Jangan Lupakan Peran Mikroorganisme di Alam

Reading time: 2 menit
Mikroorganisme punya jasa lingkungan di alam. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Flora dan fauna cenderung masih mendominasi peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional pada 5 November 2022 lalu. Padahal seharusnya peringatan itu, sekaligus mengingatkan pentingnya biodiversitas secara lebih luas, seperti mikroorganisme di alam yang berdampak pada kelangsungan hidup manusia.

Guru besar Fakultas Biologi dan Prodi Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional Dedy Darnaedi menyatakan, sejak peringatan pertama kali Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional tahun 1973, Indonesia hanya berfokus pada nilai kharismatik, keunikan dan kelangkaan spesies flora dan fauna. Padahal di balik itu semua ada peran mikroorganisme.

“Keduanya sangat menonjol karena jasa mikroorganisme yang saat itu tidak diutamakan. Lalu muncullah zoonosis,” katanya dalam Webinar Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional “Keanekaragaman Hayati: Yang Muda Berbicara”, Sabtu (12/11).

Zoonosis ada karena mikroorganisme parasit, seperti bakteri, virus, hingga jamur yang berpotensi menyebabkan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Hal ini, sambung Dedi mengingatkan akan virus Covid-19 yang dampaknya luar biasa. “Peringatan ini tak hanya berfokus pada spesies, tapi mikroorganisme yang langka, kharismatik dan unik,” jelasnya.

Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2022 harusnya dimaknai lebih luas dengan situasi kondisi bumi saat ini akibat perubahan iklim. Berbagai fenomena alam akibat perubahan iklim berdampak nyata.

“Kita menghadapi perubahan iklim yang sangat cepat dan dinamis. Es di kutub utara mencair, permukaan muka air laut naik hingga oksigen semakin susah didapat,” kata dia.

Ancaman Kepunahan Kehati di Alam

Saat ini menurutnya, Indonesia bukan lagi negara dengan megabiodiversity, tapi menjadi hotspot biodiversity country. Ia menegaskan pentingnya pengelolaan keanekaragaman hayati (kehati) dan ekosistemnya secara lestari untuk menjaga keutuhan jasa ekosistem. Selain itu, juga membuka peluang pemanfaatan kehati secara berkelanjutan.

“Berbagai jenis dan layanan kehati termasuk tumbuhan sudah dimanfaatkan sejak manusia diciptakan. Mulai dari sebagai sumber pangan, obat-obatan, energi dan sandang, jasa penyedia air serta udara bersih, perlindungan dari bencana alam, hingga regulasi iklim,” ungkapnya.

Keberadaan keanekaraganan hayati di alam, tidak luput dari ancaman kepunahan. Hilangnya habitat menjadi ancaman terbesar. Kehilangan habitat itu karena kerusakan habitat, baik karena bencana alam, kebakaran hutan, pencemaran lingkungan dan perubahan iklim.

Selain itu juga penggunaan hutan atau habitat untuk lahan pertanian, pertambangan, industri maupun permukiman dan perburuan keanekaragaman hayati karena perdagangan secara ilegal.

Masyarakat juga punya tanggung jawab memulihkan dan mengawasi alam dari kerusakan. Foto: Freepik

Motivasi Generasi Muda

Ketua Prodi Biologi Sekolah Pascasarjana Unas, Fitriah Basalamah mengungkapkan, webinar nasional ini dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional dan Dies Natalis Universitas Nasional ke-73.

“Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta, kepedulian, perlindungan serta pelestarian puspa dan satwa nasional,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Biologi Unas, Tatang Mitra Setia berharap, webinar nasional ini dapat memberikan motivasi dan inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda berpartisipasi aktif menjaga dan melestarikan kehati Indonesia.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top