumah per rumah.

“Targetnya adalah masyarakat luas, terutama yang secara fisik mengalami kontak dengan pasien positif. Ini menjadi prioritas utama. Kalau seluruh masyarakat harus mengikuti atau mendapatkan rapid test akan sulit karena sangat banyak penduduk kita. Jumlahnya 270 juta jiwa,” ujar Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo, melalui telekonferensi, pada Jumat, (20/03/2020).

Baca juga: Presiden Jokowi Perintahkan Rapid Test Melibatkan Berbagai Instansi

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyampaikan bahwa pemeriksaan secara massal ini ditujukan sebagai penapisan terhadap orang yang berpeluang mengalami kontak dengan kasus positif. Dari data perhitungan kelompok orang yang berisiko positif Covid-19 diketahui jumlahnya berkisar 600 hingga 700 ribu.

“Tentunya ini dilakukan melalui analisa risiko. Tidak semua orang kita periksa. Kalau diyakini risikonya rendah tidak kita lakukan. Apabila seseorang dirawat dan dikonfirmasi positif akan ditarik trace (penelusuran) 14 hari ke belakang. Di mana dia berada, apabila berada di rumah mestinya seluruh rumah akan diperiksa, apabila di kantor berarti seluruh orang di kantor itu akan dilakukan pemeriksaan,” ujarnya.

Achmad Yurianto

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto. Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menurut Yurianto, metode yang digunakan untuk pemeriksaaan secara massal ini berbeda dengan yang selama ini digunakan. Sebelumnya untuk menegakkan diagnosa dilakukan melalui pemeriksaan molekuler seperti usapan dinding hidung belakang dan dinding mulut belakang. Namun, untuk pemeriksaan massal, kata dia, dicek melalui pengambilan darah. Lalu dilakukan pemeriksaan dengan alat kit. Dalam waktu kurang dari dua menit akan diketahui hasilnya.

“Apabila dinyatakan positif akan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan PCR untuk memastikan hasil sesungguhnya. Hal ini dilakukan untuk membedakan hasil positif yang bisa saja terjadi dari orang yang sudah sembuh dari Covid-19. Karena pada dasarnya zat imunoglobulin yang ada di dalam tubuh secara alami akan merespons adanya virus,” ucap Yurianto.

Baca juga: 3 Kriteria dalam Menetapkan Lock Down

Jika pasien telah melalui dua tes tersebut dan dinyatakan positif serta terdapat gejala Covid-19, menurutnya, ruang rawat bisa disiapkan. Yurianto mengatakan, pemerintah telah menambah jumlah tempat tidur untuk perawatan. Lokasinya berada di wisma atlet untuk yang berada di Jakarta dan beberapa hotel. Tempat perawatan juga melibatkan partisipasi rumah sakit swasta dan BUMN.

Ia menuturkan per tanggal 20 Maret, pihaknya telah menerima 2.000 kita alat untuk pemeriksaan cepat. “Besok juga sudah masuk 2.000 kit lagi. Setidaknya ada 100.000 perangkat pemeriksaan Covid-19 yang akan masuk ke Indonesia pada hari berikutnya,” kata dia.

Di samping itu, pemerintah Indonesia, kata Yuri, sudah menyediakan lebih dari 10.000 alat pelindung diri (APD) dan lebih dari 150.000 masker untuk mendukung kegiatan pelayanan kesehatan.

Pemerintah Siapkan Obat Covid-19

Pemerintah menyebut telah menyiapkan obat untuk mengobati Covid-19 berdasarkan hasil riset dan pengalaman dari berbagai negara. Obat tersebut akan diberikan kepada pasien yang membutuhkan melalui dokter keliling dari rumah ke rumah, melalui rumah sakit, dan puskesmas di kawasan yang terinfeksi.

“Mengenai antivirus, sampai sekarang belum ditemukan. Dan ini yang saya sampaikan tadi adalah obat. Obat ini sudah dicoba oleh 1, 2, 3 negara dan memberikan kesembuhan, yaitu Avigan. Kita telah mendatangkan lima ribu, akan kita coba, dan dalam proses pemesanan dua juta. Kemudian yang kedua Klorokuin, ini kita telah siap tiga juta,” ujar Presiden Jokowi dalam keterangan persnya di Istana Bogor.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/rapid-test-tidak-dilakukan-untuk-semua-masyarakat/feed/ 0
Presiden Jokowi Perintahkan Rapid Test Melibatkan Berbagai Instansi https://www.greeners.co/berita/presiden-jokowi-perintahkan-rapid-test-melibatkan-berbagai-instansi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=presiden-jokowi-perintahkan-rapid-test-melibatkan-berbagai-instansi https://www.greeners.co/berita/presiden-jokowi-perintahkan-rapid-test-melibatkan-berbagai-instansi/#respond Fri, 20 Mar 2020 04:42:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=26517 Presiden Joko Widodo memerintahkan untuk dilakukan tes cepat (rapid test) melalui tes imunoglobulin sebagai penanganan lebih lanjut Covid-19.]]>

Jakarta (Greeners) – Presiden Joko Widodo memerintahkan untuk dilakukan tes cepat (rapid test) sebagai penanganan lanjutan Covid-19. Screening massal dilaksanakan dengan metode imunoglobulin atau pengukuran antibodi di dalam sampel darah. Cara ini juga dilakukan oleh banyak negara yang terdampak virus corona.

Selain rapid test, Jokowi juga meminta Kementerian Kesehatan untuk mempersiapkan protokol kesehatan yang alurnya jelas, sederhana, dan mudah dipahami. Menurutnya hal ini penting karena terkait dengan hasil tes tersebut.

“Segera lakukan rapid test dengan cakupan yang lebih besar. Saya minta alat terus diperbanyak. Juga tempat untuk melakukan tes melibatkan rumah sakit pemerintah, BUMN, pemda, rumah sakit milik TNI dan Polri, dan swasta, lembaga-lembaga riset dan pendidikan tinggi yang mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan,” ujar Jokowi melalui telekonferensi, di Bogor, Kamis, (19/03/2020).

Baca juga: Social Distancing Redam Penularan Covid-19

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan pihaknya masih mempersiapkan pelaksanaan tes cepat dalam waktu dekat. Pendekatan ini bertujuan untuk melakukan pemeriksaan secara massal sehingga membantu menangani potensi penyebaran Covid-19.

Ia menyampaikan, jika dalam screening seseorang dinyatakan positif, akan diuji ulang dengan metode tes Polymerase Chain Reaction (PCR). “Sehubungan dengan individu yang teridentifikasi positif, tidak semua harus dirujuk ke rumah sakit rujukan. Namun, kondisi individu tersebut akan didiagnosa lebih lanjut apakah memiliki gejala ringan atau moderat. Apabila terdiagnosa gejala ringan, pasien dapat melakukan isolasi diri secara mandiri,” ucap Yurianto.

Menurutnya, metode yang menggunakan tes spesimen darah ini tidak membutuhkan sarana pemeriksaan biosecurity level dua. Artinya bisa dilaksanakan hampir di semua laboratorium kesehatan di rumah sakit yang ada di Indonesia.

“Karena yang diperiksa adalah imunoglobulin, maka kita membutuhkan reaksi dari seseorang yang terinfeksi paling tidak seminggu. Kalau belum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu, kemungkinan pembacaan imunoglobulinnya akan memberikan gambaran negatif. Hal ini harus diiringi dengan pemahaman masyarakat tentang kebijakan isolasi diri,” ujarnya.

Achmad Yurianto

Juru Bicara Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto. Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Yurianto menilai tanpa kesiapan untuk memahami dan melaksanakan isolasi diri, masyarakat akan datang ke rumah sakit padahal belum tentu membutuhkan layanan perawatan. “Pemeriksaan rapid (test) ini dimaknai bahwa yang bersangkutan memiliki potensi untuk menularkan penyakitnya kepada orang lain,” kata Yurianto.

Ia menambahkan, pasien yang melakukan isolasi diri akan mendapatkan perhatian dari puskesmas atau petugas kesehatan setempat. Di samping itu, mereka dapat melakukan self-monitoring dan berkonsultasi secara virtual menggunakan aplikasi layanan kesehatan. Pasien yang kemudian menunjukkan gejala sedang hingga berat akan dipindahkan ke rumah sakit rujukan.

Kasus Positif Semakin Naik

Data perkembangan terkini hingga 19 Maret 2020 pukul 16.00 WIB, Yurianto menyampaikan bahwa total kasus positif Covid-19 berjumlah 309 orang. Kasus tertinggi terjadi di DKI Jakarta dengan jumlah 52 kasus baru. Sedangkan pasien meninggal dunia mencapai 25 orang dan 15 pasien telah dinyatakan sembuh.

Kenaikan kasus positif virus corona, menurut Yuri, terjadi karena dua hal. Pertama, hasil penelusuran kontak (contact tracing) yang dilakukan secara intens sehingga semakin banyak ditemukan kasus baru. Kedua, kesadaran masyarakat yang semakin peduli dan mau untuk memeriksakan diri.

“Tantangan besar bagi kita bersama, pada saat keinginan masyarakat semakin meningkat tentunya sarana fasilitas laboratorium harus kita tingkatkan,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/presiden-jokowi-perintahkan-rapid-test-melibatkan-berbagai-instansi/feed/ 0