Hari Konservasi Alam Nasional - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hari-konservasi-alam-nasional/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 03 Sep 2024 06:03:01 +0000 id hourly 1 79 Ekor Burung Dilepasliarkan di Kebun Raya Indrokilo Boyolali https://www.greeners.co/aksi/79-ekor-burung-dilepasliarkan-di-kebun-raya-indrokilo-boyolali/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=79-ekor-burung-dilepasliarkan-di-kebun-raya-indrokilo-boyolali https://www.greeners.co/aksi/79-ekor-burung-dilepasliarkan-di-kebun-raya-indrokilo-boyolali/#respond Tue, 03 Sep 2024 05:23:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44645 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melepasliarkan 79 ekor burung di Kebun Raya Indrokilo, Kabupaten Boyolali, pada Kamis (29/8). Acara ini merupakan bagian kegiatan dalam rangka peringatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melepasliarkan 79 ekor burung di Kebun Raya Indrokilo, Kabupaten Boyolali, pada Kamis (29/8). Acara ini merupakan bagian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2024.

Menteri LHK Siti Nurbaya memimpin acara pelepasliaran 79 ekor burung tersebut. Terdapat lima jenis burung yang berbeda. Di antaranya 30 burung perkutut jawa (Geopelia striata), 10 burung kepudang kuduk hitam (Oriolus chinensis), 15 burung kerak kerbau (Acridotheres javanicus), 14 ekor merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), dan 10 ekor cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster).

Siti mengatakan bahwa sebelum pelepasliaran semua burung telah menjalani pemeriksaan kesehatan yang ketat. Burung-burung tersebut juga telah melewati proses habituasi di Kebun Raya Indrokilo.

KLHK memilih Kebun Raya Indrokilo sebagai lokasi pelepasliaran karena luasnya yang memadai dan ketinggiannya yang ideal, yaitu antara 275 hingga 300 meter di atas permukaan laut.

“Ini untuk memastikan bahwa satwa yang dilepasliarkan mampu beradaptasi dengan baik di habitat barunya. Sehingga, mereka bisa memperkuat populasi di alam liar,” jelasnya.

BACA JUGA: BKSDA Aceh Lepasliarkan 1.107 Ekor Tukik Tuntong Laut

Ia juga menambahkan bahwa pengelolaan keanekaragaman hayati perkotaan tidak hanya melestarikan satwa dan tumbuhan. Hal itu dapat menciptakan lingkungan kota yang lebih berkelanjutan, sehat, dan menyenangkan untuk dihuni.

Setelah pelepasliaran, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah bersama mitra akan melakukan monitoring selama beberapa bulan ke depan. Tujuan dari monitoring ini adalah untuk mengamati perkembangan burung-burung pascapelepasliaran. Mereka juga akan memastikan keberhasilan pelepasliaran serta mendapatkan data mengenai adaptasi satwa di lingkungan barunya.

“Harapannya pelepasliaran ini dapat meningkatkan populasi burung di Kebun Raya Indrokilo. Sehingga, bisa menjadi langkah nyata dalam upaya konservasi di tingkat lokal,” ungkap Siti.

Pelepasliaran 79 ekor burung di Kebun Raya Indrokilo, Kabupaten Boyolali. Foto: KLHK

Pelepasliaran 79 ekor burung di Kebun Raya Indrokilo, Kabupaten Boyolali. Foto: KLHK

Cetak Generasi Muda Cinta Lingkungan

Dalam kesempatan tersebut, Siti juga menyerukan agar Puncak Peringatan HKAN 2024 di Boyolali dapat mencetak generasi muda yang cinta lingkungan.

“Mari kita cetak generasi muda yang cinta lingkungan dari HKAN 2024 Boyolali,” serunya.

Ia menjelaskan bahwa di tengah krisis global seperti perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi yang meningkat, keterlibatan seluruh elemen bangsa sangat penting. Menurutnya, Indonesia telah berkomitmen kuat dalam menangani perubahan iklim.

Komitmen tersebut tercantum melalui Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC). Ada pula kebijakan jangka panjang menuju net-zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.

BACA JUGA: 28 Satwa Liar Dilepasliarkan di TN Bukit Barisan Selatan

Dalam bidang keanekaragaman hayati, Indonesia terus berkomitmen untuk mencapai visi 2050 “Living in Harmony with Nature”. Visi itu KLHK adopsi dalam Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF).

“Upaya ini mencakup tindakan korektif untuk mengurangi risiko kepunahan spesies dan mempertahankan keanekaragaman genetik. Selain itu, upaya ini juga melibatkan pengelolaan interaksi manusia-satwa liar untuk meminimalkan konflik,” imbuhnya.

Sebagai wujud nyata dari keberhasilan konservasi, Siti dengan bangga mengumumkan kelahiran enam ekor anggota baru dari beberapa spesies kunci yang dilindungi di kawasan konservasi Indonesia.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/79-ekor-burung-dilepasliarkan-di-kebun-raya-indrokilo-boyolali/feed/ 0
HKAN 2023, Menteri LHK Berikan 18 Anugerah Konservasi Alam https://www.greeners.co/berita/hkan-2023-menteri-lhk-berikan-18-anugerah-konservasi-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hkan-2023-menteri-lhk-berikan-18-anugerah-konservasi-alam https://www.greeners.co/berita/hkan-2023-menteri-lhk-berikan-18-anugerah-konservasi-alam/#respond Fri, 10 Nov 2023 06:49:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42225 Jakarta (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, memberikan Anugerah Konservasi Alam kepada 18 penerima. Mereka terbukti berperan serta dalam pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan, khususnya bidang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, memberikan Anugerah Konservasi Alam kepada 18 penerima. Mereka terbukti berperan serta dalam pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan, khususnya bidang konservasi sumber daya alam dan ekosistem.

Para penerima Anugerah Konservasi Alam tersebut berasal dari berbagai unsur, baik perorangan, kelompok, pemerintah daerah, dan badan usaha. Penghargaan diberikan saat penyelenggaraan Puncak Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2023. Acara tersebut terselenggara di Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (8/11).

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko juga ikut memberikan apresiasi kepada 66 penerima. Mereka ialah perorangan, kelompok masyarakat binaan UPT Ditjen KSDAE, UPT Lingkup Ditjen KSDAE, pemerintah daerah, dan badan usaha.

BACA JUGA: Bulbophyllum wiratnoi, Anggrek Endemik dari Papua Barat

Dalam sambutannya, Menteri Siti berharap penyelenggaraan HKAN Tahun 2023 dapat menguatkan kesadaran pentingnya menjaga hidup selaras dengan alam.

“Para leluhur kita dengan kesederhanaan dan kearifannya telah memiliki kesadaran itu. Kemudian, memberikan begitu banyak teladan bagaimana hidup berharmoni dengan alam,” ujarnya.

Lebih lanjut, Menteri Siti mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan dapat memperjelas bagaimana hubungan timbal balik antara manusia dengan alam.

“Bagaimana peran manusia dan apa yang akan terjadi, jika kemajuan manusia tidak memperhatikan keselarasan dengan alam,” tambah Siti.

Menteri Siti Meluncurkan Desa Tahawa

Pada kesempatan ini, Menteri Siti juga meluncurkan Desa Tahawa sebagai Desa Ramah Satwa. Hal itu sekaligus simbolis pelepasliaran satwa di Desa Tahawa. Kemudian, Siti juga meluncurkan Buku 55 Taman Nasional, serta penandatanganan sampul perangko maskot Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Ada pula penyerahan Surat Keputusan tentang Penetapan Tahura Isen Mulang Sebangau Berkah.

Menteri Siti mengatakan, HKAN 2023 merupakan momen memaknai nilai penting. Terutama untuk tetap melindungi keberadaan keanekaragaman hayati sebagai penyokong kehidupan masyarakat.

BACA JUGA: Penemuan Spesies Baru Dorong Peneliti Gali Keanekaragaman Hayati

Ia berharap upaya merawat dan hidup berdampingan dengan tumbuhan maupun satwa liar secara harmonis akan meluas. Hal itu seiring dengan tumbuhnya perubahan perilaku konservasi di tengah-tengah masyarakat.

Dalam laporannya, Satyawan menyampaikan peringatan HKAN adalah kegiatan rutin tahunan dalam rangka mengkampanyekan konservasi alam kepada masyarakat luas.

“Peringatan HKAN bertujuan untuk memasyarakatkan konservasi alam secara nasional, sebagai sikap hidup dan budaya bangsa. Lalu, menjaga kesinambungan kegiatan konservasi alam sebagai upaya perlindungan sumber daya alam dan ekosistemnya sebagai sistem penyangga kehidupan,” lanjut Satyawan.

Kegiatan HKAN 2023 Beragam

Rangkaian kegiatan pada acara puncak peringatan HKAN kali ini juga beragam. Di antaranya Jambore Konservasi Alam, Pameran Konservasi Alam dan UMKM, serta talkshow “Sahabat Satwa untuk Alam Harmonis dan Lestari”.

Kemudian, ada pula pelepasliaran tiga ekor elang brontok (Nisaetus cirrhatus). Dua di antaranya merupakan pasangan, satu ekor enggang, atau kangkareng  perut putih (Anthracoceros albirostris). Lalu, satu elang tikus (Elanus caeruleus) di hutan desa Tahawa, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau.

Sebelumnya, sepasang elang brontok tersebut telah melalui rehabilitasi di Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) di Jawa Barat. Untuk satu elang brontok direhabilitasi di Pusat Pusat Suaka Elang Jawa (PSSEJ), di Loji Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/hkan-2023-menteri-lhk-berikan-18-anugerah-konservasi-alam/feed/ 0
Pakar : Buta Flora Ancam Kepunahan Tumbuhan dan Kerusakan Alam https://www.greeners.co/berita/pakar-buta-flora-ancam-kepunahan-tumbuhan-dan-kerusakan-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pakar-buta-flora-ancam-kepunahan-tumbuhan-dan-kerusakan-alam https://www.greeners.co/berita/pakar-buta-flora-ancam-kepunahan-tumbuhan-dan-kerusakan-alam/#respond Wed, 10 Aug 2022 05:57:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36982 Jakarta (Greeners) – Tumbuhan di alam memiliki peranan penting untuk seluruh kehidupan makhluk hidup di dunia. Tak sekadar sumber pangan, tapi sebagai penyerap karbon dioksida yang mengubahnya menjadi oksigen sehingga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tumbuhan di alam memiliki peranan penting untuk seluruh kehidupan makhluk hidup di dunia. Tak sekadar sumber pangan, tapi sebagai penyerap karbon dioksida yang mengubahnya menjadi oksigen sehingga membuat udara lebih bersih.

Selain itu, tumbuhan berperan penting sebagai tempat bernaung beragam satwa sekaligus sebagai “pabrik” penyedia obat, nutrisi, perlindungan bencana alam, hingga nilai estetis yang tinggi. Sebagai penumpu kehidupan, manfaat tumbuhan sangat besar terhadap kehidupan.

“Kalau tidak ada tumbuhan dan tanaman maka tak ada lagi kehidupan lain di dalamnya. Rantai makanan akan terputus dan makhluk hidup punah,” ujar pakar biodiversitas Endang Sukara kepada Greeners baru-baru ini.

Lebih jauh ia menyatakan Indonesia memiliki keanekaragaman biodiversitas yang tinggi dan endemis. Hampir 60 persen tumbuhan di Indonesia tidak negara lain miliki. Ia menyebut peran tumbuhan sangatlah krusial, utamanya bagi keberlanjutan makhluk hidup, seperti hewan dan manusia.

Mengingat peran pentingnya, sudah idealnya jika manusia lebih menghargai tumbuhan (flora). Ironisnya, masih banyak masyarakat yang tak sadar dan peduli terhadap tumbuhan dan tanaman. Endang menyebut, ketidakpedulian ini berbanding lurus dengan ketidakpedulian terhadap konservasi.

Istilah Buta Flora Muncul di Tahun 1998

Di tahun 1998, Wandersee dan Schussler memperkenalkan istilah ‘buta flora’. Mereka mendefinisikan kebutaan tumbuhan dan tanaman secara luas. Tepatnya kondisi ketidakmampuan untuk memperhatikan tumbuhan dan tanaman di lingkungan sendiri.

Kondisi ini juga mencakup ketidakmampuan untuk mengenali fitur biologis estetis dan pentingnya tumbuhan dalam biosfer kehidupan.

Tak hanya itu, Wandersee dan Schussler serta para pendidik biologi juga menemukan fakta menarik. Fakta itu menyebut, sebagian siswa biologi lebih suka mempelajari hewan daripada tumbuhan dan tanaman.

Mengacu daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) 2021, Indonesia masuk dalam negara yang memiliki spesies tumbuhan punah serta terancam kritis di dunia. Setidaknya terdapat 201 spesies tumbuhan punah secara global dan terancam kritis berjumlah 545 spesies.

Sementara Indonesia berada pada urutan kelima dari negara kehilangan spesies tumbuhan terbanyak, yaitu 36 spesies. Satu spesies telah dinyatakan punah dan dua spesies punah di alam, sedangkan 33 lainnya terancam kritis.

Endang menyebut, terancamnya flora ini karena berbagai faktor alami maupun ulah manusia. Faktor alami seperti kejadian bencana banjir, tanah longsor. Sedangkan faktor manusia antara lain deforestasi, alih fungsi lahan, hingga eksploitasi berlebihan.

“Tentu kita tak ingin jika akibat buta flora ini berimbas memperparah kerusakan alam. Kita bisa mengendalikan kerusakan yang berasal dari faktor manusia” tandasnya.

Bermain di Ruang Terbuka Hijau Tingkatkan Imun Anak

Penelitian menemukan anak-anak yang bermain di ruang terbuka hijau memiliki imun yang lebih baik. Foto: Shutterstock.

Edukasikan Nilai Penting Konservasi Tumbuhan

Oleh sebab itu, Endang mendorong, optimalisasi edukasi nilai konservasi dan pemanfaatan flora melalui peran kebun raya yang selama ini sebagai pusat koleksi tanaman. Penting, sambungnya untuk memastikan keterbukaan informasi terkait hal tersebut kepada masyarakat.

“Jangan malah khawatir koleksi akan terancam jika kita membeberkan manfaat nilainya. Itu bagian terpenting dari edukasi,” imbuhnya.

Pernyataan Endang ini menjadi refleksi peringatan Hari Konservasi Alam Nasional setiap 10 Agustus. Ia mengingatkan agar peringatan penting ini tak sekadar seremonial belaka, tapi mampu menyadarkan akan kepedulian terhadap alam.

Senada dengan itu Pengkampanye Hutan dan Kebun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Uli Arta Siagian menyatakan, peringatan Hari Konservasi Alam Nasional menjadi momen untuk merefleksikan sejauh mana tindakan-tindakan kita untuk melindungi flora dan fauna, termasuk hutan sebagai habitat mereka.

Saat ini Indonesia kehilangan satu juta hektare hutan setiap tahun karena berbagai faktor, termasuk deforestasi. Hutan, lanjutnya tak sekadar sebagai habitat flora dan fauna, tapi sekaligus ekosistem yang menghubungkan relasi dengan manusia.

“Seperti relasi sosial rakyat, relasi budaya hingga religius. Di dalam relasi ini terdapat juga pengetahuan sehingga dapat dipelajari secara menyeluruh oleh manusia,” paparnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/pakar-buta-flora-ancam-kepunahan-tumbuhan-dan-kerusakan-alam/feed/ 0
Acara Puncak HKAN; Lepas Liar Satwa dan Piagam Cagar Biosfer Blambangan https://www.greeners.co/berita/acara-puncak-hkan-lepas-liar-satwa-dan-piagam-cagar-biosfer-blambangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=acara-puncak-hkan-lepas-liar-satwa-dan-piagam-cagar-biosfer-blambangan https://www.greeners.co/berita/acara-puncak-hkan-lepas-liar-satwa-dan-piagam-cagar-biosfer-blambangan/#respond Fri, 11 Aug 2017 10:22:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18135 Situbondo (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, melepas liar satwa dilindungi pada puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) […]]]>

Situbondo (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, melepas liar satwa dilindungi pada puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang digelar di Taman Nasional Hutan Baluran, Situbondo, Jawa Timur.

Satwa-satwa yang dilepas liarkan tersebut adalah lima ekor Merak Hijau, empat ekor Elang Alap Jambul dan satu Elang Brontok. Ke-10 satwa tersebut merupakan hasil sitaan dan penyerahan masyarakat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali dan Jogjakarta yang telah direhabilitasi oleh Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Bali dan Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY).

“Saya optimis satwa-satwa dilindungi ini bisa bertahan hidup dan berkembang biak setalah melalui rehabilitasi sebelum dilepasliarkan,” terangnya kepada wartawan, Situbondo, Kamis (10/08).

BACA JUGA : Jambore Nasional Konservasi Alam 2017 Ajang Silaturahmi Kader Konservasi

Selain melepas liar satwa, Siti juga menyerahkan piagam penetapan Cagar Biosfer (Biosphere Reserves) dunia yang termasuk didalamnya beberapa kawasan yaitu Taman Nasional Alas Purwo, Taman Wisata Alam Gunung Ijen, Taman Nasional Meru Betiri, dan Taman Nasional Baluran yang semuanya ditetapkan sebagai sebagai Cagar Biosfer Blambangan.

lepas liar satwa

Merak sebelum dilepas liarkan. Foto : www.greeners.co/Danny Kosasih

Cagar Biosfer merupakan situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerja sama program MAB-UNESCO untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan. Piagam tersebut diserahkan Siti kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Bupati Situbondo Dadang Wigiarto.

Sebelumnya, penetapan Cagar Biosfer Blambangan dilakukan pada sidang International Coordinating Council (ICC) Program MAB (Man and The Biosphere) UNESCO ke 28 di Kota Lima, Peru, 2016 lalu. Cagar Alam Blambangan menjadi Cagar Biosfer ke 11 yang dimiliki Indonesia.

Penulis : Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/acara-puncak-hkan-lepas-liar-satwa-dan-piagam-cagar-biosfer-blambangan/feed/ 0