Penyakit Ancam Populasi Badak Sumatera dan Jawa

Reading time: 2 menit
badak jawa
Foto: Willem V. Strien/flicr.com

Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan habitat dua dari lima spesies badak yang ada di dunia yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Sayangnya, penurunan populasi yang begitu besar telah terjadi pada badak sumatera. Dalam rentang waktu 1986 hingga 2007, penurunan populasi badak sumatera bahkan mencapai 82 persen.

Saat ini, populasi keseluruhan badak sumatera diperkirakan tidak lebih dari 100 individu (Kemenhut, 2007) dari sebaran populasi alaminya yang tersebar di beberapa kantong yang terpisah, yaitu di hutan Sumatera dan Kalimantan.

Selain ancaman perburuan, ancaman kesehatan pun menjadi hal yang sangat krusial. Kepala Pusat Keteknikan Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan drh. Indra Exploitasia, mengatakan, patologis (penyakit) yang didapati pada kematian badak biasanya adalah parasit darah. Jika kondisinya sangat akut bisa mengakibatkan kematian. Parasit darah dapat menyebabkan reproduksi badak terganggu, diantaranya kemandulan dan tidak birahi sehingga mempersulit perkembangbiakan.

“Tanda-tanda kematian akibat parasit darah diidentifikasi dengan nekropsi, melihat perubahan yang terjadi pada organ tubuh. Penularannya memang melalui vektor lalat, tetapi tidak serta-merta badak hidup yang dikerubuti lalat akan tertular. Makanya, selain hilangnya habitat dan perburuan, penyakit juga salah satu hal yang patut diwaspadai,” katanya, Jakarta, Sabtu (01/10).

BACA JUGA: WWF Indonesia: Populasi Badak Sumatera di Kalimantan Terancam

Sedangkan untuk badak jawa, Moh. Haryono, Kepala Sub Direktorat Sumber Daya Genetik Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, menjelaskan bahwa dalam kurun waktu 2011 hingga 2015, tercatat jumlah badak jawa meningkat menjadi 63 individu, termasuk kelahiran tujuh anak badak. Angka ini didapat setelah penambahan kamera video di sejumlah titik. Hingga 2015, terangnya, pemasangan 100 kamera pengintai dilakukan dan setiap 10 bulan, tim akan mendatangai kamera tersebut untuk pengambilan data dan pengecekan peralatan.

Haryono menyatakan bahwa kondisi badak jawa hingga saat ini masih dalam status kritis karena terancam dari ketersediaan pakan dan aktivitas ilegal masyarakat sekitar. Menyusutnya habitat badak juga membuat penyebaran penyakit dari ternak peliharaan ke badak terjadi. Pada 2014, empat badak mati karena tertular penyakit dari ternak.

Haryono menyebutkan ada tiga program strategis untuk konservasi badak jawa. Pertama, pengendalian tumbuhan invasif yang mengurangi pakan badak di Semenanjung Ujung Kulon. Kedua, pengelolaan JRSCA (Javan Rhino Study and Conservation Area) yang saat ini sedang dibangun konstruksinya. Ketiga, membangun populasi kedua karena kehidupan badak jawa di Ujung Kulon selama berpuluh tahun berkutat di ruang yang tidak terlalu luas sehingga memungkinkan terjadinya perkawinan seketurunan.

“Dengan dipindah ke tempat lain, peluang terjadinya heterogenitas terbuka,” tambahnya.

BACA JUGA: KLHK Tetapkan 25 Satwa Prioritas Dilindungi

Sedangkan untuk badak sumatera, Direktur Konservasi WWF Indonesia Arnold Sitompul menyarankan upaya konservasi badak sumatera dengan inovasi baru yaitu mendorong program pembiakan semi alami yang lebih aktif karena kondisi populasi di alam sudah sangat kritis.
“Perlindungan habitat saja tidak cukup untuk menyelamatkan badak sumatera,” katanya.

Sebagai informasi, kondisi badak sumatera dan badak jawa yang hidup di Indonesia mengalami keterancaman. Meski hidupnya dilindungi, namun ancaman kepunahan masih sangat besar. Dua jenis ini, berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species Category, statusnya adalah Kritis (Critically Endangered/CR) atau satu langkah menuju kepunahan di alam. Secara umum, penyempitan habitat dan perburuan merupakan musuh utama kehidupan badak di negeri ini.

Pemerintah Indonesia sendiri mencanangkan target pertumbuhan populasi sebesar 10 persen untuk 25 satwa dilindungi pada kurun waktu tahun 2015 – 2019, termasuk di dalamnya badak sumatera dan badak jawa. Untuk badak jawa, target ini hampir terpenuhi, sayangnya tidak untuk badak sumatera, yang junlah populasinya pada tahun 1974, diperkirakan antara 400-700 individu namun dalam 10 tahun belakangan laju kehilangan populasinya mencapai 50 persen. Bahkan di salah satu kantong populasinya di Kerinci Seblat, badak sumatera sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 2008.

Penulis: Danny Kosasih

Top
You cannot copy content of this page