komunitas sepeda - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/komunitas-sepeda/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 13 Jun 2022 07:13:31 +0000 id hourly 1 Puan-Puan Bersepeda Solid Gandeng Pesepeda Pemula https://www.greeners.co/sosok-komunitas/puan-puan-bersepeda-solid-gandeng-pesepeda-pemula/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=puan-puan-bersepeda-solid-gandeng-pesepeda-pemula https://www.greeners.co/sosok-komunitas/puan-puan-bersepeda-solid-gandeng-pesepeda-pemula/#respond Mon, 13 Jun 2022 04:53:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=36437 Jakarta (Greeners) – Olahraga bersepeda lekat dan terkesan dominasi kaum lelaki. Stereotip inilah yang kemudian membuat Fani Rachmita menginisiasi terbentuknya komunitas Puan-Puan Bersepeda. Komunitas yang terbentuk di awal pandemi ini […]]]>

Jakarta (Greeners) – Olahraga bersepeda lekat dan terkesan dominasi kaum lelaki. Stereotip inilah yang kemudian membuat Fani Rachmita menginisiasi terbentuknya komunitas Puan-Puan Bersepeda. Komunitas yang terbentuk di awal pandemi ini tak sekadar mengikuti tren, tapi juga mewadahi dan memastikan ruang bersepeda bagi perempuan.

Fani menceritakan awal mula terbentuknya Puan-Puan Bersepeda yaitu menjadikan sepeda sebagai transportasi yang siapa saja bisa lakukan, seperti para perempuan.

“Komunitas ini hadir untuk memastikan para pengguna sepeda perempuan memiliki ruang aman, karena kita sangat solid,” katanya dalam Kupas Komunitas bersama Greeners, baru-baru ini.

Fani meyakini, keamanan dan kenyamanan perempuan dalam bersepeda berbanding lurus dengan semakin banyaknya para pengguna perempuan. Demikian pula dengan solidaritas yang erat terjaga.

Menariknya, jika banyak anggota dalam komunitas sepeda menjadikan sebagai ajang unjuk gigi kebolehan dalam bersepeda, komunitas ini justru menjunjung erat kebersamaan. Komunitas ini sangat merangkul semua lapisan sepeda, utamanya pemula yang baru belajar sepeda.

“Karena sudah kita tanamkan bahwa kita bersepeda untuk silaturahmi dan menjadikan wadah untuk perempuan bersepeda. Jadi kalaupun ada perempuan pemula, akan kita dorong, akan kita tunggu dan bersama-sama,” paparnya.

Puan-Puan Bersepeda Prioritaskan Jarak Tempuh Pendek dan Rute di Sekitar Kota

Selain itu, komunitas ini juga lebih memprioritaskan bersepeda dengan jarak tempuh pendek dengan rute di sekitar kota. Kendati demikian, mereka juga memiliki tujuan yang jelas untuk bersepeda ke suatu tempat. Misalnya, ke museum atau ke taman kota.

“Jadi tidak hanya bersepeda untuk sekadar kuliner atau ke kafe-kafe. Tapi kita bersepeda memang ke tujuan yang kita inginkan,” imbuhnya.

Selain melakukan tur sepeda, komunitas ini juga aktif dalam memberikan informasi dan publikasi terkait kegiatan bersepeda bagi perempuan melalui media sosial. Langkah ini sekaligus mengajak agar para perempuan banyak yang bersepeda.

Guna memastikan keamanan dan kenyamanan para pengguna sepeda perempuan, Fani  mendorong Pemprov DKI Jakarta memprioritaskan perluasan jalur sepeda dan jalur proteksinya. Adapun jalur proteksi ini krusial mengingat banyaknya pesepeda perempuan, disabilitas, serta anak-anak yang kerap kali belum bisa merasakan jalur sepeda ini.

Kendati lebih sering bersepeda dengan jarak pendek, bukan berarti komunitas Puan-Puan Bersepeda ini menjadikan sepeda sebagai transportasi kedua setelah kendaraan bermotor. Fani menegaskan, para komunitas Puan-Puan Bersepeda kerap kali mengombinasikan penggunaan sepeda dan transportasi umum, seperti MRT dan Trans Jakarta.

“Langkah ini cukup efektif mengingat kita tak hanya bisa berolahraga tapi juga turut berkontribusi terhadap pengurangan emisi,” kata dia.

Puan-Puan Bersepeda menggandeng pesepeda pemula dalam komunitasnya. Foto: Puan-Puan Bersepeda

Program #Gowes15menit

Menariknya, komunitas Puan-Puan Bersepeda juga memiliki program agar perempuan aman dan berhak bersepeda, yaitu #Gowes15menit. Program ini merupakan upaya yang mereka lakukan untuk mengundang lebih banyak warga, utamanya perempuan untuk bersepeda di kota.

Selain itu, #Gowes15menit juga mengajak para perempuan menjadikan aktivitas sepeda sebagai moda alternatif untuk perjalanan jauh yang dapat disambung dengan transportasi umum. “Program ini sebagai penegasan bahwa sepeda merupakan alat mobilitas inklusif yang dapat digunakan untuk kegiatan sehari-hari oleh siapa pun dan kapan pun,” tuturnya.

Meski bernama Puan-Puan Bersepeda, Fani juga memastikan bahwa komunitas ini tidak tertutup bagi semua gender untuk bergabung. Justru, dengan semakin terbukanya komunitas ini terhadap semua gender akan menjadikan mereka lebih saling menghormati dalam bersepeda.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/puan-puan-bersepeda-solid-gandeng-pesepeda-pemula/feed/ 0
Sejuta Sepeda Satu Indonesia untuk Lestarikan Lingkungan https://www.greeners.co/aksi/sejuta-sepeda-satu-indonesia-untuk-lestarikan-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sejuta-sepeda-satu-indonesia-untuk-lestarikan-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/sejuta-sepeda-satu-indonesia-untuk-lestarikan-lingkungan/#respond Wed, 08 Jun 2022 04:00:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36389 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama ribuan pesepeda di Jakarta menggelar gowes bersama. Aksi ini untuk memperingati peringatan Hari Sepeda Sedunia pada (3/6) dan Hari Lingkungan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama ribuan pesepeda di Jakarta menggelar gowes bersama. Aksi ini untuk memperingati peringatan Hari Sepeda Sedunia pada (3/6) dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5/6).

Kegiatan bersepeda dimulai dari Balai Kota DKI Jakarta dan berakhir di kantor KLHK. Dalam kegiatan ini KLHK juga menggandeng komunitas sepeda, khususnya komunitas Bike To Work (B2W) yang telah memiliki jaringan luas di 112 kota di Indonesia.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara, KLHK Luckmi Purwandari mengatakan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia yaitu “Only One Earth” seiring dengan tema kegiatan bersepeda “Sejuta Sepeda Satu Indonesia ”. Tujuan dari kegiatan ini tak lain untuk mendorong partisipasi aktif dari beragam pihak untuk bersepeda.

“Sebagaimana kegiatan bersepeda merupakan salah satu upaya dalam menjaga kelestarian lingkungan. Selanjutnya kita berharap dapat memasyarakatkan penggunaan sepeda sebagai alat transportasi dalam kegiatan sehari-hari,” katanya, baru-baru ini.

Dengan acara ini, ia juga mendorong agar masyarakat lebih memperhatikan dan merawat bumi karena sebagai penopang kehidupan. “Buminya rusak, lingkungan kotor dan tercemar maka juga akan berimbas ke kehidupan kita,” imbuhnya.

Salah satu cara menjaga kelestarian bumi yaitu dengan memastikan udara bersih di sekitar. Bersepeda, sambung dia sebagai alat transportasi ramah lingkungan merupakan salah satu cara bentuk partisipasi aktif untuk memastikan kelestarian bumi.

“Ini merupakan bentuk partisipasi hemat energi, mengurangi pencemaran udara, memperbaiki kualitas udara dan menjaga kesehatan,” tuturnya.

KLHK Dukung Sepeda Menjadi Salah Satu Alat Transportasi

Dalam kesempatan itu, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK Sigit Reliantoro menyebut “Only One Earth” mengacu pada penyerahan bumi untuk generasi yang akan datang.

“Dengan kegiatan ini, kita mengajak generasi muda ini untuk berkarya dari sekarang, mulai peduli dan menjadi champion untuk perubahan di masa mendatang,” katanya.

Masa depan kita, sambung dia adalah masa depan yang menggunakan renewable energy. Sebagai garda terdepan untuk memastikan lingkungan, KLHK berkomitmen penuh memprioritaskan sepeda sebagai alat transportasi utama.

Terbukti, KLHK juga berkomitmen untuk menyediakan parkir khusus sepeda di KLHK serta mendorong pemerintah daerah untuk menyediakan jalur-jalur khusus untuk pesepeda.

“Kita juga mendorong pemda memastikan pedestrian yang bagus. Sehingga orang bisa berjalan serta mengurangi pergerakan menggunakan kendaraan bermotor pribadi,” ujar dia.

KLHK dukung sepeda menjadi pilihan alat transportasi karena bersifat ramah lingkungan. Foto: Ramadani Wahyu/Greeners

Bukti Pesepeda Ingin Berkontribusi Baik pada Bumi

Ketua Umum Komunitas Bike To Work Indonesia Fahmi Saimima menyatakan acara ini merupakan bukti bahwa pesepeda ingin berkontribusi nyata pada bumi. Utamanya pada isu perubahan iklim.

Ia juga mengapresiasi langkah KLHK yang berkomitmen kuat terhadap para pesepeda di Jakarta. Ia berharap komitmen tersebut dapat memacu kebiasaan para pesepeda lain di Jakarta.

“Bersepeda itu dilindungi undang-undang. Sebagai hak asasi kita maka kegiatan bersepeda perlu aman, nyaman dan selamat. Di situlah pemerintah bertanggung jawab sehingga para pesepeda makin banyak dan berani turun ke jalan lagi,” kata dia.

Selain menggelar acara gowes, ribuan pesepeda yang tergabung dalam Pecinta Bersepeda Indonesia dari berbagai kalangan ini juga berkomitmen untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan. Hal ini tertuang dalam Deklarasi Manggala Wanabhakti dalam kesempatan itu.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sejuta-sepeda-satu-indonesia-untuk-lestarikan-lingkungan/feed/ 0
B2W Bandung : Sepeda Itu Solusi Tanpa Polusi https://www.greeners.co/sosok-komunitas/b2w-bandung-sepeda-itu-solusi-tanpa-polusi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=b2w-bandung-sepeda-itu-solusi-tanpa-polusi https://www.greeners.co/sosok-komunitas/b2w-bandung-sepeda-itu-solusi-tanpa-polusi/#respond Fri, 11 Feb 2022 04:18:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=35264 Jakarta (Greeners) – Pandemi Covid-19 mendorong hadirnya tren gaya hidup yang lebih sehat. Salah satunya hobi bersepeda alias gowes. Akan tetapi, komunitas Bike To Work (B2W) Bandung ini menghadirkan gowes […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pandemi Covid-19 mendorong hadirnya tren gaya hidup yang lebih sehat. Salah satunya hobi bersepeda alias gowes. Akan tetapi, komunitas Bike To Work (B2W) Bandung ini menghadirkan gowes bukan sekadar bersepeda tapi punya misi “hijau” untuk bumi.

B2W Bandung merupakan bagian dari komunitas Bike To Work Indonesia. Komunitas ini hadir karena keprihatinan akan kondisi polusi udara yang semakin mengkhawatirkan. Belum lagi kemacetan yang ada di kota-kota besar. Bike To Work (B2W) berdiri pada Agustus 2005. Sedangkan B2W Bandung berdiri dua tahun setelahnya, yakni pada tahun 2007.

Ketua Bike To Work (B2W) Bandung Wildan Fachdiansyah mengatakan, pandemi Covid-19 menghadirkan dua kondisi. Di satu sisi memunculkan euforia antusiasme para penggowes pemula. Namun, di sisi lain aktivitas kumpul-kumpul tak lagi bisa dilakukan seperti sebelumnya. Hal ini membuat komunitas B2W Bandung vakum selama kurang lebih dua tahun.

Bagi Om Wildan, begitu ia akrab disapa, sejak terpilih menjadi Ketua B2W Bandung pada Januari lalu menurutnya adalah babak baru. Ia berharap agar eksistensi B2W Bandung bangkit dan kembali mewarnai jalanan di Kota Bandung.

“Ke depan kita ingin memastikan agar para penggowes masa pandemi ini tak sekadar ikut tren. Tapi memang bersepeda setiap hari,” katanya dalam Kupas Komunitas bersama Greeners, Rabu (9/2).

Hal itu seiring dengan program B2W Bandung yang memang ingin memastikan agar semua orang dari berbagai kalangan, gender dan profesi ikut bersepeda. Aktivitas bersepeda ini bisa mereka lakukan untuk bekerja, sekolah, kampus hingga pergi ke pasar.

B2W Bandung Ajak Mulai Bersepeda Jarak Dekat

Menariknya, Om Wildan bergabung dalam B2W Bandung sejak tahun 2008, tepatnya saat ia masih duduk di bangku SMP. Kebiasaan bersepedanya itu terbawa hingga bangku kuliah dan sampai bekerja seperti sekarang.

Untuk saat ini, ia berangkat dan pulang kerja bisa menempuh jarak kurang lebih 25 kilometer. Lelaki berkacamata ini mengungkap, kebiasaan bersepeda bisa dimulai dari tempat paling dekat. “Tak usah jauh-jauh dulu, yang penting mulai bersepeda,” imbuhnya.

Selanjutnya, masyarakat bisa mendisiplinkan diri untuk bersepeda. Om Wildan menyebut, lebih baik meningkatkan kualitas bersepeda dari segi konsisten daripada terpaku pada kuantitas jarak, tapi tak disiplin.

Ia menyatakan, tantangan untuk memasyarakatkan bersepeda yakni mindset masyarakat yang masih memandang bersepeda kurang efisien daripada motor. “Bahkan masih banyak yang bilang kalau bersepeda malah bikin keringetan pas di kantor dan tidak fresh. Padahal bisa disiasati, misalnya mandi,” ujarnya.

Kendala lain yang kerap menjadi masalah terkait ketersediaan fasilitas parkir yang belum banyak di berbagai tempat atau fasilitas umum. Namun, ia bersyukur Pemerintah Kota Bandung telah proaktif menyediakan fasilitas, seperti parkir hingga destinasi laju jalur sepeda.

Om Wildan menyatakan, bahwa kini Bandung telah memiliki banyak destinasi laju jalur sepeda. “Kalau dulu di kawasan Dago, Jl. Asia Afrika, tapi sekarang sudah menyebar di mana-mana. Termasuk di pinggiran,” ungkapnya.

Selain gowes bersama, B2W Bandung juga kerap melakukan bakti sosial. Foto: B2W Bandung

Fasilitas Pendukung Gerakan Bersepeda Di Bandung

Animo masyarakat yang tinggi terhadap gerakan bersepeda selaras dengan fasilitas yang Pemerintah Kota Bandung berikan. Terbukti, berkat gerakan komunitas B2W ini, Kota Bandung meraih penghargaan sebagai kota metropolitan ramah sepeda terbaik II.

Penghargaan ini Kementerian Dalam Negeri berikan kepada Pemkot Bandung pada acara B2W Indonesia Award Kota Ramah Sepeda pada Desember 2021. Om Wildan menyatakan, penghargaan ini hendaknya menjadi cambuk ke depan agar gerakan bersepeda semakin masif.

Berbagai pendekatan juga ia lakukan untuk memastikan masyarakat melakukan gerakan bersepeda. Misalnya, dengan menantang suatu perusahaan atau pemerintah daerah untuk bersepeda ke kantor.

“Mungkin ini nanti yang akan kita lakukan, melalui learning by doing. Kita tantang mereka lalu memberi testimoni gimana rasanya bersepeda,” katanya.

Bersepeda, sambung Om Wildan tak sekadar menyehatkan badan. Akan tetapi juga bisa mengurangi polusi. Ia memberikan kunci bagi pemula yang ingin bersepeda, yakni 3M. “3M itu mulai dari dekat, mulai saat ini dan mulai aja dulu,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/b2w-bandung-sepeda-itu-solusi-tanpa-polusi/feed/ 0
Pegasus, Penggemar Sepeda untuk Sehat https://www.greeners.co/sosok-komunitas/pegasus-penggemar-sepeda-sehat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pegasus-penggemar-sepeda-sehat https://www.greeners.co/sosok-komunitas/pegasus-penggemar-sepeda-sehat/#respond Mon, 12 Sep 2016 02:30:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=14710 Pegasus, penggemar sepeda untuk sehat. Sesuai namanya, tujuan dibentuknya Pegasus memang agar para anggotanya tetap membudayakan hidup sehat dengan bersepeda.]]>

Pada Minggu pagi yang cerah, saat matahari belum sempat meninggi, sekumpulan orang dari berbagai usia terlihat asik berbincang di pinggir jalan kawasan Daan Mogot Baru, Jakarta Barat. Tua, muda, laki-laki dan perempuan berbaur duduk santai diatas trotoar, sementara di kanan-kiri mereka terparkir sepeda dengan berbagai merek dan jenis.

Orang-orang yang lalu lalang disekitar jalan pun dengan mudah bisa menerka kalau mereka merupakan kumpulan penggemar sepeda, ditambah pula jersey yang mereka gunakan seragam, dengan tulisan “Pegasus” dibagian depannya.

“Pegasus, penggemar sepeda untuk sehat,” ungkap Adang Muhaimin menjelaskan makna akronim nama komunitas tersebut.

Sesuai namanya, tujuan dibentuknya Pegasus memang agar para anggotanya tetap membudayakan hidup sehat dengan bersepeda. Termasuk juga membudayakan bersepeda ke orang lain yang ada disekitar mereka. “Kalau gowes bareng-bareng kan lebih asik, capeknya jadi enggak berasa,” lontar Adang.

Ditemui pagi hari Minggu yang lalu, lelaki yang merupakan Humas dari komunitas Pegasus ini menerangkan, bahwa mereka memang terbisa berkumpul di kawasan Daan Mogot Baru setiap minggunya. “Kadang pagi atau sore selepas kita berkeliling gowes bareng disekitaran Cengkareng-Kalideres,” terangnya.

Sementara untuk lokasi berkumpul tidak lepas dari mayoritas anggota Pegasus yang memang berasal dari kawasan Daan Mogot, Cengkareng dan Kalideres, namun ada juga anggota yang berasal dari luar wilayah tersebut mulai dari Cileduk, Tanggerang, sampai ada yang dari Matraman di Jakarta Timur.

Memang tidak pernah ada batasan bagi siapa pun yang ingin bergabung di Pegasus. Hal itu pula yang coba ditonjolkan oleh komunitas yang bediri pada 11 September 2008 ini. Bukan hanya lokasi tempat tinggal, usia, jenis kelamin, termasuk jenis sepeda yang digunakan pun bebas. “Yang mau bergabung syaratnya hanya dua, punya sepeda dan rasa kekeluargaan,” ungkap Adang.

pegasus

Foto: greeners.co/AT

Rasa kekeluargaan yang erat diantara 50 anggota komunitas yang diketuai Harie Yulisusanto ini membuat segala perbedaan yang mereka miliki seakan hilang, hanya satu hal yang menguatkan diantara mereka bahwa mereka sama-sama penggemar sepeda.

Keberagaman anggota Pegasus memang tampak jelas, seperti bisa dilihat saat mereka berkumpul pagi itu. Kita bisa melihat anak belasan tahun, sampai yang sudah berumur 64 tahun duduk berbincang bersama. Jenis sepeda pun demikian, dari sepeda lipat, BMX, MTB, sampai sepeda downhill bisa ditemui di lokasi mereka berkumpul saat itu.

Untuk mengakomodir beragamnya jenis sepeda para anggota dan juga menghilangkan kejenuhan bersepeda di Jakarta, Pegasus juga sesekali mengadakan acara bersepeda di luar kota. Biasanya untuk anggota dengan sepeda jenis MTB atau Downhill sesekali mereka bersepeda langsung di pegunungan atau trek khusus yang memang disediakan. Seperti jalur pipa gas di Tangerang Selatan, gunung Pancar Bogor, atau kawasan perbukitan Cikole Lembang.

Bukan hanya bersepeda

Diikatkan dalam satu kesamaan hobi, bukan berarti komunitas ini hanya beraktivitas seputar kendaraan roda dua tanpa mesin saja. Banyak aktivitas lain yang rutin dilakukan, mulai dari donor darah, bakti sosial, sampai dengan kunjungan ke panti jompo.

“Donor darah kita rutin tiga bulan sekali, biasanya bekerja sama dengan yayasan yang ada di sekitar sini juga,” terang Adang.

Untuk bakti sosial dan kunjungan ke panti jompo memang tidak dilakukan dalam waktu yang rutin, namun minimal setahun sekali mereka lakukan. Tujuannya, untuk mendekatkan diri dengan sesama. Panti jompo dipilih dengan alasan bahwa orang tua dengan usia lanjut sangat perlu mendapatkan perhatian dan hiburan, bukan semata bantuan materi. Maka dalam setiap kesempatannya, komunitas Pegasus juga menggandeng beberapa rekan lainya untuk mengisi acara. “Terakhir kita mengajak grup musik Debu untuk menghibur para orang tua kita di panti jompo,” kata Adang.

Berbagai kegiatan sosial tersebut diadakan bukan hanya semata untuk memberikan bantuan dan manfaat kepada orang yang diberikan, namun juga bagi anggota Pegasus sendiri. “Kalau dengan bersepeda kita sehat secara jasmani, dengan kegiatan sosial harapannya bisa sehat secara rohani juga,” tutup Adang.

Penulis: AT/G39

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/pegasus-penggemar-sepeda-sehat/feed/ 0
#GowesMudik2016, Empat Pesepeda Tempuh Ratusan Kilometer https://www.greeners.co/aksi/gowesmudik2016-empat-pesepeda-tempuh-ratusan-kilometer/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gowesmudik2016-empat-pesepeda-tempuh-ratusan-kilometer https://www.greeners.co/aksi/gowesmudik2016-empat-pesepeda-tempuh-ratusan-kilometer/#respond Tue, 05 Jul 2016 14:00:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=14171 Mudik berdampak pada peningkatan volume kendaraan bermotor yang cukup masif, terutama di jalur darat. Namun ada beberapa orang yang melakukan mudik dengan menggunakan transportasi yang tidak biasa, salah satunya dengan menggunakan sepeda.]]>

Bandung (Greeners) – Pulang ke kampung halaman menjelang berakhirnya bulan Ramadhan atau umum disebut mudik, sudah menjadi tradisi di Indonesia terutama bagi umat Muslim yang merantau dengan jarak yang cukup jauh dari daerah asalnya. Sarana transportasi menjadi hal utama untuk menempuh jarak demi merangkai kembali silaturahmi. Hal ini tentu berdampak pada peningkatan volume kendaraan bermotor yang cukup masif, terutama di jalur darat.

Meski demikian, ada beberapa orang yang melakukan mudik dengan menggunakan transportasi yang tidak biasa, salah satunya dengan menggunakan sepeda. Empat pesepeda asal Bandung dan Cimahi bersiap menempuh jarak ratusan kilometer pada Sabtu (02/07).

Meilana Dukut Elisdiarto, Kaimun, Yanti Sutiarni, dan Yuningsih merupakan peserta #GowesMudik2016 yang melalui jalur selatan. Kegiatan yang bertajuk “Homecoming & Family Gathering” ini diinisiasi oleh Bike To Kampoeng.

Keempat pesepeda tersebut berkumpul di halaman salah satu restoran cepat saji di kawasan Cibiru, Kota Bandung. Rombongan berangkat pada pukul 8 pagi. Keberangkatan mereka didampingi beberapa pesepeda dari berbagai komunitas pesepeda sampai lingkar Nagreg.

#GowesMudik2016. Foto: greeners.co/Edi Rachmat

#GowesMudik2016. Foto: greeners.co/Edi Rachmat

Salah satu pesepeda, Meilana Dukut Elisdiarto, menyatakan, mudik bersepeda lebih berkesan daripada menggunakan kendaraan bermotor karena memiliki beberapa keuntungan.

“Pengin menularkan kepada masyarakat umum kalau mudik pakai sepeda itu ternyata sangat menyenangkan dan kita bisa sesuka hati beristirahat di manapun,” ujar pria yang kerap disapa Mas Dukut ini.

Pria yang bekerja sebagai Instalatir ini tengah berada di kawasan Lumbir, Banyumas, Jawa Tengah saat dihubungi Greeners melalui aplikasi Whatsapp (03/07). Mas Dukut melakukan perjalanan mudik menuju Solo dengan jarak tempuh sekitar 400 kilometer dengan target 4 hari.

“Biar bisa menikmati alam selama perjalanan dan mendapatkan banyak momen-momen untuk pemotretan,” tambahnya.

Selain itu, dalam rombongan mudik dengan bersepeda ini terdapat pula pasangan suami istri. Kaimun dan Yanti Sutiarni, pasangan suami-istri ini, meniti jarak dari Cimahi hingga Gombong dengan menggunakan sepeda MTB dan Touring.

“Yang pasti harus sering bersepeda sehari (rata-rata) 50 kilometer. Mental dan semangat pun harus kuat, dan tentunya perbekalan secara materi dan finansial,” ujar Yanti yang mengaku baru pertama kali melakukan perjalanan mudik dengan bersepeda.

Yanti mengatakan bahwa dirinya termotivasi oleh suaminya yang pada tahun lalu pernah mengikuti kegiatan #GowesMudik yang diadakan Bike To Kampoeng ini. Dengan didampingi suaminya, perjalanan sejauh lebih kurang 350 kilometer dapat ia lalui selama 4 hari. Yanti menambahkan, keikutsertaan dirinya pada #GowesMudik2016 bukan untuk mencari sensasi.

“Ingin mencoba suasana baru dan melakukan silaturahmi dengan sanak keluarga di Gombong,” katanya.

Kegiatan #GowesMudik2016 dilakukan oleh sekitar 30 pesepeda dari berbagai kota seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, dan Cimahi dengan melalui dua jalur utama, yakni Pantura dan Jalur Selatan. Sebelumnya, pada Jumat sore (01/07) sebagian peserta berangkat mudik dari Sekretariat Bike To Work, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Upaya ini menjadi salah satu cara unik untuk mengurangi dampak polusi saat tradisi mudik berlangsung, selain menggunakan transportasi umum.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/gowesmudik2016-empat-pesepeda-tempuh-ratusan-kilometer/feed/ 0
Jamnas Federal III, Lebih Dari Sekedar Silaturahmi dan “Kopdar” https://www.greeners.co/aksi/jamnas-federal-iii-lebih-sekedar-silaturrahmi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamnas-federal-iii-lebih-sekedar-silaturrahmi https://www.greeners.co/aksi/jamnas-federal-iii-lebih-sekedar-silaturrahmi/#respond Sun, 22 May 2016 08:25:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13731 Kediri (Greeners) – Jambore nasional komunitas pecinta sepeda Federal yang dilaksanakan di Kota Kediri dan Kabupaten Kediri telah memasuki hari terakhir pelaksanaannya. Kegiatan yang telah dilaksanakan sejak 20 Mei ini […]]]>

Kediri (Greeners) – Jambore nasional komunitas pecinta sepeda Federal yang dilaksanakan di Kota Kediri dan Kabupaten Kediri telah memasuki hari terakhir pelaksanaannya. Kegiatan yang telah dilaksanakan sejak 20 Mei ini ditutup secara resmi pada hari Minggu 22 Mei 2016 di kawasan wisata Besuki Dolo Kabupaten Kediri.

Selain dimanfaatkan sebagai ajang pertemuan (kopdar) serta silaturahmi diantara anggotanya, Jamnas kali ini juga dimanfaatkan sebagai ajang pelatihan dan pembentukan karakter bagi generasi muda. Setidaknya, itu yang dilakukan oleh Fino Benson (57) dan Vita (52), pasangan Federalis dari Bekasi.

Pasangan kakek nenek ini datang ke Kediri dengan mengajak serta Mikhaela, cucu lelakinya yang baru berusia 1,4 tahun. Selama ajang Jamnas, sang cucu juga diajak berkeliling menggunakan sepeda Federal.

Fino memasang kursi pada boncengan sepedanya. Kursi tersebut memang didesain khusus untuk tempat duduk anak di boncengan sepeda. Sisi keamanan, juga menjadi bagian dari perhatiannya, yaitu adanya sabuk pengaman untuk sang cucu.

Mikhaela bersama sang Kakek / Foto : M. Agus Fauzul Hakim

Mikhaela bersama sang Kakek / Foto : M. Agus Fauzul Hakim

Pasangan ini juga senantiasa memperhatikan kebutuhan bagi sang bayi. Beberapa waktu tertentu, mereka mengganti popok dan memberinya susu yang disiapkan.

Fino mengaku kerap mengajak Mika bersepeda. Kebiasaan itu telah diterapkan sejak Mika masih berusia 6 bulan. Harapannya, sang anak mengenal alam dan mempunyai karakter cinta lingkungan.

“Saya enggak mau nanti cucu saya hidupnya ngemall saja. Itu kebiasaan buruk!. Makanya saya ajak agar tahu alam,” ujar kakek yang bernaung pada Federal Nusantara Bekasi ini.

Mika sendiri nampak ceria dan bersemangat. Tidak ada kesan rewel. Penampilannya yang lucu dan menggemaskan kerap membuat Federalis lainnya menghampiri sekedar mengajaknya bermain dan memancing tawa.

Selain kelucuan dan kebahagiaan bersama Mika, ada hal unik lain yang terlihat di lokasi kegiatan. Yaitu kehadiran seekor kucing bernama Marta.

Kucing jenis Persia ini senantiasa aktif mengikuti beberapa kegiatan yang ada di Jamnas, bahkan saat gowes bareng keliling kota digelar.

Aziz, pemiliknya, memfasilitasi kucing warna kombinasi putih dan hitam itu dengan sebuah kandang portabel. Kandang itu ditempatkan di boncengan sepedanya. Dengan demikian, Aziz dapat leluasa mengajak kucing kesayangannya itu menjelajah.

Gowes, bukanlah hal yang asing bagi kucing yang berusia hampir 5 tahun itu. Aziz memang kerap mengajaknya bersepeda. Bahkan Marta juga acapkali hadir dalam gelaran Jamnas yang berlangsung 2 tahunan itu.

“Jamnas yang lalu juga sudah ikut,” ujar Aziz, Federalis asal Jogja itu.

Aziz dan boncengan kandang kucingnya / Foto : M. Agus Fauzul Hakim

Aziz dan boncengan kandang kucingnya / Foto : M. Agus Fauzul Hakim

Jamnas Federal memang menjadi magnet bagi Federalis. Ratusan orang datang dari berbagai penjuru wilayah. Bahkan tidak sedikit yang datang dengan mengayuh sepedanya secara langsung, ada yang dari Jakarta bahkan Bali. Mereka menganggapnya sebagai media mencari kepuasan hati dan membangun keakraban sesama Federalis.

Jamnas yang telah berlangsung di Yogyakarta, Bandung, dan Kediri ini tidak terlepas dari ide sekelompok orang pecinta sepeda Federal. Mereka ingin bernostalgia masa kecil ketika sepeda ini sempat populer dan menjadi tumpangan hariannya. Kini sepeda Federal tidak diproduksi lagi karena pabriknya telah ditutup.

Salah satu pencetus ide lahirnya komunitas Federal adalah Bagas Triaji (29). Sebagai salah satu “Komandan Federalis”, Bagas menuturkan, komunitas ini lahir pada tahun 2009 lalu. Kelahirannya diawali dengan diskusi terbatas beberapa orang yang ada di grup sosial media Facebook. Seiring perkembangan, grup tersebut semakin ramai dan banyak anggotanya. Hingga saat ini grup Facebook tersebut sudah beranggotakan 9.000 orang.

Bagas Triaji / Foto : Greeners

Bagas Triaji / Foto : Greeners

Setelah ramai di dunia maya, ada keinginan untuk kopi darat agar bisa bertatap muka langsung antar sesama Federalis. Hingga kemudian digelar Jamnas pertama di Yogyakarta dan Jamnas kedua di kota Bandung.

Namun perhelatan di dua kali Jamnas sebelumnya tidak menyerap peserta sebanyak jumlah anggota grup sosial media yang menunjukkan angka ribuan. Yang hadir hanya 200 hingga 300 an. Meski demikian mereka optimis jumlah peserta akan semakin banyak kedepannya. Setidaknya dari hasil jamnas di Kediri ini, ada peserta hingga 500 orang.

“Kekurangan kami, tidak punya data dan belum ada upaya melakukan pendataan tentang berapa chapter (daerah) dan anggotanya,” ujar Bagas Triaji.

Sebagai informasi, Jamnas di Kediri menggunakan dua lokasi yang cukup berjauhan, yaitu di tengah kota Kediri dan area Kabupaten Kediri tepatnya Wisata Air Terjun Dolo di pegunungan Wilis pada ketinggian 1800 mdpl. Akan tetapi seluruh peserta tampak sangat menikmati alur kegiatan yang telah disusun dengan cermat oleh panitia pelaksananya.

Penulis : M. Agus Fauzul Hakim

]]>
https://www.greeners.co/aksi/jamnas-federal-iii-lebih-sekedar-silaturrahmi/feed/ 0
Mengayuh Sepeda Ratusan Kilometer demi Jamnas Federal III https://www.greeners.co/aksi/mengayuh-sepeda-ratusan-kilometer-demi-jamnas-federal-iii/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengayuh-sepeda-ratusan-kilometer-demi-jamnas-federal-iii https://www.greeners.co/aksi/mengayuh-sepeda-ratusan-kilometer-demi-jamnas-federal-iii/#respond Sat, 21 May 2016 13:24:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13720 Jambore Nasional Federal Indonesia III di Kediri, Jawa Timur, menjadi magnet bagi pecinta sepeda Federal di Tanah Air. Berbagai cara mereka tempuh agar mereka bisa tiba di lokasi acara, termasuk mengayuh sepeda ratusan kilometer dari kota asal mereka.]]>

Kediri (Greeners) – Jambore Nasional Federal Indonesia III di Kediri, Jawa Timur, menjadi magnet bagi pecinta sepeda Federal di Tanah Air. Ratusan peserta dari berbagai penjuru daerah hadir dalam acara yang hari ini, Sabtu (21/05), memasuki hari kedua. Jamnas Federal ini sendiri berlangsung tanggal 20-23 Mei 2016.

Para Federalis (sebutan untuk pecinta sepeda Federal, Red.) yang berasal dari luar kota membawa sepeda mereka ke lokasi acara dengan beberapa cara. Ada yang memanfaatkan jasa pengiriman paket untuk membawa sepedanya, adapula yang membawa kendaraan khusus untuk mengangkut sepeda yang populer di era tahun 80-90an itu.

Bahkan ada yang nekat datang ke Kediri dengan menaiki sendiri sepedanya. Perjalanan ini bisa memakan waktu hingga berhari-hari tergantung jauh dekatnya kota asal pesepeda dari Kediri.

Federalis yang memilih cara ini ternyata jumlahnya cukup banyak dan berasal dari beberapa kota. Diantaranya adalah Hendri Botak, Federalis asal Jakarta. Hendri menghabiskan waktu hingga empat setengah hari menaklukkan rute berjarak ratusan kilometer itu. Ia mengayuh sepeda dengan ditemani oleh seorang rekannya sesama Federalis.

Jamnas Federal III. Foto: greeners.co/M. Agus Fauzul Hakim

Jamnas Federal III. Foto: greeners.co/M. Agus Fauzul Hakim

Hendri menyatakan selama perjalanan ia tidak menemui kendala berarti. Itu karena dia sudah cukup baik menyiapkan rencana yang disusunnya jauh-jauh hari. Ditambah pula dengan jam terbangnya yang cukup mumpuni di dunia sepeda.

Ia mengaku dalam perjalanan menuju Kediri, ban dari sepeda Federal Strobo yang dia naiki sempat mengalami kebocoran. Musibah itu terjadi di kawasan hutan wilayah Mantingan, Jawa Timur saat hujan lebat. Roda sepedanya terperosok ke dalam lubang yang tidak terlihat karena genangan air hujan.

Pria berusia 33 tahun dan tergabung dalam klub Federal Jakarta (Fedjek) ini memilih jalur Utara dan meneruskan pada jalur Selatan menuju Kediri. Rute itu dipilihnya untuk memburu pemandangan alam sepanjang perjalanan.

“Sengaja memilih jalur selatan untuk mendapat nilai plus berupa pemandangan alam,” ujarnya saat ditemui di lokasi Jamnas.

Jamnas Federal III. Foto: greeners.co/M. Agus Fauzul Hakim

Jamnas Federal III. Foto: greeners.co/M. Agus Fauzul Hakim

Ada juga Federalis nekat lainnya, yaitu Nyoman Dama dari Federal Dewata (FedDewa) Bali. Dia bersama empat rekannya yaitu Valentin Lili, Wayan Arta, serta Made Mirda melahap trayek sejauh ratusan kilometer Bali-Kediri selama lima hari. Mereka berangkat dari Bali hari Minggu dan tiba di Kediri hari Kamis, tepat sehari sebelum pelaksanaan Jamnas berlangsung.

Nyoman Dama menuturkan, perjalanan itu cukup menantang karena jalur yang dipilihnya adalah jalur Selatan yang melewati pegunungan Arjuno, pegunungan Kumitir, serta pegunungan Semeru. Jalur ini, menurut dia, selama ini menjadi momok bagi pesepeda karena kondisi medannya.

Utamanya pada titik piket nol di kawasan pegunungan Semeru, kata Nyoman, medannya sangat membuat dada berdebar. Banyak tanjakan maupun turunan yang langsung diikuti dengan tikungan tajam. Nyoman mencatat sedikitnya ada 20 titik dengan kontur medan seperti itu.

“Piket nol, killer!” ungkap Nyoman menggambarkan medan yang dilaluinya.

Meski demikian, perjalanan dengan kecepatan rata-rata sekitar 15 km per jam hingga 60 km per jam jika kondisi jalan menurun, tersebut cukup lancar. Hanya ada sedikit kendala saat sepeda milik salah satu rekannya mengalami kerusakan pada bagian ruji roda sepedanya, namun masalah ini berhasil diatasi.

Kuatnya ikatan persaudaraan sesama Federalis, membuat Nyoman dan rekan-rekannya tidak kesulitan menemukan tempat sekadar beristirahat hingga tempat menginap. “Bahkan banyak yang berebut untuk menawarkan rumahnya untuk tempat kami menginap. Kami cukup berterima kasih dengan saudara-saudara kami itu,” imbuhnya.

Jamnas Federal III menggunakan konsep bike camp dan city tour. Lokasi bike camp ada di dua tempat yaitu bantaran Sungai Brantas, Kota Kediri dan kawasan wisata air terjun Dolo di Kabupaten Kediri.

Sedangkan city tour, mengambil rute yang melewati kawasan-kawasan peninggalan sejarah maupun lokasi wisata. Ada pula rute pegunungan Wilis yang menawarkan pemandangan alam sekaligus jalur yang menantang.

Penulis: M. Agus Fauzul Hakim

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mengayuh-sepeda-ratusan-kilometer-demi-jamnas-federal-iii/feed/ 0
Jamnas Federal III, Ratusan Pecinta Sepeda Federal Berkumpul di Kediri https://www.greeners.co/aksi/jamnas-federal-iii-ratusan-pecinta-sepeda-federal-berkumpul-kediri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamnas-federal-iii-ratusan-pecinta-sepeda-federal-berkumpul-kediri https://www.greeners.co/aksi/jamnas-federal-iii-ratusan-pecinta-sepeda-federal-berkumpul-kediri/#respond Fri, 20 May 2016 07:49:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13713 Selama dua hari kedepan, jalanan di kota Kediri, Jawa Timur akan dipenuhi pesepeda. Mereka datang ke Kediri untuk mengikuti Jambore Nasional Federal III yang berlangsung pada tanggal 20-23 Mei 2016.]]>

Kediri (Greeners) – Selama dua hari ke depan, jalanan di kota Kediri, Jawa Timur akan dipenuhi pesepeda. Para pesepeda ini kompak menggunakan sepeda dengan merk Federal. Mereka datang ke Kediri untuk mengikuti Jambore Nasional Federal III yang berlangsung pada tanggal 20-23 Mei 2016. Jamnas Federal sebelumnya digelar di Yogyakarta untuk yang pertama dan Bandung yang kedua.

Jumlah Federalis (sebutan untuk pecinta sepeda Federal, Red.) yang mengikuti kegiatan ini mencapai ratusan orang dan berasal dari berbagai daerah. Ada yang berasal dari Aceh, Bandung, Jakarta, Palembang, Samarinda, serta beberapa kota lainnya di Indonesia.

Salah satu Federalis yang hadir adalah Hanif Cordova (42). Pria yang bekerja sebagai staf di Kantor Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia ini satu-satunya delegasi dari Aceh.

“Hitung-hitung sekalian bernostalgia masa kecil. Saya dulu naik sepeda Federal saat masa sekolah SMP,” ujar pria yang sudah 2 tahun menjadi Federalis ini.

Hanif mengaku sengaja datang dari kota Serambi Mekah selain untuk bersilaturahmi meramaikan Jamnas Federal, juga untuk membangun jaringan. Jaringan itu sebagai modal suntikan semangat baginya untuk membesarkan komunitas Federalis yang ada di daerahnya.

Jambore Nasional Federal III di Kediri, Jawa Timur. Foto: greeners.co/M. Agus Fauzul Hakim

Jambore Nasional Federal III di Kediri, Jawa Timur. Foto: greeners.co/M. Agus Fauzul Hakim

Selain Hanif, ada juga Dadang Mardiyanto, Federalis asal Bandung. Usianya cukup sepuh, 73 tahun, namun semangatnya senafas dengan jargon kotanya, Bandung Lautan Api. Dia datang ke Kediri bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam klub sepeda Federal Bandung Indonesia (FBI).

Bahkan kakek yang berprofesi sebagai guru mata ajar Matematika di SMPN 1 Bandung ini sudah mempunyai rencana besar selepas Jamnas, yaitu menjelajah kawasan yang ada di Jawa Timur.

“Nanti teman-teman balik ke Bandung, saya akan gowes ke Pacitan, jalur Jawa Timur bagian Selatan,” ujarnya.

Sekretaris Nasional Jamnas Federal III Arief Priyono, mengatakan, jumlah peserta mencapai 501 orang yang mendaftar secara resmi via online. Jumlah itu praktiknya bisa bertambah karena banyaknya simpatisan yang turut hadir untuk meramaikan acara dua tahunan ini.

“Banyak juga sebenarnya yang ingin hadir namun gagal karena misalnya enggak bisa cuti dari tempat kerjanya,” ujar Arief saat ditemui di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul sebagai salah satu lokasi Jamnas, Jumat (20/5/2016).

Arief menambahkan, pada tataran konsep, Jamnas kali ini menggabungkan antara bike camp dan city tour. Peserta akan diajak berkeliling wilayah Kabupaten Kediri dan Kota Kediri untuk mengunjungi ikon-ikon daerah sekaligus promosi potensi daerah.

Jambore Nasional Federal III di Kediri, Jawa Timur. Foto: greeners.co/M. Agus Fauzul Hakim

Jambore Nasional Federal III di Kediri, Jawa Timur. Foto: greeners.co/M. Agus Fauzul Hakim

Beberapa jalur gowes diantaranya adalah kawasan Monumen Simpang Lima Gumul, Selopanggung dengan pemandangan pegunungannya, Sungai Brantas sebagai sungai yang kental dengan sejarah Kediri, Gardu Pandang yang ada di kawasan pegunungan Wilis, serta finish di kawasan air terjun Irenggolo dan Dolo.

“Rutenya naik turun. Air terjun Dolo itu berada di 1.800 mdpl. Kalau total rute yang ditempuh selama Jamnas nanti sekitar 70 kilometer,” ujar Arief.

Para pesepeda akan menginap di kemah di kawasan bantaran sungai Brantas, Kediri. Lokasinya berdekatan dengan bangunan Jembatan Lama. Jembatan berkonstruksi besi ini merupakan jembatan tua peninggalan Belanda dan masih berfungsi hingga kini.

“Semua kegiatan yang ada dilandasi dengan niatan menjalin keakraban dan meningkatkan persaudaraan antar sesama Federalis,” pungkasnya.

Penulis: M. Agus Fauzul Hakim

]]>
https://www.greeners.co/aksi/jamnas-federal-iii-ratusan-pecinta-sepeda-federal-berkumpul-kediri/feed/ 0
#YukGowes Ajak Pesepeda untuk Peduli dan Berbagi https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-ajak-pesepeda-untuk-peduli-dan-berbagi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yukgowes-ajak-pesepeda-untuk-peduli-dan-berbagi https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-ajak-pesepeda-untuk-peduli-dan-berbagi/#respond Mon, 11 Apr 2016 13:13:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13429 Komunitas Bike To Campus Bandung bersama Eiger kembali melakukan kegiatan bersepeda rutin #YukGowes Eiger, Sabtu (09/04). Tujuan kegiatan kali ini mengajak para pesepeda untuk saling peduli dan berbagi terhadap sesama melalui bakti sosial.]]>

Bandung (Greeners) – Komunitas pesepeda Bike To Campus Bandung bersama produsen perlengkapan outdoor Eiger kembali melakukan kegiatan bersepeda rutin #YukGowes Eiger, Sabtu (09/04). Sebanyak 36 pesepeda dari berbagai komunitas pesepeda di Bandung turut meramaikan kegiatan yang berlangsung halaman toko Eiger Setiabudhi.

Dalam edisi kali ini, pesepeda menempuh perjalanan menuju Panti Asuhan Amanat Umat di Kampung Tambakan, Desa Bojong Kunci, Kecamatan Pamengpeuk, Banjaran, Kabupaten Bandung dengan jarak lebih kurang 20 kilometer. #YukGowes kali ini bertujuan mengajak para pesepeda untuk saling peduli dan berbagi terhadap sesama melalui bakti sosial.

Para pesepeda berangkat bersama truk pengangkut donasi pada pukul 8.00 WIB. Rombongan tiba di lokasi pada pukul 10.30 WIB dan langsung berbagi tugas untuk menyiapkan hidangan nasi liwet dan membersihkan bangunan serta kamar-kamar di panti asuhan. Usai bersih-bersih, anak-anak panti asuhan diajak untuk mengikuti beberapa permainan ketangkasan dan sharing mengenai sepeda serta keselamatan berkendara oleh anggota komunitas Bike To Campus Bandung.

Foto: dok. YukGowes Eiger

Foto: dok. YukGowes Eiger

Didin Bachrudin, Branch Manager Eiger Jawa Barat, dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan #YukGowes Eiger tidak sekadar mengajak pesepeda untuk bersepeda bersama ke destinasi tertentu. “Kita tidak melulu bersepeda saja. Pada kesempatan kali ini kita mencoba berbagai variasi kegiatan seperti kegiatan yang bersifat sosial dengan berdonasi melalui bakti sosial ke panti asuhan yang membutuhkan,” ujarnya.

Didin menambahkan, tidak menutup kemungkinan pada kegiatan #YukGowes selanjutnya, Bike To Campus Bandung dan Eiger akan mengajak para pesepeda terlibat pada variasi kegiatan bersepeda yang bertemakan lingkungan hidup, seperti penanaman pohon, gerakan pungut sampah, atau bike camping tanpa sampah plastik.

Sumbangan berupa pakaian, alat tulis dan uang tunai diserahkan secara simbolis oleh pihak Eiger, Bike To Campus dan pesepeda kepada pengelola dan penghuni panti asuhan di akhir kegiatan. Sumbangan tersebut dikumpulkan dua minggu sebelumnya di beberapa toko Eiger yang ada di Kota Bandung dan Cimahi.

Menurut salah satu pesepeda yang juga anggota komunitas sepeda Totoban, Arman Chaniago, kegiatan ini dapat menjadi media silaturahmi para pesepeda disamping menyalurkan hobi bersepeda.

“Disamping badan sehat juga meningkatkan rasa kepedulian sosial kepada sesama. Kalau bisa kegiatan ini ikut melibatkan masyarakat dan komunitas sepeda lain agar lebih meriah, bila perlu libatkan public figure atau tokoh masyarakat yang populer,” katanya.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-ajak-pesepeda-untuk-peduli-dan-berbagi/feed/ 0
Komunitas B2W Kampanyekan Let’s Pack A Lunch https://www.greeners.co/aksi/komunitas-b2w-kampanyekan-lets-pack-a-lunch/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komunitas-b2w-kampanyekan-lets-pack-a-lunch https://www.greeners.co/aksi/komunitas-b2w-kampanyekan-lets-pack-a-lunch/#respond Thu, 25 Feb 2016 07:47:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12960 Untuk mendukung gaya hidup yang lebih sehat, komunitas pekerja bersepeda terbesar di Indonesia, Bike to Work (B2W) dengan dukungan Modena, meluncurkan program "Let's Pack a Lunch".]]>

Jakarta (Greeners) – Kebiasaan membeli makanan di luar tidak selalu baik. Pasalnya, kita tidak tahu proses pembuatan makanan yang kita beli untuk dikonsumsi tersebut. Membeli makanan di luar pun membuat kita mengeluarkan biaya lebih banyak ketimbang jika menyiapkannya sendiri di rumah.

Untuk mendukung gaya hidup yang lebih sehat, komunitas pekerja bersepeda terbesar di Indonesia, Bike to Work (B2W) dengan dukungan Modena, meluncurkan program “Let’s Pack a Lunch”. Program ini diharapkan akan menjadi kebiasaan yang sehat.

“Saya suka istilah ‘pack a lunch‘ karena kita sering membungkus makanan dari restoran padang. Tapi alangkah baiknya kalau kita membuat sendiri makanan kita dari rumah dan membawanya. Saya berharap ini menjadi kebiasaan yang sehat dan menjadi viral,” ujar Toto Sugito, Ketua Umum B2W saat meluncurkan program “Let’s Pack a Lunch” di Modena Experience Center, Jakarta pada Selasa (23/02).

Kampanye program "Let's Pack a Lunch" mengajak masyarakat membiasakan membawa bekal makan yang disiapkan di rumah. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Kampanye program “Let’s Pack a Lunch” mengajak masyarakat membiasakan membawa bekal makan yang disiapkan di rumah. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Pada kesempatan yang sama Robert Widjaja, Vice President of Customer Management Division Modena Indonesia, menyatakan dukungannya terhadap program ini. Ia berharap program ini akan membiasakan orang untuk membawa makanan dari rumah.

“Program ini bukan hal yang mudah mengingat masyarakat urban terbiasa dengan praktikalitas, namun dengan langkah kecil dan konsisten, kami yakin program ini merupakan awal yang baik untuk membawa perubahan,” ujarnya.

Tidak ketinggalan, pengusaha Sandiaga Uno mengingatkan bahwa dengan menjalankan program ini, kita juga turut membantu meminimalisir sampah makanan. “Menurut saya ini merupakan gerakan yang bagus karena ini juga akan menghemat makanan. Kita biasanya membuang-buang makanan, tapi dengan membuat makanan sendiri kita tahu seberapa banyak makanan yang akan kita makan dan kita tahu makanan apa yang kita suka,” katanya.

Program "Let's Pack a Lunch" menggandeng beberapa publik figur. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Program “Let’s Pack a Lunch” menggandeng beberapa publik figur. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Setelah peluncuran acara ini, diadakan pula program “Let’s Pack a Lunch 21 Days Challenge”. Program ini akan berlangsung selama periode 24 Februari 24 Maret 2016 dan akan diikuti oleh Agen Perubahan yang telah dipilih oleh komunitas Bike to Work. Selama 21 hari tersebut, Agen Perubahan diharapkan dapat menularkan kebiasaan membawa bekal dari rumah kepada orang-orang disekelilingnya.

“Ini akan menjadi tantangan 21 hari untuk membuat bekal makan sendiri, tidak hanya oleh anggota Bike to Work dan semua yang hadir di sini, tapi juga oleh semua orang. Sekali lagi ini merupakan kebiasaan yang sehat jadi let’s pack a lunch!” ajak Toto.

Anda dapat membantu menyebarluaskan kebiasaan membawa bekal ini dengan mengunggah foto bekal makan siang yang Anda buat di rumah melalui Twitter, Instagram dan Facebook dengan tagar #Letspackalunch.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/aksi/komunitas-b2w-kampanyekan-lets-pack-a-lunch/feed/ 0
Aksi Peduli Sampah, Komunitas Sepeda Purwakarta Tak Mau Ketinggalan https://www.greeners.co/aksi/aksi-peduli-sampah-komunitas-sepeda-purwakarta-tak-mau-ketinggalan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aksi-peduli-sampah-komunitas-sepeda-purwakarta-tak-mau-ketinggalan https://www.greeners.co/aksi/aksi-peduli-sampah-komunitas-sepeda-purwakarta-tak-mau-ketinggalan/#respond Mon, 22 Feb 2016 09:23:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12922 Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) diperingati dengan cara yangberbeda-beda di setiap kota. Salah satunya aksi yang digalakkan oleh Forum Pesepeda Purwakarta di lokasi "car free day" di Situ Buleud pada Minggu (21/02) pagi. ]]>

Purwakarta (Greeners) – Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) berlangsung tidak hanya di Jakarta saja. Setidaknya, terdapat 801 komunitas turut berpartisipasi di 155 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia turut pada Minggu (21/02) kemarin.

Momen HPSN diperingati dengan cara yang berbeda-beda di setiap kota. Aksi yang dilakukan pun berkolaborasi dengan banyak pihak, seperti masyarakat, pemerintah, hingga komunitas. Salah satunya aksi yang digalakkan oleh Forum Pesepeda Purwakarta di lokasi car free day di Situ Buleud pada Minggu (21/02) pagi.

Diikuti lebih kurang 130 pesepeda, kegiatan dimulai dengan pembacaan deklarasi oleh seluruh pesepeda sebagai komitmen mereka dalam mendukung “Indonesia Bebas Sampah 2020”. Setelah itu, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk memunguti sampah di sekitar CFD di Situ Buleud dan sosialisasi tentang HPSN.

Usai aksi memungut sampah, seluruh pesepeda menggenjot pedal sepeda bersama menuju Cigangsa dengan jarak 17 kilometer. Jarak yang cukup jauh ditambah median jalan yang relatif datar dan menanjak tersebut diobati dengan ngaliwet atau makan bersama yang tentunya minim sampah.

Menurut Sena Nelson Rusli, Ketua ISSI Kabupaten Purwakarta dalam sambutannya mengatakan, sampah tidak bisa dihindari oleh pesepeda sendiri karena sebagai pembungkus suplai energi, baik makanan maupun minuman. “Tapi kita bisa menjaganya. Kita bisa menjaga lingkungan dengan buang sampah pada tempatnya, minimal dengan menggunakan bidon (tumbler, red.) dibandingkan botol air kemasan plastik, setidaknya itu bisa membantu,” ujar Nelson.

Foto: greeners.co/Agia Nur Pratama

Foto: greeners.co/Agia Nur Pratama

Koordinator pelaksana aksi, Cucu Hambali, kepada Greeners menuturkan, maksud dalam kegiatan tersebut tidak hanya sebagai sarana silaturahmi antar komunitas pesepeda di Purwakarta saja.

“Yang utama adalah mengubah mindset pesepeda di Purwakarta karena pesepeda disini masih bersepeda untuk hobi dan olahraga saja. Jadi saya mencoba ada kegiatan variatif seperti HPSN ini, karena persoalan sampah ini persoalan kita semua termasuk pesepeda,” tuturnya saat ditemui di Cigangsa usai ngaliwet.

Cucu juga mengapresiasi banyaknya peserta yang terlibat dalam aksi ini. Ia berharap, partisipasi mereka tidak hanya di satu wilayah dan komunitas tertentu saja, melainkan merangkul lebih banyak masyarakat dan unsur di Purwakarta.

Niki Rahayu, salah satu peserta dalam kegiatan ini, juga menyatakan dukungannya. “Penginnya acara ini rutin dan ada tujuannya. Setahun dua sampai tiga kali dan jadi acara tahunan di Purwakarta, biar seru dan nggak sekadar gowes bareng tapi ada kegiatan pungut sampahnya. Lebih ada manfaatnya,” ungkap mahasiswi dari Universitas Padjajaran yang juga bergabung dalam komunitas sepeda Totojer Plered.

Aksi yang didukung oleh berbagai unsur seperti ISSI Kabupaten Purwakarta, CKS Cloth, Bandung Clean Action dan Greeneration Indonesia serta beberapa komunitas seperti Bike To Work Purwakarta, Purwakarta Gowes Mania Wapress, Botak, Fedarta, Rodeos, Bucis, Totojer Plered dan Lowrider PWK ini diharapkan menjadi kegiatan yang berdampak positif bagi masa depan lingkungan Purwakarta, setidaknya dengan bijak memilah sampah dan membiasakan bersepeda dalam aktivitasnya.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/aksi-peduli-sampah-komunitas-sepeda-purwakarta-tak-mau-ketinggalan/feed/ 0
Bersepeda, Berkemah dan Berbagi Ilmu dalam Bikeventure https://www.greeners.co/aksi/bersepeda-berkemah-dan-berbagi-ilmu-dalam-bikeventure/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersepeda-berkemah-dan-berbagi-ilmu-dalam-bikeventure https://www.greeners.co/aksi/bersepeda-berkemah-dan-berbagi-ilmu-dalam-bikeventure/#respond Tue, 09 Feb 2016 13:37:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12791 Untuk pertama kalinya produsen perlengkapan outdoor Eiger mengadakan kegiatan Bikeventure, bersepeda, berkemah atau camping di alam terbuka, sekaligus berbagi ilmu.]]>

Bandung (Greeners) – Untuk pertama kalinya produsen perlengkapan outdoor Eiger mengadakan kegiatan Bikeventure, bersepeda, berkemah atau camping di alam terbuka, sekaligus berbagi ilmu. Acara bertajuk Bikeventure ini diselenggarakan pada tanggal 6 dan 7 Februari 2016 di Cikole Jayagiri Resort, Lembang, Bandung dan diikuti hingga seratus orang pesepeda.

Marketing Communications Eiger, Yandes Albarsyah, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan ide dari para pesepeda yang tergabung dalam komunitas #YukGowes yang diinisiasi oleh Eiger dan komunitas Bike to Campus Bandung.

“Ide atau gagasan awalnya dari komunitas #YukGowes yang diselenggarakan oleh Bike to Campus Bandung di store Eiger Setiabudi setiap dua minggu sekali. Karena mereka sering gowes (bersepeda, Red.), mereka punya ide untuk camping. Tapi kalau hanya sekadar camping mungkin sudah biasa, makanya kami membikin acara seperti ini. Sekalian kasih materi ilmu untuk bekal pengetahuan teman-teman,” ujarnya saat ditemui oleh Greeners di lokasi acara, Bandung, Minggu (07/02).

Bikeventure 2016. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Bikeventure 2016. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Dijelaskan Yandes, hampir seratus orang pesepeda mengikuti acara sejak hari pertama hingga hari kedua kegiatan Bikeventure. Mengenai jumlah peserta ini, Yandes mengaku membatasi hingga 100 pesepeda agar semua peserta dapat mengikuti kegiatan dengan maksimal.

“Awalnya peserta mengeluh. Mereka berpikir hanya bersepeda dan camping, tapi ternyata disini ada pembekalannya dan games juga. Kegiatannya padat lah. Tapi akhirnya mereka suka dan banyak informasi yang mereka tidak tahu dan mereka enjoy,” imbuhnya.

Bangun Setyo Nugroho selaku Ketua Bike to Campus Bandung yang turut hadir dalam kegiatan ini menyatakan bahwa dirinya mendukung acara kegiatan bersepeda di alam terbuka. “Kegiatan ini sangat unik dan jarang karena kuota peserta yang terbatas dan tersedianya fasilitas. Terimakasih sudah memercayakan Bike to Campus untuk terlibat dalam kegiatan ini,” ujarnya.

Bikeventure 2016. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Bikeventure 2016. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Dalam Bikeventure, berbagai kegiatan dan permainan sekaligus hiburan diadakan bergantian mengisi dua hari pelaksanaannya. Pesepeda memulai perjalanan mereka dari toko Eiger Setiabudi, Kota Bandung dan berakhir di bumi perkemahan Cikole Jayagiri Resort, Lembang. Di sepanjang rute yang dilewati, para pesepeda diminta untuk memotret berbagai objek di tempat tertentu dan hasil foto terbaik mendapatkan hadiah menarik dari panitia.

Selain itu, para peserta diberikan informasi dan tips seputar ular yang disampaikan oleh Sioux (yayasan studi ular Indonesia), sementara komunitas slackline memperkenalkan olahraga ekstrim yang memanfaatkan seutas tali. Berbagai games menarik digelar EHC (Eiger Hiking Community) untuk menghidupkan suasana dan membangun keakraban para peserta. Media lingkungan dan gaya hidup hijau Greeners.co juga turut berpartisipasi memberikan edukasi seputar pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian alam.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bersepeda-berkemah-dan-berbagi-ilmu-dalam-bikeventure/feed/ 0
#YukGowes Gowestory, Bersepeda Sambil Belajar Sejarah Museum https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum/#respond Sat, 12 Dec 2015 12:24:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12218 #YukGowes Eiger kali ini diadakan dalam rangka mendukung Konferensi Perubahan Iklim (COP 21) di Paris, Perancis. Para pesepeda juga singgah di beberapa museum untuk belajar sejarah.]]>

Bandung (Greeners) – Produsen perlengkapan outdoor Eiger dan Bike To Campus Bandung kembali mengadakan #YukGowes Eiger. Kali ini dengan tujuan menyambangi beberapa museum yang ada di kota Bandung, Sabtu, (5/12).

Kegiatan bersepeda dengan tema Gowestory ini diadakan dalam rangka mendukung Konferensi Perubahan Iklim (COP 21) di Paris, Perancis. Aksi ini mengajak seluruh pesepeda yang tergabung dalam berbagai komunitas seperti Earth Hour Bandung, Aleut, U-Green ITB, Ganesha Bicycler, dan Home Schooling Taman Sekar Bandung.

Sekitar 70 pesepeda yang mayoritas berusia muda berkumpul di dua titik berbeda, yakni halaman toko Eiger Setiabudi dan Shelter Bike.Bdg di Dago. Mereka kemudian berkeliling kota Bandung dan mengunjungi serta mempelajari sejarah beberapa museum yang ada di kota Bandung, yaitu Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, dan Museum Konperensi Asia Afrika.

Dalam kegiatan ini, komunitas Aleut memandu para pesepeda dengan menjelaskan beberapa informasi dan pengetahuan mengenai sejarah museum hingga koleksi di setiap museum yang dikunjungi.

Kafin Sulthan, Duta Earth Hour Bandung yang juga merupakan musisi “Di Atas Rata-rata 2” besutan komposer Edwin Gutawa, turut meramaikan aksi bersama dalam mensosialisasikan bersepeda sebagai gaya hidup ramah lingkungan dan upaya pengurangan dampak emisi karbon.

Foto: Arman Chaniago dan Earth Hour Bandung

Foto: Arman Chaniago dan Earth Hour Bandung

Usai berkeliling kota, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama dan sharing kegiatan antar komunitas serta berfoto bersama sambil membentangkan beberapa poster dan spanduk sosialisasi bersepeda, hemat energi dan COP 21.

Rachmanda, wakil dari Earth Hour Bandung, mengaku tidak menyangka peserta yang hadir melebihi batas yang ditentukan. Sebagai penyedia sepeda sewa untuk peserta yang meminjam di shelter sepeda, ia mengaku kewalahan karena shelter Bike.Bdg Cikapayang dan Ganesha Bicycler hanya bisa menyediakan 40 sepeda. Sementara, pendaftar sudah mencapai 56 orang pada H-2 acara.

Meski demikian, Nindya, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Padjajaran semester 7, salah satu peserta yang hadir mengaku senang telah mengikuti kegiatan ini. “Enggak terasa capek, soalnya seru sepedahan ramai-ramai sambil keliling museum di kota Bandung. Asiklah, bikin ketagihan,” ujar.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-gowestory-bersepeda-sambil-belajar-sejarah-museum/feed/ 0
Menyeberangi Sungai Citarum di #YukGowes Ke-6 https://www.greeners.co/aksi/menyeberangi-sungai-citarum-di-yukgowes-ke-6/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menyeberangi-sungai-citarum-di-yukgowes-ke-6 https://www.greeners.co/aksi/menyeberangi-sungai-citarum-di-yukgowes-ke-6/#respond Fri, 16 Oct 2015 10:30:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11528 Bandung (Greeners) – Sabtu (10/10) pagi, puluhan pesepeda sudah berkumpul di depan salah satu toko perlengkapan outdoor di jalan Setiabudhi, Bandung. Mereka akan bersepeda bersama dalam kegiatan #YukGowes ke-6 bersama […]]]>

Bandung (Greeners) – Sabtu (10/10) pagi, puluhan pesepeda sudah berkumpul di depan salah satu toko perlengkapan outdoor di jalan Setiabudhi, Bandung. Mereka akan bersepeda bersama dalam kegiatan #YukGowes ke-6 bersama komunitas Bike To Campus menuju Warung Abah Pasirmalang, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat.

Sebanyak 38 pesepeda yang ikut serta dalam kegiatan ini menempuh perjalanan selama lebih kurang 1,5 jam melalui jalur yang datar dan menurun. Kondisi rute ini berbeda dengan edisi #YukGowes sebelumnya dengan rute wilayah utara Kota Bandung, seperti Lembang dan Parongpong. Menghadapi rute yang demikian, salah seorang pesepeda pun sempat mengalami kram pada otot kaki namun akhirnya dapat kembali melanjutkan bersepeda.

Menyeberangi aliran Sungai Citarum yang mengalir ke UBP Saguling menjadi pembeda dengan edisi sebelumnya. Para peserta bersama dengan sepeda masing-masing harus menaiki perahu kecil agar sampai di destinasi akhir.

#YukGowes ke-6. Foto: Didin Bachrudin/dok. pribadi

#YukGowes ke-6. Foto: Didin Bachrudin/dok. pribadi

Didin Bachrudin, Branch Manager Eiger Jawa Barat, menyatakan bahwa perusahaannya mendukung aktivitas outdoor seperti bersepeda dalam acara rutin #YukGowes yang diadakan setiap dua minggu sekali.

“Kami berkumpul di sini didasari atas hobi dan kegemaran yang sama, bersepeda. Eiger disini memfasilitasi #YukGowes untuk sama-sama bersepeda dengan fun,” ujarnya.

Didin juga menyatakan, antusias peserta pada edisi kali ini cukup bagus. Hal ini dilihat dari jumlah peserta yang bertambah dan cukup aktifnya jaringan komunikasi di media sosial untuk mengajak peserta baru.

Chairil Imam, peserta termuda dari SMPN 25 Bandung, mengaku memanfaatkan kegiatan bersepeda ini untuk mencari teman bersepeda baru. “Ikut acara ini buat cari temen bersepeda baru sekalian ngajak teman sekolah untuk gabung,” ujarnya.

Berbagai komunitas sepeda di Bandung mengikuti kegiatan #YukGowes ke-6 ini, diantaranya Federal Bandung Indonesia, Goweser Bandung Adventure, Perbigo, Totoban, dan lainnya.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/menyeberangi-sungai-citarum-di-yukgowes-ke-6/feed/ 0
Viking Biking Indonesia Ajak Duta Besar dan CEO untuk Bersepeda https://www.greeners.co/aksi/viking-biking-indonesia-ajak-duta-besar-dan-ceo-untuk-bersepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=viking-biking-indonesia-ajak-duta-besar-dan-ceo-untuk-bersepeda https://www.greeners.co/aksi/viking-biking-indonesia-ajak-duta-besar-dan-ceo-untuk-bersepeda/#respond Tue, 13 Oct 2015 07:45:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11490 Jakarta (Greeners) – Kampanye untuk menggunakan sepeda sebagai moda transportasi alternatif yang dilakukan oleh komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia sejak tahun 2004 semakin mendapat perhatian dari banyak pihak. Salah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kampanye untuk menggunakan sepeda sebagai moda transportasi alternatif yang dilakukan oleh komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia sejak tahun 2004 semakin mendapat perhatian dari banyak pihak. Salah satunya, gerakan Viking Biking Indonesia yang digagas oleh Kedutaan Besar Denmark dan Norwegia bersama dengan B2W Indonesia, yang mulai dilakukan pada awal Februari 2015 lalu.

Pagi ini, Selasa (13/10), gerakan Viking Biking Indonesia kembali dilakukan untuk yang keempat kalinya. Dengan mengendarai berbagai macam jenis sepeda, puluhan pesepeda tersebut mulai mengayuh kendaraan roda dua ramah lingkungan itu, mulai dari Istana Negara hingga Kedutaan Besar Denmark di Kuningan.

Ketua Bike To Work (B2W) Indonesia, Toto Sugito mengatakan kalau tema yang diusung pada gerakan Viking Biking Kali ini adalah “Bersepeda Bersama Para CEO Perusahaan” dengan tujuan menginspirasi masyarakat agar ikut kembali bersepeda.

“Kan di Indonesia ini polanya masih Top Down. Jadi, kalau bos-bosnya bersepeda diharapkan para anak buahnya bisa ikut juga bersepeda,” jelas Toto di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (13/10) pagi.

Gerakan Viking Biking mengajak masyarakat untuk kembali bersepeda. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Gerakan Viking Biking mengajak masyarakat untuk kembali bersepeda. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Mengenai kemajuan gerakan Viking Biking, Toto menyatakan ada peningkatan jumlah peserta yang turut berpartisipasi dalam gerakan bersepeda ini. Namun, karena dilakukan pada hari kerja, peningkatan tersebut dikatakan Toto masih belum terlalu signifikan.

“Kalau sekarang ini ada Duta Besar Denmark, Belanda dan CEO Garuda Indonesia,” ujarnya.

Ditemui di tempat yang sama, Arif Wibowo, Direktur Utama Garuda Indonesia, menyatakan sangat tertarik untuk bergabung dan ikut berpartisipasi pada gerakan Viking Biking tersebut. Menurut Arif, selain membuat badan bugar, gerakan bersepeda ini juga sangat baik untuk membangun kedekatan dan komunikasi dengan para duta besar yang terlibat.

“Saya sendiri memang suka bersepeda ditambah gerakan ini juga melibatkan banyak duta besar, jadi, ya, saya sangat tertarik untuk terlibat,” katanya.

Sebagai informasi, gerakan Viking Biking digagas dengan mengusung semangat kegigihan dan pantang menyerah layaknya para pejuang dan pasukan Viking. Melalui gerakan ini juga para pesepeda akan bersama-sama memperjuangkan dan mengampanyekan hak-hak pesepeda.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/viking-biking-indonesia-ajak-duta-besar-dan-ceo-untuk-bersepeda/feed/ 0
Jalan Berbatu dan Monyet Liar di #YukGowes Ke-4 https://www.greeners.co/aksi/jalan-berbatu-dan-monyet-liar-di-yukgowes-ke-4/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jalan-berbatu-dan-monyet-liar-di-yukgowes-ke-4 https://www.greeners.co/aksi/jalan-berbatu-dan-monyet-liar-di-yukgowes-ke-4/#respond Wed, 16 Sep 2015 13:52:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11126 Bandung (Greeners) – Pada Sabtu (12/09) lalu, produsen perlengkapan outdoor Eiger bersama dengan komunitas Bike To Campus Bandung kembali mengadakan #YukGowes Eiger ke-4 dengan tujuan Curug Layung, Parongpong, Kabupaten Bandung […]]]>

Bandung (Greeners) – Pada Sabtu (12/09) lalu, produsen perlengkapan outdoor Eiger bersama dengan komunitas Bike To Campus Bandung kembali mengadakan #YukGowes Eiger ke-4 dengan tujuan Curug Layung, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Dalam kegiatan ini, sebanyak 22 pesepeda dari berbagai komunitas sepeda di Kota Bandung berkumpul sejak pukul 06.30 pagi di halaman toko Eiger Setiabudhi. Sebagian dari pesepeda tersebut membawa perbekalan kemah yang dipasang pada frame sepeda mereka.

Untuk tiba di Curug Layung, para pesepeda sempat berhenti sejenak untuk beristirahat di Gajah Wonderland dan kawasan Curug Cimahi. Di pemberhentian ini, monyet-monyet liar yang berada di sekitar pintu masuk membuat sebagian peserta menyempatkan diri memberikan kacang kepada primata ini.

#YukGowes Eiger ke-4. Foto: Wini Andriani/dok. pribadi

#YukGowes Eiger ke-4. Foto: Wini Andriani/dok. pribadi

Jalur berbatu menyambut para pesepeda saat melaju menuju Curug Layung. Beberapa diantara mereka pun memilih untuk mendorong sepedanya karena buruknya kualitas jalan. Membutuhkan usaha lebih untuk dapat mencapai curug yang berada di bawah bukit. Namun, salah satu pesepeda mengaku menikmati jalur yang mereka tempuh tersebut.

“Trek yang dilalui sedap. Dari trek yang landai sampai yang berat ada. Pemandangan yang alami membuat rasa lelah hilang seketika,” kata Arman Chaniago yang mengunjungi Curug Layung untuk kedua kalinya.

Sekadar informasi, Curug Layung merupakan salah satu objek wisata alam di Kecamatan Parongpong yang terkenal akan airnya yang selalu mengalir bahkan di musim kemarau panjang saat ini. Kawasan hutan pinus ini menjadi destinasi yang sering dikunjungi warga Bandung dan sekitarnya untuk sekadar menikmati alam dengan berkemah.

Branch Manager Eiger Jawa Barat, Didin Bachrudin, menyatakan, dengan publikasi dan kegiatan lainnya seperti lomba foto mingguan, peserta yang mengikuti #YukGowes selanjutnya semakin bertambah.

“Ke depan diharapkan supaya ada aspirasi, gagasan, atau opini dari peserta maupun pihak lainnya untuk pengembangan kegiatan #YukGowes di destinasi selanjutnya,” pungkasnya.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/jalan-berbatu-dan-monyet-liar-di-yukgowes-ke-4/feed/ 0
#YukGowes Eiger Ke-2 Ajak Pesepeda Jelajah Curug Batu Templek https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-eiger-ke-2-ajak-pesepeda-jelajah-curug-batu-templek/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yukgowes-eiger-ke-2-ajak-pesepeda-jelajah-curug-batu-templek https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-eiger-ke-2-ajak-pesepeda-jelajah-curug-batu-templek/#respond Wed, 19 Aug 2015 05:35:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=10824 Bandung (Greeners) – Produsen perlengkapan outdoor Eiger bersama Bike To Campus Bandung mengadakan #YukGowes Eiger dengan tujuan Curug Batu Templek, Kampung Cisanggarung, Pasir Impun, Kota Bandung, Sabtu (15/8). Kegiatan bersepeda […]]]>

Bandung (Greeners) – Produsen perlengkapan outdoor Eiger bersama Bike To Campus Bandung mengadakan #YukGowes Eiger dengan tujuan Curug Batu Templek, Kampung Cisanggarung, Pasir Impun, Kota Bandung, Sabtu (15/8).

Kegiatan bersepeda yang rutin diselenggarakan setiap dua minggu sekali ini diikuti oleh sekitar 16 pesepeda dari berbagai komunitas pesepeda di kota Bandung.

Para peserta dengan berbagai jenis sepeda berkumpul terlebih dahulu di Eiger Setiabudhi pada pukul 06.30 WIB. Setelah semua peserta terkumpul, peserta mengayuh sepeda bersama menuju tempat wisata Curug Batu Templek.

Curug Batu Templek merupakan kawasan wisata terbaru di kota Bandung yang menyajikan air terjun setinggi 15 meter dan tebing batu bekas kawasan penambangan batu kali. Selain itu, pengunjung dapat melihat proses penambangan batu kali yang terletak tidak jauh dari air terjun tersebut.

Jalan yang dilalui pesepeda tergolong sulit, terutama saat memasuki jalan Pasir Impun yang menanjak dan terjal. Para pesepeda menjajal tanjakan tersebut dengan penuh semangat, walaupun sesekali beristirahat sekedar mengambil napas dan minum.

Selain bersepeda, peserta kegiatan #YukGowes-Eiger ke-2 melakukan aksi memungut sampah yang ada disekitar Curug Batu Templek. Foto: Ray Daniel Sinyal/dok. #YukGowes

Selain bersepeda, peserta kegiatan #YukGowes-Eiger ke-2 melakukan aksi memungut sampah yang ada disekitar Curug Batu Templek. Foto: Ray Daniel Sinyal/dok. #YukGowes

Kondisi jalan yang dilalui pesepeda tidak terlalu padat oleh kendaraan membuat perjalanan terasa lebih segar tanpa polusi, sangat berbeda dibandingkan dengan kondisi di pusat kota. Pemandangan sawah terasering yang indah menyambut peserta setelah melalui perjalanan penuh tanjakan. Para peserta tiba di Curug Batu Templek sekitar pukul 10 pagi.

Koordinator #YukGowes Eiger yang juga anggota Bike To Campus, Suci Fitriana Bangun mengungkapkan destinasi ini merupakan hasil perundingan dengan para peserta di grup media sosial Facebook.

“Ada usulan dari para peserta untuk mencoba ke Curug Batu Templek. Selain itu, kita akan terus mencoba ke tempat yang baru dan tidak biasa sampai enggak ada lagi destinasi (yang belum dikunjungi) di sekitar Bandung,” ujar Suci.

Salah satu peserta termuda, Dimas, merasa senang mengikuti kegiatan ini. Bersama dua kawan sekolahnya di SMPN 25 Bandung, mereka bersemangat mengikuti kegiatan tersebut. “Capek, tapi setelah lihat pemandangannya jadi senang,” ujarnya yang baru pertama kali mengikuti #YukGowes Eiger.

Usai berfoto dan memungut sampah bersama di sekitar Curug Batu Templek, panitia juga menyediakan door prize bagi para peserta berupa beberapa produk Eiger.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/yukgowes-eiger-ke-2-ajak-pesepeda-jelajah-curug-batu-templek/feed/ 0
Mudik dengan Bersepeda, Merajut Kilometer Tanpa Polusi https://www.greeners.co/aksi/mudik-dengan-bersepeda-merajut-kilometer-tanpa-polusi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mudik-dengan-bersepeda-merajut-kilometer-tanpa-polusi https://www.greeners.co/aksi/mudik-dengan-bersepeda-merajut-kilometer-tanpa-polusi/#respond Fri, 17 Jul 2015 00:30:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=10355 Bandung (Greeners) – Sudah barang tentu, hari Lebaran dijadikan momentum untuk mudik ke kampung halaman oleh sebagian orang. Jalan-jalan utama di jalur utara dan selatan Jawa selalu menjadi pemberitaan akibat […]]]>

Bandung (Greeners) – Sudah barang tentu, hari Lebaran dijadikan momentum untuk mudik ke kampung halaman oleh sebagian orang. Jalan-jalan utama di jalur utara dan selatan Jawa selalu menjadi pemberitaan akibat membludaknya volume kendaraan setiap musim mudik tiba.

Namun, kegiatan mudik ini akan berbeda bila pemudiknya adalah pesepeda. Demi dapat berlebaran bersama sanak saudara di kampung halaman, beberapa di antara mereka tetap mengayuh sepeda sebagai kendaraan untuk pulang kampung meskipun harus rela kelelahan menempuh jarak ratusan kilometer.

Agus Septian Heryanto salah satunya. Mahasiswa salah satu universitas swasta di Bandung ini rela menempuh jarak lebih dari 400 kilometer dengan sepeda besi lokal bermerek Federal, demi berlebaran di kampung halaman orang tuanya di Magelang, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Karena hobi, terus momen mudik cuma satu tahun sekali. Mudik pakai sepeda juga bukan niat yang mendadak,” ungkap Agus saat ditemui Greeners di SPBU Rancaekek, Kabupaten Bandung, Minggu (12/07) lalu.

Agus Septian Heryanto, Kaimun atau Mas Key, dan Mas Tamin diwawancara oleh media lokal. Foto: greeners.co

Agus Septian Heryanto, Kaimun atau Mas Key, dan Mas Tamin diwawancara oleh media lokal. Foto: greeners.co

Untuk mudik dengan sepeda, Agus yang merupakan salah seorang pengurus komunitas Bike To Campus Bandung ini menuturkan dirinya tidak melakukan persiapan yang khusus. “Hanya nabung, servis sepeda, persiapan perbekalan, dan ngapalin rute perjalanan dengan bantuan google maps dan perbanyak lampu buat perjalanan malam,” ujarnya.

Perjalanan mudik bersepeda ini merupakan pengalaman kedua kalinya bagi Agus. Bersama dua pesepeda lainnya, yakni Kaimun atau Mas Key dan Mas Tamin dari komunitas Goweser Bandung Adventure dan Perbigo, mereka akan merajut kilometer bersama-sama dan menempuh jalur selatan Jawa yang terkenal berat untuk pesepeda. Ditambah lagi bila menggunakan sepeda penuh dengan barang bawaan yang terpasang pada frame.

Menurut Agus, dengan menggunakan sepeda setidaknya dapat mengurangi produksi polusi udara yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor selama perjalanan mudik. “Ada plus minusnya. Plusnya, kita bisa ngurangin polusi udara sama ngurangin volume kendaraan dan minusnya ya rasa capek,” ujarnya.

Foto: greeners.co

Foto: greeners.co

Hal yang sama juga menjadi harapan bagi Mas Key. Ia menyatakan akan mengayuh sepeda untuk mudik dengan tujuan Kebumen untuk pertama kalinya. Ia mengaku merasa senang bila di tahun-tahun berikutnya semakin banyak orang yang memilih mudik dengan bersepeda.

“Saya harap para pesepeda bisa ikut bergabung untuk mudik dengan sepeda, mengganti konsumsi bensin dengan tenaga sendiri dan air minum,” ujar Mas Key.

Pulang kampung menggunakan sepeda dapat menjadi alternatif Anda di tahun depan, selain menjaga tali silaturahmi dengan keluarga, kita juga turut menjaga lingkungan dengan cara yang sehat.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mudik-dengan-bersepeda-merajut-kilometer-tanpa-polusi/feed/ 0
Eiger dan Bike to Campus Ngabuburit Bersama Komunitas Sepeda https://www.greeners.co/aksi/eiger-dan-bike-to-campus-ngabuburit-bersama-komunitas-sepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eiger-dan-bike-to-campus-ngabuburit-bersama-komunitas-sepeda https://www.greeners.co/aksi/eiger-dan-bike-to-campus-ngabuburit-bersama-komunitas-sepeda/#respond Tue, 30 Jun 2015 08:56:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=10060 Bandung (Greeners) – Perusahaan penyedia perlengkapan aktifitas outdoor, Eiger dan Bike to Campus Bandung mengadakan talkshow dan ngabuburit bersama komunitas sepeda se-Bandung Raya di Eiger Setiabudi, Bandung, Sabtu (27/06). Sekretaris […]]]>

Bandung (Greeners) – Perusahaan penyedia perlengkapan aktifitas outdoor, Eiger dan Bike to Campus Bandung mengadakan talkshow dan ngabuburit bersama komunitas sepeda se-Bandung Raya di Eiger Setiabudi, Bandung, Sabtu (27/06).

Sekretaris Ikatan Sepeda Sports Indonesia (ISSI) Jawa Barat sekaligus mantan atlet sepeda, Goestarmono yang diundang sebagai salah satu narasumber dalam talkshow tersebut berbagi pengalaman dengan para peserta talkshow. Ia mengupas tentang potensi atlet khususnya di Bandung, mulai dari tantangan hingga pencarian bibit muda yang dapat mengharumkan nama kota Bandung dan Indonesia.

Selain Goestarmono, diundang pula Dudi Sugandi, seorang wartawan senior di Harian Umum Pikiran Rakyat sekaligus pengurus Boseh to Graphy. Pada kesempatan tersebut, Dudi menjelaskan pengembangan wisata lokal Bandung dari sudut pandang pesepeda dan fotografer.

Acara ini dihadiri 220 pesepeda dari 70 komunitas sepeda. Banyaknya peserta yang juga pesepeda membuat separuh areal parkir toko Eiger penuh dengan ratusan sepeda berbagai jenis dan model, mulai dari mountain bike, touring bike, hingga sepeda onthel.

“Kami semakin terpacu untuk mengadakan event seperti ini. Senang melihat antusias pesepeda untuk hadir walaupun di bulan puasa,” ungkap Didin Bachrudin, Branch Manager Eiger Jawa Barat, saat ditemui Greeners usai buka puasa bersama.

Selain talkshow, acara ngabuburit juga dimeriahkan dengan pengenalan produk Eiger terbaru, fashion show, dan penampilan musik akustik. Usai berbuka puasa, para pesepeda kompak melakukan bersepeda malam (niteride) ke salah satu toko Eiger yang berada di jalan Sumatera.

Ketua pelaksana acara yang juga anggota Bike to Campus Bandung, Faris Sidiq mengaku cukup senang dengan antusiasme anggota komunitas sepeda yang hadir. “Anak-anak Bike to Campus semakin solid, tinggal kepekaan ditingkatkan untuk event selanjutnya,” katanya.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/eiger-dan-bike-to-campus-ngabuburit-bersama-komunitas-sepeda/feed/ 0
Etape ke Lima, “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” Ditemani Duta Besar Norwegia https://www.greeners.co/aksi/etape-ke-lima-srikandi-inspirasi-bagi-negeri-ditemani-duta-besar-norwegia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=etape-ke-lima-srikandi-inspirasi-bagi-negeri-ditemani-duta-besar-norwegia https://www.greeners.co/aksi/etape-ke-lima-srikandi-inspirasi-bagi-negeri-ditemani-duta-besar-norwegia/#respond Sat, 13 Jun 2015 10:49:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=9649 Lombok Utara (Greeners) – Etape ke lima perjalanan tim “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” Jilid 5 diakui sebagai perjalanan yang paling istimewa. Bagaimana tidak, pada etape ke lima ini, tim Srikandi […]]]>

Lombok Utara (Greeners) – Etape ke lima perjalanan tim “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” Jilid 5 diakui sebagai perjalanan yang paling istimewa. Bagaimana tidak, pada etape ke lima ini, tim Srikandi ditemani oleh Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Stig Traavik beserta istri dan teman-teman komunitas sepeda setempat yang ikut bersepeda bersama.

Koordinator Srikandi yang juga Humas dari kegiatan “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” Jilid 5, Seklie Patyuniestri kepada Greeners menceritakan bahwa etape kali ini, 21 Srikandi akan bersepeda dari Pemenang, Lombok Utara hingga Mataram, Nusa Tenggara Barat dengan estimasi jarak sejauh 56 kilometer. Rute yang akan dijalani akan melewati jalur menanjak dan menurun yang cukup banyak.

“Namun dengan rute seperti itu, tidak akan terasa karena yang pasti rombongan akan disajikan dengan pemandangan yang luar biasa cantik sepanjang pantai,” jelasnya, Selasa (9/06/2015).

Rombongan “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” Jilid 5 sendiri memulai perjalanan etape ke lima pada pukul 08.11 WITA dan dihadang oleh jalur menanjak. Namun, karena perjalanan kali ini telah memasuki hari ke lima dan kekompakan tim serta kualitas bersepeda yang terus terasah, jalur menanjak sepanjang 10 kilometer dapat di”dilahap” dengan sempurna.

Srikandi Inspirasi Bagi Negeri Jilid 5. Foto: dok. Panitia Srikandi 2015

Srikandi Inspirasi Bagi Negeri Jilid 5. Foto: dok. Panitia Srikandi 2015

Selanjutnya, di KM 10,8, cerita Seklie lagi, tim 21 Srikandi berkesempatan mengunjungi Autore Pearl Culture di Teluk Nara, Lombok. Autore Pearl Culture adalah sebuah peternakan dan pengembangbiakan kerang mutiara untuk diambil mutiaranya dan dijual sebagai perhiasan.

“Di sana, tidak hanya para Srikandi tapi juga Duta Besar Norwegia dan Istri bahkan anak-anaknya sangat excited melihat dan mendengarkan Francesco Bruno, pemilik Autore Pearl Culture tentang proses pengembangbiakkan kerang mutiara ini,” lanjut Seklie.

Francesco menjelaskan, terang Seklie, bahwa untuk menghasilkan satu buah mutiara dibutuhkan waktu sampai enam tahun. Mulai dari mencari kerang jantan dan betina untuk dijadikan induk. Setelah itu menunggu kerang-kerang hasil reproduksi tadi hingga cukup umur untuk dimasukkan nukleus yang nantinya akan menjadi mutiara yang sempurna.

“Dari proses panjang itu, maka tidak heran harga mutiara sangat mahal, karena memang melalui proses kerja yang rumit dan lama,” tuturnya.

Selain itu, demi menjaga kelestarian laut, Francesco juga menjelaskan bahwa perusahaanya tidak segan-segan mengeluarkan dana yang besar untuk menjaga kualitas mutiaranya, juga untuk untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup di laut. Bahkan air laut yang digunakan dalam laboratoriumnya sebelum dibuang kembali ke laut terlebih dahulu diolah agar tidak mencemari laut, bahkan lebih bersih dibandingkan sebelum melewati pengolahan.

Setelah puas menjajaki kerang-kerang di Autore Pearl Culture, kata Seklie, tim Srikandi kembali melanjutkan perjalanan. Pada KM ke 20, tim Srikandi akhirnya memasuki Kota Tua Ampenan, Mataram. Di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, para pesepeda perempuan ini disambut oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat yang diwakili oleh Bapak Tajudin Erfandi selaku Staff Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Ibu Ir. Baiq Rahmayati, MSi selaku Kepala Museum Negeri NTB, kemudian hadir juga Mr. Stig Traavik Duta Besar Norwegia untuk Indonesia yang telah bersepeda bersama tim 21 Srikandi, serta beberapa media yang meliput.

“Setelah temu media selesai, seluruh tamu undangan, tim 21 Srikandi dan teman-teman media menikmati maka siang bersama yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bibit pohon dari Srikandi dan juga dari BNI 46 kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat secara simbolik untuk kemudian dilakukan penanaman di beberapa wilayah di NTB. Setelah itu tim 21 Srikandi dan kru bergerak ke hotel tempat kami bermalam,” tukasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/etape-ke-lima-srikandi-inspirasi-bagi-negeri-ditemani-duta-besar-norwegia/feed/ 0