Kepunahan Hewan Penyerbuk Bakal Picu Krisis Pangan

Reading time: 2 menit
Perubahan iklim ancam kepunahan hewan penyerbuk yang bisa memicu krisis pangan. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Pakar Pertanian Wisnu Ardana memperingatkan ancaman tanaman mengalami kekeringan hingga gagal panen karena dampak perubahan iklim. Target produksi tanaman pangan pun sulit tercapai jika kondisi ini terus terjadi. Ancaman krisis pangan pun bakal meningkat.

“Target-target produksi khususnya padi, palawija hingga hortikultura tak tercapai. Padahal di lain pihak kebutuhan pangan akan terus meningkat seiring peningkatan jumlah penduduk,” katanya kepada Greeners, Sabtu (11/6).

Ia menyatakan, pada tahun 2022 Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi akan terjadi musim hujan berkepanjangan. Padahal bulan Maret seharusnya sudah memasuki musim kemarau.

Ini akan berimbas pada prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan ekstrem pada tahun 2023 nanti. “Sehingga akan mengganggu usaha tani karena usaha tani bergantung pada irigasi yang memadai,” imbuhnya.

Ia menekankan pentingnya upaya antisipasi, seperti penyediaan cadangan pangan baik oleh bulog maupun rumah tangga. Masyarakat, sambung dia juga perlu didorong untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dengan pengembangan pertanian di lahan pekarangan melalui sistem hidroponik hingga tabulampot.

Ketahanan pangan keluarga dioptimalkan dengan menanam sendiri kebutuhan pangan sehari-hari di pekarangan sendiri sehingga tak bergantung sepenuhnya dengan pasokan pangan yang ada,” ucapnya.

Wisnu juga menambahkan, pentingnya penyediaan sumber-sumber irigasi untuk memenuhi ketersediaan yang ada. Misalnya dam parit, bendungan, embung, hingga pompa-pompa air.

Kepunahan Hewan Penyerbuk Tanaman

Sebelumnya pakar pertanian IPB Damayanti Buchori mengingatkan potensi kepunahan hewan penyerbuk tanaman pangan di Indonesia. Jenis hewan penyerbuk seperti lebah, burung, hingga kelelawar dapat mempengaruhi ketersediaan pangan di masa depan.

Damayanti menambahkan, di beberapa negara Eropa dan Amerika telah ditemukan fakta adanya penurunan populasi lebah yang kemudian dikenal dengan “Global Pollinator Decline”. “Padahal lebih dari 75 persen tanaman pangan membutuhkan hewan penyerbuk untuk menghasilkan buah,” katanya seperti dikutip dari berbagai sumber.

Kekurangan tanaman pangan akan berdampak buruk, misalnya memicu krisis dunia hingga peperangan antar negara. Ia memperingatkan apabila tidak ada tindakan nyata dari penduduk dunia untuk menjaga lingkungan hidup maka 50 tahun ke depan akan terjadi kerusakan besar yang merugikan manusia.

Hilangnya hewan penyerbuk ini karena habitatnya mulai terganggu ulah manusia. Misalnya mulai dari banjir dan kekeringan. Saat ini perlu kearifan manusia dalam menyikapi kondisi krisis di bumi. “Yang kita perlukan adalah ‘political will’, kemauan untuk menjalankan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability),” tegasnya.

Percepat Teknologi Pemuliaan Tanaman Atasi Krisis Pangan

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Puji Lestari menilai, perubahan iklim berdampak buruk, utamanya hilangnya biodiversitas dan sumber pangan. Oleh karena itu perlu percepatan inovasi dan teknologi pemuliaan tanaman guna menciptakan lebih banyak varietas unggul, utamanya pada komoditas pertanian.

“Pencapaian komoditas pertanian yang berkelanjutan harus ditopang oleh pengembangan inovasi teknologi yang tepat sasaran serta aplikatif. Lalu mudah khalayak umum peroleh” katanya.

Penggabungan teknologi melalui pemuliaan dan transdisiplin dapat menghasilkan bibit-bibit unggul hortikultura dan perkebunan yang berkualitas. “Dengan teknologi yang terukur ini maka akan menghasilkan ekspansi ekonomi yang lebih luas,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page