Belut Sawah, Si Lincah Penghuni Lahan Berlumpur

Reading time: 3 menit
Belut Sawah, Si Lincah Penghuni Lahan Berlumpur
Belut sawah, si lincah penghuni lahan berlumpur. Foto: Shutterstock.

Pasti Anda familiar dengan hewan licin yang sering muncul di setiap perlombaan hari kemerdekaan? Nah, apalagi kalau bukan si lincah belut sawah.

Nama latin dari ikan belut sawah adalah Monopterus albus. Di mancanegara, satwa ini terkenal dengan nama asian swamp eel. Ikan ini merupakan satu dari tiga belas spesies genus Monopterus yang memiliki distribusi luas. Daerah hidup fauna ini meliputi kawasan Asia tropis hingga sub tropis sebagai habitat aslinya. Fauna ini dapat kita temukan di daerah tropis seperti India, Cina bagian utara, Malaysia, dan Indonesia. Belut dapat hidup di kolam yang berlumpur, rawa-rawa, kanal, dan persawahan. Mereka pun mampu hidup di air keruh.

Karena bentuknya yang seperti ular, maka tidak banyak orang yang menyangka bahwa hewan ini berasal dari keluarga ikan. Belut sawah tergolong dalam famili Synbranchidae yaitu ikan-ikan yang tidak mempunyai sirip dan sisik atau rongga untuk bergerak. Kulitnya licin mengeluarkan lendir.

Morfologi Belut Sawah

Berdasarkan beberapa sumber penelitian ilmiah, secara morfologi, belut sawah adalah satwa yang memiliki bentuk badan yang bulat memanjang, Matanya berukuran kecil dan sipit. Mulutnya kecil seperti lipatan kulit. Gigi belut sawah halus dan runcing. Belut berjalan dengan mengesotkan badan serasa berlenggok-lenggok dengan cepat. Tekstur badannya yang berlendir ini membuatnya sulit untuk di tangkap oleh tangan manusia.

Melalui alat pernafasan sekunder yang dia miliki, ikan ini mampu beradaptasi pada beberapa kondisi lingkungan. Bahkan pada lingkungan yang miskin oksigen sekalipun. Kemampuan ini dia dapat karena belut memiliki alat pernapasan tambahan berupa kulit tipis berlendir yang terdapat di rongga mulutnya. Alat ini berfungsi menghirup oksigen langsung dari udara. Sementara itu, insangnya mengisap oksigen dari dalam air.

Potensi tersebut telah menempatkan satwa ini sebagai spesies yang memiliki kemampuan plastisitas fenotipik yang tinggi ditandai dengan munculnya pola warna tubuh, bintik hitam di sepanjang tubuh, dan bentuk ekor yang beragam (Herdiana, 2017 dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia).

Baca juga: Belajar Demokrasi dari Binatang

Kaya Manfaat Jadikan Dia Komoditas Ekspor Andalan

Ikan ini telah menjadi salah satu jenis komoditas ekspor andalan Indonesia. Satwa ini semula merupakan ikan ‘hama’ karena kegemarannya memakan anak-anak ikan, serta merusak dan menggali galengan sawah sehingga akhirnya sawah pun menjadi bocor dan kering.

Menurut penelitian Suryani dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta, belut sawah membawa segudang manfaat bagi masyarakat. Masyarakat sering menjadikan fauna ini sebagai hidangan makanan ringan maupun sebagai lauk. Selain bermanfaat sebagai sumber protein, daging belut memiliki kandungan gizi yang lengkap. Belut sawah mengandung protein 14 gr, lemak 27 gr, fosfor 200 mg, kalsium 20 mg, vitamin A 1600 SI, vitamin B 0,1 mg, Vitamin C 2 mg. Sehingga fauna ini merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang potensial untuk dikembangkan sebagai ikan budidaya di masa mendatang.

Namun, di balik potensinya, ternyata masyarakat telah melakukan budidaya belut sawah secara besar-besaran. Ikan ini jamak warga gunakan sebagai bahan baku pembuatan keripik pada industri rumah tangga. Seiring dengan pertambahan penduduk yang pesat, khususnya di pulau Jawa, habitat ikan belut semakin terancam. Kini, produsen belut membanderol dagangannya mulai dari harga Rp 40.000. Terancamnya habitat ikan ini akibat penyusutan lahan sawah teknis yang dikonversi ke peruntukan lain (pemukiman, industri dan fasilitas umum). Selain itu, juga akibat tercemarnya perairan sungai dari kawasan perkotaan yang masuk ke persawahan, serta maraknya penggunaan pestisida di persawahan sejalan dengan intensifikasi di bidang pertanian.

Taksonomi Belut Sawah

Belut Sawah, Si Lincah Penghuni Lahan Berlumpur  

Penulis: Sarah. R. Megumi

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page