biodiversitas indonesia - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/biodiversitas-indonesia/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 15 Feb 2025 04:59:29 +0000 id hourly 1 Kunjungi KRB, Dubes China Kagumi Biodiversitas Indonesia https://www.greeners.co/aksi/kunjungi-krb-dubes-china-kagumi-biodiversitas-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kunjungi-krb-dubes-china-kagumi-biodiversitas-indonesia https://www.greeners.co/aksi/kunjungi-krb-dubes-china-kagumi-biodiversitas-indonesia/#respond Sun, 16 Feb 2025 03:00:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45935 Jakarta (Greeners) – Duta Besar (Dubes) Republik Rakyat China untuk Republik Indonesia ke-14, Wang Lutong, mengungkapkan kekagumannya terhadap kekayaan biodiversitas Indonesia. Hal ini ia sampaikan saat berkunjung ke Kebun Raya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Duta Besar (Dubes) Republik Rakyat China untuk Republik Indonesia ke-14, Wang Lutong, mengungkapkan kekagumannya terhadap kekayaan biodiversitas Indonesia. Hal ini ia sampaikan saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor (KRB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Kamis (13/2).

Menurutnya, kekayaan biodiversitas Indonesia yang melimpah merupakan aset sangat berharga bagi masa depan. Upaya melindungi aset berharga ini merupakan salah satu komitmen pemerintah Indonesia dan China yang terwujud melalui kerja sama bilateral. Khususnya, kerja sama riset di bidang biodiversitas.

“Selama ini, BRIN sudah banyak melakukan riset biodiversitas melalui kerja sama dengan Chinese Academy of Science. Ke depannya, akan semakin banyak peluang kerja antara BRIN dan pemerintah China dalam meningkatkan kerja sama bilateral,” ungkap Dubes Wang.

Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN Andes Hamuraby Rozak saat menemani Dubes Wang mengunjungi koleksi anggrek dan Nepenthes KRB, menawarkan kerja sama penelitian bidang biodiversitas.

BACA JUGA: Dua Abad Kebun Raya Bogor, Ini Kontribusinya Bagi Lingkungan

“Kami di ORHL memiliki tiga platform kolaborasi riset yang saat ini sedang berjalan, yaitu terkait biologi struktur biomolekul biodiversitas, platform riset untuk ekspedisi biodiversitas terestrial, dan banana for food”, ujar Andes.

Ia menjelaskan, platform kolaborasi Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Biologi Struktur Biomolekul Biodiversitas merupakan salah satu program riset yang sudah berjalan sejak Juli 2024.

Platform riset ini merupakan upaya strategis nasional untuk mencetak SDM periset unggul yang mampu menguasai teknologi kunci melalui skema mobilitas periset di BRIN. Seperti skema postdoctoralvisiting researcherdegree by research, dan research assistant.

Tingkatkan Kemitraan

Direktur Penguatan dan Kemitraan Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN Joannes Ekaprasetya Tandjung turut mengapresiasi kunjungan Dubes China ke KRB.

“Kami sangat berbahagia menerima kunjungan diplomatik yang pertama setelah beberapa dekade lalu, yaitu duta besar berkuasa penuh Republik Rakyat Tiongkok,” ungkap Jo.

Selain itu, KRB sebagai salah satu infrastruktur riset BRIN kini dikelola melalui kemitraan dengan swasta, yaitu Mitra Natura Raya. Pihaknya berharap kunjungan ini dapat mempererat kemitraan di bidang infrastruktur riset dan inovasi. Hal ini semakin penting mengingat pesatnya perkembangan riset dan teknologi di China.

“Kami berharap kunjungan Dubes Wang juga dapat lebih mendorong kemitraan. Baik lembaga penelitian maupun swasta dan industri untuk turut meningkatkan kualitas infrastruktur riset BRIN. Misalnya, sarana penelitian berupa peralatan di beberapa laboratorium di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno di Cibinong,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kunjungi-krb-dubes-china-kagumi-biodiversitas-indonesia/feed/ 0
Kolaborasi Multipihak Kunci Pelestarian Biodiversitas Indonesia https://www.greeners.co/aksi/kolaborasi-multipihak-kunci-pelestarian-biodiversitas-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kolaborasi-multipihak-kunci-pelestarian-biodiversitas-indonesia https://www.greeners.co/aksi/kolaborasi-multipihak-kunci-pelestarian-biodiversitas-indonesia/#respond Fri, 17 May 2024 07:40:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=43806 Jakarta (Greeners) – Biodiversitas atau keanekaragaman hayati saat ini kian terancam. Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan, perlu kolaborasi banyak pihak untuk melestarikan biodiversitas Indonesia. “Tidak hanya tugas pemerintah, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Biodiversitas atau keanekaragaman hayati saat ini kian terancam. Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan, perlu kolaborasi banyak pihak untuk melestarikan biodiversitas Indonesia.

“Tidak hanya tugas pemerintah, pelestarian keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi multipihak mulai dari pemerintah, akademisi, praktisi, industri, media, bahkan masyarakat merupakan kunci keberhasilan pelestarian biodiversitas Indonesia untuk generasi kini dan yang akan datang,” ujar Dolly di Bogor, Selasa (14/5).

Menurut artikel yang terbit di jurnal Biological Review awal 2022 lalu, saat ini telah berlangsung kepunahan massal keenam akibat antropogenik. Ancaman kepunahan massal kali ini berbeda. Sebab, intervensi manusia terhadap alam dan biodiversitas telah menyumbang dan mempercepat kepunahan tersebut terjadi.

Ancaman tersebut semakin terlihat dengan tingkat kepunahan spesies yang meningkat secara drastis. Para peneliti sebagian besar menggunakan data spesies yang terdaftar sebagai spesies punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Para peneliti berfokus pada spesies vertebrata (tidak termasuk ikan) karena datanya tersedia lebih banyak.

BACA JUGA: Perubahan Iklim Bakal Punahkan 37 % Spesies di Tahun 2050

Setidaknya 5.400 genera (bentuk jamak dari genus) yang terdiri dari 34.600 spesies, para peneliti menyimpulkan dalam 500 tahun terakhir sebanyak 73 genera telah punah. Sebagian besar terjadi dalam dua abad terakhir.

Para ilmuwan mengatakan, kepunahan massal buatan manusia tersebut akibat perusakan habitat. Penyebab lainnya adalah perubahan iklim global, eksploitasi berlebihan, polusi, dan spesies invasif. Menurut IUCN, sampai saat ini terdapat lebih dari 44.000 spesies terancam punah di bumi.

Perlu kolaborasi banyak pihak untuk melestarikan biodiversitas Indonesia. Foto: Belantara Foundation

Perlu kolaborasi banyak pihak untuk melestarikan biodiversitas Indonesia. Foto: Belantara Foundation

Pelestarian Biodiversitas Perlu Diutamakan

Dolly menyebutkan, saat ini telah terbit Instruksi Presiden (Inpres) Nomor satu Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pelestarian Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan. Inpres ini terbit untuk memastikan adanya keseimbangan pemanfaatan ruang untuk kepentingan ekonomi dan konservasi keanekaragaman hayati dalam kebijakan setiap sektor.

“Pelaksanaan kebijakan ini diarahkan melalui pengambilan langkah-langkah kebijakan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan setiap lembaga yang disasar dalam kebijakan ini,” tambah Dolly.

Isi inpres ini menyasar 19 kementerian dan lembaga pemerintahan. Hal itu bertujuan untuk mengarusutamakan keanekaragaman hayati dalam kebijakan pembangunan.

Penelitian Biodiversitas Perlu Tekan Pemanfaatan

Sementara itu, Ketua I-SER (Institute of Sustainable Earth and Resources) FMIPA Universitas Indonesia, Jatna Supriatna mengatakan Indonesia adalah negara yang sangat besar. Selain itu, negara ini juga memiliki perputaran energi yang tidak terputus sejak ratusan juta tahun. Sehingga, telah melewati fenomena-fenomena geologi yang sangat berhubungan dengan keanekaragaman hayati. Menurut Jatna, Indonesia juga memiliki banyak akademisi di kampus-kampus dan pusat penelitian.

BACA JUGA: Jangan Lupakan Peran Mikroorganisme di Alam

“Penelitian biodiversitas perlu lebih menekankan pada tahap pemanfaatan. Misalnya, tentang pemanfaatan biodiversitas untuk pangan yang seharusnya berasal dari biodiversitas Indonesia. Peneliti bisa memperbanyak riset yang lebih mendalam tentang pemanfaatan hayati karena kita punya lebih dari 30.000 spesies,” ujar Jatna.

Jatna menambahkan, upaya-upaya penelitian yang bisa akademisi lakukan adalah terkait valuasi biodiversitas dan ekosistem, degradasi lahan yang menyebabkan defaunasi, serta dampak perubahan iklim pada biodiversitas.

Pelestarian biodiversitas, lanjut Jatna, perlu menekankan kolaborasi tri-sektor dari akademisi, pemerintah, dan sektor privat. Salah satunya bisa melalui pengembangan ekowisata, seperti pengamatan burung atau wisata-wisata yang terkait spesies kharismatik.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kolaborasi-multipihak-kunci-pelestarian-biodiversitas-indonesia/feed/ 0
BRIN Targetkan Penemuan 50 Taksa Baru di Indonesia https://www.greeners.co/berita/brin-targetkan-penemuan-50-taksa-baru-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-targetkan-penemuan-50-taksa-baru-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/brin-targetkan-penemuan-50-taksa-baru-di-indonesia/#respond Sat, 02 Mar 2024 05:05:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=43208 Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan penemuan 50 jenis taksa baru, termasuk dari hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme di Indonesia pada tahun 2024. Dalam mendukung upaya itu, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan penemuan 50 jenis taksa baru, termasuk dari hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme di Indonesia pada tahun 2024. Dalam mendukung upaya itu, BRIN meluncurkan berbagai skema pendanaan, seperti Rumah Program dan Riset dan Inovasi Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi.

Sebelumnya, pada tahun 2023, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan 49 taksa baru. Penemuan fauna mendominasi dengan jumlah 1 marga, 38 spesies, dan 2 subspesies. Sisanya yaitu flora 7 spesies dan mikroorganisme 1 spesies.

Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Bayu Adjie mengatakan penemuan puluhan taksa baru tersebut menandakan Indonesia sebagai “surga” bagi penelitian biodiversitas. Pengungkapan biodiversitas nusantara, khususnya melalui penemuan spesies baru, menjadi salah satu prioritas utama BRIN.

BACA JUGA: Penemuan Spesies Baru Dorong Peneliti Gali Keanekaragaman Hayati

“Meskipun hanya sebagian kecil dari cakupan riset biosistematika dan evolusi, penemuan jenis baru berdampak besar dalam asesmen biodiversitas serta menarik perhatian publik dan media massa. Kami saat ini sedang mempersiapkan RIIM Invitasi Strategis Ekspedisi Biodiversitas Terestrial yang akan berfokus di Pulau Kalimantan,” ungkap Bayu lewat keterangan tertulis, Selasa (27/2).

Sekitar 96% spesies baru yang ditemukan merupakan spesimen dari Indonesia. Sebab, Indonesia terkenal kaya akan keanekaragaman hayati.

“Meskipun sudah dieksplorasi sejak zaman kolonial, masih banyak yang belum terungkap di negeri ini. Sebab, Indonesia sangat luas dan ada beragam ekosistem yang menjadi tempat penelitian biodiversitas,” tambah Bayu.

BRIN Jalin Kerja Sama untuk Riset

Oleh karena itu, banyak jenis ekosistem dan pulau yang menjadi surganya penelitian keanekaragaman hayati. Menurutnya, hal ini berbeda dengan rata-rata tingkat keanekaragaman hayati yang lebih rendah di negara-negara maju.

Dengan SDM periset, anggaran dan infrastruktur yang maju bisa dianggap riset biodiversitas selesai di negaranya. Sehingga, mereka mengincar negara-negara dengan biodiversitas tinggi–yang kebanyakan adalah negara berkembang–untuk bekerja sama dalam riset biodiversitas.

“BRIN menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri. Misalnya, lembaga riset, universitas, dan NGO. Kolaborasi menjadi kunci untuk mengatasi kendala-kendala seperti SDM, anggaran, dan infrastruktur dalam riset biodiversitas,” kata Bayu.

BACA JUGA: Pangan dan Energi Masih Jadi Fokus Utama Penelitian BRIN

Di sisi lain, lanjutnya, setelah penemuan taksa, BRIN adalah melakukan identifikasi dan studi lebih lanjut terhadap spesies baru tersebut. Hal ini meliputi studi biologi, pemanfaatan atau bioprospeksi, serta upaya konservasi jika diperlukan.

Menurut Bayu, penemuan jenis baru bisa membuka potensi baru dalam pemahaman keanekaragaman hayati. Bahkan, mendesak perlunya perlindungan dan pelestarian spesies-spesies tersebut. Sebab, saat ini ada banyak spesies yang mulai terancam.

Keberadaan Taksa Baru Mengagumkan

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Amir Hamidy menjelaskan sebanyak 49 taksa itu ditemukan melalui serangkaian eksplorasi sebelumnya dan validasi spesimen yang ada. Para peneliti BRIN pun berhasil mengungkap keberadaan taksa-taksa baru yang mengagumkan.

Amir menekankan beberapa kriteria utama dalam menentukan sebuah taksa atau spesies yang nantinya akan ditetapkan sebagai taksa baru. Penentuan kriteria itu meliputi ciri-ciri morfologi, molekuler, fisiologi, dan ekologi.

“Pengamatan mendalam terhadap ciri-ciri ini membantu para peneliti dalam mengklasifikasikan dan mengidentifikasi spesies baru dengan akurat,” ungkapnya.

Durasi untuk menentukan sebuah taksa baru sangat bervariasi, bisa kurang dari satu tahun atau lebih dari 30 tahun. Hal itu tergantung pada sejauh mana penelitian manusia telah mempelajari taksa tersebut.

Amir menerangkan, dalam proses identifikasi, metode DNA barcoding menjadi alat yang sangat berguna. Dengan menggunakan data sekuen DNA terkait, peneliti dapat dengan cepat membandingkan dan memvalidasi keberadaan taksa baru.

Amir juga membagikan pengalamannya yang berkesan dalam penelitian dan eksplorasi biodiversitas di Indonesia. Menurutnya, setiap pengamatan menawarkan keunikan dan kekayaan keanekaragaman alam nusantara yang memukau para peneliti.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/brin-targetkan-penemuan-50-taksa-baru-di-indonesia/feed/ 0