hewan nokturnal - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hewan-nokturnal/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 22 Apr 2023 23:19:07 +0000 id hourly 1 Ular Kepala Merah, Bergerak Lamban namun Bisanya Mematikan https://www.greeners.co/flora-fauna/ular-kepala-merah-bergerak-lamban-namun-bisanya-mematikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ular-kepala-merah-bergerak-lamban-namun-bisanya-mematikan https://www.greeners.co/flora-fauna/ular-kepala-merah-bergerak-lamban-namun-bisanya-mematikan/#respond Sun, 23 Apr 2023 03:00:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39777 Ular kepala merah atau Red-headed krait bernama ilmiah Bungarus flaviceps merupakan salah satu ular berbisa dari Asia Tenggara. Berasal dari famili Elapidae dan berkerabat dengan ular king kobra (Ophiophagus hannah), […]]]>

Ular kepala merah atau Red-headed krait bernama ilmiah Bungarus flaviceps merupakan salah satu ular berbisa dari Asia Tenggara.

Berasal dari famili Elapidae dan berkerabat dengan ular king kobra (Ophiophagus hannah), ular Eastern coral (Micrurus fulvius), mamba hitam (Dendroaspis polylepis), dan lainnya.

Terdapat dua subspesies dari jenis ular kepala merah, yakni B. f. flaviceps, yang terdapat di seluruh rentang spesies dan bentuk pegunungan yang lebih rendah, B. f. baluensis, yang tampaknya terbatas di Sabah, Borneo Malaysia. Subspesies yang terakhir memiliki warna merah yang lebih luas di tubuh bagian bawah serta diselingi dengan pita hitam dan putih.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Ular kepala merah tubuhnya berwarna hitam atau hitam kerbiruan dengan sisiknya yang membesar. Sisik tersebut membentuk punggungan yang jelas di sepanjang garis punggungnya. Namun pada beberapa spesimen ular yang ditemukan, sisik ini terlihat berwarna kuning pucat.

Kepala ular ini berwarna merah cerah, terkadang juga oranye atau kuning dengan warna yang sedikit meluas ke arah leher. Selain itu, ekor ular ini juga berwarna merah cerah, oranye, ataupun kuning dengan warna yang memanjang hingga ke bagian tubuh bawah. Kepalanya berbentuk agak tumpul dengan mata yang relatif berukuran kecil.

Tipe giginya yaitu proteroglypha, yakni gigi bisa kecil dan permanen yang terdapat pada bagian depan rahang atas. Racun dari spesies ini masih sedikit ahli pelajari, namun mereka anggap mematikan bagi manusia dan bersifat neurotoksin (melumpuhkan jaringan saraf).

Suatu penelitian menyatakan racun mematikan utama dari racun B. flaviceps serupa dengan yang ahli temukan pada racun B. multicinctus dan B. candidus.

Ukuran panjang maksimal ular ini sekitar 210 cm. Mereka umumnya memangsa ular, kadal, katak, dan mamalia kecil. Berkembang biak dengan bertelur (ovipar), dan dapat bertelur dalam jumlah 10 butir. Biasanya mereka aktif pada malam hari (nokturnal) dan semi akuatik. Pergerakannya cukup lamban, dan kerap kali bersembunyi di bawah batu atapun kayu.

Habitat dan Distribusi Ular kepala merah

Ular ini umum ada pada hutan dataran rendah, area perbukitan, serta hutan tropis basah. Distribusinya di Asia Tenggara meliputi Indonesia (Bali, Bawean, Jawa, Karimunjawa, Sumatra, Bangka, Belitung, Sulawesi, Kalimantan), Myanmar selatan, Thailand selatan, Vietnam, Kamboja, dan Semenanjung Malaysia.

Ancaman dan Konservasi

Ancaman bagi ular kepala merah yakni perubahan kondisi habitat serta kerusakan lingkungan. Di Indonesia ular ini tidak masuk dalam daftar satwa yang dilindungi. Sedangkan menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), status konservasi ular ini ialah kurang diperhatikan (least concern) dengan status populasinya di alam yang masih belum diketahui secara pasti dan membutuhkan data serta penelitian lebih lanjut.

Taksonomi Ular kepala Merah

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ular-kepala-merah-bergerak-lamban-namun-bisanya-mematikan/feed/ 0
Mengenal Ular Viper Timur, Si Cantik yang Mematikan https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-ular-viper-timur-si-cantik-yang-mematikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-ular-viper-timur-si-cantik-yang-mematikan https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-ular-viper-timur-si-cantik-yang-mematikan/#respond Wed, 05 Apr 2023 03:00:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39588 Ular viper timur atau White-lipped Island Pitviper yang memiliki nama ilmiah Trimeresurus insularis merupakan golongan ular berbisa dari Asia Tenggara. Berasal dari famili Viperidae sehingga berkerabat dengan ular berbisa dari […]]]>

Ular viper timur atau White-lipped Island Pitviper yang memiliki nama ilmiah Trimeresurus insularis merupakan golongan ular berbisa dari Asia Tenggara.

Berasal dari famili Viperidae sehingga berkerabat dengan ular berbisa dari Asia Tenggara lainnya seperti T. albolabris, T. erythrurus, T. fasciatus, dan T. purpureomaculatus.

Bahkan, sebelum benar-benar ada penetapan sebagai spesies sendiri, ular ini pernah diklasifikasikan sebagai subspesies dari T. albolabris. Selain itu, sebelum masuk dalam genus Trimeresurus, pernah berada dalam genus Cryptelytrops.

Hingga pada akhirnya analisis DNA mitokondria ular viper timur menunjukkan bahwa ular ini merupakan spesies tersendiri yang masuk dalam genus Trimeresurus.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Ular ini memiliki tiga variasi warna yang umum kita jumpai, yakni hijau, kuning, dan biru dengan bagian tengah tubuhnya berwarna kuning atau putih. Selain itu, warna matanya juga bervariasi mulai dari abu-abu hingga merah-kuning. Meskipun memiliki warna tubuh yang bervariasi, bagian ekor ular viper timur biasanya akan berwarna merah, oranye, atau merah muda.

Panjang tubuh maksimalnya sekitar 60 cm, serta memiliki kepala yang melebar hingga terlihat memiliki leher. Selain itu, terdapat lubang pendeteksi panas (heat pit) terletak di setiap sisi kepala di tengah-tengah antara lubang hidung dan mata. Struktur ini sangat peka terhadap radiasi inframerah, yang memungkinkan ular viper timur dapat “melihat” gambar panas dari mangsa berdarah panas.

Ular viper timur adalah predator yang oportunis, mereka biasa memangsa mamalia kecil, burung, katak, kadal, hingga ular lainnya. Di samping itu, ular viper timur aktif mencari mangsa pada malam hari (nokturnal). Namun ada temuan ular ini juga mulai aktif dari sore hari dan banyak menghabiskan waktunya di atas pohon (arboreal).

Ular ini memiliki tipe gigi Solenoglypha. Gigi ini bisa sangat panjang dan dapat ular ini lipat pada rahang bagian atasnya. Ular ini juga memiliki bisa jenis hemotoksin yakni racun pelumpuh sistem sirkulasi darah.

Melansir dari berbagai sumber, gejala yang timbul dari gigitan ular famili viperidae akan timbul dalam 15 menit atau beberapa jam kemudian. Gejala lokal muncul bengkak di dekat gigitan hingga menyebar ke seluruh anggota tubuh.

Sedangkan gejala sistemik akan muncul 5 menit setelah gigitan. Kemudian gejala berat akan muncul dalam waktu 2 jam ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut, perdarahan hebat pada gusi, hidung, lendir, muntah, urin dan feses.

Distribusi dan Habitat Ular Viper Timur

Ular ini dapat kita temukan di semua pulau besar di Kepulauan Sunda Kecil (Flores, Lembata, Lombok, Pantar, Sumba, Sumbawa, Timor, dan Wetar). Habitat ular viper timur yakni hutan dataran rendah, belukar yang rapat dan terkadang berada di hutan bambu, perkebunan, daerah berumput rendah dan tinggi di sepanjang area persawahan.

Menariknya, sebagian besar ular ini yang ditemukan biasanya berwarna hijau. Sedangkan individu berwarna biru ada di Pulau Komodo dan individu berwarna kuning di Pulau Timor dan Pulau Wetar. Namun, pulau-pulau ini juga memiliki individu berwarna hijau.

Status Konservasi

Populasi ular ini di habitatnya masih kurang diperhatikan (least concern) menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) yang terakhir terdata pada tahun 2019. Di Indonesia sendiri ular ini belum masuk kategori sebagai satwa yang dilindungi karena populasinya yang belum terancam.

Meskipun begitu, menjadikan satwa ini sebagai peliharaan sangat tidak direkomendasikan. Selain karena berbahaya dari bisanya, kelestarian satwa ini di habitat aslinya juga perlu kita jaga.

Taksonomi Ular Viper Timur

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-ular-viper-timur-si-cantik-yang-mematikan/feed/ 0
Teledu Sigung, Keluarkan Bau Busuk untuk Lindungi Diri https://www.greeners.co/flora-fauna/teledu-sigung-keluarkan-bau-busuk-untuk-lindungi-diri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=teledu-sigung-keluarkan-bau-busuk-untuk-lindungi-diri https://www.greeners.co/flora-fauna/teledu-sigung-keluarkan-bau-busuk-untuk-lindungi-diri/#respond Sun, 26 Feb 2023 03:00:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39115 Teledu sigung (Mydaus javanensis) merupakan spesies asli yang habitatnya berada di Indonesia bagian barat seperti Kalimantan dan Malaysia. Famili Mephitidae ini dapat mengeluarkan bau busuk jika terganggu. Ini berfungsi sebagai […]]]>

Teledu sigung (Mydaus javanensis) merupakan spesies asli yang habitatnya berada di Indonesia bagian barat seperti Kalimantan dan Malaysia.

Famili Mephitidae ini dapat mengeluarkan bau busuk jika terganggu. Ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri terhadap predator. Mereka merupakan binatang nokturnal penyendiri dan mencari makanan di terestrial.

Morfologi dan Ciri-Ciri Umum 

Hewan ini termasuk jenis mamalia bertubuh kecil. Panjang kepala dan tubuhnya antara 370 hingga 520 milimeter dan ekornya sangat pendek yakni 34 hingga 38 milimeter. Kakinya juga pendek, dengan tungkai belakang bagian bawah antara 64 hingga 70 milimeter dan bermoncong panjang.

Tubuh spesies ini tertutupi rambut yang panjang dan lebat. Warnanya hitam hingga cokelat tua. Terdapat garis belang putih memanjang dari bagian atas tubuh dari tengah kepala hingga ke ekor. Berat badannya berkisar antara 1,4 hingga 3,6 kilogram.

Perilaku Teledu Sigung

Spesies ini merupakan binatang nokturnal penyendiri dan mencari makanan ke tanah. Biasanya mereka menggali sumber makanan ini menggunakan cakar dan moncong yang ia miliki.

Teledu sigung merupakan omnivora dan kerap memangsa berbagai jenis hewan lain, mulai dari cacing tanah, tempayak serangga (seperti tonggeret), katak, ular, burung, tikus hingga telur. Mereka juga bisa memakan buah-buahan, dedaunan, jamur dan akar.

Mamalia seperti musang berbulu indah ini mempunyai kemampuan mengeluarkan bau busuk. Ini berfungsi sebagai alat pertahanan dirinya terhadap predator.

Dalam keadaan terjepit, teledu sigung akan menundukkan kepala, mengangkat ekor, dan menjejak-jejakkan cakar depannya di tanah. Ini sebagai tanda peringatan terhadap musuhnya.

Namun, jika predator tak juga pergi maka hewan ini melengkungkan tubuh membentuk huruf U. Bagian kepala dan ekornya mengarah ke musuh lalu menyemprotkan bau busuk pada musuhnya. Benar-benar cara pertahanan diri yang unik!

Taksonomi Teledu Sigung (Mydaus javanensis)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/teledu-sigung-keluarkan-bau-busuk-untuk-lindungi-diri/feed/ 0
Musang Akar, Hewan Khas Kalimantan yang Menggemaskan https://www.greeners.co/flora-fauna/musang-akar-hewan-khas-kalimantan-yang-menggemaskan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=musang-akar-hewan-khas-kalimantan-yang-menggemaskan https://www.greeners.co/flora-fauna/musang-akar-hewan-khas-kalimantan-yang-menggemaskan/#respond Sun, 18 Dec 2022 03:00:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38316 Pada mulanya musang akar hanya bisa kita temukan di hutan-hutan Kalimantan. Namun seiring berjalannya waktu, musang tersebut kini dapat kita jumpai di berbagai daerah karena jamak dikembangbiakkan oleh para pecinta […]]]>

Pada mulanya musang akar hanya bisa kita temukan di hutan-hutan Kalimantan. Namun seiring berjalannya waktu, musang tersebut kini dapat kita jumpai di berbagai daerah karena jamak dikembangbiakkan oleh para pecinta hewan.

Musang akar adalah salah satu hewan nokturnal yang berasal dari famili Viverridae. Spesiesnya tergabung dalam genus Arctogalidia, sehingga memiliki nama ilmiah A. trivirgata.

Berdasarkan klasifikasinya, dapat kita ketahui bahwa musang ini berkerabat dengan musang bulan khas Sumatra, musang garangan khas Pulau Jawa, serta musang Bali.

Luwak juga tergolong sebagai kerabat dari spesies ini. Mereka sama-sama tergabung dalam famili Viverridae, meskipun hewan omnivora itu berasal dari genus Paradoxurus.

Morfologi dan Ciri-Ciri Musang Akar

Musang akar merupakan hewan mamalia bertubuh yang ramping sepanjang 50–60 cm. Mereka dapat berkembang biak hingga seberat 1,3 kg, meski ada pula yang mencapai 3 kg.

Berkat bentuk tubuhnya, hewan ini dapat dengan gesit menerobos rimbunnya pepohonan. Bulunya yang berwarna abu kecokelatan juga mempermudah proses menyamar di kegelapan.

Spesies A. trivirgata memiliki cakar tajam yang tidak terlalu panjang. Punggungnya mempunyai motif khas berupa garis hitam pucat, yang memanjang mulai dari kepala sampai ke ekor.

Seperti bentuk dan corak tubuhnya, cakar musang pun mempunyai sejumlah kegunaan. Selain alat pertahanan diri, cakar pendek tersebut membantunya dalam mencengkram dahan.

Jika diperhatikan, ukuran ekor musang ini lebih panjang dari tubuhnya. Ekor berwarna abu-abu pucat itu berfungsi sebagai penyeimbang tubuh saat mereka berada di ketinggian.

Habitat dan Distribusi Musang Akar

Habitat musang akar berada di hutan primer dan sekunder sampai ketinggian 1.500 meter di atas laut. Mereka dapat hidup pada suhu 24–26 Celsius, dengan kelembaban udara 98–100 %.

Tipe habitat ini diketahui hampir mirip dengan musang luwak. Tidak heran memang, mengingat kedua satwa itu berasal dari Asia Tenggara dan tergabung dalam keluarga yang sama.

Seperti musang luwak, spesies A. trivirgata kini bisa kita temukan di daerah perkotaan. Mereka tidak dikembangbiakkan untuk kebutuhan industri, melainkan hewan peliharaan eksotis.

Melansir IUCN Red List, status konservasi A. trivirgata berada pada kategori “least concern”. Ia tidak tergolong sebagai satwa dilindungi, sehingga masih boleh diperjualbelikan dan dipelihara.

Saat ini, hewan khas Kalimantan itu tersebar sampai ke Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan sebagainya. Mereka juga dapat kita jumpai di India, Indochina, dan Semenanjung Malaya.

Perilaku dan Kebiasaan Musang Akar

Musang akar dapat dipelihara karena karakteristiknya yang jinak. Ada yang bilang hewan ini mirip seperti kucing, gampang dipelihara dan dapat mengonsumsi segala jenis makanan.

Jika sudah familiar, jenis musang ini dapat bermanja-manja dengan pemiliknya. Namun ia juga memiliki pemalu dan cukup agresif, terutama pada saat musang kawin setahun sekali.

Spesies A. trivirgata mempunyai daun telinga yang lebar dan sangat sensitif. Daun telinganya itu dapat mendeteksi kehadiran hewan lain dan mangsa, walau dalam jarak yang cukup jauh.

Selain telinga, mata dan penciuman musang ini berfungsi sangat baik. Matanya sangat awas di kegelapan, sedangkan indra penciumannya bisa membedakan buah yang mentah dan matang.

Buah-buahan adalah makanan favorit satwa arboreal (hidup di atas pohon) ini. Mereka sesekali memburu serangga, reptil, telur, cacing dan unggas, untuk memenuhi kebutuhan proteinnya.

Perlu diingat, bijaklah dalam memilih hewan peliharaan. Walaupun spesies ini tergolong jinak, bukan berarti mereka layak dipelihara dan dapat hidup berdampingan dengan manusia.

Taksonomi Arctogalidia Trivirgata

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/musang-akar-hewan-khas-kalimantan-yang-menggemaskan/feed/ 0
Luwak Hasilkan Biji Kopi Terbaik di Dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/luwak-hasilkan-biji-kopi-terbaik-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=luwak-hasilkan-biji-kopi-terbaik-di-dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/luwak-hasilkan-biji-kopi-terbaik-di-dunia/#respond Fri, 18 Nov 2022 04:04:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38005 Kalangan penikmat dan pencinta kopi tentu tak asing dengan kopi Luwak. Meski bukan termasuk salah satu varietas kopi, jenis kopi ini banyak penikmatnya. Bahkan kopi luwak merupakan kopi terbaik dan […]]]>

Kalangan penikmat dan pencinta kopi tentu tak asing dengan kopi Luwak. Meski bukan termasuk salah satu varietas kopi, jenis kopi ini banyak penikmatnya. Bahkan kopi luwak merupakan kopi terbaik dan termahal di pasaran dunia.

Ya, kopi ini memang berasal dari sisa biji kopi di pencernaan luwak yang keluar bersama kotorannya. Satwa nocturnal omnivore ini pakan umumnya adalah buah-buahan. Terkadang luwak juga suka memakan vertebrata kecil, reptil ataupun serangga.

Tergolong omnivore dari porsi dan presentase pakannya. Meski musang ini sering kali memakan ayam dan juga suka buah-buahan seperti pepaya, pisang, hingga kopi.

Oleh sebab itu, luwak dapat menyebarkan biji di hutan melalui fesesnya. Bahkan untuk luwak pemakan biji kopi, biasanya kotorannya masih berbentuk biji kopi. Di kalangan pencinta kopi, luwak terkenal karena produksi biji kopi dari hasil pencernaannya berkualitas.

Kopi luwak merupakan kopi termahal di pasaran dunia. Harganya sekitar US$ 100-600 per 500 gram. Harga jual kopi ini di Amerika Serikat bahkan hingga US$ 175. Untuk menikmati secangkir kopi luwak di California, seseorang harus merogoh kocek hingga US$ 30.

Morfologi dan Perilaku Luwak

Musang Luwak (Paradoxurus hermaphrodithus) biasanya memiliki panjang 90 cm (termasuk ekor) dan rata-rata beratnya adalah 3 kg. Secara umum spesies ini memiliki warna rambut abu-abu kecokelatan dengan ekor hitam-cokelat mulus.

Punggung spesies ini berwarna abu-abu kecokelatan dengan variasi cokelat merah tua sampai kehijauan. Bagian tengah pungungnya berwarna lebih gelap biasanya berupa tiga atau lima garis gelap yang tidak begitu jelas seperti bintik-bintik. Sementara perut bagian sampingnya berwarna lebih pucat.

Spesies ini memiliki ciri khas bintik-bintik pada seluruh tubuhnya. Wajah, kaki dan ekor cokelat gelap keputih-putihan seperti beruban.

Satwa yang aktif pada malam hari (nokturnal) ini bereproduksi sepanjang tahun. Namun terlihat kawin pada siang hari dengan kondisi yang lembap serta cahaya yang redup. Selama masa kawin yang singkat, biasanya pasangan luwak akan tetap tinggal bersama sampai anaknya lahir.

Induk musang biasanya melahirkan sekitar 2-4 anak. Lalu anak yang baru mereka lahirkan biasanya terlihat antara bulan Oktober hingga Desember. Sang induk akan mengasuh anaknya hingga bisa mencari makan sendiri. Biasanya anaknya mereka simpan di dalam lubang pohon atau goa.

Ekologi habitat dan Persebaran

Di alam, habitat yang luwak sukai antara lain semak-semak, hutan sekunder, perkebunan dan sekitar pemukiman manusia. Mereka dapat kita temukan di daerah dataran rendah hingga di daerah dengan ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Luwak juga tersebar di Asia Tengah, Selatan dan Tenggara. Mulai dari India, Sri Lanka, China bagian Selatan sampai Semenanjung Malaya ke Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Filipina.

Beberapa penelitian juga menyebutkan luwak terdapat di Selandia Baru dan Papua Nugini. Kemungkinan sebagai hasil introduksi.

Ancaman dan Status Konservasi

Sayangnya, saat ini luwak masih sering manusia perdagangkan untuk menjadi peliharaan di rumah. Banyak juga laporan satwa ini berpotensi sebagai reservoir dari bakteri patogen dan resistensi antimikroba. Namun kepastian atas informasi itu masih sangat terbatas.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) Musang luwak masuk ke dalam kategori least concern (LC) atau risiko rendah. Kemudian menurut Convention International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) masuk dalam kategori Appendix III.

Namun jika perburuan dan perdagangan secara ilegal terus menerus terjadi sangat mungkin statusnya bisa berubah. Selain itu banyak laporan satwa ini sebagai sumber zoonosis. Dengan begitu status Musang luwak mungkin naik ke Appendix II hingga Appendix I.

Taksonomi Spesies Musang Luwak 

 

Penulis : Zenobia Anwar

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/luwak-hasilkan-biji-kopi-terbaik-di-dunia/feed/ 0
Bukan Makanan, Kelestarian Kalong Sulawesi Wajib Dijaga! https://www.greeners.co/flora-fauna/bukan-makanan-kelestarian-kalong-sulawesi-wajib-dijaga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bukan-makanan-kelestarian-kalong-sulawesi-wajib-dijaga https://www.greeners.co/flora-fauna/bukan-makanan-kelestarian-kalong-sulawesi-wajib-dijaga/#respond Thu, 01 Sep 2022 03:41:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37204 Indonesia adalah salah satu negara dengan angka keberagaman kelelawar (Chiroptera) terbesar di dunia. Setidaknya ada 230 spesies Chiroptera yang tersebar ke berbagai daerah. Sedangkan 70 jenis di antaranya berada di […]]]>

Indonesia adalah salah satu negara dengan angka keberagaman kelelawar (Chiroptera) terbesar di dunia. Setidaknya ada 230 spesies Chiroptera yang tersebar ke berbagai daerah. Sedangkan 70 jenis di antaranya berada di Sulawesi, seperti halnya kalong Sulawesi.

Kalong Sulawesi dikenal sebagai Acerodon celebensis. Ini merupakan kelelawar pemakan buah berukuran besar (Megachiroptera), yang tergabung ke dalam famili Pteropodidae dan subfamili Pteropodinae.

Di tanah air, kelompok kelelawar ini biasa disebut kalong. Begitu juga dengan A. celebensis, sebab spesies tersebut mempunyai ukuran tubuh yang besar dan suka mengonsumsi buah-buahan.

Meskipun sangat penting bagi kelestarian alam, kalong endemis dari Sulawesi itu diketahui makin terancam. Populasinya terus mengalami penurunan, seiring meningkatnya aktivitas perburuan satwa liar.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kalong Sulawesi

Kalong Sulawesi dapat dikenali dengan mudah. Hewan ini memiliki bulu bahu berwarna kuning yang kontras dengan bulu pada bagian tubuh lainnya, yakni berwarna abu-abu, cokelat kekuningan atau kehitaman.

Jika dibandingkan kelelawar atau kalong pada umumnya, ukuran tubuh A. celebensis memang terhitung cukup besar. Namun bobotnya sendiri cenderung sangat ringan, sebab hanya berkisar 200–250 gram.

Panjang lengan bawah sayap mencapai 120,5–144,3 mm, sedangkan panjang telinga antara 28,2–31,1 mm. Panjang betis disinyalir berkisar 50,2–54,3 mm, sedangkan total tengkoraknya mencapai 62,5–64,9 mm.

Sebagai perbandingan, kalong kapauk (Pteropus vampyrus) adalah spesies terbesar dari famili Pteropodidae. Hewan ini memiliki rentang sayap antara 1.400–1.500 mm dengan bobot tubuh 645–1.100 gram.

Melansir berbagai sumber, lebar satu sayap A. celebensis mencapai 57,07 cm. Apabila keduanya kita buka, maka rentang sayap kelelawar tersebut berkisar 114 cm atau hanya 1.141 mm saja.

Habitat dan Karakteristik Kalong Sulawesi

Seperti yang telah disebutkan, kalong Sulawesi adalah spesies endemis yang berasal dari wilayah Buton, Sulawesi, serta beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Mangole, Sanana, Siau, Sangihe, dan Selayar.

Jenis kelelawar ini menyukai habitat dataran rendah sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Biasanya spesies A. celebensis tampak bergantung di pohon-pohon, terutama kawasan hutan bakau.

Mereka hidup berdampingan dengan spesies kalong lainnya, yakni P. alecto. Spesies P. alecto umumnya bergantung pada percabangan yang rendah, sedangkan P. celebensis menempati percabangan teratas.

Beberapa sumber juga menyebut bahwa spesies P. celebensis tinggal di hutan bambu. Mereka bisa kita jumpai di sepanjang bibir pantai, serta dikenal cukup sensitif–meski sudah familiar–terhadap manusia.

Di alam liar spesies ini memakan berbagai jenis buah-buahan, salah satunya kelapa. Mereka juga bertugas sebagai agen penyerbuk alami, sehingga sangat penting bagi ekosistem yang ada di sekitarnya.

Populasi dan Perburuan Kalong Sulawesi

Merujuk IUCN Red List, status konservasi kalong Sulawesi berada pada kategori “vulnerable” atau rentan. Mereka juga masuk dalam apendiks II CITES, sebab tren populasinya terus menurun dan mengkhawatirkan.

Namun ironisnya, spesies A. celebensis belum dilindungi oleh peraturan perundang-undangan Indonesia. Sehingga meski menyandang status rentan, upaya pencegahaan perburuannya masih sering terkendala.

Menurut ahli, masyarakat memburu kalong dan kelelawar untuk mereka jual dan konsumsi. Beberapa bagian tubuhnya diduga memiliki khasiat obat, sehingga jamak diperjualbelikan di pasar-pasar tradisional.

Harga kalong per ekornya dibanderol mulai dari Rp 30.000–60.000 . Semakin besar bobot kalong, maka harganya akan semakin mahal. Inilah yang mendasari terjadi perburuan satwa, di mana adanya permintaan pasar.

Padahal memakan daging hewan liar meningkatkan risiko zoonosis. Jika tidak dipayungi dengan aturan yang tepat, maka bisa berisiko terhadap kesehatan masyarakat, upaya konservasi, hingga kelestarian satwa.

Taksonomi Spesies Acerodon Celebensis

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bukan-makanan-kelestarian-kalong-sulawesi-wajib-dijaga/feed/ 0
Katak Pohon Bergaris, Amfibi yang Hidup di Balik Semak Belukar https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-pohon-bergaris-amfibi-yang-hidup-di-balik-semak-belukar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=katak-pohon-bergaris-amfibi-yang-hidup-di-balik-semak-belukar https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-pohon-bergaris-amfibi-yang-hidup-di-balik-semak-belukar/#respond Tue, 31 May 2022 03:00:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36306 Dari sekian banyak jenis katak pohon, kelompok katak pohon bergaris mungkin adalah salah satu spesies yang paling sering kita temukan. Seperti namanya, hewan ini memiliki pola garis di beberapa bagian […]]]>

Dari sekian banyak jenis katak pohon, kelompok katak pohon bergaris mungkin adalah salah satu spesies yang paling sering kita temukan. Seperti namanya, hewan ini memiliki pola garis di beberapa bagian tubuhnya. Mereka juga bisa dikenali dari tubuhnya yang kecil dan pipih.

Katak pohon bergaris mempunyai nama ilmiah Polypedates leucomystax. Spesiesnya dikenal juga sebagai four-lined tree frog, atau banana frog yang merujuk pada lingkungan hidupnya.

Spesies hewan ini tergabung dalam famili Rhacophoridae. Mereka cukup mudah dijumpai di sekitar pemukiman, bahkan tempat tinggalnya acap kali bercampur dengan kodok rumahan.

Salah satu keunikan dari katak pohon bergaris, ialah warna kulitnya yang bisa berubah-ubah. Hewan ini terkadang memiliki warna cokelat kekuningan, abu-abu, atau bahkan putih pucat.

Morfologi dan Ciri-Ciri Katak Pohon Bergaris

Katak P. leucomystax biasanya memiliki ukuran tubuh sedang. Panjang tubuh dari moncong ke anus berkisar 50 mm pada jantan. Sedangkan betina lebih besar, yakni mencapai 80 mm.

Kulit punggung mereka terlihat halus, tanpa lipatan, tonjolan dan bintilan. Warnanya sendiri berubah mengikuti lingkungan sekitar; agak gelap pada malam hari namun pucat saat siang.

Terdapat corak garis atau pita gelap kehitaman di antara hidung dan mata, hingga melewati sisi atas telinga dan bahu. Lalu, orak ini dibatasi oleh garis tipis berwarna kuning keemasan.

Garis kuning keemasan tersebut tampak pula di bagian kaki serta jari-jari sang katak. Bagian bawah tubuhnya memiliki bintil-bintil halus, berwarna putih dengan sedikit corak keemasan.

Beberapa individu katak ini memiliki selaput renang, tetapi ada pula yang tidak. Matanya terbilang cukup besar dan menonjol, sedangkan bibirnya tipis dan terlihat melebar.

Habitat dan Distribusi Katak Pohon Bergaris

Secara alamiah, katak pohon bergaris hidup di area hutan sekunder dan sekitar pemukiman masyarakat. Mereka aktif pada malam hari, sembari mengeluarkan suara yang cukup keras.

Dilihat dari distribusinya, populasi P. leucomystax tersebar mulai dari India, Burma, Tiongkok selatan, Kamboja, Laos, Vietnam, Thailand, Semenanjung Kra, Nikobar, sampai ke Indonesia.

Di tanah air, hewan bergenus Polypedates ini dapat kita temukan di sekitar Mentawai, Jawa, Sumatra, Borneo, Sulawesi, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, hingga ke Pulau Timor.

Spesies P. leucomystax juga punya beberapa julukan. Masyarakat Sunda mengenalnya sebagai gedindang atau cekay, sedang orang-orang Jawa menyebutnya sebagai bencok atau perkak.

Menurut IUCN Red List, status konservasi P. leucomystax berada pada level berisiko rendah. Tren populasinya juga cenderung stabil, sehingga tidak ahli golongkan sebagai satwa langka.

Pola Hidup dan Kebiasaan Katak Pohon Bergaris

Katak pohon bergaris memangsa berbagai jenis serangga di sekitar kolam atau pohon-pohon kecil. Mereka hidup secara individual, tetapi berkumpul dalam kelompok saat musim kawin.

Para pejantan biasanya terlihat bergerombol di dekat kolam, parit dan genangan air lainnya. Lalu mereka akan memanjat semak rendah di sekitarnya, sambil mengeluarkan suara keras.

Suara sahut-menyahut itu sengaja didengungkan untuk memikat katak betina. Jika bertemu, pasangan katak akan bergerak mencari ranting terdekat untuk menempelkan telur-telurnya.

Telur-telur itu terbungkus di dalam sarang berbusa. Sarangnya tersebut menggantung pada dedaunan, ranting pohon serta tangkai rumput, yang posisinya tidak jauh dari genangan air.

Kantung busa sendiri berguna untuk melindungi telur dari kekeringan. Jika saatnya menetas kecebong akan jatuh ke dalam air, lalu melanjutkan metamorfosisnya hingga menjadi katak.

Taksonomi Katak Polypedates Leucomystax

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-pohon-bergaris-amfibi-yang-hidup-di-balik-semak-belukar/feed/ 0
Painted Bat, Kelelawar Unik yang Sempat Dinyatakan Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/painted-bat-kelelawar-unik-yang-sempat-dinyatakan-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=painted-bat-kelelawar-unik-yang-sempat-dinyatakan-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/painted-bat-kelelawar-unik-yang-sempat-dinyatakan-punah/#respond Sat, 19 Feb 2022 03:00:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35328 Painted bat atau kelelawar lukis adalah salah satu spesies Vespertilionidae yang berasal dari Bangladesh. Hewan ini sempat pakar nyatakan punah pada tahun 1888, namun ditemukan kembali pada Juni 2021 di […]]]>

Painted bat atau kelelawar lukis adalah salah satu spesies Vespertilionidae yang berasal dari Bangladesh. Hewan ini sempat pakar nyatakan punah pada tahun 1888, namun ditemukan kembali pada Juni 2021 di Taman Nasional Madhupur.

Dalam bahasa Bengali, painted bat dijuluki sebagai projapoti badur (kelelawar kupu-kupu), rongin chamchika (kelelawar berwarna), atau rongin chamcika (kelelawar oranye-cokelat).

Spesiesnya mempunyai nama ilmiah Kerivoula picta. Sebab tergolong dalam suku kelelawar terbesar, distribusi hewan ini terbilang cukup menyebar walau populasinya dinilai langka.

Genus Kerivoula dapat kita temukan di hampir seluruh benua, kecuali Antartika. Kelompok kelewar ini biasanya memiliki tubuh kecil, serta dihiasi bulu-bulu berwarna oranye terang.

Morfologi dan Ciri-Ciri Painted Bat

Ukuran tubuh dan ekor painted bat terhitung sama panjang, yakni berkisar 3-5,5 cm. Lebar sayap mereka mencapai 18-30 cm, sedangkan bobot tubuhnya berkembang hingga 5 gram.

Selain oranye terang, beberapa kelelawar lukis memiliki bulu berwarna merah tua. Bulunya ini cukup panjang dan agak keriting, dengan sayap berwarna hitam serta bergaris oranye.

Seperti spesies kelelawar lain, telinga painted bat tampak besar dan berbentuk corong. Ia mempunyai gigi sebanyak 38 buah, dengan tragus yang sempit, panjang, serta transparan.

Lubang hidung kelelawar ini tanpa bulu, meskipun hidungnya berbulu lebat. Spesies jantan bisa kita tandai dari warna tubuhnya, yang notabene-nya lebih cerah dibandingkan betina.

Spesies K. picta terbilang cukup unik karena suka bertengger di sarang burung kutilang. Ia juga senang beristirahat di dekat sarang sunbird, daun pisang, atau di bawah atap gubuk.

Pola Hidup dan Perilaku Painted Bat

Painted bat tidak hidup secara soliter, walaupun berkelompok dalam jumlah kecil. Biasanya, mereka tampak berpasangan atau hidup dalam sebuah grup yang berjumlah 2-6 kelelawar.

Melansir berbagai sumber, warna tubuhnya yang cerah berguna sebagai kamuflase. Karena sering bertengger di dekat daun kering, warna ini cocok untuk mengelabui para predator.

Sebagai hewan nokturnal, kelelawar lukis tidur pada siang hari. Waktu malam adalah waktu berburu, di mana mereka terbang selama 1-2 jam untuk mencari serangga dan hewan kecil.

Tak banyak yang mengetahui pola reproduksi serta masa hidup painted bat. Namun mereka ahli sinyalir berbiak pada bulan Juni sampai Agustus, serta hanya memiliki satu ekor anakan.

Spesies K. picta juga mempunyai kemampuan ekolokasi sebagai orientasi ketika terbang. Ini merupakan kemampuan alami kelelawar, yang tidak memiliki indera penglihatan sempurna.

Habitat dan Penyebaran Painted Bat

Painted bat merupakan penghuni asli kawasan hutan kering di sekitar Ibu Kota Bangladesh, Dhaka. Mereka menyebar ke beberapa wilayah seperti Brunei, Burma, Kamboja dan China.

Tidak cuma itu, satwa ini bahkan dapat kita jumpai di Indonesia, Malaysia, Nepal, Sri Lanka, Thailand dan Vietnam. Mereka membuat sarang di lubang pohon, batang, serta dedaunan.

Mirisnya, data dan penelitian terhadap spesies K. picta tergolong masih minim. Ada banyak hal yang masih belum kita ketahui, salah satunya tentang pemulihan status kepunahannya.

Setelah dinyatakan punah selama 133 tahun, painted bat kembali ditemukan di Bangladesh. Kabar ini tentu sangat menggembirakan, namun tidak dibarengi dengan alasan yang jelas.

Menurut IUCN Red List, status konservasi K. picta berada pada level mendekati punah atau near threatened. Tren populasinya semakin menurun, sehingga penting untuk dilestarikan.

Taksonomi Spesies Kerivoula Picta

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/painted-bat-kelelawar-unik-yang-sempat-dinyatakan-punah/feed/ 0
Rubah Fennec, Si Kuping Panjang Penghuni Gurun Sahara https://www.greeners.co/flora-fauna/rubah-fennec-si-kuping-panjang-penghuni-gurun-sahara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rubah-fennec-si-kuping-panjang-penghuni-gurun-sahara https://www.greeners.co/flora-fauna/rubah-fennec-si-kuping-panjang-penghuni-gurun-sahara/#respond Tue, 14 Dec 2021 03:20:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34687 Fennec fox atau rubah fennec adalah spesies rubah paling kecil yang hidup di dunia. Selain karena rupanya yang menggemaskan, nama hewan ini juga cukup tersohor karena sering digambarkan dalam serial […]]]>

Fennec fox atau rubah fennec adalah spesies rubah paling kecil yang hidup di dunia. Selain karena rupanya yang menggemaskan, nama hewan ini juga cukup tersohor karena sering digambarkan dalam serial kartun, animasi, serta berbagai budaya populer lainnya.

Fennec ilmuwan gabungkan dalam famili Canidae dan genus Vulpes. Nama ilmiahnya pakar sebut sebagai Vulpes zerda, mereka tergolong sebagai jenis hewan mamalia dan omnivora.

Tidak cuma itu, hewan berwajah tirus ini juga dapat kita kenali dari kupingnya yang panjang. Itu sejatinya berguna untuk mendeteksi musuh ataupun mencari mangsa di sekitar mereka.

Walau bertubuh mungil, rubah fennec terbilang cukup tangguh. Mereka dapat beradaptasi di area beriklim panas seperti gurun, serta memiliki harapan hidup mulai dari 10-13 tahun.

Morfologi dan Ciri-Ciri Rubah Fennec

Bukan cuma paling kecil, warna bulu-bulu fennce memang terbilang paling pucat. Bila kita ukur dari kepala sampai ke ekor, panjang tubuh hewan tersebut berkisar 24,13-40,64 cm.

Panjang ekornya bisa mencapai 17,78-30,99 cm. Bobot tubuh mereka antara 0,99-1,50 kg dengan ukuran telinga 10-15,24 cm, atau dapat mencapai sepertiga dari ukuran tubuhnya.

Sama seperti spesies Canidae lainnya, tubuh rubah fennec juga tertutupi oleh bulu-bulu. Warna bulunya ini cukup variatif, mulai dari kemerahan, krem, putih, bahkan kecokelatan.

Sisi bawah tubuh mereka didominasi oleh warna putih, sedangkan ujung ekornya berwarna hitam. Mereka memiliki muka kecil dengan moncong lancip, seperti rubah pada umumnya.

Perlu Anda ketahui, bulu-bulu rubah fennec membantu mereka beradaptasi di area gurun. Ini berguna sebagai pengurai panas di siang hari dan penetral suhu dingin pada malam hari.

Habitat dan Distribusi Rubah Fennec

Fennec fox merupakan satwa asli Gunung Sahara dan area lain sekitar Afrika Utara. Mereka bisa kita jumpai pula di Semenanjung Sinai, Arab, serta berbagai daerah gurun di Asia Barat.

Gurun pasir dan daerah gersang dengan semak beluar, ialah tempat tinggal ideal bagi rubah fennec. Kelompoknya tinggal di dalam lubang, yang mereka gali sendiri sedalam 0,08 meter.

Uniknya, satu lubang dapat dihuni oleh 8-10 ekor fennec. Terkadang sarang-sarang mereka saling terhubung, sehingga jika kita gali maka akan terlihat seperti labirin di bawah gurun.

Belum diketahui berapa total populasi fennce di alam liar. Meski begitu pakar memastikan bahwa tren konservasi mereka cukup stabil, sehingga tidak tergolong sebagai hewan langka.

Bila merujuk IUCN Red List, status konservasi rubah fennec berada pada level ‘least concern’ atau berisiko rendah. Namun, mereka sering awam buru untuk dijadikan hewan peliharaan.

Perilaku dan Kebiasaan Rubah Fennec

Sebagai hewan nokturnal, fennec aktif pada malam hari untuk mencari mangsa seperti tikus, serangga, siput dan kadal. Mereka juga mengonsumi tanaman serta varietas buah-buahan.

Bulu di telinga fennec dapat menyalurkan gelombang suara. Ini membuat pendengarannya menjadi sangat tajam, sekaligus berguna sebagai “penglihatan” tambahan saat malam hari.

Tidak cuma bulu telinga, bulu kaki mereka juga sangat bermanfaat. Karena cukup tebal, bulu ini berguna sebagai “sepatu,” yang dapat membantu saat berjalan di atas pasir yang panas.

Kendati demikian, rubah fennec harus senantiasa waspada. Sebab mereka juga diburu oleh predator-predator gurun seperti burung hantu-elang, jakal, hiena, karakal dan anjing liar.

Perkawinan rubah fennec hanya terjadi sekali untuk seumur hidup. Musim kawinnya terjadi pada bulan Januari hingga Maret, dengan durasi mengandung betina mencapai 50 hari.

Taksonomi Spesies Vulpes Zerda

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/rubah-fennec-si-kuping-panjang-penghuni-gurun-sahara/feed/ 0
Ular Air Belang, Reptil Air yang Berasal dari Asia Tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/ular-air-belang-reptil-air-yang-berasal-dari-asia-tenggara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ular-air-belang-reptil-air-yang-berasal-dari-asia-tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/ular-air-belang-reptil-air-yang-berasal-dari-asia-tenggara/#respond Mon, 22 Nov 2021 03:08:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34471 Ular air belang biasa awam sebut juga sebagai ular kadut belang. Kelompoknya merupakan salah satu spesies ular air (Homalopsidae) yang paling menyebar di Asia Tenggara, sehingga dapat kita temukan di […]]]>

Ular air belang biasa awam sebut juga sebagai ular kadut belang. Kelompoknya merupakan salah satu spesies ular air (Homalopsidae) yang paling menyebar di Asia Tenggara, sehingga dapat kita temukan di wilayah Indonesia.

Homalopsis buccata adalah nama binomial ular kadut belang. Spesies ini berkerabat dengan kelompok ular kadut (Acrochordus granulatus) karena memiliki habitat yang hampir sama.

Ular kadut belang dapat kita jumpai di sekitar perairan, begitu juga ular kadut biasa. Mereka mendiami daerah aliran sungai, rawa-rawa, kolam, atau perairan dekat pemukiman warga.

Di luar Indonesia, ular air belang tersohor dengan nama puff-faced watersnake. Julukan ini merujuk pada tampilan wajahnya yang tampak seperti memakai topeng berwarna cokelat.

Morfologi dan Ciri-Ciri Ular Kadut Belang

Ular kadut belang bisa berbiak hingga sepanjang 1,2 meter. Tubuh bagian atasnya berwarna cokelat atau kelabu kecokelatan, tampak seperti lumpur pasir dengan corak belang-belang.

Coraknya tersebut berwarna cokelat pucat, sedangkan bagian bawah tubuhnya berwarna keputihan. Spesies ular muda dapat kita tandai dari bagian tubuh atasnya yang kekuningan.

Beberapa spesies mungkin mempunyai corak oranye atau kemerahan, namun rata-rata dari mereka memiliki belang-belang sempit berwarna keputihan, krem, hingga cokelat muda.

Seiring bertambahnya usia, warna kulit ular air belang terlihat makin tua dan gelap. Tidak ditemukan perbedaan spesifik antara jenis jantan dan wanita, kecuali dari ukuran tubuhnya.

Perlu Anda ketahui, H. buccata tidak ahli golongkan sebagai spesies pelilit. Mereka biasanya menggunakan racun ringan yang keluar dari taring belakang untuk melumpuhkan mangsa.

Habitat dan Persebaran Ular Air Belang

Di alam liar, puff-faced watersnake mengonsumsi ikan nila, guppy, lele, hingga belut sawah. Mereka juga memburu berbagai spesies katak, krustasea air tawar, serta ikan kecil lainnya.

Begitu pula dengan di penangkaran, spesies ular H. buccata umumnya diberi makan berupa ikan kecil, ikan mas, berbagai kelompok molly (genus Poecilia), hingga berudu-berudu katak.

Jangan heran, ular air belang memamg diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan. Mereka tergolong sangat adaptif, sehingga dapat dengan mudah “berbaur” di lingkungan manusia.

Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Malaysia adalah pusat distribusi ular ini. Spesiesnya juga bisa kita temukan di wilayah India bagian timur-laut, Nepal, bahkan sampai Bangladesh.

Di Tanah Air, ular air belang menyebar ke Pulau Sumatra, Kepulauan Riau, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Status konservasinya berada di level risiko rendah jika merujuk IUCN Red List.

Pola Hidup dan Perilaku Ular Air Belang

Ular kadut belang merupakan hewan nokturnal. Mereka aktif mencari makan pada malam hari, berkelana di sekitar sungai atau rawa-rawa serta membuat sarang di tempat serupa.

Karena coraknya mirip seperti anakonda, banyak masyarakat yang tertarik memelihara ular ini. Mereka kerap dimasukkan ke dalam wadah air besar atau sebagai penghias di rumah.

Ular air belang berkembang biak dengan cara melahirkan (ovovivipar). Induk betina mampu menghasilkan telur sebanyak 2-20 ekor, dengan ukuran masing-masing sepanjang 23 cm.

Waktu reproduksi puff-faced watersnake belum dapat ahli pastikan, entah sepanjang tahun atau tidak. Meski begitu, puncak perkawinannya terjadi pada bulan Oktober sampai Maret.

Sebagai catatan, bisa ular air belang memang tidak berbahaya bagi manusia. Namun aksi pemeliharaan hewan ini sejatinya tidak ahli anjurkan, sebab berisiko bagi kesehatan satwa.

Taksonomi Spesies Homalopsis Buccata

Penulis : Yuhan al Khairi 

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ular-air-belang-reptil-air-yang-berasal-dari-asia-tenggara/feed/ 0
Kinkajou, Kerabat Rakun yang Memiliki Lima “Tangan” https://www.greeners.co/flora-fauna/kinkajou-kerabat-rakun-yang-memiliki-lima-tangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kinkajou-kerabat-rakun-yang-memiliki-lima-tangan https://www.greeners.co/flora-fauna/kinkajou-kerabat-rakun-yang-memiliki-lima-tangan/#respond Tue, 19 Oct 2021 03:00:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34115 Kinkajou atau Potos flavus adalah sejenis mamalia berekor panjang yang tergabung dalam famili Procyonidae. Walaupun sering masyarakat anggap sebagai primata, nyatanya hewan berbulu tebal tersebut justru berkerabat dengan rakun, olingo, […]]]>

Kinkajou atau Potos flavus adalah sejenis mamalia berekor panjang yang tergabung dalam famili Procyonidae. Walaupun sering masyarakat anggap sebagai primata, nyatanya hewan berbulu tebal tersebut justru berkerabat dengan rakun, olingo, coati dan ringtail.

Honey bear atau beruang madu merupakan nama lain P. flavous. Ini merujuk pada warna tubuhnya yang cokelat keemasan, serta kegemaran mereka dalam mengonsumsi madu liar.

Serupa dengan beruang madu biasa (Helarctos malayanus), kinkajou juga tergolong sebagai hewan omnivora. Mereka memiliki gigi taring, namun lebih suka memakan buah-buahan.

Secara global, perdagangan P. flovous sayangnya masih diperbolehkan. Status konservasi mereka dianggap berisiko rendah, walau tren populasinya terus menurun setiap tahun.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kinkajou

Hampir seluruh permukaan tubuh kinkajou tertutupi bulu yang tebal. Warna cokelat keemasan tersebut menyebar mulai dari bagian kepala hingga ke ujung ekor mereka.

Jika kita perhatikan, ukuran kaki hewan satu ini sebenarnya cukup pendek. Ia mempunyai bentuk kepala bulat dengan mata berukuran besar, serta telinga yang juga berbentuk bulat.

Bobot tubuh honey bear sendiri sejatinya cukup ringan. Di alam liar, mereka berkembang biak hingga seberat 2,6-4 kg, dengan panjang tubuh (kepala ke ekor) berkisar 82-133 cm.

Bila kita hitung panjang ekornya saja, bagian itu bisa mencapai 49-57 cm. Lidahnya yang panjang dapat menjulur hingga 13 cm, dengan moncong berwarna cokelat tua atau hitam.

Spesies kinkajou juga memiliki cakar, ukurannya pendek namun cukup tajam. Cakarnya ini berfungsi untuk mengupas buah-buahan serta memburu hewan kecil seperti serangga.

Menariknya, kaki beruang madu dapat berputar hingga 180 derajat. Mereka juga memiliki ekor prehensile yang dapat dimanfaatkan sebagai “tangan” kelima saat memanjat pohon.

Baca juga: Kuskus Beruang Sulawesi, Satwa Pemalu yang Terancam Punah

Habitat dan Kebiasaan Kinkajou

Spesies P. flovous merupakan satwa asli Amerika Tengah dan Selatan. Mereka hidup di area hutan tropis hingga hutan-hutan di daerah sabana, mulai dari selatan Meksiko hingga Brazil.

Sebagai fauna arboreal, sebagian besar waktu kinkajou mereka habiskan di atas pohon. Ia hidup dalam kelompok kecil, umumnya terdiri dari dua jantan, satu betina dan satu anak.

Melalui laman San Diego Zoo, ahli mengonfirmasi bahwa beruang madu tergolong solitary group-life. Mereka hidup sebagai kelompok, meski lebih suka melakukan aktivitas sendirian.

Walaupun bertubuh kecil, hewan bergenus Potos ini cenderung sulit diburu. Sifat arboreal dan gaya hidup nokturnalnya, membuat mereka mampu bertahan dari serangan predator.

Honey bear sendiri merupakan santapan favorit bagi spesies elang harpy, isidor dan jaguar. Mereka juga diburu oleh manusia untuk dijadikan hewan peliharaan serta diambil bulunya.

Tak bisa kita pungkiri, musuh terbesar kinkajou sejatinya adalah manusia. Masifnya aktivitas perburuan liar terbukti “efektif,” dalam menurunkan populasi hewan tersebut di habitatnya.

Distribusi dan Subspesies Kinkajou

Melalui studi filogenetik tahun 2016, pakar mengetahui bahwa beberapa spesies P. flovous memiliki struktur gen yang berbeda. Penelitan ini dilakukan berdasarkan distribusi satwa.

Karena itu, ahli merekomendasikan agar masing-masing subspesies dipisahkan jadi individu berbeda. Melalui peta persebarannya, berikut jenis-jenis kinkajaou yang ada di dunia.

  • P. f. chapadensis mendiami wilayah Chapada, Mato Grosso, Brasil
  • P. f. chiriquensis mendiami wilayah Boquerón, Provinsi Chiriquí, Panama
  • P. f. flavus mendiami wilayah Suriname
  • P. f. megalotus mendiami wilayah Santa Marta, Kolombia
  • P. f. meridensis mendiami wilayah Mérida, Venezuela
  • P. f. simpleus mendiami wilayah Montes Balzar, Provinsi Guayas, Ekuador.
  • P. f. nocturnus mendiami wilayah São Miguel dos Campos, Alagoas, Brasil
  • P. f. prehensilis mendiami wilayah Veracruz, Meksiko.

Kinkajou adalah satu-satunya hewan Procyonidae yang ahli masukkan ke dalam genus Potos. Berkat peta persebarannya yang luas, ia memiliki beberapa julukan lain di berbagai daerah.

Seperti di Amerika Selatan, warga lokal menyebutnya sebagai ‘la llorona’ atau ‘wanita yang menangis’ dalam bahasa Spanyol. Ini merujuk pada kebiasaan mereka yang suka memekik.

Baca juga: Macaca Maura, Kera Hitam Sulawesi yang Semakin Langka

Taksonomi Spesies Potos Flavus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kinkajou-kerabat-rakun-yang-memiliki-lima-tangan/feed/ 0
Lion Fish atau Lepu, Ikan Cantik dengan Racun Mematikan https://www.greeners.co/flora-fauna/lion-fish/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lion-fish https://www.greeners.co/flora-fauna/lion-fish/#respond Wed, 10 Mar 2021 03:00:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=20504 Meskipun memiliki warna yang cantik dan bentuk yang unik, ikan hias laut ini ternyata mempunyai bisa yang dapat menyebabkan kematian. Penyelam pun berusaha untuk menghindar karena takut tersentuh duri pada siripnya.]]>

Lepu adalah sekelompok ikan beracun yang berasal dari genus Pterois dan keluarga Scorpaenidae. Mereka tersebar di wilayah Indo-Pasifik dan populer dengan sebutan Lion Fish. Meski terdiri dari tiga spesies besar, jenis lepu yang paling familier di tengah masyarakat adalah Pterois volitans atau Lepu Ayam.

Ikan lepu ayam (Red Lionfish) memang memiliki tampilan yang unik dan cantik. Hewan ini sering menjadi satwa peliharaan oleh pecinta ikan hias karena bentuk tubuh dan corak warnanya.

Kendati demikian kita harus berhati-hati, spesies Pterois memiliki bisa yang berbahaya bagi manusia. Bisa ini terdapat pada duri-duri mereka, jika tersentuh maka berakibat fatal untuk kesehatan.

Dalam beberapa tahun terakhir, lion fish menjadi objek perburuan secara masif di perairan Amerika Serikat. Hal ini demi menjaga ekosistem laut sekitar dari berlebihnya populasi ikan tersebut.

Mengenal Lepu Ayam atau Red Lionfish

Dalam mengindentifikasi lion fish, kita dapat membedakannya berdasarkan habitat, pola reproduksi, serta ciri-ciri hewan tersebut. Agar tidak salah, berikut Greeners rangkum untuk Anda.

1. Habitat dan Peta Persebaran

Lion fish hidup di sekitar terumbu karang dan bebatuan pada kedalaman 20-50 m. Meski berasal dari area subtropis dan tropis, ikan ini mulai ditemukan di pantai timur AS sampai ke wilayah Meksiko.

Berkat persebarannya yang makin meluas, satwa yang bisa hidup hingga usia 16 tahun ini jadi punya banyak sebutan, seperti Turkey Fish, Dragon Fish, Scorpion Fish, Ornate Butterfly-cod dan lain-lain.

Perlu kita ketahui, ikan lepu ayam mempunyai sifat teritorial dan nokturnal. Mereka bersembunyi di lubang terumbu karang pada siang hari, lalu aktif berburu ikan, udang, dan kepiting di malam hari.

2. Pola Reproduksi Lion Fish

Ketika musim kawin tiba, beberapa lepu ayam akan terlihat berkumpul di satu tempat yang sama. Satu kelompok red lionfish biasanya terdiri dari satu ekor penjantan dan beberapa ekor betina.

Pembuahan satwa ini di luar tubuh, sang betina akan melepaskan telur-telurnya; kemudian pelepasan sperma oleh pejantan. Setidaknya terdapat 20.000 butir telur di dalam sekantong lendirnya.

Lendir atau telur ikan ini lantas mengapung di permukaan laut dan menetas setelah 36 jam. Fasa larva ikan lepu ayam berlangsung satu bulan hingga mencapai usia muda dan dewasa di dasar laut.

lion fish

Tampilan turkey fish jelas lebih menonjol dari ikan pada umumnya. Foto: Shutterstock.

3. Morfologi dan Ciri-Ciri Lion Fish

Tampilan turkey fish jelas lebih menonjol dari ikan pada umumnya. Mereka punya sirip dada yang besar dan membulat seperti kipas. Sirip punggung panjang dengan garis-garis di sekujur tubuhnya.

Bila kita perhatikan dengan seksama, permukaan kulit ikan lepu ayam berwarna merah, putih, cokelat, oranye, hitam dan agak kekuningan. Terdapat duri-duri bertekstur keras pada sirip-sirip mereka.

Lantas, di mana bisa hewan tersebut berada? Bisanya sendiri terletak pada bagian sirip, punggung dan kantungnya. Bisa lion fish merupakan racun heat-labile sehingga akan rusak jika terkena panas. 

Bisa Lion Fish dan Dampaknya bagi Manusia

Di beberapa negara, mengonsumsi ornate butterfly-cod merupakan hal yang cukup lazim dilakukan. Ikan ini terkenal memiliki daging yang nikmat, ditambah teksturnya yang mirip seperti kerapu.

Namun, apakah aman mengonsumsi satwa laut ini? Bukannya mereka punya racun yang berbahaya? Memang, tetapi racun tersebut hanya bisa masuk ke dalam tubuh apabila tertusuk atau terinjeksi.

Metode penghantaran bisa dan racun sejatinya berbeda. Toksin bisa masuk melalui alat bantu, sedang racun umumnya masuk ke dalam tubuh karena tertelan, termakam maupun terhisap.

Oleh sebab itu, berdekatan dengan lion fish sebenarnya tidak berbahaya asal tetap menjaga jarak aman. Jika tertusuk duri-durinya, maka gejala yang kita rasakan seperti hipertensi dan takikardia.

Tak jarang orang yang terkena bisa ikan lepu merasakan mati rasa. Dalam waktu tiga jam setelah terinfeksi tubuh akan terasa lumpuh, bahkan dalam beberapa kasus menyebabkan kematian.

Sebagai informasi, red lionfish tidak tergolong sebagai ikan yang agresif. Fauna ini menggunakan bisanya sebagai bentuk pertahanan diri dari ancaman musuh dan juga mangsanya.

Di alam liar, mereka diburu oleh ikan hiu, moray belut, ikan cakalang, dan ikan kerapu besar. Sampai sekarang pun masih menjadi misteri: bagaimana hewan-hewan ini selamat dari racun lion fish?

Taksonomi Lion Fish 

ikan lepu

Referensi:

Laman National Ocean Service

Oceana.org

Laman Britannica

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/lion-fish/feed/ 0
Kumbang Tanduk, Serangga Penyuka Palem https://www.greeners.co/flora-fauna/kumbang-tanduk-serangga-penyuka-palem/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kumbang-tanduk-serangga-penyuka-palem https://www.greeners.co/flora-fauna/kumbang-tanduk-serangga-penyuka-palem/#respond Tue, 23 Apr 2019 13:03:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=23149 Tanduk tidak hanya dimiliki oleh hewan seperti sapi, kambing, rusa, dan kerbau saja, lho! Ternyata serangga ada juga yang bertanduk. Namanya adalah Oryctes rhinoceros atau dikenal sebagai kumbang tanduk.]]>

Tanduk tidak hanya dimiliki oleh hewan seperti sapi, kambing, rusa, dan kerbau saja, lho! Ternyata serangga ada juga yang bertanduk. Namanya adalah Oryctes rhinoceros atau dikenal sebagai kumbang tanduk, kumbang badak atau kumbang kelapa.

Kumbang tanduk adalah jenis kumbang yang tersebar luas di Asia Tenggara dan termasuk kumbang terbesar di dunia. Kumbang ini aktif pada malam hari (nokturnal). Kumbang dewasa biasanya menempel pada pucuk daun, menyerap cairan dan merusak jaringan daun yang masih muda.

Secara morfologi tubuh kumbang terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala, dada dan perut. Kumbang tanduk berwarna cokelat gelap sampai hitam mengilap. Panjangnya 35-50 mm dan lebar 20-33 mm dengan satu tanduk yang menonjol pada bagian kepala. Pada bagian tengah atau dada kumbang terdapat enam kaki dan dua pasang sayap.

Bagian kepalanya memiliki mata, antena dan mulut. Bagian kepala terdapat satu tanduk atau cula kecil. Kepala kumbang tanduk keras, dilengkapi dengan rahang yang kuat berwarna hitam. Semua kumbang mempunyai sepasang antena bersegmen yang biasanya menonjol didepan matanya.

Kumbang jantan memiliki tanduk yang lebih panjang dari pada kumbang betina. Kumbang jantan dapat dibedakan lebih akurat dengan ujung ruas abdomen terakhir dimana betina memiliki rambut.

kumbang tanduk

Tubuh kumbang tanduk keras dan memiliki mandibula (rahang) yang kuat. Foto: wikimedia commons

Kumbang tanduk betina bertelur dan berkembang biak di berbagai tempat antara lain tempat sampah, daun-daun yang telah membusuk, daun-daun yang telah mengering dan cercahan sampah dari kayu palem, pupuk kandang atau kompos, batang kelapa yang telah membusuk, dan serbuk kayu yang dekat dengan pohon kelapa.

Menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit, batang kelapa sawit dan kelapa yang membusuk adalah tempat yang baik untuk hidup larva kumbang tanduk. Seekor kumbang betina mampu bertelur sebanyak 35-70 butir atau lebih.

Larva kumbang tanduk sebesar pisang susu, berwarna putih kelabu, di tutup rambut-rambut coklat. Pupanya terbungkus bahan yang terbentuk dari tanah serta dari daun-daun dan ranting. Siklus hidup kumbang tanduk bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungan. Iklim kering dan kondisi sedikit makanan akan merusak perkembangan larva, yang hanya bertahan selama 14 bulan.

Keistimewaan kumbang ini karena mereka mempunyai mandibula (sepasang bagian mulut yang digunakan baik untuk menggigit atau memotong dan memegang makanan) yang kuat dan cocok untuk melubangi pohon. Biasanya ketika mereka menemukan kelapa yang sesuai, mereka akan mulai merusak tanaman tersebut. Kumbang tanduk merusak kelapa dengan cara menggali ke pusat pucuk tanaman (titik tumbuh) dengan kaki mereka (tarsi) yang memiliki barisan duri yang tajam.

Sebagai informasi, kumbang merupakan serangga yang memiliki jumlah spesies yang paling banyak diantara serangga lainnya. Kumbang tanduk termasuk hama kelapa sawit oleh sebagian orang. Biasanya mereka menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam sampai tanaman remaja. Pada area replanting (peremajaan) kelapa sawit, serangan kumbang dapat mengakibatkan tertundanya masa berproduksi sampai satu tahun dan tanaman yang mati dapat mencapai lebih dari 25%.

kumbang tanduk

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kumbang-tanduk-serangga-penyuka-palem/feed/ 0
Jangkrik, Sumber Protein Alternatif https://www.greeners.co/flora-fauna/jangkrik-sumber-protein-alternatif/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jangkrik-sumber-protein-alternatif https://www.greeners.co/flora-fauna/jangkrik-sumber-protein-alternatif/#respond Fri, 01 Feb 2019 07:08:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22247 Jangkrik (Gryllus) merupakan serangga atau insekta yang berkerabat dekat dengan belalang dan kecoa. Hewan berdarah dingin ini memiliki kemampuan beradaptasi baik dengan lingkungannya.]]>

Jangkrik merupakan serangga atau insekta yang berkerabat dekat dengan belalang dan kecoa karena diklasifikasikan dalam ordo Orthoptera. Hewan berdarah dingin ini memiliki kemampuan beradaptasi baik dengan lingkungannya.

Jangkrik hidup di sawah, tegalan, tanah lapang dan perkebunan. Jangkrik umumnya hidup dengan baik pada daerah bersuhu antara 20-32 C. Pada saat memasuki musim kemarau jangkrik akan mendekati sumber-sumber perairan, seperti rumput kaso atau ilalang di pinggir sungai untuk mencari makan.

Biasanya serangga ini dijumpai di sekitar halaman atau pekarangan rumah. Kehadiran serangga yang aktif pada malam hari ini dapat dikenali dari bunyi suara kerikannya yang khas. Sedangkan pada siang hari jangkrik bersembunyi di bawah bebatuan, reruntuhan pohon atau di dalam tanah.

Jenis jangkrik yang saat ini banyak dibudidayakan para pembudidaya secara intensif diantaranya jenis kalung (G. bimaculatus), cendawan (G. testaceus) dan cliring (G. mitratus), dimana masing-masing dari spesies ini memiliki ciri-ciri fisik dan warna yang berbeda. Contohnya pada jangkrik kalung, jangkrik ini memiliki kulit dan sayap luar berwarna hitam atau agak kemerahan. Pada bagian punggung (pangkal sayap luar) terdapat garis kuning sehingga menyerupai kalung (Widiyaningrum, 2001).

Jangkrik termasuk serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Siklus hidupnya dimulai dari telur kemudian menjadi jangkrik muda (nimfa) dan melewati beberapa kali stadium instar terlebih dahulu sebelum menjadi jangkrik dewasa (imago) yang ditandai dengan terbentuknya dua pasang sayap (Borror et al., 1992).

Morfologi tubuh jangkrik terdiri atas tiga bagian utama yakni kepala, toraks (dada) dan abdomen (perut). Pada sistem reproduksi, jangkrik betina memiliki sepasang ovarium berwarna krem dan sepasang ovarial yang terletak di punggung bagian tengah di atas saluran pencernaan. Jangkrik betina memiliki ovipositor sebagai alat kelamin luar. Ovipositor berbentuk silindris dan meruncing seperti jarum dan berperan sebagai saluran untuk mengeluarkan telur (Ros et al.,1982). Sedangkan untuk jangkrik jantan memiliki sepasang testis berwarna putih krem yang terletak di atas saluran pencernaan.

sumber protein

Jangkrik jantan akan mengeluarkan suara nyaring dan ini merupakan isyarat bahwa jangkrik tersebut siap untuk membuahi betina. Foto: wikimedia commons

Jangkrik dewasa siap kawin pada usia lebih kurang 45 hari yang ditandai dengan lenyapnya sayap. Jangkrik jantan akan mengeluarkan suara nyaring dan ini merupakan isyarat bahwa jangkrik tersebut siap untuk membuahi betina, sedangkan jangkrik betina yang siap untuk dibuahi akan mencari dan mendekat ke arah suara yang dikeluarkan jangkrik jantan.

Saat proses kawin jangkrik jantan akan mengambil posisi di bawah dan jangkrik betina di atas. Jangkrik siap bertelur dalam waktu tujuh hari setelah terjadi pembuahan, (Sukarno, 1999). Telur jangkrik berbentuk bulat panjang, berwarna kuning dan berukuran tidak lebih dari 0,25 cm.

Pemanfaatan jangkrik banyak digunakan sebagai bahan pakan ternak untuk ayam hias, burung kicauan, ikan hias maupun reptil. Jangkrik berpotensi untuk dibudidayakan karena kadar proteinnya tinggi, daya reproduksinya juga tinggi dengan siklus hidup yang pendek, ditambah pemberian pakannya yang mudah.

Jangkrik juga termasuk salah satu jenis serangga yang biasa dikonsumsi oleh manusia. Sebagian masyarakat di beberapa negara seperti India, Filipina, Thailand dan Indonesia mengonsumsi serangga ini sebagai makanan pelengkap sumber protein alternatif. Banyak para pelaku Usaha Kecil Miro Menengah (UMKM) di Indonesia menjual serangga ini sebagai bisnis olahan makanan atau cemilan dalam kemasan.

Menurut beberapa kajian ilmiah, tepung jangkrik mengandung protein dan nutrisi, terutama asam amino yang cukup lengkap. Hasil penelitian Novianti (2003) dari Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor menjelaskan bahwa tepung jangkrik kalung mengandung protein dan lemak yang cukup tinggi. Dalam tepung jangkrik terdapat asam linoleat yang dominan. Asam ini berperan penting bagi manusia terutama mencegah dermatitis (pengeringan dan pengelupasan kulit) pada anak-anak.

sumber protein

 

 

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jangkrik-sumber-protein-alternatif/feed/ 0
Landak Jawa, Diburu demi Batu Mustika https://www.greeners.co/flora-fauna/landak-jawa-diburu-demi-batu-mustika/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=landak-jawa-diburu-demi-batu-mustika https://www.greeners.co/flora-fauna/landak-jawa-diburu-demi-batu-mustika/#respond Tue, 14 Nov 2017 10:32:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19341 Jika dulu keberadaan landak jawa (Hystrix javanica) kerap meresahkan bagi petani karena dianggap mengganggu dan merusak tanaman, kini landak diincar untuk mendapatkan batu yang diklaim ada dalam tubuh landak.]]>

Buah yang berduri identik dengan buah durian, nah untuk predikat hewan berduri diberikan pada ‘landak’. Duri pada landak itu sebenarnya bagian dari rambut landak yang bertekstur keras dan fungsinya sendiri adalah sebagai alat pertahanan.

Landak termasuk ke dalam jenis mamalia pengerat atau rodentia terbesar ketiga setelah kapibara dan berang-berang. Satwa ini termasuk ke dalam ordo rodentia yang memiliki 28 spesies. Landak terbagi menjadi dua famili, yaitu Erithizontidae dan Hystricidae. Erithizontidae merupakan famili landak yang ditemukan di Amerika, sedangkan Hystricidae lebih banyak ditemukan di daerah tropis seperti di Afrika dan Asia Selatan. Landak yang banyak ditemukan di Indonesia termasuk dalam famili Hystricidae.

Indonesia dikenal memiliki lima jenis landak yaitu landak raya (Hystrix brachyura), landak sumatra (H. sumatrae), landak jawa (H. javanica), landak butun (H. crassipinis), dan landak angkis/ ekor panjang (Trichis fasciculata) (Corbet & Hill 1992). Berdasarkan PP RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, terdapat dua jenis landak yang dilindungi di Indonesia, yaitu landak raya dan landak jawa.

Landak Jawa (Hystrix javanica) atau dalam bahasa Inggris disebut sunda porcupine tergolong satwa Indonesia yang menjadi aset keanekaragaman hayati yang vital. Ditinjau dari siklus hidupnya, landak hidup secara nokturnal dan merupakan binatang herbivora.

Berdasarkan berbagai sumber penelitian ilmiah, landak yang hidup di daerah tropis dapat hidup pada kelembapan 35 persen dengan kelembapan terbaik sekitar 45%-60%. Landak biasanya hidup dalam suatu koloni yang terdiri dari 6-8 individu. Mereka umumnya ditemukan di semua tipe hutan, perkebunan, area, berbatuan, padang rumput, gunung, padang pasir dan tempat yang mempunyai ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut.

Meskipun landak termasuk hewan nokturnal, landak dapat didorong untuk aktif pada siang hari dengan cara menyembunyikan pakan landak untuk mendorongnya mencari makan. Landak yang dikandangkan mempunyai siklus cahaya yang aktif 13-14 jam pada siang hari dan 10-11 jam pada malam hari.

Pada musim dingin landak mengonsumsi daun cemara jarum, lapisan kambium dan kulit pohon. Selama musim semi dan musim panas landak mengonsumsi tunas, ranting, akar, batang, daun bunga, biji, buah, kacang-kacangan dan vegetasi lainnya. Landak juga menyukai garam dan sisa tulang atau tanduk karena kandungan mineralnya yang tinggi.

Dari informasi yang didapat, landak jawa mampu bertahan hidup hingga 27 tahun. Secara morfologi landak jawa berukuran besar. Panjang tubuhnya 37-47 cm, panjang ekor 23-36 cm, dengan berat badan 13-27 kg, tubuh landak tertutup oleh rambut yang keras di bagian separuh badan ke muka dan bagian bawah, sedangkan di bagian punggung belakang sampai ekor tampak rambut (Safrudin, 2010).

Ekor pendek landak terdiri dari dua tipe duri, yaitu pertama adalah duri lancip, panjang, berwarna hitam dan putih; kedua adalah duri yang menggerincing, yang didalamnya berlubang, ujungnya terbuka dan berbentuk silinder (Suwelo et al., 1978). Landak jawa mempunyai mata sempit berwarna hitam dan bentuk telinga seperti kepingan uang logam (Safrudin, 2010).

IUCN memasukkan landak dalam kategori least concern atau tidak terlalu diperhatikan karena jumlah populasinya yang masih banyak di berbagai benua dengan famili yang beragam. Namun seperti dilansir pada cnnindonesia.com, berdasarkan penuturan Kepala LIPI yang menjabat saat itu yaitu Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, hingga kini perburuan liar landak dari alam untuk tujuan konsumsi dan perdagangan masih banyak terjadi. Hal ini menyebabkan populasi landak terus menurun.

Adapun menurut kepercayaan masyarakat di beberapa daerah, daging landak jawa mempunyai banyak khasiat, salah satunya menyembuhkan penyakit asma. Selain itu landak juga sering menjadi incaran para ‘pemburu batu geliga’ yang terdapat pada tubuh landak karena dipercaya dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit ganas seperti kanker (Coubout 2015).

Dahulunya keberadaan landak kerap meresahkan bagi petani karena dianggap mengganggu dan merusak tanaman, sehingga kerap diburu dan dimusnahkan. Dilansir pada laman mongabay.co.id, sekarang justru landak menjadi hewan yang dicari petani. Para petani ini mengincar batu mustika (geliga) yang ada pada tubuh landak. Batu ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti kanker, tumor, hipertensi, demam berdarah, lever, diabetes dan berbagai penyakit mematikan lainnya. Harga batu mustika tersebut berkisar antara Rp500ribu – Rp1 juta per gram. Padahal, hingga saat ini keberadaan serta khasiat dari batu geliga pada landak belum dapat dibuktikan secara medis.

Disamping itu, penyebab lain berkurangnya populasi landak adalah semakin berkembangnya pembukaan hutan untuk lahan pertanian, pertambangan dan pemukiman yang berdampak pada kian menyempitnya habitat landak, terutama bagi landak Jawa.

landak jawa

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/landak-jawa-diburu-demi-batu-mustika/feed/ 0
Kuskus, Marsupialia Langka dari Tanah Indonesia Timur https://www.greeners.co/flora-fauna/kuskus-marsupialia-langka-tanah-indonesia-timur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kuskus-marsupialia-langka-tanah-indonesia-timur https://www.greeners.co/flora-fauna/kuskus-marsupialia-langka-tanah-indonesia-timur/#respond Tue, 24 Oct 2017 07:43:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19088 Hewan yang bergerak lamban dan memiliki rupa yang lucu sangat mudah menjadi incaran para pemburu hewan, termasuk juga mengancam hewan kuskus.]]>

Hewan yang bergerak lamban dan memiliki rupa yang lucu sangat mudah menjadi incaran para pemburu hewan, contohnya saja seperti hewan kukang Jawa (Nycticebus javanicus). Ancaman serupa juga terjadi pada hewan kuskus.

Kuskus adalah hewan endemik berkantung (tergolong marsupialia). Berdasarkan beberapa sumber, penyebaran kuskus tersebar hampir di seluruh Indonesia bagian timur. Hewan berkantung ini termasuk dalam famili Phalangeridae. Menurut para ahli, satwa ini digambarkan bertubuh agak besar dan kokoh, juga memiliki panjang seukuran ternak babi berumur dua bulan. Genus yang termasuk spesies kuskus yakni Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, dan Strigocuscus. Pola pewarnaan bulu mereka pun dibedakan dalam dua genus, yaitu genus Spilocuscus dan Phalanger yang masing-masingnya terdiri dari 3 sampai 8 jenis.

Di Papua terdapat dua jenis kuskus, yaitu kuskus bertotol (Spilocuscus) dan kuskus tidak bertotol (Phalanger). Salah satu jenis kuskus yang merupakan satwa endemik papua adalah Spilocuscus papuensis dan Spilocuscus rufoniger. Sementara di kepulauan Sulawesi terdapat tiga jenis kuskus endemik yaitu Ailurops ursinus, Phalanger pelengensis dan Strigocuscus celebensis.

Kepulauan Maluku juga menjadi tempat tinggal bagi beberapa jenis kuskus endemik yaitu Phalanger ornatus, Phalanger rothschildi, Phalanger sp. dan Spilocuscus sp. Selain di Indonesia, kuskus juga dapat ditemukan di New Guinea dan sebagian daerah Australia.

Kuskus memiliki ekor yang panjang dan kuat yang dapat membantunya saat memanjat pohon. Matanya bulat, telinga kecil, memiliki bulu yang tebal mirip wol dengan warna yang beragam sesuai dengan genusnya masing-masing menjadi keunikan tersendiri dari satwa marsupialia ini. Pada betina terdapat kantung sebagai tempat menggendong anaknya.

marsupialia

Kuskus beruang Sulawesi (Ailurops ursinus). Foto: wikemedia commons

Habitat kuskus berada di areal hutan primer yang belum banyak terganggu dengan jenis pohon yang rimbun. Mereka biasa melakukan aktifitas di malam hari (nokturnal) dan beristirahat di siang hari pada pepohonan. Cara tidurnya pun sangat lucu, terkadang kuskus beristirahat dengan membungkuk dan memeluk batang pohon pada kondisi tajuk yang rimbun atau terbuka (dikutip dari portal biovasi09unipa.blogspot.co.id). Kuskus juga sering mengonsumsi berbagai jenis makanan seperti sayuran, buah-buahan, jagung dan makanan lain yang banyak mengandung serat.

Populasi kuskus semakin menurun akibat ancaman deforestrasi dan banyak diburu. Melalui data IUCN, marsupialia langka dari Indonesia ini dikategorikan Endangered Species, dalam CITES digolongkan Appendiks II. Adapun faktor-faktor yang melatar-belakangi perburuan liar yang dilakukan oleh masyarakat setempat antara lain unsur kebudayaan, konsumsi, diperdagangkan secara ilegal, dipelihara, diambil kulit sebagai bahan tas dan dijadikan hiasan.

Kuskus di Indonesia sendiri telah dilindungi sejak tahun 1990 melalui Peraturan Perburuan Binatang Liar (PPBL) No. 226 /1931, UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan UU No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Perburuan kuskus yang dilakukan secara terus-menerus dipastikan akan menyebabkan terjadinya penurunan jumlah populasi bahkan dapat mencapai angka kepunahan. Studi kasus di Desa Lumoli, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, berdasarkan informasi dari masyarakat lokal setempat menunjukkan bahwa kuskus masih diburu oleh masyarakat untuk dikonsumsi dagingnya serta diambil rambutnya (dikutip dari penelitian Usmany et al, Universitas Patimura pada jurnal Sain Veteriner, 2015).

Hutan merupakan surga bagi kehidupan kuskus, dimana hutan sebagai tempat berkembang biak, beristirahat dan mencari makanan. Sangatlah disayangkan kegiatan deforestasi tanpa henti memaksa mereka untuk merubah kondisi ekologi dan jam biologisnya. Aktifitas ini dikhawatirkan akan mengancam kelangsungan hidup mereka, bahkan kepunahan kuskus.

Deforestasi dan perburuan liar memiliki kaitan yang sangat erat, sudah sepatutnya hal ini tidak dipandang sebelah mata oleh segala pihak dan kalangan. Siapa lagi yang akan bercerita keunikan dari satwa khas Indonesia kepada anak-anak dan cucu kita di masa depan jika satwanya saja harus punah bukan karena dimakan oleh waktu namun karena kerakusan manusia.

marsupialia

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kuskus-marsupialia-langka-tanah-indonesia-timur/feed/ 0
Belajar Nanosains dari Cahaya Kunang-Kunang https://www.greeners.co/flora-fauna/belajar-nanosains-cahaya-kunang-kunang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=belajar-nanosains-cahaya-kunang-kunang https://www.greeners.co/flora-fauna/belajar-nanosains-cahaya-kunang-kunang/#respond Fri, 25 Aug 2017 12:04:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=18366 Selain pemandangan bulan dan kerlap-kerlip bintang di langit, pemandangan malam hari dapat terlihat begitu indah dengan munculnya kunang-kunang. Keistimewaan dari serangga malam ini adalah tubuhnya dapat mengeluarkan cahaya.]]>

Selain pemandangan bulan dan kerlap-kerlip bintang di langit, pemandangan malam hari dapat terlihat begitu indah dengan munculnya serangga ini. Kunang-kunang yang dalam bahasa Inggris disebut ‘Fireflies’ atau ‘Lightning Bug’ adalah serangga jenis kumbang yang diklasifikasikan dalam famili Lampyridae dan ordo Coleoptera. Kata Lampyridae berasal dari bahasa Yunani “lampyris” diartikan sebagai “yang bercahaya”.

Kunang-kunang biasanya berwarna kecoklatan atau kehitaman. Serangga ini memiliki tubuh yang lunak dan memanjang. Pada umumnya kunang-kunang jantan berukuran lebih kecil daripada kunang-kunang betina. Kunang-kunang jantan memiliki dua pasang sayap, namun hanya sayap belakang yang digunakan untuk terbang. Kunang-kunang betina ada yang mempunyai sayap dan tidak mempunyai sayap sehingga tidak selalu terbang (Borror dan White (1970), dalam penelitian Anik Wijayanti, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan IPB, 2015).

Berdasarkan beberapa sumber informasi yang didapat mengenai serangga ini, kunang-kunang merupakan sejenis serangga yang aktif pada malam hari. Tidak heran apabila kunang-kunang disebut juga serangga nokturnal.

Keistimewaan dari serangga malam ini adalah dapat mengeluarkan cahaya. Hebatnya lagi, cahaya kunang-kunang mampu bersinar 20 kali lebih terang daripada bola lampu, karena hampir 100 persen dari energi dalam reaksi kimia dipancarkan sebagai cahaya (dikutip pada laman nationalgeographic.co.id.).

Cahaya yang mereka hasilkan banyak dipelajari dalam Nanosains. Berdasarkan buku karya Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, dkk yang berjudul “Nano di Alam”, menjelaskan bahwa cahaya dihasilkan oleh ‘sinar dingin’ yang tidak mengandung ultraviolet maupun sinar inframerah. Ia memiliki panjang gelombang 510-670 nanometer, dengan warna pucat, kuning, atau hijau dengan efisiensi sinar sampai 96%. Cahaya yang dihasilkan oleh kunang-kunang berasal dari elektron yang dihasilkan oleh zat/enzim kunang-kunang. Ketika elektron menuju stabil, mereka akan menghasilkan cahaya. Peristiwa tersebut dikenal sebagai “Bioluminescence”.

Bioluminescence adalah kemampuan suatu organisme untuk menghasilkan dan memancarkan cahaya dari tubuhnya. Cahaya yang dihasilkan berasal dari energi direaksikan secara kimia menghasilkan emisi atau pancaran cahaya.

nanosains

Kunang-kunang. Foto: wikemedia commons

Luminescence pada tubuh kunang-kunang dihasilkan oleh suatu zat bernama “zat luciferin”, dimana zat ini bereaksi dengan oksigen. Adapun kegunaan cahaya tersebut adalah sebagai alat komunikasi, biasanya digunakan untuk penanda peringatan bahaya. Cahaya tersebut memperingatkan hewan lain yang akan memangsanya, karena pada tubuh kunang-kunang terdapat zat luciferin yang sangat pahit.

Selain itu, cahaya pada kunang-kunang juga digunakan sebagai penanda untuk mencari pasangannya pada musim kawin. Kunang-kunang jantan lebih sedikit bercahaya dibandingkan dengan kunang-kunang betina yang menggunakan cahaya pijarnya untuk menarik dan menstimulasi pejantan (Anik Wijayanti, 2015).

Menyoroti siklus hidupnya, kunang-kunang bermula dari fase telur, larva, pupa, hingga imago (dewasa). Betinanya akan meletakkan telur sekitar seratus butir atau lebih di tanah dan di dasar pohon. Telur tersebut akan menetas dalam waktu 2-4 minggu yang kemudian menjadi larva. Siklus hidup kunang-kunang umumnya memerlukan waktu tiga bulan hingga satu tahun, tergantung pada jenis kunang-kunang dan lingkungannya. Ketika dewasa kunang-kunang hanya bertahan hidup kurang dari dua minggu dengan memakan polen bunga atau bahkan tidak makan sama sekali (Anik Wijayanti, 2015).

Kunang-kunang dibagi ke dalam beberapa genus, antara lain Cortus, Lamprophorus, Lampyris, Luciola, Photinus, Photuris, Pteroptyx, Pyractomena, Pyrocoelia, dan lain-lain. Terdapat lebih dari 2.000 spesies kunang-kunang di dunia yang hidup tersebar di daerah tropis. Di Asia, khususnya Indonesia dan Malaysia, ada empat kelompok besar dari kunang-kunang yang ditemukan, yaitu Pteroptyx, Luciola, Colophotia dan Lychnuris.

Kunang-kunang umumnya sering ditemukan di tempat yang memiliki kelembapan tinggi, cenderung basah dan hangat seperti hutan basah, rawa-rawa, sepanjang tepian sungai, lahan perkebunan dan lahan tanaman padi. Lahan atau tempat tersebut banyak sekali ditemukan makanan untuk larva kunang-kunang, seperti cairan tumbuhan, siput-siput kecil dan keong.

Berdasarkan karakteristik tersebut, kunang-kunang sering dijadikan bio-indikator lingkungan alami dan bersih. Sebab, kunang-kunang merupakan serangga yang sangat sensitif/rentan terhadap degradasi dan pencemaran lingkungan, melihat dari segi ekosistem dan habitat alaminya yang harus bebas dari jenis pupuk ataupun pestisida an-organik. Apalagi ditambah dengan hilangnya lahan suatu tanaman, maka membuat keberadaan kunang-kunang akan semakin terancam dan keindahan pemandangan malam pun tidak dapat lagi kita rasakan.

nanosains

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/belajar-nanosains-cahaya-kunang-kunang/feed/ 0
Kalong Kapauk, Kelalawar Berpostur Besar Pemakan Buah https://www.greeners.co/flora-fauna/kalong-kapauk-kelalawar-berpostur-besar-pemakan-buah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kalong-kapauk-kelalawar-berpostur-besar-pemakan-buah https://www.greeners.co/flora-fauna/kalong-kapauk-kelalawar-berpostur-besar-pemakan-buah/#respond Fri, 14 Jul 2017 07:17:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=17710 Kalong kapauk memiliki nama latin "Pteropus vampyrus". Meski namanya sekilas seperti vampir (makhluk mitos pengisap darah), namun kelelawar bertubuh besar ini ternyata pemakan buah-buahan.]]>

Berdasarkan beberapa sumber ilmiah, terdapat 18 suku, sekitar 192 marga dan 977 jenis kelelawar di dunia. Kelelawar merupakan mamalia yang dapat terbang dari ordo Chiroptera, dengan dua subordo yakni Megachiroptera ‘old world fruits bats’ dan Mikrochiroptera ‘echolocating bats’.

Spesies Pteropus vampyrus atau disebut dengan kalong kapauk, bukanlah satwa pemakan daging ataupun pengisap darah, melainkan kelalawar pemakan buah-buahan. Sesuai dengan penamaan subordo “Mega”, yang berarti kelalawar ini berukuran besar.

Keberadaan satwa ini penting bagi kehidupan manusia karena memiliki peran ekologis sebagai pemancar biji buah-buahan dan sebagai penyerbuk bunga tumbuhan bernilai ekonomis. Karena keistimewaan yang dimiliki bagi kesinambungan vegetasi hutan tropis dunia, khususnya di Indonesia, maka spesies kelelawar ini pun mendapat prioritas konservasi.

Berat kalong kapauk mencapai 1.500 gram, bentangan sayap hingga 1.700 dan lengan bawah sayap 36-228 mm. Sayap kalong ini berbeda dengan sayap burung yang merupakan susunan bulu yang menempel pada dada. Sayapnya terdiri dari lapisan kulit sangat tipis dan melekat pada ruas-ruas tulang jari tangan yang mengalami perpanjangan dan berfungsi sebagai kerangka sayap. Selaput kulit yang berfungsi sebagai sayap ini memiliki ikat-ikat lentur sehingga selaput sayap dapat dilipat dan tidak menjadi penghalang pada saat berjalan.

Kalong kapauk hidup pada malam hari (nocturnal) dan berkelompok. Mereka bersarang pada pohon-pohon tinggi dan besar namun tidak berdaun rimbun. Satwa ini juga memiliki mata yang besar sehingga mereka dapat melihat dengan baik dalam keadaan kurang cahaya.

Daya penciuman yang tajam pada kalong kapauk berguna untuki navigasi. Daerah jelajah kelelawar bergantung pada jenis makanan. Untuk kalong kapauk sendiri memiliki daerah jelajah mencapai radius 60 km.

Berdasarkan tulisan pada jurnal ilmiah “Jurnal Kajian Veteriner”, saluran pencernaan kalong kapauk terdiri dari mulut, faring, esofagus, ventrikulus, intestinum tenue, intestinum krasum, dan anus. Fungsi saluran pencernaan merupakan tempat masuknya pakan, menggiling, mencerna, dan menyerap nutrisi serta mengeluarkan sisa buangannya berbentuk padat (Selan, Kusindarta dan Pangestiningsih: 2014).

Konvensi Perdagangan Internasional untuk Perdagangan Flora dan Fauna yang Terancam Punah (Convention on International Trade in Endangered Species/CITES) pada 1989 memasukkan kalong dalam kategori spesies yang perdagangannya dibatasi secara ketat.

Keberadaan kalong kapauk di alam pun tidak luput dari ancaman. Satwa ini kerap kali ditangkap/diburu oleh manusia. Mereka biasanya memanfaatkan kalong kapauk untuk dikonsumsi dan sebagai bahan obat. Banyak orang percaya hati kalong kapauk dapat menyembuhkan penyakit seperti asma dan lemaknya dapat menyuburkan rambut. Ancaman lain juga berasal dari rusaknya habitat alami kalong kapauk di alam.

Adapun penangkaran satwa dapat menjadi salah satu solusi untuk menyelamatkan satwa dari kepunahan. Penangkaran satwa adalah suatu kegiatan mengembang-biakan satwa liar untuk memperbanyak populasinya dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya, sehingga kelestarian dan keberadaannya di alam dapat dipertahankan (Thohari 1987).

kalong kapauk

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kalong-kapauk-kelalawar-berpostur-besar-pemakan-buah/feed/ 0
Crinoid, Lili Laut yang Serupa Bunga Lili https://www.greeners.co/flora-fauna/crinoid-lili-laut-serupa-bunga-lili/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=crinoid-lili-laut-serupa-bunga-lili https://www.greeners.co/flora-fauna/crinoid-lili-laut-serupa-bunga-lili/#respond Fri, 17 Mar 2017 05:49:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16244 Crinoid atau sering dikenal dengan nama lili laut (Comaster sp.), memiliki bentuk menyerupai bunga lili atau pakis. Namun jangan terkecoh, lili laut bukan tanaman!]]>

Crinoid atau sering dikenal dengan nama lili laut, merupakan salah satu anggota fillum echinodermata yang memiliki bentuk menyerupai bunga lili atau pakis. Asal usul Crinoidae diambil dari bahasa Yunani, yaitu krinon yang artinya ‘lili’ dan eidos yang artinya adalah ‘bentuk’. Crinoid dapat ditemukan diseluruh perairan laut dunia, namun beberapa spesies ditemukan pada kedalaman 200 meter. Adapun jenis crinoid yang tidak bertangkai sering disebut dengan bintang bulu.

Sekilas hewan unik ini dapat mengecoh pandangan orang awam saat pertama kali melihatnya karena bentuknya yang mirip tanaman laut. Warna pada bagian tangan hewan ini beraneka ragam, seperti hijau, hitam, kuning, merah, bahkan kombinasi keduanya atau lebih warna.

Lili laut (Comaster sp.) hidup menempel pada dasar laut pada kedalaman lebih dari 100 meter, namun ada juga beberapa spesies yang hidup di perairan dangkal. Umumnya mereka sering dijumpai bertengger pada terumbu karang.

Lili laut juga dapat dijadikan indikator kesehatan suatu terumbu karang. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Yusri et al, lili laut memiliki kelimpahan maksimum di perairan yang masih baik, sedangkan pada perairan yang buruk lili laut tidak dapat bertahan hidup.

Beberapa dari lili laut termasuk hewan nokturnal. Mereka akan melipatkan diri dan membentuk sebuah bola lalu bersembunyi di celah-celah karang pada siang hari. Biasanya mereka akan menyatu dengan tempat persembunyiannya pada senja hari dan bertengger pada tempat yang mereka sukai, seperti di karang, spons yang besar, kipas laut (sea fan), dimanapun tempat yang dapat menjangkarkan dirinya dengan baik. Kemudian pada malam hari, mereka meluruskan tangannya yang berbulu dan keluar dari persembunyiannya untuk mencari makan.

Makanan lili laut adalah plankton dan partikel melayang. Berdasarkan tulisan Dr. Azis Aznam, dkk yang dipublikasikan pada Jurnal Oseana, lili laut pada umumnya mempunyai cara dan kebiasaan makan yang sama dengan teripang, bulu babi, bintang laut, dan bintang mengular yang termasuk dalam kelompok biota penyaring (filter feeders).

Lili laut umumnya melekat pada dasar perairan, disamping itu lili laut juga memiliki kulit yang tersusun dari zat kitin. Apabila dalam kondisi makanan habis ataupun keselamatannya terancam maka lili laut akan berpindah ke tempat lain yang lebih sesuai dan aman.

Lili laut mempunyai susunan tubuh bersimetri lima (pentraradial simetri) atau lebih karena memiliki lengan yang bercabang. Dalam tubunya terdapat sistem pencernaan, sistem respirasi dan sistem saraf. Anus dan mulut lili laut terletak pada permukaan oral, sementara untuk kaki tabungnya tidak mempunyai saluran penghisap, dan alur ambulakralnya terbuka. Tubuhnya dilindungi oleh lempeng kapur yang berbentuk perisai (osscles).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dian Rahma Safitri, seorang lulusan dari Institut Pertanian Bogor pada tahun 2010 melalui hasil uji sampel lili laut di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, terungkap bahwa lili laut berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri farmasi dan pangan fungsional karena memiliki senyawa antioksidan.

crinoid

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/crinoid-lili-laut-serupa-bunga-lili/feed/ 0
Ngengat Atlas, Kupu-Kupu Malam Terbesar di Dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia/#respond Mon, 28 Dec 2015 06:54:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12379 Ngengat atlas (Attacus atlas) kerap dianggap sebagai ngengat terbesar di dunia karena luas permukaan sayapnya yang mencapai 400 cm². Rentang sayapnya pun termasuk salah satu yang terlebar, yaitu berkisar antara 25-30 cm.]]>

Ngengat atlas (Attacus atlas) atau Atlas moth umumnya berwarna dominan coklat kekuningan hingga merah marun, namun sebagian ada yang berwarna abu-abu atau jingga.

Ciri khas ngengat atlas adalah terdapat pola “mata” berwarna putih berbentuk segitiga berbatas garis hitam yang terletak pada sayap atas dan sayap bawah serta ujung sayap bagian atas memiliki pola mirip kepala ular kobra.

Nama “atlas” berasal dari pola-pola di sayapnya yang menyerupai peta dunia. Dengan bentuk ujung sayap seperti ular kobra dan ukuran sayap yang besar, nama lokal ngengat atlas di beberapa daerah mengacu kepada kondisi tersebut, antara lain: papillon cobra (Perancis), atlasvlinder (Belanda), mariposa atlas (Spanyol), kupu-kupu gajah (Jawa), kupu-kupu barong (Bali), dan rama-rama (Sunda).

Ngengat atlas kerap dianggap sebagai ngengat terbesar di dunia karena luas permukaan sayapnya yang mencapai 400 cm². Rentang sayapnya pun termasuk salah satu yang terlebar, yaitu berkisar antara 25-30 cm. Tubuh ngengat atlas berukuran relatif kecil jika dibandingkan sayapnya dan lebih banyak aktif pada malam hari (nocturnal).

Walaupun berukuran besar dan memiliki warna cerah, ngengat atlas sulit dilihat di alam bebas, karena warna dan pola sayapnya membuat mereka tersamar diantara kulit kayu, batuan dan tanah.

Dalam keadaan terancam, ngengat atlas akan hinggap di atas tanah dan mengembangkan sayapnya, sehingga membuat bagian atas sayap terlihat bergerak-gerak, hal tersebut dapat menyebabkan pemangsanya mengira sedang melihat ular dan pergi meninggalkannya.

Kupu-kupu malam ini memiliki penyebaran paling luas diantara genus Attacus lainnya. Ngengat atlas banyak ditemukan di wilayah dengan iklim tropis atau subtropis.

Di Asia, ngengat atlas ditemukan di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, India, Sri Lanka, Cina bagian barat, dan Taiwan, sedangkan di Amerika Selatan, ngengat atlas ditemukan di Peru, Costa Rica, Guyana dan Brazil.

Siklus hidup ngengat atlas berlangsung selama tiga – empat bulan (90-115 hari). Ngengat atlas merupakan serangga polyvoltin, yaitu serangga yang dapat hidup lebih dari 2 generasi dalam setahun, sehingga serangga ini dapat ditemukan sepanjang tahun. Ngengat atlas dapat ditemukan dengan jumlah yang banyak antara bulan November hingga Januari.

Di Ibu Kota, ngengat atlas dapat dijumpai di Ruang Terbuka Hijau Jakarta seperti di taman dan hutan kota serta perkebunan. Walaupun dibeberapa tempat dianggap sebagai hama, ngengat atlas merupakan serangga yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kepompong ngengat atlas dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan serat sutra. Kelebihan dari serat sutra ngengat atlas dibandingkan serat sutra pada umumnya adalah ukuran serat yang cukup panjang (mencapai 2.500 meter per kepompong), kuat, lembut, tidak mudah kusut, tahan panas, tidak menimbulkan alergi, dan memiliki warna alami yang bervariasi, mulai dari coklat muda, coklat tua, dan keabu-abuan.

Mari mengenal dan melestarikan keanekaragaman hayati sekitar kita. Dengan menjaga dan peduli lingkungan sekitar, keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya juga akan lestari.

Fauna_Ngengat_Atlas_Kupu_Kupu_Malam_Terbesar_di_Dunia_03

 

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia/feed/ 0