Air Bersih dan Sanitasi, Faktor Kunci Untuk Turunkan Stunting

Reading time: 3 menit
Akses air bersih
Akses air bersih dan sanitasi punya peran menurunkan angka stunting di Indonesia. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi jadi salah satu penyebab tingginya kondisi stunting pada anak di Indonesia. Selain kurangnya asupan gizi dan metode pola asuh. Menurut riset Kementerian Kesehatan, air bersih dan sanitasi mempunyai kontribusi sebanyak 60% dalam upaya penurunan angka stunting pada anak.

Stunting pada anak merupakan masalah yang cukup serius di Indonesia. Sebanyak 159 juta anak di dunia mengalami stunting, 9 juta di antarannya berada di Tanah Air. Menurut survei status gizi balita pada tahun 2019, angka prevalensi tingkat stunting nasional mencapai 27,67%.

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan (berat lahir rendah, kecil, pendek, kurus) dan gangguan perkembangan pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Stunting mengakibatkan terjadinya hambatan perkembangan kognitif dan motorik. Orang tua dapat mencegah kondisi stunting pada anak sejak hari pertama kelahiran hingga 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Penurunan stunting telah menjadi fokus bagi beberapa pihak. Hal ini tercermin pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2021 Tentang Percepatan Penurunan Stunting. Presiden menetapkan target penurunan stunting hingga 14% pada akhir tahun 2024 mendatang melalui pendekatan keluarga.

Deputi Bidang Pelatihan Penelitian dan Pengembangan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Rizal Damanik mengatakan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting pada anak di Indonesia.

“Penyebab stunting bukan hanya satu faktor, tapi merupakan multifaktor. Mulai dari praktik pengasuhan yang kurang baik, kurangnya akses ke bahan makanan bergizi, terbatasnya layanan kesehatan dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi,” jelas Rizal, pada Webinar Nasional Pengembangan Inovasi Pangan Lokal Untuk Mendukung Program Percepatan Penurunan Stunting, di Jakarta baru-baru ini. 

air bersih cegah stunting

Selain faktor kecukupan gizi, akses air bersih dan sanitasi juga anak-anak Indonesia butuhkan. Foto: Shutterstock

Kebutuhan Harian Penting Masyarakat

Pada dasarnya, penyebab stunting terdiri dari tiga hal utama. Kurangnya asupan gizi, faktor pola asuh, dan kurangnya akses air bersih dan sanitasi. Namun, beberapa pakar menyebut dari tiga hal tersebut, air bersih dan sanitasilah yang menjadi faktor terbesar pada kondisi stunting di Indonesia. Faktor air bersih mempunyai peran yang cukup tinggi, yakni 60% dalam tingkat penurunan stunting pada anak.

Pada kesempatan yang berbeda, Executive Director of Asia Pacific Centre for Ecohydrology (APCE) – UNESCO C2C, Ignasius Sutapa juga memiliki pandangan terkait hal itu. Menurutnya, air bersih dan sanitasi menjadi hal penting yang sangat erat pada kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Masyarakat membutuhkan air bersih dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari mandi dan cuci kakus (MCK), mencuci perlengkapan makan dan dapur, hingga konsumsi. Untuk menyiapkan asupan gizi yang baik pun, masyarakat membutuhkan air bersih dalam prosesnya.

Apabila faktor air bersih dan kebersihan tidak terpenuhi, maka diare akan terjadi dan akan meluruhkan asupan makanan yang telah masuk ke tubuh. Karena mempunyai  banyak fungsi, Ignasius menilai faktor air bersih dan sanitasi pantas mendapatkan perhatian yang lebih besar.

“Karena adanya double impact di situ, sehingga kenapa porsinya lebih banyak soalnya kalau tidak didukung itu (air bersih) apapun yang masuk ke dalam tubuh itu biasanya keluar lagi terjadi diare,” ungkap Ignasius kepada Greeners.

Pakar ekohidrologi ini menambahkan, walaupun memiliki porsi yang berbeda-beda, ketiga faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Ketiga hal tersebut memiliki fungsi yang saling terkait sehingga tidak bisa terpenuhi hanya salah satunya saja.

“Tiga-tiganya harus tersentuh, tidak bisa hanya salah satu dari tiga aspek itu dan tidak bisa terpisahkan. Misalnya asupannya bagus tapi air minum sanitasinya enggak beres, itu juga tidak mendukung penurunan stunting, jadi itu searah,” imbuhnya.

Sebaran Air Bersih Belum Merata

Walaupun memiliki peranan penting dalam penurunan tingkat stunting di Indonesia, faktanya akses ke air bersih dan sanitasi belum cukup merata. Ia mengungkapkan, tingkat air minum yang masyarakat konsumsi saat ini terbagi menjadi dua, yaitu air minum yang aman dan air  minum yang layak.

“Tingkat layanan air bersih atau air minum layak itu sekarang di posisi sekitar 60 sekian persen hampir 70%. Tetapi kalau kita bicara air minum yang aman itu baru 11,9%. Air minum aman itu air minum yang langsung dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek karena memenuhi standar semuanya,” papar Ignasius.

Air minum layak yang mencapai 70% terdiri dari 50% yang masyarakat dapatkan dari sumur gali, sumur bor ataupun tadah hujan. Namun, pada proses ini tidak terdapat pemeriksaan air lebih lanjut sehingga kebersihannya belum terjamin dengan baik dan rentan terhadap pencemaran. Sedangkan, 20% nya adalah data masyarakat yang sudah mendapat pendistribusian melalui jalur perpipaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Ignasius mengingatkan, dalam mengejar target penurunan stunting di Indonesia, maka peningkatan layanan air minum dan air bersih harus pemerintah segerakan. Termasuk percepatan akses air bersih ke berbagai desa.

“Harus ditingkatkan, bagaimana caranya untuk mengupayakan tingkat layanan air minum dan air bersih serta sanitasinya untuk menurunkan stunting,” ucapnya.

Penulis : Zahra Shafira

Top