siklon tropis - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/siklon-tropis/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 01 Apr 2023 05:32:03 +0000 id hourly 1 Waspada Potensi Hujan Lebat karena Siklon Tropis Herman https://www.greeners.co/berita/waspada-potensi-hujan-lebat-karena-siklon-tropis-herman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspada-potensi-hujan-lebat-karena-siklon-tropis-herman https://www.greeners.co/berita/waspada-potensi-hujan-lebat-karena-siklon-tropis-herman/#respond Sat, 01 Apr 2023 05:32:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39547 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut siklon tropis Herman di Indonesia akan berlangsung hingga 4 April 2023. Dampaknya beberapa wilayah akan dilanda hujan sedang hingga lebat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut siklon tropis Herman di Indonesia akan berlangsung hingga 4 April 2023. Dampaknya beberapa wilayah akan dilanda hujan sedang hingga lebat diikuti dengan angin kencang meski kecenderungannya semakin lemah.

Deputi Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, siklon tropis Herman merupakan siklon tropis yang tumbuh di wilayah SouthEast Indian Ocean. Siklon ini terbentuk dengan suhu sekurang-kurangnya 26,5 derajat Celcius hingga kedalaman 60 meter. Angin yang berputar di dekat pusat siklon bahkan mencapai kecepatan lebih dari 63 km/jam.

“Intensitas siklon tropis Herman menurun pada 1 hingga 4 April menjadi low pressure. Itu artinya tekanan udara kembali naik di atas 1000 mb dan kecepatan anginnya menjadi berkurang sebelum akhirnya punah,” katanya kepada Greeners, Sabtu (1/4).

Berdasarkan analisis BMKG, siklon tropis Herman pada Rabu, 29 Maret lalu berkekuatan 45 knots (85 km/jam) berkecepatan 12 knots (22 km/jam). Siklon ini berada di Samudera Hindia, selatan Banten, 14.0LS, 102 BT (sekitar 1.000 km sebelah selatan barat daya DKI Jakarta).

Kemudian analisis Kamis 30 Maret terlihat berada di Samudera Hindia, selatan Jawa 15.6LS, 105.4 BT (sekitar 1.080 km sebelah selatan barat daya Cilacap), berkekuatan 55 knots (100 km/jam) dengan kecepatan 13 knots (km/jam) bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

Dampak Siklon Tropis Herman

Guswanto menyebut, imbas siklon tropis ini, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang akan terjadi di beberapa wilayah. Mulai dari Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten. Kemudian, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Selain itu, terdapat potensi angin kencang mencapai 25 knot di wilayah Pesisir Barat dan Selatan Lampung, pesisir barat dan selatan Banten, serta pesisir selatan Jawa Barat hingga Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Ia mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya di masyarakat yang tinggal di dekat pesisir. “Tinggi gelombang 2,5 hingga 4 meter di perairan barat Kepulauan Mentawai hingga Bengkulu, perairan barat Lampung, selatan Sunda bagian barat dan selatan. Selanjutnya, perairan selatan Banten hingga Bali, serta perairan selatan Bali hingga Pulau Lombok,” paparnya.

Selain itu, di perairan Samudera Hindia barat Lampung dan Samudera Hindia selatan Banten hingga Jawa Timur juga harus mewaspadai tinggi gelombang yang diperkirakan mencapai 4 hingga 6 meter.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin menyatakan, siklon Herman menciptakan klaster-klaster awan yang masif terbentuk di atas laut.

Ia menyebut, arah pergerakan siklon Herman ini menuju timur sehingga memicu hujan dari barat menjalar ke timur diikuti dengan angin permukaan yang kuat.

“Berdasarkan prediksi global badai tropis JTWC, siklon ini menuju ke timur lalu bergeser ke selatan,” imbuh dia.

BMKG meminta masyarakat mewaspadai potensi hujan lebat. Foto: Freepik

Imbas Perubahan Iklim

Sebelumnya, berdasarkan Decission Support System (DSS) SADEWA, siklon tropis ini muncul karena bibit siklon yang tumbuh dari pusaran angin. Adapun radiusnya antara 20 hingga 50 kilometer pada 29 Maret di selatan ekuator dekat Bengkulu.

Erma menyebut alasan siklon tropis kian intensif di Indonesia tak lepas efek dari perubahan iklim. “Suhu laut menghangat, lahan subur bagi tumbuhnya bibit-bibit siklon,” kata Erma.

Ia menyebut pada Januari 2023 European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) menyatakan pemanasan global diperkirakan mencapai 1,21 derajat Celcius. Dalam 30 tahun, pemanasan global ini dapat berlanjut hingga mencapai 1,5 derajat Celcius pada Maret 2023.

Menurut data hasil kajian tim peneliti BRIN, telah terjadi perubahan klimatologis di Indonesia selama 19 tahun yaitu 2001-2019. “Durasi musim hujan lebih panjang di beberapa wilayah selatan di Indonesia,” kata dia.

Misalnya, hujan di wilayah Sumatera Selatan, Kalimantan dan sebagian wilayah di selatan Pulau Sulawesi berlangsung selama 49 hari. Sementara, di Lampung dan bagian barat Pulau Jawa durasi musim hujan berlangsung lebih panjang 12 hari. Selama musim hujan akan terjadi peningkatan hujan yang lebih ekstrem.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/waspada-potensi-hujan-lebat-karena-siklon-tropis-herman/feed/ 0
BMKG : Gelombang Panas Tidak Terjadi di Indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/#respond Sat, 16 Oct 2021 05:36:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34102 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan informasi terkait gelombang panas melanda Indonesia yang ramai beredar di berbagai media sosial tidak benar. Kondisi suhu panas dan terik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan informasi terkait gelombang panas melanda Indonesia yang ramai beredar di berbagai media sosial tidak benar. Kondisi suhu panas dan terik saat ini tidak bisa bukan kategori gelombang panas.

Informasi yang menyebar di media sosial dan Whatapps menyebut kini cuaca sangat panas, suhu pada siang hari bisa mencapai 40 derajat Celcius. Masyarakat dalam pesan itu, harus menghindari minum es atau air dingin.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan, gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.

“Gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca (suhu) panas yang tidak biasa yang biasanya berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih,” kata Urip dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (16/10).

Hal tersebut mengacu pada kriteria Badan Meteorologi Dunia (WMO). Selain itu kelembapan udara yang tinggi menyertai terjadinya gelombang panas. Lalu suatu lokasi yang mengalami gelombang panas harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik.

“Misalnya 5 derajat celcius lebih panas, dari rata-rata klimatologis suhu maksimum dan setidaknya telah berlangsung dalam lima hari berturut-turut,” imbuhnya.

Urip menambahkan, apabila suhu maksimum tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama maka tidak bukan sebagai gelombang panas.

Hidrasikan tubuh

Hidrasikan tubuh saat cuaca terik. Foto: Shutterstock

Hanya Gerak Semu Matahari

Lebih lanjut Urip menjelaskan, gelombang panas umumnya terjadi berkaitan dengan berkembangnya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari.

Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya meningkat. Pusat tekanan atmosfer tinggi ini menyulitkan aliran udara dari daerah lain masuk ke area tersebut. Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area, semakin meningkat panas di area tersebut dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.

“Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari,” tegasnya.

Fenomena ini merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun. Akibatnya potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Saat ini, berdasarkan pantauan BMKG terhadap suhu maksimum di wilayah Indonesia, memang suhu tertinggi siang hari ini mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Tercatat suhu > 36 °C terjadi di Medan, Deli Serdang, Jatiwangi dan Semarang pada catatan meteorologis tanggal 14 Oktober 2021. Suhu tertinggi pada hari itu tercatat di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah I, Medan yaitu 37,0 °C.

Namun kata Urip, catatan suhu ini bukan merupakan penyimpangan besar dari rata-rata iklim suhu maksimum pada wilayah ini. Atau masih berada dalam rentang variabilitasnya di bulan Oktober. Setidaknya suhu maksimum yang meningkat dalam beberapa hari ini dapat disebabkan oleh beberapa hal.

Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Tak Alami Gelombang Panas

BMKG melihat pada bulan Oktober, kedudukan semu gerak matahari tepat di atas Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Gerakan ini dalam perjalanan menuju posisi 23 lintang selatan setelah meninggalkan ekuator.

Posisi semu matahari di atas Pulau Jawa akan terjadi 2 kali yaitu di bulan September atau Oktober serta Februari atau Maret. Oleh sebab itu, puncak suhu maksimum terasa di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur akan terjadi di seputar bulan-bulan tersebut.

Di samping itu, cuaca cerah juga menyebabkan penyinaran langsung sinar matahari ke permukaan lebih optimal sehingga terjadi pemanasan suhu permukaan. Kondisi tersebut berkaitan dengan adanya siklon tropis KOMPASU di Laut Cina Selatan bagian utara yang menarik masa udara dan pertumbuhan awan-awan hujan serta menjauhi wilayah Indonesia. Akibatnya cuaca di wilayah Jawa cenderung menjadi lebih cerah, berawan dalam beberapa hari terakhir.

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-gelombang-panas-tidak-terjadi-di-indonesia/feed/ 0
BMKG Prediksi Siklon Tropis Surigae Berkembang Jadi Topan https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-siklon-tropis-surigae-berkembang-jadi-topan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-prediksi-siklon-tropis-surigae-berkembang-jadi-topan https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-siklon-tropis-surigae-berkembang-jadi-topan/#respond Wed, 14 Apr 2021 10:27:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=32434 Bibit Siklon Tropis di Utara Papua yang merupakan Bibit Siklon Tropis 94W telah berkembang menjadi Siklon Tropis "SURIGAE"]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan saat ini Bibit Siklon Tropis di Utara Papua yang sebelumnya merupakan Bibit Siklon Tropis 94W yang mulai tumbuh di wilayah Samudera Pasifik sebelah utara Papua pada Senin (12/4) telah berkembang menjadi Siklon Tropis “SURIGAE” yang bergerak ke arah barat laut mendekati wilayah Filipina.

“Akibatnya, saat ini terjadi peningkatan kecepatan angin rata-rata di wilayah Utara Sulawesi dan Sekitarnya berkisar 8 – 20 knot,” ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (14/4).

Dwikorita menerangkan, siklon atau Badai Tropis ini diperkirakan akan berkembang menjadi Badai Tropis Kuat (STS) dan bahkan Typhoon (TY) pada tanggal 16 April 2021.

Sebelumnya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan bahwa keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W ini memberikan dampak tidak langsung berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam 24 jam kedepan yang dapat disertai kilat/petir serta angin kencang di beberapa wilayah di Tanah Air.

Adapun tekanan minimum Bibit Siklon Tropis 94W mencapai 1007 hPa dan dengan kecepatan angin maksimum di sekitar sistemnya mencapai 20 knot atau 37 km/jam.

Setelah 24 jam, akhirnya siklon tropis 94W tersebut berubah menjadi siklon tropis Surigae. Penamaan siklon atau badai tropis Surigae ini dilakukan oleh Japan Meteorogical Agency (JMA), termasuk analisis dan pergerakannya.

Guswanto menjelaskan, sebagai dampak tidak langsung, Siklon Tropis ini mengakibatkan kecepatan angin di utara Sulawesi dan sekitarnya diprakirakan akan terus meningkat secara bertahap hingga puncaknya pada 18 April 2021.

Begitu juga dengan hujan yang akan mengguyur dengan intensitas ringan hingga sedang dan berpotensi hujan lebat untuk sepekan ke depan sebagai akibat dampak tidak langsung wilayah yg berdekatan dengan posisi siklon tropis.

“Sedangkan tinggi gelombang laut akan mengalami peningkatan hingga puncaknya pada 18 April 2021. Gelombang ini bahkan dapat mencapai kategori sangat tinggi (4,0 – 6,0 m) di wilayah Perairan Kepulauan Sitaro, Sangihe, dan Talaud, serta Laut Maluku bagian utara,” paparnya.

siklon tropis

Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Guswanto menuturkan pula, saat ini BMKG (TCWC Jakarta) terus memantau perkembangan Siklon Tropis Surigae tersebut.

Himbauan dan Kordinasi Para Pihak Terkait Persiapan dan Penanganan Dampak Siklon Tropis

Kepada masyarakat, BMKG mengimbau untuk waspada dan tetap berhati-hati dengan potensi angin kencang, hujan lebat, dan dampak lanjutannya seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta kepada daerah 30 di tingkat provinsi untuk meningkatkan kewaspadaan pada peringatan dini dan langkah-langkah kesiapsiagaan.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan mengatakan, informasi peringatan dini dari BMKG dapat digunakan untuk mempercepat penyebarluasan informasi peringatan dini bencana.

Selanjutnya, BNPB berharap Pemerintah Provinsi untuk menginstruksikan beberapa upaya, pertama, meningkatkan koordinasi dengan di wilayah terkait.

Kedua, Pemerintah Daerah diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem seperti puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, dan hujan es dan dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang maupun jalan licin.

Terakhir, Lilik meminta koordinasi antar dinas terkait dan aparatur untuk kesiapsiagaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta kewenangan masing-masing.

Upaya ini bertujuan untuk mencegah dampak yang mungkin timbul. Koordinasi menyasar pada komunikasi risiko yang ditujukan kepada masyarakat mengenai potensi bahaya untuk menjauh dari lembah sungai, lereng rawan longsor, pohon tumbang atau tepi pantai, khususnya warga yang bermukim di wilayah risiko tinggi.

Di samping itu, koordinasi bertujuan untuk menyiapkan dan mengelola seluruh sumber daya manusia, logistik, peralatan, penyiapan sarana dan prasarana untuk penanganan keadaan darurat serta penyiapan fasilitas layanan kesehatan sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19.

Lilik juga meminta pemerintah daerah untuk selalu siap siaga untuk mengevakuasi warga masyarakat yang tinggal di daerah risiko bencana tinggi, seperti lembah sungai, barah lereng rawan maupun tepi pantai.

“Mengaktifkan tim siaga bencana untuk memantau lingkungan sekitar akan gejala awal terjadinya banjir bandang, longsor, angin kencang atau pun gelombang tinggi,” tambah Lilik.

Penulis: Dewi Purningsih

BACA JUGA : Pengaruh Polar Vortex Split Pada Kondisi Cuaca Indonesia

BACA JUGA : BPPT Siapkan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Antisipasi Dampak La Nina

 

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-prediksi-siklon-tropis-surigae-berkembang-jadi-topan/feed/ 0