badak - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/badak/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 14 Sep 2024 07:46:53 +0000 id hourly 1 Rhino Goes to School Ajak Anak Usia Dini Mengenal Kehidupan Badak https://www.greeners.co/aksi/rhino-goes-to-school-ajak-anak-anak-usia-dini-mengenal-kehidupan-badak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rhino-goes-to-school-ajak-anak-anak-usia-dini-mengenal-kehidupan-badak https://www.greeners.co/aksi/rhino-goes-to-school-ajak-anak-anak-usia-dini-mengenal-kehidupan-badak/#respond Sat, 14 Sep 2024 07:46:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44738 Jakarta (Greeners) – Yayasan Badak Indonesia (YABI) bersama Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menyelenggarakan ‘Rhino Goes to School’ di Desa Ciakar dan Desa Cibadak, Pandeglang, Banten. Melalui program ini, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Yayasan Badak Indonesia (YABI) bersama Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menyelenggarakan ‘Rhino Goes to School’ di Desa Ciakar dan Desa Cibadak, Pandeglang, Banten. Melalui program ini, keduanya telah mengajak anak-anak usia dini untuk mengenal kehidupan badak.

Acara tersebut merupakan program rutin YABI di sekitar kawasan taman nasional habitat badak serta di daerah urban seperti Jabodetabek. Melalui program ini, YABI berharap dapat meningkatkan kepedulian anak-anak terhadap badak sejak dini dan memotivasi mereka untuk mendukung pelestarian satwa dan habitatnya.

Information and Communication Specialist YABI, Linda Fitria, menjelaskan bahwa sosialisasi mengenai status dan pelestarian badak jawa ini dapat menanamkan rasa bangga pada anak-anak.

“Mereka harus bangga karena memiliki badak jawa sebagai warisan dunia yang harus dijaga bersama,” ujar Linda lewat keterangan tertulisnya, Kamis (12/9).

BACA JUGA: Kabar Gembira! Satu Anak Badak Jawa Ditemukan di Ujung Kulon

Kegiatan ini menyasar siswa-siswi sekolah dasar. Ada 65 anak-anak SD mulai dari kelas 5 dan 6 di SDN Cibadak 2 dan 31 anak-anak kelas 3 sampai 6 dari Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Mathlaul Anwar Ciakar yang mengikuti kegiatan ini. Semua peserta merupakan siswa-siswi dari sekolah dasar di desa-desa penyangga sekitar kawasan TNUK.

Kegiatan di dua sekolah ini berlangsung sejak pagi dengan rangkaian acara yang beraneka ragam. Mulai dari paparan mengenai taman nasional oleh Balai TNUK dan paparan oleh YABI mengenai badak Indonesia khususnya badak jawa. YABI juga mengajak anak-anak untuk lomba mewarnai hingga tanya jawab seputar badak dan taman nasional.

Para siswa-siswi dan guru yang terlibat tampak sangat antusias. Para guru berharap kegiatan ini dapat menjadi bekal bagi generasi penerus. Sebab, anak-anak akan menjadi generasi yang kelak menjaga kawasan taman nasional serta badak jawa dan satwa lainnya.

Rhino goes to school mengajak anak usia dini mengenal kehidupan badak. Foto: YABI

Rhino goes to school mengajak anak usia dini mengenal kehidupan badak. Foto: YABI

Rhino Goes to School Momen untuk Jalin Silaturahmi

Sementara itu, kegiatan Rhino Goes To School di desa sekitar kawasan TNUK tidak hanya sekedar edukasi kepada anak-anak SD. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menjalin silaturahmi kepada masyarakat, khususnya lingkup sekolah desa sekitar TNUK.

“Tujuannya supaya terjalin kepercayaan untuk menjaga dan melindungi hutan. Lalu, memberikan informasi umum mengenai kawasan TNUK berserta ekosistem di dalamnya,” imbuh Linda.

Melalui program ini, YABI juga ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar TNUK. Terutama dalam meningkatkan kesadaran orang tua atau wali melalui informasi yang diberikan kepada siswa-siswi.

Kegiatan Rhino Goes to School pada tanggal 5 September ini sekaligus merupakan bagian dari rangkaian menyambut Hari Badak Sedunia. Perayaan itu jatuh setiap tanggal 22 September.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/rhino-goes-to-school-ajak-anak-anak-usia-dini-mengenal-kehidupan-badak/feed/ 0
Tak Hanya Perburuan, Perubahan Iklim juga Ancam Populasi Badak https://www.greeners.co/berita/tak-hanya-perburuan-perubahan-iklim-juga-ancam-populasi-badak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tak-hanya-perburuan-perubahan-iklim-juga-ancam-populasi-badak https://www.greeners.co/berita/tak-hanya-perburuan-perubahan-iklim-juga-ancam-populasi-badak/#respond Fri, 23 Sep 2022 04:40:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37425 Jakarta (Greeners) – Setiap satwa di alam punya perannya masing-masing, termasuk juga badak. Kepunahan populasi badak akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Perburuan dan perubahan iklim bisa mengancam kepunahan satwa langka ini. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Setiap satwa di alam punya perannya masing-masing, termasuk juga badak. Kepunahan populasi badak akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Perburuan dan perubahan iklim bisa mengancam kepunahan satwa langka ini.

Hari Badak Sedunia pada 22 September menjadi momen penting untuk memastikan keberlanjutan badak di Indonesia. Data rekaman dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), badak Jawa Taman Nasional Ujung Kulon hingga pertengahan tahun 2022 menunjukkan peningkatan dua individu atau sejumlah 77 individu dari yang sebelumnya 75 individu.

Staf Ahli Konservasi The Indonesian Wildlife and Nature Conservation Foundation (IWF) Haerudin R. Sadjudin mengatakan, badak memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem di alam. Mengingat badak sebagai penyebar biji seperti berbagai jenis buah dan tumbuhan. Selain itu, badak juga memelihara hutan sekunder dengan memangkas ranting-ranting untuk memakan daun-daun muda.

“Itu hanya dari satu sisi peranan pentingnya di alam. Namun peranan lain yang lebih penting dalam ekosistem yaitu menjaga keragamannya. Jika salah satu spesies punah di alam akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan spesies lainnya,” katanya kepada Greeners, Kamis (22/9).

Mengingat peran pentingnya tersebut, keberlanjutan dan kelestarian badak di alam harus dijaga. Lelaki yang akrab disapa Mang Eeng ini menyebut, beberapa faktor krusial yang mengancam badak. Seperti perubahan iklim yang mengancam ketersediaan pakan badak. Kemarau panjang menyebabkan kekeringan parah sehingga badak kesulitan mendapatkan makanannya. “Hal ini menyebabkan kematian tinggi hingga mengancam kepunahan,” ucapnya.

Hingga kini setidaknya terdapat 251 spesies tumbuhan pakan badak, 80 persen di antaranya yaitu tumbuhan tingkat tiang dan sisanya tingkat seedling dan pohon. “Jika terjadi kemarau panjang dan kekeringan parah akibat perubahan iklim maka tingkat seedling dan pancang itu akan mati duluan,” imbuhnya.

Tak Hanya Perburuan, Tumbuhan Invasif Juga Ancam Badak

Mang Eeng juga menyorot jenis tumbuhan invasif yang mengancam populasi badak, yakni tumbuhan langkap. Langkap merupakan jenis palem invasif yang dapat merajalela menutupi lahan sebagai habitatnya.

“Tanaman itu dapat mengancam badak sunda yang kekurangan pakan di habitat alaminya seperti di Semenanjung Ujung Kulon. Jenis lain juga seperti rotan, salak, bambu duri, bambu cangkeuteuk, bangban dan cente,” papar dia.

Faktor lain yang membuat populasi badak kecil sehingga tingkat ancaman kepunahannya sangat tinggi adalah penyakit. Badak juga sangat rentan terhadap penularan wabah penyakit, seperti Septicemia epizootica (penyakit ngorok) hingga antraks. Penularan penyakit tersebut dapat menyebabkan kepunahan.

Penyebab lainnya terkait dengan perburuan. Mang Eeng menyebut, sudah ada pencegahan perburuan badak. Akan tetapi, ancaman perburuan satwa lain juga berdampak buruk terhadap keberlanjutan badak.

“Harus tetap diwaspadai sebab perburuan spesies lainnya seperti burung masih tetap marak. Jika para pemburu itu membawa racun maka dapat mengancam membahayakan spesies lain termasuk badak,” ujar dia.

Rhino Population in Indonesia Less than One Hundred

Ahli prediksi populasi badak sumatra merosot ke angka kurang dari seratus. Foto: Shutterstock.

Kelahiran Baru Tingkatkan Populasi

Peringatan Hari Badak Sedunia 2022 bagi Indonesia momentum membahagiakan. Hal ini bertepatan dengan tumbuh kembangnya anak badak Jawa yang lahir di Taman Nasional Ujung Kulon. Bayi badak jawa ini lahir dari induk bernama Siti.

Anak badak berkelamin betina ini terekam pertama kali pada 20 Februari 2022. Merdekasari, begitulah nama bayi badak sebagai kado terindah peringatan World Rhino Day atau Hari Badak Sedunia ini.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menyatakan, berdasarkan perhitungan kumulatif jumlah minimum sementara badak jawa sampai saat ini adalah 77 individu. Komposisi jenis kelaminnya adalah 39 jantan dan 38 betina. Hanya ada lima spesies badak di dunia. Dua di antaranya hidup di Indonesia yaitu badak sumatera dan badak jawa.

“Kita juga sangat bersyukur ada 107 kelahiran satwa liar yang dilindungi dan bahkan endemik di Indonesia sepanjang tahun 2022. Terdiri dari jalak bali 12 ekor, orang utan kalimantan 3 ekor, penyu hijau 83 ekor, maleo 1 ekor, anoa 1 ekor. Lalu harimau sumatera 3 ekor, badak sumatera 1 ekor dan badak jawa 3 ekor,” kata Siti dalam keterangannya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/tak-hanya-perburuan-perubahan-iklim-juga-ancam-populasi-badak/feed/ 0
Teknologi Bio-bank Jaga Badak Sumatera dari Kepunahan https://www.greeners.co/berita/teknologi-bio-bank-jaga-badak-sumatera-dari-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=teknologi-bio-bank-jaga-badak-sumatera-dari-kepunahan https://www.greeners.co/berita/teknologi-bio-bank-jaga-badak-sumatera-dari-kepunahan/#respond Thu, 07 Oct 2021 04:55:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34006 Bogor (Greeners) – Populasi badak Sumatera di alam perlu perhatian serius. Institut Pertanian Bogor (IPB) University menyebut populasi badak Sumatera yang tersebar di Lampung dan Aceh tidak lebih dari 100 […]]]>

Bogor (Greeners) – Populasi badak Sumatera di alam perlu perhatian serius. Institut Pertanian Bogor (IPB) University menyebut populasi badak Sumatera yang tersebar di Lampung dan Aceh tidak lebih dari 100 ekor. IPB University mengaplikasikan Bio-bank, sebuah inovasi teknologi untuk menjaga badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dari kepunahan.

Pakar Teknologi Reproduksi Berbantu IPB University Muhammad Agil mengatakan, konservasi dengan teknologi dan inovasi perlu agar populasi badak sumatera ini tidak punah.

Menurutnya, salah satu langkah konservasi dengan teknologi bio-bank (cryo-preservation) dapat membantu menjaga ketersediaan plasma nutfah. Dengan demikian, ada usaha penyelamatan satwa langka yang hampir punah.

“Sejak 2019, Indonesia mulai menerapkan Bio-bank sebagai pelaksanaan mandat dari rencana aksi darurat (RAD) yang diterbitkan oleh pemerintah,” kata Agil, di Bogor, baru-baru ini.

Agil menambahkan, saat ini ada sejumlah penyebab sulitnya proses konservasi badak Sumatera di alam. Sebabnya populasi badak tersebar dalam kantung-kantung kecil di berbagai wilayah yang terisolasi. Hal ini menyebabkan badak jantan dan betina sulit bertemu.  Kedunya juga sulit melakukan perkawinan karena jumlahnya yang terlalu sedikit, sementara habitatnya terlalu luas.

“Pengembangbiakan di lingkungan ex situ tanpa adanya rekayasa teknologi hanya mampu menghasilkan lima badak dalam tempo 40 tahun di seluruh dunia. Sedangkan masalah kesehatan memperparah kondisi badak di Indonesia,” ungkapnya.

Penyelamatan Badak Terisolasi

Oleh karena itu lanjutnya, perlu program pencarian dan penyelamatan badak pada populasi yang terisolasi dan tidak bisa berpindah ke fasilitas pengembangbiakan.

“Di dalam pusat pengembangbiakan materi genetik dikumpulkan untuk memastikan keragaman genetik dari badak. Langkah tersebut harus dilakukan agar tidak terjadi perkawinan antar kerabat yang dapat menyebabkan kecacatan,” imbuhnya.

Agil menjelaskan, teknologi ini memungkinkan pengumpulan bahan genetik dalam bentuk embrio, semen beku serta induced-pluripotent stem cell. Ketiga bahan tersebut dapat menjadi cadangan untuk menghasilkan individu badak baru.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sudah menyusun prosedur ini dan termuat dalam dokumen Bio-bank Badak Sumatera tahun 2021-2026.

“Meski begitu faktor etika tentu harus tetap diperhatikan. Materi genetik tidak bisa serta merta dikumpulkan, dimanipulasi, lalu dikembangbiakkan hingga menimbulkan ketidakseimbangan di alam. Keanekaragaman genetik harus terjaga agar populasi badak yang sehat dapat terus berlanjut,” tuturnya.

Populasi Badak Sumatera

Berdasarkan data KLHK tahun 2021, populasi badak Sumatera pada awal rencana aksi darurat adalah 80 individu, kemudian sedikit turun populasinya menjadi 74-77 individu. Namun, penurunan angka itu belum bisa memastikan bahwa populasi badak Sumatera benar-benar menurun.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno mengatakan, angka 80 adalah angka estimasi baseline. Sedangkan angka 77 adalah hasil monitoring real time di lapangan.

“Bukan berarti penurunan, tetapi bisa banyak faktor, seperti badak yang sifatnya soliter dan peka terhadap aktivitas manusia. Sehingga ada individu yang belum terdeteksi, bisa terjadi angkanya lebih dari 80 individu,” kata Wiratno kepada Greeners.

Wiratno menyebut, merujuk data tahun 2020, populasi badak di Taman Nasional Way Kambas berjumlah 7 individu. Sekitar 21 individu lainnya berada di alam liar. Sedangkan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, sebanyak 12 individu badak terpantau hingga tahun 2019.

Sementara estimasi jumlah populasi Badak Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser sebanyak 35 individu berdasarkan data tahun 2018, di Aceh Barat 30 individu dan Aceh Timur sebanyak 5 individu. Selain itu, 2 individu badak juga terdata di Kalimantan Timur.

Prioritaskan Bio-Bank

Terkait teknologi reproduksi berbantuan atau Assisted Reproduction Technology (ART), ini bagian dari program Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) yang tercantum di dalam rencana aksi darurat.

ART meliputi program koleksi spermatozoa (semen collection), fibroblast dari kulit, inseminasi buatan, penyimpanan (bio bank) di dalam Nitrogen cair (N2 cair)dan penampung sel telur (oocyte).

“Bio-bank yang sudah ada saat ini berada di SRS Way Kambas dan sebaiknya dapat membangun bio bank di tempat lain, sebagai alternatif atau cadangan penyimpanan,” ungkap Wiratno.

Wiratno berpendapat, bukan hanya lokasi atau perbanyakan Bio-bank, namun konsepnya perlu masif dari badak Sumatera terhindar dari kepunahan.

“Kebutuhan Bio-bank merupakan kegiatan prioritas. Bukan lokasi yang menjadi kebutuhan mendesak tapi kegiatan Bio-bank ini penting untuk penyelamatan satwa dengan bantuan atau intervensi manusia lewat teknologi,” papar Wiratno.

Hanya saja Wiranto melihat masih ada kendala saat menampung sel telur. Jumlah laboratorium penyimpanan terbatas, SDM bidang medis ART terbatas. Selain itu badak sulit berkembangbiak secara alami di habitatnya.

Penulis : Sol

]]>
https://www.greeners.co/berita/teknologi-bio-bank-jaga-badak-sumatera-dari-kepunahan/feed/ 0
Badak Jawa, Satwa Bercula Satu yang Pernah Dianggap Hama https://www.greeners.co/flora-fauna/badak-jawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=badak-jawa https://www.greeners.co/flora-fauna/badak-jawa/#respond Fri, 01 Jan 2021 02:00:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19560 Di masa lampau badak jawa tidak hanya ada di pulau Jawa, melainkan hidup tersebar di gunung-gunung wilayah sebagian besar Asia Tenggara sampai ke India. Perburuan besar-besaran disinyalir menjadi penyebab utama penyusutan populasinya.]]>

Salah satu penyebab menyusutnya keanekaragaman hayati di Indonesia adalah eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Bukan cuma flora, fauna besar seperti Badak Jawa pun turut terancam keberadaannya jika upaya pemanfaatan yang berkelanjutan tak segera kita galakkan.

Seperti kita ketahui, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan spesies terlangka dari lima spesies badak yang ada di dunia, yakni Badak Sumatra, Badak Hitam, Badak Putih dan Badak India.

Bersama badak sumatra, Javan rhino ini berada di ambang kepunahan karena hanya berjumlah 74 ekor untuk badak jawa dan 100 ekor untuk badak sumatra.

Tidak cuma itu, jenis badak hitam pun tergolong sebagai satwa yang terancam punah. Pakar mensinyalir opulasi spesies ini hanya berjumlah 5.055 ekor, sedang badak putih mencapai 20.408 ekor di habitatnya.

Asal-Usul dan Habitat Badak Jawa

Di masa lampau, spesies Rhinoceros sondaicus tidak cuma hidup di kawasan pulau Jawa saja, namun menyebar hingga area pegunungan khususnya wilayah Asia Tenggara sampai ke India.

Menurut ahli sejarah, dulu badak jawa tinggal tidak jauh dari pemukiman manusia. Bahkan pada abad ke-18, hewan yang satu ini warga anggap sebagai hama karena mengganggu tanaman perkebunan warga.

Bukan cuma itu, pemerintah kolonial Belanda yang saat itu berkuasa bahkan pernah mengadakan sayembara, dengan total hadiah sebesar 10 gulden bagi siapa saja yang berhasil membunuhnya.

Padahal bila kita telaah lebih lanjut, fauna bertubuh gempal ini terbilang sangat unik sebab menjadi salah satu spesies yang berevolusi saat pembentukan kawasan ‘Sunda Land’ ribuan tahun silam.

Jika ingin melihat badak jawa di habitat aslinya, saat ini hewan tersebut bisa kita temukan di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten, dengan daya dukung berkisar 50 individu saja.

Morfologi dan Ciri-Ciri Badak Jawa

Morfologi atau ciri fisik badak sebenarnya dapat kita bedakan berdasarkan jenisnya. Oleh sebab itu, jenis badak sumatra dan jenis badak jawa jelas mempunyai ciri yang berbeda meski tampak serupa.

Secara fisik, javan rhino memiliki satu cula dengan ukuran sekitar 25 cm. Sedang Dicerorhinus sp (nama ilmiah badak sumatra) bercula dua; 28-80 cm untuk cula depan dan 10 cm untuk cula belakang.

Kedua kulit hewan ini juga berbeda, bagian kulit badak cula satu berwarna abu-abu dengan teksturnya tidak rata dan berbintik, sedang badak sumatra berwarna cokelat keabu-abuan serta berambut.

Beberapa jenis Sumatran Rhino juga memiliki kulit berwarna cokelat kemerah-merahan. Spesies yang satu ini terkenal sebagai jenis badak dengan jumlah rambut terbanyak di antara sub-spesies lainnya.

Selain beberapa ciri di atas, ada fakta unik lain yang patut Anda ketahui terkait badak jawa, seperti:

  • Berat badan hewan ini bisa mencapai 900-2.300 kg;
  • Tinggi badannya berkisar 1,7 m dengan panjang 2-4 m;
  • Cula pada badak betina biasanya sangat kecil, bahkan bisa saja tidak ada;
  • Badak jantan mencapai fase dewasa setelah 10 tahun, sedang betina pada usia 5-7 tahun;
  • Masa mengandung badak betina antara 15-16 bulan; dan
  • Bagian atas bibirnya meruncing untuk mempermudah mengambil daun dan ranting.
badak jawa

Badak sumatra dan jenis badak jawa jelas mempunyai ciri yang berbeda meski tampak serupa. Foto: Shutterstock.

Penyebab Kepunahan Badak Jawa

Melansir WWF Indonesia, kasus perburuan liar badak Jawa sudah tidak ada sejak tahun 1990-an. Hal ini berkat efektifnya penegakan hukum dan langkah inisiatif pelestarian badak.

Meski begitu, bukan berarti ancaman terhadap satwa langkah ini lantas berkurang. Terdapat beberapa dua faktor lain yang menjadi ancaman terbesar bagi populasi badak saat ini, yaitu:

1. Berkurangnya Keragaman Genetis

Badak merupakan hewan penyendiri serta ‘pemalu,’ sehingga sangat sulit bagi hewan tersebut untuk mendapatkan pasangan dan melakukan reproduksi secara alamiah.

Populasi badak yang sedikit menyebabkan rendahnya keragaman genetis, hal ini secara otomatis memperlemah kemampuan spesies tersebut dalam menghadapi wabah penyakit dan bencana alam.

2. Degradasi dan Hilangnya Habitat

Sudah jadi rahasia umum, masifnya aktivitas alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian membuat ruang gerak badak di habitatnya semakin sempit setiap tahunnya.

Bahkan berdasarkan laporan daftar satwa liar terbaru Malaysia, badak jawa telah dinyatakan punah (extinct) akibat tingginya kegiatan deforestasi untuk kebutuhan komersil secara ilegal di sana.

3. Menipisnya Sumber Makanan

Bukan cuma penebangan hutan, salah satu penyebab menipisnya sumber makananan badak adalah pertumbuhan tanaman langkap (Arenga obtusifolia) yang tidak terkontrol di habitatnya.

Tajuk langkap yang melebar dan berjumlah banyak menutupi sinar matahari bagi tumbuhan rendah di sekitarnya. Salah satu flora yang mati akibat pertumbuhan langkap adalah golongan pakan badak.

Baca juga: Bisik-Bisik Kuping Gajah, Ayo Kita Intip Daunnya yang Berkilau

Upaya Konservasi dan Manfaat Badak Jawa

Jurnal Konservasi (Conservation Letter) menyebut sebagian populasi badak jawa di TNUK berada dalam jangkauan Gunung Berapi Krakatau. Dekat dari Cekungan Sunda.

Kedua lokasi ini merupakan daerah konvergen lempengan tektonik, yang berpotensi menyebabkan gempa bumi serta dapat memicu terjadinya bencana tsunami.

Dalam studi tersebut, pakar memroyeksikan jika terjadi bencana tsunami setinggi 10 m dalam 100 tahun ke depan, maka dapat mengancam 80% area TNUK yang notabenenya menjadi habitat badak jawa.

Maka dari itu, peneliti mendesak untuk segera melakukan pembangunan habitat baru di lokasi yang lebih aman, seperti Hutan Baduy, Taman Nasional Halimun-Salak, Cagar Alam Sancang dan Cikepuh.

Badak jawa adalah satwa yang sangat penting, menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Wiratno, hewan ini bisa menjadi indikator kelestarian hutan.

Apabila hutan masih lestari maka lokasi tersebut menjadi tempat tinggal favorit badak, namun jika hutannya sudah rusak maka hewan-hewan tersebut akan pindah bahkan mati di dalamnya.

Taksonomi Badak Jawa

badak jawa

Referensi:

Laman DLHK Yogyakarta

Laman Yayasan Badak Indonesia

U. Mamat Rahmat dalam Jurnal Manajemen Hutan Tropika

Laman WWF Indonesia

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/badak-jawa/feed/ 0
Ada Dugaan Badak Najaq Mati Karena Sebab Lain https://www.greeners.co/berita/ada-dugaan-badak-najaq-mati-karena-sebab-lain/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ada-dugaan-badak-najaq-mati-karena-sebab-lain https://www.greeners.co/berita/ada-dugaan-badak-najaq-mati-karena-sebab-lain/#respond Thu, 07 Apr 2016 01:30:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13393 Kasus kematian Najaq, Badak Sumatera yang mati setelah 16 hari ditemukan di Kutai Barat, Kalimantan Timur diduga bukan hanya karena infeksi akibat jerat tali yang melilit kaki kiri belakangnya.]]>

Jakarta (Greeners) – Kasus kematian Najaq, Badak Sumatera yang mati setelah 16 hari ditemukan di Kutai Barat, Kalimantan Timur diduga bukan hanya karena infeksi akibat jerat tali yang melilit kaki kiri belakangnya. Ketua Yayasan Badak Indonesia (YABI) Widodo Ramono berharap tindakan autopsi yang tengah dilakukan oleh tim dokter akan mengungkap penyebab pasti kematian badak yang telah dianggap punah di Kalimantan ini.

“Kita masih cari tahu apa ada kemungkinan-kemungkinan lain penyebab kematian dari badak sumatera ini,” katanya kepada Greeners di Jakarta, Rabu (06/04).

Terkait luka akibat jerat tali di kaki yang mengakibatkan infeksi tersebut, dijelaskan Widodo, luka tersebut sudah lama. Kondisi itu terlihat sejak Najaq pertamakali tertangkap kamera jebak milik WWF Indonesia yaitu sekitar tanggal 20 Oktober 2015.

“Badak itu seperti traktor, dia terlihat tidak apa-apa, padahal menahan sakit. Bisa saja tiba-tiba dia bisa mati saat sedang berjalan,” tambahnya.

Widodo juga mengakui bahwa banyak sekali perhatian dari dunia untuk konservasi badak sumatera ini. Menurutnya, harus ada edukasi dan pendekatan kepada masyarakat yang masih menganggap bahwa menjerat satwa adalah sebuah kebiasaan dalam berburu. Karena, katanya, penemuan badak Sumatera di Kalimantan adalah suatu hal yang istimewa. Hingga saat ini saja, diperkirakan hanya ada 100 ekor populasi badak sumatera di seluruh dunia.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang Dahono Adji menambahkan bahwa tindakan autopsi yang dilakukan oleh tim dokter harus dilakukan terhadap satwa langka dilindungi yang telah mati sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Saat ini tim dokter khusus akan melakukan autopsi, akan dikirim hasilnya ke laboratorium supaya ini bisa jadi bahan peneitian ilmiah untuk para ilmuwan yang membutuhkan,” tuturnya.

Direktur Program Sumatera-Kalimatan WWF Indonesia Anwar Purwoto menuturkan, dengan matinya badak Najaq, maka saat ini terdeteksi ada 14 sisa badak Sumatera di Kalimantan Timur di dua kantong habitatnya.

“Jadi sama Najaq, ada 15 badak yang terdeteksi. 12 ekor badak sumatera di kantong habitat 1 yaitu di Utara, dan 3 ekor termasuk Najaq ada di kantong habitat 3, di Selatan. Untuk yang kantong habitat 2 masih belum ada survei identifikasi berapa banyak, tapi ada kemungkinan di sana ada badak sumatera juga, karena sumber info ada di sana. Sedangkan yang tersisa di kantong 3 itu ada dua ekor dan saat ini sedang dalam kondisi habitat terdesak. Di kantong satu jauh lebih baik karena sebagian besar merupakan hutan lindung dan ada produksinya juga,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/ada-dugaan-badak-najaq-mati-karena-sebab-lain/feed/ 0
Berikan Badak Ruang Lebih untuk Berkembang Biak https://www.greeners.co/aksi/berikan-badak-ruang-lebih-untuk-berkembang-biak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=berikan-badak-ruang-lebih-untuk-berkembang-biak https://www.greeners.co/aksi/berikan-badak-ruang-lebih-untuk-berkembang-biak/#respond Fri, 25 Sep 2015 12:38:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11241 Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Badak Sedunia atau World Rhino Day yang jatuh pada 22 September 2015, Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) dan WWF-Indonesia mengadakan berbagai kegiatan bertema […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Badak Sedunia atau World Rhino Day yang jatuh pada 22 September 2015, Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) dan WWF-Indonesia mengadakan berbagai kegiatan bertema badak. Kegiatan ini diselenggarakan di Loops Station, Blok M, Jakarta Selatan.

Saat ini, terdapat dua jenis badak yang ada di Indonesia, yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicherorinus sumatrensis). Kedua jenis satwa langka dan dilindungi ini dikategorikan dalam status kritis terancam punah (critically endangered species) oleh Daftar Merah IUCN dan dimasukkan dalam Daftar Apendik I oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

Dekan Fakultas Biologi UNAS, Drs. Imran S.L. Tobing M.Si., menyatakan bahwa saat ini metode untuk mencari data tentang populasi badak sudah maju dengan menggunakan kamera trap dan video. Meski demikian, fotografer alam liar, Alain Compost, menyatakan bahwa tidak mudah mengikuti badak karena satwa ini memiliki penciuman yang sangat sensitif.

“Tidak mudah mengikuti badak, harus tidak mandi supaya tidak tercium oleh badak, karena badak mengandalkan indra penciumannya yang lebih sensitif dibandingankan indra penglihatan yang hanya bisa melihat dengan jarak sekitar 2 meter. Dalam jarak tertentu jika ada manusia, badak lebih mengenali baunya dari pada penglihatannya. Untuk mengikuti badak harus diperhatikan arah angin jika tidak maka akan membuat indra penciuman badak lebih sensitif dikarenakan arah angin menuju badak itu dari si pengamat badak yang bau,” ungkapnya.

Dr. Tatang Mitra Setia selaku Peneliti dan Dosen Fakultas Biologi Unas menambahkan bahwa habitat badak sangat terbatas. “Habitat badak di tengah hutan dan di sekitar pinggiran sungai menjadi prioritas utama karena berfungsi sebagai rumahnya si badak”.

Dalam acara Hari Badak Sedunia ini, digelar berbagai acara, diantaranya diskusi tentang fotografi alam liar, pemutaran film tentang Badak di Indonesia, serta aksi kampanye melalui media sosial dan penampilan musik dari Endah N Rhesa. Hadir sebagai narasumber Sunarto ahli satwa liar dari WWF Indonesia, Tatang Mitra Setia yang merupakan Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional, dan Alain Compost fotografer dan videografer satwa liar.

Kegiatan kali ini bertujuan untuk berbagi informasi tentang fotografi alam liar dan ekologi serta ancaman terhadap keberadaan badak di habitat alaminya. Selain itu, menggalang dukungan dari publik dan semua pihak untuk bekerjasama dalam upaya pelestarian badak di dunia, khususnya di Indonesia.

Peserta acara World Rhino Day 2015 ini berasal dari berbagai sekolah, universitas, mahasiswa pecinta alam, dan komunitas. Diantaranya, SMA Kemala Bhayangkari, Universitas Nasional, Universitas Negeri Jakarta, Institut Pertanian Bogor, Indonesia Wildlife Photography, Universitas Indonesia, Universitas Islam Assyifi’iyah, Universitas Bunda Mulia, mahasiswa Pecinta Alam Stacia UMJ, dan masyarakat lainnya.

Penulis: AB

]]>
https://www.greeners.co/aksi/berikan-badak-ruang-lebih-untuk-berkembang-biak/feed/ 0
Tiga Anak Badak Baru Ditemukan di Ujung Kulon https://www.greeners.co/berita/tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon https://www.greeners.co/berita/tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon/#respond Fri, 25 Sep 2015 12:01:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11239 Jakarta (Greeners) – Tim Rhino Monitoring Unit atau RMU Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berhasil menemukan tiga anak badak jawa baru di Semenanjung Ujung Kulon dalam periode waktu antara […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tim Rhino Monitoring Unit atau RMU Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berhasil menemukan tiga anak badak jawa baru di Semenanjung Ujung Kulon dalam periode waktu antara Maret hingga Agustus 2015.

Atas temuan ketiga anak badak ini, Bambang Dahono Adji, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengaku sangat bahagia karena penemuan ini telah membuka harapan baru terhadap populasi badak yang mana sebelumnya para peneliti tidak pernah menemukan keberadaan badak secara fisik.

“Ini luar biasa, saya sangat bahagia karena ini berarti terget kita untuk peningkatan spesies langka bisa terwujud,” ujar Bambang kepada Greeners, Jakarta, Jumat (25/09).

Anak badak jawa yang pertama sendiri berjenis kelamin betina. Pertama kali terekam kamera video pada tanggal Sembilan April 2015, pukul 17.29 WIB di Blok Citengah (bagian timur Semenanjung Ujung Kulon). Anak badak ini merupakan anak dari induk yang bernama Desy. Pada tahun 2012, Desy pernah punya anak jantan yang bernama Arjuna yang pada akhir tahun 2013 telah disapih. Sedangkan selama tahun 2014 Desy terekam selalu sendiri, dan terakhir pada tanggal 13 Agustus 2014 pukul 19.22 WIB di Blok Cigenter, Desy terekam dalam kondisi perut besar (hamil).

Lalu, anak badak jawa kedua berjenis kelamin jantan. Pertama kali terekam kamera video pada tanggal 25 Mei 2015 pukul 18.24 WIB di Blok Cijengkol, kaki Gunung Kendeng (bagian barat Semenanjung Ujung Kulon). Anak badak ini merupakan anak dari induk yang bernama Siti. Pada tahun 2011, Siti pernah punya anak jantan yang bernama Dwipa dan pada tahun 2013 Dwipa sudah di sapih. Selama tahun 2014 Siti terekam selalu sendiri, dan terakhir terekam pada tanggal tiga Desember 2014 pukul 06.13 WIB di Blok Hulu Cidatahan, yang berjarak sekitar 3 Km dari Blok Cijengkol dalam kondisi perut besar.

Terakhir, anak badak jawa yang ketiga juga berjenis kelamin jantan. Pertama terekam kamera video pada tanggal Delapan Juli 2015 pukul 13.16 WIB di Blok Rorah Daon, Cikeusik (bagian selatan Semenanjung Ujung Kulon). Anak badak ini merupakan anak dari induk yang bernama Ratu. Pada tahun 2011, Ratu pernah punya anak betina yang bernama Suci dan pada tahun 2012 Suci sudah di sapih. Selama tahun 2014 Ratu terekam sendiri, dan terakhir terekam pada tanggal 13 September 2014 pukul 03.48 WIB di Blok Citadahan dalam kondisi perut besar.

“Dengan ditemukannya tiga anak badak jawa tersebut, maka populasi satwa langka yang kini hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon tersebut sekarang meningkat menjadi 60 ekor yang sebelumnya berdasarkan hasil monitoring tahun 2014 jumlah badak jawa di TN Ujung Kulon sebanyak 57 ekor, terdiri dari 31 ekor jantan dan 26 ekor betina,” tambah Bambang.

Terkait target peningkatan populasi spesies hewan langka di Indonesia seperti harimau sumatera (Phantera tigris sumatrae), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), dan jalak bali (Leucopsar rothchildi), Bambang mengatakan kalau pihaknya telah menargetkan peningkatan jumlah 25 spesies terancam punah sebesar 10 persen hingga tahun 2019. Untuk memenuhi target tersebut, selain melalui penangkaran dan pelepasliaran satwa, kebun binatang juga wajib melakukan breeding.

“Kami juga sangat berterimakasih pada teman-teman NGO (non-goverment organization) yang sangat banyak membantu kami dalam hal melindungi dan menjaga hewan-hewan langka ini,” tutupnya.

Sebagai informasi, berikut 25 spesies terancam punah yang diprioritaskan meningkat populasinya sebesar 10 persen pada tahun 2019 sesuai kondisi biologis dan ketersediaan habitat :
1. Harimau sumatera
2. Gajah sumatera
3. Badak jawa
4. Owa (Owa jawa, Bilou)
5. Banteng
6. Elang (elang jawa dan elang flores)
7. Jalak bali
8. Kakatua (kakatua jambul kuning, kakatua jingga, kakatua alba)
9. Orangutan (orangutan kalimantan dan orangutan sumatera)
10. Komodo
11. Bekantan
12. Anoa
13. Babirusa
14. Maleo
15. Macan tutul
16. Cendrawasih
17. Rusa bawean
18. Tarsius
19. Surili
20. Macaca maura
21. Julang sumba
22. Nuri kepala hitam
23. Kangguru pohon
24. Penyu (penyu sisik dan penyu belimbing)
25. Celepuk rinjani

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon/feed/ 0