Macaca Maura, Kera Hitam Sulawesi yang Semakin Langka

Reading time: 3 menit
Macaca Maura. Foto: Greeners.co/Ady Kristanto

Macaca maura atau Kera Dare adalah primata berekor pendek yang mirip seperti monyet. Ia berasal dari suku Macaca, sehingga berkerabat dekat dengan Monyet Yaki. Keduanya merupakan hewan endemik Indonesia, yang keberadaannya kini sudah semakin terancam.

Menurut penelitian, kera dare tergolong sebagai satwa yang pintar. Tingkat kecerdasannya hanya satu level di bawah manusia, serta jauh lebih pandai dibandingkan rata-rata spesies monyet.

Badan mereka juga relatif lebih besar daripada saudara sebangsanya. Kera dare memiliki ciri khas di bagian ekornya, yang mana tampak sangat kecil jika kita padankan dengan ukuran tubuh mereka.

Perlu Anda ketahui, Macaca maura ahli klasifikasikan sebagai satwa langka Appendix II. Populasinya pakar nyatakan merosot tajam, sehingga perlu dilindungi melalui peraturan perundang-undangan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Macaca Maura

Panjang tubuh kera dare berkisar 500 – 690 mm, sedangkan panjang ekornya mencapai 30 – 35 mm. Bobot tubuh mereka antara 5 – 6 kg, dengan warna bulu mulai dari cokelat muda hingga kehitaman.

Saat memasuki usia senja, warna bulu Macaca maura bisa saja berubah menjadi abu-abu atau putih. Meski begitu, umumnya spesies kera ini mempunyai tungging (Ischial callocity) berwarna agak pucat.

Di Tanah Air, setidaknya ada 10 jenis kera/monyet yang termasuk dalam marga Macaca. Tujuh di antaranya mendiami Pulau Sulawesi, sedang sisanya tersebar ke sejumlah wilayah di Nusantara.

Untuk mengindentifikasi setiap jenis kera/monyet Sulawesi, maka kita bisa memperhatikan bagian tunggingnya. Jika berbentuk oval dan seperti bantal, besar kemungkinan kera tersebut adalah dare.

Selain itu muka, telapak tangan dan kaki Macaca maura biasanya berwarna hitam. Tidak ada rambut di ketiga bagian tersebut, namun ia memiliki jambul pendek dan rebah pada bagian kepalanya.

Warna tubuh bagian ventral mereka lebih muda daripada dorsalnya. Kakinya terlihat lebih panjang daripada bagian tangan, serta mempunyai tampilan moncong yang unik karena berukuran pendek.

Baca juga: Monyet Ekor Panjang, Si “Usil” yang Dekat dengan Manusia

Persebaran dan Habitat Macaca Maura

Melihat persebarannya, distribusi Macaca maura tidak tersentralisasi di satu wilayah saja. Ia pakar ketahui menyebar mulai dari Bontobahari sampai ke Danau Tempe di sekitar Sakholi dan Matoangin.

Spesies kera dare hidup di hutan primer dan sekunder, salah satu habitatnya adalah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung di Kabupaten Maros dan Bontohari, tepatnya pada area hutan monsun.

Melansir berbagai sumber, kera ini juga sering menampakkan di sekitar perkampungan warga. Habitat mereka ahli sinyalir berada di dataran rendah sampai ketinggian maksimal 2.000 mdpl.

Di alam liar, jenis kera Macaca maura biasanya hidup secara berkelompok. Jumlah anggota per kelompoknya bervariasi mulai dari 9 – 53 ekor, yang terdiri dari pejantan, betina, serta anakan.

Jantan dominan merupakan penentu pergerakan kelompok. Mereka bahkan acap kali melakukan praktik multiple mating, yakni mengawini satu betina dengan beberapa jantan di kelompoknya.

Kebiasaan dan Konservasi Macaca Maura

Kebiasaan Macaca maura yang bergerak secara berkelompok sering menimbulkan kebisingan. Hal ini terlihat jelas pada saat mereka memasuki daerah perkebunan serta memakan hasil pertanian.

Kera jantan selalu bersembunyi untuk mengontrol anggota kelompok. Suara riuh mereka terdengar lebih keras bila ada bahaya, sehingga bisa menjadi “alarm” untuk anggota kelompok lainnya.

Pada dasarnya, spesies kera dare tidak tergolong sebagai satwa yang agresif. Di lingkup sosialnya mereka hidup secara rukun, serta jarang terlibat perkelahian untuk urusan makan dan kawin.

Satu-satunya individu yang paling agresif di kelompok mereka adalah pemimpinnya. Secara alamiah ia bertugas untuk melindungi anggota grup, sehingga sifat agresif ini terbilang wajar ditampilkan.

Walau sangat mengagumkan, sayangnya populasi Macaca maura di habitatnya sudah semakin jarang. Merujuk IUCN Red List, status konservsi mereka berada di level ‘Endangered’ atau genting.

Menurut penelitian ahli, hal ini terjadi karena masifnya aktivitas degredasi hutan. Saat ini, jenis kera dare telah otoritas lindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun 1999.

Baca juga: Macaca Pagensis, Primata Langka dari Mentawai

Taksonomi Spesies Kera Hitam Dare

Penulis: Yuhan Al Khairi

Top
You cannot copy content of this page