konsep bangunan hijau - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/konsep-bangunan-hijau/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 01 Oct 2022 05:40:05 +0000 id hourly 1 Tak Sekadar Green Building Sekolah, Perlu Ubah Laku Juga https://www.greeners.co/berita/tak-sekadar-green-building-sekolah-perlu-ubah-laku-juga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tak-sekadar-green-building-sekolah-perlu-ubah-laku-juga https://www.greeners.co/berita/tak-sekadar-green-building-sekolah-perlu-ubah-laku-juga/#respond Sat, 01 Oct 2022 05:40:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37510 Jakarta (Greeners) – Pembangunan green building sekolah di Jakarta berdampak signifikan terhadap pengurangan emisi. Namun, keberhasilan pembangunan green building sekolah ini harus diikuti oleh perubahan perilaku penghuni sekolah secara berkelanjutan. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pembangunan green building sekolah di Jakarta berdampak signifikan terhadap pengurangan emisi. Namun, keberhasilan pembangunan green building sekolah ini harus diikuti oleh perubahan perilaku penghuni sekolah secara berkelanjutan.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai, penerapan green building pada bangunan publik seperti sekolah, kantor pemerintahan, rusun, pasar memiliki dampak signifikan terhadap pengurangan emisi karbon. Program ini bukanlah hal baru karena pernah Gubernur DKI Jakarta sebelumnya Fauzi Bowo inisiasi.

“Namun penerapan green building tidak akan berhasil tanpa ada perubahan perilaku penghuni sekolahnya,” katanya kepada Greeners, Sabtu (1/10).

Misalnya, kebiasaan hemat air (green water), memilah dan mengolah sampah (green waste), hemat energi (green energy). Kemudian memastikan datang ke sekolah dengan jalan kaki atau naik sepeda dan angkutan umum (green transportation). Serta pemeliharaan taman atau kebun sekolah (green open space).

Langkah tersebut, sambungnya sekaligus sebagai edukasi gaya hidup ramah lingkungan yang bisa berlaku di jenjang pendidikan TK, SD, SMP, hingga SMA. Serta melibatkan semua penghuni sekolah.

“Mulai dari guru pengajar, kepala sekolah, petugas sekolah, hingga edukasi ke seluruh orang tua siswa,” imbuhnya.

Pembangunan green building sekolah-sekolah di Jakarta tak sekadar mengurangi emisi karbon. Tapi juga ke depan mampu melahirkan generasi muda yang mampu mendorong perubahan gaya hidup hijau di masyarakat.

Pergub Atur Green Building di Jakarta

Pembangunan green building mengacu pada Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2012 Tentang Bangunan Gedung Hijau. Pemprov DKI Jakarta dapat mensyaratkan seluruh bangunan baru wajib menerapkan bangunan gedung hijau dalam memberikan perizinannya. Selain itu juga melakukan retrofit untuk bangunan lama agar sesuai standar bangunan gedung hijau.

Sebelumnya, sebagai komitmen mewujudkan kegiatan beremisi rendah, Pemprov DKI Jakarta meresmikan empat sekolah sebagai pilot project berkonsep green building.

Dalam peresmian Sekolah Net Zero Carbon, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan, bangunan sekolah merupakan bangunan paling banyak yang Pemprov DKI Jakarta miliki. Bangunan berkontribusi sebesar 39 % emisi karbon global dan mengkonsumsi 36 % dari total energi global.

“Kita sering kali kalau melihat dekarbonisasj yang dipandang adalah kendaraan bermotor saja. Tidak, sesungguhnya bangunan itu menyedot energi 36 % kontribusi kepada emisi karbon global 39 %,” kata Anies dalam keterangannya, baru-baru ini.

Adapun empat bangunan sekolah tersebut yaitu SDN Duren Sawit 14 Jakarta Timur, SDN Grogol Selatan 09 Jakarta Selatan, SDN Ragunan 08 Pagi, 09 Pagi, 11 Petang Jakarta Selatan dan SMAN 96 Jakarta, Jakarta Barat.

Sekolah berkonsep green building bisa beri pemahaman tentang perilaku ramah lingkungan ke siswa. Foto: Shutterstock

Memahami Bangunan Ramah Lingkungan

Anies meresmikan Sekolah Net Zero Carbon ini sekaligus menyerahkan Sertifikat Greenship Net Zero Healthy dari Green Building Council (GBC) Indonesia kepada empat sekolah tersebut belum lama ini.
Menurutnya, bangunan sekolah berkonsep green building ini menjadi media edukasi anak memahami bangunan ramah lingkungan.

Ke depan, rehabilitasi bangunan sekolah negeri di Jakarta secara keseluruhan mengarah ke konsep bangunan hijau. Mulai dari transisi energi dengan solar panel, penggunaan lampu hemat energi, hingga pengelolaan air limbah.

“Kita berharap, pembangunan Sekolah Net Zero Carbon ini juga dapat mendorong Jakarta mencapai target net zero emission atau nol emisi karbon pada tahun 2050. Kita sedang berupaya menjadikan kota ini sebagai kota yang berkelanjutan di masa depan,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/tak-sekadar-green-building-sekolah-perlu-ubah-laku-juga/feed/ 0
Istiqlal Raih Sertifikat Masjid Ramah Lingkungan Dunia https://www.greeners.co/berita/istiqlal-raih-sertifikat-masjid-ramah-lingkungan-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=istiqlal-raih-sertifikat-masjid-ramah-lingkungan-dunia https://www.greeners.co/berita/istiqlal-raih-sertifikat-masjid-ramah-lingkungan-dunia/#respond Wed, 06 Apr 2022 07:45:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35806 Jakarta (Greeners) – Upaya memerangi perubahan iklim tak hanya menjadi kewajiban sektor industri, bangunan tempat ibadah pun bisa menyumbang emisi karbon. Salah satu bukti pencapaiannya, Masjid Istiqlal telah berhasil melakukan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Upaya memerangi perubahan iklim tak hanya menjadi kewajiban sektor industri, bangunan tempat ibadah pun bisa menyumbang emisi karbon. Salah satu bukti pencapaiannya, Masjid Istiqlal telah berhasil melakukan penghematan energi. Penghematan itu mulai dari material, air, energi dan pengaplikasian teknologi terkini dan terbarukan yang mampu menghemat hampir 476,22 ton karbon dioksida per tahunnya.

Sekretaris Organisasi Green Building Council Indonesia Iparman Oesman mengatakan, untuk mencapai target kesepakatan Paris membatasi kenaikan suhu rata-rata bumi di angka 1,5 derajat Celcius, maka hal paling penting yaitu memastikan usaha yang lebih besar dalam sektor bangunan untuk menekan emisi.

“Bangunan-bangunan yang ada, tanpa terkecuali di Indonesia selama ini menjadi salah satu sumber emisi karbon dunia dan berperan besar dalam kerusakan alam yang ada di bumi ini,” katanya dalam acara serah terima sertifikat Final EDGE secara daring, di Jakarta, Rabu (6/4).

Oleh karenanya, sambung dia perlu langkah konkret dan strategis untuk mencapai hal itu. Bangunan peribadatan seperti Masjid Istiqlal telah mengukir sejarah sebagai bangunan masjid pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi final Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE). Sertifikat ini menobatkan Istiqlal sebagai bangunan gedung hijau. EDGE merupakan inovasi dari International Finance Corporation (IFC), anggota kelompok bank dunia.

Penghematan Energi Masjid Istiqlal

Sebagai bangunan hijau melalui sertifikasi EDGE, Masjid Istiqlal berhasil melakukan penghematan energi sebanyak 23 % dan penghematan air sebanyak 36 %. Selanjutnya, pengurangan embodied material sebanyak 81 %. Selain itu implementasi energi terbarukan dengan penggunaan energi sebanyak 13,25 %.

“Ini merupakan langkah awal yang sangat baik menuju bangunan dengan net zero emission nantinya,” imbuhnya.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Diana Kusumastuti menyatakan, Masjid Istiqlal masuk dalam amanat Peraturan Menteri PUPR Nomor 21 Tahun 2021 Tentang Penilaian Kinerja Bangunan Gedung Hijau.

Renovasi Istiqlal sejak tahun 2019-2020 untuk memastikan fungsi utama sebagai tempat beribadah bagi umat muslim. Hal ini dengan melestarikan komponen penting bangunan sesuai dengan kaidah pelestarian. Masjid Istiqlal pun mampu menghemat sebesar 476,22 ton karbon dioksida per tahunnya.

Masjid Istiqlal dibangun tahun 1961 dan digunakan pada 22 Februari 1978. Renovasi pertama pada tahun 2019-2020. Butuh waktu 424 hari untuk proses renovasi ini dengan memakan biaya sebesar Rp 511,3 miliar. Masjid Istiqlal diresmikan kembali pada 7 Januari 2021.

Kolaborasi Melawan Perubahan Iklim

Saat ini Masjid Istiqlal menggunakan cat reflektif untuk atap dan dinding bagian luar. Selain itu ada juga pencahayaan hemat energi di ruang internal dan eksternal. Pengukur energi pintar (smart energy meters) dan panel surya yang akan mencakup lebih dari 13 % konsumsi listrik juga Istiqlal miliki.

Dengan begitu harapannya, Masjid Istiqlal akan mampu menghemat energi hingga 23 %.
Di samping itu, Istiqlal juga menggunakan keran air beraliran rendah, pengolahan dan daur ulang air buangan serta langkah-langkah efisiensi lainnya. Secara keseluruhan konsumsi air akan berkurang sebanyak 36 %.

IFC Country Manager untuk Indonesia dan Timor Leste Azam Khan menyebut, proyek Masjid Istiqlal ini merupakan pembuktikan dari kolaborasi bersama dalam melawan perubahan iklim. “Perubahan iklim mengancam kehidupan dan mata pencaharian. Serta memperlambat kemajuan dari upaya pengentasan kemiskinan terutama di tengah meningkatnya intensitas bencana terkait iklim yang terjadi, termasuk di Indonesia,” paparnya.

Ia menegaskan, renovasi Masjid Istiqlal merupakan investasi dalam infrastruktur tahan iklim, termasuk bangunan hijau, yang dapat membawa perubahan yang terukur.

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mengapresiasi pemberian sertifikat Final EDGE terhadap pencapaian Masjid Istiqlal.

“Kami merasa sangat terhormat dapat menjadi masjid pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi Final EDGE. Pencapaian yang luar biasa ini merupakan bukti nyata dari komitmen kami untuk mendukung kelestarian lingkungan baik di kawasan Masjid Istiqlal maupun di seluruh negeri,” ungkapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/istiqlal-raih-sertifikat-masjid-ramah-lingkungan-dunia/feed/ 0
Rumah dari Jerami dan Tanah Liat https://www.greeners.co/ide-inovasi/rumah-jerami-dan-tanah-liat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rumah-jerami-dan-tanah-liat https://www.greeners.co/ide-inovasi/rumah-jerami-dan-tanah-liat/#respond Sun, 02 Jul 2017 13:00:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17534 Community Rebuilds, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk mengajarkan kepada masyarakat cara membangun rumah yang terjangkau hanya bermodalkan benda-benda di sekitar mereka.]]>

Emily Niehaus sedang bekerja sebagai pejabat pemberi kredit saat dia menyadari bahwa ada kebutuhan untuk rumah yang terjangkau dan berkelanjutan di komunitasnya. Melihat kebutuhan tersebut ia pun mendirikan Community Rebuilds, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk mengajarkan kepada masyarakat cara membangun rumah yang terjangkau hanya bermodalkan benda-benda di sekitar mereka seperti tanah liat, jerami dan tanah.

Seperti dilansir Inhabitat.com, masyarakat yang tertarik dengan program pembuatan rumah murah tersebut dapat mengikuti program magang selama 5 bulan. Dalam program tersebut peserta ditargetkan membuat dua rumah sendiri dari mulai pondasi sampai penyelesaian akhir dengan menggunakan prinsip hidup berkelanjutan.

community rebuilds

Foto: Inhabitat.com

Community Rebuilds dimulai di kota Moab, negara bagian Utah, Amerika Serikat, sebagai cara membantu orang-orang yang mempunyai keterbatasan finansial yang tinggal di sekitar komunitas mereka. Sejak itu, komunitas ini menyebar hingga ke daerah Colorado dan Arizona.

Rumah yang sudah dibangun sampai saat ini berjumlah 25 buah yang berada di dalam empat komunitas. Tujuan keberadaan komunitas ini menyebarkan pengetahuan mengenai kemampuan membuat bangunan dengan bahan-bahan di sekitar mereka.

community rebuilds

Foto: Inhabitat.com

Rumah yang dibangun menggunakan bahan-bahan alami seperti tanah liat, jerami dan tanah serta menggunakan teknik bangunan pasif. Mereka juga dilengkapi dengan teknologi hijau seperti panel surya dan menggunakan fitur-fitur yang berkelanjutan seperti plesteran tanah untuk dinding dan pemanfaatan air bekas pakai.

Rumah pertama dibangun di tahun 2010 dan sejak itu program magang telah diikuti oleh 16 orang dalam rentang program selama 5 bulan. Peserta magang membangun 2 buah rumah dari awal sampai akhir dan mereka menukarkan tenaga mereka untuk rumah, makanan dan pengetahuan yang berharga mengenai bangunan berkelanjutan.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/rumah-jerami-dan-tanah-liat/feed/ 0
Konsep Bioklimatik Kurangi Penggunaan Pendingin Ruangan https://www.greeners.co/ide-inovasi/konsep-bioklimatik-kurangi-penggunaan-pendingin-ruangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konsep-bioklimatik-kurangi-penggunaan-pendingin-ruangan https://www.greeners.co/ide-inovasi/konsep-bioklimatik-kurangi-penggunaan-pendingin-ruangan/#respond Fri, 16 Jun 2017 11:10:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=17369 Sebuah perusahaan arsitektur T3 Architecture Asia yang berbasis di Ho Chi Minh City, Vietnam menganjurkan konsep bangunan dengan arsitektur bioklimatik. Dengan konsep ini dapat tercipta secara alami udara dalam ruangan yang nyaman.]]>

Tak dapat dipungkiri, dengan adanya pendingin ruangan atau AC, ruangan menjadi segar dan terasa lebih sejuk. Namun tahukah jika penggunaan AC bisa menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan? Selain pemborosan energi, penggunaan AC ternyata berimbas pada rusaknya lapisan ozon sehingga ozon tidak dapat bekerja secara maksimal dalam menangkal bahaya sinar ultraviolet yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah harus berhenti menggunakan AC? Jawabannya mungkin saja “iya”. Seperti yang dilakukan sebuah perusahaan arsitektur T3 Architecture Asia yang berbasis di Ho Chi Minh City, Vietnam yang menganjurkan konsep bangunan dengan arsitektur bioklimatik, yang diberi nama T3 Bioklimatik.

Dilansir CNN Style, dengan memanfaatkan topografi, iklim, dan vegetasi lokal, serta memanipulasi orientasi bangunan, firma arsitektur ini secara alami dapat menciptakan udara dalam yang nyaman dalam sebuah ruangan.

bioklimatik

Bangunan dengan konsep bioklimatik. Foto: Mansyur Hasan/Andyrahman Architect via archdaily.com

Konsepnya adalah pada setiap bangunan, T3 Architecture Asia akan membuat ventilasi pada langit-langit bangunan, sehingga ruangan akan mendapatkan cahaya dan udara sejuk yang alami. Selain itu, perusahaan yang memiliki kantor cabang di Perancis tersebut juga membuat kipas langit-langit atau air tree untuk membuat angin sejuk yang alami.

“Kami mencoba menghindari fasad kaca besar yang menghadap ke timur atau barat, karena akan membuat bangunan seperti oven di iklim tropis,” kata direktur T3 Architecture Asia, Charles Gallavardin, dikutip dari CNN Style.

T3 Architecture Asia pertama kali terjun ke arsitektur bioklimatik pada 2005, dengan membangun sebuah gedung apartemen di Ho Chi Minh City. Saat itu, T3 Architecture Asia membuat gedung di sebuah lingkungan miskin sehingga membuat konsep ruangan tanpa AC. Hal ini dilakukan agar penghuni apartemen tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tagihan AC.

Gallavardin menjelaskan, kuncinya adalah bekerja dengan arus angin utama dan memiliki perlindungan terhadap matahari yang baik. Dengan konsep bangunan ini, bangunan T3 Bioklimatik dapat menciptakan suhu udara lima derajat Celcius lebih dingin dibandingan udara luar ruangan.

Di Indonesia, Asrama Biophilic Andyrahman Architect masuk dalam kompetisi World Architecture Festival 2016. Bangunan ini dipuji karena memiliki tembok berlubang yang membantu bangunan ini tetap nyaman meskipun berada di iklim tropis yang cukup panas di Surabaya, Jawa Timur.

Sementara di Cina, bangunan berkonsep bioklimatik dibuat oleh perusahaan arsitektur Amerika Perkins & Will untuk Shanghai Natural History Museum. Museum tersebut tetap menggunakan AC untuk menjaga kelembaban ruangan agar karya seni tidak rusak, namun tetap membuat ventilasi udara pada langit-langit bangunan. Dengan begitu, museum ini dapat menghemat 15 persen konsumsi energi dibandingkan museum pada umumnya.

Penulis: SA/G40

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/konsep-bioklimatik-kurangi-penggunaan-pendingin-ruangan/feed/ 0
Menetap di Kutub Utara dengan Rumah Geodesik Berpanel Surya https://www.greeners.co/ide-inovasi/menetap-kutub-utara-rumah-geodesik-berpanel-surya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menetap-kutub-utara-rumah-geodesik-berpanel-surya https://www.greeners.co/ide-inovasi/menetap-kutub-utara-rumah-geodesik-berpanel-surya/#respond Mon, 30 Jan 2017 07:15:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15789 Hidup di Kutub Utara bukanlah sebuah hal yang sederhana dan mudah. Namun keluarga Hjertefolger membuktikan sebaliknya dengan membangun rumah berbentuk kubah geodesik.]]>

Hidup di Kutub Utara bukanlah sebuah hal yang sederhana dan mudah. Namun keluarga Hjertefolger membuktikan sebaliknya. Empat tahun lalu, suami istri Benjamin dan Ingrid Hjertefolger mulai membangun rumah mereka di utara Norwegia, Pulau Sandhornoya.

Nature House, nama rumah pasangan tersebut, berbentuk silinder yang dibungkus dengan panel surya berbentuk kubah geodesik. Rumahnya terletak di pulau di sebelah Utara Norwegia dan dapat menampung enam orang anggota keluarga. Mereka mempertahankan keberadaan rumah yang berkelanjutan walaupun kondisi lingkungan yang keras. Rumah ini bahkan memiliki tempat untuk menanam sendiri makanan yang mereka makan.

Keluarga Hjertefolger sudah tinggal di rumah ini selama 3 tahun, bersama 4 orang anaknya. Mereka tinggal disana sejak 8 Desember 2003, tepat setelah mereka memasang panel surya Solardome dengan dibantu teman dan tetangga mereka.

rumah geodesik

Foto: Ingrid Hjertefølger via Inhabitat.com

Rumah ini bekerja sesuai perkiraan dan sesuai dengan perencanaannya. “Kami sangat menyukai rumah ini, seakan rumah ini memiliki jiwanya sendiri dan terasa sangat personal. Yang mengejutkan adalah fakta bahwa kami tidak hanya membangun rumah baru namun kami membangun diri kami sendiri yang baru dengan rumah ini. Proses membangunnya telah mengubah dan membentuk kami,” ungkap Benjamin.

Keluarga ini harus merancang rumah dengan memperhitungkan suhu dan angin yang kencang di tempat tersebut. Mustahil untuk bercocok tanam di rumah tersebut saat musim dingin, tidak ada matahari selama 3 bulan musim dingin di sana. Namun rancangan mereka berhasil memberikan keluarga ini kesempatan untuk bercocok tanam lebih lama 5 bulan dibandingkan bila mereka bercocok tanam di luar ruangan. Tumbuhan yang mereka tanam diantaranya apel, cherry, plum, aprikot, anggur, timun, tomat, berbagai tanaman bumbu dan melon.

rumah geodesik

Foto: Ingrid Hjertefølger via Inhabitat.com

Menanam makanan sendiri hanya salah satu keunggulan dari rumah ini. Mereka menggunakan air kotor dan air bekas pakai untuk dijadikan pupuk dan pengairan untuk tanaman mereka. Sampah makanan dijadikan kompos, dan mereka selalu memastikan untuk memakai barang rumahtangga yang bisa di daur ulang. Rumah ini juga bisa bertahan jauh lebih lama karena rumahnya tertutup kaca sehingga tidak terkena efek cuaca, artinya tidak perlu mengecat ulang dan merapikan dinding seperti yang biasa dilakukan di rumah biasa.

Banyak yang bisa diperbaiki di rumah tersebut namun kelihatannya keluarga ini sangat puas dengan desain yang ada. Ingrid menambahkan, “satu-satunya yang perlu diperbaiki adalah pemakaian kaca ganda sehingga kami bisa menanam tanaman tropis dan tidak ada tetesan air selama musim dingin, namun hal itu kurang realistis karena harga kaca ganda tersebut sangat mahal.” Ia melanjutkan, “rasa yang kami dapatkan saat memasuki rumah ini sangat berbeda dibandingkan dengan rumah lain. Atmosfirnya unik dan menenangkan.”

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/menetap-kutub-utara-rumah-geodesik-berpanel-surya/feed/ 0
Hotel Khusus untuk Sepeda https://www.greeners.co/ide-inovasi/hotel-khusus-sepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hotel-khusus-sepeda https://www.greeners.co/ide-inovasi/hotel-khusus-sepeda/#respond Thu, 29 Dec 2016 08:33:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15537 Eropa adalah negeri yang memanjakan para pesepedanya. Salah satu ikon untuk pesepeda terbaru kini terdapat di Norwegia, yaitu dengan adanya hotel khusus untuk sepeda Lilestrom Bicycle Hotel.]]>

Eropa adalah negeri yang memanjakan para pesepedanya. Salah satu ikon untuk pesepeda terbaru kini terdapat di Norwegia. Sebuah hotel baru bernama Lilestrom Bicycle Hotel didirikan di seberang stasiun kereta di Lillestrom, tak jauh dari kota Oslo. Hotel ini menambah datar petualangan bersepeda di Norwegia.

Norwegian National Railways merupakan pemilik Bicycle Hotel. Hotel ini tidak dimaksudkan untuk komunitas eksklusif, melainkan ditujukan sebagai ruang publik. Mereka menyediakan sekitar 460 meter per segi tempat penyimpanan sepeda yang terlindung dari cuaca.

sepeda

Foto: Ibrahim Elhayawan and Dawid Nowak/inhabitat.com

Tujuan dibangunnya hotel tersebut tentu saja agar kegiatan bersepeda semakin nyaman dilakukan oleh mereka yang berkomuter di sekitar kota tersebut. Fasilitas serupa bahkan semakin banyak ditemukan di dekat stasiun kereta di negara yang ramah pesepeda ini. Lillestrom Bicycle Hotel dibuka di kota yang sudah berkali-kali disebut sebagai kota untuk pesepeda terbaik di Norwegia.

Proyek hotel untuk sepeda ini dirancang oleh Various Architects AS, berkolaborasi dengan ROM Eiendom AS dan Norwegian National Railways. Selain sebagai tempat menginap untuk sepeda, hotel ini juga menawarkan ruang terbuka hijau di bagian atapnya lengkap dengan ram dan kursi-kursi untuk duduk dan menikmati pemandangan kota di bawahnya. Taman atap ini juga tersambung dengan lapangan utama di depan stasiun kereta.

sepeda

Bagian atap dari Lillestrom Bicycle Hotel dirancang sedemikian rupa untuk memberikan insulasi dan menyerap air hujan. Foto: Ibrahim Elhayawan and Dawid Nowak/inhabitat.com

Dari luar bangunan ini terlihat sederhana. Lillestrom Bicycle Hotel dirancang sebagai sebuah kotak kaca dengan bagian atap terbuat dari kayu. Bangunan dengan dinding kaca yang transparan ini memungkinkan cahaya alami memenuhi interior bangunan sepanjang hari tanpa cahaya tambahan elektronik. Di antara panel kaca di dinding terdapat celah yang memungkinkan penghawaan alami tanpa sistem yang rumit. Oleh karenanya, Lillestrom Bicycle Hotel menjadi sebuah bangunan yang akrab namun terbuka dan dilengkapi ruang terbuka untuk publik.

Pada bagian taman di atapnya ditanam semak-semak berbunga yang menyerap air hujan dan memberikan insulasi dari temperatur di luar bangunan. Solusi tersebut diterapkan untuk menekan efek cuaca ekstrim baik panas maupun dingin. Pemakaian dinding kaca di bangunan serta penghawaannya yang alami, konsumsi energi bangunan ini sangat rendah dan hanya membutuhkan sedikit energi untuk pencahayaan di malam hari.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/hotel-khusus-sepeda/feed/ 0
Rumah dari 15 Ton Material Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/rumah-dari-15-ton-material-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rumah-dari-15-ton-material-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/rumah-dari-15-ton-material-bekas/#respond Sun, 06 Nov 2016 07:00:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15125 Membangun rumah dari batu bata adalah tradisi yang biasa dilakukan di Belanda. Namun ada satu rumah di kota Rotterdam yang membawa tradisi lama tersebut menjadi sesuatu yang baru.]]>

Membangun rumah dari batu bata adalah tradisi yang biasa dilakukan di Belanda. Namun terdapat satu rumah di kota Rotterdam yang membawa tradisi lama tersebut menjadi sesuatu yang baru.

Rumah ini dibangun dari sampah industri yang dicetak menjadi bata seberat 15 ton. Bata dari sampah tersebut membentuk fasad bangunan kantor dan rumah milik Nina Aalbers dan pasangannya Ferry in’t Veld, keduanya bekerja di firma Architectuur Maken.

Mereka berdua bergabung dengan StoneCycling, sebuah perusahaan rintisan, dan bersama-sama menciptakan batu bata dari sampah industri yang tidak terkontaminasi.

barang bekas

Foto: Ossip/architectuurmaken

Rumah ini dibangun di salah satu dari banyak lahan kosong di Rotterdam. Agar terlihat cocok dengan bangunan di sebelahnya, para perancang rumah ini memikirkan sebuah fasad dari bata. Di sisi lain mereka juga menginginkan bangunan yang terbuat dari bahan daur ulang sehingga bisa mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir.

StoneCycling memiliki produk bernama WasteBasedBricks atau bata dari sampah. Produk inilah yang dipakai dalam proyek pertama StoneCycling. Semua bata dari StoneCycling sudah mengalami pengujian beku dan tekanan maksimum.

Pasangan tersebut mulai menghuni rumah ini di musim gugur, namun desain rumah ini dimulai hampir empat tahun yang lalu. Dengan lebar 4,65 meter dan panjang 9 meter, ruang yang tercipta adalah ruang-ruang besar tunggal di tiap lantainya. Lantai pertama terdiri dari dapur dan tempat makan, lantai kedua adalah kantor dan kamar mandi, ruang keluarga berada di lantai tiga dan kamar tidur serta teras di atap berada di lantai paling atas.

barang bekas

Foto: Ossip/architectuurmaken

Ruang yang mereka gunakan di tiap lantai hanya 120 meter persegi, namun penggunaan langit-langit yang tinggi dan pencahayaan alami di setiap lantai memberikan kesan lapang di tiap ruangan.

Fasad eksteriornya dibuat sepenuhnya dari WasteBasedBricks, menggunakan sampah dari bahan keramik bekas, kaca dan bahan insulasi, termasuk di antaranya bahan tanah liat yang sudah tidak terpakai yang berasal dari jarak radius 100 km dari lokasi lahan.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/rumah-dari-15-ton-material-bekas/feed/ 0
11 Macam Bahan Bangunan yang Lebih Hijau Dibanding Beton https://www.greeners.co/ide-inovasi/11-macam-bahan-bangunan-lebih-hijau-dibanding-beton/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=11-macam-bahan-bangunan-lebih-hijau-dibanding-beton https://www.greeners.co/ide-inovasi/11-macam-bahan-bangunan-lebih-hijau-dibanding-beton/#respond Fri, 22 Jul 2016 04:45:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14284 Produksi bahan-bahan pembentuk beton menghasilkan berton-ton gas rumah kaca berupa karbondioksida (CO2) ke atmosfer setiap tahunnya. Berikut ini 11 bahan bangunan "hijau" sebagai sebuah alternatif terhadap beton.]]>

Beton adalah material yang menyatukan kota-kota kita. Dari rumah, bangunan apartemen, sampai ke jembatan, terowongan dan jalur pejalan kaki. Bahan berwarna abu-abu ini terbukti sangat penting untuk kebutuhan kehidupan di dunia modern ini.

Namun, tidak banyak orang tahu tentang fakta dibalik beton. Produksi bahan-bahan pembentuk beton menghasilkan berton-ton gas rumah kaca berupa karbondioksida (CO2) ke atmosfer setiap tahunnya. Polusi tersebut memicu proses perubahan iklim yang kita rasakan sekarang.

Untuk mengatasi kebutuhan pengganti bahan beton tersebut, berikut ini 11 bahan bangunan “hijau” sebagai sebuah alternatif terhadap beton dan menurunkan efek buruknya terhadap lingkungan. Dilansir dari Inhabitat.com.

Foto: inhabitat.com

Foto: inhabitat.com

1. Batang jerami

Bangunan yang terbuat dari tumpukan batang jerami mengingatkan pada zaman dimana rumah-rumah dibangun menggunakan material yang alami dan diproduksi lokal. Batang jerami yang digunakan untuk menggantikan dinding bata, kayu atau gipsum ternyata dapat menghasilkan insulasi yang sangat baik bila disusun dengan baik. Tidak hanya murah namun juga berkelanjutan karena jerami tumbuh sangat cepat di alam.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/11-macam-bahan-bangunan-lebih-hijau-dibanding-beton/feed/ 0
Paviliun Air Hujan https://www.greeners.co/ide-inovasi/paviliun-air-hujan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=paviliun-air-hujan https://www.greeners.co/ide-inovasi/paviliun-air-hujan/#respond Wed, 20 Jul 2016 05:27:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14275 Rotterdam terkenal karena konsep inovasinya terkait adaptasi iklim dan mitigasi. The Rotterdam Watershed mengilustrasikan bagaimana kota Rotterdam mengatasi efek dari perubahan iklim dengan cara yang menarik.]]>

The Rotterdam Watershed adalah paviliun sementara yang bisa mengumpulkan air hujan dengan cara yang menarik sehingga bisa menggambarkan cara inovatif yang bisa dilakukan oleh kota-kota di dunia untuk beraklimasi terhadap iklim basah.

Dirancang oleh DoepelStrijkers, paviliun ini memperlihatkan beberapa teknik yang digunakan oleh kota Rotterdam dalam mengatur pengairan. Sebagai bagian dari pameran tahunan Pop-Up Cities Expo, paviliun air hujan tersebut di tempatkan di Edinburgh untuk menangkap air hujan. Namun paviliun ini bisa digunakan di kota manapun di dunia untuk membantu menghadapi permasalahan air dalam iklim yang berubah ini.

paviliun air hujan

Paviliun air hujan “The Rotterdam Watershed”. Foto: Peter van der Wal/DoepelStrijkers via inhabitat.com

The Rotterdam Watershed terdiri dari 2.400 pipa paralon bekas. Dari luar, paviliun air hujan ini terlihat seperti gubuk dengan tanaman menutupi hampir setengah dari pipa-pipa tersebut. Setengah bagian lainnya ditutup dari dalam agar air hujan yang terkumpul dapat menetes perlahan melalui tutup paralon yang sudah dilubangi, dan airnya mengisi kolam kecil di bagian bawah paviliun. Para pengunjung bisa bermain-main di kolam tersebut dengan melompati batu-batu pijakan yang terbuat dari beton.

paviliun air hujan

Paviliun air hujan “The Rotterdam Watershed”. Foto: Peter van der Wal/DoepelStrijkers via inhabitat.com

Paralon bekas yang dipakai di paviliun ini selain menghemat biaya konstruksi juga bisa menolong mempekerjakan orang-orang yang berpendapatan rendah.

Rotterdam terkenal karena konsep inovasinya terkait adaptasi iklim dan mitigasi. Pembangunan daerah perkotaan yang menguntungkan secara sosial dan secara ekologis merupakan bagian dari pendekatan kota tersebut selama dekade terakhir. Paviliun ini mengilustrasikan bagaimana kota Rotterdam mengatasi efek dari perubahan iklim dengan cara yang menarik.

Penulis: NW/G15

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/paviliun-air-hujan/feed/ 0
Sekolah Memasak dengan Konsep Berkelanjutan https://www.greeners.co/ide-inovasi/sekolah-memasak-konsep-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sekolah-memasak-konsep-berkelanjutan https://www.greeners.co/ide-inovasi/sekolah-memasak-konsep-berkelanjutan/#respond Fri, 10 Jun 2016 08:41:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13936 Sekolah memasak River Cottage Cookery School dirancang untuk mempromosikan cara memasak dengan bahan organik dan perkebunan yang berkelanjutan.]]>

Tidak usah menjadi pecinta makanan untuk jatuh cinta pada bangunan ini. Bangunan milik River Cottage Headquarters dari Inggris ini dirancang untuk mempromosikan cara memasak dengan bahan organik dan perkebunan yang berkelanjutan. Mengadopsi tema perkebunan modern yang dirancang dengan indah oleh Satellite Architects, ruang-ruang tidak terpakai pada bangunan yang ada di perkebunan diubah dan direnovasi dengan cara yang ramah lingkungan.

Bangunan ini terletak di Devon, barat daya Inggris, dan mengombinasikan arsitektur vernakular setempat dengan bahan bangunan berkualitas tinggi dengan teknologi berkelanjutan. Terdiri dari lima bangunan, termasuk diantaranya rumah perkebunan yang berasal dari abad ke-17 dan gudang yang dibangun di abad ke-18. Namun yang paling menarik adalah bangunan baru yang didirikan untuk sekolah memasak River Cottage Cookery School.

River Cottage Cookery School dirancang dengan konsep berkelanjutan. Foto: satellitearchitects.com

River Cottage Cookery School dirancang dengan konsep berkelanjutan. Foto: satellitearchitects.com

Dengan fasad yang dilapisi bahan metal bergelombang, bangunan satu lantai ini hanya menggunakan kaca untuk dinding yang menghadap ke arah Lembah Axe. Desainnya yang kontemporer berpadu dengan bahan lokal dan dibangun dengan metoda membangun yang sangat efisien penggunaan energinya. Sementara bangunan yang lain fungsinya diubah menjadi penginapan dan ruang pertemuan.

River Cottage Cookery School menawarkan kelas demonstrasi memasak dan mempromosikan perkebunan yang berkelanjutan oleh Chef Hugh Fearnley-Whittingstall. Interior bangunannya didominasi oleh kayu pinus, sementara kolom dan balok dari kayu pohon sejenis cemara menghadirkan suasana yang hangat. Lampu gantung menerangi meja kerja yang dilapisi baja tahan karat.

River Cottage Cookery School. Foto: satellitearchitects.com

River Cottage Cookery School. Foto: satellitearchitects.com

Semua kebutuhan listrik diperoleh dari turbin angin dan panel surya. Pemanas dengan tenaga biomassa dari potongan kayu lokal menghangatkan seluruh fasilitas disini sementara air hujan ditampung dan digunakan untuk irigasi dan air penyiram toilet.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sekolah-memasak-konsep-berkelanjutan/feed/ 0
Museum Kesenian Rakyat di Cina Beratapkan Keramik Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/museum-kesenian-rakyat-di-cina-beratapkan-keramik-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=museum-kesenian-rakyat-di-cina-beratapkan-keramik-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/museum-kesenian-rakyat-di-cina-beratapkan-keramik-bekas/#respond Sun, 22 Nov 2015 11:37:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11983 Museum Kesenian Rakyat di Akademi Seni China merupakan bangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dirancang oleh Kengo Kuma, bangunan ini secara desain mirip seperti perkampungan tradisional kecil dengan atap pelana yang […]]]>

Museum Kesenian Rakyat di Akademi Seni China merupakan bangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dirancang oleh Kengo Kuma, bangunan ini secara desain mirip seperti perkampungan tradisional kecil dengan atap pelana yang saling tersambung.

Seperti dilansir dari inhabitat.com, museum ini memiliki detail yang sangat menarik pada bagian atapnya. Kita dapat melihat bahwa museum ini menggunakan atap keramik yang melengkung berwarna abu-abu yang diambil dari bekas bangunan di sekitar proyek tersebut. Selain digunakan sebagai atap, bahan ini juga digunakan sebagai sirip penyaring cahaya alami.

Museum Kesenian Rakyat rancangan Kengo Kuma. Foto: Eiichi Kano/inhabitat.com

Museum Kesenian Rakyat rancangan Kengo Kuma. Foto: Eiichi Kano/inhabitat.com

Galeri seni rakyat ini sendiri berdiri di atas bekas perkebunan teh di kampus Akademi Seni China di Hangzhou, bagian Timur China. Bangunan dengan luas 5.000 meter persegi ini dibentuk dari unit-unit yang saling tersambung dan menggambarkan perumahan tradisional yang biasa terdapat di pegunungan. Setiap unit mempunyai atap tersendiri sehingga terlihat seperti sebuah kampung kecil yang tersusun dari beberapa bangunan.

Museum Kesenian Rakyat rancangan Kengo Kuma. Foto: Eiichi Kano/inhabitat.com

Museum Kesenian Rakyat rancangan Kengo Kuma. Foto: Eiichi Kano/inhabitat.com

Seperti atapnya, keramik lama itu juga digunakan sebagai sirip penyaring cahaya yang tersebar di antara bentangan kawat tahan karat dan berfungsi mengatur cahaya mahatari yang masuk ke dalam bangunan. Ukuran keramik ini berbeda-beda sehingga membantu menyatukan bangunan ini terhadap alam sekitarnya. Desain bangunannya yang bertingkat-tingkat membentuk jajaran galeri dengan split-level yang saling terhubung oleh jalur dari batu dan kayu.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/museum-kesenian-rakyat-di-cina-beratapkan-keramik-bekas/feed/ 0
Gilang Ramadhan, Tak Lagi Melihat Kunang-kunang https://www.greeners.co/gaya-hidup/gilang-ramadhan-tak-lagi-melihat-kunang-kunang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gilang-ramadhan-tak-lagi-melihat-kunang-kunang https://www.greeners.co/gaya-hidup/gilang-ramadhan-tak-lagi-melihat-kunang-kunang/#respond Wed, 17 Jun 2015 10:39:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9733 Jakarta (Greeners) – Pemanasan bumi atau global warming membuat lingkungan di sekitar kita berubah secara perlahan namun pasti. Secara sederhana, hal ini dirasakan Gilang Ramadhan dengan tidak adanya lagi kunang-kunang, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemanasan bumi atau global warming membuat lingkungan di sekitar kita berubah secara perlahan namun pasti. Secara sederhana, hal ini dirasakan Gilang Ramadhan dengan tidak adanya lagi kunang-kunang, salah satu jenis serangga yang dapat mengeluarkan cahaya di tubuhnya, yang biasanya dapat ia lihat di sekitar rumahnya.

“Setahun lalu, di tempat tinggal saya di Bogor, saya masih dapat melihat kunang-kunang. Namun saat ini sudah tidak terlihat lagi kunang-kunang di sana,” ujarnya.

Meski terkesan remeh, namun drummer yang senang mengeksplorasi musik tradisional daerah ini merasakan bahwa hal itu sudah cukup menyatakan adanya perubahan yang serius pada bumi. Dari pengamatannya ini, ia merasa perlu untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan. Kepedulian ini bisa ditumbuhkan melalui pendidikan, mulai dari materi pendidikan hingga pada konsep bangunan sekolah.

“Ada sekolah di Bali, sekolah itu yang masuk orang-orang menengah ke atas, namun siswanya datang menggunakan sandal jepit. Dari segi bangunan pun, sekolah tersebut memiliki konsep yang asri sehingga dapat memberikan pandangan (tentang lingkungan) kepada muridnya,” katanya.

Dengan memberikan konsep “hijau” pada bangunan sekolah seperti menanam berbagai tanaman dan pepohonan di lingkungan sekolah dan menggunakan “tembok” bambu, lanjut Gilang, akan memberikan pemahaman yang berbeda di benak anak-anak tersebut.

Ia juga mendukung agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mau menggalakkan pembatasan transportasi kendaraan pribadi. “Pemprov DKI bisa membuat peraturan seperti hari Senin dan Jumat, masyarakat Jakarta harus menggunakan sepeda dan hanya membolehkan kendaraan umum saja yang melaju,” tambahnya.

Menurut Gilang, keprihatinan terhadap negeri ini semakin dalam karena kemajuan yang dikejar ternyata hanyalah sebuah kemunduran. Segala upaya dilakukan namun tidak memperhatikan dampak yang akan terjadi. Padahal, lanjutnya lagi, pemanasan yang dialami oleh bumi ini merupakan tanggung jawab semua insan.

“Ketika pembangunan digencarkan di negeri ini, banyak yang hanya menyalahkan negeri ini saja padahal negara-negara maju yang sudah “ngebotakin” duluan. Itulah kenapa kita bersama-sama harus bertanggung jawab pada apa yang sudah terjadi,” tutupnya.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gilang-ramadhan-tak-lagi-melihat-kunang-kunang/feed/ 0
Bukit Hijau di Atap Kampus https://www.greeners.co/ide-inovasi/bukit-hijau-di-atap-kampus/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bukit-hijau-di-atap-kampus https://www.greeners.co/ide-inovasi/bukit-hijau-di-atap-kampus/#respond Sat, 18 Apr 2015 09:44:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=8609 Singapura tak henti-hentinya berinovasi, mulai dari pengembangan desain, pendidikan, teknologi, hingga wisata. Universitas Teknologi Nanyang Singapura mendirikan bangunan kampus yang unik dengan bentuk atap yang menonjol. Bangunan yang digunakan oleh […]]]>

Singapura tak henti-hentinya berinovasi, mulai dari pengembangan desain, pendidikan, teknologi, hingga wisata. Universitas Teknologi Nanyang Singapura mendirikan bangunan kampus yang unik dengan bentuk atap yang menonjol. Bangunan yang digunakan oleh Sekolah Seni, Desain, dan Media ini terdiri dari lima lantai dan disokong dengan teknologi canggih.

Gedung Sekolah Seni, Desain, dan Media ini mencolok karena bentuk atapnya yang tidak lazim. Atap gedung terlihat seperti bukit, terdiri dari rumput hijau serta bentuknya yang seperti melingkar dan berlubang pada bagian tengahnya. Bangunan lima lantai tersebut memungkinkan mahasiswa dapat menikmati sudut hutan kampus di atas rerumputan alami di atap.

Desain atap Sekolah Seni, Desain, dan Media di Universitas Teknologi Nanyang Singapura. Foto: www.cpgcorp.com.sg

Desain atap Sekolah Seni, Desain, dan Media di Universitas Teknologi Nanyang Singapura. Foto: www.cpgcorp.com.sg

Memasuki area bangunan ini dan berada di tengah lingkaran gedung, kita dapat melihat fasad kaca pada seluruh bagian sisi gedungnya. Fungsi kaca-kaca tersebut adalah untuk mencegah bangunan terpapar sinar matahari secara langsung, namun di satu sisi juga dapat memberi penerangan alami pada ruang kreatif yang ada di tengah gedung tersebut.

Dinding kaca memungkinkan para mahasiswa, dosen, dan seisi gedung melihat pemandangan dari dalam dan luar gedung. Penerangan alami diperoleh dari sinar matahari yang masuk ke ruangan di seluruh studio dan ruang kelas. Sinar matahari yang masuk disaring melalui aneka dedaunan disekitar gedungnya.

Gedung beratap hijau alami dan melengkung ini terlihat mencolok dan berbeda dengan gedung-gedung lainnya di kampus Nanyang. Saking alaminya, berada di atap gedung seolah-olah sedang berdiri di atas sebuah bukit. Batas nyata antara gedung dan areal terbuka menjadi tak kentara.

Pemandangan atap kampus pada malam hari. Foto: www.cpgcorp.com.sg

Pemandangan atap kampus pada malam hari. Foto: www.cpgcorp.com.sg

Atap gedung berfungsi sebagai area non-formal untuk penghuni kampus. Bentuk atap yang kita lihat pada gedung tersebut merupakan bentuk yang dapat menciptakan ruang terbuka dan mendinginkan udara sekitarnya. Ketika hujan turun, gedung tersebut mengumpulkan air hujan untuk mengairi lahan di sekitarnya.

Gedung ini sangat cocok untuk sebuah sekolah seni, desain dan media. Semua sudut pada bangunan ini memberi pengalaman baru dalam menikmati desain; hal yang seharusnya menjadi tujuan sekolah seni, yaitu melahirkan inspirasi.

Penulis: NW/G15
Sumber: www.inhabitat.com

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/bukit-hijau-di-atap-kampus/feed/ 0
Smart City Harus Miliki Bangunan Hijau Sesuai Standardisasi https://www.greeners.co/berita/smart-city-harus-miliki-bangunan-hijau-sesuai-standardisasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=smart-city-harus-miliki-bangunan-hijau-sesuai-standardisasi https://www.greeners.co/berita/smart-city-harus-miliki-bangunan-hijau-sesuai-standardisasi/#respond Fri, 03 Apr 2015 11:11:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8399 Jakarta (Greeners) – Penggiat properti hijau dan Pakar Tata Kota, Nirwono Joga, meminta kepada para kontraktor, baik itu milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta, untuk selalu menerapkan konsep […]]]>

Jakarta (Greeners) – Penggiat properti hijau dan Pakar Tata Kota, Nirwono Joga, meminta kepada para kontraktor, baik itu milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta, untuk selalu menerapkan konsep standardisasi bangunan gedung hijau di Indonesia. Hal ini agar sesuai dengan UU Pekerjaan Umum Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 38 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau.

Joga yang juga dosen arsitektur di Universitas Trisakti ini memaparkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi bangunan hijau yang merupakan perwujudan dari properti ramah lingkungan. Pertama, perumahan harus dibangun dengan mengikuti peraturan yang ada, misalnya Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2007 tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang.

Di sini, terang Joga, harus ada yang namanya bijak hemat lahan. Artinya, dari seratus persen koofisien jumlah lahan dalam satu kavling pembangunan, tidak boleh menggunakan lebih dari 70 persen lahan yang terbangun. Karena, tuturnya, 30 persen sisanya harus dijadikan koofisien datar hijau atau Ruang Terbuka Hijau.

“Jadi maksudnya, dari seratus persen itu jangan semua dijadikan lahan keras atau semuanya dibangun untuk gedung,” jelasnya kepada Greeners, Jakarta, Rabu (01/04).

Kriteria kedua adalah bangunan permukiman harus menerapkan sistem pengelolaan sampah dan limbah minimal (zero waste) sehingga sampah yang dibuang ke TPA sangat sedikit. Pengembang harus membangun tempat pengelolaan sampah mandiri sejak awal.

Selanjutnya, kriteria ketiga adalah permukiman memiliki sistem pengendalian dan pengelolaan air yang memungkinkan 30 persen air hujan diserap ke dalam tanah. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah penggunaan material yang ramah lingkungan dan penerapan konservasi energi yang secara jelas sudah diatur oleh pemerintah.

“Satu lagi yang juga penting, bangunan yang hijau itu hanya akan terwujud kalau lingkungan disekitarnya juga hijau karena untuk penghematan energi dibutuhkan ventilasi atau bukaan yang cukup banyak agar sirkulasi udara bisa lancar. Nah, kalau lingkungannya tidak hijau, ya pasti tidak akan ada yang mau buka jendela. Pasti ditutup terus dan pasang pendingin ruangan,” katanya.

Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Imam S. Ernawi pun mengamini bahwa bangunan hijau memang sangat diperlukan sebagai salah satu instrumen untuk membentuk sebuah kota yang berkelanjutan.

“Smart City itu ya harus ada bangunan hijaunya, jadi benar standardisasi ini memang harus dilakukan,” tegasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/smart-city-harus-miliki-bangunan-hijau-sesuai-standardisasi/feed/ 0
Green Building Lebih Dari Sekadar Bangunan Hemat Energi https://www.greeners.co/berita/green-building-lebih-dari-sekadar-bangunan-hemat-energi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=green-building-lebih-dari-sekadar-bangunan-hemat-energi https://www.greeners.co/berita/green-building-lebih-dari-sekadar-bangunan-hemat-energi/#respond Fri, 20 Mar 2015 04:58:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8254 Jakarta (Greeners) – Sejak tahun 2010, dunia termasuk Indonesia sudah mulai mengonsepkan pembangunan hijau atau Green Building yang hemat energi. Bangunan yang mampu mengukur tingkat energi dan mampu meminimalisir emisi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sejak tahun 2010, dunia termasuk Indonesia sudah mulai mengonsepkan pembangunan hijau atau Green Building yang hemat energi. Bangunan yang mampu mengukur tingkat energi dan mampu meminimalisir emisi yang dihasilkan sehingga ramah lingkungan.

Namun, ada sebuah tantangan baru yang akan dihadapi pada tahun 2020 nanti. Naning Adiwoso, Chair Person Green Building Council (GBC Indonesia), mengatakan bahwa konsep green building akan merujuk juga pada konsep healthy building. Ini artinya, bangunan bukan hanya hemat energi, namun juga produk bangunan, baik interior maupun eksterior, tidak lagi mengandung metan atau bahan-bahan beracun yang berbahaya bagi tubuh.

“Di sini ada banyak orang, khususnya yang kelas menengah, tidak tahu atau tidak peduli pada sekitarnya. Mereka tidak tahu kalau lem yang digunakan pada meja kerja, karpet yang ada di ruang meeting atau bahan-bahan bangunan lain itu banyak mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan,” jelasnya saat menjadi pembicara pada seminar “Material Berkelanjutan” di Jakarta, Kamis (19/03).

Noer Adi Warsojo, Asisten Deputi Standardisasi dan Teknologi Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menyatakan yang dimaksud dengan green building atau bangunan hemat energi adalah bangunan yang memenuhi setidaknya lima aspek kebutuhan.

“Yang jelas menggunakan material yang sifatnya berkelanjutan, efisiensi energi seperti penggunaan pendingin ruangan maupun listrik yang bijak. Lalu, hemat dalam penggunaan air, dan produk yang digunakan baik untuk kesehatan,” katanya.

Naning Adiwoso (berdiri memegang mic), Chair Person Green Building Council (GBC Indonesia) menyatakan bahwa konsep "green building" juga merujuk pada "healthy building". Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Naning Adiwoso (berdiri memegang mic), Chair Person Green Building Council (GBC Indonesia) menyatakan bahwa konsep “green building” juga merujuk pada “healthy building”. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Selain itu, Nur Maliki Arifiandi dari Global Forest and Trade Network (GFTN), WWF Indonesia mengatakan, untuk menciptakan konsep green building maupun healthy building tersebut dibutuhkan partisipasi industri untuk selalu menggunakan bahan produksi yang legal dan tersertivikasi.

GFTN sendiri, jelas Nur, telah menciptakan jaringan di lebih dari 360 perusahaan, komunitas, Lembaga Swadaya Masyarakat dan pengusaha di lebih dari 30 negara untuk menciptakan sebuah pasar baru bagi produk-produk hutan, seperti kayu, yang lebih bertanggung jawab pada hutan.

“Ada banyak penyedia kayu yang tidak tersertivikasi secara kredibel dan perdagangan kayu dan pulp secara ilegal masih sering terjadi. Untuk itu GFTN hadir untuk memfasilitasi dan berkoordinasi agar terjadi pengelolaan hutan yang lestari,” tutur Nur.

GFTN, tambahnya, percaya bahwa sebuah respon efektif untuk masalah sertifikasi adalah dengan mengubah pasar global menjadi kekuatan positif untuk menyelamatkan hutan-hutan dunia yang terancam gundul akibat pembalakan.

“Konsumen ingin dan butuh tahu darimana asal kayu yang mereka beli dan GFTN memastikan pendampingan untuk sertifikasi legalitas tersebut,” tandasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/green-building-lebih-dari-sekadar-bangunan-hemat-energi/feed/ 0