Melindungi Keanekaragaman Hayati Cegah Kemunculan Virus Baru

Reading time: 3 menit
virus
Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Pakar lingkungan memperingatkan bahwa pandemi Covid-19 bukan satu-satunya wabah terakhir yang menimbulkan bencana massal di Asia dan Eropa seperti saat ini. Hal tersebut akan terus terjadi jika manusia abai terhadap hubungan penyakit menular dan perusakan alam.

Penulis buku Spillover: Animal Infections and the Next Human Pandemic, David Quammen, memperingatkan risiko pandemi sejak penelitian terdahulunya mengenai Ebola. Di dalam bukunya, Quammen mengatakan bahwa munculnya penyakit zoonosis bukan fenomena baru. Kejadian tersebut tidak lepas dari ledakan populasi manusia dan ternak, perusakan alam, hingga terganggunya ekosistem.

Baca juga: Deforestasi Berkontribusi terhadap Penyakit Infeksi Baru

Melansir theindependent.co.uk, seorang Ahli Ekologi Kelautan dari National Geographic’s Campaign for Nature Dr Enric Sala mengatakan, ketika manusia menghancurkan hutan tropis untuk pembangunan, pertambangan, membunuh atau menangkap hewan liar untuk dimakan atau dijual, menandakan manusia sedang membuka diri terhadap virus-virus.

“Ekosistem yang sangat beragam dipenuhi banyak spesies hewan liar, tanaman, jamur, dan bakteri. Semua keanekaragaman hayati itu mengandung virus unik. Ketika kita menghancurkan hutan tropis, virus beterbangan. Momen kehancuran itu menjadi peluang bagi virus asing untuk masuk ke manusia dan bertahan,” ujarnya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dari semua penyakit menular, 17 persen penyakit yang ditularkan melalui vektor penyakit. Organisme hidup tersebut dapat menularkan patogen infeksius antar manusia atau dari hewan ke manusia dan menyebabkan lebih dari 700.000 kematian setiap tahun.

Deforestasi

Ahli mengatakan deforestasi untuk pembangunan maupun pertambangan, menandakan manusia sedang membuka diri terhadap virus. Foto: shutterstock.com

Peneliti Mikrobiologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra menuturkan, populasi spesies yang tidak seimbang serta terganggunya habitat dan ekosistem, akan berdampak terhadap ekspansi satwa ke populasi manusia. AKibatnya, potensi transmisi virus yang dibawa ke manusia akan besar.

Bahkan di Guangdong, China, kata dia, yang merupakan tempat awal penyebaran SARS pada 2002 juga merupakan wabah yang disebabkan oleh virus korona dan berjenis baru. Sedangkan di 2017, terdapat Swine Acute Diarrhea Syndrome Coronavirus (SADS-CoV) yang menyebabkan kematian pada ribuan anak babi dengan menyerang saluran pencernaan. Sugiyono menuturkan, setelah wabah SADS-CoV, terdapat banyak prediksi mengenai munculnya virus baru seperti yang terjadi saat ini layaknya pandemi Covid-19.

Ia menyebut bahwa virus yang berasal dari hewan sangat banyak, contohnya, ebola virus, marburg virus, hendra virus, dan nipah virus dari kelelawar. Kemudian monkeypox dari monyet, H5N1 dari unggas, rabies dari anjing, kucing, kelelawar, dan hantavirus dari tikus.

“Tapi kita tidak boleh menyalahkan satwa-satwa tersebut. Harus dilihat dulu apakah keseimbanagn ekosistem mereka terganggu atau tidak. Walau mereka membawa penyakit, mereka sebetulnya penyebaran penting di alam dan sebagai indikator lingkungan juga. Jadi, kalau mereka terganggu, bisa jadi akan ada transmisi virus ke populasi manusia,” ujar Sugiyono kepada Greeners, Senin, (23/03/2020).

Baca juga: Guru Besar UI: Rempah Tidak Dapat Menangkal Virus Corona

Diperkirakan pada 2050, populasi akan meningkat dari dua miliar menjadi 9,7 miliar dan mempengaruhi hilangnya keanekaragaman hayati. Diperlukan perubahan menyeluruh termasuk menelusuri kembali hubungan penting antara kesehatan manusia dan konservasi planet Bumi.

Menurut Dr Enric Sala, dengan menjaga tempat alam tetap utuh, melarang perburuan spesies satwa liar yang terancam punah, bermanfaat bagi kesehatan manusia dan ekonomi. Upaya melindungi alam, tulis Enric, merupakan bentuk investasi dan biaya paling hemat yang dapat dilakukan para pembuat kebiijakan.

“Tidak ada kesehatan manusia yang berkelanjutan tanpa ekosistem yang sehat. Penyakit menular yang kami alami selama 20 tahun terakhir adalah bukti terbaik. Saya yakin akan ada lebih banyak penyakit seperti ini (Covid-19) di masa depan, jika kita melanjutkan praktik menghancurkan alam, penggundulan hutan, dan menangkap binatang liar sebagai binatang peliharaan atau untuk makanan dan obat-obatan,” ucap Sala.

Penulis: Dewi Purningsih

Top