Garis Ekuator - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/garis-ekuator/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 16 Oct 2021 05:36:28 +0000 id hourly 1 BMKG : Gelombang Panas Tidak Terjadi di Indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/#respond Sat, 16 Oct 2021 05:36:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34102 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan informasi terkait gelombang panas melanda Indonesia yang ramai beredar di berbagai media sosial tidak benar. Kondisi suhu panas dan terik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan informasi terkait gelombang panas melanda Indonesia yang ramai beredar di berbagai media sosial tidak benar. Kondisi suhu panas dan terik saat ini tidak bisa bukan kategori gelombang panas.

Informasi yang menyebar di media sosial dan Whatapps menyebut kini cuaca sangat panas, suhu pada siang hari bisa mencapai 40 derajat Celcius. Masyarakat dalam pesan itu, harus menghindari minum es atau air dingin.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan, gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.

“Gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca (suhu) panas yang tidak biasa yang biasanya berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih,” kata Urip dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (16/10).

Hal tersebut mengacu pada kriteria Badan Meteorologi Dunia (WMO). Selain itu kelembapan udara yang tinggi menyertai terjadinya gelombang panas. Lalu suatu lokasi yang mengalami gelombang panas harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik.

“Misalnya 5 derajat celcius lebih panas, dari rata-rata klimatologis suhu maksimum dan setidaknya telah berlangsung dalam lima hari berturut-turut,” imbuhnya.

Urip menambahkan, apabila suhu maksimum tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama maka tidak bukan sebagai gelombang panas.

Hidrasikan tubuh

Hidrasikan tubuh saat cuaca terik. Foto: Shutterstock

Hanya Gerak Semu Matahari

Lebih lanjut Urip menjelaskan, gelombang panas umumnya terjadi berkaitan dengan berkembangnya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari.

Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya meningkat. Pusat tekanan atmosfer tinggi ini menyulitkan aliran udara dari daerah lain masuk ke area tersebut. Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area, semakin meningkat panas di area tersebut dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.

“Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari,” tegasnya.

Fenomena ini merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun. Akibatnya potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Saat ini, berdasarkan pantauan BMKG terhadap suhu maksimum di wilayah Indonesia, memang suhu tertinggi siang hari ini mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Tercatat suhu > 36 °C terjadi di Medan, Deli Serdang, Jatiwangi dan Semarang pada catatan meteorologis tanggal 14 Oktober 2021. Suhu tertinggi pada hari itu tercatat di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah I, Medan yaitu 37,0 °C.

Namun kata Urip, catatan suhu ini bukan merupakan penyimpangan besar dari rata-rata iklim suhu maksimum pada wilayah ini. Atau masih berada dalam rentang variabilitasnya di bulan Oktober. Setidaknya suhu maksimum yang meningkat dalam beberapa hari ini dapat disebabkan oleh beberapa hal.

Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Tak Alami Gelombang Panas

BMKG melihat pada bulan Oktober, kedudukan semu gerak matahari tepat di atas Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Gerakan ini dalam perjalanan menuju posisi 23 lintang selatan setelah meninggalkan ekuator.

Posisi semu matahari di atas Pulau Jawa akan terjadi 2 kali yaitu di bulan September atau Oktober serta Februari atau Maret. Oleh sebab itu, puncak suhu maksimum terasa di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur akan terjadi di seputar bulan-bulan tersebut.

Di samping itu, cuaca cerah juga menyebabkan penyinaran langsung sinar matahari ke permukaan lebih optimal sehingga terjadi pemanasan suhu permukaan. Kondisi tersebut berkaitan dengan adanya siklon tropis KOMPASU di Laut Cina Selatan bagian utara yang menarik masa udara dan pertumbuhan awan-awan hujan serta menjauhi wilayah Indonesia. Akibatnya cuaca di wilayah Jawa cenderung menjadi lebih cerah, berawan dalam beberapa hari terakhir.

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/feed/ 0
Amati Hari Tanpa Bayangan di Pulau Jawa Hingga Pekan Depan https://www.greeners.co/berita/amati-hari-tanpa-bayangan-di-pulau-jawa-hingga-pekan-depan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=amati-hari-tanpa-bayangan-di-pulau-jawa-hingga-pekan-depan https://www.greeners.co/berita/amati-hari-tanpa-bayangan-di-pulau-jawa-hingga-pekan-depan/#respond Sat, 09 Oct 2021 04:30:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34026 Jakarta (Greeners) – Selama sepekan ke depan 8 Oktober-14 Oktober 2021, masyarakat di Pulau Jawa akan menyaksikan hari tanpa bayangan di siang hari. Saat ini matahari berada di atas Pulau […]]]>

Jakarta (Greeners) – Selama sepekan ke depan 8 Oktober-14 Oktober 2021, masyarakat di Pulau Jawa akan menyaksikan hari tanpa bayangan di siang hari. Saat ini matahari berada di atas Pulau Jawa. Fenomena ini terjadi karena sumbu rotasi bumi yang miring 66,6° terhadap ekliptika.

Peneliti Pusat Riset Sains Antariksa Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang menjelaskan, dari kondisi tersebut membuat matahari tidak selalu berada di atas garis katulistiwa (lintang 0°).

Dalam posisi itu, matahari akan berada di lintang 23,4°LU (garis balik utara) hingga 23,4°LS (garis balik selatan). Kemudian, wilayah yang terletak di antara dua garis balik ini memungkinkan mengalami matahari tengah hari di atas tempatnya sebanyak dua kali setahun.

Sementara itu, untuk wilayah sekitar garis katulistiwa akan mengalami matahari di atas garis katulistiwa ketika ekuinoks Maret dan ekuinoks September.

“Pulau Jawa terletak di antara lintang 6°-8°LS atau berada di sebelah selatan garis katulistiwa. Sehingga, Matahari akan berada di atas Pulau Jawa beberapa hari setelah ekuinoks September dan beberapa hari sebelum ekuinoks Maret,” kata Andi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (8/10).

Hari Tanpa Bayangan Siang Hari

Selanjutnya Andi menyebut, dampak dari fenomena ini adalah ketika tengah hari, tidak ada bayangan yang terbentuk dari benda tegak tak berongga seperti tongkat, tiang dan lainnya. Oleh karenanya, fenomena ini disebut juga sebagai hari tanpa bayangan di Pulau Jawa.

Selain itu lanjutnya, saat tengah hari, ketika sinar matahari datang tegak lurus ke permukaan bumi, intensitas radiasi matahari akan maksimum. Sehingga, ketika tutupan awan sangat minim, suhu permukaan bumi saat siang hari akan maksimum.

“Hal ini tidak berlaku saat tutupan awan cukup besar sehingga suhu permukaan bumi cenderung menurun. Meskipun begitu hawa gerah tetap dapat dirasakan akibat berkurangnya kelembapan,” ungkapnya.

Hidrasi Kondisi Tubuh

Menyikapi hal tersebut, Andi mengimbau sobat antariksa dan masyarakat pada umumnya agar tidak panik. Kondisikan tubuh agar selalu terhidrasi dengan baik, dan menggunakan alat pelindung seperti tabir surya, payung, topi ataupun alat pelindung lainnya.

Lalu untuk mengecek hilangnya bayangan saat tengah hari ketika hari tanpa bayangan, siapkan benda tegak seperti tongkat, tiang, spidol, botol, dan lainnya.

Kemudian, letakkan benda di permukaan yang rata. Lalu jika tidak ada benda-benda pendukung, dapat menggunakan bandulan dalam keadaan seimbang. Selanjutnya, kalibrasikan jam untuk menandai waktu melalui http://jam.bmkg.go.id.

“Lalu amati bayangan yang dihasilkan oleh benda pada tanggal dan jam yang sudah ditentukan,” imbuhnya.

Masyarakat di Pulau Jawa dan Madura dapat menyaksikan hari tanpa bayangan dengan waktu dan hari yang berbeda-beda. Untuk kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dan Banten masyarakat dapat mengamatinya sebagai berikut:

Jakarta : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.39.54 WIB
Bogor : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.39.51 WIB
Depok : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.39.57 WIB
Tangerang Kota : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.40.45 WIB
Bekasi Kota : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.39.19 WIB
Merak : Jumat, 08 Oktober 2021 pukul 11.43.34 WIB
Serang : Jumat, 08 Oktober 2021 pukul 11.42.55 WIB

Di Jawa Barat 

Karawang : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.37.52 WIB
Indramayu : Sabtu, 09 Oktober 2021 pukul 11.34.00 WIB
Subang : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.36.01 WIB
Sumedang : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.35.02 WIB
Cirebon : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.32.47 WIB
Pelabuhan Ratu : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.40.32 WIB
Sukabumi : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.39.02 WIB
Bandung : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.36.19 WIB
Garut : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.34.56 WIB
Tasikmalaya : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.33.37 WIB
Banjar : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.32.21 WIB
Pangandaran : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.31.39 WIB
Pameungpeuk : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.35.42 WIB

Hari Tanpa Bayangan Di Jawa Tengah dan DIY

Karimunjawa : Jumat, 08 Oktober 2021 pukul 11.25.47 WIB
Losari : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.31.45 WIB
Tegal : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.30.27 WIB
Pekalongan : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.28.19 WIB
Jepara : Minggu, 10 Oktober 2021 pukul 11.24.17 WIB
Semarang : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.25.07 WIB
Purwodadi : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.23.05 WIB
Lasem : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.21.12 WIB
Majenang : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.31.26 WIB
Purbalingga : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.29.02 WIB
Wonosobo : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.26.53 WIB
Magelang : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.25.38 WIB
Surakarta : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.23.10 WIB
Cilacap : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.30.05 WIB
Kebumen : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.27.31 WIB
Yogyakarta : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.24.27 WIB
Wonogiri : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.22.25 WIB

Hari Tanpa Bayangan Di Jawa Timur dan Madura

Bojonegoro : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.19.13 WIB
Lamongan : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.17.05 WIB
Surabaya : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.15.44 WIB
Sampang : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.13.48 WIB
Sumenep : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.11.18 WIB
Kep. Kangean : Senin, 11 Oktober 2021 pukul 11.04.45 WIB
Madiun : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.20.24 WIB
Nganjuk : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.18.53 WIB
Jombang : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.17.34 WIB
Pasuruan : Selasa, 12 Oktober 2021 pukul 11.14.54 WIB
Ponorogo : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.20.24 WIB
Kediri : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.18.11 WIB
Malang : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.15.44 WIB
Bondowoso : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.10.59 WIB
Situbondo : Rabu, 13 Oktober 2021 pukul 11.10.13 WIB
Pacitan : Rabu, 14 Oktober 2021 pukul 11.21.44 WIB
Trenggalek : Rabu, 14 Oktober 2021 pukul 11.19.12 WIB
Blitar : Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 11.17.21 WIB
Kepanjen : Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 11.15.44 WIB
Lumajang : Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 11.13.07 WIB
Jember : Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 11.11.13 WIB
Banyuwangi : Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 11.08.35 WIB

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/amati-hari-tanpa-bayangan-di-pulau-jawa-hingga-pekan-depan/feed/ 0
Garis Ekuator Pengaruhi Perubahan Cuaca di Daerah https://www.greeners.co/berita/garis-ekuator-pengaruhi-perubahan-cuaca-di-daerah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=garis-ekuator-pengaruhi-perubahan-cuaca-di-daerah https://www.greeners.co/berita/garis-ekuator-pengaruhi-perubahan-cuaca-di-daerah/#respond Tue, 21 Jul 2020 05:00:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=27942 BMKG menyebut lokasi Indonesia yang berada di garis ekuator menyebabkan terjadinya dinamika cuaca yang kontras di berbagai daerah.]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut lokasi Indonesia yang berada di garis ekuator menyebabkan dinamika cuaca di berbagai daerah. Perubahan tersebut ditandai dengan perbedaan musim yang kontras di sejumlah wilayah dan di saat bersamaan.

“Pada saat musim kemarau melanda hampir di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan, wilayah bagian tengah mulai dari Sulawesi Tengah, Maluku hingga Papua bagian utara malah berpotensi mendapatkan curah hujan relatif tinggi dalam dua dasarian ke depan,” ucap BMKG Dwikorita Karnawati dalam rilis resminya pada Senin, 20 Juli 2020.

Deputi Klimatologi BMKG Herizal mengatakan keragaman iklim tersebut menyebabkan tiga pola hujan yang berbeda, yaitu pola hujan monsun, ekuatorial, dan lokal. Tipe curah hujan monsun dicirikan dengan satu puncak musim hujan dan kemarau (unimodal). “Puncak musim hujan umumnya antara Desember, Januari, atau Februari dan puncak musim kemarau pada Juni, Juli, Agustus,” ujarnya.

Baca juga: Pembukaan Lahan Penyebab Banjir di Luwu Utara

Sementara wilayah dengan pola hujan ekuatorial mendapatkan hujan hampir sepanjang tahun dengan dua puncak hujan dalam setahun (bimodal). Menurutnya, pola hujan tersebut biasa terjadi pada Maret dan Oktober atau pada saat terjadi ekuinoks matahari. Sedangkan pola lokal dicirikan oleh distribusi hujan yang berkebalikan dengan pola monsun dengan puncak unimodal.

“Pola iklim antara Jawa secara umum dengan Luwu Utara yang terdampak banjir saat ini, berada pada pola iklim yang berbeda tersebut,” kata dia.

Banjir

Banjir. Ilustrasi: shutterstock

Pemantauan BMKG terhadap perkembangan musim kemarau hingga pertengahan Juli mencatat dari 342 daerah zona musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 64 persen di antaranya telah memasuki musim kemarau. Daerah-daerah tersebut adalah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Bara, Bali, Jawa Timur, sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Barat, DKI Jakarta bagian barat dan timur. Berikutnya pesisir utara Banten, pesisir timur Jambi, Riau dan Aceh, Sumatera Utara bagian tengah, utara dan timur, Kalimantan Selatan bagian barat, Kalimantan Tengah bagian timur.

Baca juga: Sampah Plastik Mendominasi TPST Bantar Gebang

Untuk wilayah Sulawesi meliputi Sulawesi Barat bagian selatan, Pesisir barat Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan. Sedangkan di timur Indonesia mencakup Maluku bagian barat, Papua Barat bagian timur, serta Papua bagian tengah, selatan maupun utara.

Menurut Herizal dari area yang telah memasuki musim kemarau, 30 persen ZOM mengalami kondisi kering berdasarkan indikator Hari Tanpa Hujan berturut-turut (HTH). Durasinya musim kemarau bervariasi antara 21 sampai 30 hari, 31 sampai 60 hari, dan di atas 61 hari. “HTH terpanjang terjadi di Oepoi, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur selama 70 hari,” kata Herizal.

Waspada Potensi Banjir

Menurut Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG, Nasrullah, sejumlah wilayah berpotensi mengalami banjir. Prakiraan tersebut berdasarkan penggabungan data curah hujan probabilistik dengan peta daerah rawan banjir.

Ia mengatakan sebagian Sulawesi Tengah dan Papua berpotensi terkena banjir dengan peluang kategori tinggi. Sementara potensi banjir dengan peluang kategori menengah terdapat di sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi,  Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. “Pada dasarian I Agustus, sebagian Papua Barat berpotensi banjir kategori menengah”, kata dia.

Dwikorita menambahkan untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, lima Balai Besar BMKG menyebarluaskan peringatan dini ke masyarakat. Badan meteorologi bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta jaringan radio setempat. “Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG membuka layanan informasi cuaca 24 jam,” ucapnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/garis-ekuator-pengaruhi-perubahan-cuaca-di-daerah/feed/ 0