Populasi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/populasi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 16 Jul 2023 06:06:59 +0000 id hourly 1 Pembangunan Berkelanjutan Jamin Kelanggengan Hidup Manusia https://www.greeners.co/berita/pembangunan-berkelanjutan-jamin-kelanggengan-hidup-manusia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pembangunan-berkelanjutan-jamin-kelanggengan-hidup-manusia https://www.greeners.co/berita/pembangunan-berkelanjutan-jamin-kelanggengan-hidup-manusia/#respond Sun, 16 Jul 2023 06:06:59 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40821 Jakarta (Greeners) – Penambahan populasi manusia akan memberi tekanan pada kualitas lingkungan. Oleh karena itu, manusia juga perlu menyeimbangkan aktivitasnya agar lingkungan dan alam bisa berkelanjutan. Menurut data Badan Pusat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Penambahan populasi manusia akan memberi tekanan pada kualitas lingkungan. Oleh karena itu, manusia juga perlu menyeimbangkan aktivitasnya agar lingkungan dan alam bisa berkelanjutan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Indonesia kini telah mencapai 278,69 juta jiwa pada pertengahan tahun 2023. Angka tersebut naik 1,05 % dari tahun sebelumnya. Pada pertengahan tahun 2022, jumlah penduduk di Indonesia hanya 275,77 juta jiwa.

Hari populasi sedunia yang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetapkan pada setiap 11 Juli menjadi salah satu momentum memikirkan solusi bersama mencapai kehidupan sejahtera dan penuh keselarasan antara bumi dengan manusia.

Saat ini jumlah populasi manusia di bumi mencapai 8 miliar jiwa. India menjadi negara terpadat di dunia hampir 1,42 miliar penduduk. Indonesia menempati posisi keempat dengan total penduduk 278 juta jiwa.

Menurut Jurnal Kependudukan dan Pembangunan Lingkungan (JKPL), dengan pertumbuhan penduduk yang semakin cepat, akan memberi tekanan terhadap sumber daya alam. Seperti meningkatnya kebutuhan pangan, air bersih, permukiman, dan sebagainya. Alhasil menimbulkan ketidakseimbangan antara persediaan sumber daya alam dengan kebutuhan manusia.

Pengamat Tata Kota Nirwono Joga menilai, dengan bertambahnya populasi di dunia akan memengaruhi lingkungan secara signifikan.

“Ya jelas, manusia membutuhkan air bersih, energi listrik, pangan dan lainnya. Sehingga, dengan bertambahnya populasi dunia maka kebutuhan tersebut juga akan terus bertambah, sementara kemampuan dan ketersediaanya terbatas,” kata Nirwono kepada Greeners di Jakarta, Sabtu (15/7).

Jika populasi terus bertambah dan sumber daya di bumi terbatas menyebabkan eksploitasi alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sebab manusia masih bergantung pada alam. Oleh sebab itu jangan semena-mena pada alam.

Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan

Menurut Nirwono, guna menjamin keberlangsungan hidup manusia yang layak perlu pembangunan berkelanjutan. Bukan bermanfaat untuk manusia saja, langkah ini sekaligus bisa menyelamatkan lingkungan dari ledakan populasi yang terus meningkat.

Pemerintah berperan penting dalam hal ini. Nirwono menyarankan, pemerintah untuk menyediakan ketersediaan kebutuhan manusia dalam jangka waktu yang panjang untuk mengantisipasi pertambahan populasi. Misalnya membangun bendungan untuk cadangan air, pembangkit listrik, dan pengairan pertanian.

Saran selanjutnya, pemerintah perlu membangun pembangkit energi baru terbarukan (ladang surya, gelombang laut, angin) serta mengembangkan teknologi pangan dan diversifikasi pangan.

Di samping itu, program keluarga berencana (KB) yang dirancang oleh pemerintah juga bisa menjadi solusi dalam menjaga pertumbuhan jumlah penduduk. Masyarakat pun berlu memulai gaya hidup ramah lingkungan supaya ada keseimbangan antara jumlah populasi dengan kelestarian lingkungan.

Kelangkaan sumber air bersih jadi permasalahan serius bagi manusia. Foto: Shutterstock

IKN Wajah Baru Indonesia

Wajah Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi babak baru bagi Indonesia. Target populasi di IKN mencapai 1,5 juta jiwa di tahun 2045 ini tentu akan membutuhkan air bersih, pangan, dan energi listrik yang berdampak pada perubahan lingkungan, lanjut Nirwono.

IKN memiliki delapan prinsip dalam pembangunannya, salah satunya yaitu akan mendesain sesuai kondisi alam. Pembangunan ditargetkan 75 % menjadi kawasan hijau, 100 % penduduk dapat mengakses ruang terbuka hijau rekreasi dalam 10 menit, dan 100 % kontruksi ramah lingkungan pada setiap bangunan.

“Kita akan lihat apakah ada terobosan untuk pemenuhannya apalagi mereka mengusung konsep smart green resilient and sustainable,” tegas Nirwono.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/pembangunan-berkelanjutan-jamin-kelanggengan-hidup-manusia/feed/ 0
Buka Data Valid Populasi Orangutan di Indonesia https://www.greeners.co/berita/buka-data-valid-populasi-orangutan-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=buka-data-valid-populasi-orangutan-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/buka-data-valid-populasi-orangutan-di-indonesia/#respond Sun, 02 Oct 2022 05:00:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37515 Jakarta (Greeners) – Perbedaan dalam dunia penelitian hal yang lumrah. Namun silang pendapat ini harus disanggah dengan data valid. Jangan sampai kerja ilmiah terpasung oleh pencekalan. Termasuk dalam silang pendapat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perbedaan dalam dunia penelitian hal yang lumrah. Namun silang pendapat ini harus disanggah dengan data valid. Jangan sampai kerja ilmiah terpasung oleh pencekalan. Termasuk dalam silang pendapat populasi orangutan di Indonesia baru-baru ini.

Belum lama ini santer informasi adanya pencekalan peneliti asing Erik Meijaard dan sejumlah rekannya oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tulisannya di sebuah surat kabar berbahasa Inggris di Jakarta terkait populasi orangutan dinilai mendiskreditkan pemerintah.

Surat edaran pencekalan tersebut tertuang dalam surat Nomor S.1447/MENLHK-KSDAE/KHSS/KSA.2/9/2022 yang ditembuskan kepada seluruh Balai Taman Nasional dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Dalam opininya di surat kabar tersebut, Erik mempertanyakan klaim KLHK terhadap kenaikan populasi tiga spesies orangutan Indonesia. Spesies itu antara lain Pongo abelii, Pongo pygmaeus, serta Pongo tapanuliensis yang terus bertambah.

Padahal, mengacu penelitiannya, populasi satwa tersebut telah berkurang. Spesies orangutan Kalimantan turun dari 27.000 ekor pada tahun 2016 dan menjadi 23.000 ekor saat ini.

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Mama Laila (14 tahun) dan Lili (4 tahun), dua individu orangutan ini berada di kandang sesaat sebelum di lepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Barat. Foto: Yayasan Kehati

Orangutan Indonesia Miliki Daya Survival Tinggi

Menanggapi hal tersebut ahli primata dari Universitas Indonesia Jatna Supriatna menilai perbedaan data merupakan hal wajar mengingat metodologinya juga berbeda. Transparansi metodologi pengambilan data wajib peneliti lakukan agar tidak asal klaim kebenaran masing-masing.

“Kalau metodenya tidak sama pasti hasilnya tidak bisa apple to apple,” katanya kepada Greeners, Sabtu (1/10).

Jatna menyebut, dalam kasus penelitian Erik turunnya tingkat populasi orangutan berbanding lurus dengan maraknya kerusakan habitat di hutan. Dalam hal ini, ia tak menampik adanya kerusakan hutan di Indonesia. Akan tetapi, orangutan memiliki daya survival yang tinggi sehingga bisa jadi tak memengaruhi jumlah populasinya.

“Seharusnya disebut bahwa habitatnya rusak, bukan turunnya populasi. Karena mereka bisa beradaptasi di hutan yang rusak, bahkan mereka bisa hidup di tambang,” ucap Jatna.

Lebih jauh, pencekalan merupakan hal biasa yang bisa terjadi. Tak hanya di Indonesia tapi di negara manapun jika mendiskreditkan pemerintah setempat. Ia mengkhawatirkan Erik memiliki tujuan-tujuan politis sehingga menyerang pemerintah Indonesia.

Ia mendorong Erik jika ingin berdebat seharusnya melalui forum resmi bersama dengan para peneliti lain yang lebih relevan. “Jangan debat di koran, tapi di forum konferensi internasional atau international paper. Itu lebih tepat,” tandasnya.

pusat penelitian orangutan

Foto: KLHK

Sampaikan Data Penelitian ke Wali Data

Sekretaris Eksekutif Forum Orangutan Indonesia (FORINA) Ronna Saab menyatakan, dukungannya terhadap semangat optimisme pemerintah dalam kegiatan konservasi orangutan. Termasuk dalam penelitian, pengelolaan data dan publikasi.

“Penelitian yang orang asing lakukan terkait orangutan memang harus mendapatkan izin dari KLHK dan instansi terkait,” imbuhnya.

Selain itu, ia mengungkap bahwa data terkait orangutan melalui kerja sama dan penelitian wajib diserahkan kepada KLHK. Seperti melalui melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) maupun Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies Genetik (KKHSG) sebagai wali data.

Berdasarkan hasil PHVA 2016, saat ini perkiraannya terdapat 71.820 individu orangutan yang tersisa di Pulau Sumatra dan Borneo (Kalimatan, Sabah dan Serawak). Habitatnya seluas 18,16 juta hektare. Populasi tersebut tersebar ke dalam 52 meta populasi dan hanya 38 % di antaranya akan lestari (viable) dalam 100-500 tahun ke depan.

Saat ini para penggiat konservasi dan peneliti Indonesia sedang mempersiapkan Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) 2024. Tujuannya untuk mendapatkan data dan informasi terkini status orangutan di Indonesia. 

Terkait masalah yang sedang terjadi, FORINA menyebut tidak punya kapasitas merespon surat edaran KLHK tersebut. FORINA menilai hal itu ranah dan kewenangan KLHK.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak KLHK belum merespon ataupun memberikan tanggapan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/buka-data-valid-populasi-orangutan-di-indonesia/feed/ 0
Owa Jawa, Si Primata Setia yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/#respond Sat, 24 Oct 2015 02:00:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=11617 Owa jawa atau Javan gibbon (Hylobates moloch) merupakan salah satu jenis primata endemik yang terdapat di pulau Jawa dengan wilayah penyebarannya meliputi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan kategori International […]]]>

Owa jawa atau Javan gibbon (Hylobates moloch) merupakan salah satu jenis primata endemik yang terdapat di pulau Jawa dengan wilayah penyebarannya meliputi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan kategori International Union for the Conservation of Nature dan Natural Resources (IUCN) tahun 2000, owa jawa masuk ke dalam kategori satwa yang terancam punah dengan kategori kritis (critically endangered), artinya menghadapi resiko kepunahan sangat tinggi di alam. Hal ini terjadi karena populasi owa jawa di alam mengalami tekanan akibat degradasi habitatnya, perburuan dan penangkapan untuk diperjualbelikan serta dipelihara.

Owa jawa memiliki tubuh yang ditutupi rambut berwarna kecoklatan sampai keperakan atau kelabu. Bagian atas kepalanya berwarna hitam. Bagian muka seluruhnya juga berwarna hitam dengan alis berwarna abu-abu yang menyerupai warna keseluruhan tubuh.

Berdasarkan peraturan Republik Indonesia, owa jawa termasuk satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Bagi oknum yang melanggar akan mendapatkan hukuman tindak pidana 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Habitat alami owa jawa berupa hutan lebat dengan pohon-pohon yang memiliki biji-bijian, owa jawa juga termasuk jenis primata arboreal, yaitu primata yang lebih banyak beraktivitas di atas pohon. Owa jawa hidup monogami sehingga populasinya juga sangat kecil yaitu dalam setiap kelompok maksimal hanya terdiri dari enam individu. Hal ini dikarenakan jika salah satu pasangan owa jawa baik individu jantan atau betina mati, mereka tidak akan mencari pasangan lagi. Itulah sebabnya owa jawa mendapatkan julukan si primata yang setia.

Saat ini habitat owa jawa tengah terancam oleh penebangan dan perambahan liar yang disebabkan oleh kurang maksimalnya penegakan hukum dan perlindungan bagi owa jawa di habitatnya. Salah satu upaya konservasi yang ditempuh dapat berupa restorasi ekosistem habitat owa jawa, pendidikan dan penyadaran konservasi, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Semoga lebih banyak pihak yang mau terlibat dan menyuarakan akan pentingnya pelestarian habitat owa jawa ini.

Owa-Jawa

Penulis : Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/feed/ 0
Never Cry Wolf https://www.greeners.co/gaya-hidup/never-cry-wolf/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=never-cry-wolf https://www.greeners.co/gaya-hidup/never-cry-wolf/#respond Sat, 08 Mar 2014 09:01:08 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_review&p=4036 Judul Film : Never Cry Wolf Sutradara  : Croll Ballard Pemeran    : Charles Martin Smith, Brian Dewnehy Produksi   : Walt Disney Pictures Durasi     : 105 Menit Film ini menceritakan tentang […]]]>

Judul Film : Never Cry Wolf
Sutradara  : Croll Ballard
Pemeran    : Charles Martin Smith, Brian Dewnehy
Produksi   : Walt Disney Pictures
Durasi     : 105 Menit

never-cry-wolfFilm ini menceritakan tentang kisah dari seorang ahli biologi bernama Farley Mowant ketika ia dikirim untuk bertugas di area padang rumput bersalju dataran pegunungan Kanada. Farley membawa misi untuk mengumpulkan bukti tentang keberadaan kelompok serigala yang dituduh telah mengancam keseimbangan populasi Karibou (sejenis Rusa) yang hampir mengalami kepunahan.

Sambil berjuang bertahan hidup di kondisi lingkungan yang sulit, Farley terus berusaha untuk mempelajari segala tingkah laku serigala yang ia temui, sampai akhirnya ia mempunyai keyakinan bahwa tuduhan terhadap serigala yang tengah menjadi ancaman bagi populasi Karibou adalah sepenuhnya salah.

Di lain pihak, ia mendapatkan analisis baru dimana justru keberadaan manusia dengan segala aktifitasnya adalah salah satu faktor utama yang mengancam kepunahan beberapa spesies termasuk Karibou.

Dalam film ini kita akan disuguhkan keindahan landscape dataran tinggi Kanada yang sangat mempesona dan tingkah lucu Farley Mowant selama ia menjalankan studinya. Jelas merupakan film yang harus ditonton apabila anda suka berkegiatan di alam bebas.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/never-cry-wolf/feed/ 0
Populasi Kerbau Rawa Kalsel Makin Menurun https://www.greeners.co/berita/populasi-kerbau-rawa-kalsel-makin-menurun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=populasi-kerbau-rawa-kalsel-makin-menurun https://www.greeners.co/berita/populasi-kerbau-rawa-kalsel-makin-menurun/#respond Tue, 13 Mar 2012 03:00:25 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2321 Banjarmasin (Greeners) – Populasi salah satu hewan khas Kalimantan Selatan (Kalsel) yaitu Kerbau Rawa terus menurun dan terancam punah karena rentan beragam jenis penyakit dan rendahnya tingkat hidup anakan kerbau. […]]]>
Banjarmasin (Greeners) – Populasi salah satu hewan khas Kalimantan Selatan (Kalsel) yaitu Kerbau Rawa terus menurun dan terancam punah karena rentan beragam jenis penyakit dan rendahnya tingkat hidup anakan kerbau.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kalsel, Maskamian Andjam mengungkapkan, beberapa penyakit saat ini mengancam populasi Kerbau Rawa, salah satunya cacing hati. Penyakit tersebut banyak menjangkit Kerbau Rawa karena habitatnya yang kurang bersih. “Tapi penyakit ini tidak mematikan dan sebenarnya mudah diatasi dengan pengobatan intensif,” ungkapnya di Banjarmasin.
Berdasarkan catatan Maskamian, beberapa kasus kematian Kerbau Rawa juga terjadi karena demam yang akan menyebabkan kematian apabila tidak ditangani.“Ini yang mengkhawatirkan kalau Kerbau Rawa mengalami demam bisa menyebabkan kematian. Solusinya adalah dengan vaksinasi,” katanya.
Populasi Kerbau Rawa sendiri tersebar di beberapa kabupaten antara lain Hulu Sungai Utara, Barito Kuala, Tapin, dan Tanah Laut. Belum ada jumlah pasti populasi Kerbau Rawa, namun diperkirakan jumlah populasi kerbau secara keseluruhan di Kalsel mencapai 25 ribu ekor. Kerbau darat di Kalsel juga banyak dikembangkan di Kotabaru.
Ancaman populasi Kerbau Rawa juga karena rendahnya tingkat kelahiran hewan yang hidup di darat dan di permukaan rawa ini. Maskamian mengatakan, tiap tahunnya, populasi Kerbau Rawa hanya meningkat dibawah 1 persen, dikarenakan tingginya angka kematian anak Kerbau Rawa yang baru lahir.
Banyak anakan kerbau yang baru lahir mati tenggelam karena induknya melahirkan di rawa. “Kematian sering terjadi pada anak, mereka kan baru lahir tidak bisa berenang. Induk biasanya juga tidak bisa berbuat apa-apa saat melahirkan anaknya langsung jatuh ke air. Kematian dewasa jarang kecuali ada demam. Ini yang mempengaruhi populasi kerbau rawa, populasi tidak turun, tapi kenaikan yang menurun, naiknya dibawah 1 persen. Kita harus pacu, peternak jangan hanya mengambil dan menjual tapi harus ada budidaya,” tambah Maskamian.
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Peternakan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, populasi Kerbau Rawa juga mengalami penurunan. Hasil sensus oleh petugas peternakan yaitu dari 3.250 ekor, jumlahnya terus menurun menjadi 1.190 ekor kerbau dalam beberapa tahun terakhir.
Jumlah tersebut berada di dua kecamatan yakni Daha Barat sebanyak 577 ekor dan Daha Utara sebanyak 613 ekor. Ada sekitar 15 Dengan jumlah kalang (kandang, Red) dari 15 kelompok peternak, dimana dalam satu kalang terdapat minimal 40 ekor dan maksimal 100 ekor kerbau rawa. Sedangkan satu kelompok peternak terdiri dari 5 hingga 10 orang pemilik. (G16)
]]>
https://www.greeners.co/berita/populasi-kerbau-rawa-kalsel-makin-menurun/feed/ 0