cuaca buruk - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/cuaca-buruk/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 28 Dec 2022 06:04:24 +0000 id hourly 1 BMKG : Siaga, Potensi Cuaca Ekstrem Terjang Wilayah Ini https://www.greeners.co/berita/bmkg-siaga-potensi-cuaca-ekstrem-terjang-wilayah-ini/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-siaga-potensi-cuaca-ekstrem-terjang-wilayah-ini https://www.greeners.co/berita/bmkg-siaga-potensi-cuaca-ekstrem-terjang-wilayah-ini/#respond Wed, 28 Dec 2022 06:04:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=38414 Jakarta (Greeners.co) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis adanya potensi cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia selama dua hari ke depan (28-30 Desember 2022). Cuaca ekstrem tersebut berpeluang […]]]>

Jakarta (Greeners.co) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis adanya potensi cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia selama dua hari ke depan (28-30 Desember 2022).

Cuaca ekstrem tersebut berpeluang menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, genangan, dan tanah longsor.

Berdasarkan prakiraan berbasis dampak Impact-Based Forecast (IBF), daerah berstatus siaga pada periode tersebut yaitu sebagian Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

“Wilayah tersebut diprakirakan mengalami hujan lebat yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (28/12).

Selain banjir dan banjir bandang. Masyarakat juga perlu waspada potensi tanah longsor, guguran bebatuan, atau erosi tanah. Terutama di daerah-daerah dataran tinggi dan lereng-lereng perbukitan dan gunung.

BMKG mengimbau pemerintah daerah setempat dan masyarakat yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai dan wilayah perbukitan waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan. Terutama jika hujan lebat terjadi dalam intensitas yang cukup lama.

Sejumlah Fenomena Pengaruhi Cuaca Ekstrem

Deputi Meteorologi BMKG Guswanto menerangkan bahwa potensi ekstrem ini terjadi karena peningkatan aktivitas Monsun Asia. Aktivitas ini meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan selatan.

Selain itu, meningkatnya intensitas fenomena ‘cold surge’ atau seruakan dingin juga menarik aliran massa udara dingin dari Asia memasuki wilayah Indonesia. Kondisi ini meningkatkan pertumbuhan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Waspada pula terhadap meningkatnya gelombang di perairan.

BMKG juga memantau adanya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang aktif bersamaan dengan fenomena gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial. Hal ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia terutama di bagian tengah dan timur.

“Kepada masyarakat, kami imbau untuk tidak panik tetapi tetap waspada. Terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG,” tandasnya.

BMKG meminta masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi dari kondisi cuaca yang terjadi. Foto: Freepik

BNPB Siaga Bencana

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama TNI AU dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bakal melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Upaya ini untuk mengantisipasi cuaca ekstrem, hujan deras, dan badai yang bakal terjadi.

Dalam keterangannya, Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, pihaknya juga bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta dan Pemprov Jawa Barat. Sebab potensi cuaca ekstrem itu diprediksi terjadi di wilayah Jabodetabek.

Menghadapi potensi cuaca buruk ke depan, Suharyanto mengingatkan kepada masyarakat untuk memperhatikan informasi cuaca. Apabila warga ingin bepergian dari satu titik ke titik lain atau berada di suatu wilayah, tingkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-siaga-potensi-cuaca-ekstrem-terjang-wilayah-ini/feed/ 0
70 Kejadian Ekstrem di Indonesia, BMKG Beberkan Pemicunya https://www.greeners.co/berita/70-kejadian-ekstrem-di-indonesia-bmkg-beberkan-pemicunya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=70-kejadian-ekstrem-di-indonesia-bmkg-beberkan-pemicunya https://www.greeners.co/berita/70-kejadian-ekstrem-di-indonesia-bmkg-beberkan-pemicunya/#respond Sat, 27 Aug 2022 05:17:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37166 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut telah terjadi hampir 70 kali kejadian ekstrem dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun belakangan. Hal ini imbas perubahan iklim […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut telah terjadi hampir 70 kali kejadian ekstrem dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun belakangan. Hal ini imbas perubahan iklim yang mengakibatkan peningkatan kejadian cuaca dan iklim ekstrem.

Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko menyatakan, beberapa kejadian ekstrem yang terjadi yaitu angin kencang (kecepatan lebih dari 25 knot). Selain itu juga curah hujan ekstrem dengan curah hujan lebih dari 150 mm per hari, serta suhu maksimum dan minimum.

“Fenomena kejadian cuaca ekstrem dalam satu hari bisa terjadi setidaknya di 10 tempat berbeda dengan sebaran kejadian cuaca ekstrem hampir merata di seluruh Indonesia,” katanya kepada Greeners, Jumat (26/8).

Ia melanjutnya, pemicu utama kejadian cuaca dan iklim ekstrem yaitu gangguan iklim skala global seperti La Nina yang masih kita rasakan hingga sekarang.

“Fenomena La Nina yang terjadi selama tiga tahun berturut-turut ini menjadi salah satu pemicu utama kejadian ekstrem. Sebelumnya pernah terjadi pada tahun 1973 hingga 1975 dan tahun 1998 hingga 2001,” tuturnya.

Selain itu, pemicu lainnya yaitu gangguan dari fenomena IOD negatif, yang berimbas pada peningkatan curah hujan, utamanya di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.

Faktor lainnya yaitu kombinasi dua atau tiga kejadian atau superposisi antara fenomena MJO (gelombang atmosfer equator), dengan cold surge dan fenomena monsun.

“Pemicu lainnya yaitu satu fenomena seperti siklon tropis Seroja terjadi pada 3 hingga 12 April 2022 di NTT. Hal ini berdampak pada gelombang tinggi, angin kencang, hujan ekstrem yang bisa mencapai tiga kali lipat dari batasan ekstrem. Bahkan curah hujan mencapai 300 hingga 400 mm dalam satu hari,” paparnya.

Banjir menjadi salah satu bencana hidrometeorologi yang sering terjadi. Foto : BNPB

BMKG Tingkatkan Kapasitas Prakiraan Cuaca dan Iklim

Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan pentingnya jejaring bersama para pemangku kepentingan hingga pakar. Tujuannya untuk memperkuat sinergi data dalam menghadapi cuaca ekstrem. Fenomena perubahan iklim berimbas pada kondisi ekstrem sehingga mengakibatkan lompatan kejadian ekstrem.

Setidaknya, telah terjadi 70 kali kejadian ekstrem dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun lalu akibat perubahan iklim.

Dwikorita menyebut, BMKG perlu meningkatkan kapasitas, baik daya analitik, big data, peralatan mendeteksi secara dini fenomena alam dan memproyeksikannya ke depan.

Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menyatakan hal senada. Menurutnya, banyaknya kejadian ekstrem seiring dengan dampak buruk pemanasan global. Hal ini memicu meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, di antaranya banjir, tanah longsor, hingga puting beliung.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat tren kenaikan bencana hidrometeorologi. Setidaknya dalam lima tahun terakhir, hampir 95 % kejadian bencana ini mendominasi di Indonesia.

Ia menegaskan, pemerintah Indonesia sudah saatnya melakukan adaptasi dan mitigasi bencana lebih dini untuk mengantisipasi cuaca ekstrem. Demikian pula dengan sosialisasi bencana. “Masyarakat terutama yang dekat dengan lokasi bencana harus dipastikan merespon secepat mungkin, karena bencana terus meningkat,” imbuhnya.

Selain itu, Mahawan juga menyorot tingginya bencana hidrometeorologi. Seperti banjir karena banyaknya kondisi kawasan daerah aliran sungai (DAS) yang rusak akibat alih fungsi lahan.

“Selain faktor anomali akibat perubahan iklim, kondisi ini diperparah dengan alih fungsi lahan yang semakin marak dilakukan,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/70-kejadian-ekstrem-di-indonesia-bmkg-beberkan-pemicunya/feed/ 0
BMKG Prediksi Siklon Tropis Surigae Berkembang Jadi Topan https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-siklon-tropis-surigae-berkembang-jadi-topan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-prediksi-siklon-tropis-surigae-berkembang-jadi-topan https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-siklon-tropis-surigae-berkembang-jadi-topan/#respond Wed, 14 Apr 2021 10:27:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=32434 Bibit Siklon Tropis di Utara Papua yang merupakan Bibit Siklon Tropis 94W telah berkembang menjadi Siklon Tropis "SURIGAE"]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan saat ini Bibit Siklon Tropis di Utara Papua yang sebelumnya merupakan Bibit Siklon Tropis 94W yang mulai tumbuh di wilayah Samudera Pasifik sebelah utara Papua pada Senin (12/4) telah berkembang menjadi Siklon Tropis “SURIGAE” yang bergerak ke arah barat laut mendekati wilayah Filipina.

“Akibatnya, saat ini terjadi peningkatan kecepatan angin rata-rata di wilayah Utara Sulawesi dan Sekitarnya berkisar 8 – 20 knot,” ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (14/4).

Dwikorita menerangkan, siklon atau Badai Tropis ini diperkirakan akan berkembang menjadi Badai Tropis Kuat (STS) dan bahkan Typhoon (TY) pada tanggal 16 April 2021.

Sebelumnya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan bahwa keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W ini memberikan dampak tidak langsung berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam 24 jam kedepan yang dapat disertai kilat/petir serta angin kencang di beberapa wilayah di Tanah Air.

Adapun tekanan minimum Bibit Siklon Tropis 94W mencapai 1007 hPa dan dengan kecepatan angin maksimum di sekitar sistemnya mencapai 20 knot atau 37 km/jam.

Setelah 24 jam, akhirnya siklon tropis 94W tersebut berubah menjadi siklon tropis Surigae. Penamaan siklon atau badai tropis Surigae ini dilakukan oleh Japan Meteorogical Agency (JMA), termasuk analisis dan pergerakannya.

Guswanto menjelaskan, sebagai dampak tidak langsung, Siklon Tropis ini mengakibatkan kecepatan angin di utara Sulawesi dan sekitarnya diprakirakan akan terus meningkat secara bertahap hingga puncaknya pada 18 April 2021.

Begitu juga dengan hujan yang akan mengguyur dengan intensitas ringan hingga sedang dan berpotensi hujan lebat untuk sepekan ke depan sebagai akibat dampak tidak langsung wilayah yg berdekatan dengan posisi siklon tropis.

“Sedangkan tinggi gelombang laut akan mengalami peningkatan hingga puncaknya pada 18 April 2021. Gelombang ini bahkan dapat mencapai kategori sangat tinggi (4,0 – 6,0 m) di wilayah Perairan Kepulauan Sitaro, Sangihe, dan Talaud, serta Laut Maluku bagian utara,” paparnya.

siklon tropis

Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Guswanto menuturkan pula, saat ini BMKG (TCWC Jakarta) terus memantau perkembangan Siklon Tropis Surigae tersebut.

Himbauan dan Kordinasi Para Pihak Terkait Persiapan dan Penanganan Dampak Siklon Tropis

Kepada masyarakat, BMKG mengimbau untuk waspada dan tetap berhati-hati dengan potensi angin kencang, hujan lebat, dan dampak lanjutannya seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta kepada daerah 30 di tingkat provinsi untuk meningkatkan kewaspadaan pada peringatan dini dan langkah-langkah kesiapsiagaan.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan mengatakan, informasi peringatan dini dari BMKG dapat digunakan untuk mempercepat penyebarluasan informasi peringatan dini bencana.

Selanjutnya, BNPB berharap Pemerintah Provinsi untuk menginstruksikan beberapa upaya, pertama, meningkatkan koordinasi dengan di wilayah terkait.

Kedua, Pemerintah Daerah diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem seperti puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, dan hujan es dan dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang maupun jalan licin.

Terakhir, Lilik meminta koordinasi antar dinas terkait dan aparatur untuk kesiapsiagaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta kewenangan masing-masing.

Upaya ini bertujuan untuk mencegah dampak yang mungkin timbul. Koordinasi menyasar pada komunikasi risiko yang ditujukan kepada masyarakat mengenai potensi bahaya untuk menjauh dari lembah sungai, lereng rawan longsor, pohon tumbang atau tepi pantai, khususnya warga yang bermukim di wilayah risiko tinggi.

Di samping itu, koordinasi bertujuan untuk menyiapkan dan mengelola seluruh sumber daya manusia, logistik, peralatan, penyiapan sarana dan prasarana untuk penanganan keadaan darurat serta penyiapan fasilitas layanan kesehatan sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19.

Lilik juga meminta pemerintah daerah untuk selalu siap siaga untuk mengevakuasi warga masyarakat yang tinggal di daerah risiko bencana tinggi, seperti lembah sungai, barah lereng rawan maupun tepi pantai.

“Mengaktifkan tim siaga bencana untuk memantau lingkungan sekitar akan gejala awal terjadinya banjir bandang, longsor, angin kencang atau pun gelombang tinggi,” tambah Lilik.

Penulis: Dewi Purningsih

BACA JUGA : Pengaruh Polar Vortex Split Pada Kondisi Cuaca Indonesia

BACA JUGA : BPPT Siapkan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Antisipasi Dampak La Nina

 

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-siklon-tropis-surigae-berkembang-jadi-topan/feed/ 0
Terdampak Madden Julian Oscillation (MJO), Puluhan Ribu Warga Sulawesi Terkena Banjir https://www.greeners.co/berita/terdampak-madden-julian-oscillation-mjo-puluhan-ribu-warga-sulawesi-terkena-banjir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=terdampak-madden-julian-oscillation-mjo-puluhan-ribu-warga-sulawesi-terkena-banjir https://www.greeners.co/berita/terdampak-madden-julian-oscillation-mjo-puluhan-ribu-warga-sulawesi-terkena-banjir/#respond Wed, 12 Jun 2019 01:17:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=23514 Jakarta (Greeners) – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang disebabkan oleh aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) memicu banjir di beberapa wilayah Sulawesi pada awal Juni 2019.   Menurut […]]]>
Jakarta (Greeners) – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang disebabkan oleh aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) memicu banjir di beberapa wilayah Sulawesi pada awal Juni 2019.
 
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) banjir di wilayah Sulawesi ini disebabkan oleh Intensitas hujan tinggi karena fenomena aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation yang memasuki wilayah Samudera Hindia.
 
Kepala Bidang Perubahan Iklim BMKG Kadarsah mengatakan aktivitas MJO ini berpotensi cukup signifikan mendukung pembentukan awan hujan di Indonesia bagian tengah dan timur yang diprakirakan akan berlangsung hingga 5 hari ke depan, antara 11 – 15 Juni 2019.
 
Osilasi ini dihasilkan dari sirkulasi sel skala besar di ekuatorial yang bergerak ke timur dari laut Hindia ke Pasifik Tengah.
 
 
Lanjutnya, pergerakan awan ke arah timur inilah yang diasosiasikan dengan osilasi Madden Julian Oscillation. Anomali angin Zonal dan kecepatan potensial di troposfer atas yang sering menyebar untuk melakukan siklus mengitari bumi.
 
Proses tersebut ditandai dengan perubahan tekanan permukaan dan momentum relatif angular atmosfer. Madden Julian Oscillation (MJO) merupakan variasi intraseasonal (kurang dari setahun) yang terkenal di daerah tropis,” ujarnya saat dihubungi oleh Greeners hari Selasa (11/6) melalui telepon.
 
Banjir Melanda Beberapa Provinsi di Sulawesi
 
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Senin (10/6) terdapat 4.815 KK atau puluhan ribu warga terdampak karena banjir di sejumlah kebupaten terdampak banjir di Provinsi Sulawesi Selatan (2.900 KK), Sulawesi Tenggara (1.091 KK), dan Sulawesi Tengah (824 KK).
 
Bencana di beberapa provinsi tersebut juga menyebabkan kerusakan pada sektor pemukiman, pertanian, perikanan serta fasilitas umum.
 
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB mengatakan perkembangan situasi per 9 Juni 2019, banjir di Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara mengakibatkan 1.091 KK atau 4.198 jiwa mengungsi di enam kecamatan terimbas banjir adalah Andowia, Asera, Oheo, Landawe, Langgikima, dan Wiwirano.
 
“Kecamatan Asera merupakan kecamatan dengan jumlah desa terdampak paling tinggi yaitu 13 desa. Banjir ini juga mengakibatkan  72 rumah hanyut dan ribuan lain terendam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara masih melakukan pendataan di lapangan. Kerusakan sektor pertanian mencakup lahan sawah 970,3 ha, lahan jagung 83,5 ha dan lainnya 11 ha, sedangkan sektor perikanan pada tambak seluas 420 ha,” ujar Sutopo dalam keterangan pers, Senin (10/05/2019).
 
 
Di samping itu, kerusakan fasilitas umum teridentfikasi berupa jembatan, jalan, rumah ibadah dan fasilitas kesehatan. BPBD setempat melaporkan jembatan penghubung Desa Laronanga ke Desa Puwonua hanyut, jembatan lain di Desa Padalerutama tidak dapat dilalui karena terendam banjir, jembatan putus yang menghubungkan Desa Tanggulari ke Desa Tapuwatu dan jembatan antar provinsi di Asera. Kerusakan bangunan lain berupa masjid 3 unit, puskesmas 2 unit dan puskesmas pembantu (Pustu) 2 unit.
 
Sedangkan banjir di Sulawesi Selatan, Sutopo mengatakan korban jiwa berdampak pada 1.452 KK, Kelurahan Tanru Tedong 1.002 KK dan Desa Salobukkang 450 KK. Sejumlah 200 unit rumah terendam. Total lahan sawah rusak di 15 desa mencapai 3.676 ha. Kerusakan infrastruktur mencakup bangunan sekolah, tanggul, jalan dan jembatan.
 
“Bencana banjir lainnya di Sulawesi Tengah, BPBD Kabuapten Morowali telah melakukan upaya penanganan darurat. Banjir menyebabkan 561 KK di Desa Lele (263 KK) dan Dampala (298 KK) mengungsi. Pascabanjir, kerusakan materiil teridentifikasi sebagai berikut rumah rusak berat 7 unit, rumah terendam 45 unit, dan jembatan putus 1 unit,” jelasnya.
 
Merespon kondisi di wilayahnya, Pemerintah Kabupaten Konawe Utara telah menetapkan status tanggap darurat terhitung 2 Juni 2019 hingga 16 Juni 2019. Upaya penanganan darurat yang telah dilakukan antara lain pengoperasian pos komando penanganan darurat banjir yang berada di rumah jabatan bupati, evakuasi dan penyelamatan, penanganan warga terdampak, pendataan serta pengaktifan jaringan komunikasi untuk penanganan darurat.
 
 
Penulis : Dewi Purningsih
 
 
]]>
https://www.greeners.co/berita/terdampak-madden-julian-oscillation-mjo-puluhan-ribu-warga-sulawesi-terkena-banjir/feed/ 0
Hujan Salju dan Kekeringan Melanda Tiga Kabupaten di Papua https://www.greeners.co/berita/hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua https://www.greeners.co/berita/hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua/#respond Wed, 22 Jul 2015 12:28:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10432 Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa pada tanggal 1 hingga 10 Juli 2015 lalu telah terjadi hujan salju di tiga kabupaten di Papua. Ketiga kabupaten tersebut […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa pada tanggal 1 hingga 10 Juli 2015 lalu telah terjadi hujan salju di tiga kabupaten di Papua. Ketiga kabupaten tersebut antara lain, Kabupaten Nduga, Kabupaten Lani Jaya dan Kabupaten Puncak. Hujan salju ini menyebabkan pertanian puso atau gagal panen.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, saat dihubungi oleh Greeners mengatakan kalau sejumlah tanaman umbi-umbian serta hasil kebun tidak ada yang bisa dipanen. Selain itu, cuaca dingin menyebabkan ternak mati dan sebagian warga sakit.

Dari tiga kabupaten tersebut, jelas Sutopo, sebanyak 6 distrik dan 21 kampung yang terdiri dari 20.160 Kepala Keluarga (KK) juga terdampak kekeringan. Wilayah yang terdampak paling parah terletak di Distrik Kuyawage, Wano Barat, Kuwa Balim, Utpagga, Nenggejadin, dan Agundugame.

“Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Lani Jaya, ada 11 orang yang meninggal dunia. Mereka terdiri dari lima balita, dua anak-anak, dan empat dewasa,” jelasnya, Jakarta, Selasa (21/07).

Lokasi ketiga Kabupaten tersebut, lanjutnya, berada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut. Keterbatasan kebutuhan dasar seperti makanan, kebutuhan bayi dan anak, obat-obatan dan radio komunikasi akhirnya menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Pada tanggal 17 Juli 2015 lalu, terang Sutopo lagi, Kepala BNPB, Syamsul Maarif telah memerintahkan Deputi Penanganan Darurat BNPB untuk segera mengirimkan bantuan dengan berkoordinasi antara Kementerian Sosial (Kemensos), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua, dan Pemerintah Daerah (pemda) setempat. Bantuan yang dikirmkan antara lain makanan 13,4 ton yang ada di BPBD Papua dan 15 ton beras yang dikirim ke Kabupaten Nduga, Lani Jaya, dan Puncak.

“BNPB menerima laporan kejadian tersebut dari BPBD Papua pada 14 Juli. Lalu pada 17 Juli, bantuan beras dan logistik telah didistribusikan ke Distrik Agundugame, Kabupaten Puncak dan Distrik Kuyawage, Kabupaten Lani Jaya,” ujar Sutopo.

“Pengiriman bantuan dengan pesawat carter Susy Air menggunakan landasan darurat yang ada di dekat daerah terdampak,” imbuhnya.

Selain itu, ia melanjutkan, BNPB juga menyiapkan dana siap pakai sejumlah Rp 250 juta untuk pengiriman logistik. Untuk menjangkau Distrik Kuyawage, Wano Barat, dan Kuwa Balim, Kabupaten Lani Jaya memerlukan waktu 10 hari jalan kaki dari Ibukota Lani Jaya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua/feed/ 0
BMKG: Faktor Cuaca Buruk Kemungkinan Menjadi Penyebab Kecelakaan AirAsia https://www.greeners.co/berita/bmkg-faktor-cuaca-buruk-kemungkinan-menjadi-penyebab-kecelakaan-airasia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-faktor-cuaca-buruk-kemungkinan-menjadi-penyebab-kecelakaan-airasia https://www.greeners.co/berita/bmkg-faktor-cuaca-buruk-kemungkinan-menjadi-penyebab-kecelakaan-airasia/#respond Thu, 08 Jan 2015 06:39:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7026 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan analisis mendalam seputar cuaca di titik jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 di Selat Karimata. Hasil analisis BMKG tersebut menyebutkan bahwa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan analisis mendalam seputar cuaca di titik jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 di Selat Karimata. Hasil analisis BMKG tersebut menyebutkan bahwa kemungkinan faktor cuaca buruk menjadi pemicu terjadinya kecelakaan pesawat yang mengangkut 162 orang tersebut.

Kepala Penelitian dan Pengembangan BMKG, Prof. Edvin Aldrian beserta dengan timnya, yakni Ferdika Amsal, Jose Rizal, dan Kadarsah menyimpulkan bahwa berdasarkan data yang tersedia di lokasi terakhir pesawat melakukan kontak, cuaca menjadi faktor pemicu terjadinya kecelakaan tersebut.

“Namun perlu diperhatikan bahwa hal ini hanyalah salah satu analisis kemungkinan yang terjadi berdasarkan data meteorologis yang ada dan bukan merupakan keputusan akhir tentang penyebab terjadinya insiden tersebut,” ujar Edvin dalam laporan analisisnya, Jakarta, Rabu (07/01).

Analisis kejadian ini, lanjut para peneliti tersebut dalam jurnalnya, adalah dengan menggunakan peta pada situs web server SSEC RealEarth, dengan menggabungkan antara peta regional dan MTSAT-2 10,8 IR (Infra Red) pada pukul 23.00 UTC. Citra satelit menunjukkan adanya kelompok awan-awan konvektif pada jalur penerbangan yang dilewati.

Secara umum, BMKG juga menganalisis kondisi gangguan cuaca skala regional yang muncul saat terjadinya kejadian kecelakaan pesawat AirAsia QZ 8501. Hasilnya, kondisi konvektifitas yang terjadi di sekitar wilayah terjadinya kecelakaan pesawat merupakan hal yang rutin terjadi pada bulan-bulan ini, ketika Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) bermigrasi ke selatan selama musim panas pada belahan bumi selatan.

Kehadiran suhu permukaan laut yang cukup hangat bersamaan dengan berlimpahnya massa udara basah di bagian barat Indonesia, membantu menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan awan-awan badai berskala besar.

“Saat kejadian, citra satelit IR mengungkapkan bahwa suhu puncak awan mencapai minus 80 sampai dengan minus 85 derajat Celcius (warna violet), yang berarti terdapat butiran-butiran es di dalam awan tersebut (icing). Dengan menggunakan citra satelit visible, kita juga mendapatkan keterangan yang lebih jelas tentang identifikasi awan konvektif yang ada pada jalur penerbangan yang dilewati oleh AirAsia QZ 8501. Hal tersebut juga menunjukkan bukti bahwa ada beberapa puncak awan yang menjulang tinggi pada jalur penerbangan yang dilewati,” papar para peneliti tersebut.

Pasokan massa udara yang lemah dan kondisi labilitas atmosfer yang tidak cukup labil hingga lapisan atas, menunjukkan kemungkinan kalau turbulensi atau terjadinya badai besar menjadi diragukan.

Namun, kondisi angin geser (wind shear) yang kuat (70 Kt) antara lapisan bawah dan lapisan atas (tropopause) cukup signifikan dan menjadikan kondisi lingkungan yang kondusif untuk sel-sel konvektifitas berumur panjang dan kemungkinan dapat menjelaskan aktivitas awan-awan konvektif yang terjadi beberapa hari sebelumnya menjadi bersifat berkelanjutan di sekitaran Laut Jawa.

Lebih jauh, dalam analisis ini juga mengatakan kalau peristiwa tersebut bisa terjadi karena ketinggian lapisan tropopause yang cukup tinggi (56.000 feet), maka menyebabkan kondisi puncak awan mampu menjulang tinggi hingga mencapai 50.000 feet. Atas dasar analisis inilah mengapa BMKG melihat faktor cuaca buruk menjadi salah satu kemungkinan pemicu jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501.

(G09)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-faktor-cuaca-buruk-kemungkinan-menjadi-penyebab-kecelakaan-airasia/feed/ 0
Cuaca Buruk Masih Membayangi Selat Karimata Seminggu Kedepan https://www.greeners.co/berita/cuaca-buruk-masih-membayangi-selat-karimata-seminggu-kedepan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cuaca-buruk-masih-membayangi-selat-karimata-seminggu-kedepan https://www.greeners.co/berita/cuaca-buruk-masih-membayangi-selat-karimata-seminggu-kedepan/#respond Sun, 04 Jan 2015 07:52:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6982 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerangkan bahwa pada awal Januari 2015, diperkirakan akan kembali terbentuk awan kumulonimbus di perairan Malaysia yang bergerak menuju Selat Karimata sehingga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerangkan bahwa pada awal Januari 2015, diperkirakan akan kembali terbentuk awan kumulonimbus di perairan Malaysia yang bergerak menuju Selat Karimata sehingga berpotensi mengubah kondisi cuaca.

Kepala Pusat Data dan Informasi Publik BMKG, Mulyono R Prabowo, mengungkapkan, pada Selasa (06/01) mendatang, BMKG memperkirakan akan terjadi hujan dengan skala ringan dengan diikuti tinggi gelombang air laut yang mampu mencapai tiga meter di Selat Karimata.

“Ini masih bisa berubah karena fluktuatif cuaca yang sulit diprediksi,” ujar Mulyono saat dikonfirmasi oleh Greeners melalui sambungan telepon, Jakarta, Minggu (04/01).

Berdasarkan normal prakiraan curah hujan untuk 3 bulan ke depan, lanjutnya, puncak musim hujan khususnya wilayah Jawa akan terjadi pada bulan Januari dan Februari dengan curah hujan lebih dari 400 mm per bulan. Sedangkan untuk puncak musim hujan 2014/2015, diperkirakan akan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2015.

Puncak musim hujan ini, menurut Mulyono, juga akan meliputi wilayah Sawah Lunto, Solok, Tembilahan, Rengat, Sumatera Selatan bagian barat, sebagian besar Lampung, Bangka, sebagian besar Jawa, Bali, sebagian besar NTB, NTT, Kalimantan Barat bagian Utara, Kuala Kapuas, Banjarmasin, Kalimantan Selatan bagian timur, Pulau Laut, Barru, Pangkajene, Makasar, Sulawesi Tengah bagian barat, Gorontalo, Kendari, Pulau Buton, Pulau Seram bagian utara, Kepulauan Aru, dan Merauke.

“Puncak curah hujan tertinggi nantinya sebagian besar akan terjadi pada bulan Januari 2015,” katanya.

Prakiraan Gelombang Maksimum. Sumber: BMKG

Prakiraan Gelombang Maksimum. Sumber: BMKG

Terkait kasus kecelakaan yang terjadi pada pesawat AirAsia QZ8501, Mulyono juga menyarankan agar sebaiknya kru maskapai atau pilot bisa terlebih dahulu mengambil dokumen fisik informasi cuaca di kantor BMKG bandara setempat sebelum melakukan penerbangan. Dengan begitu, jelasnya, kru pesawat akan mendapat penjelasan langsung dari petugas BMKG terkait pengaruh cuaca dalam rencana penerbangan.

“Ini perlu agar BMKG bisa menjelaskan informasi cuaca saat pilot mengambil dokumen fisik tersebut. Petugas BMKG nantinya akan mengarahkan kalau ada angin maka jalur kanan atau kiri yang harus diambil, atau kondisi awan di tiap lapisan,” tambahnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, telah beredar laporan dari kepala BMKG, Andi Eka Satya kepada Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, yang menyebutkan bahwa kru AirAsia QZ8501 mengambil bahan informasi cuaca pada pukul 07.00 WIB sesudah pesawat berjenis Airbus 320 tersebut hilang kontak.

Padahal, seharusnya, kru pesawat mengambil dokumen fisik prakiraan cuaca penerbangan sebelum pesawat lepas landas. Namun, BMKG Bandar Udara Juanda di Sidoarjo menyatakan tim AirAsia jarang mengambil dokumen informasi cuaca secara langsung.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/cuaca-buruk-masih-membayangi-selat-karimata-seminggu-kedepan/feed/ 0